1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanaman merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan
ekosistem. Dilihat dari hasilnya, tanaman atau tumbuhan merupakan
sumber kebutuhan kita baik sandang, pangan maupun papan. Kita dapat
makanan yang merupakan sumber energi karena ada tanaman. Kita juga
dapat meminum air bersih karena adanya tumbuhan yang menyimpan
cadangan air melalui akar-akarnya.
Salah satu ilmu yang mempelajari khusus tanaman-tanaman yang
telah berdiri sendiri sebgai tanaman yang berkhasiat dalam pengobatan
yaitu simplisia. Ilmu farmakognosi menguraikan tenetang pemeriksaan
simplisia nabati dan identifikasi tumbuhan obat berdasarkan kandungan
kimianya,
bentuk
dan
simplisianya,
baik
makroskopik
maupun
mikroskopiknya serta inventarisasi tanaman obat yang kerap kali
digunakan masyarakat dalam mengobati suatu penyakit.
Lengkuas merupakan tumbuhan yang
sangat dikenal oleh
akalangan masyarakat dimana rimpangnya yang terasa pedas dapat
dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai campuran bumbu masak dan
pengobatan tradisional.
Untuk lebih mengetahui anatomi, morfologi,
kandungan maupun penetapan kadarnya akan lebih dibahas pada bab
selanjutnya.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana
cara
pemeriksaan
farmakognostik
meliputi
pemeriksaan morgologi, anatomi, organoleptic dan identifikasi kandungan
kimia tanaman lengkuas (Alpinia Galanga [Link]).
C. Tujuan Penelitian
Untuk
melakukan
pemeriksaan
farmakognostik
meliputi
pemeriksaan morgologi, anatomi, organoleptic dan identifikasi kandungan
kimia tanaman lengkuas (Alpinia Galanga [Link]).
D. Manfaat penelitian
Manfaat penelitian ini yaitu dapat melengkapi data ilmiah dari
tanaman lengkuas (Alpinia Galanga [Link]) sebagai obat tradisional.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gambaran Wilayah PKL
Pada letak geografis luas wilayah Kecamatan Mandalle
40,16
KM2
dengan
batas-batas
administrasi
sebelah
utara
berbatasan dengan Kabupaten Barru, sebelah selatan berbatasan
dengan Kecamatan Segeri, sebelah barat berbatasan dengan Selat
Makassar dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Barru
Pada pemerintahan Di Kecamatan Mandalle terdapat 6 desa,
27 Rukun Warga dan 84 Rukun Tangga, dengan jumlah aparat desa
sebanyak 60 orang yang terdiri atas : 27 Orang Kepala Urusan, 14
Kepala Dusun dan 19 orang Staf Desa. 6 Desa/Kelurahan : Desa
Benteng,
Desa
Manggalung,Desa
Boddie,
Desa
Tamarupa
Desa Mandalle dan Desa CoppoTompong ([Link])
B. Tinjauan Tentang Tanaman
1. Sistematika Tanaman
Klasifikasi tumbuhan (Integrated Taxonomy Information
system, 2015):
Kingdom
:Plantae
Subkingdom
:Viridiplantae
Infrakingdom
:Streptophyta
Superdivision
:Embryophyta
Division
:Tracheophyta
Subdivision
:Spermatophytina
Class
:Magnoliopsida
Superorder
:Lilianae
Order
:Zingiberales
Family
:Zingiberaceae
Genus
Species
:Alpinia Roxb.
:Alpinia galanga (L.) Willd.
2. Nama Daerah Tanaman ( Hariana, 2011)
Jawa
:Laos
Bugis
:Aliku
3. Morfologi Tanaman
Pokok herba, setinggi 3,5 , tumbuh secara berkelompok dan
kerap menghasilkan tunas baru pada rizom dalam tanah atau pada
permukaan tanah, rizom dalam tanah, lembut semasa muda, cepat
menjadi keras dan berserat, yang muda berwarna kemerahan, yang
tua berwarna kuning. Daun tumbuh pada batang yang tegak daang
jatin pelepah daun meliputi jati (sebenernya batang palsu yang hanya
terdiri dari pelepah daun). Bunga dihasilkan pada jambak bungan di
hujung ranting , berbunga hanya kalau ada musim kemarau yang
berkelnajutan , berbau wangi, putih kekuningan. Buah kapsul,
berwarna kemerahan (Chooi, 2008).
C. Tinjauan tentang pemeriksaan farmakognostik
1. Pengertian dan Sejarah Farmakognosi
Istilah farmakognosi pertama kali dicetuskan oleh CA Seydler
(1815), seorang peneliti kedokteran di Haale Jerman, dalam
disertasina berjudul Analecta Pharmakognosta. Farmakognosi berasal
dari bahasa Yunani, pharmacon yang artinyaobat (ditulis dengan
tanda pertik karena obat disini maksudnya obat alami, bukan obat
sintesis) gnosisi yang artinya pengetahuan. Jadi farmakognosi adalah
pengetahuan tentang obat-obatan alamiah ( Gunawan, 2004) .
Beberapa tahun sebelumnya, J.A Schmid menggunakan
istilah farmakognosi sebagai salah satu sub judul dari buku Lehburch
der Materia Medika yang diterbitkan di Vienna tahun 1811. Ia
mengartikan farmakognosi sebagai pharma (obat) an cognitive
(pengenalan) jadi farmakognosi merupakan cara pengenalan ciriciri/karateristik obat yang berasal dari bahan alam. Menurut Fluckiger,
farmakognosi mencakup seni dan penetahuan pengibatan dari alam
yang
meliputi
tanaman,
hewan,
mikroorganisme
dan
mineral
(Gunawan, 2004).
Pada awalnya masyarakat awam tidak mengenal istilah
farmakognosi. Oleh karenanya, mereka tidak biasa mengaitkan
farmakognosi dengan bidang-bidang yang berhubungan dengan
kesehatan.
Padahal,
farmakognosi
sebenarnya
menjadi
mata
pelajaran yang spesifik dalam bidang kesehatan dan farmasi.
Masyarakat telah mengetahui khasiat dati opium (candu), kina,
kelambak penisilian, digitalis, insulin, tiroid, vaksin, polio, dan
sebagainya. Namun, mereka tidak sadar bahwa yang diketahui itu
adalah bidang dari farmakognosi mereka pun tidak mengetahui kalau
bahan-bahan yang berbahaya seperti minyak jarak, biji saga (sogok
telik), dan tempe bonkrek (aflatoksin) merupakan bagian dari
pembicaraan farmakognostik. Pada hakekatnya, para pengobat
herbalis itulah nyata-nyata merupakan praktisi farmakognosi yang
pertama (Gunawan, 2004).
Keberadaan farmakognosi dimulai sejak manusia pertama
kali
mulai
mengelola
penyakit,
seperti
menjaga
kesehatan,
menyembuhkan penyakit, meringankan penderitaan, menganggulangi
gejala penyakit dan rasa sakit, serta semua yang berhubungan
dengan
minuman
dan
makanan
kesehatan.
Paa
awalnya,
farmakognosi lahir dari jampi-jampi Suku Vodoo yang tanpa disadari
telah ikut menyelamatkan resep rahasian tidak tertulis dari dukun dan
leluhur (Gunawan, 2004).
2. Ruang lingkup pemeriksaan farmakognostik
a. Identifikasi dan determinasi tanaman
Menentukan
berdasarkan
berntuk
kunci
determinasi
morfolofi
tanaman
tanaman
dilakukan
berdasarkan
uraian
deskripsi tanaman secara lengkap melalui pendekatan hubungan
kekerabatan (suku dan genus), nama daerah, alat-alat khusus yang
terdapat pada tanaman tersebut dilakukan pembuatan herbarium
khusus.
Herbarium
adalah
penyimpanan
dan
pengawetan
tumbuhan. Herbarium dapat dibuat dengan dua cara yaitu cara
kering dan cara basah, sesuai dengan namanya herbarium kering
disimpan dalam keadaan kering, sedangkan herbarium basah
disimpan dalam keadaan basah dengan
cairan tertentu (Amin,
2011).
Pembuatan
herbarium
tanaman
dilakukan
dengan
mengumpulkan seluruh bagian tanaman yang tuh (akar, batang,
daun), termasuk bagian-bagian khusus tanaman seperti bunga,
buah dan biji (Amin, 2011).
b. Morfologi tanaman
Ilmu tumbuhan saat ini telah mengalami kemajuan yang
demikian pesat, dari berbagai cabang ilmu tumbuhan yang
sekarang
telah
mempelajari
mengalami
berdiri
tentang
sendiri
susunan
perkembangan
adalah
tubuh
yang
morfolohi
tumbuhan
pesat
sehingga
tumbuhan
yang
telah
dipisahkan
menjadi morfologi luar atau morfologi in sensu strict dalam artian
sempit dan morfolohi dalam atau anatomi tumbuhan. Pemeriksaan
ini dilakukan untuk mencari kekhususan bentuk, ukuran, dan warna
yang diuji (http//[Link])
Lengkuas merupakan tumbuhan terna berumur panjang,
tinggi sekitar 1 sampai 2 meter, bahkan dapat mencapai 3,5 meter.
Rimpang besar dan tebal, berdaging,berbentuk silindris, diameter
sekitar 2-4 cm, dan bercabang-cabang. Bagian luar berwarna coklat
agak kemerahan, mempunyai sisik-sisik berwarna putih atau
kemerahan,
keras
mengkilap,
sedangkan
bagian
dalamnya
berwarna putih (Noro dkk., 1988)
c. Anatomi tanaman
Pengetahuan tentang anatomi tumbuhan adalah ilmu yang
merangkum uraian organ, susunan, bagian atau fungsi dari organ
tumbuhan itu, pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari unsur-unsur
anatomi serta fragmen pengenal jaringan serbuk yang khas guna
mengetahui
jenis-jenis simplisia
yang
diuji
berupa
sayatan
melintang, membujur, atau serbuk (Amin, 2011) .
Irisan melintang terdiri dari kutikula, epidermis, kortek,
endodermis dan stele. Kutikula tipis,
agak tebal dan mengkilat.
Epidermis selapis, kecil, agak pipih, dinding kuning kecoklatan,
kemerahan; pada rimpang tua sering robek, digantikan periderm.
Kortek diisi sel parenkim besar, dinding tipis, sangat rapat,
beberapa lapis di luar tidak berpati. Jumlah sel minyak atsiri sekitar
10 per satuan bidang pandang, namun pada distilasi air kadar
minyak atsirinya berbeda-beda, tergantung ukuran, kadar oleoresin
dan efisiensi alat (Setyawan, 1999)
d. Identifikasi kandungan kimia tanaman
Identifikasi
ditentukan
berdasarkan
uji
reaksi
warna,
pengendapan, penggaraman, asam, basa, mikrosublimasi dan
kromotografi, untuk menentukan senyawa pada tanaman antara
lain minyak menguap, paratiroid, alkaloid, senyawa folenik,
glikosida, saponon, tannin, karbohidrat, dll (Amin, 2011).
e. Pemeriksaan mutu dan standarisasi
Identifikasi, meliputi pemeriksaan (Amin, 2011):
1) Organoleptic, yaitu
bahan/simplisia.
2) Makroskopikm yaitu
pemeriksaan warna, bau, dan
memuat
utaian
makroskopik
rasa
papan
mengenai bentuk ukuran, warna, dan bidang pahatan/irisisan
3) Mikroskopik, yaitu membuat paparan anatomis, penampang
melintang simplisa, fragmen pengenal serbuk simlisia, meliputi
uraian mengenai jaringan pada batang, akar, dan daun, terdiri
dari :
4) Jaringan primer (epidermis, cortex, endodermis, caspari,
perisikel, silinder oust dan empulur).
D. Tinjauan tentang simplisia
1. Pengertian Simplisia
Pengertian simplisia menurut Farmakope Indonesia Edisi III
adalah bahan alam yang digunakan untuk obat dan belum mengalami
perubahan proses apa pun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya
berupa bahan yang telah dikeringkan (Amin, 2011).
2. Penggolongan Simplisia
Simplisa dibagi menjadi tiga golongan, yaitu (Amin, 2011):
a. Simplisa Nabati
Simplisia nabati adalah simplisa yang dapat berupa
tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat tanaman, atau gabungan
antara ketiganya, misalnya Datura Folium dan Piperis nigri
Fructus, Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan
keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dilakukan
10
dari selnya. Eksudatnya tanaman dapat berupa zat-zat atau
bahan-bahan
nabati
lainnya
yang
engan
cara
tertentu
dipisahkan/diisolasi dari tanamannya
b. Simplisa Hewani
Simplisa hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan
utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum
berupa bahan kimia murni, misalnya minyak ikan (Oleum iecoris
asselli) dan madu (Mel deputarum)
c. Simplisia Pelikan atau Mineral
Simplisa pelican atau mineral adalah simplisa berupa
bahan pelican atau mineral yang belum diolah atau telah diolah
dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni,
contoh serbuk seng dan serbuk tembaga. Pada Blog ini akan
dibahas secara mendalam tentang simplisia tanaman obat.
Simplisisa tanaman termasuk dalm golongan simplisia nabati.
Secara umum pemberian nama atau penyebutan simplisia
didasarkan atas gabungan nama species diikuti dengan nama
bagian tanaman. Contoh: merica dengan nama species Piperis
albi maka nama simplisianya disebut Piperis albi Fructus. Fructus
menunjukkan bagian tanaman yang artinya buah (Amin, 2011).
3. Cara pembuatan simplisia
Untuk pembuatan simplisia dilakukan tahap-tahap sebagai
berikut :
a. Pemanenan
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang
digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam
11
keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan tepat untuk
mengurangi terbawanya bahan atau tanah yang tidak diperlukan.
Seperti rimpang, alat untuk panen dapat menggunakan garpu
atau cangkul. Bahan yang rusak atau busuk harus segera
dibuang atau dipisahkan. Penempatan dalam wadah (keranjang,
kantong, karung, dan lain-lain) tidak boleh terlalu penuh
sehingga bahan tidak menumpuk dan tidak rusak. Selanjutnya
dalam waktu pengangkutan diusahakan supaya bahan tidak
terkena panas yang berlebiha (Amin, 2011)
b. Penanganan pasca panen
Pasca panen merupakan kelanjutan dari proses panen
terhadap tanaman budidaya atau hasil dari penambangan alam
yang fungsinya antara lain untu membuat bahan hasil panen
tidak mudah rusak dan memiliki kualitas yang baik serta mudah
disimpan untuk proses selanjutnya. Untuk memulai proses pasca
panen
perlu
diperhatikan
cara
dan
tenggang
waktu
penggumpalan bahan tanaman yang ideal setelah dilakukan
proses panen tanaman tersebut. Selama proses pasca panen
sangat penting diperhatikan kebersihan dari alat-alat dan bahan
yang digunakan, juga bagi pelaksannya perlu memerhatikan
perlengkapan seperti masker dan sarung tangan. Tujuan dari
pasca panen ini untuk menghasilkan simplisia tanaman obat
yang bermutu, efek terapinya tinggi sehingga memiliki nilau jual
yang tinggi (Amin, 2011).
c. Penyortiran (Segar)
12
Penyortiran segar dilakukan setelah selsai panen
dengan tujuan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahanbahan asing, bahan yang tua dengan yang muda atau bahan
yang ukurannya lebih besar atau lebih kecil. Bahan nabati yang
baik memiliki kandungan campuran bahan organic asing tidak
lebih dari 2%. Proses penyortiran pertama bertujuan untuk
memisahkan bahan yang busuk atau bahan yang muda dan
yang tua serta untuk mengurangi jumlah pengotor yang ikut
terbawa dalam bahan (Amin, 2011).
d. Pencucian
Pencucian bertujuan menghilangkan kotoran-kotoran
dan mengurangi mikroba-mikroba yang melekat pada bahan.
Pencucian harus segera dilakukan setelah panen karena dapat
mempengaruhi mutu bahan. Pencucian menggunakan air kotor
menyebabkan jumlah mikroba pada bahan tidak akan berkurang
bahkan akan bertambah. Pada saat pencucian perhatikan air
cucian dan air bilasannya, jika masih terlihat kotor ulangi
pencucian/pembilasan
sekali
atau
dua
kali
lagi.
Perlu
diperhatikan bahwa pencucian harus dilakukan dalam waktu
yang
sesingkat
mungkin
untuk
menghindari
larut
dan
terbuangnya zat yang terkandung dalam bahan. Pencucian baha
dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain (Amin, 2011):
1) Perendaman bertingkat, perendaman biasanya dilakukan
pada bahan yang tidak banyak mengandung kotoran seperti
daun, bunga, buah dll. Proses perendaman dilakukan
13
beberapa kali pada wadah dan air yang berbeda, pada
rendaman pertama air cuciannya mengandung kotoran
paling banyak. Saat perendaman kotoran-kotoran
yang
melekat kuat pada bahan dapat dihilangkan langsung
dengan tangan. Metode ini akan menghemat penggunaan
air,
namun
sangat
mudah
terkandung dalam bahan
2) Penyemprotan, biasanya
melarutkan
dilakukan
zat-zat
yang
apda bahan yang
kotorannya banyak melekat pada bahan seperti rimpang,
akar, umbi dan lain-lain. Proses penyemprotan dilakukan
engan menggunakan air yang bertekanan tinggi. Untuk lebih
menyakinkan kebersihan bahan, kotoran yang melekat kuat
pada bahan dapat dihilangkan langsung dengan tangan.
Proses ini biasanya menggunakan air yang cukup banyak,
namun dapat mengurangi resiko hilang/larutnya kandungan
dalam bahan (Amin, 2011)
e. Penyikatan (manual maupun okacang tanahis)
Pencucian dengan menyikat dapat dilakukan terhadap
jenis bahan yang keras/ tidak lunak dan kotorannya melekat
sangat kuat. Pencucian ini memakai alat bantu sikat yang
digunakan bentuknya bisa bermaca-macam, dalam hal ini
diperhatikan kebersihan dari sikat yang digunakan. Penyikatan
dilakukan terhadap bahan secara perlahan dan teratur agar tidak
merusak bahannya. Pembilasan dilakukan pad abahan yang
sudah disikat. Metode pencucian ini dapat menghasilkan bahan
14
yang lebih bersih dibandingkan dengan metode pencucian
lainnya, namun meningkatkan resiko keruasakn bahan, sehingga
merangsang tumbuhnya bakteri atau mikoorganisme (Amin,
2011).
f. Perajangan
Perajangan
mempermudah
pada
proses
bahan
yang
selanjutnya
dilakukan
seperti
untuk
pengeringan,
pengemasan, penyulingan minyak atsiri dan penyimpanan,
peajangan
biasanya
hanya
dilakukan
pada
bahan
yang
ukurannya agak besar dan tidak lunak seperti akar, rimpang,
batang, buah dan lain-lain. Ukuran perajangan tergantung dari
bahan yang digunakan dan berpengaruh terhadap kualitas
simplisisa yang dihasilkan. Perajangan terlalu tipis dapat
mengurangi zat aktif yang terkandung dalam bahan. Sedangkan
jika terlalu tebal, maka pegnurangan adar air dalam bahan agak
sulit dan emmerlukan waktu yang lama dalam penjempuran dan
kemungkinan bsear bahan mudah ditumbuhi oleh jamur.
Ketebalan perajangan untuk rimpang temulawak adalah sebesar
7-8 mm, jahe, kunyit dan kencur 3-5 mm. perajangan bahan
dapat dilakukan secara manual dengan pisau yang tajam dan
terbuat
dari
steinlees
ataupun
slice
tergantung
tujuan
pemakaian. Untuk tujuan mendapatkan mnyak atsiri yang tinggi
bentuk irisan sebaiknya adalah membujur (split) dan jika ingin
15
bahan lebih cepat kering bentuk irisan sebaiknya melintang
(slice) (Amin, 2011).
g. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu cara pengawetan atau
pengolahan pada bahan dengan cara mengurangi kadar air,
sehingga
proses
pembusukan
dapat
terhambat.
Dengan
demikian dapat dihasilkan simplisia terstandar, tidak mudah
rusak dan tahan disimpan dalam waktu yang lama. Dalam
proses ini, kadar air dan reaksi-reaksi zat aktif dalam bahan akan
berkurang, sehingga suhu dan waktu pengeringan perlu
diperhatikan. Suhu pengeringan tergantung pada jenis bahan
yang dikeringkan. Pada umumnya suhu pengeringan adalah
antara 40 dan 60C dan hasil yang baik dari proses
pengeringan adalah simplisia yang mengandung kadar 10% .
demikian pula dengan waktu pengeringan juga bervariasi,
tergantung pada jenis bahan yang dikeringkan seperti rimpang,
daun, kayu, ataupun bunga. Hal lain yang perlu diperhatikan
dalam proses pengeringan adalah kebersihan (khususnya
pengeringan menggunakan sinar matahari), kelembaban udar,
aliran udara dan tebal bahan (tidak saling menumpuk).
Pengeringan bahan dapat dilakukan secar tradisioanl dengna
menggunakan sinar matahari ataupun secara modern dengan
menggunakan alat pengering seperti oven, rak pengering, blower
ataupun fresh dryer (Amin, 2011).
16
Pengeringan hasil rajangan dari temu-temuan dapat
dilakukanddengna menggunakan sinar matahari, oven, blower
dan fresh dryey pada suhu 30-50C. pengeringan pada suhu
terlalu tinggi dapat merusak komponen aktif, sehingga mutunya
dapat menurun. Untuk irisan rimpang jahe dapat dikeringkan
menggunakan alat pengering energy surya, dimana suhu
pengering dalam uruang pengering berkisar antara 36-45C
dengan tingkat kelembaban 32,8-53,3% menghasilkan kadar
minyak atsiri lebih tinggi dibandingkan dengan pengeringan
matahari langsung maupun oven. Untuk irirsan tmualawak yang
dikeringkan
dengna
sinar
matahari
langsung,
sebelum
dikeringkan terlaebih dahulu irisan rimpang direndam dalam
larutan asam sitrat 3% selama 3 jam. Selesai perendaman irisan
dicuci kembali sampai bersih, ditiriskan kemudian dijemur
dipanas
matahari. Tujuan
ari
perendaman
adalah
untuk
mencegah terjadinya degradasi kurkuminoid pada simplisia pada
saat penjemu dan kurkumin 1,89%. Disamping menggunakan
sinar matahari langsung, penjemuran juga dapat dilakukan
dengan menggunakan blower pada suhu 40-50C . kelebihan
dari alat ini adalah waktu penjemuran lebih singkat yaitu 8 jam,
dibandingkan dengna sinar matahari membutuhkan waktu lebih
dari 1 minggu. Selain kedua jenis pengering tersebut hamper
juga terdapat alat pengering fresh dryer, dimana suhunya
17
hamper sama dengan suhu ruang, tempat tertutup dan lebih
higienis. Kelemahan dari alat tersebut waktu pengeringan
selama 3 hari. Untuk daun atau herba, pengeringan dapat
dilakukan dengan menggunakan sinar matahari di dalam tampah
yang ditutup dengan kain hitam, menggunakan alat pengering
fresh dryer atau cukup dikeringkan-anginkan saja (Amin, 2011).
Pengeringan
dapat
menyebabkan
perubahanperubahan hidrolisa enzimatis, pencokelatan, fermentasi, dsan
oksidarsi. Ciri-ciri waktu pengeringan sudah berakhir apabila
daun ataupun temu-temuan sudah dapat dipatahkan dengan
mudah. Pada umumnya bahan (simplasia) yang sudah kering
emiliki kadar air 8-10%. Dengan jumlah kadar air tersebut
keruasakan bahan dpat ditekan baik dalam pengolahan maupun
waktu penyimpanan (Amin, 2011).
h. Penyortiran (kering)
Penyortiran dilakukan bertujuan untuk memisahkan
benda-benda asing yang terdapat pada simplisisa, misalnya karakar, pasir, kotoran ungags atau benda asing lainnya. Proses
penyortiran merupakan tahap akhir dari pembuatan simplisia
kering sebelum dilakukan pengemasan, penyimpanan atau
pengolahan lebih lanjut. Setelah penyortiran simplisia ditimbang
untuk mengetahu rendemen hasil dari pasca panen yang
dilakukn (Amin, 2011).
i. Pengemasan
Pengemasan dapat dilakukan terhadap simplisia yang
sudah dikeringkan. Jenis kemasan yang digunakan dapat berupa
18
plastic, kertas maupun karung goni. Persyaratan jenis kemasan
yaitu dapat menjamin mutu produk yang sudah dikemas, mudah
dipakai, tidak mempersulit penanganan, dapat melindungi isi
pada waktu pengangkutan, tidak beracun dan tidak bereaksi
dengan isi dan kalau boleh mempunyai bentuk dan rupa yang
menarik (Amin, 2011).
Berikan label yang jelas pada tiap kemasan tersebut
yang isinya menuliskan; nama bahan, bagian dari tanaman
bahan
yang
digunakan,
tanggal
pengemasan,
nomor/koe
produksi, nama/alamat penghasiul, berat bersih , metode
penyimpanan (Amin, 2011).
j. Penyimpanan
Penyimapan simplisia dapat dilakukan diruang biasa
(suhu
kamat)
penyimpanan
ataupun
harus
diruang
bersih,
ber
udaranya
AC.
Ruang
cukup
tempat
kering
dan
berventilasi. Ventilasi cukup baik karena hama menyukai udara
yang lembab dan panas. Perlakuan simplisia dengan radiasi
sinar gamma dosis 10 kGy dapat menurunkan jumlah pathogen
yang mengkontaminasi simplisia tanaman obat (Berlinda dkk,
1998).
Dosis ini tidak merubah kadar air dan kadar minyak atsiri
simplisia selama penyimpanan 3-6 bulan. Jadi sebelum disimpan
pokok utama yang harus diperhatikan adalah cara penangan
yang tepat dan higienis. Hal-hal yang perlu diperhatikan
mengenai tempat penyimpanan simplisia adalah (Amin, 2011):
19
1) Gudang harus terpisah dari tempat penyimapan bahan
lainnya ataupun penyimpanan alat dan dipelihara dengan
baik
2) Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau
kemungkinan masuk air hujan
3) Suhu gudang tidak melebihi 30C.
4) Kelembabn udara sebaiknya diusahakan serendah mungkin
(65C)
untuk
mencegah
terjadinya
penyerapan
air.
Kelembaban udara yang tinggi dapat memacu pertumbuhan
mikroorganisme sehingga menurunkan mutu bahan baik
dalam bentuk segar maupun kering.
5) Masuknya sinar matahati langsung menyinari simplisia harus
dicegah
6) Masuknya hewan, baik serangga maupun tikus yang sering
4.
memakan simplisia yang harus disimpan harus dicegah.
Pemeriksaan Mutu Simplisia (Amin, 2011)
a. Botani, meliputi pemeriksaan morfologi, klasifikasi, dan antanomi
tanaman, berupa pemeriksaan organoleptic (pemeriksaan warna,
bau, dan rasa) dan pemeriksaan makroskopik (pemeriksaaan
bentuk luar morfologinya, maupun anatominya).
b. Fisika, meliputi kandungan air termakan serangga atau hewan
lain, ada tidaknya pertumbuhan dan perubahan warna atau
perubahan bau penggaraman, logam, dan reaksi senyawa
kompleks
c. Biologi, meliputi pemeriksaan mikrobiologi seperti penerapan
angka kuman, pencemaran dan percobaan terhadap hewan.
d. Farmakologi, meliputi pemeriksaan efek terapi, efek toksik, baik
uji praklinik sampai uji klinik sediaan
20
e. Kimiawi,
reaksi
warna,
pengendapan,
pendesakan,
penggaraman, reaksi kompleks, kromotografi (KCKT, KLT, kolom,
kertas, gas)
21
BAB III
PROSEDUR KERJA
A. Prosedur Kerja PKL
1. Pengumpulan Data Taksonomi
Pengumpulan data taksonomi berupa pengumpulan data
dokumentasi dari specimen segar atau koleksi tumbuhan yang
dilakukan dilapangan. Beberapa informasi yang harus diperoleh baik
specimen tumbuhan tinggi maupun rendah adalah nama kolektor, nama
tanaman, nama daerah, lokasi, habitat, perawakan (pohon/ merambat/
herba),
daun
(tangkai/
pangkal/
tepi/
ujung/
urat),
(tunggal/majemuk), dan buah (keras/ lunak) (Anonim, 2015).
a.
Nama kolektor
Nama tanaman
Nama daerah
Lokasi
Habitat
Perawakan
Pohon
Merambat
Herba
Daun
Tangkai
Pangkal
Tepi
Ujung
Urat
Bunga
Tunggal
Majemuk
Buah
Keras
Lunak
2. Pengumpulan Data Fitokimia
Uji rasa
bunga
22
1) Ambil bagian tumbuhan yang ingin diidentifikasi lalu
dibersihkan
2) Jika dalam keadaan segar maka sampel lunak dapat
diremas kemudian dikecapp. Sampel yang keras dapat
dihancurkan terlebih dahulu
3) Interprestasi rasa
a) Pahit memberi petunjuk adanya senyawa alkaloid
b) Pedas memberi petunjuk adanya senyawa fenolik atau
turunannya
c) Manis memberikan petunjuk adanya senyawa golongan
karbohidrat dan senyawa glikosida
d) Sepat memberi petunjuk adanya senyawa tannin atau
polifenol
e) Asam memberi
petunjuk
adanya
senyawa
asam
karboksilat rendah.
b.
Uji bau
1)Ambil bagian tumbuhan yang ingin diidentifikasi lalu bersihkan
2)Sampel didekatkan pada indera penciuman
3)Senyawa yang menimbulkan bau adalah senyawa golongan
alcohol, keton dan aldehid dari mono- dan seskuiterpen serta
fenilpropanoid.
Pengujian
Nama sampel
4)
Bagian
Rasa
Bau
Interprestas
i
23
B. Prosedur Kerja Praktikum
1. Pemeriksaan anatomi (Anonim, 2015) :
Keluarkan koleksi basah dari wadah . Bilas dengan air
mengalir.
Buat
preparat
dari
masing-masing
bagian
[Link] pada objek glass, dan basahkan dengan reagen
floroglucin/kloralhidrat . Panaskan diatas api Bunsen. Letakkan pada
meja preparat mikroskop. Amati struktur anatominya. Dibuat sketsa
(gambar) anatomi tumbuhan . Berikan keterangan tumbuhan
2. Pemeriksaan makroskopik dan mikroskopik
a. Pemeriksaan makroskopik (Anonim, 2015):
Siapkan simplisia haksel. Letakkan diatas kertas putih.
Ukur panjang dan lebar simplisa dengan menggunakan mistar.
Amati warna, bentuk, bau dan rasa simplisia
b. Pemeriksaan mikroskopik (Anonim, 2015):
Siapkan simplisia serbuk. Letakkan serbuk diatas objek
glass. Basahkan dengan reagen flouroglucin/kloralhidrat. Panaskan
diatas api Bunsen. Letakkan pada meja preparat mikroskop. Amati
fragmen simplisia tersebut. Buat sketsa / gambar fragmen
3. Identifikasi Golongan Senyawa (Anonim, 2015):
a. Saponin
Masukkan kedalam tabung reaksi. Sebanyak 0,5g serbuk
simplisia. Ditambahkan 10 ml air panas . Dingankan kemudian
dikocok selama 10 detik. Jika terbentuk buih setinggi 1 10 positif
24
mengandung saponin. Dan dengan penambahan 1 tetes asam
kloria 2 N buih tidak hilang .
b. Flavonoid
Larutan uji:
1 g serbuk simplisia ditambahkan 10 mL
metanol dan 5 mL ptroleum eter. Dikocok dan didiamkan. Ambil
lapisan
metanol,diuapkan
pada
suhu
40C.
Sisa
larutan
ditambahkan 5 mL etil asetat P, disaring. Uapkan sebanyak 1 mL
larutan uji hingga kering. Sisanya dilarutkan dalam 1- 2 mL etanol
(95%)P Ditambahkan 0,5g serbuk seng P dan 2 mL asam klorida 2
N Didiamkan selama 1 menit .Ditambahkan 10 tetes asam klorida
pekat
Jika
terbentuk
warna
merah
intensif
menunjukkan
adanyaflavanoid. Diuapkan larutan uji sebnyak 1 mL . Sisa
dilarutkan dalam 1 mL etanol (95%)P. Ditambahkan 0,1g serbuk
magnesium P dan 10 tetes asam klorida 2 N. Jika terjadi warna
merah jingga sampai merah ungu, menunjukkan adanya flavanoid
Jika warna kuning jingga menunjukkan adanya
flavon,kalkon,dan auron . Uapkan hingga kering 1 mL larutan uji.
Sisa dibasahkan engan aseton P. Tambahkan sedikit serbuk asam
borat P dan serbuk asam oksalat P. Panaskan sisa dicampur
dengan 10 mL eter P. Diamati dibawah sinar UV 366 nm, jika
larutan berflurosensi kuning intensif menunjukkan adanya flavanoid
c. Alkaloid
25
Larutan uji : Ditambahkan 1 mL asam klorida 2 N dan 9 mL
air pada 1 g simplisia. Panaskan selama 2 menit. Dinginkan dan
disaring . Larutan uji ditambahkan Bauchardat LP, jika terbentuk
endapan coklat sampai hitam maka positif mengandung alkaloid.
Laruttan uji ditambahkan mayr LP, jika terbentuk endapan putih
sampai
kunign
maka
mengandung
alkaloid.
Larutan
uji
ditambahkan 2 tetes Dragendrff LP, positif mengandung alkaloid
jika terbentuk endapan jingga coklat
d. Glikosida
Larutan uji :Sebanyak 1g ekstrak disari dengan 30 mL
pelarut campuran selama 10 menit. Dinginkan dan saring. Sisa
ditambahkan 2 mL metanol P .
larutan uji.
Percobaan : Disiapkan 0,1 mL
Sisa ditambahkan 5 mL asam asetat anhidrat P .
Tambahkan 10 tetes asam sulfat P , terjadi warna biru. Atau hijau,
menujukkan adanya glikosida . Diuapkan sebanyak 0,1 mL larutan
uji dalam tabung reaksi. Sisa ditambahkan 2 mL air dan 5 tetes
molisch LP. Ditambahkan 2 mL asam sulfat P. Terbentuk cincin
warna ungu pada batas cairan menunjukkan adanya ikatan gula
( reaksi molisch).
e. Terpen
26
Serbuk sebanyak 0,5 g ditambahkan 5 mL larutan eter,
disaring. Filtrat sitambahkan asam asetat anhidrat dan asam sulfat
pekat. Warna merah, hijau atau biru menunjukkan posititf terpen.
f. Tanin
Ekstrak sebanyak 1 g ditambah 15 mL air panas. Larutan
dipanaskan hingga mendidih selama 5 menit,disaring. Percobaan :
Filtrat sebanyak 5 mL ditambah beberapa tetes
FeCl3
1 %
membentuk endapan putih. Filtrat sebanyak 5 mL ditambahkan
gelatin 10 % membentuk endapan putih. Filtat sebanyak 5 mL
ditambahkan NaCl-gelatin 1 % membentuk endapan putih .
4. Kadar Abu
a. Penentuan Kadar Abu (Moteode Dry Ashing )
Cawan yang telah ddibersihkan dipanaskan dalam tanur
pada suhu 100-105o C selama 3 am lalu ditimmbang sebagi bobot
kosong. Contoh yang telahh diuapkan ditimbang teliti 5 ggram
dan dinyatakan sebagi bobot awal, kemudian cawan tersebut
disimpan dalam tanur pada suhu 550 o C selama 6 jam. Setelah
pemanasan cawan dimasukan dalam desikator dan setalah dingin
ditimbang samapi diperoleh bobot tetap sebagai bobot akhir
(Anonim 2015).
b. Penentuan Kasar Abu Tidak Larut Asam
Didihkan abu dengan 2 mL asam klorida encer LP delam 5
menit,kumpulkan bagian yang tidak larut dalamasam, saring
melalui kertas saring bebas abu, cuci dengan air panas,panaskan
27
menggunakan oven hingga bobot konstan (105o C ) kadar abu
tidak larut dalam asam dihitung terhadap berat ekstrak (Anonim,
2015)
5. Kadar Zat Terekstrasi Etanol Dan Air
a. Penenetapan Kadar Sari Yang Larut Dalam Air
Serbuk kering dimaserasi sebanyak 5 gram dengan
menggunakan air (jenuh kloroform) sebanyak 100 ml pada labu
bersumbat. Disonikator selama 15 menit kemudian disaring.
Sebanyak 20 ml fitrat diuapkan hingga kering dalam cawan
danngkal rata yang sebelumnya telah ditara. Sisi dipanaskan pada
suhu 105o
C hingga bobot tetap (bobot konstan). Hitung
kadardalam persen sari yang arut dalam air terhadap bahan yang
telah dikeringkan diudara ( Anonim, 2015)
b. Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol
Serbuk kering dimaserasi sebanyak 5 gram dengan
menggunakan etanol sebanyak 100 ml pada labu bersumbat.
Ddisonikator selam 15 menit, kemudian disaring. Sebanyak 20 ml
fitrat diuapkan hingga keing dalam cawan dangkal berdasar rata
yang sebelumnya telah ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105 o
hingga bobot tetap (bobot konstan). Hitung kadar dalam persenn
sari yang larut dalam etanol terhadap bahan yang telah dikeringkan
diudara (Anonim, 2015).
6. Susut Pengeringan
Tentukan bobot konstan, botol timbang dipanaskan pada suhu
105o selama 30 menit, kemudian tara. Timbang 1-2 gram serbuk
simplisia dan masukkan kedalam botol timbang. Keringkan dalam
28
oven suhu 105o
selama 30 menit, timbang dan tentukan bobot
konstan (Anonim, 2015).
7. Kadar Air
Tentukan bobot konstan cawan porselen dan tara. Sebanyak
10 gram serbuk simplisia, tempatkan pada cawan porselen. Keringkan
pada suhu 105o
selama 5 jam. Timbanng konstran dan tentukan
kadarair simplisia (Anonim, 2015).
29
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan
1. Pengamatan Data PKL
a) Pengumpulan Data Taksonomi
Nama kolektor
Nama tanaman
Nama daerah
Lokasi
Habitat
PERAWAKAN
Pohon
Merambat
Herba
DAUN
Tangkai
Pangkal
Tepi
Ujung
Urat
BUNGA
Tunggal
Majemuk
BUAH
Keras
Lunak
b) Pengumpulan Data Fitokimia
Riny Erfiah Rinda
Lengkuas
Likku
Desa Manggalung [Link]
Hutan
Herba Tegak
Tangkai daun pendek
Bagian tepi putih, bertepi rata
Ujung tidak seimbang, runcing
Urat daun menyirip sejajar
_
-
Pengujian
Nama sampel
Bagian
Rasa
Bau
Akar
Batang
Daun
Bunga
Lengkuas
Buah
2. Pengamatan Data Praktikum
Pedas
Pahit
Sepat
-
Aromatic
Aromatic
Khas
-
Interprestas
i
Fenolik
Alkaloid
Tannin
-
30
Pemeriksaan anotomi AKAR :
Melintang: parenkim
Membujur: sel sekreksi dan epidermis
BATANG:
Melintang: epidermis , parenkim dan korteks
Membujur: epidermis
DAUN
Melintang: rambut penutup dan kutikula
Pemeriksaan
Makroskopik dan
mikroskopik
Identifikasi Senyawa
Golongan
3.
Membujur : stomata aktinositik dan epidermis
MAKROSKOPIK
Warna
= cokelat muda
Bentuk
= persegi panjang
Bau
= khas
Rasa
= pedas
Panjang
= 2,5 cm
Lebar
= 0,7 cm
MIKROSKOPIK
Dinding epidermis
Tanin
Terpen
Glikosida
Alkaloid
Flavonoid
Saponin
Kadar abu
Kadar abu tak larut
8%
46,5 %
asa
Sari larut ektranol
Sari larut air
Susut pengeringan
Kadar air
15,16 %
78,3 %
19,7 &
1,771 %
31
B. Pembahasan
Tumbuhan merupakan salah satu mahluk hidup dimana
tumbuhan ini mempunyai jenis dan kegunaan masing-masing walaupun
ada tumbuhan yang merugikan. Tumbuhan mempunyai arti penting bagi
manusia, selain mencegah terjadinya erosi tumbuhan juga berfungsi
sebagai bahan pangan bagi manusia dan tumbuhan.
Istilah farmakognosi pertama kali dicetuskan oleh CA Seydler
(1815), seorang peneliti kedokteran di Haale Jerman, dalam disertasina
berjudul Analecta Pharmakognosta. Farmakognosi berasal dari bahasa
Yunani, pharmacon yang artinyaobat (ditulis dengan tanda pertik karena
obat disini maksudnya obat alami, bukan obat sintesis) gnosisi yang
artinya pengetahuan. Jadi farmakognosi adalah pengetahuan tentang
obat-obatan alamiah .
Adapun beberapa cara pemeriksaan farmakognostik yaitu
meliputi pemeriksaan morgologi, anatomi, organoleptic dan identifikasi
kandungan kimia tanaman. Pada pelaksaan PKL farmakognosi-fitokimiadi
di desa Manggalung Kecamatan Mandale Kabupaten Pangkep Provinsi
Sulawesi Selatan didapatkan sampel lengkuas (Alpinia Galanga [Link])
untuk dilakukan pemeriksaan farmakognostiknya.
Lengkuas (Alpinia Galanga [Link]). atau Likku (nama daerah)
yang habitatnya terdapat dalam hutan merupakan perawakan herba
tegak, memiliki daun dengan tangkai daun pendek, bagian tepi berwarna
putih dan rata, ujung daun tidak seimbang, runcing dan urat daun menyirip
32
sejajar. Pada pengujian organoleptic, akar terasa pedas, batang, terasa
pahit dan daun terasa sepat. Adapun bau yang terdapat pada akar dan
batang berbau aromatic sedangkan pada daun berbau khas . Hal tersebut
menunjukkan interprestasi rasa dari lengkuas menandakan adanya
fenolik, alkaloid dan tannin.
Pada pemeriksaan anatomi baku lengkuas (Alpinia Galanga
[Link]) teramati pada bagian-bagian tumbuhan memiliki berbagai jaringan.
Pada akar, secara irisan melintang terdapat parenkim dan secara irisan
membujur terdapat sel sekreksi dan epidermis. Pada batang, secara irisan
melintang terdapat epidermis , parenkim dan korteks sedangkan secara
irisan membujur terapat epidermis. Pada daun, secara melintang terdapat
rambut penutup dan kutikula sedangkan secara membujur terdapat
stomata aktinositik dan epidermis.
Pada pemeriksaan makroskopik, rajangan dari rimpang lengkuas
(Alpinia Galanga [Link]) berwarna cokelat muda, berbentuk persegi
panjang, berbau khas, terasa pedas , memiliki panjang dan lebar yaitu 2,5
cm dan 0,7 cm. sedangkan pada pemeriksaan mikroskopik, rajangan dari
rimpang (Alpinia Galanga [Link]) memiliki rambut penutup dan dinding
epidermis.
Pada identifikasi golongan senyawa, lengkuas (Alpinia Galanga
[Link]) positif mengandung saponin dan terpen dan negatif mengandung
flavanoid, tannin, alkaloid, dan glikosida. jika dibandingkan dengan
interprestasi rasa setelah pengujian organoleptic lengkuas memiliki
33
fenolik, alkaloid dan tannin. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengujian
organoleptic kurang tepat dalam pemberian senyawa golongan yang
terdapat pada tumbuhan.
Pada pengujian pemeriksaan mutu simplisia didapatkan hasil
susut pengeringan yaitu 19,7 %, sari larut air yaitu 78,3 %, sari larut etanol
yaitu 15,16 %, kadar air yaitu 1,771 % , abu total yaitu 8 % dan abu tidak
larut asam yaitu 46,5 %. Jika dibandingkan dengan literatur (Farmakope
Herbal Indonesia ) pada lengkuas (Alpinia Galanga [Link]) penetapan
kadar susut pengeringan yaitu <0,25 %, sari larut air yaitu >1,7 %, sari
larut etanol yaitu <5,7 %, kadar air yaitu <12 %, abu total yaitu, <3,7 %
dan abu tidak larut asam yaitu <3,9 %. Dengan perbandingan tersebut
dapat dilihat pemeriksaan mutu simplisia yang tidak sesuai dengan
standar FHI yaitu pada pemeriksaan susut pengeringan, abu total dan abu
tidak larut asam. Adapun beberapa factor yang dapat mempengaruhi
yaitu, temperature yang digunakan kurang sesuai, lamanya waktu saat
awal pemanasan ataupun di keluarkannya dari oven kurang tepat, cawan
yang digunakan kurang bersih, adanya bobot sampel yang berlebih
ataupun kurang.
34
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari percobaan ini yaitu
pemeriksaan
farmakognostik meliputi pemeriksaan morgologi, anatomi, organoleptic
dan identifikasi kandungan kimia tanaman lengkuas (Alpinia Galanga
[Link]). Pada pemeriksaan morfologi terdapat lengkuas yang berbentuk
persegi panjang berwarna cokelat muda, berbau khas, terasa pedas dan
panjang lebar 2,5 cm dan 0,7 cm dan juga terdapat Pada pemeriksaan
anatomi terdapat parenkim, sel sekreksi dan epidermis, korteks, rambut
penutup, kutikula dan stomata aktinositik. Senyawa yang terkandung yaitu
saponin dan terpen. Pada pemeriksaan mutu simplisia didapatkan susut
pengeringan yaitu 19,7 %, sari larut air yaitu 78,3 %, sari larut etanol yaitu
15,16 %, kadar air yaitu 1,771 % , abu total yaitu 8 % dan abu tidak larut
asam yaitu 46,5 %
B. Saran
Adapun saran dari kami yaitu kami mengharapkan tuntutan
asistem dalam pembuatan laporan lengkap.
35
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2015, Panduan Dan Lembar Kerja Praktikum Farmakognosi I,
Universitas Muslim Indonesia, Makassar
Anonim, 2015,. Pedoman Pengumpulan Data PKL FarmakognosiFitokimia, Universitas Muslim Indonesia, Makassar
Amin, A., dkk., 2009, Penuntun Praktikum Edisi Revisi Farmakognosi I,
Universitas Muslim Indonesia, Makassar
Chooi, O, H., 2008, Rempah Ratus: Khasiat Makanan & Ubatan, PrinAd SDN. BH, Kuala lumpur
Gunawan, D., dkk., 2004, Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid I,
Penebar Swadaya, Jakarta
Hariana, A., 2011, Tumbuhan Obat Dan Khasiatnya 2, [Link]
Swadya, Jakarta
[Link] 2009
[Link]
[Link]
htti://[Link]
Noro T, Oda Y, Miyase T, Ueno A, Fukushima S. 1988, Inhibition Of
Xhantine Oxidase From The Flowers And Buds Of Daphne
Genkwa, Chem Pharm Bull 31:3984 -3987.
Setyawan, A,D., 1999., Status Taksonomi Genus Alpinia Berdasarkan
Sifat-sifat Morfologi, Anatomi dan Kandungan Kimia Minyak Atsiri,
Jurnal Biosmart , April: 1999, 31-40, Vol 1 No 1 , Jurusan Biologi
FMIPA UNS Surakarta
36
LAMPIRAN
A. Gambar Pemeriksaan Mutu Simplisia
1. Anatomi Bahan Baku
Akar membujur
Akar melintang Batang membujur Batang melintang
Daun membujur
Daun melintang
2. Pemerksiaan Makrsokopik Dan mikroskopik
Pemeriksaan makroskopik
Pemeriksaan mikroskopik
3. Identifikasi Senyawa Golongan
--Flavanoid
+Saponin
-Tanin
-Terpen
37
Glikosida
4. Susut Pengeringan dan Kadar Air
5. Sari larut air dan etanol
6. Abu Total dan Abu tidak Larut Asam
+Alkaloid
38
B. Skema Kerja Pemeriksaan Mutu Simplisia
1. Anatomi Bahan Baku
Keluarkan koleksi basah dari wadah
Bilas dengan air mengalir.
Buat preparat dari masing-masing bagian [Link] pada
objek glass
basahkan dengan reagen floroglucin/kloralhidrat .
Panaskan diatas api Bunsen.
Letakkan pada meja preparat mikroskop.
Amati struktur anatominya
Dibuat sketsa (gambar) anatomi tumbuhan .
Berikan keterangan tumbuhan
2. Pemeriksaan Makroskopik dan mikroskopik
a) Pemeriksaan makroskopik
Siapkan simplisia haksel
Letakkan diatas kertas putih
Ukur panjang dan lebar simplisa dengan mMistar
Amati warna, bentuk, bau dan rasa simplisia
b) Pemeriksaan mikroskopik
Siapkan simplisia serbuk
Letakkan serbuk diatas objek glass
Basahkan dengan reagen flouroglucin/kloralhidrat
Panaskan diatas api bunsen
Letakkan pada meja preparat mikroskop
39
Amati fragmen simplisia tersebut
Buat sketsa / gambar fragmen
3. Identifikasi Senyawa Golongan
a) Saponin
Dimasukkan kedalam tabung reaksi
Sebanyak 0,5g serbuk simplisia
Ditambahkan 10 ml air panas
Didiingankan kemudian dikocok selama 10 detik
Jika terbentuk buih setinggi 1 10 positif mengandung saponin
Dan dengan penambahan 1 tetes asam kloria 2 N buih tidak hilang
b) Flavonoid
Larutan uji: 1g serbuk simplisia ditambahkan 10 mL metanol dan 5 mL
ptroleum eter
dikocok dan didiamkan
lapisan metanol,diuapkan pada suhu 40C
Sisa larutan ditambahkan 5 mL etil asetat P
disaring
Diuapkan sebanyak 1 mL larutan uji hingga kering
Sisanya dilarutkan dalam 1- 2 mL etanol (95%)P
Ditambahkan 0,5g serbuk seng P dan 2 mL asam klorida 2 N
Didiamkan selama 1 menit
Ditambahkan 10 tetes asam klorida pekat
Jika terbentuk warna merah intensif menunjukkan adanyaflavanoid
Diuapkan larutan uji sebnyak 1 mL
Sisa dilarutkan dalam 1 mL etanol (95%)P
Ditambahkan 0,1g serbuk magnesium P dan 10 tetes asam klorida 2
N
40
Jika terjadi warna merah jingga sampai merah ungu, menunjukkan
adanya flavanoid
Jika warna kuning jingga menunjukkan adanya flavon,kalkon,dan
auron
Diuapkan hingga kering 1 mL larutan uji
Sisa dibasahkan dengan aseton P
Ditambahkan sedikit serbuk asam borat P dan serbuk asam oksalat P
Dipanaskan sisa dicampur dengan 10 mL eter P
Diamati dibawah sinar UV 366 nm, jika larutan berflurosensi kuning
intensif menunjukkan adanya flavanoid
c) Alkaloid
Larutan uji :Ditambahkan 1 mL asam klorida 2 N dan 9 mL air pada 1
g simplisia
Dipanaskan selama 2 menit
Didinginkan dan disaring
- larutan uji ditambahkan Bauchardat LP, jika terbentuk
endapan coklat sampai hitam maka positif mengandung
alkaloid
- Laruttan uji ditambahkan mayr LP, jika terbentuk endapan
putih sampai kunign maka mengandung alkaloid
- Larutan uji ditambahkan 2 tetes Dragendrff LP, positif mengandung
alkaloid jika terbentuk endapan jingga coklat
d) Glikosida
larutan uji: Sebanyak 1g ekstrak disari dengan 30 mL pelarut
campuran selama 10 menit
Didinginkan dan disaring
Sisa ditambahkan 2 mL metanol P
Percobaan : 1. Disiapkan 0,1 mL larutan uji
41
Sisa ditambahkan 5 mL asam asetat anhidrat P
Ditambahkan 10 tetes asam sulfat P , terjadi warna biru
Atau hijau, menujukkan adanya glikosida
Diuapkan sebanyak 0,1 mL larutan uji dalam tabung reaksi
Sisa ditambahkan 2 mL air dan 5 tetes molisch LP
Ditambahkan 2 mL asam sulfat P
Terbentuk cincin warna ungu pada batas cairan menunjukkan adanya
ikatan gula ( reaksi molisch )
e) Terpen
Serbuk sebanyak 0,5 g ditambahkan 5 mL larutan eter disaring
Filtrat sitambahkan asam asetat anhidrat dan asam sulfat pekat
Warna merah, hijau atau biru menunjukkan posititf terpen
f) Tanin
Ekstrak sebanyak 1 g ditambah 15 mL air panas.
arutan dipanaskan hingga mendidih selama 5 menit,disaring
Percobaan : 1. Filtrat sebanyak 5 mL ditambah beberapa tetes
FeCl3
1% membentuk endapan putih
Filtrat sebanyak 5 mL ditambahkan gelatin 10 % membentuk endapan
putih
Filtat sebanyak 5 mL ditambahkan NaCl-gelatin 1 % membentuk
endapan putih
4. Penetapan Kadar Sari Air dan Etanol
a) Penenetapan Kadar Sari Yang Larut Dalam Air
Serbuk kering dimaserasi sebanyak 5 gram dengan menggunakan
air (jenuh kloroform) sebanyak 100 ml pada labu bersumbat.
Disonikator selama 15 menit kemudian disaring.
Sebanyak 20 ml fitrat diuapkan hingga kering dalam cawan
danngkal rata yang sebelumnya telah ditara
Sisa dipanaskan pada suhu 105oC hingga bobot tetap (bobot
konstan)
42
Hitung kadar dalam persen sari yang arut dalam air terhadap bahan
yang telah dikeringkan diudara.
b) Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol
Serbuk kering dimaserasi sebanyak 5 gram dengan menggunakan
etanol sebanyak 100 ml pada labu bersumbat
Disonikator selam 15 menit
kemudian disaring
.Sebanyak 20 ml fitrat diuapkan hingga keing dalam cawan dangkal
berdasar rata yang sebelumnya telah ditara
Sisa dipanaskan pada suhu 105o hingga bobot tetap (bobot
konstan)
Hitung kadar dalam persenn sari yang larut dalam etanol terhadap
bahan yang telah dikeringkan diudara.
5. Kadar Air
Tentukan bobot konstan cawan porselen dan tara
Sebanyak 10 gram serbuk simplisia, tempatkan pada cawan porselen
Keringkan pada suhu 105o selama 5 jam
Timbanng konstan
tentukan kadar air simplisia.
6. Susut Pengeringan
Tentukan bobot konstan
botol timbang dipanaskan pada suhu 105o selama 30 menit
kemudian tara
Timbang 1-2 gram serbuk simplisia dan masukkan kedalam botol
timbang
Keringkan dalam oven suhu 105o selama 30 menit
timbang dan tentukan bobot konstan
7. Kadar Abu total dan kadar abu tak larut asam
43
Cawan yang dibersihkan
Dipanaskan dalam tanur pada suhu 100-105 o C selama 3 jam
lalu ditimbang sebagi bobot kosong
Contoh yang telah diuapkan ditimbang teliti 5 gram dan dinyatakan
sebagi bobot awal
kemudian cawan tersebut disimpan dalam tanur pada suhu 550 o C
selama 6 jam
Setelah pemanasan cawan dimasukan dalam desikator
dan setalah dingin ditimbang samapi diperoleh bobot tetap sebagai bobot
akhir.
C. Perhitungan Pemeriksaan Mutu Simplisia
1. Kadar abu
a. Kadar abu total
Diketahui :
Ditanyakan = % Kadar abu?
a= 35,35105 g
b =73,7083 g
c = 38,2893 g
c-a
Kadar abu = b-a x 100 %
38,2893 g - 35,35105 g
= 73,7083 g - 35,35105 g x 100%
=8%
b. Kadar abu tak larut asam
Diketahui :
Ditanyakan = % Kadar abu tak larut asam?
a= 3,814 g
b =4,1586 g
c = 0,08 g
b -a
Kadar abu = c
x 100 %
4,1586 g - 3,814 g
= 0,08 g
= 46,5 %
x 100%
44
2. Kadar sari larut etanol dan larut air
a. Kadar sari larut etanol
Diketahui :
a= 44,08665 g
b = 44,2408 g
c = 5,0085 g
Ditanyakan = Kadar sari larut etanol?
5 (a-b)
Kadar sari larut etanol = c
x 100 %
44,2480 g - 44,08665 g
=5 5,0085
x 100%
= 15,16 %
b. Kadar sari larut air
Diketahui :
a= 6,3055 g
b =61,0899 g
c = 5,0044 g
Ditanyakan = Kadar sari larut air?
a-b
Kadar sari larut air = 5 c
x 100 %
=
61,0899 g - 60,3055 g
5,0044 g
= 78,3 %
3. Susut pengeringan
Diketahui :
a= 35,37945 g
b =34,7878 g
c=3 g
Ditanyakan = Kadar abu
Kadar abu =
a -b
c
x 100 %
35,37945 g- 34,7878 g
= 3g
x 100%
= 19,7 %
4. Kadar Air
x 100%
45
Diketahui :
a= 56,8706 g
b =55,0995 g
c = 10 g
Ditanyakan = Kadar abu
Kadar abu =
a-b
c
x 100 %
56,8706 g- 55,0995 g
= 10 g
x 100%
= 17,711 %