0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
290 tayangan10 halaman

Metode Asetolisis Preparat Pollen

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang perkembangbiakan tanaman secara alami dan buatan, tujuan percobaan pembuatan preparat serbuk sari ubi jalar menggunakan metode asetolisis, dan tinjauan pustaka tentang bagian-bagian bunga, fungsi dan struktur serbuk sari, serta metode pembuatan preparat serbuk sari dengan asetolisis.

Diunggah oleh

ratnakurniati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
290 tayangan10 halaman

Metode Asetolisis Preparat Pollen

Dokumen tersebut membahas tentang latar belakang perkembangbiakan tanaman secara alami dan buatan, tujuan percobaan pembuatan preparat serbuk sari ubi jalar menggunakan metode asetolisis, dan tinjauan pustaka tentang bagian-bagian bunga, fungsi dan struktur serbuk sari, serta metode pembuatan preparat serbuk sari dengan asetolisis.

Diunggah oleh

ratnakurniati
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Seperti mahluk hidup lainnya, tanaman juga dapat berkembang biak. Perkembangbiakan
tanaman secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 yaitu perkembangbiakan secara alami dan
juga buatan
Perkembangbiakan alami adalah perkembangbiakan tanaman oleh tanaman itu sendiri
secara alami atau dibantu oleh alam. Sedangkan perkembangbiakan secara buatan adalah
perkembangbiakan tanaman yang mendapat campur tangan manusia (Anonim, 2009).
Tanaman berkembangbiak secara alami melalui berbagai macam cara. Tanaman
berkembangbiak secara alami dengan 2 cara yaitu generatif dan vegetatif. Generatif adalah
bahwa tanaman tersebut berkembang biak secar kawin, yaitu bertemunya sel jantan yang
terdapat pada benang sari dan sel betina yang terdapat pada putik. Bertemunya 2 sel ini nantinya
akan menghasilkan buah yang berbiji 2 yaitu dikotil. Tanaman yang dikembangbiakkan melalui
cara ini biasanya memiliki sifat genetis yang berbeda dari tanaman induk dan biasanya
mengalami kemunduran
Perkembangbiakan secara vegetative dapat terbentuk dari sel jaringan nucellus, serta
terbentuknya tanaman dari bagian bagian khusus yaitu umbi, rhizome, runner dan anakan.
Perkembangbiakan dengan terbentuknya umbi juga terbagi menjadi beberapa cara yaitu umbi
lapis seperti terbentuknya bawang dan bunga tulip, umbi sisik seperti terbentuknya bunga
gladiol, umbi batang seperti terbentuknya kentang dan umbi akar seperti terbentuknya ubi jalar
Berdasarkan teori diatas maka dilakukanlah percobaan tentang pembuatan preparat pollen
dengan menggunakan metode asetolisis.
I.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui cara pembutan preparat serbuk sari ubi
jalar ( Ipomea batatas) dengan menggunakan metode asetolisis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bunga merupakan modifikasi suatu tunas (batang dan daun) yang bentuk, warna, dan
susunannya disesuaikan dengan kepentingan tumbuhan. Oleh karena itu, bunga ini berfungsi
sebagai tempat berlangsungnya penyerbukan dan pembuahan yang akhirnya dapat dihasilkan
alat-alat perkembangbiakan Pada umumnya, bunga mempunyai sifat-sifat seperti berikut:
1. Mempunyai warna menarik.
2. Biasanya berbau harum.
3. Bentuknya bermacam-macam.
4. Biasanya mengandung madu.
Bunga terdiri dari bagian steril dan fertil. Bagian steril terdiri dari ibu tangkai bunga
(pedunculus), tangkai bunga (pedicellus), dasar bunga (receptacle), daun pelindung (brachtea),
daun tangkai (brachteola), dan perhiasan bunga. Perhiasan bunga terdiri dari daun kelopak
(sepal) dan daun mahkota (petal). Bagian bunga fertil terdiri dari mikrosporofil sebagai benang
sari dan makrosporofil sebagai putik (pistillum) dengan daun buah sebagai penyusunnya
(Ratnawati,dkk. 2010)
Butir pollen adalah mikrosporaa tumbuhan berbiji yang mengandung mikrogametofit
masak atau belum masak. Serbuk sari atau pollen adalah alat reproduksi jantan yang terdapat
pada tumbuhan dan mempunyai fungsi yang sama dengan sperma sebagai alat reproduksi jantan
pada hewan. Serbuk sari berada dalam kepala sari (anthera) tepatnya dalam kantung yang disebut
ruang serbuk sari (theca). Setiap anthera rata-rata memiliki dua ruang serbuk sari yang berukuran
relatif besar (Septina, 2006).
Asetolisis adalah salah satu metode pembuatan preparat serbuk sari yang menggunkan
prinsip melisiskan dinding sel serbuk sari dengan asam asetat glasial serta asam sulfat pekat
sebagai bahan tambahan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil amatan morfologi dinding
serbuk sari ornamentasi dari serbuk sari tersebut. Serbuk sari yang digunakan dalam pembuatan
preparat ini haruslah merupakan serbuk sari yang matang. Serbuk sari yang matang ini dapat
ditandai dengan sudah tidak ada air dalam serbuk sari tersebut, jika serbuk sari dipatahkan maka
hanya akan seperti tepung saja (Suntoro, 1983).
Walker (1999) menyatakan bahwa serbuk sari merupakan alat penyebaran dan
perbanyakan generatif dari tumbuhan berbunga. Secara sitologi, serbuk sari merupakan sel
dengan tiga nukleus, yang masing-masing dinamakan inti vegetatif, inti generatif I, dan inti
generatif II. Sel dalam serbuk sari dilindungi oleh dua lapisan (disebut intine untuk yang di
dalam dan exine yang di bagian luar), untuk mencegahnya mengalami dehidrasi.
Ilmu tentang polen dan spora disebut palinologi yang umumnya lebih terfokus pada
struktur dinding (Erdtman, 1969). Daya tahan polen sangat tinggi karena memiliki eksin yang
keras dan secara kimia tidak mudah hancur oleh aktifitas mikroba, tingkat salinitas, kondisi
basah, oksigen rendah, dan kekeringan. Selain ukuran dan bentuk, ciri polen adalah tipe, jumlah
dan posisi apertur serta arsitektur dinding.
Ciri morfologi polen tersebut semakin meningkat penggunaannya dalam taksonomi,
terutama untuk mengoreksi kembali hubungan kekerabatan antara satu tumbuhan dengan
tumbuhan lainnya dalam kelompok - kelompok takson (Erdtman, 1969). Menurut Kapp (1969),
penyusunan kunci identifikasi polen didasarkan pada ciri morfologi polen yang tampak dan tidak
didasarkan pada kelompok taksonomi.(Sumardi. 2002)
Berbagai variasi polen dapat digunakan untuk mengetahui arah evolusi suatu tumbuhan
(Moore etal., 1991), sifat polen yang mudah melekat pada berbagai benda membantu dalam
penyelidikan kriminal, sedangkan kandungan protein, karbohidrat dan zat-zat lainnya yang tinggi
mempengaruhi kualitas madu (Bhojwani dan Bhatnagar, 1978). Hasil penelitian menunjukkan
pula bahwa polen adalah penyebab utama alergi pernafasan. Oleh karena itu data tentang polen
diperlukan untuk menunjang berbagai disiplin ilmu diantaranya taksonomi, sejarah vegetasi dan
evolusi flora (Moore etal., 1991). Selain itu juga dapat menunjang beberapa data antara lain
kriminologi, medis dan melittopalinologi yaitu studi kandungan polen dalam madu (Bhojwani
dan Bhatnagar, 1978).
Suatu larutan fikasasi (fiksatif) yang baik akan mematikan serta mengawetkan semua isi
sel dalam ukuran serta posisi semula dalam sel. Akan tetapi bila ditangani secara kasar, bahan
akan rusak sebelum dimasukkan ke dalam larutan pengawet (Sugiharto, 1989). Pembuatan
preparat serbuk sari dengan fiksatif yang tepat akan memberikan hasil yang baik dimana serbuk
sari akan berada dalam kondisi yang baik seperti sebelum pengawetan.
Pencucian serbuk sari dengan aquadest sebanyak dua kali. Pencucian dilakukan dengan
penambahan aquadesh ke dalam tabung centrifuge yang berisi serbuk sari kemudian melakukan
centrifuge untuk mendapatkan serbuk sari yang sudah bersih. Perlakuan tersebut dilakukan dua
kali untuk mendapatkan serbuk sari yang bersih tanpa ada sisa zat kimia seperti fiksatif dalam
serbuk sari yang akan dibuat preparat (Khasim, 2002).
Pewarnaan adalah untuk meningkatkan kontras warna serbuk sari dengan sekitarnya
sehingga memudahkan dalam pengamatan serbuk sari doi bawah mikroskop. Pewarnaan dapat
memperjelas bentuk ornamen dinding sel serbuk sati serta mempermudah mengetahui ukuran
serbuk sari. Safranin adalah suatu chlorida dan zat warna basa yang kuat. Zat warna ini
tergolong dalam zat warna golongan azine, yaitu zat warna yang mengandung cincin
orthoquinonoid yang dihubungkan dengan bentuk cincin lainnya melalui 2 atom N. Sebenarnya,
zat warna ini akan mewarnai dengan sangat baik bila jaringan difiksasi dengan larutan fleming.
Dalm pembuatan preparat serbuk sari, pewarnaan serbuk sari menggunakan safranin hasilnyas
lebih baik. Dalam proses pewarnaan, safranin dilarutkan dalam sedikit aquades, hal ini masih
dilakukan dalam tabung centrifuge. Setelah pewarnaan serbuk sari, kemudian dilakukan
centrifuge kembali yang ditujukan untuk mendapatkan serbuk sari yang terwarnai dengan
memisahkannya dengan larutan safranin dan aquades. Centrifuge dilakukan selama 10 menit dan
dengan kecepatan 2000 rpm. Hasil dari sentriufuge adalah supernatan berupa larutan safranin
dan aquadesh yang selanjutnya dibuang dan endapan berupa serbuk sari di dasar tabung yang
selanjutnya digunakan untuk pembuatan preparat serbuk sari (santoso.2002)
Mounting atau penutupan ini merupakan langkah penting dalam pembuatan preparat,
dimana serbuk sari diambil dari dasar tabung centrifuge kemudian diletakkan pada salah satu sisi
object glass. Kemudian, di masing-masing sisi dari serbuk sari yang diletakkan ini disusun empat
potongan kecil parafin. Selanjutnya di atas serbuk sari diletakkan potongan lembaran gliserin
jelli. Susunan tersebut perlu dipertimbangkan peletakannya agar dapat dihasilkan preparat yang
rapi dan proporsional. Setelah penyusunan gliserin jelli, parafin, dan serbuk sari selesai, langkah
berikutnya dalam mounting adalah penutupan susunan tersebut dengan cover glass. Pemanasan
ditujukan untuk mencairkan parafin dan gliserin jelli agar dapat menutup serbuk sari, sehingga
dihasilkanlah preparat serbuk sari yang tahan dalam selang beberapa waktu (Khasim, 2002).
Kompatibilitas adalah kesesuaian antara organ jantan dan betina sehingga penyerbukan yang
terjadi dapat diikuti dengan proses pembuahan. Tanaman dikatakan bersifat kompatibel jika
terjadi pembuahan setelah penyerbukan. Ketidaksesuaian antara organ jantan dan betina disebut
inkompatibilitas. Ketidaksesuaian dikendalikan oleh faktor lingkungan, genetik dan fisiologis
Inkompatibilitas (incompatibility) adalah bentuk ketidaksuburan yang disebabkan oleh
ketidakmampuan tanaman yang memiliki pollen dan ovule normal dalam membentuk benih
karena gangguan fisiologis yang menghalangi fertilisasi. Mekanisme didalam tumbuhan
berbunga yang mencegah terjadinya self-fertilisasi akibat dekatnya hubungan antara organ
reproduksi jantan dan betina pada bunga yang sempurna Inkompatibilitas dapat disebabkan oleh
Ketidakmampuan tabung pollen dalam (a) menembus kepala putik, atau (b) tumbuh normal
sepanjang tangkai putik namun tidak mampu mencapai ovule karena pertumbuhan yang terlalu
[Link] ini mencegah silang dalam (selfing) dan mendorong adanya penyerbukan
silang (crossing) Outbreeding pada tanaman tingkat tinggi, yaitu untuk mencegah pembuahan
sendiri.

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Alat dan bahan


Alat dan bahan yang g=digunakan pada praktikun ini ialah pollen ipomea batatas,botol
vial, larutan fiksatif GAA 3ml,formaldehid 5ml, air di, ,stlisasi 95ml, aquades, gliserin, air, fenol,
alcohol 95%, alcohol absolute, xilol, kaca benda, mikroskop, lampu Bunsen.
III.3 Cara Kerja
1. Cara kerja pada percobaan ini yaitu :Melakukan fiksasi yaitu merendam serbuk sari
dengan menggunakan asam glacial sebanyak beberapa tetes pada botol sampel selama
24 jam. Kemudian melakukan sentrifuse selama 10 menit.
2. Melakukan pamanasan dengan menggunakan asam sulfat (H 2SO4) pekat dengan asam
glacial dengan perbandingan 1 : 9, selanjutkan disentrifuse selama 10 menit
3. Melakukan pencucian sebanyak 2x dengan menggunakan aquades kemudian
disentrifuse selama 10 menit.
4. Melakukan pewarnaan dengan menggunakan methylen blue 1 tetes dan aquades 2 ml,
kemudian disentrifuse selama 10 menit.
5. Melakukan peenutupan yaitu mengambil serbuk sari dengan menggunakan piset,
keemudian meletakkan serbuk sari pada preparat. Setelah itu menaruh potongan
parafin kecil pada tiap sudut objek gelas, kemudian memanaskan diatas bunsen agar
parafin mencair
6. Melakukan labeling yaitu memberi label pada preparat.
7. Melakukan pengamatan dibawah mikroskop untuk melihat bagian bagian pollen
serta menggambar hasil pengamatannya.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. hail
4.2 pembahasan
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui tahapan-tahapan pembuatan preparat pollen
bunga ubu jalar ( ipomea batatas) dengan metode asetolisis.
Tahapan awal dari percobaan ini yaitu dilakukan fiksasi terhadap pollen selama 24 jam
menggunakan gliserin. Fiksasi berfungsi untuk mempertahankan elemen-elemen sel atau
jaringan, dalam hal ini serbuk sari agar tetap pada posisinya dan tidak mengalami perubahan
bentuk maupun ukuran dengan media kimia sebagai fiksatif, dalam hal ini asam asetat glacial.
Selanjutnya dilakukan sentrifuge serbuk sari dan asam asetat glacialselama 10 menit.
Dari hasil sentrifuge ini akan terbentuk supernatan asam asetatglacial dan endapan serbuk sari.
Asam asetat kemudian dibuang, sehinggadidapatkan serbuk sari yang mengendap di dasar tabung
sentrifuge. Pembuanganasam asetat ini perlu kehati-hatian agar serbuk sari yang mengendap di
dasar tabung tidak menyebar kembali dalam larutan asam asetat dan akan ikut terbuang.
Kemudian menambahkan larutan campuran antara H2SO4 pekat dan asam asetat glacial
dengan perbandingan 1 : 9 pada tabung sentrifuge yang berisi endapan serbuk sari. Setelah
penambahan larutan kemudian dilakukan pemanasan campuran larutan di atas penangas.
Pemanasan larutan ini bertujuan untuk mempercepat terjadinya reaksi yang terjadi pada serbuk
sari. Sedangkan penambahan H2SO4 dan asam asetat glasial dengan perbandingan 1 : 9 ini
berfungsi untuk untuk melisiskan selulosa pada dinding serbuk sari, sehingga setelah dibuat
preparat, morfologi eksin serbuk sari akan terlihat lebih jelas. Larutan kemudian didinginkan
sejenak saat larutan telah berubah kecoklatan.
Selanjutnya larutan di sentrifuge kembali untuk memisahkan serbuk sari dari larutan
asam asetat glacial dan H2SO4 pekat. Sentrifuge dilakukan selama 10 menit. Hasil sentrifuge
adalah supernatan di bagian atas tabung sentrifuge, yaitularutan asam asetat glasial dan asam
sulfat pekat serta endapan di dasar tabung,yaitu serbuk sari yang telah terasetolisis. Supernatan
kemudian dibuang secarahati-hati agar serbuk sari yang sudah mengendap tidak menyebar
kembali kedalam larutan dan ikut terbuang.
Berikutnya adalah pencucian serbuk sari dengan aquadest sebanyak dua kali. Pencucian
dilakukan dengan penambahan aquadesh ke dalam tabung sentrifuge yang berisi serbuk sari kemudian
melakukan sentrifuge untuk mendapatkan serbuk sari yang sudah bersih. Kemudian dilakukan
pewarnaan (staining) dengan menggunakan campuran aquades dan metilen blue. Tujuan utama dari pewarnaan
adalah untuk meningkatkan kontras warna serbuk sari dengan sekitarnya sehingga memudahkan
dalam pengamatan serbuk sari di bawah mikroskop. Dalam proses pewarnaan, metilen blue
dilarutkan dalam sedikit aquades, hal ini masih dilakukan dalam tabung centrifuge.
Setelah pewarnaan serbuk sari, kemudian dilakukan centrifuge kembali yang ditujukan
untuk mendapatkan serbuk sari yang terwarnai dengan memisahkannya dengan larutan metilen
blue dan aquades. Sentrifuge dilakukan selama 10 menit dan dengan kecepatan 2000 rpm.
Selanjutnya setelah pewarnaan adalah mounting. Mounting atau penutupan ini merupakan
langkah penting dalam pembuatan preparat, dimana serbuk sari diambil dari dasar tabung
centrifuge kemudian diletakkan ditengah preparat kemudian diamati di bawah mikroskop.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di bawah mikroskop didapatkan struktur
dari pollen ipomea batatsberbentuk bulat dan dilengkapi spina atau duri-duri disekelilingnya.
Dinding serbuk sari terdiri dari dua lapisan, yaitu Eksin (lapisan luar) tersusun atas
sporopolenin, dan In tin (lapisan dalam) yang tersusun atas selulosa.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Setelah melakukan percobaan mengenai pembuatan preparat pollen ipomea batatas
dengan metode asetolisis dapat disimpulkan bahwa basetolisis adalah salah satu metode
pembuatan preparat serbuk sari yang menggunkan prinsip melisiskan dinding sel serbuk sari
dengan asam asetat glasial serta asam sulfat pekat sebagai bahan tambahan, dengan langkah-
langkah pembuatannya adalah fiksasi,sentrifuge,pemanasan,sentrifuge,pencucian, sentrifuge,
pewarnaan,penutupan danlabeling.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di bawah mikroskop didapatkan struktur
dari pollen ipomea batatsberbentuk bulat dan dilengkapi spina atau duri-duri disekelilingnya.

5.2 Saran

Adapun saran untuk percobaan ini yaitu menggunakan pollen tanaman lain pencucian
harus dilakukan secara hati- hati karena polen ukuranya sangat kecil

DAFTAR PUSTAKA
Bhojwani, S.S and S.P. Bhatnagar. 1978. The Embryologi of Angiosperms. Third Revised
Edition. Vikas Publishing Hous, PVT, LTD.

Khasim, Muhammad. 2002. Laporan Praktikum Mikroteknik. Fakultas Pertanian, UGM,


Yogyakarta

Ratnawati,dkk. 2010. Petunjuk Praktikum Mikroteknik. Yogyakarta : FMIPA UNY.

Santoso, H. B.. 2002. Bahan Kuliah Teknik Laboratorium. Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarbaru.

Septina, Sendy. 2006. Hubungan Kekerabatan Beberapa Tanaman Murbei Morus sp.
Berdasarkan Morfologi Pollen. Fakultas Pertanian, Insitus Pertanian Bogor, Bogor.

Sumardi, I. dan Pudjoarinto, A.. 2002. Struktur Perkembangan Tumbuhan. Universitas


Hasanuddin, Makassar.

Suntoro, Handari. 1983. Metode Pewarnaan (Histologi dan Histokimia). Fakultas Biologi
UGM, Yogyakarta.

Anda mungkin juga menyukai