1.
Cymbopogan citrratus
Klasifikasi Cymbopogan citrratus
KINGDOM : Plantae
SUB KINGDOM : Viridiplantae
INFRA KINGDOM : Streptophyta
SUPER DIVISI : Embryophyta
DIVISI : Tracheophyta
SUB DIVISI : Spermatophytina
KELAS : Magnoliopsida
SUPER ORDO : Lilianae
ORDO : Poales
FAMILI : Poaceae
GENUS : Cymbopogan spreng
SPESIES : Cymbopogan citrratus
Habitat
Tanaman serai (Cymbopogan citrratus) memiliki habitus berupa tanaman
tahunan yang hidup secara liar dan berbatang semu yang membentuk rumpun
tebal serta mempunyai aroma yang kuat dan wangi (Sastrapradja, 1978)
Ciri Morfologi
Tanaman serai mampu tumbuh sampai 1-1,5 m panjang daunnya mencapai
70-80 cm dan lebarnya 2-5 cm, berwarna hijau muda, kasar, dan mempunyai
aroma yang kuat (Wijayakusuma, 2005). Tanaman serai dengan genus
Cymbopogon meliputi hampir 80 spesies, tetapi hanya beberapa jenis yang
menghasilkan minyak atsiri yang mempunyai arti ekonomi dalam perdagangan.
Tanaman serai mampu menghasilkan minyak dengan kadar sitronellal 7-15% dan
geraniol 55-65% (Wijoyo, 2009). Morfologi akarnya berimpang pendek dan
berwarna coklat muda (Sastrapradja, 1978).
Menurut Mansur (1990), panen pertama dilakukan pada saat tanaman serai
sudah berumur 5-6 bulan setelah tanam, dengan cara memotong daun serai pada 5
cm diatas ligula (batas pelepah dengan helaian daun) dari daun paling bawah yang
belum mati atau kering. Panen selanjutnya dapat dilakukan setiap 3 bulan pada
musim hujan dan setiap 4 bulan pada musim kemarau.
Serangga Yang Menyukai
Kebanyakan negara menanam serai untuk menghasilkan minyak atsirinya
secara komersial dan untuk pasar lokal sebagai perisa atau rempah ratus (Chooi,
2008). Ekstrak batang serai dan bubuk batang serai ini bertujuan untuk membasmi
kumbang beras khususnya imago (kumbang beras dewasa). Batang serai
mengandung minyak atsiri yang bersifat racun dan mengurangi kemampuan
reproduksi serangga. Minyak atsiri serai terdiri dari senyawa siral, sitronela,
geraniol, mirsena, nerol, farmesol methil heptenol dan dipentena. Kandungan
yang paling besar adalah sitronela yaitu sebesar 35 % dan geraniol sebesar 35-40
% (Isnaini, et,al. 2015).
Minyak Atsiri serai terdiri atas sitral, sitronela, geraniol, mirsena, nerol,
farsenol, metal heptenol, dan dipentena. Kandungan yang paling besar adalah
sitronela yaitu 35%. Senyawa sitronela mempunyai sifat racun dehidrasi
(desiccant), serangga yang terkena racun ini akan mati karena kekurangan cairan
(Sudjak & Saenong, 2016). Insektisida berbahan aktif sitronela juga bersifat
menolak serangga, sitronela yang terkandung dalam minyak serai dapat bersifat
kontak dengan serangga uji. Insektisida sitronela memiliki cara masuk sebagai
racun kontak,racun perut dan racun pernafasan. Bubuk serai dapat membunuh dan
menghambat peletakan telur karena terdapat sekitar 49% silika dan minyak atsiri.
Tanaman serai mengandung minyak atsiri yang besifat racun dan mengurangi
kemampuan repoduksi serangga selain itu kandungan bahan-bahan aktif pada
serai berfungsi sebagai pembunuh serangga (Isnaini, et,al. 2015). Jadi, serai tidak
disukai serangga, namun sebagai pestisida alami pada ekstrak batang serai dan
bubuk batang serai.
Tanaman utama yang biasa berdampingan
Tanaman serai sebagai tanamna dipekarangan, di kebun sebagai tanaman
tambahan. hal ini untuk memanfaatkan lahan yang dapat bermanfaat untuk bahan
memasak di dapur.
2. Lantana camara
Klasifikasi Lantana camara
KINGDOM : Plantae
DIVISI : Spermatophyta
SUB KELAS : Angiospeermae
KELAS : Dicotyledonae
ORDO : Lamiales
FAMILI : Verbenaceae
GENUS : Lantana
SPESIES : Lantana camara L.
Habitat
Tanaman tembelekan (L. camara) berasal dari wilayah tropis di Amerika dan
biasanya dapat ditemukan dari dataran rendah hingga dataran tinggi sampai
ketinggian 1.700 m di atas permukaan laut, pada tempat-tempat terbuka yang
terkena sinar matahari. Saat ini tanaman tembelekan telah tersebar di seluruh
dunia (Farida, 2008).
Ciri Morfologi
Tembelekan (L. camara) merupakan tanaman perdu tegak atau setengah
merambat dengan ciri-ciri batang : berkayu, bercabang banyak, ranting berbentuk
segi empat, tinggi lebih dari 0,5-4 m, memiliki bau yang khas, terdapat dua
varietas (berduri dan tidak berduri).
Daun : tunggal, duduk berhadapan, bentuk bulat telur dengan ujung meruncing
dan bagian pinggirnya bergerigi, panjang 5-8 cm, lebar 3,5-5 cm, warna hijau tua,
tulang daun menyirip, permukaan atas berbulu banyak, kasar dan permukaan
bawah berbulu jarang (Djauhariya & Hernani, 2004).
Bunga: mempunyai warna perpaduan warna krem, merah muda jingga. Terkadang
bunga terdiri dari campuran dua warna. Bunga membentuk kumpulan bunga kecil
membulat, perbungaan majemuk. Mahkota bagian dalam berambut (Tim Trubus,
2013).
Buah : seperti buah buni dan berwarna hitam mengkilat bila sudah matang
(Dalimarta, 1999).
Serangga Yang Menyukai
Menurut Pramono (1999) daun tembelekan (L. camara) memiliki kandungan
senyawa kimia seperti lantadene A, lantadene B, lantanolic acid, lantic acid,
minyak atsiri (berbau menyengat yang tidak disukai serangga), beta-
caryophyllene, gamma-terpidene, alpha-pinene dan p-cymene.
Tanaman Utama Yang Biasa Berdampingan
Tanaman tembelekan (L. camara) digunakan sebagai tanaman pagar pembatas
ataupun untuk keindahan karena warna bunganya yang menarik walaupun baunya
tidak enak, oleh karena itu did aerah tertentu dinamakan bunga telekan.
DAFTAR RUJUKAN
Chooi, O.H. 2008. Rempah Ratus: Khasiat Makanan dan Ubatan. Kuala Lumpur:
Prin-AD [Link]
Dalimartha, S. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta : Puspa Swara
Djauhariya, E & Hernani. 2004. Gulma Berkhasiat Obat. Cetakan I. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Farida. 2008. Mengenal Aneka Tanaman Antinyamuk. Jakarta : Rumahtangga.
Isnaini M, Elfira Rosa P, dan Suci W. 2015. Pengujian beberapa jenis insektisidaa
nabati terhadap kutu beras (Sitophilus oryzae L). Jurnal Biota. Vol. 1 No. 1
(Agustus 2015), hlm. 7 3
Mansur, M. 1990. Mutu dan Produksi Minyak Klon Unggul T-ANG 1,2,3 dan
113. Prosiding Simposium I Hasil Penelitian dan Pengembangan Tanaman
Industri. Buku VII: Tanaman Atsiri, Seri Pengembangan No.13. pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Bogor. 1062-1067
Pramono. 1999. Pemanfaatan gulma L. camara. (Online)
([Link]/free…/[Link]) Diakses
tanggal 1 Desember 2018.
Sastrapradja. 1978. Tanaman Industri. Jakarta : LIPI
Sudjak, & Saenong. 2016. Tumbuhan Indonesia potensial sebagai insektisida
nabati untuk mengendalikan hama kumbang bubuk jagung (Sitophilus sp.),
Jurnal Litbang Pertanian Vol.35, No. 3, hlm. 131
Tim Trubus. 2013. 100 Plus Herbal Indonesia Bukti Ilmiah dan Racikan. Depok :
PT. Trubus Swadaya.
Wijayakusuma. 2005. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC. Jakarta
Wijoyo, P. M. 2009. 15 Ramuan Penyembuh Maag. Jakarta: Bee Media
Indonesia.