Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 3 No.
2, November 2011
UJI POTENSI SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) DALAM
MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Aeromonas salmonicida smithia SECARA IN
VITRO
POTENTIAL TEST CUCUMBER FRUIT JUICE (Averrhoa bilimbi L.) IN INHIBITING
GROWTH OF Aeromonas salmonicida smithia BACTERIA BY IN VITRO
Prayogo, Boedi Setya Rahardja dan Rena Wilis Putri
Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga
Kampus C Mulyorejo - Surabaya, 60115 Telp. 031-5911451
Abstract
Giving antibiotics continuously can cause A. salmonicida smithia become resistant and residues
of antibiotics may pollute the water environment. One alternative to using traditional medicinal plants that
are antibacterial. Advantages of using traditional medicinal plants are relatively more secure, easily
available, inexpensive, does not cause resistance, and relatively harmless to the surrounding environment.
The content of natural chemicals from cucumber fruit is known to have antibacterial effects namely,
flavonoids and phenols.
The purpose of this study to determine ability the cucumber fruit juice inhibit bacterial growth A.
salmonicida smithia and to determine the best concentration to inhibit bacterial growth A. salmonicida
smithia with ampicillin drugs for comparison by in vitro. This research was conducted in the Bacteriology
Laboratory of Fish Quarantine Center of Sidoarjo and Human Genetic Laboratory the Institute of Tropical
Disease Centre, Airlangga University, Surabaya. This research use done eksperimental method by in
vitro, with a large measure of cucumber fruit juice inhibition zone around the existing paper disc and
comparing it to a large zone of inhibition using ampicillin.
Concentration dilution series cucumber fruit juice used during the research, began 2 gr/ 2 ml to
the concentration of 0,0625 gr/ml. Result of research show at concentration 0,125 gr/ml still has ability to
pursue bacterium A. smithia salmonicida, so that can be anticipated that effective cucumber fruit juice if
used as by drug, because at small concentration can to pursue bacteria A. smithia salmonicida by in vitro.
Keywords : cucumber fruit juice, Aeromonas salmonicida smithia and ampicillin
Pendahuluan pemindahan ikan yang terserang Aeromonas
Pada tahun 1890, Emmerich dan dari satu tempat ke tempat lain (Afrianto dan
Weibel pertama kali menemukan A. Liviawaty, 1992). Saat ini penyakit furunculosis
salmonicida pada ikan trout di Jerman. Strain yang disebabkan bakteri A. salmonicida
dari A. salmonicida dapat menimbulkan gejala dilakukan pengobatan dengan menggunakan
furunculosis (Holt et al, 1994). Wabah A. antibiotik. Menurut Cipriano dan Bullock
salmonicida pernah terjadi pada bulan Oktober (2001), antibiotik yang digunakan untuk A.
1980, terutama di daerah Jawa Barat. Kerugian salmonicida adalah ampicillin.
yang ditimbulkannya kira-kira mencapai 4 Penggunaan antibiotik ternyata dapat
milyar rupiah (Departemen Kelautan dan menimbulkan efek samping bagi patogen itu
Perikanan, 2007). Serangan bakteri ini baru sendiri maupun terhadap ikan yang dipelihara.
terlihat apabila ketahanan tubuh ikan menurun Pemberian antibiotik secara terus menerus dapat
akibat stres yang disebabkan oleh penurunan menyebabkan organisme patogen menjadi
kualitas air, kekurangan pakan atau penanganan resisten, sehingga penggunaan antimikroba
yang kurang tepat (Afrianto dan Liviawaty, menjadi tidak efektif. Selain itu, residu dari
1992). Departemen Kelautan dan Perikanan antibiotik tersebut dapat mencemari lingkungan
(2007), menyatakan A. salmonicida dapat perairan yang mengakibatkan kualitas air
dijumpai di lingkungan air tawar maupun air menjadi turun (Retnawati, 2008).
laut. Berkaitan dengan permasalahan
Penularan bakteri Aeromonas dapat berlangsung tersebut, perlu adanya alternatif bahan obat
melalui air, kontak badan, kontak dengan yang lebih aman yang dapat digunakan dalam
peralatan yang telah tercemar atau karena pengendalian penyakit ikan. Salah satu
165
Uji Potensi Sari Buah Belimbing......
alternatifnya adalah dengan menggunakan rak, tabung reaksi, corong, jarum ose, freeze
tumbuhan obat tradisional yang bersifat dryer, laminar flow, autoclave, pembakar
antibakteri. Beberapa keuntungan menggunakan bunsen, penggaris, botol kaca dan vortex.
tumbuhan obat tradisional antara lain relatif Metode penelitian yang dilakukan adalah
lebih aman, mudah diperoleh, murah, tidak metode eksperimental. Prosedur kerja dalam
menimbulkan resistensi, dan relatif tidak penelitian ini pertama membuat simplisia buah
berbahaya terhadap lingkungan sekitarnya belimbing wuluh. Buah belimbing wuluh
(Sugianti, 2005). Adanya penelitian ini, agar (Averrhoa bilimbi L.) dicuci kemudian dipotong
dapat menemukan obat alternatif dengan bahan kecil-kecil untuk selanjutnya di blender sampai
yang mengandung antibakteri yang diperoleh benar-benar halus. Hasil jus kemudian disaring
dari bahan kimia alami, yaitu sari buah dengan menggunakan saringan, selanjutnya
belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.), yang disaring kembali menggunakan kertas saring
diharapkan mampu menghambat pertumbuhan dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer (Adriana,
bakteri A. salmonicida yang menyebabkan 1992 ; Adriani, 1992). Hasil dari jus buah
kematian pada ikan air laut maupun air tawar belimbing wuluh kemudian diuapkan dengan
secara in vitro dan tidak menimbulkan resisten. alat freeze dryer selama 48 jam untuk
Tanaman belimbing wuluh telah mendapatkan simplisia dari buah belimbing
dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Adapun wuluh (Zalizar, 2010 ; Trilaksani dkk., 2006),
kandungan bahan kimia alami dari buah selanjutnya menyiapkan larutan sari buah
belimbing wuluh yang diketahui mempunyai belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dengan
efek antibakteri yaitu, flavonoid dan fenol berbagai konsentrasi. Metode yang digunakan
(Hembing, 2008). Sehubungan dengan latar adalah metode difusi dengan berbagai
belakang di atas, perlu dilakukan penelitian konsentrasi pengenceran secara berseri. Larutan
untuk mengetahui efek antibakteri dari sari buah sari buah belimbing yang digunakan dalam
belimbing wuluh dalam menghambat penelitian adalah 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml,
pertumbuhan bakteri A. salmonicida secara in 0,25 gr/ml, 0,125 gr/ml, dan 0,0625 gr/ml.
vitro.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Hasil dan Pembahasan
mengetahui sari buah belimbing wuluh Penelitian ini menggunakan metode
(Averrhoa bilimbi L.) mampu menghambat difusi dengan paper disk. Hasil pengamatan ini
pertumbuhan bakteri A. salmonicida smithia dapat diperoleh bahwa sari buah belimbing
secara in vitro dan untuk mengetahui wuluh mempunyai aktivitas menghambat
konsentrasi terbaik dari sari buah belimbing pertumbuhan bakteri A. salmonicida, dengan
wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dalam cara mengukur zona hambat yang ada pada
menghambat pertumbuhan bakteri A. sekitar paper disk. Menurut Wibowo (2002),
salmonicida smithia dengan ampicillin sebagai cara mengukur zona hambat dilakukan dengan
pembanding secara in vitro. Penelitian ini mengukur secara garis lurus tengah zona
diharapkan dapat memberikan informasi tentang hambat atau diukur dari tepi kanan sampai tepi
potensi dari sari buah belimbing wuluh kiri zona hambat yang terbentuk.
(Averrhoa bilimbi L.) dalam menghambat Hasil penelitian ini dapat dilihat dari
pertumbuhan bakteri A. salmonicida smithia besar kecil zona hambat yang terbentuk di
secara in vitro dengan metode difusi. sekeliling paper disk. Sari buah belimbing
wuluh dinyatakan sangat peka, cukup peka dan
Materi dan Metode tidak peka terhadap bakteri A. salmonicida
Penelitian dilakukan di laboratorium smithia disesuaikan dengan standar antibiotik
Bakteriologi Balai Karantina Ikan, Sidoarjo dan seperti ampicillin. Menurut Rao (1996),
laboratorium Human Genetic Institute of ampicillin dinyatakan sangat peka dengan
Tropical Disease Centre Universitas Airlangga, ukuran zona hambat 17 mm, cukup peka dengan
Surabaya. Penelitian ini dilaksanakan pada ukuran zona hambat 14 – 16 mm dan kurang
bulan Februari 2011. Bahan penelitian yang peka dengan ukuran zona hambat 13 mm.
digunakan adalah bakteri A. salmonicida Pada ulangan 1, 2 dan 3 dapat diamati
smithia yang diperoleh dari Balai Karantina bahwa A. salmonicida smithia cukup peka
Ikan, Sidoarjo, buah belimbing wuluh, terhadap sari buah belimbing wuluh pada
Tripticase Soy Agar (TSA), Mc Farland nomor konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25
0,5, aquades, saringan, kertas saring, kertas gr/ml dan 0,125 gr/ml. Berdasarkan hasil
label, aluminium foil dan paper disk. Peralatan tersebut, dapat dinyatakan bahwa pada
penelitian yang digunakan meliputi blender, konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25
tabung erlenmeyer, cawan petri, mikropipet, gr/ml dan 0,125 gr/ml, sari buah belimbing
166
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 3 No. 2, November 2011
wuluh dapat digunakan untuk menghambat protein (Lawrence dan Block, 1968). Menurut
pertumbuhan bakteri A. salmonicida smithia, Marcus et al (1991), fenol juga dapat
karena zona hambat yang terbentuk sesuai menyebabkan kerusakan dinding sel. Fenol
dengan standar umum antibiotik ampicillin. berikatan dengan protein melalui ikatan
Hasil besar zona hambat pada hidrogen, sehingga mengakibatkan struktur
konsentrasi 0,125 gr/ml pada ulangan 1, 2 dan 3 protein menjadi rusak. Sebagian besar struktur
total rata-rata menunjukkan diameter yang dinding sel dan membran sitoplasma bakteri
dihasilkan 14 mm, sehingga pada konsentrasi mengandung protein dan lemak.
tersebut sari buah belimbing wuluh dinyatakan Berdasarkan hasil penelitian yang di
sudah cukup peka dalam menghambat dapat terjadi perbedaan dalam hal pertumbuhan
pertumbuhan bakteri A. salmonicida smithia bakteri, karena adanya perbedaan konsentrasi.
secara in vitro. Zona hambat yang dihasilkan Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Pelczar dan
pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, 0,5 gr/ml, Chan (1988), bahwa cara kerja zat antibakteri
0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml disebabkan karena dalam menghambat bakteri dipengaruhi oleh
sari buah belimbing wuluh mengandung zat konsentrasi zat antibakteri tersebut.
antibakteri yang terdiri dari flavonoid dan fenol. Sari buah belimbing wuluh diduga
Hal ini sesuai dengan pendapat Setiabudy dan efektif bila digunakan sebagai obat, karena pada
Vincent (1995), bahwa zat antibakteri bersifat konsentrasi kecil mampu untuk menghambat
bakteriostatik yaitu mampu menghambat bakteri A. salmonicida smithia secara in vitro.
pertumbuhan bakteri, dengan tidak adanya Ernst (1991) menyatakan, terapi obat yang
pertumbuhan koloni bakteri pada media agar. bermanfaat adalah dengan pemberian
Pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 gr/ml, konsentrasi yang cukup dan tidak berlebihan
0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml diameter sebagai syarat utama. Pada penelitian ini,
yang dihasilkan 14 mm yang sesuai dengan pemberian konsentrasi 0,125 gr/ml sudah
standar umum antibiotik seperti ampicillin. Hal mampu untuk menghambat pertumbuhan
ini disebabkan pada konsentrasi 2 gr/ 2 ml, 1 bakteri.
gr/ml, 0,5 gr/ml, 0,25 gr/ml dan 0,125 gr/ml
mengandung zat antibakteri yang lebih banyak Kesimpulan
dibandingkan pada konsentrasi 0,0625 gr/ml, Sari buah belimbing wuluh (Averrhoa
karena besar zona hambat yang dihasilkan 13 bilimbi L.) menghambat pertumbuhan bakteri A.
mm. Boyd (1995) menyatakan bahwa semakin salmonicida smithia. Konsentrasi terbaik sari
kecil konsentrasi maka kemampuan zat buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)
antibakteri dalam menghambat pertumbuhan yang menghambat pertumbuhan bakteri A.
bakteri juga semakin kecil. salmonicida smithia adalah 0,125 gr/ml, karena
Menurut Hembing (2008), buah pada konsentrasi tersebut cukup peka bila
belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dibandingkan dengan ampicillin.
memiliki zat antibakteri diantaranya flavonoid Perlu dilakukannya penelitian lebih
dan fenol. Senyawa aktif flavonoid di dalam sari lanjut mengenai mekanisme penggunaan ekstrak
buah belimbing wuluh memiliki kemampuan buah belimbing wuluh terhadap bakteri A.
membentuk kompleks dengan protein sel salmonicida smithia secara in vitro.
bakteri melalui ikatan hidrogen. Struktur
dinding sel dan membran sitoplasma bakteri Daftar Pustaka
yang mengandung protein, menjadi tidak stabil Adriana, Y. 1992. Daya Hambat Sari Rimpang
karena struktur protein sel bakteri menjadi rusak Kunyit (Curcuma domestica Val.)
karena adanya ikatan hidrogen dengan Terhadap Dua Jenis Jamur
flavonoid, sehingga protein sel bakteri menjadi Dermatofita. Skripsi Fakultas
kehilangan aktivitas biologinya, akibatnya Matematika dan Ilmu Pengetahuan
fungsi permeabilitas sel bakteri terganggu dan Alam UNAND. Padang.
sel bakteri akan mengalami lisis yang berakibat Adriani, A. 1992. Daya Antibakteri Allium
pada kematian sel bakteri (Harborne, 1987). sativum L. dari Pasar Bringharjo
Pertumbuhan sel bakteri dapat Yogyakarta Terhadap Staphylococcus
terganggu oleh komponen fenol dari sari buah aureus dan Escherichia coli Koleksi
belimbing wuluh, yaitu dengan cara Laboratorium Mikrobiologi Fakultas
mendenaturasi protein sel bakteri. Akibat Kedokteran Universitas Gajah Mada
terdenaturasinya protein sel bakteri, maka Secara In Vitro. Skripsi Fakultas
semua aktivitas metabolisme sel bakteri Farmasi UGM. Yogyakarta.
terhenti, sebab semua aktivitas metabolisme sel
bakteri dikatalisis oleh enzim yang merupakan
167
Uji Potensi Sari Buah Belimbing......
Afrianto, E dan E. Liviawaty. 1992. Pelczar, M. J. and E. C. S. Chan. 1988. Dasar-
Pengendalian Hama dan Penyakit dasar Mikrobiologi. Universitas
Ikan. Kanisius. Yogyakarta. 89 hal. Indonesia Press. hal. 99 – 105.
Boyd, R. F. 1995. Basic Medical Microbiology. Rao, S. P. N. 1996. Zone of Inhibitions for
Fifth Edition. Little Brown and Various Antibiotics-Kirby Bauer Disk
Company. USA. Diffusion. ([Link]
Cipriano, R. C. and Bullock G. L. 2001. Diakses pada tanggal 23 Februari 2011.
Furunculosis and Other Disease Pukul 11.05 WIB.
Caused By Aeromonas Salmonicida. Retnawati, P. E. 2008. Pemberian Vaksin
Revision of “Furunculosis and other Polivalen dengan Chitosan dari
diseases caused by Aeromonas Komponen Outer Membran Protein
salmonicida,” by G. L. Bullock, R. C. dan Lipopolisakarida Vibrio
Cipriano, and S. F. Snieszko, 1983. hal alginolyticus dan Vibrio anguillarum
9. terhadap Sintasan Benih Kerapu Macan
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2007. (Epinephelus fuscoguttatus). Tesis
Penyakit Ikan Karantina Golongan Universitas Airlangga. Surabaya.
Bakteri. Pusat Karantina Ikan : Setyabudi, R. Dan H. S., Vincent. 1995.
Departemen Kelautan dan Perikanan. Farmakologi dan Terapi. Edisi 4.
Jakarta. 5 hal. Farmakologi Kedokteran Universitas
Ernts, M. 1991. Dinamika Obat. Alih Bahasa : Indonesia. Jakarta.
M. B. Widianto. ITB Press. Bandung. Sugianti, B. 2005. Pemanfaatan Tumbuhan Obat
hal 30 – 40. Tradisional Dalam Pengendalian
Harborner, J. B. 1987. Metode Fitokimia. Penyakit Ikan. Makalah Pribadi
Penuntun Cara Modern Menganalisa Falsafah Sains Institut Pertanian Bogor.
Tumbuhan. ITB Bandung. hal 71 – 77. 3 : 1 – 37.
Hembing, W. 2008. Ramuan Lengkap Herbal Trilaksani, W., Nurjanah, H.W Utama. 2006.
Taklukkan Penyakit. Niaga Swadaya. Pemanfaatan Gelembung Renang Ikan
Jakarta. Patin (Pangasius hypophthalmus)
Holt, J. G., N. R. Krieg., P. H. A. Sneath., J. T. Sebagai Bahan Baku Isinglass. Buletin
Staley and S. T. William. 1994. Teknologi Hasil Perikanan.
Bergey’s Manual of Determinative Wibowo, M. S. 2002. Penetapan Potensi
Bacteriology. Ninth edition. William Antibiotik Secara Mikrobiologi. ITB
and Wilkins A. Waferly Company. Bandung.
USA. p. 260 – 274. Zalizar, L. 2010. Efektifitas Salep Daun Sirih
Lawrence, C. A. And S. S. Block. 1968. dan Meniran Terhadap Penurunan
Desinfection, Sterilization and Jumlah Bakteri Pada Sapi Perah.
Preservation. Lea and Febiger. Universitas Muhammadiyah Malang.
Philadelphia. P. 401 – 417.
Marcus, E. B., Daniel, R. D., Ming-Ju Huang,
James, J. K., Emil, P., Nicholas, B..
1991. Application Of Semiempirical
Molecular Orbital Techniques To The
Study Of Peroxidase Mediated
Oxidation Of Phenols, Anilines,
Sulfides And Thiobenzamides. 47 :
7525 – 7536.
168