100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan26 halaman

Mantra dan Ageman Pemangku Yadnya

Mantra digunakan dalam upacara keagamaan Hindu untuk memuja dewa-dewa. Mantra berisi kata-kata gaib yang diyakini memiliki kekuatan untuk mencapai tujuan. Dokumen ini menjelaskan penggunaan mantra dalam ritual keagamaan dan langkah-langkaknya, termasuk membersihkan diri, mempersiapkan peralatan, dan membersihkan peralatan sebelum memulai ritual.

Diunggah oleh

Tri Wirayadi Nyoman
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
3K tayangan26 halaman

Mantra dan Ageman Pemangku Yadnya

Mantra digunakan dalam upacara keagamaan Hindu untuk memuja dewa-dewa. Mantra berisi kata-kata gaib yang diyakini memiliki kekuatan untuk mencapai tujuan. Dokumen ini menjelaskan penggunaan mantra dalam ritual keagamaan dan langkah-langkaknya, termasuk membersihkan diri, mempersiapkan peralatan, dan membersihkan peralatan sebelum memulai ritual.

Diunggah oleh

Tri Wirayadi Nyoman
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Ageman Pemangku & Mantra Ngawekasan Yadnya Piodalan

Mantra dalam konteks agama Hindu dikaitkan dengan penggunaannya dalam upacara
agama adalah untuk memuja Ida Hyang Widhi dengan segala manifestasinya. Dalam
kaitan ngawekasan yadnya maka mantra adalah ucapan yang merupakan rumus-
rumus yang terdiri atas suatu rangkaian kata-kata gaib yang dianggap mengandung
kekuatan atau kesaktian untuk mencapai secara otomatis apa yang dikehendaki oleh
manusia. Mantra itu sering kata-katanya tidak dimengerti oleh sebagian besar orang
dalam masyarakat. Justru disitulah memberikan nilai magis atau suasana kramat dan
gaib, misalnya kata AUM atau Om atau Ong.

Om atau Ongkara adalah prenawa, yaitu simbol kehidupan. Dalam mantra om


dianggap mempunyai kekuatan gaib. Kata Om dimaksudkan widyasakti dari Hyang
Widhi yang merupakan dari unsur-unsur Tri Sakti yakni kesaktian untuk menciptakan
disimbolkan dalam hurup atau ucapan Ang, kesaktian untuk memelihara atau
menghidupkan disimbolkan dalam ucapan Ung, dan kesaktian untuk mengembalikan
semua ciptaannya ke asalnya (pralina) diwujudkan dalam simbol ucapan atau hurup
Mang. Gabungan ketiga bunyi inilah (Ang, Ung, Mang) berubah menjadi Om atau
Ongkara. Ongkara adalah pranawa atau Bija Mantra dalam setiap doa atau mantra.
Artinya setia memulai mengucapkan bait mantra, selalu didahului dengan Om.

Rumus-rumus itu mengandung suasana sakral dan mempunyai kesaktian karena


isinya, serta sifat sakral atau kekuasaan magis dari orang yang memakainya dan
karena bahasa yang dipakai dalam mengucapkannya. Kegunaan mantra adalah untuk
menurunkan dewa atau Ida Bhatara ke dalam bentuknya yang sekala niskala. Menurut
praktek yoga, untuk menurunkan Hyang Widhi ke dalam bentuk skala-niskala ke
dalam hati seorang yogi menggunakan sarana-sarana yang dapat disentuh oleh panca
indera, seperti pujian-pujian (stuti atau stawa) persembahan berupa bunga
(puspanjali), gerak tangan yang mempunyai arti mistik (mudra), suka kata atau rumus-
rumus sakral (mantra).

Ini semua merupakan alat atau sarana untuk mengadakan kontak dengan Hyang
Widhi yang niskala, sekaligus juga merupakan wadah Hyang Widhi bersemayam.
Hyang Widhi turun ke dalam harumnya bau bunga, yang melambangkan kesucian
pikiran si pemuja, ke dalam kata-kata atau suku kata dalam bentuk mantra yang
melambangkan kesucian perkataan si pemuja, dan dalam bentuk lagu yang
dilantumkan oleh si pemuja atau dalam bentuk syair dari si penyair.

Dengan demikian Tri Kaya Parisudha seharusnya sudah tersirat dan tersurat dalam
setiap perilaku dan tindakan pemangku sebagai pemimpin upacara. Pemilihan bunga
sebagai sarana pemujaan hendaknya bunga yang harum dengan warna sesuai dengan
simbol warna dewa yang dipuja atau yang diharapkan hadir dalam upacara tersebut
seperti bunga putih untuk Dewa Siwa, bunga merah untuk Brahma, bunga kuning
untuk Dewa Mahadewa, bunga biru untuk Bhatara Wisnu dan kalpika atau bunga
campuran untuk bhatara Siwa atau semua dewa. Sangatlah kurang baik jika memuja
memakai bunga tidak harum dengan warna yang tidak sesuai.
Pemikiran-pemikiran yang demikian yang mendasari penggunaan mantra adalah dalam
mengantarkan persajian atau dalam ngawekasang persembahan sang Yajamana
kepada Hyang Widhi atau Ida Bhatara. Dengan pemahaman ini diharapkan para
pemangku tidak ragu-ragu menggunakan mantra. Suatu mantra dilandasi oleh
keyakinan yang kuat tidak akan mancapai tujuannya.

LANGKAH-LANGKAH DALAM NGAWEKASAN YADNYA PIODALAN

MEMPERSIAPKAN PERALATAN NUNAS TIRTHA

 Sangku atau sibuh atau payuk tempat tirta. Bila upacara itu agak besar agar
disiapkan dua tempat tirta. Bila upacara kecil atau rerahinan biasa cukup satu
tempat tirta.
 Bija (aksata) dan ganda (air cendana) masing-masing satu tempat ditaruh
berdekatan. Bija adalah lambang benih. Bija hendaknya dicampur dengan air
cendana agar harum. Kumara dalam mantra yang menyertai kata aksata (Om
Kumara aksata ya namah swaha) adalah anak Dewa Siwa. Dengan demikian bija
adalah simbol Dewa Siwa sendiri. Gandha, atau bau-bauan yang harum adalah
simbol amrtha (lambang kehidupan abadi). Dalam mantra gandha dihubungkan
dengan Siwa sebagai Iswara.
 Puspa, adalah simbol suguhan, juga sebagai perwujudan perasaan manusia yang
dapat mendatangkan kepuasaan. Kembang atau puspa juga merupakan
lambang dewa Siwa yang niskala, khususnya berupa bau yang keluar dari puspa
itu. Karena itu usahakan bunga yang dipakai dipilih dari bunga-bunga yang
berbau harum. Sebab bau juga melambangkan kesuciaan manah manusia,
makin harum bunga yang dipakai maka makin suci pikiran kita. Alangkah
baiknya jika dilengkapi dengan kalpika. Karena kalpika merupakan lambang Tri
Murti.
 Pasepan. Api dengan asapnya yang harum (harus mengharumkannya dipakai
kemenyan atau kayu cendana, atau kayu majegau) melambangkan akasa.
Pasepan juga sebagai pengantar upacara, yang menghubungkan manusia
dengan Ida Bhatara. Api atau Dewa Agni adalah dewa yang mengusir raksasa
dan membakar habis semua mala, ia juga merupakan dewa pemimpin upacara
menurut kitab Weda. Karena itu setiap upacara yadnya selalu ada pasepan atau
api, atau berupa dupa.
 Sirat toya (yang dibuat dari seetmimang) besarnya sesuai dengan kebutuhan.
 Siwowista (dibuat untuk tempat tirta, untuk diri sendiri, untuk bajra bila
memakai bajra) adalah simbol penyudhamala sahaning leteh.
 Dulang, tempat menaruh semua peraltan pemangku ini, di atas dulang di alasi
kapar.
 Ghanta (bajra), bila memakai. Ghanta (simbol sumber bindhu nada (Hyang Widhi
sendiri). Juga sebagai sarana untuk memudahkan untuk memanggil ida Bhatara
untuk hadir dalam upacara itu. Sekaligus juga sebagai sarana untuk
memudahkan pemusatan pikiran karena dituntun oleh getaran suara nada dari
ghanta ini.
 Dalam rangka nunas tirtha dihadapan pemangku hendaknya disediakan daksina
sebagai tempat linggih ida bhatara. Bila tidak ada daksina juga dipakai kain
putih kuning (rantasan putih kuning) dilengkapi dengan canang sari, burat
wangi dan canang pesucenan dan sesarin banten.

Berikut Langkah-Langkahnya Dalam Ngawekasan yadnya :

A. MENYUCIKAN DIRI

Perbuatan pembersihan diri meliputi: Sabda, bayu, idep, merupakan tiga aspek yang
harus disakralkan (disucikan) penyucian idep melalui mantra utpathi, dan sthiti yaitu
proses menghayalkan dan pemusatan pikiran kepada Ida Bhatara.
Pengisian/penyucian diri dengan melakukan pranayama, memohon perlindungan
kepada Hyang Widhi.

Proses penyucian diri ini dimulai dari mengambil tempat duduk. Bentuk penyucian diri
ini berupa beberapa sikap tangan dan disertai dengan mengucapkan mantra-mantra
sesuai dengan tujuannya dengan urutan-urutan sebagai berikut:

1. Mencaci tangan dengan air Ma: Om hrahphat astra ya namah


2. Berkumur : Om Um hrahphat astra ya namah
3. Masila pened : Om Padmasana ya namah swaha
4. Pranayama :
o Puraka : Om Am namah (mengisap udara)
o Kumbhaka : Om, Um namah (menahan nafas)
o Rechaka : Om Mam Namah (mengeluarkan nafas), Om Um phat astra ya
namah, Atma tattwama suddhamam swaha, Om ksama sampurna ya
namah swaha
5. Ngastiti mantra: Om Sa Ba Ta A I NA MA SI WA YA AM UM MAM
6. Mantrani sarira (mensakralkan badan: Om prasaddha sthiti sarira Siwa suci
nirmala ya namah swaha.
7. Penyucian angga sarira: Om Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa ring bayu sabda idep
suddha nirmala ya namah swaha.
8. Ngleng patitis kayun : Om sah sapariyoga ya namah swaha
9. Ngili atma (mempertemukan atma dengan Siwa): Om Siwa, amrtha ya namah.
Om Sada Siwa amrtha ya namah. Om parama Siwa amrtha ya namah.

B. NUNAS PANUGARAHAN

1. Ring Bethara Siwa (sarana bunga putih)


Om awignam astu nama siddham. (Nian panugrahan sarana toya raup akna).
Om, Am, Um, Mam, Siwa, Sada Siwa, Parama Siwa ring bayu sabda idep
suddhanta nirwignam ya namah
Om siddhi swaha ya namah
Idep dewa Siwa malingga ring baunta tengen, Dewa Sada Siwa malingga ring
baunta kiwa. Dewa Parama Siwa mungguh ring siwadwaranta, pada nyuksma
ring raga sariranta kabeh, tunggal sira. Apupul kabeh, umungguh tungtunging
papusuh. (sekar sumpangang ring tengahing lelata mwah ubun-ubun, mwah
ungkur destar)
2. Nunas Panugrahan ring Bhatara Hyang Guru

Pakulun SangHyang Guru Reka, SangHyang Kawiswara, SangHyang Saraswati,


Ginalina sung nugraha solah ulun ing kawenang. Lampah tan wigna paripurna
yanamah swaha Om Am Um Mam.

3. Nunas Panugrahan ring Bathara Tiga Sakti

Pakulun Padukuh Bethara Durga, paduka bhatara, guru, paduka bhatara


Brahma, anyusup ring adnyaning hening. Bhatara Durga malinggih ring bongkol
lidah hulun, bhatara guru malinggih ring madyaning lidah hulun, bathara
Brahma malinggih ring pucuking lidah hulun. Om Tri Lingga jumeneng neneng.
Om Am Um, Am Um, Am Um Am Ah.

C. MENYUCIKAN PERALATAN ATAU SARANA PEMUJAAN

1. Ngamertani (membersihkan) sekar: (tangan mengambil bunga dengan sikap


angranasika). Ma.
Om Siwa Sampurna ya namah (sekar ditaruh kembali)
2. Ngamertani bungan asep/kemenyan/dupa (sikap, tangan memegang
dupa/bungan asep/kemenyan sambil angrasika), Ma:
Om dhupam astra ya namah.
Om ragnir-ragnir jiotir-jiotir ya namah swaha
3. Mantrani pasepan yang sudah menyala, Ma
Om Am Brhma amertha dipata ya namah
Om Um Wisnu amrtha ya namah
Om Mang lingga Purusa dipata ya namah
4. Angisep sarining kukus arum (tangan diasapi kemudian diraupkan ke muka) tiga
kali. Ma:
Om Am Brahma amrtha dipata ya namah
Om Um Wisnu amrtha dipata ya namah
Om Mang Lingga Purusa dipata ya namah
5. Ngastiti Mantra
6. Ngalinggihang Hyang Widhi dalam manifestasinya, berupa dasa aksara. Pikiran
dipusatkan dan seolah-olah Ida Bhatara turun dari akasa dan malingga di
prahyangan atau daksina ajeng pemangku dan berkenan memberikan
panugrahan air suci yang kita mohon dengan mengucapkan bait-bait mantra.
Sikap tangan angranasika. Sarana sekar putih. Ma:

Om anantasana ya namah. Om padmasana ya namah.


Om, I Ba Sa Ta, A. Om Ya, Na, Ma, Si, Wa
Om Mang, Um, Ang Namah (Upatthi)
Om, Sa, Ba, Ta, A, I. Om, Na, Ma, Si, Wa, Ya
Om, Am, Um, Mang. (sthiti)
(Sekare peletikang ke ajeng)

D. NUNAS TIRTA

 Jika pemangku tidak memakai ghanta, maka sikap kedua tangan angransika
sambil memegang bunga. Pandangan dan pikiran dipusatkan kepada bunga
yang merupakan simbul Hyang Widhi/Idha Bhatara yang kita mohoni tirtha.
 Jika pemangku memakai ghanta, tangan kiri memegang ghanta tangan kanan
memegang bunga dengan sikap angransika, tangan kanan yang memegang
bunga setinggi hulu hati, demikian juga posisi ghanta setinggi hulu hati.
 Sebelum mengucapkan mantra bunga yang dipakai sebagai sarana mohon tirta
setiap kali memakainya hendaknya dicelupkan dulu ke dalam air cendan
(gandha) agar harum baru tangan angranasika. Dan setiap selesai mengucapkan
bait-bait mantra sesuai dengan nama jenis mantranya, bunga selalu dimasukkan
ke dalam sangku yang berisi titha (air) sebagai simbolis bahwa beliau (Ida
Bhatara) telah mengubah air itu menjadi tirtha yang kita inginkan.

Dari seluruh kegiatan pemujaan, memohon air suci (tirtha) merpakan proses yang amat
penting. Tirtha merupakan produk terakhir dari suatu pemujaan. Tirtha dipandang
sebagai air suci yang mengandung tuah kekuatan yang berasal dari Ida Bhatara, yang
memberikan perasaan bersih dan terlindung serta kebahagiaan bagi yang
memohonnya. Juga yang mampu menghilangkan segala mala atau kotoran yang
melekat pada semua peralatan upacara.

Cara memohonnya dengan menggunakan sarana bunga yang telah dicelupkan ke


dalam air cendana, bija dan kemudian diasapi. Selanjutnya disertai dengan
mengucapkan bait-bait mantra sesuai dengan tujuan. Setiap selesai mengucapkan
bait-bait mantra bunga kemudian dimasukkan ke dalam sangku atau payuk tirtha.
Demikian seterusnya sampai semua bait mantra selesai diucapkan sesuai dengan
tujuan permohonan air suci itu. Proses mohon tirtha itu sesuai dengan urutan mantra
di bawah ini.

Proses nunas tirtha di mulai dari :

[Link] kalpika, sikap angranasika.

Om rahphat astra ya namah. Atma tattwama suddham swaha


Om ksama sampurna ya namah
Om sripasupataye Um phat
Om sriyam bhawantu,
Om sukham bhawantu,
Om purnam bhawantu ya namo namah swaha
(sekare ranjingang ke sangku)

Penjelasan: Mantra di atas (no. 1) Astra Mantra. Pada halaman-halaman berikutnya


mantra ini sering dipergunakan pada saat maketis atau menyucikan peralatan
upacara. Untuk selanjutnya akan ditulis nama mantranya saja. Yang dimaksud
adalah mantra di atas.
2. Puja mantra pangider bhuwana (nunas tirtha ring idha bhatara ngider bhuwana)

Om Iswara purwa bajrantu. Dupa agnya mahesora Danda Brahma daksinanca.


Nirityam Rudra Muksalam
Om pascimantu Mahadewa. Wabhyan angkus Sangkara Cakra Wisnu Utaram desa.
Ersanya Sambhu Tri Sulam
Om padma madya Siwam dewa. Taya Sada Siwa Stata urdhaparam Siwasca. Sarwa
dewata uciate
(sekare ranjingang ke sangku).
*Jangkep lan dewinya
Om Iswara Uma dewisca. Mahesora Laksmi dewi Brahma Saraswati dewi. Rudra
Santani Dewi
Om Mahedewa Saci dewi. Sangkara Warahi dewi Wisnu bhatara Sri dewi. Sambhu
dewa Uma dewisca
Om padma madya Sawitri Gaytri Uma. Tattwa Mahadewisca
Om Am, Um, Am Um, Am Um,.
Om Sri dewi Sangkara swaha

3. Sirat tirta ke ajeng sebanyak baris mantra

Om pang padya ya namah. Om am argha dwaya ya namah


Om yam jiwa suddha ya namah. Om cam camanya ya namah
Om grim Siwa griwaya namah. Om dewa bathara sampurna ya namah. Om toyam
gangga pawitrani ya namah

4. Sangkepi dengan gandha, aksata dan dupham. Masukan semua unsur tersebut ke
dalam sangku.

Om Sri Gandhaswari byo amertha namah swaha


Om kum Kumara wija ya namah. Om puspa dantha ya namah
Om Dupham samar payami ya namah

5. Pranayama

Om Am namah (menarik nafas). Om Um namah (menahan nafas). Om Mam Namah


(mngeluarkan nafas).

Heningkan pikiran dan pusatkan kepada Hyang Widhi (ida Bhatara Susuhunan di
Parhyangan)
6. Sirat ring kunda rashsya (ubun-ubun)

Om Am Siwa amertha ya namah. Om Am sada Siwa amertha ya namah .

Om Am parama Siwa amrtha ya namah

Om Am Ksama sampurna ya namah.

7. Sirat tirtha ke ajeng: astra mantra, lan sangkepi.

8. Sangkepi dengan gandha, akasata dan dupham. Masukan semua unsur tersebut ke
dalam sangku.
Om Sri gandhaswari byo amertha namah swaha
Om Kum Kumara wija ya namah. Om puspa dantha ya namah
Om Dupham samar payamai ya namah

Lanjut mengambil ghanta


(apabila pemangku menggunakan ghanta dalam memuja). Seblum memulai
membunyikan gantha maka tahap-tahap di bawah ini haru diikuti, tetapi apabila tidak
memakai gantha mantra no. 9 dengan no. 16 di bawah ini tidak perlu diikuti.

9. Memasang sirowista pada ghanda. Sirati tirtha sirowista.

Om dewa pratistha ya namah swaha

10. Mensucikan sirowista.

Om mejung wausat Siwaya sampurna ya namah swaha


Om rim kawaca ya namah (sirowista pasang ring gentha)

11. Ambil ghanta lan ketisin tirtha.

Om dewa prathista ya namah swaha

12. Ghanta di asapi

Om Am dhupa astra ya namah

13. Ngastawa ghanta (mensucikan ghanta). Tangan kiri memegang ghanta, tangan
kanan memegang kalpika. Pikiran dipusatkan pada ghanta. Ngastitiyang mangda Ida
Bhatara tedun tur malingga ring bajra , muah suaran bajra. Suaran bajra silih
sinunggil nyasa Hyang Widdhi marupa windu nada.

Om Omkarah Sada Siwa sthah. Jagat natha hitangkarah Abihiwade wadaniyah.


Ghanta sabda praksyate Ghanta sabdda maha srethah. Om karah parikertitah
Candrardha bindu nadantam. Spulingga Siwa tattwanca Om ghantayur pujyate
dewah. Abhawya bhawya karmesu Waradah labda sandheyah. Wara siddhir
nursangsayam

Selesai mengucapkan mantra di atas peletik pelit ghanta ping 3. setiap selesai meletik
pelit ghanta, tangan kanan di putar tiga kali mengitari ghanta dengan mengikuti arah
jarum jam, perilaku ini mewujudkan atau menstanakan Hyang Widhi dalam wujud Tri
Aksara dalam suara nada ghanta, sekaligus menuntun pemusatan pikiran kita kepada
Hyang Widhi untuk memberikan berkah kepada air suci (tirtha) yang kita yang kita
mohon kepada Ida Bhatara. Ma.:

Peletik ping 1: Am. Peletik ping 2: UM. Peletik ping 3 : Mam

Setiap selesai putaran sentuhkan bunga yang ada pada tangan kanan pada ujung
ghanta sebagai simbolis menstanakan Ida Bhatara pada ghanta.
14. Membunyikan ghanta.
Om tam tat purusa ya namah, Om Bam Bamadewa ya namah, Om Am Agora ya
namah, Om Sam sadia ya namah, Om rengkayase sirase ya namah, Om Bhur bhwah
swah jwalini ya namah, Om rum kawaca ya namah.

15. Sangkepi

Om gandham (siratin toya cendana bajrane)


Om Akasata (mijain bajra). Om dhupam astra ya namah (asepin bajrane). Om Am
Kasolkaya Iswara ya namah (wajikin tangane aji toya wajik tangan, lan bajra
genahang ring genahe).

16. Pangaksama. Agem ghanta

Om ksama swamam Mahadewa. Sarwa prani hitangkara. Mam moca sarwe


papebyah. Palaya swa Sada Siwa Papo ham papa karmaham. Papatma papa
sambhawah. Trahi mam sarwo papebyah. Kanancin mam ca raksanthu Ksantawyah
kayiko dosah. Ksantawyo waciko mamah. Ksantawyo manaso dosah. Tat
prasiddhantu ksama swamam Hinaksaram hina padam. Hinan mantram tathaiwa
ca. Hina Bhaktim hina [Link] Siwa namo stute Mantram hinam kriyam
hinam. Bhaktinam Maheswara. Ya pujitnam Maha dewa. Paripurnam tad astu me.

(sekare ranjingang ring sangku)


17. Puja Apsu Dewa (sikap sama dengan di atas)

Om apsu dewa pawitrani. Gangga dewi namo stute. Sarwa klesa winasanam. Toyem
Parusddhyate
Sarwa papa winasini. Sarwa roga wimocane. Sarwa klesa winasanam. Sarwa bhogam
awapnuyat
Om Sri kare sapahut kare. Roga dose winasanam. Siwa logam maha yaste. Mantre
manah pape kelah
Sindyan tri sandya sapaha. Sakala mala malahar. Siwamrtha manggalan ca.
Nadinimdam namah swaha

18. Pancak saram stutti (sikap sama dengan di atas)

Om pancaksaram Maha Tirtham. Pawitram papa nasanam. Papa koti saha sranam.
Aganam bhawet segaram
Pancaksaram parama jnanam. Pawitram papa nasanam. Mantramtham parama
jnanam. Siwa loka pratham subham
Namah siwaya ity evam. Para brahmatmane wandam. Para saktih panca diwah.
Pasca Rsyam bhawed Agni
A-karas-ca U-karas-ca. Makaro winddhu nadakam. Pancaksaram maya proktam.
Om kara Agni matrake

19. Puter air (we) ring sangku ping 3 arah tengen memutarnya pakailah sesirat tirtha.

Om bhur bhwah swah swaha maha Ganggayai tirtha pawitrani swaha.

Sampai di sini selesailah proses nunas tirtha untuk keperluan sehari-hari. Apabila
pemangku ngawekasang yadnya yang agak besar (tiga bulanan, piodalan dsb) maka
proses nunas tirtha dilanjutkan kembali dengan mengikuti mantra-mantra di bawah.
Untuk nunas tirtha ini harus tridatu.

Proses nunas tirtha ring payuk merajah ini mulai dari mantra berikut :

20. Pemendak dewa atau peganggaan atau Stawa Bhatara

Om pranamya bhaskara dewam. Sarwa klesa winasanam. Pranamya ditya


sewartham. Bhukti-mukti warapradam
Om gangga Saraswati Sindhu. Wipasa kausiki nadi. Yamuna maha srestha. Sarayus
ca Mahanadi
Gangga Sindhu Saraswati. Suyamuna Godawari Narmada. Kaweri Serayuh
Mahendra tenaya. Carmawati winuka
Badra Netrawati Maha Suranadi. Kyata caya gandhaki. Punyah purna jalah
samudra. Sahitah kurwamtu te manggalam

Sikap sama seperti di atas. Sarana Kalpika bija


21. Stawa Sad Gangga

Om Gangga Dewi maha punye. Namaste wisma brahmini


Yamuna parame punye. Namas te Parameswari

22. Sabda dewata

Sarwa wighna winasayantu. Sarwa klesa winasyatu


Sarwa dukha [Link] papam winasaya namo namah swaha

23. Tibeni kembang. Tanpa ghanta. Sarana sekar lan bija. Sikap menyembah

Om Om I A KA SA MA RA LA WA YA Om swaha
Om Om kumuda jayai yiwa sarira ksanda disima

24. Mrtyun Jaya Stawa (pujian kepada penakluk kematian)

Om Dhirgayur bala wrdi sakti karanam. Mrtyun jaya saswatam. Rogadi ksaya
kustha . dustha kelusam. Candra phraba bhawaram
Hrim mantram cacatur bhujam, Trinayana wiyalo pawitam siwam. Swetan camrta
madyagam. Sukha karam pawitram jiwa ksaya wiyansakam
Swetham bhoruha karnikorpari gatam. Dewasuraih pujitam. Mrtyu krodabalam
maha-krty mayam. Karpura-renu prabham
Twam wande hradaya bhakti saranam. Prappyam maha prastumaih. Santam
sarwagatam nirantam abhawam. Bhutatma kam nirganam
Sraddha bhakti kriam wimukti karanam. Wyaptam jagat dharanam. Mauli bandha
kirita kundala dharam. Caitanya dustha ksayam
Wande mrtyu-jitam sayapya maraho. Mantra di-dewo Harih. Mukta twam jagat twam
semadi satatam. Catanya dustha ksayam

pakai ghanta jika ada ghanta. Jika tidak pakai ghanta sikap angranasika .
(sekare ranjingang ke tirta ring payuk)
25. Mrtyun Jaya Stawa (sabda pemberi restu)
Om mrtyun jayasya dewasya. Ye namany anukirtiayet
Dirghayusyam awapnoti. Sanggrama wijayi bhawet
Om Atma Tattwatma suddha mam swaha

(sekar ranjingang ke tirta ring payuk)


26. Pemarisudha

Om pertama sudha, dwitya sudha, trtya sudha, caturti sudha, pancami sudha,
sadmi sudha, saptani sudha, sudha, sudha sudha wariastu tat astu astu ya namah
swaha.

ketisang tirtha ring sangku ke tirtha ring payuk


27. Tambah Ayu Wrdhi. Sarana sekar lan bija

Om ayur wrddhi yaso wrddhih. Wrddhih pradnya sukha sriyam. Dharma santana
wrddhisyat. Santute sapta wrdaydhah
Yawan mero stitho dewah. Yawad gangga mahitale. Candrarko gagane yawat. Tawat
wa wijayi bhawet
Om dirghayur astu tathastu. Om awighnam astu tathastu. Om subham astu
tathastu. Om sukham bhawantu
Om purnam bhawantu. Om sreyo bhawantu3.

(sekare ranjingang ke tirtha ring Payuk)


28. Mensakralkan tirtha. Sarana sekar lan bija. Ambil bunga setiap baris mantra lalu
masukkan ke payuk

Om Siwa amrtha ya namah


Om sada Siwa amrtha ya namah
Om Parama Siwa amrtha ya namah

29. Lajut sangkepi

Om Sri gandha suci nirmala ya namah (masukkan air cendana ke payuk)


Om Kum Kumara wija byo ya namah swaha (masukkan bija ke payuk)
Om Om puspa dantha ya namah swaha (masukkan puspa ke payuk)
Om dhupam astraya namah swaha (putar pasepan ping 3 di atas payuk)

30. Ngelukat diri dengan tirtha pelukatan

Om Budha maha pawitra ya namah


Om dharma maha tirtham ya namah
Om Sang Hyang Maha Toyam ya namah

Sirat ubun-ubun ping 3


31. Nunas tirtha ping 3

Om Brahma pawaka ya namah


Om Wisnu Amrtha ya namah
Om Siwa adnyana ya namah

32. Meraup muka ping 3


Om Siwa sampurna ya namah
Om sada Siwa pari purna ya namah
Om Para Siwa Ksama sampurna ya namah

33. Mabija

Om idem bhasma param guyam


Sarwa papa winasanam
Sarwa raga praca manam
Sarwa kelusa nanasanam

ambil bija dan taruh pada telapak tangan kiri, kemudian berikan mantra
34. Raris genahang ring :

Ubun-ubun : Om Am Isana ya namah


Tengahing lelata : Om tam tat purusa ya namah
Ulun hati Ma : Om Am Agora ya namah
Bahu tengen : Om Bam Bama Dewa ya namah
Bahu kiwa : Om Sam Sadaya namah
Kama maka kalih : Om Um rah Astraya namah

35. Masang sirowistha

Sirati tirtha sirowistha : Om dewa pratistha ya namah swaha

Asepi srowistha : Om dupham astra ya namah swaha

Mantrani sirowistha: Om sirowistha maha diwyam. Pawitram papa nasanam Nityam


kusagram tisthati. Sidantam pratigrnati Om hrum rah phat astra ya namah (pasang
sirowistha ring lelata)

36. Menyuntingkan bunga ring ungkur destar

Om Sri ksamara ya namah

37. Mesesirat ke awang-awang. Pakai Astra mantra lanjut Sangkepi (lihat di atas).

Selesai sudah proses nunas tirtha pengelukatan untuk dipakai ngelukat banten,
parhyangan Ida Bhatara mwah semua peralatan upacara. Catatan penting: proses
nunas tirtha ini dari mantra nomor 1 sampai dengan nomor 37 selalu dilaksanakan
setiap akan memulai memimpin upacara yadnya apapun. Karena sebelum banten itu
dipersembahkan kehadapan Hyang Widhi atau Ida Bhatara, banten tersebut terlebih
dahulu harus disucikan dengan air suci yang kita mohon kehadapan Ida Bhatara.

Selesai proses nunas tirtha barulah ngilenang upacara yadnya apapun namanya yang
patut diselesaikan oleh Jro Mangku.

38. NGELUKAT ATAU MENYUCIKAN ETEH-ETEH PARERESIKA


Pranayama. Memusatkan pikiran kepada ida Bhatara bayangkan beliau turun dari
akasa dari malinggih ring Parhyangan atau purawaning daksina.

Om Anantha sana ya namah. Om padmasana ya namah


Om I BA SA TA A. OM YA NA MA SI WA
Om MAM UM AM (upathi). Om SA BA TA AI
Om NA MA SI WA YA. OM AM UM MAM (Sthiti)

Siratin tirtha eteh-eteh pasuciane (lsin banyuawang, banten biakala, banten


durmenggala, banten Prayascita). Kadulurin antuk astra mantra. Ayabang seka siki
banten eteh-eteh pareresikanne kaduluring antuk Mantra berikut :

1. Puja tepung tawar, segau : Om sajana aptata sastra, tepung tawar amunahi.
Segawu hanglungsuraken sebel kandel gagodan sang nemu sengkala, lara roga
bhaktanu. Om pras bungkah tusta, tusta, trus tekeng para
2. Puja biakala: pakulun Bathara Hyang Kala-kali, bhatara Kala Sakti, Sang Kala
Petak, Sang Kala Bang, Sang Kala Jenar, Sang Kala Ireng, Sang Kala Amanca
warna, Sang Kala Anggapati, Sangkala Karogan, Sang kala Sepetan, Sang Kala
Gering, Sang Kala Pati, Sang Kala Sedahan, Sang Kala Kinabehan, aja sira
anyengkala, anyengkali, manusia ngastiti dewa ring kahyangan, ring pada
dharma kahyangan Sakti, reh ipun sampun angaturaken tadah saji, ring pada
Bhatara Kala, puniki ta bhuktin sira kabeh, bilih belanira. Om kala-kali byo
bhoktaya namah. Om ksama sampurna ya namah. Om Am sarwa Kala Ksama
swamam ya namah swaha.
3. Puja Durmenggala: Pakulun Sang Kala Purwa, Sang Kala Sakti. Sang Kala Bajra
Muka, Sang Kala Ngulaleng, Sang Kala Suksma, aja sira pati papanjinga, pati
paprotongi, iki tadah saji nira, penek kalawan bawang jae mwang terasi bang,
iwak antiga, jinah satak lima likur, lawe satukel manawi kirang katadahan ira,
aywa sira usil silih gawe, ikun jinah satak salawe, wenang satukel, engone atuke
ring pasar agung, wehana anak rabi, mwang putu buyut, ndah sira lunga amarah
desa, aja maring kene, denpada wehana, raksa rumaksa pada sidhir astu swaha.
Om kala byo bhokya namah swaha. Om butha bhokta ya namah swaha. Om
Durga bhota ya namah swaha. Om Piscaya bhota ya namah swaha.
4. Puja Prayascita: Om I BA SA TA A, sarwa mala prayascita ya namah. Om SA BA
TA AI, sarwa papa pataka, lara roga, Wigna parayascita ya namah, Om A TA SA
BA I, sarwa klesa, dasa mala geleh pateleh, prayascita ya namah, Om Prayascita
kato yogi. Catur warnam wicin tayet, Catur wastram sa puspadyam. Am ghong
reng byas tathottaman. Om am ghong rem bhyah namah swaha, Om Agnirahsya
muka. Mungguh bungkahing hati angeseng salwiring dasa mala. Teke geseng-
geseng, geseng, Om prayscita subagyam astu,
5. Puja Isuh-Isuh : Pakulun SangHayang Taya tanpa netra, tanpa cengkem, tanpa
karna, tanpa irung, SangHyang Taya jati suci nirmala, Sira angisuh-isuhin sarwa
dewata, angilangaken sarwa kala bhuta dengen, ring sarwa ta kabeh, aja kari
masanetan ring manusa kabeh, nyah ta kita saking kulit, saking daging, saking
walung, saking sumsum, mantuk ta kita ring jipang cempadi keling sabrang
melayu. Om Am Mam nama Siwa ya namah.
6. Puja Taluh ring biakala: Om antinganing sawung anya, pengawakaning
SangHyang Gala Candu sagilingan, kalisakna lara roga mala pataka kabeh, Om
sah wausat namah. Om bang bamadewa bhatara angiberaken lara roga papa
klesa mala wighna sarwa dewa-dewine kabeh. Om sriyawe namo swaha.
7. Puja Lis : Om sang janur kuning pengadegan nira, turun bhatara Siwa ri
kebhaktianing manusa kabeh. Om ksama sampurna ya namah. Om jreng jreng
sabur ngadeg angilangakna sarwa klesa sang lis-lisan. Om sabur pita, sabur
rakta, subur swetha, sabur kresna, sabur amanca Sarwa karya prastistha ya suci
nirmala ya namo namah swaha.
8. Puja Buhu-buhu : Om sweta tirthancayo niyam, pawitram papa nasanam. Sarwa
roghacanagasca, sarwa kali kalusa winasanam, Om rakta tirtha. Om krsna
tirthanca, yawe namo namah swaha.

Catatan : puja a, b, c, d, e, f diucapkan atau dilakukan apabila memang telah disiapkan


banten-banten tersebut di depan jro mangku sesuai dengan tingkatan upacaranya.
Sehandainya tidak ada sarana tersebut puja tersebut tidak. Langsung ngemargiang
paileh pareresikan.
39. NGEMARGIANG PARERSIKAN BANTEN LAN PARHYANGAN

Urutan pemargian eteh-eteh pareresikanne sekadi ring sor:

1. toya anyar
2. Isuh-isuh
3. Banyuawang
4. Biakala
5. Durmenggala
6. Prayascita
7. lis
8. Tirtha pangelukan

40. Puja ngemargiang palisan. Ritatkala para pengayah ngemargiang palisan dane jro
mangku saking genah malinggih nyiratang tirtha ke awang-awang kadulurin antuk
puja mantra:

Om Am suklyai namah. Om Am bhaktyai namah. Om Am krsnyai namah. Am Am


jambi kayai namah1
Om Am sarwa dewebhyo namah swaha. Om Am sapta Rsibhyo namah swaha. Om
Am sapta pitrbhyo namah swaha. Om Am saraswatyai bhyo namah swaha2
Om Om Siwa amrtha ya namah, Om Om Sada Siwa Amrtha ya namah. Om Om
Parama Siwa amrtha ya namah. Om ksmung Siwa amrtha ya namah. Om ksmung
Sada Siwa amrtha ya namah3
Om ksmung Parama Siwa amrtha ya namah. Om Om gangga amrthaya namah. Om
Om Candra amrthaya namah. Om Siwa suddha mam swaha4
Om swasti suddha mam swaha. Om hram hrim sah Parama Siwa amrthaya namah.
Om om ehi Surya sahasresu. Tejo rase jagat pate5
Anukampaya bhaktiya. Gerhamano Diwakara. Namah namah te. Om hram hrim sah
Parama Siwa. Aditya ya namah6
Om Om ehi surya sahasresu. Tejo rase jagat pate. Anukampaya bhaktiya.
Gerhamano Diwakara Namah namah te. Om hram hrim sah Parama Siwa. Aditya ya
namah.

41. Tambah malih antuk puja sehe:

Om Sang Hyang Tiga Muti Hyang, makadi SangHyang malingga ring bebanten,
karaban, karapuhan dinamet dening wwang, kaletikang dening wadak, kaiberaning
sato, kalangkahi sona (asu), kasepunganing awu, olih tinuku ring pasar agung,
parasama kalukat kalebur dening SangHyang Tiga Murti Hyang. Om siddhir astu.
Om sri yawe namo namah swaha.
42. NGELINGGIHANG (NGUNDANG IDHA BATHARA)

1. Pamendak dewa: Om pranamya dewa sang linggam, Dewa linggam Mahesora,


sarwa dewata-dewati dewanam, tasme lingga ya namah.
2. Brahma Stawa: Om namaste bhagawan Agni. Namasthe bhagawan harih.
Namasthe bhagawan isa. Sarwa bhaksa Utasana. Tri warna bhagawan agni.
Brahma, Wisnu Mahesora, Santikam pascikam cewam. Raksanantu bicarukam.
Adnyana kertha lokam. Subagiyam priya darsanam. Yat kincit sarwa karmani.
Siddhi rewa nir [Link] Brahma Prajapati sresthah. Swayambuh wradah
guru. Padma yoni catur waktra. Brahma sa kaya murciate. Om hram hrim sah
Brahmaprajapati ya namah swaha.

43. Aturi tirtha ke ajeng (sebagai penghormatan) sebanyak baris mantra:

Om pam padya ya namah (toya wajik cokor). Om am argha dewaya ya namah (wajik
tangan). Om cam camanam sudha ya namah (toya raup). Om yam jihwa suddha ya
namah (berkumur). Om ghrim Siwa giwya namah (membasahi kepala). Om dewa
bhatara sampurna ya namah (toya raup) Om toyam gangga pawitrani ya namah
(toya raup)

44. Sangkepi (aturi gandha, akasata, puspa, dhupa)

 Ghanda : Om Sri gandhaswari ya amrtha ya namah swaha


 Akasata : Om Kum Kumara wija byo amrtha ya namah swaha
 Puspa : Om Puspa dantham ya namah swaha
 Dhupa : Om ragnir-ragnir, Jiotir-jiotir

45. Susuhunan Stawa

Om Wisnu –wisnu rahade tryade. Sri Wisnu prajapate ksetre


Waraha kalpe pratama carane. Kala yuge kala mangsa
Kalatite yoga naksatra nitaya. Wadhaki phalam prapti kamanaya
Sarwa prayascittam karisye. Sobhagyam astu, tat astu astu swaha.

45. Aturi tirtha ke ajeng (sebagai penghormatan)


46. Sangkepi (aturi gandha, akasata, puspa, dhupa)

47. Giripati Stawa

Om Giripati dewa-dewa. Loka natha Jagatpati


Sakti mantam mahawiryam. Adnyana wantu siwet makam
Mahedewa dibya caksu. Maha padma namo namah
Gora-gora adi suksma. Adi dewa ya namo namah
Paramasta paramesti. Para marta namo namah
Adi karana isanca. Nakaraya namo namah
Maha rudra maha sudham. Maha murti maha tattwa
Sarwa papa winasanam. Adi dewa ya namo namah
Mahesora Sangkara ca. Sambhu sarwa bhawa statha
Misora Brahma Rudrasca. Isana ya namo namah

48. Aturi tirtha lan sangkepi

49. Puja pangider bhuwana

Om Iswara purwa bajrantu. Dupa agyam Mahesora

Danda Brahma daksinanca. Niritiyam Rudra mukhsalam

Pasa pascimantu Mahadewa. Wayabhyam angkus Sangkara

Cakra Wisnu utaram desa. Ersanya Sambhu trisulam

Padma madya Siwa dewam. Taya Sada Siwa

Statha urdhaparam Siwanca. Sarwa dewanca usyate

Tekeng Dewinya:

Om Iswara Uma Dewica. Maheswara Laksmi dewi

Brahma Saraswati dewi. Rudra Santani dewi

Mahadewa Saci dewi. Sangkara Mahadewica

Wisnu bhatara Sri dewi. Sambhu dewi Warahi dewi

Padma madya Sawitri Gayatri Uma. Tattwa maha dewisca

Om Am Um Am Um Am Um . Om Sri dewi Sangkara swaha

50. Aturi tirtha lan sangkepi (sekadi ring ajeng)

51. Puja istadewata. Puja ini agar disesuaikan dengan Pura yang menjadi amongannya.
Untuk puja istadewata dapat dilihat dibagian halaman belakang.

52. Wusan puja istadewata malih aturi tirtha lan sangkepi

53. Aturi pasucian


Kakrik : Om Sri Dewi Bhtarimsa Yogini namah
Kakurah : Om Um Phat astraya namah
Keramas : Om awregye namah, Om gagane murtaye namah
Meraup : Om waktra parisudhamam swaha
Madyus : Om acurwa sucirwapi. Swara kamo gatopiwa
Cintayet dewa isanam. Sabhahya bhyatara sucin

Tigasan : Om kaupina Brahma Samyuktah. Makhala Wisnu


Samsmrtah. Antanwaseswaro dewah. Bandham astu Sada Siwa

Mahyas : Om Semarana karanam dewam. Ardanetaram


mewatam. Sarwa busana gunawan. Sarwa dewa Siwosthana.

Tebusi : Om yang rang hang jung lang sasawat


Om yang rang ngang. Om ngang jung lung
Om sawasat nama swaha

Minyak : Om namo budhaya swaha

Sekar : Om Sri Samara namah

54. Malih ambil pasepane

Om Am Brahma amrthani dipata ya namah. Om Um Wisnu amrtha dipata ya


namah. Om Mam Lingga Purusa ya namah. Om Candra amrtha ya namah. Om
Gangga amrtha ya namah. Om Siwa Sudhamam swaha. Om Swasti sudhamam
swaha.

agem tur kadulurin antuk mantra


55. Nyembah dengan sekar

Om hram hrim sah Parama Siwa amrtha ya namah. Om ardha nareswari ya namah.

56. Mesesirat ke sesajen. Pakai astra mantra lan sangkepi

57. Puja sesayut

Om Om sarira paritreptapta. Om Om atma tattwatma pari treptapta. Om Om sarwa


sukha paripurnapta. Om Om Sobagya paripurnapta

(sekare peletikan ke ajeng)


58. Tumpangnya sekar ikang sesayut

Om Om amrtha sanjiwani ya namah. Om Om kurmeda ya namh. Om Om sakti


karana ya namah. Om Om mrtyun jaya ya namah. Om Om Praba ya namah.

(sekare peletikang ke ajeng)


59. Kuta SangHyang Mrtyun Jaya (penghormatan) sikap mebhakti

Om Om kumudha jaya jiwet sarira raksan dadi sime. Om Om mejung sah wausat
mrtyun jaya ya namah swaha.
60. Puja Mertyn Jaya (pateh sekadi ring ajeng)

61. Dharma pengolih

Pakulun, paduka bhatara anangkurat, kalawan paduka bathari pertiwi, mekadi


bhatari Wisesa ring rat bhuwana kabeh, kalawan pada bhatara, hulun angaturaken
saluiring tatebasan sang tinebas, apa pada dewa, pada bhatari, bhatara, asung
nugraha widhi maring awak sariran ipun, ulih akna jiwitan ipun, tumungkul ipun
angadegi bhuwana, katekan cokor rogoh dirghayusa antuk akna, tungunen premana
wisesa. Om siddhir astu ya namah swaha

(sekare peletikang ke ajeng)


62. Puja Suci Guru Piduka (Yening wenten banten suci guru piduka, jika tidak mantra
ini tidak usah diucapkan).

Pakulun Hyang predana purusa, Hyang Siwa, Hyang Surya Candhra, iki manusa
nira magurupiduka, angaturaken pamahayu, wus katanggap den ira sang Sedahan
Bagawan Penyarikan, mwang Bhagawan Citra Gotra, Citra Gotri, manawi manusa
nira ujarnia saud (saud atur) mwang linyok, sampun ta ira angadeg aken paduka,
lugrahi manusa nira anuhur tirtha. Om siddhir astu ya namah swaha.

63. Puja pengambeyan

Pakulun kaki pengambe, nini pengambe ingsun angambe sang sinayutan. Sampun
katangab katrima denira kaki pengambe nini pengambe. Kajenengane de nira
bhagawan Penyarikan. Kaki Citra gotra nini Citragotri. Sami kajenengane sang
sinadiyan kasengguh. Om siddir astu ya namah swaha (sekare peletikan ke ajeng.
Sira SangHyang Sapta Patala, Sira SangHyang Sapta Dewata, sira SangHyang
Bhesawarna, sira SangHyang Tri Nadi Panca Korsika, sira SangHyang Pramana
makadi SangHyang Urip. Sira pageha ri stanam ira swang-swang, pekenan in hulun
angawruhaken i sira aneda raksanan in rahayu, aneda urip waras dirghayusa ira
paripurna sang i ngambe.

64. Puja Panca Maha Butha (ngayabang pengambeyan)

Om pretiwi dewa sampurna, apah teja jiwat makam. Bayu akasam pramanem.
Dirghayusa jagat pramanam (sekare peletikan ke ajeng).

65. Mantra pula Gembal mwah sekar setaman

Om bhagawan panyarikan, kaki citragotra, paduka angaturaken saji pula gembal,


tadah pawitra, sekar setaman, caru putih ijo, pari manem maring sumur. Manusa
nira aneda nugraha anglepas kreta kang mungguling sarat, kasambut rumuhun,
manawi wenten kirang wenten luput, hampuranem ta pakulun. Den ipun geng rna,
akedik aturaning manusa nira, agung pikolihan ipun, katekaning sinadyan ipun.
Om ayu wrddhi yaso wrddhi. Wrddhih pradnya sukha sriyam. Dharma santana
wrddhisyat. Santute sapta wrdhaidah. Om dhirgayur astu tat astu astu. Om Sa Ba
Ta, A, I Na Ma Si Wa Ya namah swaha

(sekare peletikang ke ajeng)


66. Puja tutwan

Om Kala Patu muwaning bhuwana, apang-panganing jagat, hawoh amirah, agodong


anglungsir, ana kapopang pange mawetan, pangirid sahisining wetan. Ana kapopang
pange mangidul, angirid sahising kidul, ana kapopang pange mangulon, angirid
sahising mangulon, ana kapopang pange manglor, angirid sahising lor, ana
kapopang pange madya, angirid sahising madya. Tambak mangko, tambak mangke
angantukaken sarining tutuwan.

67. Puja Jrimpen Sumbu

Babu among babu juru, babu brongkat babu mangguh. Iki si ganjaran ira,
amongmong atman jiwatane ipun anutug ana tuwuh ipun ianu.

68. Angrapet kurang luput

Pakulun SangHyang dharma, deniling maring palungguh nira swang-swang, amukti


sari alunga sari, teka sari. Jumeneng pakulun, angeseng ipen ala. Makadi lara roga,
sot sapataka gempung moksa hilang tanpa sesa denira sangHyang Siwa picatur
dewa bhyuha.

69. Puja penyeneng

Om kaki penyeneng, nini penyeneng, kajenengane denira bhatara Brahma, Wisnu,


Iswara, Surya, Chandra lintang trenggana. Om sriyawe namo namah swaha.

Malih ater antuk mantra Ayu Wrddhi


70. Puja Sorohan

Pakulun sangHyang Siwapi catur muka dewa bhyuha, sira Bhagawan Ratangkup
Sira ta reko pakulun, angeseng ipen ala, makadi lara roga, sot sapata, gempung
moksah hilang tan pasesa, den ira SangHyang Siwapi catur muka dewa bhyuha. Om
siddhir astu tat astu astu.

71. Puja Bebangkit (ring panggungan)

Om arya dika maha siddhi, sarwa karya nirmala namah swaha. Pakulun bhatari
Durga, bhatara Gana, bhatara Brahma, Sang Yama Raja, sang kudung basur, sang
pulung, sang dengen, sang raksasa, sang butha ulu singa, sang detya, sang wil, sang
dewa Yoni sakti, mapupul ta kita kabeh, tingalin bhaktin ing hulun ri kita, kotang
hulun luputa, ring sarwa lara, mwang kasihan den ing sarwa kabeh. Om Sang Bang
Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang. Am Um Am.

72. Puja Ulam Banten

Bhatara jabung, Nini Bhatari Durga, kaki kala medi, kaki kala moha, kaki kala
purwa raja, Sira sang amurwaning kala kabeh, kaki kala tulak tanggal, kaki jagra
satru, kaki panggel wala, kaki kala mrtyu, kaki samantara, kaki kala anyer-anyer,
iki belan ira, sama sukha sira ring sang adruwe caru iki. Om durgapati masariram,
kala kingkara moksanam, kala mrtyu punah citram, sarwa wighna winasanam.
73. Ngayabang Aturan/Piodalan

Ngawit saking Surya: Om pranamya Bhasakara dewam. Sarwa klesa winasanam.


Pranamya ditya siwartham. Mukti bhukti sarwa paradam.

74. Tambah Puja Siwa Sutram, yening munggah suci ring Surya.

Om Siwa sutram yadnya pawitram. Prajapati yoga ayusyam. Bala mastu teja
guhyanam. Triganam tri gunatmaka. Hari, Om prakoti surya. Prakasam candra koti.
Mantra-mantra sadaksaram sarwa dewa. Pita swayambhu bhargo dewasya dimahi.
Om Sadaksaram maha mantra. Redistam parama sadakam. Sada Siwa angga
ityuktam. Maha pataka wigna winasanam. Om toyam, gandham, akasatham,
puspham. Dhupam samarpayami ya namah swaha. Om Surya, jyotir-jyotir dhupam
samarpayami ya namah swaha.

Yening munggah suci kekalih anggen Puja Surya Seloka


75. Yening wantah munggah banten tegteg Daksina ajengan utawi sehetan (sorohan
alit) ring surya, wusan mantra no. 76 (puja prnamya) langsug ke Puja tribhuwana

Om Siwa nirmala twam guhyah. Siwa tattwa para yanah Siwasya pranato nityam.
Candisaya namo stute
Om Siwa niwedya carum dadanmi. Amerthamakam grham swaha nama swah
Om Grham boktr laksana ya namah swaha
Om jayarti jayam apanuyat. Yasarti yasam apanuti Siddhi sakalam apanuyat.
Parama Siwa labhati
Om nama Siwaya swaha

76. Ngayabang sor surya

1. Puja segehan (yening ring sor wantah segehan) : Sang kala eka wara, sang kala
dwi wara, sang kala tri wara, ndaweg manusa nira angaturaken sega, iki tadah
aji nira ring jeng sang kala kabeh. Mangden sampunang katanam sisip ring jeng
sang kala tiga. Poma-poma-poma.
2. Puja Gelar Sanga, (yening banten sor surya marupa gelar sanga) : pakulun sang
Yama raja, iki tadah saji nira jangan sakawali mwah gelar sanga, sajeng sageci
tan sinarengan tumuran sang Hyang Yama Raja, pada sukha ya namah.
3. Phabuktian gelar sanga: om bhuktyantu Durga katara. Bhuktyantu kala mawaca.
Bhuktyantu sarwa bhutanam. Bhuktyanti pisaca sankyam. Om serdhah – serdhah
rubyo namah. Om mertange robhyo namah. Om hrih kecarik caruke robhyo namah
swaha.

77. Metabuh

Om Durga bucari ya namah. Om bhuta bucari ya namah. Om kala bucari ya namah.


Om pisaca bucari ya namah.

78. Phabuktian Bhuta


Om Bhuktyantu Durga katara. Bhuktyantu Kala mawaca. Bhuktyantu sarwa
bhutanam. Bhuktyantu pisaca sankyam.
NGAYABANG BANTEN PIODALAN IDA BHATARA

79. Puja Pengaksama (sekadi ring ajeng)

80. Puja Siwa Sutram (sekadi ringa ajeng)

81. Puja Tribhuwana (sekadi ring ajeng)

82. Ater malih antuk Puja Ngayab ring dewa)

Om dewarcanam utpatias tu. Asthiti trpti karanam Bojanam laksanam yuktham. Om


kara dewa tarpanam
Om Bhuktyantu suksma karanam. Antyesti purusa mantram Siwa amrtha
anugraham. Sangkara dharma laksanam namah swaha

83. Metabuh ring dewa

Om dewa buktham maha sukham. Bojanam paranam samtrham. Dewa bhaksian


maha tustam. Boktr laksana namah swaha. Om am namah.

84. Pabhuktian Bhatara (ngayabang perangkatan mwah rayunan)

Om dewa mukti maha sukham. Bojanam parama martam. Dewa mukti maha
tustam. Bhokta pala ksata ya namah.
Om bhuktyantu sarwato dewa. Bhuktyantu tri loka nathah Saganah sapari warah.
Sa wargah sa dasi dasah Mantramta batarakah. Eteh-etehan sarwa dewanam Trepti
yujam bhawa stute. Om reng trepti laksana ya namah

85. Puja panugraham

Om anugraha manohara. Dewa dattanugrahaka


Hy arcanam sarwa pujanam. Namah sarwanugrahaka
Dewa-dewi maha siddhi. Yajni katam mulat midam
Laksmi siddhic ca dirghayuh. Nirghna sukha wrddhitah
Om grim anugraha arcanaya namo namah swaha
Om grim anugraha Manoharaya namo namah swaha
Om grim anugraha Paramattyestyai namo namah swaha
Om antyestih parama pindam, Antyestih dewamicrita
Sarwestih eka-shtane we sarwa dewasukha prada

86. Puja pras

Om Panca ware bhawet brahma.


Wisnu saptawara waca. Sad wareswaro dewasca
Asta ware siwo jneyah. Om karam ucyate sarwa pras.
Pras parisuddhaya namah swaha.
Om sapta ware te warna karana. Aditya tu Mahadewa
Soma Waisrawana tatha. Anggara tu punah Sukra
Budha Wisnu tathaiwa ca. Brahma Wraspati Caiwa
Sukra Waruna ewa ca. Saniscara Yamas Caiwa
Wraspati pinaka wit. Soma pinaka bungkah
Anggara pinaka godong. Buda pinaka kembang
Sukra pinaka woh. Saniscara pinaka kulit
Aditya pinaka warna

87. Ngaturang pejayan-jayaan Piodalan ring Ida Bhatara (siratang tirthane ke ajeng
nyantos telas pujane)

Om dhirghayur bala wrdi sakti karanam


Mrtyun jaya saswatam. Rogadi ksaya kustha dustha kelusam
Candra phraba bhawaram
Hrim mantram cacatur nhujam. Trinayana wiyalo pawitam Siwam
Swetan camrta madyagam. Sukha karam pawitram jiwa ksaya Wiyansakam
Swetham bhoruha karnikorpari gatam. Dewasuraih pujitam
Mrtyu krodabalam maha-krti mayam. Karpura-renu prabham
Twam wande hradaya bhakti saranam. Prappyam maha prastumaih
Santam sarwagatam nirantam abhawam. Bhutatma kam nirganam
Sraddha-bhakti krtam wimukti karanam.
Wyaptam jagat dharanam. Caitanya dustha ksayam
Wande mrtyu-jitam sayapya maraho. Mantra di-dewo Harih
Mukta twam jagat twam semadi satatam. Catanya dustha ksayam

88. Ngayabang banten ring iringan/ancangan Ida Bhatara. Ma: Segeha (sekadi ring
ajeng)

89. Puja metabuh tuak, arak, arak berem. Ma (sekadi ring ajeng)

90. Pabhuktian bhuta. Ma: (sekadi ring ajeng)

91. Puja Ngaksama Jagatnatha

Om Ksamaswa mam jagatnatha. Sarwa papa nirantaram


Sarwa karyam sidham dehi. Pranamami sureswaram
Twam Suryas Twam Siwaskarah. Twam Rudro wahni laksanah
Twam hi sarwa gatatkaro. Mama karyam prajayate
Om ksamaswa mam maha sakte. Hi astaiswarya gunatmaka
Nangsayet setatam papam. Sarwasmai lokam darsaya.

92. Ngayabang Banten ring Palinggih sami. Ma. Tribhuwana (sekadi ring ajeng)

93. Puja Nunas Tirtha kakuluh (wasuhpada Ida Bhatara). Sesampunne wusan
ngantebang banten peodalan mwah sane lian-lianan, Jro Mangku raris angredana jagi
nunas wasuh pada Ida Bhatara masarana sekar tur kadulurin antuk puja Mantra:

Anggen silih sinunggil puja mantra sane ring sor

a. Puja pengradanaan
Om Hyang Siwa Sada Siwa. Parama Siwa, Brahma Wisnu Iswara, bhatara Hyang
Guru, mekadi bhatara sakti mwah ….. (sebutkan nama sesuhunan yang ada dipura
amongan Jro Mangku), ndaweg manusa nira anjaluk tirtha mahening Serayu
Saraswati pawitram, maka pangeleburin dasa mala, papa pataka, klesaning jadma
manusa kabeh moksa hilang, angemrthani sarwa mahuripe kabeh siddha siddhi
asung nugraha Hyang Mami.
Om SA BA TA A I, NA MA SI WA YA.
Om hrah umphat astra ya namah. Om sriyam bhawantu. Om sukham bhawantu.
Om purnam bhawantu.

b. Puja Sakalam Niskalam Siwa

Om sakalam niskalam Siwam. Om karam twam siwatmakam. Pancasara saptong


kara. Sarwa dewatma nirwanam.
Wisesamala salile. Punye tirtha siwalaye. Silambare sasinena.
Wyaptam sarwa jagat patim
Srawa prajan ca posyate. Kincit sedagatam puram. Bindu candra sadagatam.
Candra bindu nadah siwe.
Kincidbhyam siwa sarwan ca. Om kara Siwa ucyate.
Sarwa wisa wimuktena. Tri sandyam yah pathem narah.

c. Puja Gangga Drawa pryage ca.

Om gangga dware prayage ca. Gangga sagara sanggame


Sarwanggatam bhur labhate. Tribhih sthanair wisessitam
Papo ham papa karmaham. Papatma papa sam bhawah
Trahimam pundari kaksa. Sa bahyabhyantara sucim
Acur wa sucir wapi. Sarwa karma gato piwa.
Cintayed dewam isana. Sa bahbhyantaram sucih

d. Puja Gangga Dewi Maha Punyam

Om gangga dewi maha punyam. Nams te wiswa brahmini


Yamuna parama purna. Nams te parameswari
Naramada ca dewi punyam. Nams te loka ranjini.
Dharanyai mala harinyai. Nams tubhyam maheswari
Daiwike daiwika ja twam. Siwa prstha namo stute
Nairanjane jagat klesa. Harunyai te namo namah
Mandakini sura dewi. Nams te mala harini
Jambhu sangka maha dewi. Dewi dewa niyogatah
Meru pradaksinam krtwa. Klesa narayana priya.
Pawitresu maha tirtham. Sisu klesan winasanam
Ksireksus ca dadhi grtham. Sura yaksiwa nirmala
Patu nah klesa nasaya. Yusmadbhyam tu namo namah.

e. Puja namas te Bhagawan Gangga

Om namas te Bhagawan gangga. Namas te maha harini


Aslila wimalam toyam. Awayam bhuh tietha bhajanam
Om subhiksa hastraya. Dosa kilbisa nasanam
Pawitresu maha tirtham. Gangga wapi maho dadhih
Om wajra pani maha tirtham. Papa soka winasanam
Nadi puspalayam nityam. Nadi tirthaya priyam
Om tirtham nadi wa kumbhas ca. Warna deha mahatmanam
Mininam manggalastham ca. Ye wapi ca diwaukkasah
Om sarwa wighna winasanam tu. Sarwa klesa winasanam tu
Sarwa dukha winasana. Sarwa papa winasaya
MUSPA KRAMANING SEMBAH

 Sembah I (tanpa sarana sekar). Ngelinggihang miwah nunggilang manah ring Ida
Bhatara : Om atma tattwatma sudhamam swaha.
 Sembah II (sarana sekar putih). Nguleng ring Ida Bhatara Siwa Raditya maka
upasaksi pebhaktianne: Om Adityasya paranjyotir. Rakta tejo namo stute. Swetha
pangkaja madyastham. Bhaskara ya namo stute.
 Sembah III (sarana kwangen): nguleng ring Ida Bhatara sane malinggih ring pura
amongan krama/jro. Mangku puja sane keanggen Puja Istadewa (wenten ring
lepitan ring ungkur) kalanturang antuk Puja: Om namo dewaya adistanaya.
Sarwo wyapi siwaya. Padmasana ekaprastitaya. Ardhanareswari ya namo
namah swaha.
 Sembah IV (sarana kwangen). Nunas asung kertha wara nugrha ring Ida
Bhatara. Om anugraha manohara. Dewa dattanugrahaka. Hy arcanam sarwa
pujanam. Namah sarwanugrahaka. Dewa dewi maha siddhi. Yajni katam mulat
midam. Laksmi siddhic ca dirghayuh. Nirghna sukha wrddhitah.
 Sembah V (tanpa srana sekar). Ngaturang Dewa suksma ring Ida Bhatara: Om
dewa suksma parama cintya ya namah swaha.

PENUTUP

Sedurung dane jro mangku metangi saking genah melinggih dane jro Mangku mangda
nguncarang puja Pengaksama.

94. Puja pengaksama (pateh sekadi ring ajeng)

95. Puja Pralina Gantha. Agem ghantane, tur munyiang maduluran antuk puja:

Om suksma suniya Sangkara, suksma paranira.

Mantram puniki uncarang wantah ring angen kewanen (mamona). Telas mantra
suaram ganthane raris padem. Tangan tengen sane ngagem sekar entegang ring pelit
gantha raris peletik ping tiga. Sabilang wusan meletik pelit ghanta tangan tengen puter
kiwa (berlawanan arah jarum jam). Ritatkala meletik pelit mangda nguncarang mantra.

Peletik ping 1: Um, peletik ping 2: Am. Peletik ping 3 : Mam.


Ghantane ketisin tirtha ping tiga, asepin lan sekarin. Raris sineb genahang ring
wadahne.

1. Jro Mangku mebhakti (kramaning sembah)


2. Jro Mangku ngambil tirtha kakuluh (wasupadan Ida Bhatara)
3. Tirtha kakuluhe ketisang dumun ring prahyangan, lan bebanten
4. Tirthane cakur
5. Jro Mangku nunas tirtha (maketis ring raga)

96. Jro Mangku nibakang tirtha kakuluh Ida Bhatara ring para pamedek sami kawantu
antuk pesutri mwah pemangku sane dados ngayah ring pura punika.
NYINEB IDA BHATARA

Upacara pepranin
Sadurung ida bhatara masineb, keriyinin antuk pepranin. Ida bhatara kairing ka jaba
tengah jagi nyuryanin tur mapaica asung kertha waranugraha ring pekraman sami.
Katuntun antuk rarejangan olih istri-istri. Kamanggala olih dane jro Kelihan pura
mwah Jro Mangku. Wusan punika Ida Bhatara malih ngeranjing ka jeroan raris
malinggih ring pengaruman jagi katurang banten panyineban.

1. Upacara penyineban. Pemargine pateh sekadi ngaturin piodalan. Uningang tur


ayabang banten panyinebane seka siki.
2. Makincang kincung (maledang-ledang). Lanang istri mangda masolah. Sane istri
nyolahang canang sari, sane lanang nyolahan penawing. Jro Mangku mwah
pesutri ngilenang pasepan, toya, tetabuhan arak, tuak berem. Dane Jro Mangku
nguncarang puja panyineban (ngantukang Ida Bhatara ke Swargaloka): Ma
Om am giri patim wande . Loka natham jagat patim. Dhanesam trana karanan.
Sarwa gunam mahaujasan1
Om maha rudram maha [Link] roga [Link] parama
[Link] bhairawi karanam2
Om purwa bhrami maha dewi. Agnyo syan maheswari. Daksina kauberi dewi
Nairiti Waisnawi Dewi3.
Pascima Mahadewi. Wayabhyam Raudri tri [Link] Sri Dewi. Airsanyam
Gayatri Dewi4
Madya Sawitri Gayatri. Uma tattwa maha [Link] Am Um, Am Um, Am [Link]
Sri Dewi Sangkara swaha5
Paketis: Om grim dewa samsharaya namah swaha
3. Puja marid banten (nunas asung nugraha)
Om ksama swa mam siwa dewa. Jagat natha hitang kara. Sarwa papa
wimuktena. Pranamyahan sureswaram1
Om anugraha manohara. Dewa dattanugrahaka. Hy arcanam sarwa pujanam.
Namah sarwanugraha2
Dewa-dewi maga siddhi. Yajni katam mulat midam. Laksmi siddic ca dirghayuh.
Nirghna sukha wrddhitah3
Om gram anugrahacanaya namo namah swaha. Om grim anugraha mamo haraya
namo namah swaha4
4. Ida Bhatara tedun saking bale pengaruman raris ngider tengen ping tiga
5. Wusan ngider tengen ping tiga pralingga Ida Bhatara mangda genahang ring bale
pahiasan.
6. Puput
BLOG TERKAIT

Calonarang Dalam Upacara Pratistha Sudamala Bhumi

Pelaksanaan (Dudonan) Upacara Ngenteg Linggih

Filsafat Yadnya yang terkandung di dalam Lontar Kala Tattwa

Penyucian Alam Sesuai Lontar Roga Sangara Bhumi


Bhagavad Gita
"Tiada Yadnya Yang Lebih Tinggi Dari Pengetahuan"
Beryadnya dengan Share dan Komentar

FACEBOOK COMMENT
© 2019 Komang Putra | MahaMeru | Percetakan Bali | CMSplaza | Life Sloka

Common questions

Didukung oleh AI

"Bija" or seed symbolizes the potential for creation and growth, representing life and continuity in rituals. It is mixed with sandalwood water "gandha" to enhance fragrance, symbolizing divine purity and invigoration. Together, they are offerings that embody spiritual continuity (bija as Dewa Siwa’s embodiment) and immortality (gandha as a symbol of life-giving amrtha). The fragrant mixture is used to sanctify the ceremony by manifesting spiritual purity and the divine essence, fostering the right mental and spiritual environment for worshippers .

In Hindu ceremonies, the "ghanta" or bell carries profound symbolic significance. It serves as a source of vibrational energy that helps in focusing the mind and mental faculties towards divine matters. Recognized as a representation of Hyang Widhi or the Ultimate Reality, its sound is believed to invite deity presences and cleanse the surroundings of negative vibrations. Using the ghanta also aids in inaugurating and sanctifying the ritual space and activities, imbuing them with spiritual purity and efficacy .

Pranayama, the practice of breath control, is significant for inner cleansing and prepares individuals for spiritual endeavors in Hindu rituals. It serves to harmonize mental and pranic energies, facilitating concentration and paving the way for deeper meditation and connection with Hyang Widhi. Pranayama, by controlling the breath, calms the mind and stabilizes emotions, creating a receptive disposition essential for the efficacy of mantras and rituals. As a purification step, it assists in aligning an individual's internal state with the sacred atmosphere required for ceremonial practices .

"Ngastiti mantra" enhances mental and spiritual readiness by focusing the practitioner's thoughts and existing in a state of concentrated meditation on the manifestations of Hyang Widhi. This practice involves internalizing the sacred syllables (dasa aksara) through the repetition of mantras, aligning both mental focus and spiritual energy with the intended divine aspect. Through this concentrated effort, it becomes possible to mentally visualize and engage with the divine plane, achieving a spiritual alignment necessary for effective ritual engagement and invocation of blessings .

"Sekar putih" or white flowers play a pivotal role in the invocation of deities in Hindu rituals as they serve not only as offerings but as symbols of spiritual purity and peace, aligning with the purity of the divine. The usage of sekar putih during recitations and meditative hand gestures (sikap tangan angranasika) signifies openness and readiness to receive divine presence and blessings. Its white color spiritualizes the ritual space, embodying transcendence and divine grace, thus facilitating a congenial environment for deity descent and subsequent receipt of their blessings .

Flowers or puspa hold symbolic significance in Hindu offerings and rituals as they represent purity of thought and devotion. The selection is based on the fragrance and the color, which correlate with the deity being worshipped. For instance, white flowers are associated with Dewa Siwa, red for Brahma, yellow for Dewa Mahadewa, and blue for Bhatara Wisnu. The fragrance symbolizes the purity of the worshiper's mind, and thus, using fragrant flowers is crucial as it signifies a sacred and suitable offering .

In the framework of Hindu offerings, "nunas tirtha" refers to requesting holy water, an integral practice signifying purification and sanctification. The process involves evoking divine presence through the concentration on sacred objects, notably flowers, and engaging in the recital of mantras. Flowers are immersed in sandalwood water (gandha) and repeatedly dipped into the vessel (sangku or payuk) containing water after each mantra recitation, symbolizing the transformation of regular water to tirtha by divine infusion. Tirtha is considered as a product that bestows purity, protection, and happiness, eradicating impurities or negative elements tied to ceremonial items .

Tri Kaya Parisudha—embodying purity of thought, speech, and action—imposes a moral and spiritual commitment on the pemangku (ritual leader). This requires them to demonstrate meticulous integrity in preparing and executing rituals, cultivating focused and sincere mental states, delivering prayers with reverence, and performing rituals with positional and procedural correctness. This observance ensures that the sacredness of the ceremony is maintained, aligning the practices and intentions of the pemangku with divine principles, thereby facilitating a genuine and impactful religious experience for the participants .

The mantra "Om" is significant in Hindu rituals as it embodies powerful spiritual and mystical aspects. In the context of an offering ceremony, Om is considered a prenawa, a symbol of life, representing the triune power (Tri Sakti) to create, maintain, and dissolve the universe. This makes it a central element in inviting divine presence during rituals. Om, or Ongkara, serves as the Bija Mantra, initiating divine worship. By starting mantras with Om, practitioners aim to invoke the sacred and magical qualities believed to be inherent within the mantra’s phonetics, which are essential for offering ceremonies like ngawekasan yadnya .

Pasepan, involving the use of fire and incense, functions as an essential medium in Hindu rituals. Symbolically, fire represents Agni, the deity of fire, acting as a purifier and a conduit between the human and divine realms. The aromatic smoke is seen as a vehicle carrying offerings to the deities, symbolizing "akasa" (ether) and enhancing the ritual's sanctity. Additionally, the fire and its smoke form a protective mechanism against evil forces, cleansing negative energies, and securing the presence of Ida Bhatara or the divine presence during rituals .

Anda mungkin juga menyukai