0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan12 halaman

Metode Cafetaria untuk Pakan Unggas

Dokumen tersebut membahas tentang cafetaria feeding pada ternak unggas. Tujuannya adalah mengetahui kebutuhan nutrisi seperti energi, protein, dan mineral dengan memberikan pilihan pakan berbeda seperti jagung, dedak padi, tepung ikan, bungkil kedelai. Dokumen juga membahas tentang ayam dan beberapa bahan pakan serta nilai gizinya.

Diunggah oleh

Yayang Ila Yulianti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan12 halaman

Metode Cafetaria untuk Pakan Unggas

Dokumen tersebut membahas tentang cafetaria feeding pada ternak unggas. Tujuannya adalah mengetahui kebutuhan nutrisi seperti energi, protein, dan mineral dengan memberikan pilihan pakan berbeda seperti jagung, dedak padi, tepung ikan, bungkil kedelai. Dokumen juga membahas tentang ayam dan beberapa bahan pakan serta nilai gizinya.

Diunggah oleh

Yayang Ila Yulianti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Ilmu nutrisi adalah proses untuk melengkapi sel-sel dalam tubuh hewan
dengan bagian yang berasal dari luar yang telah merupakan persenyawaan-
persenyawaan kimia yang diperlukan untuk fungsi optimum dari banyak reaksi-
reaksi kimia dalam proses metabolisme, termasuk proses-proses pertumbuhan,
hidup pokok, kerja produksi, dan reproduksi. Pada umumnya ternak unggas
membutuhkan asupan gizi yang baik bagi pertumbuhannya, zat gizi atau nutrien
tersebut bisa berupa sumber protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral
dalam pakan yang dikonsumsinya atau yang dapat disintesis dalam tubuhnya
sendiri.
Pakan merupakan semua bahan yang dapat dimakan ternak, dicerna,
diserap, dan dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhannya. Pakan yang
berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap
kualitas daging karena jumlah nutrien yang tersedia berbeda diantara pakan dan
kualitas pakan yang tersedia berhubungan dengan peningkatan atau penurunan
konsumsi pakan, sehingga hal ini dapat mempengaruhi kualitas daging.
Ternak unggas memiliki indera pengelihatan yang tajam terhadap bahan
makanan, berbeda dengan ruminansia yang mengandalkan penciuman dari pada
penglihatannya. Unggas sangat peka terhadap warna-warna yang mencolok seperti
merah, kuning, hijau, dan emas sehingga jumlah pakan yang dikonsumsi unggas
dipengaruhi oleh palatabilitas. Palatabilitas adalah derajat kesukaan pada makanan
tertentu yang terpilih dan dimakan. Pengertian palatabilitas berbeda dengan
konsumsi. Palatabilitas melibatkan indera penciuman, perabaan dan perasa. Pada
ternak peliharaan memperlihatkan prilaku mengendus (sniffing) makanan.
Palatabilitas ternak unggas terhadap bahan pakan yang bewarna mencolok
akan tinggi, sehingga perlu diketahui seberapa besar palatabilitas pada ternak
unggas, khususnya ayam broiler. Untuk mengetahui jumlah pakan yang
dibutuhkan, palatabilitas unggas akan ditunjukkan dengan bagaimana unggas
tersebut memilih makananannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya
akan energi, protein, mineral, dan vitamin. Ternak unggas akan memilih makanan
sendiri apabila diberi beberapa pakan secara terpisah (cafetaria) sesuai dengan
kebutuhannya.
Ada dua bentuk pakan (ransum tunggal) yang diberikan pada ternak
diantaranya mash (tepung) dan crumble (butiran). Dengan mengetahui jumlah
pakan yang dibutuhkan, maka diharapkan mampu memformulasi ransum secara
efisien. Biasanya, makanan unggas seperti ayam telah diformulasikan dan
disediakan langsung di kandang dengan perbandingan zat nutrisi yang cukup.
Namun, bagaimana apabila unggas diberikan bahan makanan berbagai jenis
dengan sumber nutrien yang berbeda-beda, sehingga unggas akan memilih sendiri
makanan yang akan dikonsumsinya. Bahan makanan yang disediakan dalam
berbagai bentuk seperti butir maupun tepung. Unggas dituntut untuk memilih
sendiri makanannya sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, pada
praktikum Cafetaria feeding ini akan ditunjukkan dan dijelaskan bagaimana
unggas memilih makanan untuk kecukupan nutrisinya.
Tujuan

Praktikum ini bertujuan mengetahui kebutuhan tubuh unggas akan energi,


protein, dan mineral dengan metode cafetaria feeding. Dengan dilakukan
perhitungan konsumsi bahan makanan, konsumsi energi, konsumsi protein, dan
konsumsi kalsium dari konsumsi masing-masing bahan pakan.

TINJAUAN PUSTAKA

Ayam

Ayam adalah binatang yang termasuk bangsa Gallus. Secara lengkap,


sistematika zoology (ilmu yang mempelajari binatang) dari ayam adalah kerajaan
Animal, filum Chordata, kelas Aves, ordo Galliformes, famili Phasianidae,
bergenus Gallus, dan spesiesnya adalah Gallus sp.
Ayam peliharaan yang ada saat ini berasal dari ayam liar di sekitar India
Tengah dan Selatan, Himalaya, Terai Assam, Myanmar (Birma), Thailand,
Srilangka dan hampir semua daerah di Asia Tenggara. Dalam sejarah dunia
perunggasan, ayam liar dikenal dalam empat species, yaitu Gallus gallus, Gallus
lafayettii, Gallus sonneratii, dan Gallus varius (Rasyaf 2009).

Jagung

Jagung merupakan pakan yang sangat baik untuk ternak. Jagung sangat
disukai ternak dan pemakaiannya dalam ransum tidak ada pembatasan, kecuali
untuk ternak yang akan dipakai sebagai bibit. Pemakaian yang berlebihan untuk
ternak bibit dapat menyebabkan kelebihan lemak yang membuat ternak sulit
berproduksi. Jagung tidak mempunyai anti nutrisi dan sifat pencahar. Kualitas
butiran jagung dapat diuji dengan menggunakan bulk density ataupun uji apung.
Bulk density butiran jagung yang baik adalah 626.6 g/liter, sedangkan untuk
jagung giling yang baik berkisar antara 701.8–722.9 g/liter. Semakin banyak
jagung yang mengapung, berarti semakin banyak jagung yang rusak. Selain itu,
uji organoleptik seperti tekstur, rasa, warna, dan bau dapat dipakai untuk
mengetahui kualitas jagung yang baik. Kualitas jagung secara kuantitatif dapat
dilakukan di laboratorium dengan menggunakan metode proksimat. Minimum
data kadar bahan kering, protein kasar dan serat kasar harus diketahui setiap kali
pengiriman jagung.
Jagung merupakan butiran yang mempunyai total nutrien tercerna (TDN)
dan net energi (NE) yang tinggi. Kandungan TDN yang tinggi (81.9%) adalah
karena jagung sangat kaya akan bahan ekstrak tanpa nitrogen (Beta-N) yang
hampir semuanya pati, mengandung lemak yang tinggi dibandingkan semua
butiran kecuali oat, mengandung serat kasar sangat rendah sehinggga mudah
dicerna. Kandungan protein jagung rendah dan defisiensi asam amino lisin. Dari
butiran yang ada, hanya jagung kuning yang mengandung karoten. Kandungan
karoten jagung akan menurun dan atau hilang selama penyimpanan (Suprijatna.
2010).
Dedak Padi

Dedak padi diperoleh dari penggilingan padi menjadi beras. Banyaknya


dedak padi yang dihasilkan tergantung pada cara pengolahan. Sebanyak 14.44%
dedak kasar, 26.99% dedak halus, 3% bekatul dan 1−17% menir dapat dihasilkan
dari berat gabah kering. Dedak padi cukup disenangi ternak. Pemakaian dedak
padi dalam ransum ternak umumnya sampai 25% dari campuran konsentrat.
Walaupun tidak mengandung zat antinutrisi, pembatasan dilakukan karena
pemakaian dedak padi dalam jumlah besar dapat menyebabkan susahnya
pengosongan saluran pencernaan karena sifat pencahar pada dedak.
Pemakaian dedak padi dalam jumlah besar dalam campuran konsentrat
dapat memungkinkan ransum tersebut mudah mengalami ketengikan selama
penyimpanan. Secara kualitatif, kualitas dedak padi dapat diuji dengan
menggunakan bulk density ataupun uji apung. Bulk density dedak padi yang baik
adalah 337.2 – 350.7 g/l. Semakin banyak dedak padi yang mengapung, semakin
buruk kualitas dedak padi tersebut. Selain itu, uji organoleptik seperti tekstur,
rasa, warna, bau dan uji sekam (flouroglusinol) dapat dipakai untuk mengetahui
kualitas dedak padi yang baik. Bau tengik merupakan indikasi yang baik untuk
dedak yang mengalami kerusakan. Kualitas dedak padi secara kuantitatif dapat
dilakukan dilaboratorium dengan menggunakan metode proksimat. Dedak padi
yang berkualitas baik mempunyai protein rata-rata dalam bahan kering adalah
12.4%, lemak 13.6% dan serat kasar 11.6%. Dedak padi menyediakan protein
yang lebih berkualitas dibandingkan dengan jagung. Dedak padi kaya akan
thiamin dan sangat tingi dalam niasin (Sobri dan Prihatini 2011).

Tepung Ikan

Tepung ikan dapat berasal dari ikan jenis kecil maupun jenis besar atau
limbah atau sisa bagian-bagian ikan yang tidak diikutsertakan dalam pengalengan.
Kendala yang sering dijumpai adalah bahwa kadar lemak yang tinggi dari tepung
ikan karena bahan baku awal tinggi lemak atau dalam proses pengolahan tidak
dilakukan pembuangan lemaknya. Tepung ikan yang baik bila kadar lemak 10%
dan tidak asin. Rasa asin ini terjadi karena penambahan NaCl sebagai pengawet
sering ditambahkan pada bahan baku ikan yang kurang segar.
Tepung ikan yang ada di Indonesia dibedakan antara impor dan lokal.
Sementara ini tepung impor dianggap lebih baik karena protein kasar lebih dari
60% dan kadar lemak rendah, sedangkan tepung ikan lokal dengan konversi
randemen 20% dari bahan baku hanya mempunyai kadar protein kasar 55-58%
dan termasuk grade C, pemakaian tepung ikan untuk ransum unggas berkisar 10-
15% dengan syarat sumbangan lemak ransum dari tepung ikan maksimal 1%
(Siregar 2009)

Bungkil Kedelai

Bungkil kedelai termasuk dalam klasifikasi bahan pakan sumber protein,


berbentuk serbuk, berwarna cokelat, bau apek, rasa hambar dan zat antinutrisinya
berupa mimosin. Menurut Wahju (2010), bungkil kedelai memiliki kandungan zat
nutrisi yaitu 4.9% abu, 16.6% lemak kasar, 60% serat kasar, 26.1% BETN, dan
32.4% protein kasar.
Rasyaf (2010) menambahkan bahwa protein yang terkandung oleh bungkil
kedelai cukup tinggi terutama untuk protein kasarnya, sehingga kurang baik jika
diberikan terlalu banyak dan dalam penyusunan ransum bungkil kedelai
digunakan sebagai sumber protein. Kualitas bungkil kedelai tergantung pada
proses pengambilan minyaknya, varietas kacang kedelai dan kualitas kacang
kedelainya. Kedelai mentah mengandung beberapa penghambat tripsin.
Penghambat tripsin ini (antitripsin) tidak tahan panas, sehingga bungkil kedelai
yang mengalami proses pemanasan terlebih dahulu tidak menjadi masalah dalam
penyusunan ransum untuk unggas. Pemanasan yang terlalu lama dapat merusak
kadar lisin (Wahju 2010).

Kapur

Kapur dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku nutrisi pakan ternak yang
dikenal dengan sebutan kalsium hidrofosfat (CaHPO4). Kalsium hidrofosfat
merupakan senyawa anhidrat dan dihidrat yang dapat digunakan dalam berbagai
industri, khususnya industri pakan ternak. Kalsium dan fosfor apabila
dicampurkan pada kondisi tertentu akan mengalami proses sintesis sehingga
membentuk Ca-Hidrofosfat yang dapat digunakan sebagai bahan baku nutrisi
pakan ternak. Hingga saat ini di Indonesia belum ada industri yang membuat Ca-
Hidrofosfat, sehingga produk tersebut masih diimpor (Tillman et al 2009).

Ransum Bentuk Mash

Mash adalah bentuk ransum yang paling sederhana yang merupakan


campuran serbuk (tepung) dan granula. Tepung merupakan bentuk halus mudah
dicerna oleh ternak unggas, seperti ayam, pada umumnya diberikan untuk ayam
baru menetas atau pada masa starter. Ransum dalam bentuk ini sangat mudah
rusak apabila tercampur air (Nawawi 2011)

Ransum Bentuk Crumble

Menurut Nawawi (2011), crumble merupakan bentuk pakan yang lebih


besar dari pada tepung, bahan dalam bentuk ini diperoleh dari bahan pakan yang
telah dipecahkan ataupun yang sudah dalam bentuk butiran pada awalnya.
Ransum dalam bentuk ini agak keras dan cukup lama dicerna oleh ayam, misalnya
di dalam tembolok bahan pakan ini dapat bertahan sampai tiga jam.
MATERI DAN METODE

Materi

Alat
Peralatan yang digunakan dalam praktikum Cafetaria feeding telah tersedia
di laboratorium unggas Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Kandang
yang digunakan adalah kandang kawat individu dengan alas menggunakan sekam.
Terdapat tempat minum di dalam kandang, tempat makanan dipasang di luar sisi
kandangnya. Timbangan digunakan untuk menimbang bobot unggas dan pakan
yang akan diberikan.

Bahan
Bahan-bahan makanan yang digunakan dalam praktikum Cafetaria feeding
untuk kebutuhan karbohidrat adalah jagung dan dedak padi. Sumber protein yang
digunakan adalah tepung ikan dan bungkil kedelai. Kebutuhan mineralnya adalah
kapur. Tersedia juga ransum mash dan ransum crumble. Disediakan air untuk
minum unggas.

Metode

Praktikum Cafetaria feeding dibagi menjadi 10 kelompok. Setiap kelompok


melakukan 6 perlakuan pakan yaitu P1 sampai P6. Ternak akan dipuasakan 24
jam sebelum perlakuan di hari pertama yaitu pada kelompok 1, 2 dan 3 (Pagi)
untuk menghilangkan pengaruh makanan sebelumnya. Pemberian pakan diberikan
pada pagi hari masing-masing 10 gram untuk kapur, 50 gram untuk tepung ikan
dan bungkil kedelai, sedangkan 100 gram untuk dedak padi dan jagung. Keadaan
pakan dipantau pada siang dan sore hari pada hari pertama untuk menambahkan
pakan dan air jika telah berkurang untuk pemberian dedak padi dan jagung di bagi
menjadi dua kali pemberian yakni pada pagi gari 50 gram dan sore hari 50 gram.
Keesokan harinya dilakukan perhitungan konsumsi bahan pakan yang diberikan,
diantaranya konsumsi bahan makanan, konsumsi energi, konsumsi protein dan
konsumsi kalsium.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Konsumsi Bahan Makanan

Ayam diberi makan dengan perlakuan yang telah ditentukan. Setiap


perlakuan juga memiliki jenis pakan yang berbeda dan menghasilkan nilai
konsumsi yang berbeda pula. Nilai konsumsi bahan makanan ayam disajikan pada
tabel 1.
Tabel 1 Konsumsi bahan makanan
Perlakuan Jenis pakan Pemberian (g) Sisa Pakan (g) Konsumsi (g)
P1 Jagung 50 40.6 9.4
Tepung Ikan 50 42.8 7.2
Bungkil Kedelai 50 41 9
Kapur 10 10 0
P2 Dedak Padi 50 22 28
Tepung Ikan 50 51.1 -1.1
Bungkil Kedelai 50 48 2
Kapur 10 9.8 0.2
P3 Jagung 50 50.7 -0.7
Dedak Padi 50 51.8 -1.8
Tepung Ikan 50 52.4 -2.4
Kapur 10 9.7 0.3
P4 Jagung 50 52 -2
Dedak Padi 50 46.6 3.4
Bungkil Kedelai 100 69.4 30.6
Kapur 10 10.4 -0.4
P5 Jagung 100 28.3 71.7
Tepung Ikan 50 51.9 -1.9
Bungkil Kedelai 50 43.2 6.8
Kapur 10 9.9 0.1
P6 Crumble 100 0 100
Mash 50 21.6 28.4

Konsumsi bahan pakan adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak yang
akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan proses
produksi (Tillman et al 1998). Menurut Toharmat et al (2006), konsumsi bahan
pakan ditentukan dengan mengukur jumlah pemberian pakan pada ternak
dikurangi dengan residu atau sisa dari jumlah pakan tersebut. Terdapat faktor-
faktor yang mempengaruhi konsumsi bahan pakan. Faktor-faktor tersebut antara
lain energi pakan, serat kasar, kerapatan jenis atau kepadatan pakan dan lemak
kasar (Allama et al 2012). Selain itu, jenis kelamin, usia, bobot tubuh, dan
kebutuhan nutrien ternak saat itu juga dapat mempengaruhi konsumsi pakan.
Pada P1 terlihat bahwa sisa konsumsi pakan terbanyak adalah jagung
sebesar 9.4 gram dari 50 gram yang diberikan dan pada ayam P1 tidak
mengonsumsi kapur sama sekali sehingga konsumsi kapur bernilai 0 gram. Pada
P2, ayam tersebut mengonsumsi dedak padi terbanyak dengan konsumsi sebesar
28 gram dari 50 gram yang diberikan sedangkan berat sisa konsumsi tepung ikan
lebih besar dari pada berat tepung ikan yang diberikan. Selanjutnya pada P3,
perlakuan ini sulit diidentifikasi karena berat sisa konsumsi jagung, dedak padi,
tepung ikan lebih besar dari pada berat tepung ikan yang diberikan dengan
konsumsi kapur sebesar 0.3 gram dari 10 gram pemberian kapur. Perlakuan P4
konsumsi pakan terbanyak adalah bungkil kedelai, yaitu sebesar 30.6 gram dari 50
gram pakan yang diberikan, dan konsumsi jagung dan kapur yang bernilai negatif.
P5 menghasilkan konsumsi terbesar adalah jagung sebesar 71.7 gram dari 100
gram pakan yang diberikan, dan yang terendah adalah tepung ikan yang bernilai
negatif. Terakhir adalah perlakuan P6, dari perlakuan tersebut bahwa pakan
berbentuk crumble lebih disukai daripada pakan berbentuk mash, dengan nilai
konsumsi pakan 100 gram dari 100 gram yang diberikan dan nilai konsumsi mash
yang hanya sebesar 28.4 gram dari 50 gram pakan yang diberikan. Menurut
Abdullah et al (2010), pakan komersial bagi ayam pedaging adalah jagung dan
bungkil kedelai yang direkomendasikan oleh Nation- pH/temperature Tester,
Double injection, model al Research Council. Jumlah konsumsi bahan pakan yang
bernilai negatif dapat diasumsikan memiliki nilai 0 gram, hasil negatif dapat
terjadi karena adanya kesalahan alat.

Konsumsi Energi

Konsumsi energi yang dihasilkan oleh tiap-tiap perlakuan memiliki nilai


yang berbeda. Hal tersebut karena konsumsi jenis pakan di setiap perlakuan juga
berbeda. Konsumsi energi yang dihasilkan dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Konsumsi energi


Perlakuan Jenis pakan Konsumsi bahan EM Kkal (gram)
makanan (g) (kkal/kg)
P1 Jagung 9.4 3350 31.49
Tepung Ikan 7.2 2820 20.30
Bungkil kedelai 9 2230 20.07
Kapur 0 0 0
P2 Dedak padi 28 2980 83.44
Tepung ikan 0 2820 0
Bungkil kedelai 2 2230 4.46
Kapur 8.2 0.02 0.002
P3 Jagung 0 3350 0
Dedak padi 0 2980 0
Tepung ikan 0 2820 0
Kapur 0.03 0.01 0.003
P4 Jagung 0 3350 0
Dedak padi 3.4 2980 10.13
Bungkil kedelai 30 2230 68.24
Kapur 0 0.02 0
P5 Jagung 71.7 3350 240.2
Tepung ikan 0 2820 0
Bungkil kedelai 6.8 2230 15.16
Kapur 0.1 0.01 0.001
P6 Crumble 100 3000 300
Mash 28.4 3000 85.4
Menurut Rose (2005), konsumsi energi metabolis selalu dijadikan dasar
dalam memprediksi konsumsi ternak unggas. Hal ini dikarenakan jumlah pakan
yang dikonsumsi unggas berhubungan dengan kandungan energi dalam pakan
(Widianto et al 2015). Secara umum kebutuhan energi tergantung pada berat
bobot badan, temperatur lingkungan, aktivitas dan status fisiologi dari unggas
tersebut. Konsumsi energi metabolisme pakan dapat ditentukan perkalian
konsumsi bahan pakan dengan energi metabolisme pakan tersebut lalu dibagi
1000.
Perlakuan P1 terlihat bahwa konsumsi energi terbanyak adalah jagung yang
sebesar 31.34 gram. Pada P2, konsumsi terbanyak terdapat pada pakan dedak
padi, sebesar 83.44 gram. Selanjutnya pada P3, perlakuan ini sulit diidentifikasi
karena berat sisa konsumsi jagung, dedak padi, tepung ikan lebih besar dari pada
berat tepung ikan yang diberikan, maka dari itu konsumsi energi dapat dibilang
sebesar 0 gram, hal tersebut berarti konsumsi energinya juga sebesar 0 gram,
sedangkan konsumsi energi kapur masih dapat diketahui yaitu sebesar 0.003
gram. Pada perlakuan P4 yang menghasilkan konsumsi energi terbanyak adalah
bungkil kedelai, yaitu sebesar 68.24 gram. P5 menghasilkan konsumsi energi
terbesar adalah jagung, yaitu 240.2 gram. Terakhir adalah perlakuan P6 dengan
konsumsi energi crumble yang paling besar, yaitu 300 gram. Dari data tersebut
dapat terlihat bahwa konsumsi bahan pakan dan konsumsi energi berbanding
lurus, pada saat konsumsi bahan pakan besar maka akan menghasilkan konsumsi
energi yang besar pula.

Konsumsi Kalsium

Setiap jenis pakan memiliki kandungan kalsium yang berbeda-beda.


Kandungan kalsium yang dikonsumsi dapat diketahui melalui hasil perhitungan
antara konsumsi bahan pakan dan kandungan kalsium dalam bahan pakan
tersebut. Hasil konsumsi kalsium dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3 Konsumsi kalsium


Perlakuan Jenis pakan Konsumsi Kandungan Kkal
bahan Ca (%) (g)
pakan
P1 Tepung ikan 7.2 5.11 0.37
Jagung 9.4 0.02 0.001
Bungkil kedelai 9 0.29 0.026
Kapur 0 38 0
P2 Dedak padi 28 0.07 0.02
Tepung ikan 0 5.11 0
Bungkil kedelai 2 0.29 0.005
Kapur 0.2 38 0.08
P3 Jagung 0 0.02 0
Dedak padi 0 0.07 0
Tepung ikan 0 5.11 0
Kapur 0.3 38 0.114
P4 Jagung 0 0.02 0
Dedak padi 3.4 0.07 0.002
Bungkil kedelai 30.6 0.29 0.09
Kapur 0 0 0
P5 Jagung 71.7 0.02 0.014
Tepung ikan 0 5.11 0
Bungkil kedelai 6.8 0.29 0.020
Kapur 0.1 38 0.04
P6
Cru Crumble 100 1 100
Mash 28.4 1 0.23

Konsumsi kalsium pada bahan pakan ayam dapat langsung mempengaruhi


ayam tersebut, terutama pada produksi telur (Roland dan Bryant 1994). Konsumsi
kalsium didapatkan dari perkalian konsumsi bahan pakan dengan kandungan
kalsium dalam bahan pakan tersebut lalu dibagi 100. Setiap bahan pakan memiliki
kandungan kalsium yang berbeda, mulai dari yang terbesar adalah kapur, tepung
ikan, bungkil kedelai, dedak padi, dan jagung, sementara bentuk pakan crumble
dan mash memiliki kandungan kalsium yang sama.
Perlakuan P1 terlihat bahwa konsumsi kalsium terbanyak adalah tepung
ikan sebesar 0.37 gram dan yang terkecil adalah kapur, yaitu 0 gram. Pada P2,
konsumsi kalsium terbanyak terdapat pada pakan kapur, sebesar 0.08 gram
dengan tepung ikan yang hanya 0 gram. Selanjutnya pada P3, karena berat sisa
konsumsi jagung, dedak padi, tepung ikan lebih besar dari pada berat tepung ikan
yang diberikan, hal tersebut berarti konsumsi kalsiumnya hanya sebesar 0 gram,
sedangkan konsumsi kalsium kapur sebesar 0.114 gram. Pada perlakuan P4 yang
menghasilkan konsumsi kalsium terbanyak adalah bungkil kedelai, yaitu sebesar
0.09 gram dengan konsumsi kalsium terkecil adalah jagung dan kapur, yaitu 0
gram. P5 menghasilkan konsumsi kalsium terbesar adalah bungkil kedelai, yaitu
0.02 gram, berbanding terbalik dengan konsumsi tepung ikan yang bernilai 0
gram. Terakhir adalah perlakuan P6 dengan konsumsi kalsium crumble yang
paling besar, yaitu 100 gram sedangkan konsumsi bentuk pakan mash sebesar
0.23 gram. Dari data tersebut dapat terlihat bahwa konsumsi kalsium tidak hanya
dipengaruhi oleh besarnya konsumsi bahan pakan saja tetapi juga dipengaruhi
oleh kandungan kalsium dalam pakan tersebut.

Konsumsi Protein

Setiap jenis pakan memiliki kandungan protein yang berbeda-beda.


Kandungan protein yang dikonsumsi dapat diketahui melalui hasil perhitungan
antara konsumsi bahan pakan dan kandungan protein dalam bahan pakan tersebut.
Hasil konsumsi protein dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4 Konsumsi protein


Perlakuan Jenis pakan Konsumsi Kandungan Kkal
bahan PK (%) (g)
makanan
P1 Tepung Ikan 7.2 60.05 0.79
Jagung 9.4 8.5 4.32
Bungkil kedelai 9 44.0 3.96
Kapur - - -
P2 Dedak padi 28 12.9 0.02
Tepung ikan 0 60.05 0
Bungkil kedelai 2 44.0 0.005
Kapur 0.2 - -
P3 Jagung 0 8.5 0
Dedak padi 0 12.9 0
Tepung ikan 0 60.05 0
Kapur 0.3 - -
P4 Jagung 0 8.5 0
Dedak padi 3.4 12.9 0.43
Bungkil kedelai 30.6 44.0 13.4
Kapur 0 - -
P5 Jagung 71.7 8.5 6.09
Tepung ikan 0 60.05 0
Bungkil kedelai 6.8 44.0 2.99
Kapur 0.1 - -
P6 Crumble 100 22 22
Mash 28.4 22 6.25

Kandungan protein berbeda pada setiap jenis pakan. Peningkatan kandungan


protein pada pakan disebabkan terjadi peningkatan unsur nitrogen yang terdapat
pada bahan makanan berkarbohidrat dalam bentuk garam amonium atau nitrat
(Winedar et al 2006). Kandungan protein pada bahan pakan yang digunakan dari
terbesar adalah tepung ikan, bungkil kedelai, bentuk crumble dan bentuk mash,
dedak padi, jagung, dan terakhir adalah kapur yang tidak memiliki kandungan
protein di dalamnya. Konsumsi protein didapatkan dari perkalian konsumsi bahan
pakan dengan kandungan protein dalam bahan pakan tersebut lalu dibagi 100.
Pada setiap perlakuan, kapur tidak dapat diidentifikasi konsumsi proteinnya
karena tidak memiliki kandungan protein di dalamnya. Perlakuan P1 terlihat
bahwa konsumsi protein terbanyak adalah jagung sebesar 4.32 gram dan yang
terkecil adalah tepung ikan, yaitu 0.79 gram. Pada P2, konsumsi protein terbanyak
terdapat pada pakan dedak padi, sebesar 0.02 gram dengan tepung ikan yang
hanya 0 gram. Selanjutnya, pada P3 tidak terdapat konsumsi protein. Hal tersebut
karena jagung, dedak padi, dan tepung ikan konsumsinya sebesar 0 gram, serta
kapur yang tidak memiliki kandungan protein di dalamnya. Pada perlakuan P4
yang menghasilkan konsumsi protein terbanyak adalah bungkil kedelai, yaitu
sebesar 13.4 gram dengan konsumsi protein terkecil adalah jagung, yaitu 0 gram.
Selanjutnya, pada percobaan P5 yang menghasilkan nilai konsumsi protein
terbesar adalah jagung, yaitu 6.09 gram, berbanding terbalik dengan konsumsi
tepung ikan yang bernilai 0 gram. Terakhir adalah perlakuan P6 dengan konsumsi
protein crumble yang paling besar, yaitu 22 gram sedangkan konsumsi bentuk
pakan mash sebesar 6.25 gram. Dari data tersebut dapat terlihat bahwa konsumsi
protein tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya konsumsi bahan pakan saja tetapi
juga dipengaruhi oleh kandungan protein dalam pakan tersebut.
SIMPULAN

Kebutuhan tubuh unggas, terutama ayam, terhadap energi, protein, dan


mineral berbeda-beda. Nilai-nilai tersebut dapat diidentifikasi melalui perhitungan
nilai konsumsi energi, konsumsi protein, dan konsumsi mineral, yang dapat
dihitung apabila konsumsi bahan pakan dan kandungan nutrien di dalamnya.
Perbedaan nilai setiap konsumsi dapat dipengaruhi oleh energi bahan pakan itu
sendiri, serat kasar, kerapatan jenis atau kepadatan pakan dan lemak kasar, jenis
kelamin ternak, usia ternak, bobot tubuh, dan kebutuhan nutrien ternak pada saat
itu. Apabila ternak sedang memerlukan sumber protein maka ternak akan lebih
memilih tepung ikan daripada dedak padi.
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah AY, Al-Beitawi NA, Rjoup MMS, Qudsieh RI, Ishmais. 2010. Growth
performance, carcass and meat quality characteristics of different
commercial crosses of broiler strains of chicken. The Journal of Poultry
Science. 47(1). 13–21. doi: 10.2141/jpsa.009021
Allama H, Sofyan O, Widodo E, Prayogi HS. 2012. Pengaruh penggunaan tepung
ulat kandang (Alphitobius diaperinus) dalam pakan terhadap penampilan
produksi ayam pedaging. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan. 22(3): 1-8.
Nawawi M, Thamrin S, Nurrohmah. 2011. Ransum Ayam Kampung. Jakarta (ID):
Penebar Swadaya.
Rasyaf M. 2009. Makanan Ayam Broiler. Jakarta (ID): Kanisius.
Rasyaf M. 2010. Produksi dan Pemberian Ransum Unggas. Jakarta (ID):
Kanisius.
Roland DA dan Bryant M. 1994. Influence of calcium on energy consumption and
egg weight of commercial leghorns. The Journal of Applied Poultry
Research. 3(2). 184–189. doi: 10.1093/japr/3.2.184
Rose SP. 2005. Principles of Poultry Science. Cambridge (UK): CABI Publishing.
Siregar Z. 2009. Pengaruh suplementasi enzim selulosa pada ransum yang
mengandung bungkil lnti sawit terhadap penampilan ayam pedaging strain’
bromo [tesis]. Malang (ID): Universitas Brawijaya.
Sobri M dan Prihatini I. 2011. Bahan Pakan dan Formulasi Ransum. Malang
(ID): Fakultas Peternakan Perikanan, Universitas Muhammadiyah Malang.
Suprijatna E, Umiyati A, Ruhyat K. 2010. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Jakarta
(ID): Penebar Swadaya.
Tillman ADS, Reksohadiprojo S, Prawirokusumo, Lebdosekejo S. 2009. Ilmu
Makanan Ternak Dasar. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.
Toharmat T, Nursasih E, Nazilah R, Hotimah N, Noerzihad TQ, Sigit NA,
Retnani Y. 2006. Sifat fisik pakan kaya serat dan pengaruhnya terhadap
konsumsi dan kecernaan nutrien ransum pada kambing. Jurnal Media
Peternakan. 29(3): 146-154.
Wahju J. 2010. IImu Nutrisi Ternak Unggas. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press.
Widianto B, Prayogi HS, Nuryadi. 2015. Pengaruh penambahan tepung buah
mengkudu (Morinda citrifolia L.) dalam pakan terhadap penampilan
produksi itik hibrida. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan. 25(2): 28-35.
Winedar H, Listiawati S, Sutarno. 2006. Daya cerna protein pakan, kandungan
protein daging, dan pertambahan berat badan ayam broiler setelah
pemberian pakan yang difermentasi dengan effective microorganisms-4
(EM-4). Jurnal Bioteknologi. 3(1): 14-19.

Anda mungkin juga menyukai