0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
148 tayangan17 halaman

Toleransi dalam Beribadah Umat Beragama

Makalah ini membahas tentang toleransi dan menghindari kekerasan. Ia menjelaskan arti toleransi menurut Islam sebagai sikap menghargai dan menghormati keyakinan agama lain. Makalah ini juga menyebutkan ayat-ayat Alquran tentang toleransi seperti surat Yunus ayat 40-41 dan Al Maidah ayat 32 serta konsep kerukunan umat beragama di Indonesia yang perlu dijaga.

Diunggah oleh

Auliatur Rohmah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
148 tayangan17 halaman

Toleransi dalam Beribadah Umat Beragama

Makalah ini membahas tentang toleransi dan menghindari kekerasan. Ia menjelaskan arti toleransi menurut Islam sebagai sikap menghargai dan menghormati keyakinan agama lain. Makalah ini juga menyebutkan ayat-ayat Alquran tentang toleransi seperti surat Yunus ayat 40-41 dan Al Maidah ayat 32 serta konsep kerukunan umat beragama di Indonesia yang perlu dijaga.

Diunggah oleh

Auliatur Rohmah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TOLERANSI DAN MENGHINDARI

KEKERASAN

DISUSUN OLEH :
Adelia Oktaviani P (01)
Alvianti Maulidatus S (08)
Auliatur Rohmah (10)
Dina Shela Kamila A (12)
Rendika Nurhartanto S (29)
Wahyu Rizki Yulianto (34)

SMA NEGERI 1 PAMEKASAN


JL. PRAMUKA 02 Telp. (0324) 322697 PAMEKASAN
Tahun Ajaran 2019/2020
Kata pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunianya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini disusun sebagai
bahan pembelajaran [Link] ini adalah tugas dari guru yang harus kami kerjakan dan harus
kami selesaikan. Semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat memberikan banyak
manfaat, khususnya bagi kami, dan umumnya bagi semua yang membaca makalah ini.

Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terimakasih kepada guru Pendidikan
Agama Islam (PAI) yang telah membimbing kami, kepada orang tua kami yang selalu
mendo’akan kami, dan kepada seluruh pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini, yang tak bisa kami sebutkan satu per satu tetapi tidak mengurangi rasa hormat kami.

Akhirnya, sesuai dengan kata pepatah “tiada gading yang tak retak,” atau “sepandai-
pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga,” kami mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Kebenaran dan kesempurnaan hanyalah
milik Allah semata.

Pamekasan, 20 januari 2020


DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 PengertianToleransi
2.2 Toleransi Beragama menurut Islam
2.3 Konsep Kerukunan Umat Beragama
2.4 Sejarah Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
2.5 Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

BAB 3 PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah.

Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk social tentunya manusia dituntut untuk
mampu berinteraksi dengan individu lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dalam
menjalani kehidupan social dalam masyarakat, seorang individu akan dihadapkan dengan
kelompok-kelompok yang berbeda warna dengannya salah satunya adalah perbedaan agama.

Dalam rangka menjaga keutuhan dan persatuan dalam masyarakat maka diperlukan sikap saling
menghormati dan saling menghargai, sehingga gesekan-gesekan yang dapat menimbulkan
pertikaian dapat dihindari. Masyarakat juga dituntut untuksaling menjaga hak dan kewajiban
diantara mereka antara yang satu dengan yang lainnya.

Dalam AL-QUR’AN juga dibahas tentang toleransi Oleh karena itu kita sebagai umat muslim
sudah sepatutnya menjunjung tinggi sikap saling toleransi antar umat beragama dan saling
menghormati antar hak dan kewajiban yang ada diantara kita demi keutuhan Negara.

Kebebasan beragama pada hakikatnya adalah dasar bagi terciptanya kerukunan antar umat
beragama. Tanpa kebebasan beragama tidak mungkin ada kerukunan antar umat beragama.
Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hak untuk menyembah Tuhan diberikan oleh
Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang boleh mencabutnya.

Demikian juga sebaliknya, toleransi antar umat beragama adalah cara agar kebebasan beragama
dapat terlindungi dengan baik. Kebebasan dan toleransi tidak dapat diabaikan. Namun yang
sering kali terjadi adalah penekanan dari salah satunya, misalnya penekanan kebebasan yang
mengabaikan toleransi dan usaha untuk merukunkan dengan memaksakan toleransi dengan
membelenggu kebebasan. Untuk dapat mempersandingkan keduanya, pemahaman yang benar
mengenai kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama merupakan sesuatu yang
penting dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat.
1.2 RumusanMasalah

1. Bagaimana isi kandungan surat yunus ayat 40-41


2. Bagaimana tentang toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia
3. Bagaimana isi kandungan surat Al Maidahayat 32
4. Bagaimana menelaah kembali surat Al Maidahayat 32 sebagai salah satu Surat yang
membahas tentang cara menghindarkan diri dari tindakan kekerasan
5. Penerapan Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari
6. Hikmah Bertoleransi dalam Kehidupan Sehari-hari

1.3 Tujuan

Sejalan dengan persoalan yang telah dikemukakan diatas, penulisa makalah ini
mempunyai manfaat untuk :

1. Mengetahui isi kandungan surat yunus ayat 40-41


2. Mengetahui salah satu Surat yang membahas tentang toleransi.
3. Mengetahui tentang toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Indonesia
4. Mengetahui isi kandungan surat Al Maidahayat 32
5. Menerapkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari
6. Menghadirkan sikap toleransi dalam bergaul.
BAB II

KAJIAN TEORI

Toleransi berasal dari kata “ Tolerare ” yang berasal dari bahasa latin yang berarti dengan
sabar membiarkan sesuatu. Jadi pengertian toleransi secara luas adalah suatu sikap atau perilaku
manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati
setiap tindakan yang orang lain lakukan.

Toleransi adalah sikap tenggang rasa, menghargai, membiarkan, atau membolehkan oran
lain untuk berpendapat atau berpendirian yang berbeda dengan dirinya.

Toleransi bahasa Arabnya adalah tasamuh yang artinya sama-sama berlaku baik, lemah
lembut, dan saling pemaaf. Dalam pengertian umum, toleransi adalah sikap akhlak terpuji dalam
pergaulan.

TOLERANSI DALAM ISLAM

Toleransi dalam Islam bukan berarti bersikap sinkretis. Pemahaman yang sinkretis dalam
toleransi beragama merupakan kesalahan dalam memahami arti tasâmuh yang berarti
menghargai, yang dapat mengakibat-kan pencampuran antar yang hak dan yang batil (talbisu al-
haq bi al-bâtil), karena sikap sinkretis adalah sikap yang menganggap semua agama sama.
Sementara sikap toleransi dalam Islam adalah sikap menghargai dan menghormati keyakinan dan
agama lain di luar Islam, bukan menyamakan atau mensederajatkannya dengan keyakinan Islam
itu sendiri.

Sikap toleransi dalam Islam yang berhubungan dengan akidah sangat jelas yaitu ketika
Allah SWT. Memerintahkan kepada Rasulullah SAW. Untuk mengajak para Ahl al-Kitab untuk
hanya menyembah dan tidak menye-kutukan Allah swt.

2.1 Q.S YUNUS (10) AYAT 40 DAN 41


Artinya : Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Qur’an, dan di antaranya
ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang
orang-orang yang berbuat kerusakan. Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah:
“Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku
kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan”. ( QSYunus 40-41 )

ISI KANDUNGAN SURAH YUNUS AYAT 40-41

Ada golongan umat manusia yang beriman terhadap Al-Qur'an dan ada yang tidak beriman
kepada Al-Qur'an.

Allah SWT mengetahui sikap dan perilaku orang-orang yang beriman yang bertakwa kepada
Allah SWT dan orang-orang yang tidak beriman yang berbuat durhaka kepada Allah SWT.

Orang-orang yang beriman kepada Allah SWT (umat Islam) harus yakin bahwa Rasul Allah
SWT yang terakhir adalah Nabi Muhammad SWT dan Al-Qur'an adalah kitab suci yang harus
dijadikan pedoman hidup umat manusia sampai akhir zaman.

Umat Islam harus menyadari bahwa setiap amal perbuatan manusia baik ataupun buruk diketahui
oleh Allah SWT. Dan masing-masing orang akan memikul dosanya sendiri-sendiri.

2.2 TOLERANSI DAN KERUKUNAN ANATAR UMAT BERAGAMA

1. Kaitan toleransi dengan persaudaraan sesama Muslim


Berkaitan dengan hubungan toleransi dengan persaudaraan sesama Muslim, dalam hal ini Allah
SWT. Berfirman :
َ‫َّللاَ لَ َع َّل ُك ْم ت ُ ْر َح ُمون‬ ْ َ ‫ِإنَّ َما ْال ُمؤْ ِمنُونَ ِإ ْخ َوة ٌ فَأ‬
َّ ‫ص ِل ُحوا َبيْنَ أَخ ََو ْي ُك ْم َواتَّقُوا‬
[Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat
rahmat].
Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa orang-orang mukmin bersaudara dan memerintahkan
untuk melakukan islah (mendamaikannya untuk perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi
kesalahpahaman di antara mereka atau kelompok umat Islam.
Untuk mengembangkan sikap toleransi secara umum, terlebih dahulu dengan mensikapi
perbedaan (pendapat) yang (mungkin) terjadi pada keluarga dan saudara sesama muslim. Sikap
toleransi dimulai dengan cara membangun kebersamaan atau keharmonisan dan menyadari
adanya perbedaan dan menyadari bahwa semua adalah bersaudara, maka akan timbul rasa kasih
sayang, saling pengertian yang pada akhirnya akan bermuara pada sikap toleran. Dalam
konteks pengamalan agama, Al-Qur’an secara tegas memerintahkan orang-orang mukmin untuk
kembali kepada Allah SWT. dan sunnah Rasulullah SAW..
2. Kaitan toleransi dengan mu’amalah antar umat beragama
Toleransi antar umat beragama dapat dimaknai sebagai suatu sikap untuk dapat hidup bersama
masyarakat penganut agama lain dengan memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip
keagamaan (ibadah) masing-masing, tanpa adanya paksaan dan tekanan, baik untuk beribadah
maupun tidak beribadah dari satu pihak ke pihak lain. Sebagai implementasinya dalam praktek
kehidupan sosial dapat dimulai dari sikap bertetangga, karena toleransi yang paling hakiki adalah
sikap kebersamaan antara penganut keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap toleransi antar umat beragama bisa dimulai dari hidup bertetangga baik dengan tetangga
yang seiman dengan kita atau tidak. Sikap toleransi itu direfleksikan dengan cara saling
menghormati, saling memulia-kan dan saling tolong-menolong. Hal ini telah dicontohkan oleh
Rasulullah SAW. saat beliau dan para sahabat sedang berkumpul, lewatlah rombongan orang
Yahudi yang mengantar jenazah. Nabi Muhammad saw. langsung berdiri memberikan
penghormatan. Seorang sahabat berkata: “Bukankah mereka orang Yahudi, ya Rasul?” Nabi
saw.. menjawab “Ya, tapi mereka manusia juga”. Hadis ini hendak menjelaskan bahwa, bahwa
sisi akidah atau teologi bukanlah urusan manusia, melainkan urusan Allah SWT. dan tidak ada
kompromi serta sikap toleran di dalamnya. Sedangkan urusan mu’amalah antar sesama tetap
dipelihara dengan baik dan harmonis.
Saat Umar bin Khattab ra. memegang amanah sebagai khalifah, ada sebuah kisah dari banyak
teladan beliau tentang toleransi, yaitu saat Islam berhasil membebaskan Jerusalem dari penguasa
Byzantium pada Februari 638 M. Tidak ada kekerasan yang terjadi dalam ‘penaklukan’
ini. Singkat cerita, penguasa Jerusalem saat itu, Patriarch Sophorinus, “menyerahkan kunci”
kota dengan begitu saja. Suatu ketika, khalifah Umar dan Patriarch Sophorinus menginspeksi
gereja tua bernama Holy Sepulchre. Saat tiba waktu shalat, beliau ditawari Sophronius shalat di
dalam gereja itu. Umar menolak seraya berkata, “Jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah
saya akan menganggap ini milik mereka hanya karena saya pernah shalat di situ.” Beliau
kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Di tempat batu jatuh itulah
beliau kemudian shalat. Umar kemudian menjamin bahwa gereja itu tidak akan diambil atau
dirusak sampai kapan pun dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Nasrani.
3. Tidak ada toleransi dalam akidah
Mengenai sistem keyakinan dan agama yang berbeda-beda, Al-Qur’an menegaskan:
َ ‫قُ ْل َيا أَيُّ َها ْالكَافِ ُرونَ ََل أَ ْعبُد ُ َما ت َ ْعبُدُونَ َو ََل أَنت ُ ْم َعا ِبد ُونَ َما أ َ ْعبُد ُ َو ََل أَنَا َعا ِبد ٌ َّما َع َبدت ُّ ْم َو ََل أَنت ُ ْم‬
‫عا ِبدُونَ َما أَ ْعبُدُ لَ ُك ْم‬
‫ِين‬
ِ ‫يد‬ َ ‫دِينُ ُك ْم َو ِل‬
[Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan
kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa
yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Untukmulah agamamu, dan untukku agamaku].
Latar belakang turunnya ayat ini (asbấb an-nuzủl), ketika kaum kafir Quraisy berusaha
membujuk Rasulullah saw., "Sekiranya engkau tidak keberatan mengikuti kami (menyembah
berhala) selama setahun, kami akan mengikuti agamamu selama setahun pula." Setelah
Rasulullah SAW. membacakan ayat ini kepada mereka maka berputus-asalah kaum kafir
Quraisy, sejak itu semakin keras sikap permusuhan mereka kepada Rasulullah SAW.. Dua kali
Allah swt. memperingatkan Rasulullah SAW. : "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu
sembah. Dan kamu tidak menyembah Tuhan yang aku sembah." Artinya, umat Islam sama sekali
tidak boleh melakukan peribadatan yang diadakan oleh non-muslim, dalam bentuk apapun.
Ayat ini menegaskan, bahwa semua manusia menganut agama tunggal merupakan suatu
keniscayaan. Sebaliknya, tidak mungkin manusia meng-anut beberapa agama dalam waktu yang
sama atau mengamalkan ajaran dari berbagai agama secara simultan. Oleh sebab itu, Al-Qu’ran
menegaskan bahwa umat Islam tetap berpegang teguh pada sistem ke-Esaan Allah secara mutlak,
sedangkan orang kafir pada ajaran ketuhanan yang ditetapkannya sendiri.
Dalam kondisi sekarang, maka melakukan do'a bersama orang-orang non-muslim (istighasah),
menghadiri perayaan Natal, mengikuti upacara pernikahan mereka atau mengikuti pemakaman
mereka merupakan cakupan dari surah Al-Kafirun. Semua hal itu tidak boleh diikuti umat Islam,
karena berhubungan dengan akidah dan ibadah. Orang-orang non-muslim juga tidak ada gunanya
mengikuti peribadatan kaum muslimin, karena sama sekali tidak ada nilainya dihadapan Allah
SWT.
Dalam memahami toleransi, umat Islam tidak boleh salah kaprah. Toleransi terhadap non-
muslim hanya boleh dalam aspek muamalah (perdagangan, industri, kesehatan, pendidikan,
sosial, dan lain-lain), tetapi tidak dalam hal akidah dan ibadah. Islam mengakui adanya
perbedaan, tetapi tidak boleh dipaksakan agar sama sesuatu yang jelas-jelas berbeda.
Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad SAW. merupakan teladan yang baik dalam implementasi
toleransi beragama dengan merangkul semua etnis, dan apapun warna kulit dan kebangsaannya.
Kebersamaan merupakan salah satu prinsip yang diutamakan, yang terkait dengan karakter
moderasi dalam Islam, di mana Allah swt berkeinginan mewujudkan masyarakat Islam yang
moderat, sebagaimana firman-Nya :
ً ‫ش ِهيدا‬
َ ‫سو ُل َعلَ ْي ُك ْم‬ ِ َّ‫ش َهدَاء َعلَى الن‬
َّ َ‫اس َويَ ُكون‬
ُ ‫الر‬ َ ‫َو َكذَلِكَ َجعَ ْلنَا ُك ْم أ ُ َّمةً َو‬
ُ ْ‫سطا ً ِلِّت َ ُكونُوا‬
[Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan
agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi
atas (perbuatan) kamu].

2.3 Q.S AL-MAIDAH AYAT 32

surah / surat : Al-Maidah Ayat : 32

‫اس َج ِم ۡيعًاؕ َو َم ۡن اَ ۡحيَاهَا‬


َ َّ‫ض فَ َكاَنَّ َما قَتَ َل الن‬ِ ‫سا ٍد فِى ۡاَلَ ۡر‬َ َ‫سا بِغ َۡي ِر ن َۡف ٍس ا َ ۡو ف‬ ً ًۢ ‫ِم ۡن ا َ ۡج ِل ٰذ لِكَ ۛؔ ۚ َكت َۡبنَا َع ٰلى بَنِ ۡۤۡى ا ِۡس َرآ ِء ۡي َل اَنَّهٗ َم ۡن قَت َ َل ن َۡف‬
﴾۳۲﴿ َ‫ض لَ ُم ۡس ِرفُ ۡون‬ ِ ‫ت ث ُ َّم ا َِّن َكثِ ۡي ًرا ِ ِّم ۡن ُه ۡم بَعۡ دَ ٰذ لِكَ فِى ۡاَلَ ۡر‬ ِ ‫سلُنَا ِب ۡال َب ِيِّ ٰن‬ َ َّ‫فَ َكاَنَّ َم ۤۡا ا َ ۡحيَا الن‬
ُ ‫اس َج ِم ۡيعًاؕ َولَـقَ ۡد َجا ٓ َء ۡت ُه ۡم ُر‬

ARTINYA: Dengan sebab (kisah pembunuhan kejam) yang demikian itu Kami tetapkan atas
Bani Isra`il, bahawasanya sesiapa yang membunuhseorang manusia dengan tiada alasan yang
membolehkan membunuh orang itu, atau (kerana) melakukan kerusakan di muka bumi, maka
seolah-olah dia telah membunuh manusia semuanya dan sesiapa yang menjaga keselamatan
hidup seorang manusia, maka seolah-olah dia telah menjaga keselamatan hidup manusia
semuanya. Dan demi sesungguhnya, telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan
membawa keterangan yang cukup terang kemudian, sesungguhnya kebanyakan dari mereka
sesudah itu, sungguh-sungguh menjadi orang-orang yang melampaui batas (melakuan kerusakan)
di muka bumi.

Kandungan Q.S. Al-Maidah, 5: 32

1. Menjelaskan bahwa menyayangi sesame manusia adalah wajib.


2. Membunuh merupakan dosa besar.
3. Berbuat jahat kepada seorang manusia berarti berbuat jahat kepada semua manusia dan
begitu sebaliknya.
4. Dilarang berbuat kerusakan di muka bumi.
5. Pentingnya sikap saling menghargai dan saling menghormati.

Ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:

Nasib manusia sepanjang sejarah memiliki kaitan dengan orang lain. Sejarah kemanusiaan
merupakan mata rantai yang saling berhubungan. Karena itu, terputusnya sebuah mata rantai
akan mengakibatkan musnahnya sejumlah besar umat manusia.

Nilai suatu pekerjaan berkaitan dengan tujuan mereka. Pembunuhan seorang manusia dengan
maksud jahat, merupakan pemusnahan sebuah masyarakat, tetapi eksekusi terhadap seorang
pembunuh dalam rangka qishash merupakan sumber kehidupan masyarakat.

Mereka yang memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan penyelamatan jiwa manusia,
seperti para dokter dan perawat, harus mengerti nilai pekerjaan mereka. Menyembuhkan atau
menyelamatkan orang yang sakit dari kematian, bagaikan menyelamatkan sebuah masyarakat
dari kehancuran

2.3 Hadis yang Terkait

Dalam hadis Rasulullah saw. ternyata cukup banyak ditemukan hadis-hadis yang
memberikan perhatian secara verbal tentang toleransi sebagai karakter ajaran inti Islam. Hal ini
tentu menjadi pendorong yang kuat untuk menelusuri ajaran toleransi dalam Alquran, sebab apa
yang disampaikan dalam hadis merupakan manifestasi dari apa yang disampaikan dalam
Alquran.

Di dalam salah satu hadis Rasulullah saw., beliau bersabda

‫ع ْن‬ َ ‫ع ْن دَ ُاودَ ب ِْن ْال ُح‬


َ ‫صي ِْن‬ َ َ‫َحدَّثَنِا عبد هللا حدثنى أبى حدثنى َي ِزيد ُ قَا َل أنا ُم َح َّمد ُ ب ُْن إِ ْس َحاق‬
َّ ‫ان أ َ َحبُّ إِلَى‬
‫َّللاِ قَا َل‬ ُّ َ ‫سلَّ َم أ‬
ِ َ‫ي اْأل َ ْدي‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َّاس قَا َل قِي َل ِل َر‬
َّ ‫سو ِل‬ َ َ‫ِع ْك ِر َمة‬
ٍ ‫ع ِن اب ِْن َعب‬
]13[.ُ‫س ْم َحة‬َّ ‫ْال َح ِني ِفيَّةُ ال‬
[Telah menceritakan kepada kami Abdillah, telah menceritakan kepada saya Abi telah
menceritakan kepada saya Yazid berkata; telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ishaq
dari Dawud bin Al Hushain dari Ikrimah dari Ibnu 'Abbas, ia berkata; Ditanyakan kepada
Rasulullah saw. "Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?" makabeliaubersabda: "Al-
Hanifiyyah As-Samhah (yang luruslagitoleran)]"

Ibn Hajar al-Asqalany ketika menjelaskan hadis ini, beliau berkata: “Hadis ini di
riwayatkan oleh Al-Bukhari pada kitab Iman, Bab Agama itu Mudah” di dalam sahihnya
secara mu'allaq dengan tidak menyebutkan sanadnya karena tidak termasuk dalam kategori
syarat-syarat hadis sahih menurut Imam al-Bukhari, akan tetapi beliau menyebutkan sanadnya
secara lengkap dalam al-Adâb al-Mufrad yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah ibn ‘Abbas
dengan sanad yang hasan.[14] Sementara Syekh Nasiruddin al-Albani mengatakan bahwa hadis
ini adalah hadis yang kedudukannya adalah hasan lighairih.”[15]

Berdasarkan hadis di atas dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama yang toleran dalam
berbagai aspeknya, baik dari aspek akidah maupun syariah, akan tetapi toleransi dalam Islam
lebih dititikberatkan pada wilayah mua’malah. Rasulullah saw. bersabda :

‫ط ِ ِّرفٍ قَا َل َحدَّث َ ِني ُم َح َّمد ُ ب ُْن ْال ُم ْن َكد ِِر َع ْن‬َ ‫سانَ ُم َح َّمدُ ب ُْن ُم‬ َ ‫َّاش َحدَّثَنَا أَبُو‬
َّ ‫غ‬ ٍ ‫ي ب ُْن َعي‬ َ ‫َحدَّثَنَا‬
ُّ ‫ع ِل‬
‫س ْم ًحا‬ َّ ‫سلَّ َم قَا َل َر ِح َم‬
َ ‫َّللاُ َر ُج ًًل‬ َ ‫ع َل ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َّ ‫سو َل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫َّللاُ َع ْن ُه َما أ َ َّن َر‬
َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬ َّ ‫َجا ِب ِر ب ِْن َع ْب ِد‬
ِ ‫َّللاِ َر‬
]16[.‫ضى‬ َ َ ‫ع َوإِذَا ا ْشت َ َرى َوإِذَا ا ْقت‬ َ ‫إِذَا بَا‬
[Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Ayyasy telah menceritakan kepada kami Abu
Ghassan Muhammad bin Mutarrif berkata, telah menceritakan kepada saya Muhammad bin al-
Munkadir dari Jabir bin 'Abdullah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Allah merahmati orang
yang memudahkan ketika menjual dan ketika membeli, dan ketika memutuskan perkara"].

Imam al-Bukhari memberikan makna pada kata ‘as-samâhah’ dalam hadis ini dengan kata
kemudahan, yaitu pada “Bab Kemudahan dan Toleransi dalam Jual-Beli”.[17]Sementara Ibn
Hajar al-‘Asqalâni ketika mengomentari hadis ini beliau berkata: "Hadis ini menunjukkan
anjuran untuk toleransi dalam interaksi sosial dan menggunakan akhlak mulia dan budi yang
luhur dengan meninggalkan kekikiran terhadap diri sendiri, selain itu juga menganjurkan untuk
tidak mempersulit manusia dalam mengambil hak-hak mereka serta menerima maaf dari
mereka.[18]

Islam sejak diturunkan berlandaskan pada asas kemudahan, sebagai-mana Rasulullah saw.
bersabda :

َ ‫ع ْن‬
‫س ِعي ِد‬ َ ‫ي‬ ِ َ‫ع ْن َم ْع ِن ب ِْن ُم َح َّم ٍد ْال ِغف‬
ِِّ ‫ار‬ َ ‫ي‬ َ ‫ع َم ُر ب ُْن‬
ٍِّ ‫ع ِل‬ ُ ‫ط َّه ٍر قَا َل َحدَّثَنَا‬َ ‫سًلَ ِم ب ُْن ُم‬ َّ ‫ع ْبدُ ال‬َ ‫َحدَّثَنَا‬
َّ‫سلَّ َم قَا َل ِإ َّن ال ِدِّينَ يُس ٌْر َولَ ْن يُشَاد‬ َ ‫ع َل ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ‫ي‬ ِِّ ‫ي َع ْن أ َ ِبي ُه َري َْرة َ َع ْن النَّ ِب‬ ِِّ ‫س ِعي ٍد ْال َم ْقب ُِر‬
َ ‫ب ِْن أ َ ِبي‬
]19[.‫ش ْيءٍ ِم ْن الد ُّْل َج ِة‬ َّ ‫اربُوا َوأ َ ْبش ُِروا َوا ْستَ ِعينُوا بِ ْالغَد َْوةِ َو‬
َ ‫الر ْو َح ِة َو‬ َ َّ‫ال ِدِّينَ أ َ َحد ٌ إَِل‬
َ َ‫غ َلبَهُ ف‬
ِ َ‫س ِدِّد ُوا َوق‬
[Telahmenceritakankepada kami Abdus Salam bin Muthahharberkata,
telahmenceritakankepada kami Umar bin Ali dariMa'an bin Muhammad Al GhifaridariSa'id bin
Abu Sa'id Al Maqburidari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihiwasallambersabda:
"Sesungguhnya agama itumudah, dan tidaklahseseorangmempersulit agama
kecualidiaakandikalahkan (semakinberat dan sulit). Makaberlakulahlurus kalian, men-dekatlah
(kepada yang benar) dan berilahkabargembira dan mintatolong-lahdengan al-ghadwah(berangkat
di awalpagi) dan ar-ruhah (berangkatsetelahzhuhur) dan sesuatudari ad-duljah (berangkat di
waktumalam)"].

Ibn Hajar al-‘Asqalâni berkata bahwa makna hadis ini adalah larangan
bersikaptasyaddud (keras) dalam agama yaitu ketika seseorang memaksa-kan diri dalam
melakukan ibadah sementara ia tidak mampu melaksana-kannya itulah maksud dari kata : "Dan
sama sekali tidak seseorang berlaku keras dalam agama kecuali akan terkalahkan" artinya bahwa
agama tidak dilaksanakan dalam bentuk pemaksaan maka barang siapa yang memaksakan atau
berlaku keras dalam agama, maka agama akan mengalahkannya dan menghentikan
tindakannya.[20]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. datang kepada ‘Aisyah
ra., pada waktu itu terdapat seorang wanita bersama ‘Aisyah ra., wanita tersebut memberitahukan
kepada Rasulullah saw. perihal salatnya, kemudian Rasulullah saw. bersabda :

ُ‫احبُه‬
ِ ‫ص‬َ ‫علَ ْي ِه‬
َ ‫ام‬ ِ ‫َّللاُ َحتَّى ت َ َملُّوا َو َكانَ أ َ َحبَّ ال ِد‬
َ َ‫ِّين ِإلَ ْي ِه َماد‬ َّ ‫علَ ْي ُك ْم ِب َما ت ُ ِطيقُونَ َف َو‬
َّ ‫َّللاِ ََل َي َم ُّل‬ َ ،ْ‫َمه‬
["Hentikan, Kerjakan apa yang sanggup kalian kerjakan, dan demi Allah sesungguhnya
Allah tidak bosan hingga kalian bosan, dan Agama yang paling dicintai disisi-Nya adalah yang
dilaksanakan oleh pemeluknya secara konsisten"].[21]

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak memuji amalan-amalan yang
dilaksanakan oleh wanita tersebut, dimana wanita itu menberitahukan kepada Rasulullah saw.
tentang salat malamnya yang membuatnya tidak tidur pada malam hari hanya bertujuan untuk
mengerja-kannya, hal ini ditunjukkan ketika Rasulullah saw. memerintahkan kepada ‘Aisyah ra.
untuk menghentikan cerita sang wanita, sebab amalan yang dilaksanakannya itu tidak pantas untuk
dipuji secara syariat karena di dalamnya mengandung unsur memaksakan diri dalam menjalankan
ajaran-ajaran Islam, sementara Islam melarang akan hal tersebut sebagaimana yang ditunjukkan
pada hadis sebelumnya.[22]

Keterangan ini menunjukkan bahwa di dalam agama sekalipun terkandung nilai-nilai


toleransi, kemudahan, keramahan, dan kerahmatan yang sejalan dengan keuniversalannya
sehingga menjadi agama yang relevan pada setiap tempat dan zaman bagi setiap kelompok
masyarakat dan umat manusia.

Terdapat banyak ayat-ayat Alquran yang menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sarat
dengan kemudahan di antaranya adalah firman Allah swt:

ِ ‫علَ ْي ُك ْم فِي ال ِد‬


---ٍ‫ِّين ِم ْن َح َرج‬ َ ‫اجتَبَا ُك ْم َو َما َجعَ َل‬
ْ ‫ ُه َو‬---

[Dia telah memilih kamu. Dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu
kesempitan].[23]
Pada ayat lain Allah berfirman :

---‫َّللاُ ِب ُك ُم ْاليُس َْر َوَلَ ي ُِريد ُ ِب ُك ُم ْالعُس َْر‬


ِّ ُ ‫ ي ُِريد‬---
[Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu].[24]
Selanjutnya, di dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda :
ِّ ِ ‫" َهلَ َك ْال ُمتَن‬
ً ‫َطعُونَ " قَالَ َها ثَ ًَل‬
‫ث‬
["Kehancuran bagi mereka yang melampaui batas" diulangi sebanyak tiga kali”].[25]
Kata "al-Mutanatti'un" adalah orang-orang yang berlebihan dan me-lampaui batas dalam
menjelaskan dan mengamalkan ajaran-ajaran agama.[26] Al-Qâdi ‘Iyad mengatakan bahwa,
maksud dari kehancuran mereka adalah di akhirat.[27] Hadis ini merupakan peringatan untuk
menghindari sifat keras dan berlebihan dalam melaksanakan ajaran agama.[28]

Toleransi dalam Islam bukan berarti bersikap sinkretis. Pemahaman yang sinkretis dalam
toleransi beragama merupakan dan kesalahan dalam memahami arti tasâmuh yang berarti
menghargai, yang dapat mengakibat-kan pencampuran antar yang hak dan yang batil (talbisu al-
haq bi al-bâtil), karena sikap sinkretis adalah sikap yang menganggap semua agama sama.
Sementara sikap toleransi dalam Islam adalah sikap menghargai dan menghormati keyakinan dan
agama lain di luar Islam, bukan menyamakan atau mensederajatkannya dengan keyakinan Islam
itu sendiri.

Pada ayat ini terdapat perintah untuk mengajak para ahli kitab dari kalangan Yahudi dan
Nasrani untuk menyembah kepada Tuhan yang tunggal dan tidak mempertuhankan manusia
tanpa paksaan dan kekerasan sebab dalam dakwah Islam tidak mengenal paksaan untuk beriman
sebagaimana Allah swt. berfirman:

‫آل ِإ ْك َراهَ فِ ْي ال ِدِّي ِْن‬

[Tidak ada paksaan dalam beragama][30]

Dalambeberapa riwayat diketahui Rasulullah saw. Juga mendoakan agar Allah swt.
memberikan kepada mereka (kaum musyrik) hidayah untuk beriman kepada-Nya dan kepada
risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw. Diantara riwayat-riwayat tersebut adalah kisah qabilah
Daus yang menolak dakwah Islam yang disampaikan oleh Tufail bin Amr ad-Dausi, kemudian
sampai hal ini kepada Rasulullah saw., lalu beliau berdo'a :
ِ ْ‫سا َوأ‬
"‫ت ِب ِه ْم‬ ً ‫"اللَّ ُه َّم ا ْه ِد دَ ْو‬
[Ya Allah, tunjukilah qabilah Daus hidayah dan berikan hal itu kepada mereka].[31]

Berdasarkan riwayat di atas, maka benarlah bahwa Rasulullah saw. diutus menjadi rahmat
bagi seluruh alam. Beliau tidak tergesa-gesa mendoakan mereka (orang kafir) dalam kehancuran,
selama masih terdapat kemungkinan diantara mereka untuk menerima dakwah Islam, sebab
beliau masih mengharapkannya masuk Islam. Adapun kepada mereka yang telah
sampai dakwah selama beberapa tahun lamanya, tetapi tidak terdapat tanda-tanda kenginan
untuk menerima dakwah Islam dan dikhawatirkan bahaya yang besar akan datang dari mereka
seperti pembesar kaum musyrik Quraisy (Abu Jahal dan Abu Lahab dkk), barulah Rasulullah
mendoakan kehancuran atas nama mereka.[32]

Sikap Rasululullah saw yang mendoakan dan mengharapkan orang-orang musyrik supaya
menjadi bagian umat Islam, menguatkan bahwa Rasulullah saw. diutus membawa misi toleransi,
sebagaimana sabda beliau;

ُ‫ص َرانِيَّ ِة َو َل ِك ِِّني بُ ِعثْت‬ ْ ‫سلَّ َم ِإنِِّي لَ ْم أ ُ ْب َع‬


ْ َّ‫ث ِب ْال َي ُهو ِديَّ ِة َوَلَ ِبالن‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ ُّ ‫فَقَا َل النَّ ِب‬
َ ‫ي‬
َّ ‫[ ِب ْال َح ِني ِفيَّ ِة ال‬33]
‫س ْم َح ِة‬

[Maka Rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya aku tidak diutus untuk orang-orang Yahudi dan
Nasrani, akan tetapi aku diutus untuk orang-orang yang lurus terpuji.”]

2.4 PENERAPAN TOLERANSI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

1) menghormati tetangga atau teman yang sedang beribadah


2) bergaul dengan semua teman tanpa membedakan Agamanya
3) menolong tetangga beda agama yang sedang mengalami kesusaha
4) menghargai dan menghormati perayaan keagamaan ummat yang berbeda agama dengan kita
5.) tidak memaksakan kehendak atau agama kita kepada orang yang sudah memiliki keyakinan

2.4 HIKMAH BERTOLERANSI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI


1. Menghargai kepada sesama ciptaan Allah SWT. ;
2. Menghindari terjadinya perpecahan ;
3. Memperkokoh silaturahmi dan menerima perbedaan ;
4. Tenggang rasa dan suka menolong kepada orang lain ;
5. Menciptakan kehidupan masyarakat yang aman dan damai ;
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Jadi dengan dibuatnya makalah ini diharapkan bertoleransi antar sesama, baik dari hal
agama maupun dalam hal [Link] ini dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan yang tentram,
sehingga diperlukan kesediaan pada setiap individu manusia untuk selalu menanamkan sikap
toleransi dalam beragama. Kerukunan umat beragama yaitu hubungan sesama umat beragama
yang dilandasi dengan toleransi, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai
dalam kesetaraan pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan masyarakat dan
bernegara.

Tuhan yang disembah Nabi Muhammad SAW. dan pengikutnya bukanlah apa yang
disembah oleh orang-orang kafir.

Toleransi yang dibenarkan adalah masing-masing umat beragama saling menghormati,


tidak mengganggu dan tidak memaksakan agama kepada orang lain.

Sikap Manusia terhadap kebenaraan Al-Qur’an ada dua, yakni kelompok Manusia yang
percaya terhadap kebenaran Al-Qur’an, dan Kelompok Manusia yang tidak percaya terhadap
kebenaran Al-Qur’an

3.2 SARAN

Perbedaan bukanlah suatu masalah yang bisa memecah manusia tapi perbedaan yang ada
akan saling melengkapi dengan begitu hidup ini akan saling menghargai, menghormati dan
selaras. Lewat persamaan kita bisa menjalin persaudaraan dan mempererat tali silahturahi,
dengan begitu akan tercipta kerukunan dengan sendirinya.

DAFTAR PUSTAKA

[Link]
beragama/[Link]
[Link]
[Link][Link]
[Link][Link]
[Link]

Anda mungkin juga menyukai