Toleransi dalam Beribadah Umat Beragama
Toleransi dalam Beribadah Umat Beragama
KEKERASAN
DISUSUN OLEH :
Adelia Oktaviani P (01)
Alvianti Maulidatus S (08)
Auliatur Rohmah (10)
Dina Shela Kamila A (12)
Rendika Nurhartanto S (29)
Wahyu Rizki Yulianto (34)
Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terimakasih kepada guru Pendidikan
Agama Islam (PAI) yang telah membimbing kami, kepada orang tua kami yang selalu
mendo’akan kami, dan kepada seluruh pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan
makalah ini, yang tak bisa kami sebutkan satu per satu tetapi tidak mengurangi rasa hormat kami.
Akhirnya, sesuai dengan kata pepatah “tiada gading yang tak retak,” atau “sepandai-
pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga,” kami mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Kebenaran dan kesempurnaan hanyalah
milik Allah semata.
Halaman Judul
Kata Pengantar
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 PengertianToleransi
2.2 Toleransi Beragama menurut Islam
2.3 Konsep Kerukunan Umat Beragama
2.4 Sejarah Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
2.5 Kerukunan Umat Beragama di Indonesia
BAB 3 PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk social tentunya manusia dituntut untuk
mampu berinteraksi dengan individu lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Dalam
menjalani kehidupan social dalam masyarakat, seorang individu akan dihadapkan dengan
kelompok-kelompok yang berbeda warna dengannya salah satunya adalah perbedaan agama.
Dalam rangka menjaga keutuhan dan persatuan dalam masyarakat maka diperlukan sikap saling
menghormati dan saling menghargai, sehingga gesekan-gesekan yang dapat menimbulkan
pertikaian dapat dihindari. Masyarakat juga dituntut untuksaling menjaga hak dan kewajiban
diantara mereka antara yang satu dengan yang lainnya.
Dalam AL-QUR’AN juga dibahas tentang toleransi Oleh karena itu kita sebagai umat muslim
sudah sepatutnya menjunjung tinggi sikap saling toleransi antar umat beragama dan saling
menghormati antar hak dan kewajiban yang ada diantara kita demi keutuhan Negara.
Kebebasan beragama pada hakikatnya adalah dasar bagi terciptanya kerukunan antar umat
beragama. Tanpa kebebasan beragama tidak mungkin ada kerukunan antar umat beragama.
Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hak untuk menyembah Tuhan diberikan oleh
Tuhan, dan tidak ada seorang pun yang boleh mencabutnya.
Demikian juga sebaliknya, toleransi antar umat beragama adalah cara agar kebebasan beragama
dapat terlindungi dengan baik. Kebebasan dan toleransi tidak dapat diabaikan. Namun yang
sering kali terjadi adalah penekanan dari salah satunya, misalnya penekanan kebebasan yang
mengabaikan toleransi dan usaha untuk merukunkan dengan memaksakan toleransi dengan
membelenggu kebebasan. Untuk dapat mempersandingkan keduanya, pemahaman yang benar
mengenai kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama merupakan sesuatu yang
penting dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat.
1.2 RumusanMasalah
1.3 Tujuan
Sejalan dengan persoalan yang telah dikemukakan diatas, penulisa makalah ini
mempunyai manfaat untuk :
KAJIAN TEORI
Toleransi berasal dari kata “ Tolerare ” yang berasal dari bahasa latin yang berarti dengan
sabar membiarkan sesuatu. Jadi pengertian toleransi secara luas adalah suatu sikap atau perilaku
manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati
setiap tindakan yang orang lain lakukan.
Toleransi adalah sikap tenggang rasa, menghargai, membiarkan, atau membolehkan oran
lain untuk berpendapat atau berpendirian yang berbeda dengan dirinya.
Toleransi bahasa Arabnya adalah tasamuh yang artinya sama-sama berlaku baik, lemah
lembut, dan saling pemaaf. Dalam pengertian umum, toleransi adalah sikap akhlak terpuji dalam
pergaulan.
Toleransi dalam Islam bukan berarti bersikap sinkretis. Pemahaman yang sinkretis dalam
toleransi beragama merupakan kesalahan dalam memahami arti tasâmuh yang berarti
menghargai, yang dapat mengakibat-kan pencampuran antar yang hak dan yang batil (talbisu al-
haq bi al-bâtil), karena sikap sinkretis adalah sikap yang menganggap semua agama sama.
Sementara sikap toleransi dalam Islam adalah sikap menghargai dan menghormati keyakinan dan
agama lain di luar Islam, bukan menyamakan atau mensederajatkannya dengan keyakinan Islam
itu sendiri.
Sikap toleransi dalam Islam yang berhubungan dengan akidah sangat jelas yaitu ketika
Allah SWT. Memerintahkan kepada Rasulullah SAW. Untuk mengajak para Ahl al-Kitab untuk
hanya menyembah dan tidak menye-kutukan Allah swt.
Ada golongan umat manusia yang beriman terhadap Al-Qur'an dan ada yang tidak beriman
kepada Al-Qur'an.
Allah SWT mengetahui sikap dan perilaku orang-orang yang beriman yang bertakwa kepada
Allah SWT dan orang-orang yang tidak beriman yang berbuat durhaka kepada Allah SWT.
Orang-orang yang beriman kepada Allah SWT (umat Islam) harus yakin bahwa Rasul Allah
SWT yang terakhir adalah Nabi Muhammad SWT dan Al-Qur'an adalah kitab suci yang harus
dijadikan pedoman hidup umat manusia sampai akhir zaman.
Umat Islam harus menyadari bahwa setiap amal perbuatan manusia baik ataupun buruk diketahui
oleh Allah SWT. Dan masing-masing orang akan memikul dosanya sendiri-sendiri.
ARTINYA: Dengan sebab (kisah pembunuhan kejam) yang demikian itu Kami tetapkan atas
Bani Isra`il, bahawasanya sesiapa yang membunuhseorang manusia dengan tiada alasan yang
membolehkan membunuh orang itu, atau (kerana) melakukan kerusakan di muka bumi, maka
seolah-olah dia telah membunuh manusia semuanya dan sesiapa yang menjaga keselamatan
hidup seorang manusia, maka seolah-olah dia telah menjaga keselamatan hidup manusia
semuanya. Dan demi sesungguhnya, telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan
membawa keterangan yang cukup terang kemudian, sesungguhnya kebanyakan dari mereka
sesudah itu, sungguh-sungguh menjadi orang-orang yang melampaui batas (melakuan kerusakan)
di muka bumi.
Nasib manusia sepanjang sejarah memiliki kaitan dengan orang lain. Sejarah kemanusiaan
merupakan mata rantai yang saling berhubungan. Karena itu, terputusnya sebuah mata rantai
akan mengakibatkan musnahnya sejumlah besar umat manusia.
Nilai suatu pekerjaan berkaitan dengan tujuan mereka. Pembunuhan seorang manusia dengan
maksud jahat, merupakan pemusnahan sebuah masyarakat, tetapi eksekusi terhadap seorang
pembunuh dalam rangka qishash merupakan sumber kehidupan masyarakat.
Mereka yang memiliki pekerjaan yang berhubungan dengan penyelamatan jiwa manusia,
seperti para dokter dan perawat, harus mengerti nilai pekerjaan mereka. Menyembuhkan atau
menyelamatkan orang yang sakit dari kematian, bagaikan menyelamatkan sebuah masyarakat
dari kehancuran
Dalam hadis Rasulullah saw. ternyata cukup banyak ditemukan hadis-hadis yang
memberikan perhatian secara verbal tentang toleransi sebagai karakter ajaran inti Islam. Hal ini
tentu menjadi pendorong yang kuat untuk menelusuri ajaran toleransi dalam Alquran, sebab apa
yang disampaikan dalam hadis merupakan manifestasi dari apa yang disampaikan dalam
Alquran.
Ibn Hajar al-Asqalany ketika menjelaskan hadis ini, beliau berkata: “Hadis ini di
riwayatkan oleh Al-Bukhari pada kitab Iman, Bab Agama itu Mudah” di dalam sahihnya
secara mu'allaq dengan tidak menyebutkan sanadnya karena tidak termasuk dalam kategori
syarat-syarat hadis sahih menurut Imam al-Bukhari, akan tetapi beliau menyebutkan sanadnya
secara lengkap dalam al-Adâb al-Mufrad yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah ibn ‘Abbas
dengan sanad yang hasan.[14] Sementara Syekh Nasiruddin al-Albani mengatakan bahwa hadis
ini adalah hadis yang kedudukannya adalah hasan lighairih.”[15]
Berdasarkan hadis di atas dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama yang toleran dalam
berbagai aspeknya, baik dari aspek akidah maupun syariah, akan tetapi toleransi dalam Islam
lebih dititikberatkan pada wilayah mua’malah. Rasulullah saw. bersabda :
ط ِ ِّرفٍ قَا َل َحدَّث َ ِني ُم َح َّمد ُ ب ُْن ْال ُم ْن َكد ِِر َع ْنَ سانَ ُم َح َّمدُ ب ُْن ُم َ َّاش َحدَّثَنَا أَبُو
َّ غ ٍ ي ب ُْن َعي َ َحدَّثَنَا
ُّ ع ِل
س ْم ًحا َّ سلَّ َم قَا َل َر ِح َم
َ َّللاُ َر ُج ًًل َ ع َل ْي ِه َو َّ صلَّى
َ َُّللا َّ سو َل
َ َِّللا ُ َّللاُ َع ْن ُه َما أ َ َّن َر
َّ ي َ ض َّ َجا ِب ِر ب ِْن َع ْب ِد
ِ َّللاِ َر
]16[.ضى َ َ ع َوإِذَا ا ْشت َ َرى َوإِذَا ا ْقت َ إِذَا بَا
[Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Ayyasy telah menceritakan kepada kami Abu
Ghassan Muhammad bin Mutarrif berkata, telah menceritakan kepada saya Muhammad bin al-
Munkadir dari Jabir bin 'Abdullah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Allah merahmati orang
yang memudahkan ketika menjual dan ketika membeli, dan ketika memutuskan perkara"].
Imam al-Bukhari memberikan makna pada kata ‘as-samâhah’ dalam hadis ini dengan kata
kemudahan, yaitu pada “Bab Kemudahan dan Toleransi dalam Jual-Beli”.[17]Sementara Ibn
Hajar al-‘Asqalâni ketika mengomentari hadis ini beliau berkata: "Hadis ini menunjukkan
anjuran untuk toleransi dalam interaksi sosial dan menggunakan akhlak mulia dan budi yang
luhur dengan meninggalkan kekikiran terhadap diri sendiri, selain itu juga menganjurkan untuk
tidak mempersulit manusia dalam mengambil hak-hak mereka serta menerima maaf dari
mereka.[18]
Islam sejak diturunkan berlandaskan pada asas kemudahan, sebagai-mana Rasulullah saw.
bersabda :
َ ع ْن
س ِعي ِد َ ي ِ َع ْن َم ْع ِن ب ِْن ُم َح َّم ٍد ْال ِغف
ِِّ ار َ ي َ ع َم ُر ب ُْن
ٍِّ ع ِل ُ ط َّه ٍر قَا َل َحدَّثَنَاَ سًلَ ِم ب ُْن ُم َّ ع ْبدُ الَ َحدَّثَنَا
َّسلَّ َم قَا َل ِإ َّن ال ِدِّينَ يُس ٌْر َولَ ْن يُشَاد َ ع َل ْي ِه َو َّ صلَّى
َ َُّللا َ ي ِِّ ي َع ْن أ َ ِبي ُه َري َْرة َ َع ْن النَّ ِب ِِّ س ِعي ٍد ْال َم ْقب ُِر
َ ب ِْن أ َ ِبي
]19[.ش ْيءٍ ِم ْن الد ُّْل َج ِة َّ اربُوا َوأ َ ْبش ُِروا َوا ْستَ ِعينُوا بِ ْالغَد َْوةِ َو
َ الر ْو َح ِة َو َ َّال ِدِّينَ أ َ َحد ٌ إَِل
َ َغ َلبَهُ ف
ِ َس ِدِّد ُوا َوق
[Telahmenceritakankepada kami Abdus Salam bin Muthahharberkata,
telahmenceritakankepada kami Umar bin Ali dariMa'an bin Muhammad Al GhifaridariSa'id bin
Abu Sa'id Al Maqburidari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihiwasallambersabda:
"Sesungguhnya agama itumudah, dan tidaklahseseorangmempersulit agama
kecualidiaakandikalahkan (semakinberat dan sulit). Makaberlakulahlurus kalian, men-dekatlah
(kepada yang benar) dan berilahkabargembira dan mintatolong-lahdengan al-ghadwah(berangkat
di awalpagi) dan ar-ruhah (berangkatsetelahzhuhur) dan sesuatudari ad-duljah (berangkat di
waktumalam)"].
Ibn Hajar al-‘Asqalâni berkata bahwa makna hadis ini adalah larangan
bersikaptasyaddud (keras) dalam agama yaitu ketika seseorang memaksa-kan diri dalam
melakukan ibadah sementara ia tidak mampu melaksana-kannya itulah maksud dari kata : "Dan
sama sekali tidak seseorang berlaku keras dalam agama kecuali akan terkalahkan" artinya bahwa
agama tidak dilaksanakan dalam bentuk pemaksaan maka barang siapa yang memaksakan atau
berlaku keras dalam agama, maka agama akan mengalahkannya dan menghentikan
tindakannya.[20]
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa suatu ketika Rasulullah saw. datang kepada ‘Aisyah
ra., pada waktu itu terdapat seorang wanita bersama ‘Aisyah ra., wanita tersebut memberitahukan
kepada Rasulullah saw. perihal salatnya, kemudian Rasulullah saw. bersabda :
ُاحبُه
ِ صَ علَ ْي ِه
َ ام ِ َّللاُ َحتَّى ت َ َملُّوا َو َكانَ أ َ َحبَّ ال ِد
َ َِّين ِإلَ ْي ِه َماد َّ علَ ْي ُك ْم ِب َما ت ُ ِطيقُونَ َف َو
َّ َّللاِ ََل َي َم ُّل َ ،َْمه
["Hentikan, Kerjakan apa yang sanggup kalian kerjakan, dan demi Allah sesungguhnya
Allah tidak bosan hingga kalian bosan, dan Agama yang paling dicintai disisi-Nya adalah yang
dilaksanakan oleh pemeluknya secara konsisten"].[21]
Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak memuji amalan-amalan yang
dilaksanakan oleh wanita tersebut, dimana wanita itu menberitahukan kepada Rasulullah saw.
tentang salat malamnya yang membuatnya tidak tidur pada malam hari hanya bertujuan untuk
mengerja-kannya, hal ini ditunjukkan ketika Rasulullah saw. memerintahkan kepada ‘Aisyah ra.
untuk menghentikan cerita sang wanita, sebab amalan yang dilaksanakannya itu tidak pantas untuk
dipuji secara syariat karena di dalamnya mengandung unsur memaksakan diri dalam menjalankan
ajaran-ajaran Islam, sementara Islam melarang akan hal tersebut sebagaimana yang ditunjukkan
pada hadis sebelumnya.[22]
Terdapat banyak ayat-ayat Alquran yang menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sarat
dengan kemudahan di antaranya adalah firman Allah swt:
[Dia telah memilih kamu. Dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu
kesempitan].[23]
Pada ayat lain Allah berfirman :
Toleransi dalam Islam bukan berarti bersikap sinkretis. Pemahaman yang sinkretis dalam
toleransi beragama merupakan dan kesalahan dalam memahami arti tasâmuh yang berarti
menghargai, yang dapat mengakibat-kan pencampuran antar yang hak dan yang batil (talbisu al-
haq bi al-bâtil), karena sikap sinkretis adalah sikap yang menganggap semua agama sama.
Sementara sikap toleransi dalam Islam adalah sikap menghargai dan menghormati keyakinan dan
agama lain di luar Islam, bukan menyamakan atau mensederajatkannya dengan keyakinan Islam
itu sendiri.
Pada ayat ini terdapat perintah untuk mengajak para ahli kitab dari kalangan Yahudi dan
Nasrani untuk menyembah kepada Tuhan yang tunggal dan tidak mempertuhankan manusia
tanpa paksaan dan kekerasan sebab dalam dakwah Islam tidak mengenal paksaan untuk beriman
sebagaimana Allah swt. berfirman:
Dalambeberapa riwayat diketahui Rasulullah saw. Juga mendoakan agar Allah swt.
memberikan kepada mereka (kaum musyrik) hidayah untuk beriman kepada-Nya dan kepada
risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw. Diantara riwayat-riwayat tersebut adalah kisah qabilah
Daus yang menolak dakwah Islam yang disampaikan oleh Tufail bin Amr ad-Dausi, kemudian
sampai hal ini kepada Rasulullah saw., lalu beliau berdo'a :
ِ ْسا َوأ
"ت ِب ِه ْم ً "اللَّ ُه َّم ا ْه ِد دَ ْو
[Ya Allah, tunjukilah qabilah Daus hidayah dan berikan hal itu kepada mereka].[31]
Berdasarkan riwayat di atas, maka benarlah bahwa Rasulullah saw. diutus menjadi rahmat
bagi seluruh alam. Beliau tidak tergesa-gesa mendoakan mereka (orang kafir) dalam kehancuran,
selama masih terdapat kemungkinan diantara mereka untuk menerima dakwah Islam, sebab
beliau masih mengharapkannya masuk Islam. Adapun kepada mereka yang telah
sampai dakwah selama beberapa tahun lamanya, tetapi tidak terdapat tanda-tanda kenginan
untuk menerima dakwah Islam dan dikhawatirkan bahaya yang besar akan datang dari mereka
seperti pembesar kaum musyrik Quraisy (Abu Jahal dan Abu Lahab dkk), barulah Rasulullah
mendoakan kehancuran atas nama mereka.[32]
Sikap Rasululullah saw yang mendoakan dan mengharapkan orang-orang musyrik supaya
menjadi bagian umat Islam, menguatkan bahwa Rasulullah saw. diutus membawa misi toleransi,
sebagaimana sabda beliau;
[Maka Rasulullah saw bersabda, “sesungguhnya aku tidak diutus untuk orang-orang Yahudi dan
Nasrani, akan tetapi aku diutus untuk orang-orang yang lurus terpuji.”]
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Jadi dengan dibuatnya makalah ini diharapkan bertoleransi antar sesama, baik dari hal
agama maupun dalam hal [Link] ini dibutuhkan untuk menciptakan kehidupan yang tentram,
sehingga diperlukan kesediaan pada setiap individu manusia untuk selalu menanamkan sikap
toleransi dalam beragama. Kerukunan umat beragama yaitu hubungan sesama umat beragama
yang dilandasi dengan toleransi, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai
dalam kesetaraan pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan masyarakat dan
bernegara.
Tuhan yang disembah Nabi Muhammad SAW. dan pengikutnya bukanlah apa yang
disembah oleh orang-orang kafir.
Sikap Manusia terhadap kebenaraan Al-Qur’an ada dua, yakni kelompok Manusia yang
percaya terhadap kebenaran Al-Qur’an, dan Kelompok Manusia yang tidak percaya terhadap
kebenaran Al-Qur’an
3.2 SARAN
Perbedaan bukanlah suatu masalah yang bisa memecah manusia tapi perbedaan yang ada
akan saling melengkapi dengan begitu hidup ini akan saling menghargai, menghormati dan
selaras. Lewat persamaan kita bisa menjalin persaudaraan dan mempererat tali silahturahi,
dengan begitu akan tercipta kerukunan dengan sendirinya.
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
beragama/[Link]
[Link]
[Link][Link]
[Link][Link]
[Link]