0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
609 tayangan3 halaman

Taksonomi dan Khasiat Kirinyuh

Kirinyuh (Chromolaena odorata L.) adalah gulma berbentuk semak berkayu yang berasal dari Amerika Utara namun kini telah menyebar luas di Asia, Afrika, dan Australia. Tumbuhan ini memiliki daun berbentuk oval dan batang tegak yang dapat mencapai ketinggian 5 meter. Kirinyuh dapat menyebar dengan cepat melalui biji dan stek batangnya, dan menjadi ancaman bagi pertanian. Namun, tumbuhan ini juga dimanfaat

Diunggah oleh

Ira Mardhatillah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
609 tayangan3 halaman

Taksonomi dan Khasiat Kirinyuh

Kirinyuh (Chromolaena odorata L.) adalah gulma berbentuk semak berkayu yang berasal dari Amerika Utara namun kini telah menyebar luas di Asia, Afrika, dan Australia. Tumbuhan ini memiliki daun berbentuk oval dan batang tegak yang dapat mencapai ketinggian 5 meter. Kirinyuh dapat menyebar dengan cepat melalui biji dan stek batangnya, dan menjadi ancaman bagi pertanian. Namun, tumbuhan ini juga dimanfaat

Diunggah oleh

Ira Mardhatillah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

1. Kirinyuh (Chromolaena odorata L.)


Klasifikasi
Klasifikasi tumbuhan kirinyuh (Chromolaena odorata L.) sebagai berikut
(Chakraborty et al, 2011):
Kingdom : Plantae
Super Divisi : Spermatophyta
Phylum : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Asteridae
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Chromolaena
Spesies : Chromolaena odorata L. King & H.E. Robins.
Deskripsi
Kirinyuh (Chromolaena odorata L.) dalam bahasa Inggris disebut siam weed,
merupakan spesies berbunga semak dalam keluarga bunga matahari. Tumbuhan ini asli
Amerika Utara, dari Florida dan Texas termasuk Meksiko dan Karibia, telah dikenal
luas di Asia, Afrika barat, dan sebagian daerah di Australia. Tumbuhan ini telah
digunakan sebagai obat tradisional di Indonesia. Kirinyuh (Chromolaena odorata L.)
merupakan gulma berbentuk semak berkayu dapat berkembang cepat sehingga sulit
dikendalikan, diduga kirinyuh memiliki efek allelopati. Tumbuhan ini merupakan
gulma padang rumput yang penyebarannya sangat luas di Indonesia tidak hanya di
lahan kering atau pegunungan, tetapi juga di lahan rawa dan lahan basah lainnya. Daun
mudah hancur, dan cairan yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengobati luka kulit.
Gulma ini diperkirakan sudah tersebar di Indonesia sejak tahun 1910-an.
gulma ini mempunyai ciri khas daun berbentuk oval dan bagian bawah lebih lebar,
panjang daun 6-10 cm, panjang tangkai daun 1-2 cm dan lebarnya 3-6 cm, mempunyai
tiga tulang daun yang nyata terlihat, memiliki batang yang tegak, berkayu, ditumbuhi
rambut-rambut halus, bercorak garis-garis membujur yang paralel, tingginya bisa
mencapai 5 meter bahkan bisa lebih, bercabang-cabang. Pangkal agak membulat dan
ujung tumpul, tepinya bergerigi, mempunyai tulang daun tiga sampai lima,
permukaannya berbulu pendek dan kaku. dan bila diremas terasa bau yang sangat
menyengat, percabangan berhadapan, berbunga majemuk yang terlihat berwarnaputih
kotor. Selain itu gulma ini mampu menghasilkan biji yang banyak dan mudah tersebar
2

dengan bantuan angin karena adanya rambut palpus. Berkembang biak secara biji dan
stek batang. biasa mencapi 36 batang tiap meter persegi, yang berpotensi menghasilkan
kecambah, tunas, dan tumbuhan dewasa berikutnya.
Penyebaran
Tumbuhan ini dianggap gulma yang serius di banyak Negara Afrika, Asia Selatan
dan Asia Tenggara, dapat tumbuh dengan cepat dan membentuk infestasi yang dapat
mempengaruhi pertanian, pertanian, padang rumput dan keanekaragaman hayati
lainnya, sebagai gulma yang mengganggu fungsi ekosistem.
Gulma dapat menyebar melalui cara seksual dan vegetatif tetapi metode
penyebaran utama adalah melalui propagasi seksual. Seksual propagasi dimulai ketika
gulma membentuk bunga pada usia satu tahun dan meningkat sampai berusia sepuluh
tahun. Bunga mampu menghasilkan jumlah besar benih, dengan diperkirakan dari
93.000 untuk 1.600.000 biji per tanaman. Viabilitas benih bervariasi kebanyakan
benih tidak layak untuk lebih dari 1 tahun, 1,4% bibit yang tersisa selamat ke tahun
kedua. biji cenderung menurunkan di kelembaban tinggi dan suhu lingkungan.
Gulma siam juga dikatakan spesies abadi, karena hidup selama lebih dari satu tahun.
Hal ini dapat diukur dengan iklim tropis basah-kering. Daunnya dapat mati saat musim
kemarau yaitu pada bulan Mei-Oktober ketika hampir tidak ada hujan turun. Namun,
akar tetap hidup dan vegetasi tumbuh kembali dengan cepat selama musim hujan yaitu
pada bulan November-Maret. Benih gulma siam berkecambah selama musim hujan.
pertumbuhan bibit produktif, dan bibit yang akan berkecambah di awal musim hujan,
akan berbunga selama bulan Juni-Juli karena dipicu oleh hari panjang, semua tanaman
di berbagai daerah akan berbunga di waktu yang sama dalam setahun. Biasanya bunga
yang sudah mengering akan berjatuhan dan tersebar beberapa bulan setelah berbunga.
Tumbuhan ini mempunyai bunga majemuk berbentuk malai rata(Corymbus) yaitu
kepala bunga kira-kira berada pada satu bidang, lebarnya 6-15cm, terbentuk di ujung
tunas atau dari ketiak daun teratas. Menurut FAO, (2006) dalam Sugiyanto (2013)
gulma siam dapat tumbuh pada ketinggian 100-2800 m dpl, tetapi di Indonesia banyak
ditemukan di dataran rendah (0-500 m dpl) seperti diperkebunan-perkebunan karet dan
kelapa sawit.
Pemanfaatan
Penggunaan obat tradisional memegang peran besar sebagai obat tradisional yang
tersedia sebagai agen obat efektif untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit,
khususnya di negara-negara berkembang beriklim tropis seperti Indonesia, india dan
3

negara beriklim tropis lainnya. Dalam konteks ini, orang- orang mengkonsumsi
beberapa tanaman atau tumbuhan formulasi diturunkan untuk mengobati infeksi cacing
dan perawatan luka.
Di Indonesia tumbuhan kirinyuh atau yang lebih dikenal dengan gulma siam ini
memiliki dua sisi yang berbeda. Di satu sisi tumbuhan ini adalah gulma yang sangat
merugikan karena tumbuhan ini bias menjadi pesaing dalam penyerapan air dan unsur
hara didalam tanah, sehingga bisa berdampak pada pencapaian hasil pertanian,
perkebunan. Namun disisi lainnya tumbuhan ini bermanfaat bagi kelansungan hidup
manusia sebagai biopestisida, pupuk organik, serta obat, uniknya gulma ini dapat
digunakan sebagai herbisida pembasmi gulma.
Kirinyuh merupakan salah satu jenis tumbuhan dimana dalam pengobatan
tradisional, ramuan daun digunakan sebagai obat batuk, obat tradisional lainnya
termasuk anti-diare, astringent, anti-spasmodik, antihipertensi, antiinflamasi, diuretik,
tonik, antipiretik dan jantung tonik. Daun kirinyuh juga telah diaplikasikan pada
manusia untuk membantu pembekuan darah akibat luka bisul atau borok.

Anda mungkin juga menyukai