89% menganggap dokumen ini bermanfaat (9 suara)
35K tayangan19 halaman

Makalah Toleransi Beragama di Indonesia

Makalah ini membahas tentang toleransi. Toleransi berarti sikap menghargai dan membiarkan pendapat atau kepercayaan yang berbeda dari pendapat sendiri. Unsur-unsur toleransi meliputi menghargai perbedaan, tanpa mengorbankan prinsip sendiri, dan tujuannya untuk mencapai perdamaian. Pendidikan toleransi bertujuan membangun sikap toleran antar umat beragama. Di Indonesia, toleransi penting untuk kerukunan karena keragaman agama.

Diunggah oleh

ARDIAN S. LEKY
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
89% menganggap dokumen ini bermanfaat (9 suara)
35K tayangan19 halaman

Makalah Toleransi Beragama di Indonesia

Makalah ini membahas tentang toleransi. Toleransi berarti sikap menghargai dan membiarkan pendapat atau kepercayaan yang berbeda dari pendapat sendiri. Unsur-unsur toleransi meliputi menghargai perbedaan, tanpa mengorbankan prinsip sendiri, dan tujuannya untuk mencapai perdamaian. Pendidikan toleransi bertujuan membangun sikap toleran antar umat beragama. Di Indonesia, toleransi penting untuk kerukunan karena keragaman agama.

Diunggah oleh

ARDIAN S. LEKY
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

TOLERANSI

Oleh:

Nurhasinah Abdullah Ulumando

(2011211008)

FAKULTAS AGAMA ISLAM


PROGRAM STUDI AHWAL ASY-SYAKHSIYYAH
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUPANG
2020

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan
bimbingan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini disusun sebagai bentuk kewajiban mahasiswa untuk memenuhi tugas
pada mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Kami berharap semoga makalah
ini dapat menambah wawasan bagi penyusun sendiri maupun bagi pembacanya.

Penulis menyadari bahwa tersusunnya makalah ini tidak lepas dari bantuan
serta arahan dari berbagai pihak. Untuk itu, melalui kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang
telah berkontribusi baik secara ide, pikiran maupun materi.
Sebagai penulis, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan
maupun kesalahan didalam penyusunan makalah ini, baik itu kelengkapan isi
materi, maupun kesalahan dalam penyusunan kata dan tata bahasa. Oleh karena itu,
kami bersedia menerima kritik maupun saran yang bersifat membangun dari
pembaca untuk penyusunan makalah selanjutnya.

Kupang, 30 Desember 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ------------------------------------------------------------------ ii

DAFTAR ISI ----------------------------------------------------------------------------- iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ------------------------------------------------------------------ 1


B. Rumusan Masalah -------------------------------------------------------------- 2
C. Tujuan ---------------------------------------------------------------------------- 3

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Toleransi ----------------------------------------------------------- 4


B. Unsur-unsur Toleransi --------------------------------------------------------- 6
C. Pendidikan Toleransi----------------------------------------------------------- 7
D. Toleransi di Indonesia --------------------------------------------------------- 7
E. Toleransi Dalam Kajian Islam ------------------------------------------------ 8
F. Toleransi Umat Beragama di Indonesia ------------------------------------- 11

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ---------------------------------------------------------------------- 13
B. Saran ----------------------------------------------------------------------------- 14

DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------------------------------- 16

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bumi seyogianya menjadi tempat yang damai penuh nikmat bagi manusia,
mata’un ilahin. Namun, ini tergantung kepada manusia itu sendiri, apakah mau
hidup rukun dan damai atau sibuk dengan konflik dan saling bertikai. Salah satu
faktor yang berkontribusi nyata dalam menciptakan suasana kehidupan manusia
adalah agama. Agama, demikian perspektif sosiologis, mempunyai peran dan
fungsi ganda, bisa konstruktif dan bisa pula destruktif. Secara konstruktif,
ikatan agama sering melebihi ikatan darah dan hubungan nasab atau keturunan.
Maka karena agama, sebuah komunitas atau masyarakat bisa hidup teguh
bersatu, rukun, dan damai. Sebaliknya, secara destruktif agama juga
mempunyai kekuatan memporak-porandakan persatuan bahkan dapat memutus
ikatan tali persaudaraan sedarah. Sehingga suatu konflik yang berlatarbelakang
agama sulit diprediksi kesudahannya.
Terlepas dari fungsi ganda di atas, yang pasti sebagai manusia semua umat
beragama mendambakan hidup damai kendati dalam komunitas multiagama
dan keyakinan. Namun, kerukunan dan keharmonisan antarumat beragama
tersebut hanya terwujud apabila setiap umat menghargai toleransi. Tanpa
toleransi, kerukunan antarumat beragama sulit bahkan tidak pernah terjadi.
Sungguh, hubungan toleransi dan kerukunan adalah bersifat kausalitatif atau
hubungan sebab akibat, maka toleransi adalah syarat mutlak bagi terwujudnya
kerukunan itu sendiri.
Negara Indonesia adalah negara yang memiliki beranekaragam suku,
budaya, ras, dan agama. Walaupun banyak keragaman budaya Indonesia tetap
satu yaitu “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya meskipun berbeda-beda tetapi
tetap satu jua. Negara Indonesia memiliki 6 agama besar yang dianut oleh
masyarakat Indonesia, yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan
Konghucu. Masyarakat Indonesia paling banyak menganut agama Islam,

1
dimana agama Islam menjadi mayoritas dan agama Kristen, Katolik, Hindu,
Budha, dan Konghucu minoritas. Walaupun di Indonesia mayoritas beragama
Islam mereka tetap menghargai masyarakat Indonesia yang beragama
minoritas.
Indonesia memiliki banyak agama yang berbeda-beda, toleransi antar
umat beragama harus terus berjalan dengan baik agar Indonesia menjadi negara
yang guyub dan rukun antar umat beragama. Toleransi antar umat beragama
sangat penting karena sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia yaitu
“Bhineka Tunggal Ika” yang memiliki arti meskipun berbeda-beda tetap satu
jua. Dengan terjalinnya toleransi antar umat beragama dengan baik maka
bangsa Indonesia yang kaya akan suku, budaya, ras dan agama yang berbeda-
beda dapat menjadi satu membangun negara Indonesia.
Negara Indonesia memiliki banyak suku, budaya, ras, dan agama yang
berbeda-beda. Mayoritas masyarakat Indonesia memeluk agama Islam,
sedangkan minoritas agama di Indonesia adalah Kristen, Katolik, Hindu,
Budha, dan Konghucu. Seringkali terjadi konflik antara mayoritas dengan
minoritas yang berbeda pendapat dan ingin agama yang dianutnya adalah yang
paling benar. Sekarang ini Indonesia sedang memanas dengan adanya pemilu
dan ada beberapa dari masyarakat Indonesia menyangkutkan agama dalam
politik. Maka dari itu penulis akan membahas Toleransi di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan toleransi?
2. Apa saja unsur-unsur didalam toleransi?
3. Bagaimana Pendidikan toleransi itu dilakukan?
4. Bagaimana toleransi di Indonesia?
5. Bagaimana toleransi dalam kajian Islam?
6. Bagaimana toleransi umat beragama di Indonesia?

2
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui apa itu toleransi,
2. Unsur-unsur yang ada dalam toleransi,
3. Pendidikan toleransi,
4. Toleransi di Indonesia,
5. Toleransi dalam kajian Islam, dan
6. Toleransi umat beragama di Indonesia

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Toleransi
Toleransi secara Bahasa berasal dari Bahasa Inggris “tolerance” yang
berarti membiarkan. Dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai sifat atau sikap
toleran, mendiamkan, membiarkam (KBBI, 1989:955). Dalam Bahasa Arab
kata toleransi (mengutip kamus Al Munawir disebut dengan istilah tasamuh
yang berarti sikap membiarkan atau lapang dada) Badawi mengatakan tasamuh
(toleransi) adalah pendirian atau sikap yang termanifestasikan pada kesediaan
umtuk menerima berbagai pandangan dan pendirian yang beraneka ragam
meskipun tidak sependapat dengannya (Bahari, 2010:51).
Toleransi menurut istilah berarti menghargai, membolehkan, membiarkan
pendirian pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan
sebagainya yang lain atau yang bertentangan dengan pendiriaannya sendiri.
Misalnya agama, ideologi, ras (Poerwadarminta, 1976:829).
Sedangkan menurut Tillman toleransi adalah saling menghargai, melalui
pengertian dengan tujuan kedamaian. Toleransi adalah metode menuju
kedamaian. Toleransi disebut sebagai factor esensi untuk perdamaian (Tillman,
2004:95). Pada intinya toleransi berarti sifat dan sikap menghargai. Sifat dan
sikap toleransi harus ditunjukan oleh siapapun terhadap bentuk pluralitas yang
ada di Indonesia. Sebab toleransi merupakan sikap yang paling sederhana, akan
tetapi mempunyai dampak yang positif bagi integritas bangsa pada umumnya
dan kerukunan bermasyarakat pada khususnya. Tidak adanya sikap toleransi
dapat memicu konflik yang tidak diharapkan.
Pelaksanaan sikap toleransi ini harus didasari dengan sikap kelapangan
dada terhadap orang lain dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang dipegang
sendiri, yakni tanpa mengorbankan prinsip-prinsip tersebut (Daud Ali,
1989:83). Jelas bahwa toleransi terjadi dan berlaku karena terdapat perbedaan

4
prinsip, dan menghormati perbedaan atau prinsip orang lain tanpa
mengorbankan prinsip sendiri.

Dalam toleransi terdapat butir-butir refleksi, yaitu:

1) Kedamaian adalah tujuan, toleransi adalah metode nya.


2) Toleransi adalah terbuka dan reseptif pada indahnya perbedaan.
3) Toleransi menghargai individu dan perbedaanya, menghapus topeng dan
ketegangan yang disebabkan oleh ketidak pedulian. Menyediakan
kesempatan untuk menemukan dan menghapus stigma yang disebabkan
oleh kebangsaan, agama, dan apa yang diwariskan.
4) Toleransi adalah saling menghargai satu sama lain melalui pengertian.
5) Benih dari intoleransi adalah ketakutan dan ketidakpedulian.
6) Benih dari toleransi adalah cinta, disiram dengan kasih dan pemeliharaan.
7) Jika tidak cinta tidak ada toleransi.
8) Yang tahu menghargai kebaikan dalam diri orang lain dan situasi memiliki
toleransi.
9) Toleransi juga berarti kemampuan menghadapi situasi sulit.
10) Toleransi terhadap ketidaknyamanan hidup dengan membiarkan berlalu,
ringan, membiarkan orang lain ringan.
11) Melalui pengertian dan keterbukaan pikiran orang yang toleran
memperlakukan orang lain secara berbeda, dan menunjukkan toleransinya.
Akhirnya, hubungan yang berkembang (Tillman, 2004:94).
Dapat disimpulkan, bahwa toleransi ialah sikap seseorang dimana mampu
membiarkan dengan lapang dada, menghargai, mengakui, menghormati, tidak
dendam, pengertian, terbuka terhadap pendapat, perbedaan, pandangan,
kepercayaan, kebiasaan, sikap dan sebagainya yang lain atau yang bertentangan
dengan pendiriannya sendiri.

5
B. Unsur-unsur Toleransi
Dalam toleransi terdapat unsur-unsur yang harus ditekankan dalam
mengekspresikan terhadap orang lain. unsur-unsur tersebut adalah:
a. Memberikan Kebebasan Dan Kemerdekaan
Setiap manusia diberikan kebebasan untuk berbuat, bergerak maupun
berkehendak menurut dirinya sendiri sendiri dan juga di dalam memilih satu
agama atau kepercayaan. Kebebasan ini diberikan sejak manusia lahir
sampai nanti ia meninggal dan kebebasan atau kemerdekaan yang manusia
miliki tidak dapat digantikan atau direbut oleh orang lain dengan cara
apapun, karena kebebasan itu adalah datangnya dari Tuhan Yang Maha Esa
yang harus dijaga dan dilindungi. Di setiap Negara melindungi kebebasan-
kebebasan setiap manusia baik dalam Undang-Undang maupun dalam
peraturan yang ada (Abdullah, 2001:202).
b. Mengakui Hak Setiap Orang
Suatu sikap mental yang mengakui hak setiap orang di dalam menentukan
sikap perilaku dan nasibnya masing- masing. Tentu saja sikap atau perilaku
yang di jalankan itu tidak melanggar hak oranglain karena kalau demikian,
kehidupan di dalam masyarakat akan kacau.
c. Menghormati Keyakinan Orang Lain
Dalam konteks ini, di berlakukan bagi toleransi antar agama. Namun apabla
di kaitkan d alam toleransi sosial. Maka menjadi menghormati keyakinan
orang lain dalam memilih suatu kelompok.
Contohnya dalam pengambilan keputusan seseorang untuk memilih
organisasi pencak silat. Sebagai individu yang toleran seseorang harus
menghormati keputusan orang lain yang berbeda dengan kelompok
organisasi pencak silat kita.
d. Saling Mengerti
Tidak akan terjadi, saling menghormati antara sesama manusia bila mereka
tidak ada saling mengerti. Saling anti dan saling membenci, saling berebut
pengaruh adalah salah satu akbibat dari tidak adanya saling mengerti dan
saling menghargai Antara satu dengan yang lain (Hasyim, 1979:23).

6
C. Pendidikan Toleransi
Mengingat pentingnya nilai toleransi, hal ini harus di terapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Upaya ini dilakukan guna menghindari konflik-konflik
yang terjadi akibat tidak adanya rasa menghormati dan menghargai orang lain,
seperti yang di ungkapkan oleh Tilaar (1999:160) bahwa yang diperlukan dalam
masyarakat bukan sekedar mencari kesamaan dan kesepakatan yang tidak
mudah untuk dicapai, justru paling penting di dalam masyarakat yang ber-
bhineka tunggal ika adalah adanya saling pengertian. Haricahyono (1995:203)
mengatakan tujuan pengembangan sikap toleransi dikalangan siswa di sekolah
maupun kelompok sosial, disamping sebagai wahana latihan agar mereka lebih
lanjut dapat menerapkan dan mengembangkankannya secara luas dalam
kehidupan masyarakat.
Pendidikan toleransi dapat dilakukan dalam beberapa pendekatan, yaitu
perorangan (personal approach), pendekatan kelompok (interpersonal
approach) dan pendekatan klasikal (classical approach) metode penyajiannya
pun sangat beragam dan luwes melalui cerita, ceramah, permainan simulasi,
tanya jawab, diskusi dan tugas mandiri. Singkatnya setiap bentuk sambung rasa
(komunikasi) dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan (Sumaatmadja, N,
1990:9).

D. Toleransi di Indonesia
Toleransi di Indonesia di bahas dalam UUD 1945 BAB X tentang Hak
Asasi Manusia Pasal 28 J (UUD 1945:14)
1. Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
2. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk
kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan
maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas
hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai
dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban
umum dalam suatu masyarakat demokrastis.

7
Dengan menghormati hak asasi manusia untuk menjalankan hak dan
kebebasanya berarti sudah terciptanya toleransi. Karena esensi dari toleransi
adalah menghargai, membolehkan, membiarkan pendirian, pendapat,
pandangan kepercayaan, kebiasaan, kelakuan dan sebagainya yang lain atau
yang bertentangan dengan pendirinya sendiri (Poerwadarminta, 1976:829)
Pentingnya toleransi di Indonesia di katakana oleh Amir Santoso, Guru
Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Rektor
Universitas Jayabaya bahwa konflik dalam masyarakat disebabkan oleh banyak
hal dan salah satu sebabnya adalah rendahnya toleransi antar individu dan antar
kelompok. Ketika seseorang atau suatu kelompok lebih mementingkan egonya
dan tidak bersedia memahami perasaan dan kepentingan pihak lain, terjadilah
konflik.
“Kita memiliki masyarakat yang mampu saling menghargai agama,
kepercayaan, dan adat istiadat masing-masing dan hidup harmonis tanpa saling
mengganggu. Hal ini harus dijaga terus sebab kelangsungan hidup Indonesia
sangat bergantung pada ada tidaknya toleransi tersebut. Semoga berbagai
konflik yang mewarnai situasi Negara kita bisa diselesaikan melalui toleransi
dan sikap menahan diri yang harus terus ditingkatkan, amin”

E. Toleransi Dalam Kajian Islam


Toleransi dimaknai sebagai tasammuh dalam Bahasa Arab. Tasammuh
merupakan pendirian atau sikap yang termanifestasikan pada kesediaan untuk
menerima berbagai pandangan dan pendirian yang beraneka ragam meskipun
tidak sependapat dengannya. Namun, menurut Hilali, dalam Islam istilah
toleransi lebih dekat hubungannya dengan As-Samahah yaitu kerelaan hati
karena kemuliaan dan kedermawanan, lapang dada karena kebersihan dan
ketaqwaan, kelemah lembutan karena kemudahan, rendah diri di depan sesama
muslim bukan karena hina, mudah bergaul dengan siapapun tanpa penipuan dan
kelalaian (dalam Ramadhani, 2013:14)

8
Nilai-nilai toleransi diserukan dalam al-Quran Surat an-Nahl ayat 125,
yang berbunyi:

Artinya: “Serulah (manusia) ke jalan Tuhan Mu dengan hikmah dari pelajaran


yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-
Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”
(Q.S. an-Nahl: 14).
Ayat di atas merupakan perintah kepada umat manusia untuk menghindari
segala bentuk pemaksaan dan melarang umat-Nya untuk jangan menyulut
perang. Apabila ada ketidaksamaan sebuah pandangan harus dilakukan dengan
cara yang baik (menghargai satu sama lain) bukan menjadikan hal tersebut awal
konflik.
Allah SWT menjelaskan dalam mengajak kebaikan dengan cara yang baik
agar ajakan atau seruan tersebut diterima dengan lembut oleh hati manusia juga
berkesan dihati mereka. Sebuah ajakan tidak boleh menimbulkan rasa cemas,
gelisah, tidak nyaman, serta ketakutan karena orang yang berdosa karena bodoh
atau tidak tahu hukum tidak boleh disalahkan dengan disebutkan secara terbuka
sehingga dapat menyakiti hatinya.
Selain itu Islam juga menganjurkan manusia untuk saling menjalin
silaturahim. Silaturahmi disini bermakna saling bersosialisasi dengan orang
lain. Hal ini tertulis dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

9
Artinya: “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”
(Q.S al-Hujurat: 13)
Ayat diatas menjelaskan bahwa Allah menciptakan seorang laki-laki dan
seorang perempuan, dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan
berbeda-beda warna kuliah bukan untuk saling mencemoohkan, tetapi untuk
saling tolong-menolong dan saling mengenal.
Asbabun Nuzul (sebab turunnya al-Qur’an) adalah peristiwa Fathul
Makkah (8H), Rasul mengutus Bilal Bin Rabbah untuk mengumandangkan
adzan, ia memanjat ka’bah dan berseru kepada kaum muslimin untuk shalat
berjama’ah, Ahab bin Usaid ketika melihat Bilal naik keatas Ka’bah berkata
“segala puji bagi Allah yang telah mewafatkan ayahku, sehingga tidak
menyaksikan peristiwa hari ini”, Harits bin Hisyam berkata “Muhammad
menemukan orang lain kecuali burunng gagak yang hitam ini” kata-kata ini
dimaksudkan untuk mencemooh Bilal karena warna kulitnya yang hitam, Maka
datanglah malaikat Jibril memberitahukan kepada Rasulullah tentang apa yang
dilakukan mereka sehingga turunlah ayat ini yang melarang manusia untuk
menyombongkan diri karena kedudukannya, pangkat, kekayaan, keturuan (al-
Qur’an dan Tafsir Depag RI:409)
Allah menciptakan manusia dari Adam dan hawa dan dari keduanyalah
lahir manusia baru yang kemudian menjadi berbangsa-bangsa, bersuku-suku,
berbeda warna kulit bukan untuk saling mencemooh dan merendahkan
satusama lain tetapi untuk saling mengenal dna slaing tolong menolong karena
bagi Allah sebaik-baik manusia ialah yang bertakwa kepada-Nya bukan yang
kaya, terhormat, berpangkat tinggi, dan sebagainya.

10
F. Toleransi Umat Beragama di Indonesia
Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku, budaya, ras,
dan agama. Walaupun berbeda-beda Indonesia mempunyai semboyan yaitu
“Bhineka Tunggal Ika” yang artinya meskipun berbeda-beda tetap satu jua.
Dengan adanya semboyan ini masyarakat Indonesia dapat menjalin toleransi
dan menghargai suku, budaya, ras, dan agama lain. Toleransi dalam umat
beragama contohnya toleransi beragama dimana penganut agama mayoritas
dalam sebuah masyarakat mengizinkan keberadaan agama minoritas lainnya.
Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat
yang beragama dan mempunyai keyakinan untuk menghormati dan menghargai
manusia yang beragama lain.
Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dibuat gelisah dengan adanya
kasus-kasus yang menyangkut kehidupan umat beragama di Indonesia. Dalam
sila pertama mengatakan bahwa Indonesia memiliki dasar ketuhanan Yang
Maha Esa. Ketuhanan artinya bangsa Indonesia, apapun agama dan
kepercayaannya, percaya dan mengimani bahwa Tuhan itu ada dan berdaulat
bagi negara Indonesia. Sedangkan Yang Maha Esa artinya umat beragama di
Indonesia sama-sama mengakui dan mengimani bahwa ada satu Tuhan yang
Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Suci, Maha Besar, dan Maha Kasih yang patut
dijunjung tinggi oleh semua umatNya. Intoleransi dalam bentuk apapun harus
dihapus.
Toleransi umat beragama di Indonesia agar berjalan dengan baik diawali
dengan para pemimpin atau tokoh agama yang menjadi panutan bagi umatnya.
Para pemimpin atau tokoh agama harus memberikan contoh atau panutan pada
umatnya untuk saling mengasihi dan menghargai antar umat beragama. Tidak
elok jika pemimpin atau tokoh agama menghina, merendahkan, atau
mempertanyakan ajaran-ajaran agama lain. jika para pemimpin atau tokoh
agama menghina, dan merendahkan agama lain dihadapan umatnya akan
menjadi perselisihan dan relasi antar umat beragama tidak saling menghargai
melainkan saling menjatuhkan antar agama, dan umat akan beranggapan bahwa
agamanya yang paling benar dan paling baik sendiri.

11
Toleransi umat beragama di Indonesia pada zaman sekarang ini ada yang
dapat menjalin toleransi dengan baik, akan tetapi juga masih ada yang belum
menjalin toleransi antar umat beragama lainnya. Contoh umat beragama yang
menjalin relasi baik di Gereja Kristen Jawa Joyodiningratan dan Masjid Al
Hikmah, Serengan, Kota Solo. Kedua bangunan tersebut berdampingan serta
memiliki alamat yang sama. Yaitu di Jl Gatit Subroto No 222, Solo. Perbedaan
keyakinan tidak menyurutkan semangat pemeluk agama Kristen dan Islam
untuk saling menjaga kerukunan, menghormati dan mengembangkan sikap
toleransi. Toleransi yang terjadi misalkan pada saat pelaksanaan Idul Fitri yang
jatuh pada hari minggu. Pengelola Gereja langsung menelpon pengurus Masjid
untuk menanyakan soal kepastian perayaan Idul Fitri. Kemudian pengurus
Gereja merubah jadwal ibadah paginya pada minggu siang hari, agar tidak
mengganggu umat Islam yang sedang menjalankan Shalat Idul Fitri. Begitu juga
sebaliknya pengurus masjid selalu memperbolehkan halaman Masjid untuk
parkir kendaraan bagi umat Kristen pada saat hari raya Paskah dan Natal. Hal
ini menjadi contoh kecil toleransi antar umat beragama yang hingga saat ini
terus dipelihara. Saling menghargai dan memberikan kesempatan untuk
menjalankan ibadah dengan khusyuk dan lancer bagi masing-masing
pemeluknya.

12
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Toleransi ialah sikap seseorang dimana mampu membiarkan dengan lapang
dada, menghargai, mengakui, menghormati, tidak dendam, pengertian,
terbuka terhadap pendapat, perbedaan, pandangan, kepercayaan, kebiasaan,
sikap dan sebagainya yang lain atau yang bertentangan dengan pendiriannya
sendiri.
2. Unsur-unsur toleransi antala lain memberikan kebebasan dan kemerdekaan,
mengakui hak setiap orang, menghormati keyakinan orang lain, dan saling
mengerti.
3. Pendidikan toleransi dapat dilakukan dalam beberapa pendekatan, yaitu:
• Perorangan (personal approach),
• Pendekatan kelompok (interpersonal approach), dan
• Pendekatan klasikal (classical approach).

Metode penyajiannya pun sangat beragam dan luwes melalui cerita,


ceramah, permainan simulasi, tanya jawab, diskusi dan tugas mandiri.

3. Toleransi di Indonesia di bahas dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945


BAB X tentang Hak Asasi Manusia Pasal 28 J (UUD 1945:14): Setiap orang
wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
4. Dalam Islam istilah toleransi lebih dekat hubungannya dengan As-Samahah
yaitu kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan, lapang dada
karena kebersihan dan ketaqwaan, kelemah lembutan karena kemudahan,
rendah diri di depan sesama muslim bukan karena hina, mudah bergaul
dengan siapapun tanpa penipuan dan kelalaian.

13
4. Toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat
yang beragama dan mempunyai keyakinan untuk menghormati dan
menghargai manusia yang beragama lain. Toleransi umat beragama di
Indonesia agar berjalan dengan baik diawali dengan para pemimpin atau
tokoh agama yang menjadi panutan bagi umatnya.

B. Saran
1. Bagi Warga Negara
Konflik dalam kehidupan berbegara memang bisa terjadi dalam
masyarakat, apalagi di Indonesia yang memiliki berbagai maca suku, ras
dan agama. Perbedaan akan selalu ada, namun bukan menjadi hal yang perlu
diperdebatkan, karena perbedaan itu ada bukalah agar kita saling merusak
tatanan yang sudah baik, namun perbedaan itu ada agar kita saling
melengkapi dan membangun masyarakat menuju kehidupan yang lebih
baik.
Demi menjaga kerukunan antar warga negara, kita harus tetap
mengedepankan sikap toleransi, khususnya di Kota Kupang, melakukan
kegiata-kegiatan positif bersama dan meningkatkan kominikasi, menjalin
silaturahmi dengan tetangga yang berbeda keyakinan dan ikut dalam
organisasi didalam masyarakat.
2. Bagi Tokoh Masyarakat
Bagi tokoh masyarakat tetaplah saling menjaga kerukunan antar
umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat, dengan memberikan
contoh-contoh yang baik dengan menjalin hubungan baik antar tokoh
masyarakat walaupun berbeda agama. Apabila hal ini sudah terjalin dengan
baik maka masyarakatpun akan mengikuti teladan para tokoh masyarakat
yang saling hidup rukun di tengah-tengah perbedaan. Memang hal ini perlu
partisipasi dari semua lapisan masyarakat untuk bisa menghargai dan
memaknai indahnya perbedaan.

14
3. Bagi Tokoh Agama
Untuk para pemuka agama agar memberikan pengertian kepada
jama’ahnya atau jemaatnya untuk menjaga hubungan baik dengan orang
yang berbeda keyakinan, dengan begitu para pemeluk agama bisa
mendalami ajaran agamanya masing-masing tanpa harus menjelek-jelekkan
agama lain. Keyakinan kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan boleh berbeda
namun kita di mata Tuhan adalah sama-sama sebagai makhluk ciptaan-Nya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Agitha Cakrapramesta Nasarani. 2011. Peran Forum Kerukunan Umat Beragama


(FKUB) Kabupaten Purworejo Sebagai Salah Satu Wadah Pencegahan
Konflik Antar Umat Beragama. Skripsi. S1. Universitas Negeri Yogyakarta.

Aslati. 2018. Toleransi Antar Umat Beragama Dalam Perspektif Islam (Suatu
Tinjauan Historis)

Gloria Suter, 2011, Dialog Antar Agama Membangun Harmoni dalam Pluralisme
([Link]
membangun-harmoni-dalam-pluralisme/)
Diakses pada tanggal 29 Agustus 2020 pukul 21.00.

Jamrah, S. 2015. Toleransi Antarumat Beragama: Perspektif Islam. Jurnal


Ushuluddin. Vol. 23 No. 2, Juli-Desember 2015.

16

Common questions

Didukung oleh AI

The document highlights several consequences of a lack of tolerance within a diverse society, including societal conflicts, disruptions in harmony, and fragmented national unity. Intolerance can lead to an absence of mutual respect and increased tensions between different religious and ethnic groups, escalating into broader social and possibly violent conflicts. This disruption affects not only personal relationships but also impacts the larger social fabric, hindering cooperative efforts essential for national development. The lack of tolerance undermines the core principle of 'Bhineka Tunggal Ika', thus destabilizing Indonesia's foundational ethos of unity amidst diversity .

The document describes the role of religious leaders as crucial in promoting tolerance in Indonesia. They are viewed as role models who can influence their followers' attitudes towards other religions. By exemplifying respect and understanding of different faiths, religious leaders can foster a culture of tolerance and coexistence. The document emphasizes the importance of leaders refraining from derogatory comments about other religions, as negative rhetoric can incite discord among followers. Instead, leaders should encourage interfaith dialogue and showcase positive relationships with leaders of other faiths, thereby promoting nationwide religious harmony and tolerance .

Religious tolerance significantly impacts societal harmony in Indonesia by serving as a key factor in maintaining national unity among its diverse population. The document suggests that without tolerance, conflicts arising from religious and cultural differences can disrupt social stability. Tolerance promotes respect and coexistence among the six major religions, preventing the escalation of conflicts. It is seen as essential for safeguarding Indonesia's pluralistic society, where different cultural and religious identities must coexist and collaborate to sustain national cohesion and peace .

The Indonesian Constitution addresses the issue of religious tolerance in the context of human rights as outlined in the 1945 Constitution, specifically in Chapter X, Article 28J. This article underscores the obligation of every individual to respect the human rights of others within the framework of community, national, and state life. It mandates that the exercise of individual rights and freedoms should be consistent with recognizing and respecting the rights and freedoms of others, thus fostering mutual understanding and ensuring a harmonious coexistence based on moral considerations, religious values, security, and public order .

The document elaborates on the manifestation of tolerance in daily life by detailing everyday actions that exhibit understanding and respect for diversity. It mentions how places of worship from different religions make concessions to accommodate each other's religious practices, such as churches adjusting service times to avoid overlapping with major Islamic prayers and mosques facilitating parking for churchgoers during significant Christian celebrations. Such actions demonstrate and reinforce a spirit of mutual respect and cooperation, essential for maintaining peaceful coexistence in a multi-religious society .

The document provides examples of successful interfaith cooperation, particularly highlighting the harmonious relationship between a church and a mosque in Solo, Indonesia. The church rescheduled its morning service to accommodate the Islamic prayer celebrations during Idul Fitri. In return, the mosque allowed its premises to be used for parking during Christian Easter and Christmas services. These reciprocal acts exemplify how interfaith cooperation can foster a sense of community and understanding, ensuring the smooth practice of different religious traditions without conflict .

The document suggests several educational approaches for teaching tolerance, which include personal, group, and classical approaches. These approaches involve diverse and flexible methods such as storytelling, lectures, simulation games, question-and-answer sessions, discussions, and independent assignments. These methods aim to develop tolerance by enhancing understanding and respect for diversity among students, enabling them to apply these principles in broader societal contexts. This education aims not only for knowledge acquisition but also for fostering empathetic and socially responsible behavior .

The document discusses the relationship between tolerance and peace by portraying tolerance as a method and peace as its ultimate goal. Tolerance involves respecting and accepting differences among people, which curtails prejudices and ethnic or religious discord that could result in conflict. By fostering tolerance, societies can achieve peace, as individuals and groups learn to coexist with their differences, reducing the likelihood of misunderstandings and hostility. The cultivation of tolerance is crucial in diverse societies like Indonesia, where lasting peace hinges on respect and harmony among its varied cultural and religious identities .

According to the document, the essential elements of tolerance include granting freedom and independence to individuals, recognizing each person's rights to determine their own behavior and fate, respecting the beliefs of others, and engaging in mutual understanding. These elements are foundational to expressing tolerance, ensuring that personal principles are not compromised while acknowledging others' rights and beliefs. The emphasis is on maintaining peace and social harmony despite differences .

The concept of 'Bhineka Tunggal Ika', which translates to 'unity in diversity', symbolizes the essence of religious tolerance in Indonesia. It emphasizes the coexistence of different cultures, ethnic groups, and religions within the nation, highlighting that despite these differences, they should remain united as one entity. This concept is crucial for fostering an environment of mutual respect and understanding among the six major religions in Indonesia: Islam, Christianity, Catholicism, Hinduism, Buddhism, and Confucianism. Tolerance is vital to maintain peace and harmony, resonating with the Indonesian national ideology of accepting and celebrating diversity .

Anda mungkin juga menyukai