BAB II
TINJUAUAN PUSTAKA
A. Laba-Laba (Arachnida)
1. Definisi Laba-laba
Gambar 2.1 Laba-laba Jaring. Sumber (Rainer F. Foelix, 1996)
Laba-laba merupakan kelompok organisme yang beragam terdiri atas 42.473
spesies. Laba-laba ditemukan di seluruh dunia dan mendiami berbagai macam
lingkungan ekologi kecuali udara dan laut. Kebanyakan berukuran kecil (2-10
mm) sampai besar (28 cm), contoh laba-laba trantula (Therophosa Blandi).
Umumnya laba-laba menangkap mangsanya untuk dimakan dan mangsa
utamanya adalah berbagai macam spesies hewan meliputi serangga dan vertebrata
kecil. Laba-laba bermanfaat bagi manusia karena dapat digunakan sebagai
pengendali serangga alam. Banyak spesies tarantula yang diketahui berbahaya
bagi manusia atau hewan menimbulkan penyakit contohnya laba-laba Hobo
(Tegenaria Domestica) ( Platnick,2011).
7
8
Menurut Nurlaela (2017) ada sekitar 40.000 spesies laba-laba yang telah
ditemukan, dan digolongkan ke dalam 111 suku. Akan tetapi mengingat bahwa
hewan ini begitu beragam, banyak di antaranya yang bertubuh amat kecil,
seringkali tersembunyi di alam, dan bahkan banyak spesimen di museum yang
belum terdeskripsi dengan baik, diyakini bahwa kemungkinan ragam jenis laba-
laba seluruhnya dapat mencapai 200.000 spesies. Ordo laba-laba terbagi atas tiga
subordo, yaitu:
a) Mesothelae, yang merupakan laba-laba primitif tak berbisa, dengan ruas-ruas
tubuh yang nampak jelas; memperlihatkan hubungan kekerabatan yang lebih
dekat dengan leluhurnya yakni artropoda beruas-ruas.
b) Mygalomorphae atau Orthognatha, adalah kelompok laba-laba yang
membuat liang persembunyian, dan juga yang membuat lubang jebakan di
tanah. Banyak jenisnya yang bertubuh besar, seperti tarantula.
c) Araneomorphae adalah kelompok laba-laba ‘modern’. Kebanyakan laba-laba
yang kita temui termasuk ke dalam subordo ini, mengingat bahwa anggotanya
terdiri dari 95 suku dan mencakup kurang lebih 94% dari jumlah spesies laba-
laba. Taring dari kelompok ini mengarah agak miring ke depan (dan bukan
tegak seperti pada kelompok tarantula) dan digerakkan berlawanan arah
seperti capit dalam menggigit mangsanya.
Menurut Horn (1988) Laba-laba adalah agen pengendalian hayati yang
potensial terhadap hama tanaman. Banyak jenis laba-laba yang telah dilaporkan
memangsa beragam jenis hama pada tanaman pertanian. Pada tanaman kacang-
9
kacangan ditemukan beragam jenis laba-laba yang potensial untuk dimanfaatkan
secara optimal untuk menekan perkembangan populasi hama.
Pengendalian secara alamiah atau biologi terhadap hama dan penyakit
tanaman merupakan salah satu cara untuk mengurangi resiko terhadap kesehatan
dan kerusakan lingkungan. Laba-laba (Araneae) adalah salah satu agen biologi
yang sangat potensial dalam pengendalian hama serangga pada ekosistem
pertanian. Kepadatan populasi dan kelimpahan spesies komunitas laba-laba
(biodiversity) pada ekosistem alamiah dan termasuk pertanian adalah tinggi
(Platnick,2011).
Hal ini didukung oleh pendapat Wissinger (1997) yang mengatakan bahwa
laba- laba dapat membantu pengaturan kepadatan populasi serangga hama.
Sebagai predator generalis, laba-laba dianggap lebih efisien daripada predator
spesialis untuk menekan hama pada habitat yang sering mengalami gangguan
seperti praktek budidaya tanaman pertanian.
2. Morfologi
Gambar 2.2 Morfologi Laba-laba. Sumber (Herbert W. Levi, 1990)
10
Laba-laba memiliki 8 kaki sedangkan serangga hanya memiliki 6. Laba-laba
memiliki mata tunggal dengan lensa dan serangga memiliki mata majemuk. Laba-
laba tidak memiliki antena. Laba-laba memiliki kombinasi kepala dan dada yang
disebut cephalothorax, dan perut sedangkan serangga memiliki bentuk tubuh yang
dibagi menjadi tiga bagian yaitu ; tubuh, kepala, dada, dan perut. (Barrion dan
Litsinger, 1995).
Karakter taksonomi yang umum untuk mengidentifikasi laba-laba yaitu
bentuk epyginum, spineret, abdomen, warna karapas, dan ukuran tubuh. Struktur
tubuh laba-laba terdiri dari dua bagian utama yaitu prosoma sepalotorax dengan
opisthosoma, prosoma adalah bagian depan badan tempat melengketnya enam
pasang yaitu sepasang selisera untuk menggigit. Sepasang pedipalpus untuk
menerkam mangsa dan empat pasang kaki jalan. Opistosoma atau abdomen
merupakan organ untuk makan, pernafasan, peredaran darah, ekskresi, reproduksi
dan produksi sutra, tidak seperti prosoma yang keras abdomen cenderung lembut
dan menyerupai kantong. Spineret atau tempat menghasilkan terletak pada bagian
kosteries abdomen (Barrion dan Litsinger, 1995).
Laba-laba memiliki racun yang tersimpan dalam kelenjar racun yang terletak
pada bagian ujung serisera yang disuntikkan pada mangsa. Racun laba-laba bisa
mengandung berbagai substansi utamanya campuran dan dari sejumlah
polipeptida. Nirotoxi dengan berat molekul 5000-13.000, Selain itu racun laba-
laba mengandung asam amino dan amino biogenik juga enzim pritiolitik
komposisi racun sangat spesifik dan tergantung pada berbagai faktor yaitu jenis
kelamin sumber makanan, habitat alami, iklim dan sebagainya. (Nurlaela,2017)
11
Spesies berukuran besar contohnya Atrax Spp, racunnya dapat berperan
sebagai pertahanan terhadap serangga mamalia. Kebanyakan laba-laba dikatakan
sebagai penyebab penyakit, beberapa spesies dan juga berbahaya saat menggigit
manusia. Laba-laba merupakan organisme yang membuat jaring dan tidak sama
dengan kelompok hewan lain. Jaring hanya diproduksi dalam spineres dibagian
ujung abdomen. Laba-laba sangat peka terhadap kekeringan, ada spesies laba-laba
yang tahan terhadap kekeringan dan kekurangan makanan contohnya Loxos Celes
yang bisa bertahan lebih dari 1 tahun tanpa makan atau air penggunaan insektisida
dapat menurunkan ketersediaan massa akan tetapi hal ini tidak menyebabkan
kematian terhadap laba-laba. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laba-laba
dapat memakan serangga yang mati karena teretroid tanpa terpengaruh oleh
kandungannya. Pedipalpus pada laba-laba jantan dewasa merupakan organ
kopulasi. (Nurlaela,2017)
Ukuran laba-laba jantan umumnya lebih kecil dibanding betina. Laba-laba
Black Widow jantan misalnya memiliki berat tubuh 1-2 % dari betinanya. Laba-
laba yang memiliki racun berbahaya bagi manusia adalah Peneutria Atrax.,
Lacxos. Laba-laba dapat digunakan untuk mengendalikan serangga dalam
program hama terpadu. (Nurlaela,2017)
3. Habitat
Menurut Nurlaela (2017) laba-laba merupakan kelompok Arthropoda yang
mampu beradaptasi di berbagai habitat namun sangat sensitif terhadap gangguan
yang terjadi dilingkungannya. Laba-laba menyukai habitat yang terlindung dari
suhu ekstrim, kelembaban tinggi, intensitas cahaya rendah, kecepatan angin
12
rendah, dan menghindari areal perkebunan yang menggunakan pestisida.
Sedangkan menurut Saroyo (2017) kehadiran laba-laba pada suatu ekosistem
sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti suhu, kelembaban, angin, dan
intensitas cahaya. Faktor biologis, seperti tipe vegetasi, ketersediaan makanan,
pesaing, dan musuh-musuhnya merupakan faktor-faktor yang membatasi
kehadiran laba-laba pada suatu ekosistem. Menurut Kartohadjono (2011) dalam
penelitiannya menyatakan bahwa keberadaan jenis laba-laba pada beberapa
ekosistem disebabkan karena pada masing-masing lokasi merupakan tempat
yang baik atau mampu beradaptasi dengan lingkungannya bagi laba-laba untuk
meneruskan perkembangan hidupnya karena banyak menyediakan sumber
makanan, dan tempat untuk berlindung, kawin dan bertelur. Disamping itu faktor
suhu dan kelembapan pasti berbeda-beda disetiap lokasi sehingga mempengaruhi
jenis laba-laba yang akan hidup pada ekosistem tersebut.
4. Jaring Laba-Laba
Gambar 2.3 Jaring Laba-laba. Sumber (Rainer F. Foelix, 1996)
13
Sebuah adaptasi unik pada kebanyakan laba-laba adalah kemampuan untuk
menangkap serangga dengan membangun jaring-jaring dari sutra. Sutra dipintal
oleh organ-organ yang disebut spineret menjadi serat kemudia memadat. Setiap
laba-laba membuat jaring yang khas berdasarkan spesiesnya. (Campbell,2004)
Menurut Letoumeu (2012) bentuk jaring laba-laba dapat dibedakan
berdasarkan cara laba-laba menenunnya, yaitu :
a. Jaring bola spiral, yang dihasilkan oleh laba-laba family Araneidae,
Tetragnathidae dan Uloboridae.
b. Sarang laba-laba, berhubungan dengan famili Theridiidae.
c. Corong, dibagi menjadi primitive dan modern.
d. Pipa, Lembaran, dan Kubah.
5. Manfaat Jaring Laba-laba
Jaring laba-laba memiliki banyak keistimewaan yang membuat para ilmuwan
meneliti dan mencari inovasi baru yang berkenaan dengan kesejahteraan hidup
manusia. Ilmuwan menggunakan benang laba-laba sebagai model ketika membuat
bahan yang dinamakan Kevlar. Peluru berkecepatan seratus lima puluh meter per
detik dapat merobek sebagian besar benda yang dikenainya, kecuali barang yang
terbuat dari Kevlar. Tetapi, benang laba-laba sepuluh kali lebih kuat daripada
kevlar. Benang ini juga lebih tipis dari rambut manusia, lebih ringan dari kapas,
tapi lebih kuat dari baja, dan diakui sebagai bahan terkuat di dunia. (Hurd dkk ,
1992). Selain itu menurut Campbell (2004) laba-laba menggunakan jaring-jaring
tersebut untuk keperluan lain seperti : sebagai pegangan untuk melarikan diri
14
dengan cepat, sebagai pelindung telur dan bahkan sebagai bungkus hadiah berupa
makanan yang ditawarkan oleh jantan kepada betina selama masa percumbuhan.
Menurut Marwoto (1999) pemanfaatan jaring laba-laba dibagi menjadi tiga
kelompok yakni ;
a. Sebagai bahan tekstil
Jaring laba-laba mempunyai keistimewaan yaitu kuat dalam menahan tekanan
dan memiliki elastisitas yang baik, sehingga sangat baik untuk digunakan sebagai
bahan tekstil seperti rompi anti peluru, pakaian yang resistant terhadap robekan,
sabuk pengaman, parasut dan jaring.
b. Sebagai bahan polimer yang ramah lingkungan
c. Sebagai bahan biomedis
Jaring laba-laba bersifat anti bakteri dan bikompatibel sehingga dalam dunia
medis digunakan sebagai benang jahit pada pembedahan, bahan perekat pada
tendon, serta bahan untuk pembuat ligament buatan.
B. Parameter Lingkungan
1. Suhu
Suhu lingkungan merupakan faktor yang penting dalam distribusi organisme
karena efeknya terhadap proses-proses biologis. Sel-sel mungkin akan pecah jika
air yang dikandung membeku (pada suhu dibawah 0°C), dan protein-protein
kebanyakan organisme terdenaturasi pada suhu diatas 45°C. selain itu, hanya
sedikit organisme yang dapat mempertahankan metabolisme aktif pada suhu yang
amat rendah atau tinggi. (Campbell:2008). Menurut Foelix (1996) Suhu sekitar
15
tentu penting untuk menentukan aktivitas laba-laba. Banyak laba-laba jaring,
misalnya, berhenti membangun jaring ketika suhunya turun di bawah titik kritis.
Laba-laba dapat menyesuaikan perilaku mereka untuk menjaga tubuh mereka
suhu lebih tinggi atau lebih rendah dari suhu lingkungan. Sepanjang tahun laba-
laba memelihara suhu tubuhnya, rata-rata 4°-5°C di atas rata-rata suhu sekitar.
Menurut Kuntner (2008), suhu udara dapat mempengaruhi aktivitas laba-laba,
pada suhu > 30°C laba-laba cenderung diam di jaring atau bersembunyi di bawah
daun sekitar jaring.
2. Kelembaban
Kelembaban udara optimal bagi laba-laba berkisar antara 70-80%. Kondisi
kelembaban di lokasi penelitian termasuk dalam kisaran optimal laba-laba. Curah
hujan berpengaruh pada laba-laba dan kondisi jaring, curah hujan mempengaruhi
secara langsung faktor suhu dan kelembaban. Semakin tinggi insensitas curah
hujan maka suhu udara menjadi rendah dan kelembaban makin tinggi. (Barrion
dan Litsinge,1995).
3. Intensitas Cahaya
Menurut Campbell (2004) cahaya sangat penting bagi perkembangan hewan
yang sensitif terhadap fotoperiode yaitu panjang relatif siang dan malam hari.
Fotoperiode merupakan suatu indikator yang dapat dipercaya dibandingkan
dengan suhu, dalam memberi petunjuk mengenai kejadian musiman. Laba-laba
cenderung membuat jaring di lokasi yang terhindar dari sinar matahari langsung.
Intensitas cahaya tersebut termasuk dalam kisaran toleransi laba-laba (Foelix,
16
1996). Adapun Foelix (1996) menjelaskan bahwa intensitas cahaya optimal laba-
laba untuk membangun jaring ada kisaran 200-1200 lux.
4. Kecepatan Angin
Kecepatan angin merupakan faktor utama dalam pembentukan pola jaring.
Kecepatan angin di lokasi penelitian merupakan nilai yang ideal laba-laba untuk
membangun jaring, yaitu berkisar antara 0-0,7 m/s. Laba-laba akan lebih mudah
membuat jaring di daerah dengan kecepatan angin lambat atau berkisar 0,2-0,8
m/s. Laba-laba memanfaatkan gumpalan serta sutera (Gole dan Kumar, 2008).
5. Ketinggian
Kelimpahan Invertebrata akan menurun seiring dengan naiknya ketinggian.
Sebagai contoh, semut, laba-laba dan rayap hampir tidak ditemukan pada daerah
yang tinggi, namun sangat umum dijumpai di tempat yang rendah. Ketinggian
suatu lokasi akan berdampak pada kondisi klimak. Turunnya temperatur seiring
dengan naiknya ketinggian merupakan pembatas distribusi bagi berbagai spesies
yang hidup di pegunungan, baik hewan maupun tumbuhan. (Sutar,2012)
C. Kemerataan
Kemerataan merupakan tolak ukur untuk mengetahui kemerataan setiap
jenis dalam setiap komunitas pada suatu wilayah. Menurut Odum (1993)
menyatakan bahwa komunitas yang dibentuk oleh beberapa spesies yang
melimpah maka kemerataan spesies rendah. Odum (1993) juga menyatakan nilai
indeks kemerataan 0,75 < E < 1.00 menandakan kondisi komunitas yang stabil,
komunitas stabil menandakan ekosistem tersebut mempunyai keanekaragaman
yang tinggi, tidak ada jenis yang dominan.
17
D. Dominansi
Dominansi merupakan suatu keadaan dimana suatu jenis memiliki jumlah
dominan atau lebih banyak. Dominansi pada hewan diwilayah tertentu sering
terjadi karena beberapa hal seperti kompetisi pakan alami oleh jenis tertentu.
Menurut Djumanto (2013) kisaran nilai indeks antara 0-1, jika nilai D=0, maka
dapat diartikan tidak ada jenis biota tertentu yang dominan sehingga kondisi
lingkungan masih stabil. Jika nilai D=1 maka ada jenis biota tertentu yang
dominan di hutan akibat tekanan lingkungan. Jenis yang dominan merupakan
jenis yang mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang tertekan.
E. Potensi Lokal
Menurut Rizqi (2018) potensi lokal adalah kekayaan alam, budaya, dan
sumber daya manusia pada suatu daerah. Potensi alam disuatu daerah bergantung
pada kondisi geografis, iklim dan bentang alam daerah tersebut. Kondisi alam
yang berbeda tersebut menyebabkan perbedaan dan ciri khas potensi lokal setiap
wilayah. Potensi lokal mempunyai makna sebagai sumber/kekuatan yang dimiliki
oleh masing-masing daerah untuk dapat dimanfaatkan dalam kegiatan-kegiatan
tertentu. Adapun Aditiawati (2016) mengatakan bahwa kekhasan bentang alam,
prilaku dan budaya masyarakat setempat, dan kesejahteraan masyarakat
membentuk segitiga interaksi yang saling berkaitan. Oleh karena itu
pembangunan dan pengembangan potensi lokal suatu daerah harus
memperhatikan tiga unsur tersebut.
Adapun potensi lokal yang terdapat di hutan wana wisata persemaian yaitu
jenis-jenis hewan yang cukup melimpah seperti laba-laba yang membuat indikator
18
lingkungan bagi hutan tersebut .Potensi lokal ini berpotensi sebagai penunjang
pembelajaran Biologi di sekolah, sehingga peserta didik dapat meningkatkan
pengetahuannya mengenai daerahnya khususnya di Hutan Wana Wisata
Persemaian.
F. Perangkat Pembelajaran
Sumber belajar adalah sesuatu yang dapat mengandung pesan untuk disajikan
melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya sendiri dapat pula merupakan suatu
yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan di dalam bahan
pembelajaran yang akan diberikan. Guru menggunakan berbagai macam sumber
belajar dalam proses belajar mengajar. menurut Daryanto (2012) AECT
mendefinisikan sumber belajar berupa data, orang, dan wujud tertentu yang dapat
digunakan oleh siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara
terkombinasi sehingga akan mempermudah siswa dalam mencapai tujuan
belajarnya.
Berbagai sumber belajar tersebut juga memungkinkan perubahan pada diri
seseorang dari tidak mengerti menjadi mengerti dan tidak terampil menjadi
terampil, karena sumber-sumber belajar itulah anak didik bisa membedakan yang
baik dan yang buruk, yang terpuji dan yang tercela, perintah dan larangan, bahkan
dari sumber belajar seseorang dapat memahami sikap-sikap atau norma-norma
tertentu (Musfiqon, 2012). Proses belajar mengajar diperlukan sebuah sistem atau
perangkat guna membantu guru untuk mengatur proses pembelajaran agar lebih
terarah, adapun perangkat pembelajarannya berupa RPP (Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran). Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses
19
perangkat pembelajaran terdiri atas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
termasuk silabus di dalamnya, dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Permendikbud
No 81A (2013) menyatakan bahwa RPP yang dikembangkan secara rinci dari
suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus, RPP
mencakup: (1) data sekolah, mata pelajaran dan kelas/semester; (2) materi pokok;
(3) alokasi waktu;(4) tujuan pembelajaran, KD dan indicator pencapaian
kompetensi; (5) materi pembelajaran; (6) media, alat dan sumber; (7) langkah-
langkah kegiatan pembelajaran; dan (8) penilaian. RPP disusun dengan
memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber
belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar (Saputri, 2014).
Saputri (2014) mengatakan bahwa dengan adanya RPP kegiatan pembelajaran
telah tersusun secara sistematis telah dijelaskan secara rinci mulai dari kegiatan
awal, inti, dan penutup telah memenuhi kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.
Sehingga sumber belajar yang akan digunakan sudah cukup rancang dengan
berdasarkan pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, materi/tema yang akan
diajarkan, kreatif, inovatif dan cukup bervariatif. Jadi mulai RPP menjadikan
kegiatan proses pembelajaran lebih sistematik atau lebih terarah, sehinnga tidak
serta merta berjalan tanpa sebuah acuan. Saputri (2014) menyatakan bahwa LKS
merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dikembangkan oleh guru sebagai
fasilitator dalam kegiatan pembelajaran. LKS yang disusun dapat dirancang dan
dikembangkan sesuai dengan kondisi dan situasi kegiatan pembelajaran yang akan
20
dihadapi. LKS termasuk dalam bahan ajar cetak yang dapat digunakan sebagai
media pembelajaran karena dapat digunakan sebagai sumber belajar.
G. Keterkaitan Penelitian Pada Pembelajaran Biologi
Kajian terhadap potensi lokal setiap daerah sebenarnya memiliki tantangan
dan keragaman lingkungan sehingga memerlukan suatu analisis serta kajian yang
tepat. Pembelajaran biologi sebagai salah satu bagian dari pendidikan memiliki
potensi yang besar dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
Salah satu pemanfataan lingkungan adalah dengan mengkaji potensi lokal yang
ada di lingkungan sekolah. (Risya,2016)
Potensi lokal di hutan Wana Wisata Persemaian sangat berlimpah salah
satunya adalah laba-laba, dimana laba-laba merupakan predator alami di
lingkungan sehingga perlu dilakukan penelitian ini agar dapat dijadikan sebagai
salah satu sumber belajar bagi peserta didik maupun masyarakat yang masih
belum mengetahui jenis-jenis laba-laba berdasarkan nama ilmiah ataupun lokal.
Penelitian mengenai analisis kemerataan dan dominansi laba-laba memiliki
keterkaitan dengan pembelajaran biologi. Hasil penelitian mengenai analisis
kemerataan dan dominansi dapat dijadikan sebagai potensi sumber belajar karena
laba-laba termasuk kedalam kingdom animalia yang dimana kingdom animalia
masuk kedalam pembelajaran biologi. Filum arthropoda kelas arachnida termasuk
dalam kingdom animalia yang harus dikuasai siswa kelas X SMA. Hal tersebut
sudah tertera pada silabus kurikulum 2013. Pada silabus kurikulum 2013
Arthopoda kelas arachnida terdapat pada kompetensi dasar (KD) 3.8 yang dapat
meningkatkan pemahaman siswa secara kognitif yaitu menerapkan prinsip
21
klasifikasi untuk menggolongkan hewan kedalam filum berdasarkan pengamatan
anatomi dan morfologi serta mengaitkan peranannya dalam kehidupan dan KD
4.8 yaitu menyajikan data tentang perbandingan kompleksitas jaringan penyusun
tubuh hewan dan perannya pada berbagai aspek kehidupan dalam bentuk laporan
tertulis yang berguna memperdalam materi pelajaran secara afektif dan
psikomotor siswa.
H. Penelitian Yang Relevan
1. Nurlaela. 2017. Keragaman Jenis Laba-Laba (Artropoda : Araneae) Di
Kelurahan Samata Kabupaten Gowa. Berdasarkan hasil penelitian yang di
lakukan diperoleh 11 jenis laba-laba yaitu Argiope argentata, Philodromus
sp, Steatoda bipunctata, Wufila saltabundus, Pholcus phalangoides, Araneus
diadematus, Cryptachaea porteri, Nephila clavipes, Nephila inaurata,
Parasteatoda tepidarium, dan Enoplognatha ovata. Jenis laba-laba yang
paling banyak ditemukan adalah Pholcus phalangoides dan model jaring yang
paling banyak ditemukan adalah heksagonal.
2. Koneri, Roni dan Saroyo. 2015. Struktur Komunitas Laba-Laba (Arachnida:
Araneae) Di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara.
Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan sebanyak 15 famili yang terdiri
atas 71 genus, 129 morfospesies dan 1267 individu. Famili yang banyak
ditemukan jumlah individunya adalah Tetragnathidae, sedangkan yang paling
sedikit, yaitu Ctenizidae. Salticidae merupakan famili yang paling banyak
ditemukan spesiesnya (30 spesies), sedangkan yang paling sedikit
Agelenidae, Ctenidae, dan Ctenizidae dengan masing-masing satu spesies.
22
Kelimpahan, kekayaan, keanekaragaman, dan kemerataan spesies tertinggi
terdapat di kebun, sedangkan yang terendah di hutan sekunder. Indeks
kesamaan komunitas laba-laba terbesar terdapat antara hutan primer dan
hutan sekunder.
3. Sutar. 2012. Keanekaragaman laba-laba ( arachnida ) Pada ketinggian
tempat yang berbeda Di taman nasional gunung merbabu Kabupaten
boyolali. Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan keanekaragaman
paling tinggi pada stasiun A (1500 m dpl) yaitu ada 9 jenis laba-laba
(Arachnida) dengan jumlah total 2334 individu. Laba-laba paling banyak
ditemukan dari spesies Lycosa sp. yaitu 2235 individu, sedangkan jumlah
laba-laba terkecil yaitu Nephila pilipes yaitu 4 individu. Indeks keragaman
paling tinggi terdapat di stasiun A (1500 m dpl) sebesar 0,0826, sedangkan
indeks keragaman paling kecil terdapat di stasiun C (2400 m dpl) dengan nilai
keragaman 0. Indeks dominasi paling tinggi terdapat di stasiun C (2400 m
dpl) sebesar 1, sedangkan indeks dominasi paling kecil terdapat di stasiun A
(1500 m dpl) sebesar 0,9173. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan
bahwa keragaman laba-laba (Arachnida) di Kawasan Taman Nasional
Gunung Merbabu termasuk rendah karena indeks diversitas (Ds) lebih kecil
dari 0,5 dan semakin naiknya ketinggian suatu tempat jumlah populasi
labalaba (Arachnida) semakin berkurang.
4. Risya. 2016. Analisis potensi lokal untuk mengembangkan bahan ajar
Biologi di sma negeri 2 wonosari. Potensi lokal di lingkungan SMA Negeri 2
Wonosari sangat mendukung pembelajaran biologi khususnya materi
23
ekosistem. Melalui potensi lokal tersebut peserta didik dapat diajak untuk
melakukan pengamatan ekosistem di lingkungan sekolah dan luar sekolah,
mengidentifikasi komponen ekosistem, pola tanam masyarakat dan jenis
tanamannya seperti tumpang sari. Peserta didik juga dapat mempelajari cara
pemulihan ketidakseimbangan lingkungan melalui pemanfaatan komposter
yang ada dilingkungan sekolah.
24
I. Kerangka Berpikir
Skema kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dilihat dalam
gambar sebagai berikut :
Laba-laba Jaring di Hutan Wana Wisata
Persemaian
Masalah
Masyarakat belum Kurangnya sumber belajar Belum adanya
mengetahui nama yang bersifat kontekstual penelitian mengenai
setiap jenis-jenis sehingga menyebabkan analisis kemerataan dan
Laba-laba Jaring di kurangnya pemahaman s dominansi Laba-laba
Hutan Wana Wisata siswa mengenai potensi Jaring di Hutan Wana
Persemaian lokal yang ada di hutan Wisata Persemaian
wana wisata persemaian
Inovasi
Penelitian analisis kemerataan dan dominansi
udang di perairan sungai sembakung
Kemerataan Dominansi
Tersedianya data dan informasi mengenai
jenis Laba-laba Jaring di Hutan Wana Wisata
Persemaian
Potensi implementasi pada
pembelajaran Biologi kelas X
SMA
Gambar 2.4 Skema Kerangka Berfikir