0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
98 tayangan18 halaman

Laba-Laba Terkecil di Dunia

Bab ini membahas tinjauan pustaka tentang laba-laba, meliputi definisi, morfologi, habitat, jaring, dan manfaat jaring laba-laba. Laba-laba memiliki 8 kaki dan mata tunggal, beradaptasi di berbagai habitat, membuat jaring untuk menangkap mangsa menggunakan benang sutra yang sangat kuat.

Diunggah oleh

Anifah Toding
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
98 tayangan18 halaman

Laba-Laba Terkecil di Dunia

Bab ini membahas tinjauan pustaka tentang laba-laba, meliputi definisi, morfologi, habitat, jaring, dan manfaat jaring laba-laba. Laba-laba memiliki 8 kaki dan mata tunggal, beradaptasi di berbagai habitat, membuat jaring untuk menangkap mangsa menggunakan benang sutra yang sangat kuat.

Diunggah oleh

Anifah Toding
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJUAUAN PUSTAKA

A. Laba-Laba (Arachnida)

1. Definisi Laba-laba

Gambar 2.1 Laba-laba Jaring. Sumber (Rainer F. Foelix, 1996)

Laba-laba merupakan kelompok organisme yang beragam terdiri atas 42.473

spesies. Laba-laba ditemukan di seluruh dunia dan mendiami berbagai macam

lingkungan ekologi kecuali udara dan laut. Kebanyakan berukuran kecil (2-10

mm) sampai besar (28 cm), contoh laba-laba trantula (Therophosa Blandi).

Umumnya laba-laba menangkap mangsanya untuk dimakan dan mangsa

utamanya adalah berbagai macam spesies hewan meliputi serangga dan vertebrata

kecil. Laba-laba bermanfaat bagi manusia karena dapat digunakan sebagai

pengendali serangga alam. Banyak spesies tarantula yang diketahui berbahaya

bagi manusia atau hewan menimbulkan penyakit contohnya laba-laba Hobo

(Tegenaria Domestica) ( Platnick,2011).

7
8

Menurut Nurlaela (2017) ada sekitar 40.000 spesies laba-laba yang telah

ditemukan, dan digolongkan ke dalam 111 suku. Akan tetapi mengingat bahwa

hewan ini begitu beragam, banyak di antaranya yang bertubuh amat kecil,

seringkali tersembunyi di alam, dan bahkan banyak spesimen di museum yang

belum terdeskripsi dengan baik, diyakini bahwa kemungkinan ragam jenis laba-

laba seluruhnya dapat mencapai 200.000 spesies. Ordo laba-laba terbagi atas tiga

subordo, yaitu:

a) Mesothelae, yang merupakan laba-laba primitif tak berbisa, dengan ruas-ruas

tubuh yang nampak jelas; memperlihatkan hubungan kekerabatan yang lebih

dekat dengan leluhurnya yakni artropoda beruas-ruas.

b) Mygalomorphae atau Orthognatha, adalah kelompok laba-laba yang

membuat liang persembunyian, dan juga yang membuat lubang jebakan di

tanah. Banyak jenisnya yang bertubuh besar, seperti tarantula.

c) Araneomorphae adalah kelompok laba-laba ‘modern’. Kebanyakan laba-laba

yang kita temui termasuk ke dalam subordo ini, mengingat bahwa anggotanya

terdiri dari 95 suku dan mencakup kurang lebih 94% dari jumlah spesies laba-

laba. Taring dari kelompok ini mengarah agak miring ke depan (dan bukan

tegak seperti pada kelompok tarantula) dan digerakkan berlawanan arah

seperti capit dalam menggigit mangsanya.

Menurut Horn (1988) Laba-laba adalah agen pengendalian hayati yang

potensial terhadap hama tanaman. Banyak jenis laba-laba yang telah dilaporkan

memangsa beragam jenis hama pada tanaman pertanian. Pada tanaman kacang-
9

kacangan ditemukan beragam jenis laba-laba yang potensial untuk dimanfaatkan

secara optimal untuk menekan perkembangan populasi hama.

Pengendalian secara alamiah atau biologi terhadap hama dan penyakit

tanaman merupakan salah satu cara untuk mengurangi resiko terhadap kesehatan

dan kerusakan lingkungan. Laba-laba (Araneae) adalah salah satu agen biologi

yang sangat potensial dalam pengendalian hama serangga pada ekosistem

pertanian. Kepadatan populasi dan kelimpahan spesies komunitas laba-laba

(biodiversity) pada ekosistem alamiah dan termasuk pertanian adalah tinggi

(Platnick,2011).

Hal ini didukung oleh pendapat Wissinger (1997) yang mengatakan bahwa

laba- laba dapat membantu pengaturan kepadatan populasi serangga hama.

Sebagai predator generalis, laba-laba dianggap lebih efisien daripada predator

spesialis untuk menekan hama pada habitat yang sering mengalami gangguan

seperti praktek budidaya tanaman pertanian.

2. Morfologi

Gambar 2.2 Morfologi Laba-laba. Sumber (Herbert W. Levi, 1990)


10

Laba-laba memiliki 8 kaki sedangkan serangga hanya memiliki 6. Laba-laba

memiliki mata tunggal dengan lensa dan serangga memiliki mata majemuk. Laba-

laba tidak memiliki antena. Laba-laba memiliki kombinasi kepala dan dada yang

disebut cephalothorax, dan perut sedangkan serangga memiliki bentuk tubuh yang

dibagi menjadi tiga bagian yaitu ; tubuh, kepala, dada, dan perut. (Barrion dan

Litsinger, 1995).

Karakter taksonomi yang umum untuk mengidentifikasi laba-laba yaitu

bentuk epyginum, spineret, abdomen, warna karapas, dan ukuran tubuh. Struktur

tubuh laba-laba terdiri dari dua bagian utama yaitu prosoma sepalotorax dengan

opisthosoma, prosoma adalah bagian depan badan tempat melengketnya enam

pasang yaitu sepasang selisera untuk menggigit. Sepasang pedipalpus untuk

menerkam mangsa dan empat pasang kaki jalan. Opistosoma atau abdomen

merupakan organ untuk makan, pernafasan, peredaran darah, ekskresi, reproduksi

dan produksi sutra, tidak seperti prosoma yang keras abdomen cenderung lembut

dan menyerupai kantong. Spineret atau tempat menghasilkan terletak pada bagian

kosteries abdomen (Barrion dan Litsinger, 1995).

Laba-laba memiliki racun yang tersimpan dalam kelenjar racun yang terletak

pada bagian ujung serisera yang disuntikkan pada mangsa. Racun laba-laba bisa

mengandung berbagai substansi utamanya campuran dan dari sejumlah

polipeptida. Nirotoxi dengan berat molekul 5000-13.000, Selain itu racun laba-

laba mengandung asam amino dan amino biogenik juga enzim pritiolitik

komposisi racun sangat spesifik dan tergantung pada berbagai faktor yaitu jenis

kelamin sumber makanan, habitat alami, iklim dan sebagainya. (Nurlaela,2017)


11

Spesies berukuran besar contohnya Atrax Spp, racunnya dapat berperan

sebagai pertahanan terhadap serangga mamalia. Kebanyakan laba-laba dikatakan

sebagai penyebab penyakit, beberapa spesies dan juga berbahaya saat menggigit

manusia. Laba-laba merupakan organisme yang membuat jaring dan tidak sama

dengan kelompok hewan lain. Jaring hanya diproduksi dalam spineres dibagian

ujung abdomen. Laba-laba sangat peka terhadap kekeringan, ada spesies laba-laba

yang tahan terhadap kekeringan dan kekurangan makanan contohnya Loxos Celes

yang bisa bertahan lebih dari 1 tahun tanpa makan atau air penggunaan insektisida

dapat menurunkan ketersediaan massa akan tetapi hal ini tidak menyebabkan

kematian terhadap laba-laba. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa laba-laba

dapat memakan serangga yang mati karena teretroid tanpa terpengaruh oleh

kandungannya. Pedipalpus pada laba-laba jantan dewasa merupakan organ

kopulasi. (Nurlaela,2017)

Ukuran laba-laba jantan umumnya lebih kecil dibanding betina. Laba-laba

Black Widow jantan misalnya memiliki berat tubuh 1-2 % dari betinanya. Laba-

laba yang memiliki racun berbahaya bagi manusia adalah Peneutria Atrax.,

Lacxos. Laba-laba dapat digunakan untuk mengendalikan serangga dalam

program hama terpadu. (Nurlaela,2017)

3. Habitat

Menurut Nurlaela (2017) laba-laba merupakan kelompok Arthropoda yang

mampu beradaptasi di berbagai habitat namun sangat sensitif terhadap gangguan

yang terjadi dilingkungannya. Laba-laba menyukai habitat yang terlindung dari

suhu ekstrim, kelembaban tinggi, intensitas cahaya rendah, kecepatan angin


12

rendah, dan menghindari areal perkebunan yang menggunakan pestisida.

Sedangkan menurut Saroyo (2017) kehadiran laba-laba pada suatu ekosistem

sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti suhu, kelembaban, angin, dan

intensitas cahaya. Faktor biologis, seperti tipe vegetasi, ketersediaan makanan,

pesaing, dan musuh-musuhnya merupakan faktor-faktor yang membatasi

kehadiran laba-laba pada suatu ekosistem. Menurut Kartohadjono (2011) dalam

penelitiannya menyatakan bahwa keberadaan jenis laba-laba pada beberapa

ekosistem disebabkan karena pada masing-masing lokasi merupakan tempat

yang baik atau mampu beradaptasi dengan lingkungannya bagi laba-laba untuk

meneruskan perkembangan hidupnya karena banyak menyediakan sumber

makanan, dan tempat untuk berlindung, kawin dan bertelur. Disamping itu faktor

suhu dan kelembapan pasti berbeda-beda disetiap lokasi sehingga mempengaruhi

jenis laba-laba yang akan hidup pada ekosistem tersebut.

4. Jaring Laba-Laba

Gambar 2.3 Jaring Laba-laba. Sumber (Rainer F. Foelix, 1996)


13

Sebuah adaptasi unik pada kebanyakan laba-laba adalah kemampuan untuk

menangkap serangga dengan membangun jaring-jaring dari sutra. Sutra dipintal

oleh organ-organ yang disebut spineret menjadi serat kemudia memadat. Setiap

laba-laba membuat jaring yang khas berdasarkan spesiesnya. (Campbell,2004)

Menurut Letoumeu (2012) bentuk jaring laba-laba dapat dibedakan

berdasarkan cara laba-laba menenunnya, yaitu :

a. Jaring bola spiral, yang dihasilkan oleh laba-laba family Araneidae,

Tetragnathidae dan Uloboridae.

b. Sarang laba-laba, berhubungan dengan famili Theridiidae.

c. Corong, dibagi menjadi primitive dan modern.

d. Pipa, Lembaran, dan Kubah.

5. Manfaat Jaring Laba-laba

Jaring laba-laba memiliki banyak keistimewaan yang membuat para ilmuwan

meneliti dan mencari inovasi baru yang berkenaan dengan kesejahteraan hidup

manusia. Ilmuwan menggunakan benang laba-laba sebagai model ketika membuat

bahan yang dinamakan Kevlar. Peluru berkecepatan seratus lima puluh meter per

detik dapat merobek sebagian besar benda yang dikenainya, kecuali barang yang

terbuat dari Kevlar. Tetapi, benang laba-laba sepuluh kali lebih kuat daripada

kevlar. Benang ini juga lebih tipis dari rambut manusia, lebih ringan dari kapas,

tapi lebih kuat dari baja, dan diakui sebagai bahan terkuat di dunia. (Hurd dkk ,

1992). Selain itu menurut Campbell (2004) laba-laba menggunakan jaring-jaring

tersebut untuk keperluan lain seperti : sebagai pegangan untuk melarikan diri
14

dengan cepat, sebagai pelindung telur dan bahkan sebagai bungkus hadiah berupa

makanan yang ditawarkan oleh jantan kepada betina selama masa percumbuhan.

Menurut Marwoto (1999) pemanfaatan jaring laba-laba dibagi menjadi tiga

kelompok yakni ;

a. Sebagai bahan tekstil

Jaring laba-laba mempunyai keistimewaan yaitu kuat dalam menahan tekanan

dan memiliki elastisitas yang baik, sehingga sangat baik untuk digunakan sebagai

bahan tekstil seperti rompi anti peluru, pakaian yang resistant terhadap robekan,

sabuk pengaman, parasut dan jaring.

b. Sebagai bahan polimer yang ramah lingkungan

c. Sebagai bahan biomedis

Jaring laba-laba bersifat anti bakteri dan bikompatibel sehingga dalam dunia

medis digunakan sebagai benang jahit pada pembedahan, bahan perekat pada

tendon, serta bahan untuk pembuat ligament buatan.

B. Parameter Lingkungan

1. Suhu

Suhu lingkungan merupakan faktor yang penting dalam distribusi organisme

karena efeknya terhadap proses-proses biologis. Sel-sel mungkin akan pecah jika

air yang dikandung membeku (pada suhu dibawah 0°C), dan protein-protein

kebanyakan organisme terdenaturasi pada suhu diatas 45°C. selain itu, hanya

sedikit organisme yang dapat mempertahankan metabolisme aktif pada suhu yang

amat rendah atau tinggi. (Campbell:2008). Menurut Foelix (1996) Suhu sekitar
15

tentu penting untuk menentukan aktivitas laba-laba. Banyak laba-laba jaring,

misalnya, berhenti membangun jaring ketika suhunya turun di bawah titik kritis.

Laba-laba dapat menyesuaikan perilaku mereka untuk menjaga tubuh mereka

suhu lebih tinggi atau lebih rendah dari suhu lingkungan. Sepanjang tahun laba-

laba memelihara suhu tubuhnya, rata-rata 4°-5°C di atas rata-rata suhu sekitar.

Menurut Kuntner (2008), suhu udara dapat mempengaruhi aktivitas laba-laba,

pada suhu > 30°C laba-laba cenderung diam di jaring atau bersembunyi di bawah

daun sekitar jaring.

2. Kelembaban

Kelembaban udara optimal bagi laba-laba berkisar antara 70-80%. Kondisi

kelembaban di lokasi penelitian termasuk dalam kisaran optimal laba-laba. Curah

hujan berpengaruh pada laba-laba dan kondisi jaring, curah hujan mempengaruhi

secara langsung faktor suhu dan kelembaban. Semakin tinggi insensitas curah

hujan maka suhu udara menjadi rendah dan kelembaban makin tinggi. (Barrion

dan Litsinge,1995).

3. Intensitas Cahaya

Menurut Campbell (2004) cahaya sangat penting bagi perkembangan hewan

yang sensitif terhadap fotoperiode yaitu panjang relatif siang dan malam hari.

Fotoperiode merupakan suatu indikator yang dapat dipercaya dibandingkan

dengan suhu, dalam memberi petunjuk mengenai kejadian musiman. Laba-laba

cenderung membuat jaring di lokasi yang terhindar dari sinar matahari langsung.

Intensitas cahaya tersebut termasuk dalam kisaran toleransi laba-laba (Foelix,


16

1996). Adapun Foelix (1996) menjelaskan bahwa intensitas cahaya optimal laba-

laba untuk membangun jaring ada kisaran 200-1200 lux.

4. Kecepatan Angin

Kecepatan angin merupakan faktor utama dalam pembentukan pola jaring.

Kecepatan angin di lokasi penelitian merupakan nilai yang ideal laba-laba untuk

membangun jaring, yaitu berkisar antara 0-0,7 m/s. Laba-laba akan lebih mudah

membuat jaring di daerah dengan kecepatan angin lambat atau berkisar 0,2-0,8

m/s. Laba-laba memanfaatkan gumpalan serta sutera (Gole dan Kumar, 2008).

5. Ketinggian

Kelimpahan Invertebrata akan menurun seiring dengan naiknya ketinggian.

Sebagai contoh, semut, laba-laba dan rayap hampir tidak ditemukan pada daerah

yang tinggi, namun sangat umum dijumpai di tempat yang rendah. Ketinggian

suatu lokasi akan berdampak pada kondisi klimak. Turunnya temperatur seiring

dengan naiknya ketinggian merupakan pembatas distribusi bagi berbagai spesies

yang hidup di pegunungan, baik hewan maupun tumbuhan. (Sutar,2012)

C. Kemerataan

Kemerataan merupakan tolak ukur untuk mengetahui kemerataan setiap

jenis dalam setiap komunitas pada suatu wilayah. Menurut Odum (1993)

menyatakan bahwa komunitas yang dibentuk oleh beberapa spesies yang

melimpah maka kemerataan spesies rendah. Odum (1993) juga menyatakan nilai

indeks kemerataan 0,75 < E < 1.00 menandakan kondisi komunitas yang stabil,

komunitas stabil menandakan ekosistem tersebut mempunyai keanekaragaman

yang tinggi, tidak ada jenis yang dominan.


17

D. Dominansi

Dominansi merupakan suatu keadaan dimana suatu jenis memiliki jumlah

dominan atau lebih banyak. Dominansi pada hewan diwilayah tertentu sering

terjadi karena beberapa hal seperti kompetisi pakan alami oleh jenis tertentu.

Menurut Djumanto (2013) kisaran nilai indeks antara 0-1, jika nilai D=0, maka

dapat diartikan tidak ada jenis biota tertentu yang dominan sehingga kondisi

lingkungan masih stabil. Jika nilai D=1 maka ada jenis biota tertentu yang

dominan di hutan akibat tekanan lingkungan. Jenis yang dominan merupakan

jenis yang mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang tertekan.

E. Potensi Lokal

Menurut Rizqi (2018) potensi lokal adalah kekayaan alam, budaya, dan

sumber daya manusia pada suatu daerah. Potensi alam disuatu daerah bergantung

pada kondisi geografis, iklim dan bentang alam daerah tersebut. Kondisi alam

yang berbeda tersebut menyebabkan perbedaan dan ciri khas potensi lokal setiap

wilayah. Potensi lokal mempunyai makna sebagai sumber/kekuatan yang dimiliki

oleh masing-masing daerah untuk dapat dimanfaatkan dalam kegiatan-kegiatan

tertentu. Adapun Aditiawati (2016) mengatakan bahwa kekhasan bentang alam,

prilaku dan budaya masyarakat setempat, dan kesejahteraan masyarakat

membentuk segitiga interaksi yang saling berkaitan. Oleh karena itu

pembangunan dan pengembangan potensi lokal suatu daerah harus

memperhatikan tiga unsur tersebut.

Adapun potensi lokal yang terdapat di hutan wana wisata persemaian yaitu

jenis-jenis hewan yang cukup melimpah seperti laba-laba yang membuat indikator
18

lingkungan bagi hutan tersebut .Potensi lokal ini berpotensi sebagai penunjang

pembelajaran Biologi di sekolah, sehingga peserta didik dapat meningkatkan

pengetahuannya mengenai daerahnya khususnya di Hutan Wana Wisata

Persemaian.

F. Perangkat Pembelajaran

Sumber belajar adalah sesuatu yang dapat mengandung pesan untuk disajikan

melalui penggunaan alat ataupun oleh dirinya sendiri dapat pula merupakan suatu

yang digunakan untuk menyampaikan pesan yang tersimpan di dalam bahan

pembelajaran yang akan diberikan. Guru menggunakan berbagai macam sumber

belajar dalam proses belajar mengajar. menurut Daryanto (2012) AECT

mendefinisikan sumber belajar berupa data, orang, dan wujud tertentu yang dapat

digunakan oleh siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara

terkombinasi sehingga akan mempermudah siswa dalam mencapai tujuan

belajarnya.

Berbagai sumber belajar tersebut juga memungkinkan perubahan pada diri

seseorang dari tidak mengerti menjadi mengerti dan tidak terampil menjadi

terampil, karena sumber-sumber belajar itulah anak didik bisa membedakan yang

baik dan yang buruk, yang terpuji dan yang tercela, perintah dan larangan, bahkan

dari sumber belajar seseorang dapat memahami sikap-sikap atau norma-norma

tertentu (Musfiqon, 2012). Proses belajar mengajar diperlukan sebuah sistem atau

perangkat guna membantu guru untuk mengatur proses pembelajaran agar lebih

terarah, adapun perangkat pembelajarannya berupa RPP (Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran). Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses


19

perangkat pembelajaran terdiri atas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

termasuk silabus di dalamnya, dan Lembar Kegiatan Siswa (LKS). Permendikbud

No 81A (2013) menyatakan bahwa RPP yang dikembangkan secara rinci dari

suatu materi pokok atau tema tertentu yang mengacu pada silabus, RPP

mencakup: (1) data sekolah, mata pelajaran dan kelas/semester; (2) materi pokok;

(3) alokasi waktu;(4) tujuan pembelajaran, KD dan indicator pencapaian

kompetensi; (5) materi pembelajaran; (6) media, alat dan sumber; (7) langkah-

langkah kegiatan pembelajaran; dan (8) penilaian. RPP disusun dengan

memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran,

kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber

belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar (Saputri, 2014).

Saputri (2014) mengatakan bahwa dengan adanya RPP kegiatan pembelajaran

telah tersusun secara sistematis telah dijelaskan secara rinci mulai dari kegiatan

awal, inti, dan penutup telah memenuhi kesesuaian dengan tujuan pembelajaran.

Sehingga sumber belajar yang akan digunakan sudah cukup rancang dengan

berdasarkan pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, materi/tema yang akan

diajarkan, kreatif, inovatif dan cukup bervariatif. Jadi mulai RPP menjadikan

kegiatan proses pembelajaran lebih sistematik atau lebih terarah, sehinnga tidak

serta merta berjalan tanpa sebuah acuan. Saputri (2014) menyatakan bahwa LKS

merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dikembangkan oleh guru sebagai

fasilitator dalam kegiatan pembelajaran. LKS yang disusun dapat dirancang dan

dikembangkan sesuai dengan kondisi dan situasi kegiatan pembelajaran yang akan
20

dihadapi. LKS termasuk dalam bahan ajar cetak yang dapat digunakan sebagai

media pembelajaran karena dapat digunakan sebagai sumber belajar.

G. Keterkaitan Penelitian Pada Pembelajaran Biologi

Kajian terhadap potensi lokal setiap daerah sebenarnya memiliki tantangan

dan keragaman lingkungan sehingga memerlukan suatu analisis serta kajian yang

tepat. Pembelajaran biologi sebagai salah satu bagian dari pendidikan memiliki

potensi yang besar dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.

Salah satu pemanfataan lingkungan adalah dengan mengkaji potensi lokal yang

ada di lingkungan sekolah. (Risya,2016)

Potensi lokal di hutan Wana Wisata Persemaian sangat berlimpah salah

satunya adalah laba-laba, dimana laba-laba merupakan predator alami di

lingkungan sehingga perlu dilakukan penelitian ini agar dapat dijadikan sebagai

salah satu sumber belajar bagi peserta didik maupun masyarakat yang masih

belum mengetahui jenis-jenis laba-laba berdasarkan nama ilmiah ataupun lokal.

Penelitian mengenai analisis kemerataan dan dominansi laba-laba memiliki

keterkaitan dengan pembelajaran biologi. Hasil penelitian mengenai analisis

kemerataan dan dominansi dapat dijadikan sebagai potensi sumber belajar karena

laba-laba termasuk kedalam kingdom animalia yang dimana kingdom animalia

masuk kedalam pembelajaran biologi. Filum arthropoda kelas arachnida termasuk

dalam kingdom animalia yang harus dikuasai siswa kelas X SMA. Hal tersebut

sudah tertera pada silabus kurikulum 2013. Pada silabus kurikulum 2013

Arthopoda kelas arachnida terdapat pada kompetensi dasar (KD) 3.8 yang dapat

meningkatkan pemahaman siswa secara kognitif yaitu menerapkan prinsip


21

klasifikasi untuk menggolongkan hewan kedalam filum berdasarkan pengamatan

anatomi dan morfologi serta mengaitkan peranannya dalam kehidupan dan KD

4.8 yaitu menyajikan data tentang perbandingan kompleksitas jaringan penyusun

tubuh hewan dan perannya pada berbagai aspek kehidupan dalam bentuk laporan

tertulis yang berguna memperdalam materi pelajaran secara afektif dan

psikomotor siswa.

H. Penelitian Yang Relevan

1. Nurlaela. 2017. Keragaman Jenis Laba-Laba (Artropoda : Araneae) Di

Kelurahan Samata Kabupaten Gowa. Berdasarkan hasil penelitian yang di

lakukan diperoleh 11 jenis laba-laba yaitu Argiope argentata, Philodromus

sp, Steatoda bipunctata, Wufila saltabundus, Pholcus phalangoides, Araneus

diadematus, Cryptachaea porteri, Nephila clavipes, Nephila inaurata,

Parasteatoda tepidarium, dan Enoplognatha ovata. Jenis laba-laba yang

paling banyak ditemukan adalah Pholcus phalangoides dan model jaring yang

paling banyak ditemukan adalah heksagonal.

2. Koneri, Roni dan Saroyo. 2015. Struktur Komunitas Laba-Laba (Arachnida:

Araneae) Di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Sulawesi Utara.

Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan sebanyak 15 famili yang terdiri

atas 71 genus, 129 morfospesies dan 1267 individu. Famili yang banyak

ditemukan jumlah individunya adalah Tetragnathidae, sedangkan yang paling

sedikit, yaitu Ctenizidae. Salticidae merupakan famili yang paling banyak

ditemukan spesiesnya (30 spesies), sedangkan yang paling sedikit

Agelenidae, Ctenidae, dan Ctenizidae dengan masing-masing satu spesies.


22

Kelimpahan, kekayaan, keanekaragaman, dan kemerataan spesies tertinggi

terdapat di kebun, sedangkan yang terendah di hutan sekunder. Indeks

kesamaan komunitas laba-laba terbesar terdapat antara hutan primer dan

hutan sekunder.

3. Sutar. 2012. Keanekaragaman laba-laba ( arachnida ) Pada ketinggian

tempat yang berbeda Di taman nasional gunung merbabu Kabupaten

boyolali. Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan keanekaragaman

paling tinggi pada stasiun A (1500 m dpl) yaitu ada 9 jenis laba-laba

(Arachnida) dengan jumlah total 2334 individu. Laba-laba paling banyak

ditemukan dari spesies Lycosa sp. yaitu 2235 individu, sedangkan jumlah

laba-laba terkecil yaitu Nephila pilipes yaitu 4 individu. Indeks keragaman

paling tinggi terdapat di stasiun A (1500 m dpl) sebesar 0,0826, sedangkan

indeks keragaman paling kecil terdapat di stasiun C (2400 m dpl) dengan nilai

keragaman 0. Indeks dominasi paling tinggi terdapat di stasiun C (2400 m

dpl) sebesar 1, sedangkan indeks dominasi paling kecil terdapat di stasiun A

(1500 m dpl) sebesar 0,9173. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan

bahwa keragaman laba-laba (Arachnida) di Kawasan Taman Nasional

Gunung Merbabu termasuk rendah karena indeks diversitas (Ds) lebih kecil

dari 0,5 dan semakin naiknya ketinggian suatu tempat jumlah populasi

labalaba (Arachnida) semakin berkurang.

4. Risya. 2016. Analisis potensi lokal untuk mengembangkan bahan ajar

Biologi di sma negeri 2 wonosari. Potensi lokal di lingkungan SMA Negeri 2

Wonosari sangat mendukung pembelajaran biologi khususnya materi


23

ekosistem. Melalui potensi lokal tersebut peserta didik dapat diajak untuk

melakukan pengamatan ekosistem di lingkungan sekolah dan luar sekolah,

mengidentifikasi komponen ekosistem, pola tanam masyarakat dan jenis

tanamannya seperti tumpang sari. Peserta didik juga dapat mempelajari cara

pemulihan ketidakseimbangan lingkungan melalui pemanfaatan komposter

yang ada dilingkungan sekolah.


24

I. Kerangka Berpikir

Skema kerangka berpikir dalam penelitian ini dapat dilihat dalam

gambar sebagai berikut :

Laba-laba Jaring di Hutan Wana Wisata


Persemaian

Masalah

Masyarakat belum Kurangnya sumber belajar Belum adanya


mengetahui nama yang bersifat kontekstual penelitian mengenai
setiap jenis-jenis sehingga menyebabkan analisis kemerataan dan
Laba-laba Jaring di kurangnya pemahaman s dominansi Laba-laba
Hutan Wana Wisata siswa mengenai potensi Jaring di Hutan Wana
Persemaian lokal yang ada di hutan Wisata Persemaian
wana wisata persemaian

Inovasi

Penelitian analisis kemerataan dan dominansi


udang di perairan sungai sembakung

Kemerataan Dominansi

Tersedianya data dan informasi mengenai


jenis Laba-laba Jaring di Hutan Wana Wisata
Persemaian

Potensi implementasi pada


pembelajaran Biologi kelas X
SMA

Gambar 2.4 Skema Kerangka Berfikir

Anda mungkin juga menyukai