0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
187 tayangan35 halaman

Metode Kontrasepsi dan Keluarga Berencana

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai kontrasepsi. Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan dengan cara mencegah sperma bertemu telur atau mencegah telur yang dibuahi untuk berimplantasi. Ada berbagai metode kontrasepsi seperti metode alami, kondom, pil, suntikan, dan alat kontrasepsi dalam rahim. Setiap metode memiliki cara kerja dan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda.

Diunggah oleh

Fetry Husnayaty
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
187 tayangan35 halaman

Metode Kontrasepsi dan Keluarga Berencana

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai kontrasepsi. Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan dengan cara mencegah sperma bertemu telur atau mencegah telur yang dibuahi untuk berimplantasi. Ada berbagai metode kontrasepsi seperti metode alami, kondom, pil, suntikan, dan alat kontrasepsi dalam rahim. Setiap metode memiliki cara kerja dan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda.

Diunggah oleh

Fetry Husnayaty
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Kontrasepsi

1. Pengertian Kontrasepsi

a. Keluarga berencana merupakan usaha suami isteri untuk mengukur jumlah dan jarak

anak yang diinginkan. Usaha yang dimaksud termasuk kontrasepsi atau pencegahan

kehamilan dan perencanaan keluarga. Prinsip dasar metode kontrasepsi adalah

mencegah sperma laki-laki mecapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau

mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplanasi ( melekat ) dan berkembang

didalam rahim. (Purwoastuti & Walyani, 2015:182).

b. Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang paling

dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Peningkatan

dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk

menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat

kehamilan yang dialami oleh wanita. Banyak wanita yang harus menentukan pilihan

kontrasepsi yang sulit, tidak hanya terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi

juga karena metode-metode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan

dengan kebijakan nasional KB, kesehatan individual dan seksualis wanita atau biaya

untuk memperoleh kontasepsi (Tresnawati, 2013:120).

2. Tujuan KB

a. Tujuan umum

Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan Normal

Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) yang menjadi dasar terwujudnya

masyarakat yang sejahtera dan mengendalikan kelahiran sekaligus menjamin

terkendalinya pertambahan penduduk.

9
b. Tujuan khusus

Meningkatkan pengguanaan alat kontrasepsi dan kesehatan keluarga

berencana dengan cara pengaturan jarak kelahiran. (Purwoastuti & Walyani

2015:182 ).

3. Syarat-syarat Kontrasepsi

a. Aman pemakaiannya dan dapat dipercaya

b. Lama kerja dapat diatur menurut keinginan

c. Efek samping yang merugikan tidak ada atau minimal

d. Harganya dapat dijangkau masyarakat

e. Cara penggunaannya sederhana

f. Tidak mengganggu hubungan suami istri

g. Tidak memerlukan kontrol yang ketat selama pemakaian

(Firdayanti, 2012:42).

4. Macam macam alat kontrasepsi.

a. Metode Amenorea Laktasi

Metode amenorea laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan

pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa

tambahan makanan atau minuman apapun lainnya. MAL dapat dipakai sebagai

kontrasepsi bila menyusui secara penuh (full breast feeding); lebih efektif bila

pemberian ≥ 8 x sehari, belum haid dan umur bayi kurang dari 6 bulan. Efektif

sampai 6 bulan, dan harus dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi

lainnya. Cara kerjanya yaitu penundaan/penekanan ovulasi. (Prawirohardjo,

2012:MK-1).

b. Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA)

Metode kontrasepsi alamiah merupakan metode untuk mengatur kehamilan

secara alamiah, tanpa menggunakan alat apapun. Metode ini dilakukan dengan
10
menentukan periode/masa subur yang biasanya terjadi sekitar 14 hari sebelum

menstruasi sebelumnya, memperhitungkan masa hidup sperma dalam vagina (48-72

jam), masa hidup ovum (12-24 jam), dan menghindari senggama selama kurang

lebih 7-18 hari termsuk masa subur dari setiap siklus. Kb alamiah terdiri dari metode

kalender, metode suhu badan basal (termal), metode lendir serviks (Bilings), metode

simto termal, dan koitus interuptus (Yuhedi & Kurniawati, 2015:49). Metode

Kalender (Ogino-Knaus)/ Pantang Berkala

Pantang berkala atau lebih dikenal dengan system kalender merupakan salah

satu cara/metode kontrasepsi sederhana yang dapat dikerjakan sendiri oleh pasangan

suami isteri dengan tidak melakukan senggama pada masa subur. Metode ini lebih

efektif bila dilakukan secara baik dan benar. Dengan penggunaan system kalender

setiap pasangan dimungkinkan dapat merencanakan setiap kehamilannya. (Melani,

dkk, 2012).

Metode kalender memerlukan ketekunan ibu untuk mencatat waktu

menstruasinya selama 6-12 bulan agar waktu ovulasi dapat ditentukan. Perhitungan

masa subur didasarkan pada ovulasi (umumnya terjadi pada hari ke 14+2 hari

sebelum menstruasi berikutnya), masa hidup ovum (24 jam), dan masa hidup

spermatozoa (2-3 hari). Angka kegagalan metode ini sebesar 14,4-47 kehamilan pada

setiap wanita 100 wanita per tahun. (Yuhedi & Kurniawati, 2015: 50)

1) Metode Suhu Badan Basal

Metode kontrasepsi ini dilakukan berdasarkan pada perubahan subu tubuh.

Pengukuran dilakukan dengan pengukuran suhu basal (pengukuran suhu yang

dilakukan ketika bangun tidur sebelum beranjak dari tempat tidur). Tujuan

pengukuran ini adalah mengetahui masa ovulasi. Waktu pengukuran harus

dilakukan pada saat yang sama setiap pagi dan setelah tidur nyenyak ±3-5 jam serta

dalam keadaan istiraha. Pengukuran dapat dilakukan per oral (3 menit), per rectal (1

11
menit) dan per vagina. Suhu tubuh basal dapat meningkat sebesar 0,2-0,5 0C ketika

ovulasi. Peningkatan suhu basal dimulai 1-2 hari setelah ovulasi disebabkan

peningkatan hormon progestero. Metode ini memiliki angka kegagalan sebesar 0,3-

6,6 per 100 wanita pertahun. Kerugian utama metode suhu basal ini adalah

abstinensia (menahan diri tidak melakukan senggama) sudah harus dilakukan pada

masa praovulasi. (Yuhedi & Kurniawati, 2015:51-52).

2) Metode Lendir Serviks

Metode kontrasepsi ini dilakukan berdasarkan perubahan siklus lendir serviks

yang terjadi karena perubahan kadar etrogen. Pada setiap siklus mentruasi, sel

serviks memproduksi 2 macam lendir serviks, yaitu lendir estrogenik (tipe E)

lendir jenis ini diproduksi pada fase akhir sebelum ovulasi dan fase ovulasi. Sifat

lendir ini banyak, tipis, seperti air (jernih) dan viskositas rendah, elastisitas besar,

bila dikeringkan akan membentuk gambaran seperti daun pakis (fernlike patterns,

ferning,arborization) sedangkan gestagenik (tipe G) lendir jenis ini diproduksi

pada fase awal sebelum ovulasi dan setelah ovulasi. Sifat lendir ini kental,

viskositas tinggi dan kerun. Angka kegagalan 0,4-39,7 kehamilan pada 100 wanita

per tahun. Kegagalan ini disebabkan pengeluaran lendir yang mulainya terlambat,

lendir tidak dirasakan oleh ibu dan kesalahan saat menilai lendir. (Yuhedi &

Kurniawati, 2015: 52-54).

3) Metode Simto Termal

Metode ini menggunakan perubahan siklis lendir serviks yang terjadi

karena perubahan kadar estrogen untuk menentukan saat yang aman untuk

bersenggama. Metode simto termal ini gabungan dari metode suhu basal, metode

lendir serviks , dan metode kalender. Tanda dari salah satu metode tersebut dapat

dipakai untuk mencocokkan dengan metode lainnya sehingga dapat lebih akurat

pada saat menentukan hari-hari aman bersenggama. Sebagai contoh, menyimpan

12
catatan lendir serviks dapat bermanfaat pada saat suhu tubuh tinggi karena

demam. Angka kegagalan metode ini sebesar 4,9-34,4 kehamilan pada 100

wanita per tahun. (Yuhedi & Kurniawati, 2015:54)

4) Coitus Interuptus

Senggama Terputus (Koitus Interruptus), ialah penarikan penis dari vagina

sebelum terjadinya ejakulasi. Hal ini berdasarkan kenyataan, bahwa akan

terjadinya ejakulasi disadari sebelumnya oleh sebagian besar laki-laki, dan

setelah itu masih ada waktu kira-kira “detik” sebelum ejakulasi terjadi. Waktu

yang singkat ini dapat digunakan untuk menarik penis keluar dari vagina.

Keuntungan, carai ini tidak membutuhkan biaya, alat-alat ataupun persiapan,

tetapi kekurangannya adalah untuk menyukseskan cara ini dibutuhkan

pengendalian diri yang besar dari pihak laki-laki (Prabowo, Edisi 3:438).

Kelebihan dari cara ini adalah tidak memerlukan alat/obat sehingga relatif sehat

untuk digunakan wanita dibanding dengan metode kontrasepsi lain, resiko

kegagalan dari metode ini cukup tinggi. (Padila, 2014:200).

c. Metode Kontrasepsi Sederhana

1) Kondom

Kondom merupakan selubung/sarung karet yang dapat terbuat dari

berbagai bahan di antaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami

(produksi hewani) yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual. Kondom

terbuat dari karet sintetis yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya

berpinggir tebal, yang bila di gulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk

seperti puting susu. Berbagai bahan yang ditambahnkan pada kondom baik untuk

meningkatkan efektivitasnya (misalnya penambahan spermisida) maupun

berbagai aktivitas seksual. Kondom ini tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi

juga mencegah IMS termasuk HIV/AIDS. Pada umunya standar ketebalan adalah

13
0,02 mm. Secara ilmiah didapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu

2-12 kehamilan per 100 perempuan pertahun, (Prawirohardjo, 2012:MK-17-18).

Cara kerja kondom adalah menghalangi spermatozoa agar tidak masuk kedalam

traktus genitalia interna wanita. (Yuhedi & Kurniawati, 2015: 55).

2) Kontrasepsi Barier- Intra-Vagina

Jenis konrasepsi barier intra-vagina, yaitu diafragma, kap serviks, spons,

dan kondom wanita.

a) Diafragma

Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet)

yang diinsersikan ke dalam vagina sebelum berhunbungan seksual dan menutupi

serviks. Cara kerja diafragma adalah menahan sperma agar tidak mendapat akses

mencapai saluran alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba falopii) dan sebagai

alat tempat spermisida. (Prawirohardjo, 2012: MK-21).

Menurut teori, angka kegagalan penggunaan diafragma adalah sebesar 2-3

kehamilan per 100 wanita pertahun. Akan tetapi, berdasarkan praktik angka

kegagalan penggunaan kontrasepsi ini adalah sebesar 6-25 kehamilan per 100 wanita

pertahun.(Yuhedi & Kurniawati, 2015: 58-59).

b) Kap Serviks

Metode Lendir Serviks atau lebih dikenal dengan Metode Ovulasi Billings

(MOB), dilakukan dengan wanita mengalami lendir serviksnya setiap hari. Lendir

berfariasi selama siklus, mungkin tidak ada lendir atau mungkin terlihat lengket dan

jika direntangkan diantara kedua jari, akan putus lendir tersebut dikenal dengan

lendir tidak subur (Everett, 2012:43). Ibu post partum <6-12 minggu juga tidak boleh

mnggunakan kap serviks, akan lebih baik bagi ibu memakai kondom jika melakukan

senggama. Efektivitas kap serviks cukup baik, hal ini dibuktikan dengan tingkat

kegagalan pemakaian yang berkisar 8-20 kehamilan pada setiap 100 wanita pertahun.

14
Selain itu, kegagalan metode berkisar pada 2 kehamilan pada setiap 100 wanita per

tahun. (Yuhedi & Kurniawati, 2015: 59-60).

c) Spons

Spons di gunakan pada tahun 1983 setelah FDA mengeluarkan izin

penggunaannya. Spons memiliki bentuk seperti bantal polyurethane yang

mengandung spermisida. Pada salah satu sisi berbentuk cekung (konkaf) agar dapat

menutupi serviks dan pada sisi lainnya terdapat tali untuk mempermudah

pengeluaran. Kontrasepsi jenis ini dapat menimbulkan efek samping dan komplikasi

seperti kemungkinan infeksi vagina oleh jamur tambahan banyak. Angka kegagalan

metode kontrasepsi ini adalah sebesar 5-8 kehamilan (secara teoretis) hingga 9-

27 kehamilan (secara praktis) pada setiap 100 wanita pertahun. (Yuhedi &

Kurniawati, 2015: 61-62)

d) Kondom Wanita

Kondom wanita sebenarnya merupakan kombinasi antara diafragma dan

kondom. Alasan utama dibuatnya kondom wanita karena kondom pria dan diafragma

biasa tidak dapat menutupi daerah perineum sehingga masih ada kemungkinan

penyebaran mikroorganisme penyebab IMS. (Yuhedi & Kurniawati, 2015: 62)

e) Spermisida

Spermicida adalah suatu zat atau bahan kimia yang dapat mematikan dan

mneghentikan gerak atau melumpuhkan spermatozoa di dalam vagina, sehingga

tidak dapat membuahi sel telur. Spermicida dapat berbentuk tablet vagina, krim dan

jelly, aerosol (busa/foam), atau tisu KB. Cukup efektif apabila dipakai dengan

kontrasepsi lain seperti kondom dan diafragma. Angaka kegagalan 11-31%. (Padila,

2014:210).

d. Kontrasepsi Hormonal

1) Pil KB

15
a) Pil Kombinasi

Pil kombinasi ini dapat diminum setiap hari, efektif dan reversibel, pada

bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan perdarahan bercak yang tidak

berbahaya dan segera akan hilang, efek samping serius jarang terjadi, dapat dipakai

semua ibu usia reproduki, baik yang sudah mempunyai anak maupun belum, dapat

dimulai diminum setiap saat bila yakin sedang tidak hamil, tidak dianjurkan pada ibu

yang mnyusui dan dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat. Pil kombinasi dibagi

menjadi 3 jenis, yaitu pil monofasik yaitupil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet

mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosisi yang sama, dengan

7 tablet tanpa hormon aktif, sedangkan pil bifasik yaitu pil yang tersedia dalam

kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progesteron (E/P) dengan dua

dosisi yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif, dan pil trifasik, yaitu pil

yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengamdung hormon aktif

estrogen/progesteron (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa

hormon aktif. (Prawirohardjo, 2012, MK-30-31).

b) Mini Pil (Pil Progestin)

Kontrasepsi minipil ini cocok untuk perempuan menyusui yang ingin memakai

pil KB, sangat efektif pada masa laktasi, dosis rendah, tidak menurunkan produksi

ASI, tidak memberikan efek samping estrogen, efek samping utama adalah gangguan

perdarahan; perdarahan bercak, atau perdarahan tidak teratur, dan dapat dipakai

kontrasepsi darurat. Kontrasepsi mini pil dibagi menjadi 2 jenis, yaitu kemasan

dengan isi 35 pil 300 µg levonorgestrel atau 350 µg noretindron, dan kemasan

dengan isi 28 pil 75µg desogesterel. Kontrasepsi mini pil sangat efektif (98,5%),

pada pengguna mini pil jangan sampai ada tablet yang terlupa, tablet digunakan pada

jam yang sama (malam hari), dan senggama sebaiknya dilakukan 3- 20 jam setelah

16
penggunaan mini pil. (Prawirohardjo, 2012, MK-50-51)

2) Kontrasepsi Suntik

Suntik KB ada dua jenis yaitu, suntik KB 1 bulan (cyclofem) dan suntik KB 3

bulan (DMPA. Efek sampinya terjadi gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat,

perubahan berat badan, pemakaina jangka panjang bisa terjadi penurunan libido, dan

densitas tulang. (Padila, 2015:210). Cara kerjanya mencegah ovulasi, mengentalkan

lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma, menjadikan

selaput lendir rahim tipis dan atrofi dan menghambat transportasi gamet oleh tuba.

Kedua kontrasepsi suntik tersebut memiliki efektifitas yang tinggi, dengan 0,3

kehamilan per 100 perempuan per tahun, asal penyuntikannya dilakukan secara

teratur sesuai jadwal yang telah di tentukan. (Prawirohardjo, 2012, MK-43-44).

3) Kontrasepsi Implant

Implant adalah alat kontarsepsi yang disusupkan di bawah kulit, biasanya di

lengan atas. Cara kerjanya sama dengan pil, implan mengandung levonogestrel.

Keuntungan dari metode implan ini antara lain tanah sampai 5 tahun, kesuburan akan

kembali segera setelah pengangkatan. Efektifitasnya sangat tinggi, angka

kegagalannya 1-3%. (Padila, 2014:201).

e. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)/IUD

Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)/ adalah alat kontrasepsi yang

dimasukkan ke dalam rahim yang bentuknya bermacam-macam, terdiri dari plastik

(polyethylene). Ada yang dililit tembaga (Cu), ada pula yang tidak, ada pula yang

dililit tembaga bercampur perak (Ag). Selain itu ada pula yang dibatangnya berisi

hormone progesterone (Suratun, dkk, 2013:87). Efektifitasnya tinggi, angka

kegagalannya 1%. (Padila, 2014:202).

f. Kontrasepsi Mantap (Kontap)

a) Tubektomi
17
Tubektomi adalah metode kontrasepsi untuk perempuan yang tidak ingin anak

lagi. Perlu prosedur bedah untuk melakukan tubektomi sehingga diperlukan

pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan lainnya untuk memastikan apakah

seorang klien sesuai untuk menggunakan metode ini. Tubektomi termasuk metode

efektif dan tidak menimbulkan efek samping jangka panjang, Jarang sekali tidak

ditemukan efek samping, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

(Prawirohardjo, 2012: MK-89).

Sterilisasi pada wanita atau tubektomi merupakan metode pengikatan dan

pemotongan tuba fallopi agar ovum tidak dapat dibuahi oleh sperma, cara kerja

tubektomi adalah perjanan ovum terhambat karena tuba fallopi tertutup.(Yuhedi &

Kurniawati, 2015:107).

b) Vasektomi

Vasektomi adalah metode kontrasepsi untuk lelaki yang tidak ingin anak lagi.

Perlu prosedur bedah untuk melakukan vasektomi sehingga diperlukan pemeriksaan

fisik dan pemeriksaan tambahan lainnya untuk memastikan apakah seorang klien

sesuai untuk menggunakan metode ini (Prawirohardjo, 2012:MK-95)

B. Tinjauan Umum Tentang Kontrasepsi Implant

1. Pengertian Kontrasepsi Implant

Implant Adalah alat kontrasepsi yang mengandung hormon levonorgestel

yang dibungkus dalam kapsul silastik-silikon dan di susukan di bawah kulit, setiap

kapsul mengandung 36 mg levonorgetel yang akan dikeluarkan setiap harinya

sebanyak 80 mg. (Firdayanti, 2012:87).

Implant atau susuk kontrasepsi merupakan alat kontrasepsi yang berbentuk

batang dengan panjang sekitar 4 cm yang didalamnya terdapat hormon progesteron,

implan ini kemudian dimasukkan kedalam kulit dibagian lengan atas. Hormon

18
tersebut kemudian akan dilepaskan secara perlahan dan impalnt ini dapat efektif

sebagai alat kontrasepsi selama 3 tahun. (Purwoastuti dan Walyani, 2015:203).

Implant adalah alat kontasepsi yang disusupkan di bawah kulit, biasanya di

pasang dilengan atas. Cara kerjanya sama dengan pil, implant mengandung

lenovogestrel. Keuntungan dari metode implan ini antra lain tahan sampai 5 tahun,

kesubukan akan kembali segera setelah pengangkatan. Efektifitas sangat tinggi,

angka kegagalan 1-3 %. (Padila,2014:201)

2. Jenis-jenis Kontrasepsi Implant

a. Norplant

Noplant terdiri dari 6 kapsul, yang secara total bermuatan 216 mg

levornogestrel. Panjang kapsul adalah 34 mm dengan diameter 2,4 mm. Kapsul

terbuat dari bahan silastik medik (polydemethyloxane) yang fleksibel di mana

kedua ujungnya ditutup dengan penyumbat sintetik yang tidak mengganggu

kesehatan klien. Setelah penggunaan selama 5 tahun, ternyata masih tersimpan

sekitar 50% bahan aktif levonorgestrel asal yang belum terdistribusi kejaringan

interstisial dan sirkulasi. Enam kapsul norplant di pasang menurut konfigurasi

kipas dilapisi di lapisan subderma. (Prawirohardjo, 2012:MK-56).

b. Implanon dan Sinoplant

Terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm,

diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3-keto-desogestel dan lama kerjanya 3

tahun. (Mulyani & Rinawati, 2013:110).

c. Indoplant /Jadena

Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg levonorgestwl dengan lama

kerjanya 3 tahun. (Mulyani & Rinawati, 2013:111).

3. Cara Kerja Kontrasepsi Implant

Implant mencegah terjadinya kehamilan melalui berbagai cara. Seperti

19
kontrasepsi progestin pada umumnya, mekanisme utamanya adalah menebalkan

mukus serviks sehingga tidak dilewati oleh sperma. Walaupun pada konsentrasi

yang rendah, progestin akan menimbulkan pengentalan mukus serviks.

Perubahan terjadi segera setelah pemasangan implan. Progestin juga menekan

pengeluarag Follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH)

dari hipotalamus dan hipofise. Lonjokan LH (surge) direndahkan sehingga

ovulasi ditekan oleh levonorgestrel. Level LH ditekan lebih kuat oleh

etonogestrel sehingga tidak terjadi ovulasi pada 3 tahun pertama penggunaan

implan-1. Penggunaan progestin jangka panjang, juga menyebabkan

hipotropisme endometrium sehingga dapat mengganggu proses implanasi.

Perubahan pertumbuhan dan maturasi endometrium, juga menjadi penyebab

terjadinya perdarahan ireguler.

Hal yang baru dalam implan-2 ialah cara pengeluaran hormon

levonogestrel di dalam tubuh, yang terjadi secara terus menerus dan stabil selama

3-4 tahun. (Prawirohardjo, 2012:MK-58). Dengan di susupkannya 1 kapsul, 2

kapsul, atau 6 kapsul silastik implan di bawah kulit, maka setiap hari dilepaskan

secara tetap sejumlan levonorgestrel ke dalam darah melalui proses difusi dari

kapsul-kapsul yang terbuat dari bahan silastik. Besar kecilnya levonogestrel yang

dilepas tergantung besar kecilnya permukaan kapsul silastik dan ketebalan dari

dinding kapsul tersebut. Satu set implan terdiri dari 6 kapsul dan dapat bekerja

secara efektif selama 5 tahun. Sedangkan implanon yang terdiri dari 1 atau kapsul

dapat bekerja secara efektif selama 3 tahun. (Mulyani & Rinawati, 2013:111-

112).

4. Efek Samping Kontrasepsi Implant dan Penanggulangan

a. Amenorea

Lakukan pemeriksaan kehmailan untuk memastikan apakah klien hamil atau


20
tidak. Apabila klien tidak hamill, tidak perlu penanganan khusus. Apabila terjadi

kehamilan dan ingin melanjutkan kehamilan, cabut implan. Rujuk klien jika di duga

terjadi kehamilan ektopik.

b. Perdarahan bercak (spooting) ringan

Tidak perlu tindakan apapun jika tidak ada masalah dank klien tidak hamil.

Apabila klien tetap mengeluh permasalahan ini dan ingin tetap menggunakan implan,

berikan pil kombinasi 1 siklus atau ibu profen 3x800 mg selama 5 hari, jelaskan

bahwa akan terjadi perdarahan kembali setelah pil kombinasi habis. Apabila

terjadiperdarahan yang lebih banyak dari biasa. Beri 2 tablet pil kombinasi selama 3-

7 hari kemudian lanjutkan dengan 1 siklus pil kombinasi.

c. Ekspulsi

Cabut kapsul ekspulsi, periksa apakah terdapat tanda infeksi daerah insersi bila

tidak ada infeksi dan kapsul lain masih berada pada tempatnya, pasang 1 buah kapsul

baru pada tempat insersi yang berbeda. Bila ada infeksi, cabut seluruh kapsul yang

ada dan pasang kapsul baru pada lengan yang lain.

d. Infeksi pada daerah insersi

Bila terdapat infeksi tanpa nanah, bersihkan dengan, sabun, air, dan antiseptik.

Berikan antibiotik selama 7 hari, tetapi implan tidak perlu dilepas dan minta klien

untuk kembali setelah 7 hari. Apabila tidak terjadi perbaikan. Cabut implant.

e. Peningkatan atau penurunan berat badan

Beri tahu klien bahwa perubahan berat badan 1-2 kg adalah normal. apabila

terjadi perubahan berat badan > 2 kg, kaji kembali diet klien.

5. Keuntungan Dan Kekurangan Kontrasepsi Implant

a. Keuntungan

21
1) Daya guna tinggi

2) Perlindungan jangka panjang sampai 5 tahun

3) Pengambilan tingkat keseuburan yang cepat setelah pencabutan implan

4) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam

5) Bebas dari pengguna ekstrogen

6) Tidak mengganggu hubungan saat senggama

7) Tidak mengganggu produksi ASI

8) Ibu hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan

9) Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan

10) Mengurangi nyeri haid

11) Perdarah atau bercak perdarahan di antara siklus haid

12) Melindungi terjadinya kanker endometrium

13) Menurunkan angka kejadian kelainan jinak payudara

14) Melindungi diri dari beberapa penyebab penyakit radang panggul

15) Menurunkan angka kejadian endometriosis.

(Mulyani & Rinawati,2013:112-113).

a. Kekurangan

1) Implan harus dipasang dan diangkat oleh petugas kesehatan yang terlatih

2) Petugas kesehatan harus dilatih khusus

3) Harga implant yang mahal

4) Implant sering mengubah pola haid

5) Implant dapat terlihat di bawah kulit. (Mulyani & Rinawati, 2013:113).

6. Indikasi Dan Kontraindikasi Kontrasepsi Implant

a. Indikasi penggunaan kontrasepsi implant

1) Wanita usia reproduksi

2) Wanita nulipara atau yang sudah mempunyai anak atau yang belum mempunyai
22
anak.

3) Wanita yang menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki

efektifitas tinggi.

4) Wanita setelah keguguran dan setelah melahirkan, yang menyusui atau yang

tidak menyusui.

5) Wanita yang tidak menginginkan anak lagi tetapi menolak untuk sterilisasi.

6) Wanita dengan tekanan darah kurang dari 180/110 mmHg

7) Wanita yang sering lupa meminum pil kontrasepsi.

b. Kontraindikasi penggunaan kontrasepsi implan

1) Wanita yang hamil atau dicurigai hamil

2) Wanita yang mengalami perdarahan per vagina yang belum jelas

penyebabnya.

3) Wanita yang tidak dapat menerima terjadinya gangguan menstruasi atau

amenorea.

4) Wanita yang menderita kanker payudara atau mempunyai riwayat kanker

payudara.

5) Wanita hipertensi

6) Penderita penyakit jantung, diabetes militus. (Yuhedi & Kurniawati,

2015:105-106).

7. Efektifitas

Efektifitas dari pemasangan susuk/implan adalah sebagai berikut:

a. Lendir serviks menjadi kental

b. Mengganggu proses pembentukan endometrium hingga sulit terjadi implanasi

c. Mengurangi transportasi sperma

d. Menekan ovulasi

e. 99% Sangat efektif ( kegagalan 0,2-1 kehamilan per 100 perempuan). (Tresawati,
23
2013: 125)

f. Pada umumnya, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam 1 tahun

(Kemenkes, 2013)

8. Tempat pemasangan implant

Pemasangan implant dilaksanakan pada bagian tubuh yang jarang bergerak atau

digunakan. Berdasarkn penelitian, lengan kiri merupakan tempat terbaik untuk

pemasangan implant, yang sebelumnya dilakukan anastesi lokal (Mulyani & Rinawati,

2013:115).

9. Cara Penggunaan Kontrasepsi Implant

a. Alat dan bahan

1) Meja periksa untuk tempat tidur klien

2) Penyangga lengan atau meja samping

3) Sabun untuk mencuci tangan

4) 2 kapsul implan dalam satu kemasan steril

5) Kain penutup operasi steril (bersih) yang kering

6) 3 mangkok steril atau DTT (1 untuk larutan antiseptik, 1 tempat air DTT/steril,

kapas dan 1 lagi untuk tenpat kapsul implan-2. Kapsul implant-2 plus dan fin ada

di dalam trokar steril.

7) Sepasang sarung tangan steril/DTT

8) Larutan antiseptik

9) Anasesi lokal (konsetrasi 1% tanpa epinefrin)

10) Tabung suntik (5 atau 10 ml) dan jarum suntik dengan paanjang 2,5-4 cm

(nomor 22).

11) Trokar nomor 10 dengan pendorongnya

12) Skalpel (pisau bedah) nomor 11

13) Pola terbuat dari plastik (template) untuk menandai posisi kapsul (huruf V).
24
14) Band aid (plester untuk luka ringan) atau kasa steril dengan plaster.

15) Kasa pembalut

16) Epinefrin untuk syok anafilaktik (harus selalu tersedia untuk keadaan darurat).

b. Pemasangan Implant

Kapsul implant di pasang tepat di bawah kulit, di atas lipat siku, di daerah medial

lengan atas. Untuk tempat pemasangan kapsul, pilihlah lengan klien yang jarang di

gunakan.

c. Langkah Pemasangan

Sebelum memulai tindakan, periksa kembali untuk memastikan apakah klien:

sedang minum obat yang dapat menurunkan efektivitas implan, sudah pernah mendapat

anastesi lokal sebelumnya, dan alergi terhadap obat anastesi lokal atau jenis obat lainnya.

1) Persiapan

a) Langkah 1

Pastikan klien telah mencuci dan membilas lengan atas hingga bersih. Periksa

kembali tidak ada sisa sabun karena dapat menurunkan efektivitas antiseptik tertentu.

b) Langkah 2

Lapisi tempat penyangga lengan atau meja samping dengan kain bersih.

c) Langkah 3

Persilahkan klien berbaring dan lengan atas yang telah disiapkan, ditempatkan diatas

meja penyangga, lengan atas membentuk sudut 30 o terhadap bahu dan sendi siku 90o

untuk memudahkan petugas melakukan pemasangan

d) Langkah 4

Tentukan tempat pemasangan yang optimal, 8 cm (3 inci) diatas lipat siku dan reka

posisi kapsul di bawah kulit (subdermal).

e) Langkah 5

Siapkan tempat peralatan dan bahan serta buka bungkus steril tanpa menyentuh
25
peralatan yang ada didalamnya. Untuk implan 2 plus, kapsul sudah berada di dalam

trokar.

f) Langkah 6

Buka dengan hati-hati kemasan steril indoplant dengan menarik kedua lapisan

pembungkusnya dan jatuhkan seluruh kapsul ke dalam mangkok steril. Untuk

impalnt 2 plus, kapsul sudah berada di dalam trokar.

2) Tindakan Sebelum Pemasangan

a) Langkah 1

Cuci tangan dengan sabun dan air, keringkan dengan kain bersih

b) Langkah 2

Pakai sarung tangan steril atau DTT (ganti sarung tangan untuk setiap klien guna

mencegah kontaminasi silang).

c) Langkah 3

Atur alat dan bahan-bahan sehingga mudah dicapai, hitung kapsul untuk memastikan

jumlahnya sudah 2.

d) Langkah 4

Persiapkan tempat insisi dengan mengoleskan larutan antiseptik. Hapus antiseprik

yang berlebihan bila larutan ini mengaburkan tanda yang sudah dibuat sebelumnya.

e) Langkah 5

Fokuskan area pemasangan dengan menempatkan kain penutup (doek) atau kertas

steril berlubang. Letakkan kain steril dibawah lengan atas.

f) Langkah 6

Setelah memastikan (dari anamnesa) tidak ada riwayat alergi terhadap obat anastesi,

isi alat suntik dengan 3 ml obat anastesi (lidocaine 1%, tanpa epinefrin). Dosis ini

sudah cukup untuk menghilangkan rasa sakit selama memasang dua kapsul implan-2.

26
g) Langkah 7

Lakukan anastesi lokal: intrakutan dan subdermal. Hal ini akan membuat kulit

terangkat dari jaringan lunak di bawahnya dan dorong jarum untuk menyuntikkan

anestesi pada kedua jalur kapsul (masing-masing 1 ml) membentuk huruf V.

1) Pemasangan kapsul

Sebelum membuat insisi, pastikan efek anastesi telah berlangsung dan sensasi nyeri

hilang.

a) Langkah 1

Pegang skalpel dengan sudut 45o buat insisi dangkal hanya untuk sekedar menembus

kulit. Jangan membuat insisi yang panjang atau dalam.

b) Langkah 2

Trokar harus di pegang dengan ujung yang tajam menghadap keatas. Tanda 1 dekat

kapsul menunjukkan batas masuknya trokar sebelum memasukkan setiap kapsul.

Tanda 2 dekat ujung menunjukkan batas pencabutan trokar setekah memasang setiap

kapsul.

c) Langkah 3

Dengan trokar di mana posisi angka (impaln-2) dan panah (impant-2 plus)

menghadap ke atas masukkan ujung trokar pada luka insisi dengan posisi 45 o (saat

memasukkan ujung trokar) kemudian turunkan menjadi 30o saat memasuki lapisan

subdermal dan sejajar permukaan kulit saat mendorong hingga tanda 1 (3- 5 mm dari

pangkal trokar).

d) Langkah 4

Untuk meletakkan kapsul tepat di bawah kulit, angkat trokar ke atas, sehingga kulit

terangkat. Masukkan trokar perlahan-lahan dan hati-hati ke arah tanda (1) dekat

pangkal. Trokar harus selalu terlihat mengangkat kulit selama pemasangan.

Masuknya trokar akan lancar bila berada tepat dibawah kulit.


27
e) Langkah 5

Saat trokar masuk sampai tanda (1), cabut pendorong dari trokar (implan-2). Untuk

implan-2 plus, justru pendorong dimasukkan (posisi panah disebelah atas) setelah

tanda 1 tercapai dan diputar 180o searah jarum jam hingga terbebas dari tahanan

karena ujung pendorong memasuki alur kapsul yang ada didalam saluran trokar.

f) Langkah 6

Masukkan kapsul pertama kedalam trokar. Gunakan pinset atau klem untuk

mengambil kapsul dan memasukkan kedalam trokar. Untuk mencegah kapsul jatuh

pada waktu dimasukkan kedalam trokar, letakkan satu tangan di bawah kapsul untuk

menangkap bila kapsul tersebut jatuh. Langkah ini tidak di lakukan pada impalan-2

plus karena kapsul sudah ada didalam trokar. Dorong kapsul sampai seluruhnya

masuk kedalam trokar dan masukkan kembali pendorong.

g) Langkah 7

Gunakan pendorong untuk mendorong kapsul ke arah ujung trokar sampai terasa ada

tahanan (jika setengah bagian pendorong masuk ke dalam trokar). Untuk implan-2

plus, setelah pendorong masuk jalur kapsul maka dorong kapsul hingga terasa ada

tahanan.

h) Langkah 8

Tahan pendorong ditempatya kemudian tarik trokar dengan menggunakan ibu jari

dan telunjuk mendekati pangkal pendorong sampai tanda 2 muncul diluka insisi dan

pangkalnya menyentuh pegangan pendorong. Untuk implan-2 plus, pangkal trokar

tidak akan mencapai pangkal pendorong (tertahan di tengah) karena terhalang oleh

ujung pendorong yang belum memperoleh akses ke kapsul kedua.

i) Langkah 9

Saat pangkal trokar menyentuh pegangan pendorong, tanda (2) harus terlihat ditepi

luka insisi dan kapsul saat itu keluar dari trokar tepat berada di bawah kulit.
28
Raba ujung kapsul dengan jari untuk memastikan kapsul sudah keluar seluruhnya

dari trokar.

j) Langkah 10

Tanpa mengeluarkan seluruh trokar, putar ujung dari trokar ke arah lateral kanan dan

kembalikan lagi ke posisi semula untuk memastikan kapsul pertama bebas.

Selanjutnya geser trokar sekitar 30o, mengikuti pola huruf V pada lengan (fiksasi

kapsul pertama dengan jari telunjuk) dan masukkan kembali trokar mengikuti alur

kali V sebelahnya sampai tanda (1). Bila tanda (1) sudah tercapai, masukkan kapsul

berikutnya ke dalam trokar dan lakukan seperti langkah sebelumnya (langkah 8)

sampai seluruh kapsul terpasang. Untuk implan-2 plus, kapsul kedua di tempatkan

setelah trokar disorong kembali mengikuti kaki V sebelahnya hingga tanda 1,

kemudian pendorong di putar 180o berlawanan dengan arah jarum jam hingga

ujungnya mencapai pangkal kapsul kedua dan trokar ditarik kembali ke arah pangkal

pendorong.

k) Langkah 11

Pada pemasangan kapsul berikutnya, untuk mengurangi resiko atau ekpulsi, pastikan

bahwa ujung kapsul yang terdekat kurang lebih 5 mm dari tepi luka insisi. Juga

pastikan jarak antara ujung setiap kapsul yang terdekat dengan tepi luka insisi (dasar

huruf V) tidak lebih dari kapsul.

l) Langkah 12

Saat memasang kedua kapsul satu demi satu, jangan mencabut trokar dari luka insisi

untuk mengurangi trauma jaringan, minimalisasi infeksi dan mempersingkat waktu

pemasangan.

m) Langkah 13

Sebelum mencabut trokar, raba kapsul untuk memastikan kedua kapsul telah

terpasang.
29
n) Langkah 14

Pastikan ujung dari kedua kapsul harus cukup jauh dari luka insisi (sekitar 5 mm).

Bila sebuah kapsul keluar atau terlalu dekat dengan luka insisi, harus dicabut dengan

hati-hati dan dipasang kembali ditempat yang tepat.

o) Langkah 15

Setelah kedua kapsul terpasang dan posisi setiap kapsul sudah dipastikan tepat

keluarkan trokar pelan-pelan. Tekan tempat insisi dengan jari menggunakan kasa

selama 1 menit untuk menghentikan perdarahan. Bersihkan tempat pemasangan

dengan asntiseptik.

d. Tindakan Setelah Pemasangan Kapsul

1) Menutup luka insisi

a) Tentukan tepi kedua insisi dan gunakan band aid tau plaster dengan kasa steril unutk

menutup luka insisi. Luka insisi tidak perlu dijahit karena dapat menimbulkan

jaringan parut.

b) Periksa adanya perdarahan. Tutup daerah pemasangan dengan pembalut untuk

hematosis dan mengurangi memar (perdarahan subkutan).

2) Pembuangan Darah dan Dekontaminasi

a) Sebelum melepas sarung tangan, masukkan alat-alat ke wadah yang berisi klorin

0,5% untuk dekontaminasi. Dekontaminasi juga jarum dan alat suntik, pendorong

dan trokar.

b) Kain penutup (bila digunakan) harus dicuci sebelum dipakai lagi. Taruh di dalam

kontainer yang kering dan tertutup kemudian bawa ke tempat cucian.

a) Dengan masih memakai sarung tangan, buang bahan-bahan terkontaminasi (kasa,

kapas dan lain-lain) dalam kontainer yang anti bocor dan diberi tanda, atau dalam

kantong plastik.

b) Bila menggunakan sarung tangan sekali pakai, celupkan sebentar tangan yang masih
30
memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin, kemudian lepaskan sarung tangan

secara terbalik dan masukkan ke tempat sampah.

c) Bila menggunakan sarung tangan pakai ulang, celupkan sebentar tangan yang masih

memakai sarung tangan kedalam larutan klorin, lepaskan secara terbalik dan

masukkan ke dalam larutan klorin 0,5% (rendam dalam 10 menit).

d) Cuci tangansegera dengan sabung dan air

e) Semua sampah harus dibakar atau ditanam.

3) Perawatan klien

a) Buat catatan pada rekam medik tempat pemasangan kapsul dan kejadian tidak umum

yang mungkin terjadi selama pemasangan (gambarkan lokasi pemasangan kapsul

pada lengan atas klien).

b) Amati klien lebih kurang 14 sampai 20 menit untuk kemungkinan perdarahan dari

luka insisi atau efek lain sebelum memulangkan klie. Beri petunjuk untuk perawatan

luka insisi setelah pemasangan, kalau bisa diberikan secara tertulis.

e. Petunjuk Perawatan Luka Insisi di Rumah

1) Mungkin akan terjadi memar, bengkak atau sakit didaerah insisi selama beberapa

hari. Hal ini normal

2) Jaga luka insisi tetap kering dan bersih selama paling sedikit 48 jam. Luka insisi

dapat mengalami infeksi bila basah saat mandi atau mencuci pakaian

3) Jangan mambuka pembalut tekan selama 48 jam dan biarkan band aid

ditempatnya sampai luka insisi sembuh (umunya 3-5 hari).

4) Klien dapat segera bekerja secara rutin. Hindari benturan atau luka didaerah

tersebut atau menambahkan tekanan.

5) Setelah luka insisi sembuh, daerah tersebut dapat disentuh dan dibersihkan

dengan tekanan normal.

31
6) Bila terdapat tanda-tanda infeksi seperti demam, daerah insisi kemerahan dan

panas atau sakit yang menetap selama beberapa hari, segera kembali ke klinik.

f. Bila Terjadi Infeksi

1) Obati dengan pengobatan yang sesuai intuk infeksi lokal

2) Bila terjadi abses (dengan atau tanpa ekspulsi kapsul), cabut semua kapsul.

(Prawirohardjo, 2012:PK-18-28).

10. Tempat Memperoleh Pelayanan Implant

a. Puskesmas

b. Klinik KB

c. BPS/RB

d. Dokter kandungan

e. Rumah sakit. (Yuhedi & Kurniawati, 2015:104)

11. Yang Perlu Diingat Pada Kontrasepsi Implant

a. Pemeriksaan kesehatan umum, (tanda-taanda vital) klien dilakukan sebelum

pemasangan implan.

b. Sesudah pemasangan implan, kemungkinan ibu akan mengalami rasa nyeri pada

tempat pemasangan. Beri tahu ibu untuk tidak khawatir karena hal ini hanya terjadi

sebentar dan tidak diperlukan tindakan apapun. Akan tetapi, jika nyeri tidak

tertahankan beri tahu ibu untuk segera pergi meminta bantuan bidan atau dokter

ditempat pelayanan kesehatan.

c. Selama 3 hari sesudah pemasangan, ibu diperbolehkan mandi tetapi jaga supaya

daerah tempat pemasangan tetap kering.

d. Setelah disuntik, ibu dapat melakukan kegiatan seperti biasa, misalnya berkebun,

mencuci, mengetik, berolahraga, dan lain sebagainya. Ingatkan untuk tidak

mengangkat berat badan, selama beberapa waktu (sekitar satu minggu).

e. Pada hari kelima, balutan pada bekas tempat pemasangan boleh di buka. Lihat dan
32
perhatikan, jika bekasnya sudah kering tidak perlu dibalut lagi.

f. Kemungkinan siklus menstruasi ibu menjadi tidak teratur yang merupaka salah satu

efek samping pemakaian kontrasepsi implan. Sarankan ibu untuk membicarakan hal

ini dengan bidan dan dokter dipelayanan kesehatan.

g. Jika ada keluhan, pergi kepelayanan kesehatan agar mendapat pertolongan dari

dokter atau bidan.

h. Sesudah lima tahun, kunjungi pelayanan kesehatan untuk mencabut implan. Jika

masih ingin menggunakan implan, dokter atau bidan akan menggantinya dengan

implant baru. (Yuhedi & Kurniawati, 2015:106-107).

selama dua puluh satu bulan, sedangkan di kandung hanya 6 bulan, ketika itu

masa penyusuannya adalah 24 bulan. Tentu saja, ibu yang menyusukan memerlukan

biaya agar kesehatannya tidak terganggu dan air susunya selalu tersedia. (Shihab, M.

Quraish, 2002)

Pada kalimat para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun

penuh yaitu bagi yang menyempurnakan penyusuan secara tidak langsung ayat ini

menjelaskan bahwa dalam menyusui secara teratur selama 2 tahun maka dapat mencegah

kehamilan. (Qadariyah,2012), Semakin sering menyusui hormon oksitosin semakin

meningkat, dan menekan hormon progesteron dan estrogen sehingga tidak terjadi ovulasi

atau kesuburan tidak kembali, hal ini dapat menjarangkan kehamilan. (Saifuddin, 2010).

C. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan

1. Pengertian manajemen kebidanan

Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang di gunakan oleh bidan dalam

menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis, mulai dari pengkajian,

analisis data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

Manajemen kebidanan merupakan metode atau bentuk yang digunakan oleh

bidan dalam memberi asuahn kebidanan dengan menggunakan metode pemecahan


33
masalah dengan menggunakan metode yang terorganisasi, malalui dan tindakan

dalam urutan yang logis untuk keuntungan pasien dan pemberian asuhan. (Nurhayati,

2013: 139).

Menurut Helen Varney (1997), proses penyelesaian masalah merupakan salah

satu upaya yang dapat digunakan dalam manajemen kebidanan. Varney berpendapat

bahwa dalam melakukan manajemen kebidanan, bidan harus memiliki kemampuan

berfikir secara kritis untuk menegakkan diagnosa atau masalah potensial kebidanan.

Selain itu, diperlukan pula kemampuan kolaborasi atau kerja sama. Hal ini dapat

digunakan sebagai dasar dalam perencanaan kebidanan selanjutnya. (dalam Wildan dan

Hidayat, 2013: 34).

Proses manajemen terdiri dari 7 (tujuh) langkah berurutan diaman setiap langkah

disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan

berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap

yang diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan tetapi langkah dapat diuraikan lagi

menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan bisa berubah sesuai dengan kondisi klien.

2. Tahapan dalam manajemen kebidanan

Adapun dalam tahapan Manajemen Kebidanan yaitu :

a. Langkah I. Identifikasi data dasar

Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap

dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. (Mangkuji, dkk, 2012). Untuk

memperoleh data dilakukan dengan cara :

1) Data Subjektif

Data subjektif adalah berisi tentang data dari pasien melalui anamnesa

(wawancara) yang merupakan ungkapan langsung tentang keluhan. (Romauli, 2011:

162).
34
a) Keluhan utama yaitu untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas kesehatan

yang dirasakan saat pemeriksaan pada akseptor KB implan

b) Riwayat Menstruasi yaitu untuk mengatahui menarche, siklus, lama menstruasi,

disminorea, banyaknya menstruasi, teratur atau tidak, sifat darah, dan keluhan

keluhan yang dirasakan pada saat menstruasi.

c) Riwayat kehamilan dan nifas yang lalu yaitu untuk mengetahui jumlah kehamilan

sebelumnya dan hasil akhirnya (abortus, lahir hidup, apakah anaknya dalam keadaan

hidup dan apakah dalam kesehatan yang baik), apakah terdapat komplikasi intervasi

pada kehamilan, persalinan, ataupun nifas sebelumnya dan apakah ibu tersebut

mengetahui peyebabnya.

d) Riwayat KB yang perlu dikaji adalah apakah ibu pernah menjadi akseptor KB, dan

kalau pernah kontrasepsi apa yang pernah digunakan, berapa lama, keluhan pada saat

ikut KB, alasan berhenti KB.

e) Riwayat kesehatan terdiri dari riwayat penyakit sekarang, dan riwayat penyakit

keluarga.

f) Riwayat pemenuhan kebutuhan dasar yaitu untuk mengatahui bagaimana kebiasaan

pasien sehari-hari dalam menjaga kebersihan dirinya dan bagaimana

pola makanan sehari-hari apakah terpenuhi gizinya atau tidak terdiri dari pola nutrisi,

pola eliminasi, pola istirahat, personal hygiene dan aktivitasnya.

g) Data psikologis untuk memperkuat data dari pasien terutama secara psikologis, data

meliputi dukungan suami dan keluarga kepada ibu mengenai alat kontrasepsi.

2) Data Obyektif

Data obyektif adalah data yang didapat dari hasil observasi malalui

pemeriksaan fisik sebelum atau selama pemakaian KB.

a) Pemeriksaan umum terdiri dari keadaan umum untuk mengetahui keadaan pasien

35
serta berat badan pasien karena merupakan salah satu efek samping KB implant.

b) Pemerikasaan tanda-tanda vital

(1) Tekanan Darah (vital sign)

Untuk mengetahui faktor resiko hipertensi atau hipotensi dengan nilai satuannya

mmHg. Keadaan normal antara 100/80 mmHg sampai 130/90 mmHg.

(2) Pengukuran suhu untuk mengetahui suhu badan pasien, suhu badan normal

adalah 36oC sampai 37o. bila suhu lebih dari 37,5oC harus dicurigai adanya

infeksi.

(3) Nadi memberikan gambaran kardiovaskuler, denyut nadi normal 70x/menit

sampai 88x/menit.

(4) Pernafasan mengetahui sifat pernafasan dan bunyi nafas dalam satu menit.

Pernafasan normal 22x/menit-24x/menit.

c) Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik meliputi: keadaan umum klien, tanda-tanda vital dan

pemeriksaan fisik dilakukan secara inspeksi dan palpasi dan dilakukan pemeriksaan

penunjang bila perlu.

Tahap ini merupakan langkah yang menentukan langkah berikutnya.

Kelengkapannya data yang sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menetukan, oleh

karena itu proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya, sehingga

dalam pendekatan ini harus komprehensif dalam meliputi data subjektif, objektif dan

hasil pemeriksaan sehingga dapat menggembarkan kondisi atau masukan klien yang

sebenarnya.

d) Data penunjang

Data penunjang ini digunakan untuk mengetahui kondisi klien sebagai data

penunjang terdiri dari: pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan tes kehamilan.


36
(Saifuddin, 2010).

b. Langkah II. Identifikasi diagnosa/Masalah aktual

Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar tehadap diagnosa atau

masalah kebutuhan klien berasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah

dikumpulakan. Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah adalah pengolahan

dan analisis data dengan menggabungkan data satu dengan data yang lainnya sehingga

tergambar suatu fakta. (Nurhayati, dkk 2013: 142).

Diagnosis kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan dalam lingkup praktek

kebidanan. Dasar untuk menegakkan diagnosa calon akseptor KB implant Dari data

Subjektif yang diperoleh bahwa ibu mengatakan ingin menggunakan KB jangka panjang

untuk pertama kalinya dan ibu memilih untuk KB implant, sedangkan dari hasil

pemeriksaan yaitu data objektif bahwa, keadaan umum baik, kesadaran composmentis,

TTV normal, hasil pemeriksaan fisik tidak ada kelainan dan pemeriksaan laboratorium

normal, dan pada tes kehamilan tidak terjadi kehamilan.

c. Langkah III. Antisipasi diagnosa/Masalah potensial

Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial

yang berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasikan.

Langkah ini membutuhkan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil

mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial

ini benar-benar terjadi. Langkah ini sangat penting dalam melakukan asuhan yang aman.

Yang mungkin terjadi pada kasus akseptor implan pada saat pemasangan akan terdapat

memar, bengkak dan nyeri pada insisi selama beberapa hari adalah kemungkinan adanya

tanda infeksi.

d. Langkah IV. Tindakan Segera/Kolaborasi

Pada langkah ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen


37
kebidanan. Bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan

konsultasi, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang alin berdasarkan kondisi klien,

pada langkah ini bidan juga harus merumuskan tindakan emergency untuk

menyelamatkan ibu dan bayi, yang mampu dilakukan secara mandiri dan bersifat

rujukan.

Tindakan segera dilakukan jika terjadi, jika ibu mengalami efek samping atau

keluhan yang mengancam maka dilakukan tindakan kolaborasi pada akseptor implan

e. Langkah V. Rencana asuhan kebidanan

Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-

langkah sebelumnya dan merupakan lanjutan manajemen terhadap diagnosa atau

masalah yang telah diidentifikasi atau diadaptasi. Rencana tindakan komprehensif bukan

hanya meliputi kondisi klien serta hubungannya dengan masalah

yang dialami oleh klien, tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap klien,

serta penyuluhan, konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah- masalah

yang berkaitan dengan sosial-ekonomi, agama, kultural ataupun masalah psikologis.

Setiap rencana asuhan harus disertai oleh klien dan bidan agar dapat

melaksanakan dengan efektif. Sebab itu harus berdasarkan rasional yang relevan dan

kebenarannya serta situasi dan kondisi tindakan harus secara teoritas.

Menurut Saifuddin (2010) rencana tindakan yang dapat yang dapat dilakukan

pada akseptor baru KB implan adalah:

1) Lakukan informed consend sebagai bukti bahwa ibu setuju dengan tindakan yang

akan dilakukan

Rasional: setiap tindakan medis yang mengandung resiko harus dengan persetujuan

tertulis yang ditanda tangani oleh yang berhak memberikan persetujuan, yaitu klien yang

bersangkutan dalam keadaan sadar dan sehat mental.

38
2) Jelaskan kepada klien hasil pemeriksaan

Rasional: untuk mengetahui keadaan klien

3) Jelaskan tentang implan (definisi, cara kerja, indikasi dan kontraindikasi,

keuntungan dan kekurangan, efek samping implan). (Varney, 2002).

Rasional: untuk menambah pengetahuan klien tentang alat kontrasepsi yang akan

di gunakan

4) Lakukan teknik pemasangan implan yang baik dan benar sesuai standar yang

berlaku

Rasional: semua tahap proses pemasangan harus dilakukan secara berhati-hati

dan lembut, untuk mencegah infeksi maupun ekspulsi.

5) Lakukan konseling pasca pemasangan tentang perawatan lukan insisi dirumah

dan berikan instruksi pada klien mengenai luka insisi tersebut.

Rasional: untuk mengantisipasi terjadinya infeksi.

f. Langkah VI. Implementasi Asuhan Kebidanan

Melaksanakan rencana tindakan serta efisiensi dan menjamin rasa aman klien.

Implementasi dapat dikerjakan keseluruhan oleh bidan ataupun bekerja sama dengan

kesehatan lain. Bidan harus melakukan implementasi yang efisien dan akan mengurangi

waktu perawatan serta akan meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan klien.

g. Evaluasi kebidanan

Mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan asuhan yang diberikan kepada

klien. Pada tahap evaluasi ini bidan harus melakukan pengamatan dan observasi terhadap

masalah yang di hadapi klien, apakah masalah diatasi seluruhnya, sebagian telah di

pecahkan atau mungkin timbul masalah baru. Pada prinsipnya tahapan evaluasi adalah

pengkajian kembali terhadap klien untuk menjawab pertanyaan sejauh mana tercapainya

rencana yang dilakukan.

Evaluasi asuhan kebidanan pada akseptor baru KB implan antara lain keadaan
39
umum baik dan tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada kendala dan komplikasi

pada saat pemasangan implan dan amati klien kurang lebih 15-20 menit untuk

kemungkinan perdarahan dari luka insisi atau efek lain sebelum memulangkan pasien

setelah pemasangan.

3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan

Pendokumentasian adalah catatan tentang interaksi antara tenaga kesehatan,

pasien, keluarga pasien, dan tim kesehatan yang mencatat tentang hasil pemeriksaan,

prosedur pengobatan pada pasien dan pendidikan kepada pasien, serta respon pasien

tehadap semua kegiatan yang dilakukan. Alur berfikir bidan dalam menghadapi klien

meliputi 7 langkah. Untuk mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan

melalui proses berfikir sistematis di dokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu :

a. S: Data Subjektif (langkah I)

Menggambarkan dokumentasi hasil pengumpulan data klien melalui anamnesis

(wawancara) yang merupakan ungkapan langsung dari identitas, keluhan masalah KB,

riwayat menstruasi, riwayat kehamilan dan nifas yang lalu, riwayat KB, riwayat

kesehatan, riwayat pemenuhan kebutuhan dasar, dan data psikologis.

b. O: Data Objektif (langkah I)

Menggambarkan pendokumentasi hasil pemeriksaan fisik klien, hasil

laboratorium, dan uji diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk

mendukung asuhan. Pada data objektif yang diperoleh dari hasil pemeriksaan (tanda

keadaan umum, tanda vital, pemeriksaan fisik, pemerikasaaan lab atau pemeriksaan

penunjang). Pemeriksaan dengan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.

c. A: Assesment/ Analisis (langkah II,III, dan IV)

Assesment merupakan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi

(kesimpulan) dari data subjektif dan objektif. (Mangkuji, 2012). Berdasarkan data yang
40
terkumpul kemudian dibuat kesimpulan meliputi diagnosis, antisipasi diagnosis, atau

masalah potensial,serta perlu tidaknya tindakan segera.

Dalam pendokumentasian manajemen kebidanan, karena keadaan pasien yang setiap

saat bisa mengalami perubahan dan akan ditemukan informasi baru dalam data subjektif

maupun data objektif. Maka proses pengkajian data akan sangat dinamis.

d. P: Planning/Perencanaan (langkah V,VI,dan VII)

Menggambarkan pendokumentasian dan perencanaan serta evaluasi berdasarkan

assessment. (Mangkuji, 2012). Rencana dari tindakan yang akan diberikan termasuk

asuhan mandiri, kolaborasi, tes diagnosis, atau laboratorium, serta konseling, untuk

tindak lanjut. Pada tahap terakhir ini melakukan kunjungan ulang dan mengkaji serta

menanyakan keadaan umum, tanda-tanda vital, riwayat menstruasi, efek samping yang

terjadi setelah memakai implan, seperti amenorea, perdarahan ringan (spotting), rasa

nyeri pada lengan, terjadi perlukaan bekas insisi mengeluarkan darah atau nanah,

ekspulsi, dan pantau berat badan.

Teori EBM (Evidence Based Midwifery)

1. Pengertian

Evidence based artinya berdasarkan bukti. Artinya tidak lagi berdasarkan

pengalaman atau kebiasaaan semata.

Evidence based midwifery adalah pemberian informasi kebidanan berdasarkan

bukti dari penelitian yang bisa dipertanggung jawabkan (Gray, 1997).

Praktik kebidanan sekarang lebih didasarkan pada bukti ilmiah hasil penelitian

dan pengalaman praktik dari para praktisi dari seluruh penjuru [Link] yang

tidak terbukti manfaatnya kini tidak dianjurkan lagi (Jayanti, 2021).

2. Manfaaat Evidence based Midwifery dalam Praktik Kebidanan

41
Dengan pelaksanaan praktik asuhan kebidanan yang berdasarkan evidence based

tersebut tentu saja bermanfaat membantu mengurangi angka kematian ibu hamil dan

risiko-risiko yang dialami selama persalinan bagi ibu dan bayi serta bermanfaat juga

untuk memperbaiki keadaan kesehatan masyarakat.

3. Kategori Evidence Based Menurut World Health Organization (2017)

Menurut WHO, Evidence based terbagi sebagai berikut:

a. Evidenve-based Medicine adalah pemberian informasi obat-obatan berdasarkan

bukti dari penelitian yang bisa dipertanggung jawabkan. Temuan obat baru yang

dapat saja segera ditarik dan peredaran hanya dalam waktu beberapa bulan setelah

obat tersebut dipasarkan, karena di populasi terbukti memberikan efek samping

yang berat pada sebagian penggunanya.

b. Evidence-based Policy adalah satu sistem peningkatan mutu pelayanan kesehatan

dan kedokteran (Clinical Governance): suatu tantangan profesi kesehatan dan

kedokteran di masa mendatang.

c. Evidence based Midwifery adalah pemberian informasi kebidanan berdasarkan

bukti dari penelitian yang bisa dipertanggung jawabkan.

d. Evidence based report adalah mengumpamakan bentuk penulisan laporan kasus

yang baru berkembang, memperlihatkan bagaimana hasil penelitian dapat

diterapkan pada semua tahapan penatalaksanaan pasien.

4. Sumber Evidence Based

Sumber EBM dapat diperoleh melalui bukti publikasi jurnal dari internet maupun

berlangganan baik hardcopy seperti majalah, bulletin, atau [Link] internet yang ada

dapat diakses, ada yang harus dibayar namun banyak pula yang public domain.

a. Kontrasepsi Inplant dan Faktor Yang Berhubungan Di BPM [Link] 2021

Variabel yang berhubungan sebab akibat dengan kejadian.

42
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan alat kontrasepsi Inplant menurut

Apriana (2012) yaitu faktor pasangan (umur,gaya hidup,jumlah keluarga yang

diinginkan ,pengalaman dengan kontrasepsi sebelumnya,social budaya,sikap dan

dukungan suami), faktor kesehatan (status kesehatan,riwayat haid,riwayat

keluarga,pemeriksaan fisik dan pemeriksaan panggul),faktor metode kontrasepsi

(efektifitas,efek samping,kerugian,komplikasi-komplikasi yang potensial dan

biaya).

c. Hubungan pendidikan dan dukungan suami dengan pemakaian Inplant di PBM

[Link] tahun 2021.

Hasil penelitian Widiawati(,2012),menemukan hubungan bermakna faktor

pendidikan dan dukungan suami terhadap pemakaian alat kontrasepsi [Link]

penelitian yang dilakukan bahwa tingkat pengetahuan 36,6% dan dukungan suami

97,2%.Ini menunjukkan tidak adanya hubungan tingkat pengetahuan dan dukungan

suami terhadap pemakaian alat kontrasepsi inplant.

Penelitian Mawarni (2018),analisa data menggunakan analisis univariat dan uji

statistik chi square dengan a<0,[Link] penelitian ini didapatkan hasil dengan p-

value 0,026 yang berarti terdapat hubungan antara umur dengan salah satu efek

samping berupa nyeri dengan koefisien kontingensi 0,35 dan terdapat p-value 0,028

yang berarti terdapat hubungan antara lama penggunaan dengan salah satu efek

samping berupa nyeri dengan koefisien 0,[Link] penelitian ini adalah

terdapat hubungan yang bermakna secara statistika antara umur dan efek samping

IUD berupa nyeri dan terdapat hubungan antara lama penggunaan dengan

perubahan pada menstruasi.

43

Anda mungkin juga menyukai