Metode Kontrasepsi dan Keluarga Berencana
Metode Kontrasepsi dan Keluarga Berencana
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Kontrasepsi
a. Keluarga berencana merupakan usaha suami isteri untuk mengukur jumlah dan jarak
anak yang diinginkan. Usaha yang dimaksud termasuk kontrasepsi atau pencegahan
mencegah sperma laki-laki mecapai dan membuahi telur wanita (fertilisasi) atau
mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplanasi ( melekat ) dan berkembang
b. Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan yang paling
dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu diakui demikian. Peningkatan
dan perluasan pelayanan keluarga berencana merupakan salah satu usaha untuk
menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu yang sedemikian tinggi akibat
kehamilan yang dialami oleh wanita. Banyak wanita yang harus menentukan pilihan
kontrasepsi yang sulit, tidak hanya terbatasnya jumlah metode yang tersedia tetapi
dengan kebijakan nasional KB, kesehatan individual dan seksualis wanita atau biaya
2. Tujuan KB
a. Tujuan umum
9
b. Tujuan khusus
2015:182 ).
3. Syarat-syarat Kontrasepsi
(Firdayanti, 2012:42).
pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa
tambahan makanan atau minuman apapun lainnya. MAL dapat dipakai sebagai
kontrasepsi bila menyusui secara penuh (full breast feeding); lebih efektif bila
pemberian ≥ 8 x sehari, belum haid dan umur bayi kurang dari 6 bulan. Efektif
2012:MK-1).
secara alamiah, tanpa menggunakan alat apapun. Metode ini dilakukan dengan
10
menentukan periode/masa subur yang biasanya terjadi sekitar 14 hari sebelum
jam), masa hidup ovum (12-24 jam), dan menghindari senggama selama kurang
lebih 7-18 hari termsuk masa subur dari setiap siklus. Kb alamiah terdiri dari metode
kalender, metode suhu badan basal (termal), metode lendir serviks (Bilings), metode
simto termal, dan koitus interuptus (Yuhedi & Kurniawati, 2015:49). Metode
Pantang berkala atau lebih dikenal dengan system kalender merupakan salah
satu cara/metode kontrasepsi sederhana yang dapat dikerjakan sendiri oleh pasangan
suami isteri dengan tidak melakukan senggama pada masa subur. Metode ini lebih
efektif bila dilakukan secara baik dan benar. Dengan penggunaan system kalender
dkk, 2012).
menstruasinya selama 6-12 bulan agar waktu ovulasi dapat ditentukan. Perhitungan
masa subur didasarkan pada ovulasi (umumnya terjadi pada hari ke 14+2 hari
sebelum menstruasi berikutnya), masa hidup ovum (24 jam), dan masa hidup
spermatozoa (2-3 hari). Angka kegagalan metode ini sebesar 14,4-47 kehamilan pada
setiap wanita 100 wanita per tahun. (Yuhedi & Kurniawati, 2015: 50)
dilakukan ketika bangun tidur sebelum beranjak dari tempat tidur). Tujuan
dilakukan pada saat yang sama setiap pagi dan setelah tidur nyenyak ±3-5 jam serta
dalam keadaan istiraha. Pengukuran dapat dilakukan per oral (3 menit), per rectal (1
11
menit) dan per vagina. Suhu tubuh basal dapat meningkat sebesar 0,2-0,5 0C ketika
ovulasi. Peningkatan suhu basal dimulai 1-2 hari setelah ovulasi disebabkan
peningkatan hormon progestero. Metode ini memiliki angka kegagalan sebesar 0,3-
6,6 per 100 wanita pertahun. Kerugian utama metode suhu basal ini adalah
abstinensia (menahan diri tidak melakukan senggama) sudah harus dilakukan pada
yang terjadi karena perubahan kadar etrogen. Pada setiap siklus mentruasi, sel
lendir jenis ini diproduksi pada fase akhir sebelum ovulasi dan fase ovulasi. Sifat
lendir ini banyak, tipis, seperti air (jernih) dan viskositas rendah, elastisitas besar,
bila dikeringkan akan membentuk gambaran seperti daun pakis (fernlike patterns,
pada fase awal sebelum ovulasi dan setelah ovulasi. Sifat lendir ini kental,
viskositas tinggi dan kerun. Angka kegagalan 0,4-39,7 kehamilan pada 100 wanita
per tahun. Kegagalan ini disebabkan pengeluaran lendir yang mulainya terlambat,
lendir tidak dirasakan oleh ibu dan kesalahan saat menilai lendir. (Yuhedi &
karena perubahan kadar estrogen untuk menentukan saat yang aman untuk
bersenggama. Metode simto termal ini gabungan dari metode suhu basal, metode
lendir serviks , dan metode kalender. Tanda dari salah satu metode tersebut dapat
dipakai untuk mencocokkan dengan metode lainnya sehingga dapat lebih akurat
12
catatan lendir serviks dapat bermanfaat pada saat suhu tubuh tinggi karena
demam. Angka kegagalan metode ini sebesar 4,9-34,4 kehamilan pada 100
4) Coitus Interuptus
setelah itu masih ada waktu kira-kira “detik” sebelum ejakulasi terjadi. Waktu
yang singkat ini dapat digunakan untuk menarik penis keluar dari vagina.
pengendalian diri yang besar dari pihak laki-laki (Prabowo, Edisi 3:438).
Kelebihan dari cara ini adalah tidak memerlukan alat/obat sehingga relatif sehat
1) Kondom
berbagai bahan di antaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami
(produksi hewani) yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual. Kondom
terbuat dari karet sintetis yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya
berpinggir tebal, yang bila di gulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk
seperti puting susu. Berbagai bahan yang ditambahnkan pada kondom baik untuk
berbagai aktivitas seksual. Kondom ini tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi
juga mencegah IMS termasuk HIV/AIDS. Pada umunya standar ketebalan adalah
13
0,02 mm. Secara ilmiah didapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu
Cara kerja kondom adalah menghalangi spermatozoa agar tidak masuk kedalam
a) Diafragma
Diafragma adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet)
serviks. Cara kerja diafragma adalah menahan sperma agar tidak mendapat akses
mencapai saluran alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba falopii) dan sebagai
kehamilan per 100 wanita pertahun. Akan tetapi, berdasarkan praktik angka
kegagalan penggunaan kontrasepsi ini adalah sebesar 6-25 kehamilan per 100 wanita
b) Kap Serviks
Metode Lendir Serviks atau lebih dikenal dengan Metode Ovulasi Billings
(MOB), dilakukan dengan wanita mengalami lendir serviksnya setiap hari. Lendir
berfariasi selama siklus, mungkin tidak ada lendir atau mungkin terlihat lengket dan
jika direntangkan diantara kedua jari, akan putus lendir tersebut dikenal dengan
lendir tidak subur (Everett, 2012:43). Ibu post partum <6-12 minggu juga tidak boleh
mnggunakan kap serviks, akan lebih baik bagi ibu memakai kondom jika melakukan
senggama. Efektivitas kap serviks cukup baik, hal ini dibuktikan dengan tingkat
kegagalan pemakaian yang berkisar 8-20 kehamilan pada setiap 100 wanita pertahun.
14
Selain itu, kegagalan metode berkisar pada 2 kehamilan pada setiap 100 wanita per
c) Spons
mengandung spermisida. Pada salah satu sisi berbentuk cekung (konkaf) agar dapat
menutupi serviks dan pada sisi lainnya terdapat tali untuk mempermudah
pengeluaran. Kontrasepsi jenis ini dapat menimbulkan efek samping dan komplikasi
seperti kemungkinan infeksi vagina oleh jamur tambahan banyak. Angka kegagalan
metode kontrasepsi ini adalah sebesar 5-8 kehamilan (secara teoretis) hingga 9-
27 kehamilan (secara praktis) pada setiap 100 wanita pertahun. (Yuhedi &
d) Kondom Wanita
kondom. Alasan utama dibuatnya kondom wanita karena kondom pria dan diafragma
biasa tidak dapat menutupi daerah perineum sehingga masih ada kemungkinan
e) Spermisida
Spermicida adalah suatu zat atau bahan kimia yang dapat mematikan dan
tidak dapat membuahi sel telur. Spermicida dapat berbentuk tablet vagina, krim dan
jelly, aerosol (busa/foam), atau tisu KB. Cukup efektif apabila dipakai dengan
kontrasepsi lain seperti kondom dan diafragma. Angaka kegagalan 11-31%. (Padila,
2014:210).
d. Kontrasepsi Hormonal
1) Pil KB
15
a) Pil Kombinasi
Pil kombinasi ini dapat diminum setiap hari, efektif dan reversibel, pada
bulan-bulan pertama efek samping berupa mual dan perdarahan bercak yang tidak
berbahaya dan segera akan hilang, efek samping serius jarang terjadi, dapat dipakai
semua ibu usia reproduki, baik yang sudah mempunyai anak maupun belum, dapat
dimulai diminum setiap saat bila yakin sedang tidak hamil, tidak dianjurkan pada ibu
yang mnyusui dan dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat. Pil kombinasi dibagi
menjadi 3 jenis, yaitu pil monofasik yaitupil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet
mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosisi yang sama, dengan
7 tablet tanpa hormon aktif, sedangkan pil bifasik yaitu pil yang tersedia dalam
dosisi yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif, dan pil trifasik, yaitu pil
estrogen/progesteron (E/P) dengan tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa
Kontrasepsi minipil ini cocok untuk perempuan menyusui yang ingin memakai
pil KB, sangat efektif pada masa laktasi, dosis rendah, tidak menurunkan produksi
ASI, tidak memberikan efek samping estrogen, efek samping utama adalah gangguan
perdarahan; perdarahan bercak, atau perdarahan tidak teratur, dan dapat dipakai
kontrasepsi darurat. Kontrasepsi mini pil dibagi menjadi 2 jenis, yaitu kemasan
dengan isi 35 pil 300 µg levonorgestrel atau 350 µg noretindron, dan kemasan
dengan isi 28 pil 75µg desogesterel. Kontrasepsi mini pil sangat efektif (98,5%),
pada pengguna mini pil jangan sampai ada tablet yang terlupa, tablet digunakan pada
jam yang sama (malam hari), dan senggama sebaiknya dilakukan 3- 20 jam setelah
16
penggunaan mini pil. (Prawirohardjo, 2012, MK-50-51)
2) Kontrasepsi Suntik
Suntik KB ada dua jenis yaitu, suntik KB 1 bulan (cyclofem) dan suntik KB 3
bulan (DMPA. Efek sampinya terjadi gangguan haid, depresi, keputihan, jerawat,
perubahan berat badan, pemakaina jangka panjang bisa terjadi penurunan libido, dan
selaput lendir rahim tipis dan atrofi dan menghambat transportasi gamet oleh tuba.
Kedua kontrasepsi suntik tersebut memiliki efektifitas yang tinggi, dengan 0,3
kehamilan per 100 perempuan per tahun, asal penyuntikannya dilakukan secara
3) Kontrasepsi Implant
lengan atas. Cara kerjanya sama dengan pil, implan mengandung levonogestrel.
Keuntungan dari metode implan ini antara lain tanah sampai 5 tahun, kesuburan akan
(polyethylene). Ada yang dililit tembaga (Cu), ada pula yang tidak, ada pula yang
dililit tembaga bercampur perak (Ag). Selain itu ada pula yang dibatangnya berisi
a) Tubektomi
17
Tubektomi adalah metode kontrasepsi untuk perempuan yang tidak ingin anak
seorang klien sesuai untuk menggunakan metode ini. Tubektomi termasuk metode
efektif dan tidak menimbulkan efek samping jangka panjang, Jarang sekali tidak
pemotongan tuba fallopi agar ovum tidak dapat dibuahi oleh sperma, cara kerja
tubektomi adalah perjanan ovum terhambat karena tuba fallopi tertutup.(Yuhedi &
Kurniawati, 2015:107).
b) Vasektomi
Vasektomi adalah metode kontrasepsi untuk lelaki yang tidak ingin anak lagi.
fisik dan pemeriksaan tambahan lainnya untuk memastikan apakah seorang klien
yang dibungkus dalam kapsul silastik-silikon dan di susukan di bawah kulit, setiap
implan ini kemudian dimasukkan kedalam kulit dibagian lengan atas. Hormon
18
tersebut kemudian akan dilepaskan secara perlahan dan impalnt ini dapat efektif
pasang dilengan atas. Cara kerjanya sama dengan pil, implant mengandung
lenovogestrel. Keuntungan dari metode implan ini antra lain tahan sampai 5 tahun,
a. Norplant
sekitar 50% bahan aktif levonorgestrel asal yang belum terdistribusi kejaringan
Terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm,
c. Indoplant /Jadena
19
kontrasepsi progestin pada umumnya, mekanisme utamanya adalah menebalkan
mukus serviks sehingga tidak dilewati oleh sperma. Walaupun pada konsentrasi
levonogestrel di dalam tubuh, yang terjadi secara terus menerus dan stabil selama
kapsul, atau 6 kapsul silastik implan di bawah kulit, maka setiap hari dilepaskan
secara tetap sejumlan levonorgestrel ke dalam darah melalui proses difusi dari
kapsul-kapsul yang terbuat dari bahan silastik. Besar kecilnya levonogestrel yang
dilepas tergantung besar kecilnya permukaan kapsul silastik dan ketebalan dari
dinding kapsul tersebut. Satu set implan terdiri dari 6 kapsul dan dapat bekerja
secara efektif selama 5 tahun. Sedangkan implanon yang terdiri dari 1 atau kapsul
dapat bekerja secara efektif selama 3 tahun. (Mulyani & Rinawati, 2013:111-
112).
a. Amenorea
kehamilan dan ingin melanjutkan kehamilan, cabut implan. Rujuk klien jika di duga
Tidak perlu tindakan apapun jika tidak ada masalah dank klien tidak hamil.
Apabila klien tetap mengeluh permasalahan ini dan ingin tetap menggunakan implan,
berikan pil kombinasi 1 siklus atau ibu profen 3x800 mg selama 5 hari, jelaskan
bahwa akan terjadi perdarahan kembali setelah pil kombinasi habis. Apabila
terjadiperdarahan yang lebih banyak dari biasa. Beri 2 tablet pil kombinasi selama 3-
c. Ekspulsi
Cabut kapsul ekspulsi, periksa apakah terdapat tanda infeksi daerah insersi bila
tidak ada infeksi dan kapsul lain masih berada pada tempatnya, pasang 1 buah kapsul
baru pada tempat insersi yang berbeda. Bila ada infeksi, cabut seluruh kapsul yang
Bila terdapat infeksi tanpa nanah, bersihkan dengan, sabun, air, dan antiseptik.
Berikan antibiotik selama 7 hari, tetapi implan tidak perlu dilepas dan minta klien
untuk kembali setelah 7 hari. Apabila tidak terjadi perbaikan. Cabut implant.
Beri tahu klien bahwa perubahan berat badan 1-2 kg adalah normal. apabila
terjadi perubahan berat badan > 2 kg, kaji kembali diet klien.
a. Keuntungan
21
1) Daya guna tinggi
a. Kekurangan
1) Implan harus dipasang dan diangkat oleh petugas kesehatan yang terlatih
2) Wanita nulipara atau yang sudah mempunyai anak atau yang belum mempunyai
22
anak.
efektifitas tinggi.
4) Wanita setelah keguguran dan setelah melahirkan, yang menyusui atau yang
tidak menyusui.
5) Wanita yang tidak menginginkan anak lagi tetapi menolak untuk sterilisasi.
penyebabnya.
amenorea.
payudara.
5) Wanita hipertensi
2015:105-106).
7. Efektifitas
d. Menekan ovulasi
e. 99% Sangat efektif ( kegagalan 0,2-1 kehamilan per 100 perempuan). (Tresawati,
23
2013: 125)
f. Pada umumnya, risiko kehamilan kurang dari 1 di antara 100 ibu dalam 1 tahun
(Kemenkes, 2013)
Pemasangan implant dilaksanakan pada bagian tubuh yang jarang bergerak atau
pemasangan implant, yang sebelumnya dilakukan anastesi lokal (Mulyani & Rinawati,
2013:115).
6) 3 mangkok steril atau DTT (1 untuk larutan antiseptik, 1 tempat air DTT/steril,
kapas dan 1 lagi untuk tenpat kapsul implan-2. Kapsul implant-2 plus dan fin ada
8) Larutan antiseptik
10) Tabung suntik (5 atau 10 ml) dan jarum suntik dengan paanjang 2,5-4 cm
(nomor 22).
13) Pola terbuat dari plastik (template) untuk menandai posisi kapsul (huruf V).
24
14) Band aid (plester untuk luka ringan) atau kasa steril dengan plaster.
16) Epinefrin untuk syok anafilaktik (harus selalu tersedia untuk keadaan darurat).
b. Pemasangan Implant
Kapsul implant di pasang tepat di bawah kulit, di atas lipat siku, di daerah medial
lengan atas. Untuk tempat pemasangan kapsul, pilihlah lengan klien yang jarang di
gunakan.
c. Langkah Pemasangan
sedang minum obat yang dapat menurunkan efektivitas implan, sudah pernah mendapat
anastesi lokal sebelumnya, dan alergi terhadap obat anastesi lokal atau jenis obat lainnya.
1) Persiapan
a) Langkah 1
Pastikan klien telah mencuci dan membilas lengan atas hingga bersih. Periksa
kembali tidak ada sisa sabun karena dapat menurunkan efektivitas antiseptik tertentu.
b) Langkah 2
Lapisi tempat penyangga lengan atau meja samping dengan kain bersih.
c) Langkah 3
Persilahkan klien berbaring dan lengan atas yang telah disiapkan, ditempatkan diatas
meja penyangga, lengan atas membentuk sudut 30 o terhadap bahu dan sendi siku 90o
d) Langkah 4
Tentukan tempat pemasangan yang optimal, 8 cm (3 inci) diatas lipat siku dan reka
e) Langkah 5
Siapkan tempat peralatan dan bahan serta buka bungkus steril tanpa menyentuh
25
peralatan yang ada didalamnya. Untuk implan 2 plus, kapsul sudah berada di dalam
trokar.
f) Langkah 6
Buka dengan hati-hati kemasan steril indoplant dengan menarik kedua lapisan
a) Langkah 1
Cuci tangan dengan sabun dan air, keringkan dengan kain bersih
b) Langkah 2
Pakai sarung tangan steril atau DTT (ganti sarung tangan untuk setiap klien guna
c) Langkah 3
Atur alat dan bahan-bahan sehingga mudah dicapai, hitung kapsul untuk memastikan
jumlahnya sudah 2.
d) Langkah 4
yang berlebihan bila larutan ini mengaburkan tanda yang sudah dibuat sebelumnya.
e) Langkah 5
Fokuskan area pemasangan dengan menempatkan kain penutup (doek) atau kertas
f) Langkah 6
Setelah memastikan (dari anamnesa) tidak ada riwayat alergi terhadap obat anastesi,
isi alat suntik dengan 3 ml obat anastesi (lidocaine 1%, tanpa epinefrin). Dosis ini
sudah cukup untuk menghilangkan rasa sakit selama memasang dua kapsul implan-2.
26
g) Langkah 7
Lakukan anastesi lokal: intrakutan dan subdermal. Hal ini akan membuat kulit
terangkat dari jaringan lunak di bawahnya dan dorong jarum untuk menyuntikkan
1) Pemasangan kapsul
Sebelum membuat insisi, pastikan efek anastesi telah berlangsung dan sensasi nyeri
hilang.
a) Langkah 1
Pegang skalpel dengan sudut 45o buat insisi dangkal hanya untuk sekedar menembus
b) Langkah 2
Trokar harus di pegang dengan ujung yang tajam menghadap keatas. Tanda 1 dekat
Tanda 2 dekat ujung menunjukkan batas pencabutan trokar setekah memasang setiap
kapsul.
c) Langkah 3
Dengan trokar di mana posisi angka (impaln-2) dan panah (impant-2 plus)
menghadap ke atas masukkan ujung trokar pada luka insisi dengan posisi 45 o (saat
memasukkan ujung trokar) kemudian turunkan menjadi 30o saat memasuki lapisan
subdermal dan sejajar permukaan kulit saat mendorong hingga tanda 1 (3- 5 mm dari
pangkal trokar).
d) Langkah 4
Untuk meletakkan kapsul tepat di bawah kulit, angkat trokar ke atas, sehingga kulit
terangkat. Masukkan trokar perlahan-lahan dan hati-hati ke arah tanda (1) dekat
Saat trokar masuk sampai tanda (1), cabut pendorong dari trokar (implan-2). Untuk
implan-2 plus, justru pendorong dimasukkan (posisi panah disebelah atas) setelah
tanda 1 tercapai dan diputar 180o searah jarum jam hingga terbebas dari tahanan
karena ujung pendorong memasuki alur kapsul yang ada didalam saluran trokar.
f) Langkah 6
Masukkan kapsul pertama kedalam trokar. Gunakan pinset atau klem untuk
mengambil kapsul dan memasukkan kedalam trokar. Untuk mencegah kapsul jatuh
pada waktu dimasukkan kedalam trokar, letakkan satu tangan di bawah kapsul untuk
menangkap bila kapsul tersebut jatuh. Langkah ini tidak di lakukan pada impalan-2
plus karena kapsul sudah ada didalam trokar. Dorong kapsul sampai seluruhnya
g) Langkah 7
Gunakan pendorong untuk mendorong kapsul ke arah ujung trokar sampai terasa ada
tahanan (jika setengah bagian pendorong masuk ke dalam trokar). Untuk implan-2
plus, setelah pendorong masuk jalur kapsul maka dorong kapsul hingga terasa ada
tahanan.
h) Langkah 8
Tahan pendorong ditempatya kemudian tarik trokar dengan menggunakan ibu jari
dan telunjuk mendekati pangkal pendorong sampai tanda 2 muncul diluka insisi dan
tidak akan mencapai pangkal pendorong (tertahan di tengah) karena terhalang oleh
i) Langkah 9
Saat pangkal trokar menyentuh pegangan pendorong, tanda (2) harus terlihat ditepi
luka insisi dan kapsul saat itu keluar dari trokar tepat berada di bawah kulit.
28
Raba ujung kapsul dengan jari untuk memastikan kapsul sudah keluar seluruhnya
dari trokar.
j) Langkah 10
Tanpa mengeluarkan seluruh trokar, putar ujung dari trokar ke arah lateral kanan dan
Selanjutnya geser trokar sekitar 30o, mengikuti pola huruf V pada lengan (fiksasi
kapsul pertama dengan jari telunjuk) dan masukkan kembali trokar mengikuti alur
kali V sebelahnya sampai tanda (1). Bila tanda (1) sudah tercapai, masukkan kapsul
sampai seluruh kapsul terpasang. Untuk implan-2 plus, kapsul kedua di tempatkan
kemudian pendorong di putar 180o berlawanan dengan arah jarum jam hingga
ujungnya mencapai pangkal kapsul kedua dan trokar ditarik kembali ke arah pangkal
pendorong.
k) Langkah 11
Pada pemasangan kapsul berikutnya, untuk mengurangi resiko atau ekpulsi, pastikan
bahwa ujung kapsul yang terdekat kurang lebih 5 mm dari tepi luka insisi. Juga
pastikan jarak antara ujung setiap kapsul yang terdekat dengan tepi luka insisi (dasar
l) Langkah 12
Saat memasang kedua kapsul satu demi satu, jangan mencabut trokar dari luka insisi
pemasangan.
m) Langkah 13
Sebelum mencabut trokar, raba kapsul untuk memastikan kedua kapsul telah
terpasang.
29
n) Langkah 14
Pastikan ujung dari kedua kapsul harus cukup jauh dari luka insisi (sekitar 5 mm).
Bila sebuah kapsul keluar atau terlalu dekat dengan luka insisi, harus dicabut dengan
o) Langkah 15
Setelah kedua kapsul terpasang dan posisi setiap kapsul sudah dipastikan tepat
keluarkan trokar pelan-pelan. Tekan tempat insisi dengan jari menggunakan kasa
dengan asntiseptik.
a) Tentukan tepi kedua insisi dan gunakan band aid tau plaster dengan kasa steril unutk
menutup luka insisi. Luka insisi tidak perlu dijahit karena dapat menimbulkan
jaringan parut.
a) Sebelum melepas sarung tangan, masukkan alat-alat ke wadah yang berisi klorin
0,5% untuk dekontaminasi. Dekontaminasi juga jarum dan alat suntik, pendorong
dan trokar.
b) Kain penutup (bila digunakan) harus dicuci sebelum dipakai lagi. Taruh di dalam
kapas dan lain-lain) dalam kontainer yang anti bocor dan diberi tanda, atau dalam
kantong plastik.
b) Bila menggunakan sarung tangan sekali pakai, celupkan sebentar tangan yang masih
30
memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin, kemudian lepaskan sarung tangan
c) Bila menggunakan sarung tangan pakai ulang, celupkan sebentar tangan yang masih
memakai sarung tangan kedalam larutan klorin, lepaskan secara terbalik dan
3) Perawatan klien
a) Buat catatan pada rekam medik tempat pemasangan kapsul dan kejadian tidak umum
b) Amati klien lebih kurang 14 sampai 20 menit untuk kemungkinan perdarahan dari
luka insisi atau efek lain sebelum memulangkan klie. Beri petunjuk untuk perawatan
1) Mungkin akan terjadi memar, bengkak atau sakit didaerah insisi selama beberapa
2) Jaga luka insisi tetap kering dan bersih selama paling sedikit 48 jam. Luka insisi
dapat mengalami infeksi bila basah saat mandi atau mencuci pakaian
3) Jangan mambuka pembalut tekan selama 48 jam dan biarkan band aid
4) Klien dapat segera bekerja secara rutin. Hindari benturan atau luka didaerah
5) Setelah luka insisi sembuh, daerah tersebut dapat disentuh dan dibersihkan
31
6) Bila terdapat tanda-tanda infeksi seperti demam, daerah insisi kemerahan dan
panas atau sakit yang menetap selama beberapa hari, segera kembali ke klinik.
2) Bila terjadi abses (dengan atau tanpa ekspulsi kapsul), cabut semua kapsul.
(Prawirohardjo, 2012:PK-18-28).
a. Puskesmas
b. Klinik KB
c. BPS/RB
d. Dokter kandungan
pemasangan implan.
b. Sesudah pemasangan implan, kemungkinan ibu akan mengalami rasa nyeri pada
tempat pemasangan. Beri tahu ibu untuk tidak khawatir karena hal ini hanya terjadi
sebentar dan tidak diperlukan tindakan apapun. Akan tetapi, jika nyeri tidak
tertahankan beri tahu ibu untuk segera pergi meminta bantuan bidan atau dokter
c. Selama 3 hari sesudah pemasangan, ibu diperbolehkan mandi tetapi jaga supaya
d. Setelah disuntik, ibu dapat melakukan kegiatan seperti biasa, misalnya berkebun,
e. Pada hari kelima, balutan pada bekas tempat pemasangan boleh di buka. Lihat dan
32
perhatikan, jika bekasnya sudah kering tidak perlu dibalut lagi.
f. Kemungkinan siklus menstruasi ibu menjadi tidak teratur yang merupaka salah satu
efek samping pemakaian kontrasepsi implan. Sarankan ibu untuk membicarakan hal
g. Jika ada keluhan, pergi kepelayanan kesehatan agar mendapat pertolongan dari
h. Sesudah lima tahun, kunjungi pelayanan kesehatan untuk mencabut implan. Jika
masih ingin menggunakan implan, dokter atau bidan akan menggantinya dengan
selama dua puluh satu bulan, sedangkan di kandung hanya 6 bulan, ketika itu
masa penyusuannya adalah 24 bulan. Tentu saja, ibu yang menyusukan memerlukan
biaya agar kesehatannya tidak terganggu dan air susunya selalu tersedia. (Shihab, M.
Quraish, 2002)
penuh yaitu bagi yang menyempurnakan penyusuan secara tidak langsung ayat ini
menjelaskan bahwa dalam menyusui secara teratur selama 2 tahun maka dapat mencegah
meningkat, dan menekan hormon progesteron dan estrogen sehingga tidak terjadi ovulasi
atau kesuburan tidak kembali, hal ini dapat menjarangkan kehamilan. (Saifuddin, 2010).
dalam urutan yang logis untuk keuntungan pasien dan pemberian asuhan. (Nurhayati,
2013: 139).
satu upaya yang dapat digunakan dalam manajemen kebidanan. Varney berpendapat
berfikir secara kritis untuk menegakkan diagnosa atau masalah potensial kebidanan.
Selain itu, diperlukan pula kemampuan kolaborasi atau kerja sama. Hal ini dapat
digunakan sebagai dasar dalam perencanaan kebidanan selanjutnya. (dalam Wildan dan
Proses manajemen terdiri dari 7 (tujuh) langkah berurutan diaman setiap langkah
disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan
berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap
yang diaplikasikan dalam situasi apapun. Akan tetapi langkah dapat diuraikan lagi
menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan bisa berubah sesuai dengan kondisi klien.
Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap
dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. (Mangkuji, dkk, 2012). Untuk
1) Data Subjektif
Data subjektif adalah berisi tentang data dari pasien melalui anamnesa
162).
34
a) Keluhan utama yaitu untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas kesehatan
disminorea, banyaknya menstruasi, teratur atau tidak, sifat darah, dan keluhan
c) Riwayat kehamilan dan nifas yang lalu yaitu untuk mengetahui jumlah kehamilan
sebelumnya dan hasil akhirnya (abortus, lahir hidup, apakah anaknya dalam keadaan
hidup dan apakah dalam kesehatan yang baik), apakah terdapat komplikasi intervasi
pada kehamilan, persalinan, ataupun nifas sebelumnya dan apakah ibu tersebut
mengetahui peyebabnya.
d) Riwayat KB yang perlu dikaji adalah apakah ibu pernah menjadi akseptor KB, dan
kalau pernah kontrasepsi apa yang pernah digunakan, berapa lama, keluhan pada saat
e) Riwayat kesehatan terdiri dari riwayat penyakit sekarang, dan riwayat penyakit
keluarga.
pola makanan sehari-hari apakah terpenuhi gizinya atau tidak terdiri dari pola nutrisi,
g) Data psikologis untuk memperkuat data dari pasien terutama secara psikologis, data
meliputi dukungan suami dan keluarga kepada ibu mengenai alat kontrasepsi.
2) Data Obyektif
Data obyektif adalah data yang didapat dari hasil observasi malalui
a) Pemeriksaan umum terdiri dari keadaan umum untuk mengetahui keadaan pasien
35
serta berat badan pasien karena merupakan salah satu efek samping KB implant.
Untuk mengetahui faktor resiko hipertensi atau hipotensi dengan nilai satuannya
(2) Pengukuran suhu untuk mengetahui suhu badan pasien, suhu badan normal
adalah 36oC sampai 37o. bila suhu lebih dari 37,5oC harus dicurigai adanya
infeksi.
sampai 88x/menit.
(4) Pernafasan mengetahui sifat pernafasan dan bunyi nafas dalam satu menit.
c) Pemeriksaan fisik
pemeriksaan fisik dilakukan secara inspeksi dan palpasi dan dilakukan pemeriksaan
Kelengkapannya data yang sesuai dengan kasus yang dihadapi akan menetukan, oleh
karena itu proses interpretasi yang benar atau tidak dalam tahap selanjutnya, sehingga
dalam pendekatan ini harus komprehensif dalam meliputi data subjektif, objektif dan
hasil pemeriksaan sehingga dapat menggembarkan kondisi atau masukan klien yang
sebenarnya.
d) Data penunjang
Data penunjang ini digunakan untuk mengetahui kondisi klien sebagai data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar tehadap diagnosa atau
masalah kebutuhan klien berasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulakan. Langkah awal dari perumusan diagnosis atau masalah adalah pengolahan
dan analisis data dengan menggabungkan data satu dengan data yang lainnya sehingga
kebidanan. Dasar untuk menegakkan diagnosa calon akseptor KB implant Dari data
Subjektif yang diperoleh bahwa ibu mengatakan ingin menggunakan KB jangka panjang
untuk pertama kalinya dan ibu memilih untuk KB implant, sedangkan dari hasil
pemeriksaan yaitu data objektif bahwa, keadaan umum baik, kesadaran composmentis,
TTV normal, hasil pemeriksaan fisik tidak ada kelainan dan pemeriksaan laboratorium
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis potensial
ini benar-benar terjadi. Langkah ini sangat penting dalam melakukan asuhan yang aman.
Yang mungkin terjadi pada kasus akseptor implan pada saat pemasangan akan terdapat
memar, bengkak dan nyeri pada insisi selama beberapa hari adalah kemungkinan adanya
tanda infeksi.
konsultasi, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang alin berdasarkan kondisi klien,
pada langkah ini bidan juga harus merumuskan tindakan emergency untuk
menyelamatkan ibu dan bayi, yang mampu dilakukan secara mandiri dan bersifat
rujukan.
Tindakan segera dilakukan jika terjadi, jika ibu mengalami efek samping atau
keluhan yang mengancam maka dilakukan tindakan kolaborasi pada akseptor implan
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-
masalah yang telah diidentifikasi atau diadaptasi. Rencana tindakan komprehensif bukan
yang dialami oleh klien, tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap klien,
serta penyuluhan, konseling dan apakah perlu merujuk klien bila ada masalah- masalah
Setiap rencana asuhan harus disertai oleh klien dan bidan agar dapat
melaksanakan dengan efektif. Sebab itu harus berdasarkan rasional yang relevan dan
Menurut Saifuddin (2010) rencana tindakan yang dapat yang dapat dilakukan
1) Lakukan informed consend sebagai bukti bahwa ibu setuju dengan tindakan yang
akan dilakukan
Rasional: setiap tindakan medis yang mengandung resiko harus dengan persetujuan
tertulis yang ditanda tangani oleh yang berhak memberikan persetujuan, yaitu klien yang
38
2) Jelaskan kepada klien hasil pemeriksaan
Rasional: untuk menambah pengetahuan klien tentang alat kontrasepsi yang akan
di gunakan
4) Lakukan teknik pemasangan implan yang baik dan benar sesuai standar yang
berlaku
Melaksanakan rencana tindakan serta efisiensi dan menjamin rasa aman klien.
Implementasi dapat dikerjakan keseluruhan oleh bidan ataupun bekerja sama dengan
kesehatan lain. Bidan harus melakukan implementasi yang efisien dan akan mengurangi
g. Evaluasi kebidanan
klien. Pada tahap evaluasi ini bidan harus melakukan pengamatan dan observasi terhadap
masalah yang di hadapi klien, apakah masalah diatasi seluruhnya, sebagian telah di
pecahkan atau mungkin timbul masalah baru. Pada prinsipnya tahapan evaluasi adalah
pengkajian kembali terhadap klien untuk menjawab pertanyaan sejauh mana tercapainya
Evaluasi asuhan kebidanan pada akseptor baru KB implan antara lain keadaan
39
umum baik dan tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada kendala dan komplikasi
pada saat pemasangan implan dan amati klien kurang lebih 15-20 menit untuk
kemungkinan perdarahan dari luka insisi atau efek lain sebelum memulangkan pasien
setelah pemasangan.
pasien, keluarga pasien, dan tim kesehatan yang mencatat tentang hasil pemeriksaan,
prosedur pengobatan pada pasien dan pendidikan kepada pasien, serta respon pasien
tehadap semua kegiatan yang dilakukan. Alur berfikir bidan dalam menghadapi klien
meliputi 7 langkah. Untuk mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan
(wawancara) yang merupakan ungkapan langsung dari identitas, keluhan masalah KB,
riwayat menstruasi, riwayat kehamilan dan nifas yang lalu, riwayat KB, riwayat
laboratorium, dan uji diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk
mendukung asuhan. Pada data objektif yang diperoleh dari hasil pemeriksaan (tanda
keadaan umum, tanda vital, pemeriksaan fisik, pemerikasaaan lab atau pemeriksaan
(kesimpulan) dari data subjektif dan objektif. (Mangkuji, 2012). Berdasarkan data yang
40
terkumpul kemudian dibuat kesimpulan meliputi diagnosis, antisipasi diagnosis, atau
saat bisa mengalami perubahan dan akan ditemukan informasi baru dalam data subjektif
maupun data objektif. Maka proses pengkajian data akan sangat dinamis.
assessment. (Mangkuji, 2012). Rencana dari tindakan yang akan diberikan termasuk
asuhan mandiri, kolaborasi, tes diagnosis, atau laboratorium, serta konseling, untuk
tindak lanjut. Pada tahap terakhir ini melakukan kunjungan ulang dan mengkaji serta
menanyakan keadaan umum, tanda-tanda vital, riwayat menstruasi, efek samping yang
terjadi setelah memakai implan, seperti amenorea, perdarahan ringan (spotting), rasa
nyeri pada lengan, terjadi perlukaan bekas insisi mengeluarkan darah atau nanah,
1. Pengertian
Praktik kebidanan sekarang lebih didasarkan pada bukti ilmiah hasil penelitian
dan pengalaman praktik dari para praktisi dari seluruh penjuru [Link] yang
41
Dengan pelaksanaan praktik asuhan kebidanan yang berdasarkan evidence based
tersebut tentu saja bermanfaat membantu mengurangi angka kematian ibu hamil dan
risiko-risiko yang dialami selama persalinan bagi ibu dan bayi serta bermanfaat juga
bukti dari penelitian yang bisa dipertanggung jawabkan. Temuan obat baru yang
dapat saja segera ditarik dan peredaran hanya dalam waktu beberapa bulan setelah
Sumber EBM dapat diperoleh melalui bukti publikasi jurnal dari internet maupun
berlangganan baik hardcopy seperti majalah, bulletin, atau [Link] internet yang ada
dapat diakses, ada yang harus dibayar namun banyak pula yang public domain.
42
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan alat kontrasepsi Inplant menurut
biaya).
penelitian yang dilakukan bahwa tingkat pengetahuan 36,6% dan dukungan suami
statistik chi square dengan a<0,[Link] penelitian ini didapatkan hasil dengan p-
value 0,026 yang berarti terdapat hubungan antara umur dengan salah satu efek
samping berupa nyeri dengan koefisien kontingensi 0,35 dan terdapat p-value 0,028
yang berarti terdapat hubungan antara lama penggunaan dengan salah satu efek
terdapat hubungan yang bermakna secara statistika antara umur dan efek samping
IUD berupa nyeri dan terdapat hubungan antara lama penggunaan dengan
43