0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan6 halaman

Perlengkapan Upacara Pitra Yadnya

Dokumen tersebut menjelaskan peralatan upacara yang diperlukan dalam pelaksanaan Pitra Yadnya (upacara penghormatan arwah leluhur) di Bali, antara lain: pepaga, lante, tumpang salu, pelengkungan, pengulungan, tatindih, dan berbagai peralatan lain seperti petulangan, bale gumi, sekarura, ampilan, yang berfungsi sebagai tempat atau simbol dalam prosesi penghormatan arwah.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan6 halaman

Perlengkapan Upacara Pitra Yadnya

Dokumen tersebut menjelaskan peralatan upacara yang diperlukan dalam pelaksanaan Pitra Yadnya (upacara penghormatan arwah leluhur) di Bali, antara lain: pepaga, lante, tumpang salu, pelengkungan, pengulungan, tatindih, dan berbagai peralatan lain seperti petulangan, bale gumi, sekarura, ampilan, yang berfungsi sebagai tempat atau simbol dalam prosesi penghormatan arwah.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Uperangga (Peralatan Kelengkapan)

Pitra Yadnya
Pada pelaksanaan Pitra Yajna biasanya diperlukan perlengkapan upacara baik
sebagai tempat maupun simbol- simbol yang diperlukan pada setiap tahapan
upacara antara lain :

[Link]/tandu dan leluwur

Pepaga/pandyusangan adalah bale terbuat dari bambu diberialas tikar yang


digunakan untuk memandikan sawa yang baru meninggal, dengan panjang
ukuran jenasah ditambah dua jengkal, lebar 80 cm (disesuaikan). Tinggi
pepaga setinggi pusar manggala karya (kelian) dan empat tiangnya dibuat
setimggi 175 cm yang diujung diatas tiang tersebut dipasangkan “leluwur”
dari kain putih.

[Link]/rante

Dibuat dari sebitan paenjalian atau rotan. Penjalin ini digulungkan dengan
tali “ketikung” yang dibuat dari penjalin. Ketekung adalah perubahan dari
ulat menjadi kupu-kupu. Demikianlah diibaratkan manusia mati, yang
merupakan proses untuk lahir kembali menjadi manusia.

[Link] Salu

Adalah tempat dimana sawa yang ada dalam peti bandusa mendapatkan
penyucian (Samskara) oleh Pandita. Tumpang Salu ini dibuat dari bamboo
gading. Balainya diikat dengan kawat Panca Datu yaitu emas, perak,
tembaga, timah, dan besi. Dengan demikian, balainya merupakan symbol dari
bumi. Dinding belakangnya bertumpang. Oleh karenanya bale ini disebut
“Tumpang Salu”. Tumpang Salu merupakan “pelinggihan” Sawa dan rohnya.
Ia diibaratkan Naga Tatsaka yang akan menerbangkan roh.

[Link]

Penutup Tumpang Salu yang dibuat dari sebitan bambu yang diulat seperti
bedeg jarang, panjangnya sampai menutup Tumpang Salu sehingga tidak
kelihatan.

[Link]
Dibuat dengan tikar dan kain putih (kasa). Kain putih yang bertuliskan
“Padma”dengan aksara “Walung Kapala”. Aksara Walung Kapala adalah
aksara kulit manusia. Jadi pengulungan adalah simbolik dari kulit itu sendiri.

[Link]

Adalah kain sutra putih yang dikerudungkan pada Sawa, adalah merupakan
simbolik selimut.

[Link] atau bade

Adalah pengusungsan Sawa untuk pergi ke setra.

[Link]

Adalah tangga untuk menaikkan Sawa ke wadah. Tangga ini melambangkan


undagan yang menuju ke Sorga. Tragtag ini dibuat dari bamboo. Besar kecil
dan tinggi rendahnya, tergantung tinggi rendahnya wadah.

[Link]-ubes

Adalah sejenis papecut yang mempergunakan bulu merak pada ujungnya.


Ubes-ubes ini berfungsi mangarahkan roh dalam perjalanan.

[Link]-iber

Berupa ayam atau burung. Binatang ini diterbangkan ketika sawa mulai
dibakar, sebagai simbol perginya Atma dari badan ke asalnya.

[Link]

Sarananya terdiri dari tulup, yang ditancapkan pada beruk yang berisi
“jijih”.Beruk ini dialasi wajan yang dilengkapi bebanten pras dan penyeneng,
lalu dibungkus dengan kain putih. Beruknya dialasi dengan daun tunjung dan
dibungkus dengan kaping. Pada tulup memakai single uang kepeng 225 lalu
dihubungkan dengan benang tiga tukel (tridatu). Benang ini nantinya
disambung dengan tali dihubungkan dengan Sawa pada bandusa/wadah dll.
Penuntun ini berfungsi untuk menuntun orang yang sudah meninggal, guna
kembali kepada asalnya. Dipakainya tulup sebagai alat penuntun, karena
tulup bisa mengarahkan kepada tujuan yang ingin dicapai.

[Link]/Arug/Sabit mabakang-bakang

Sabit ini berfungsi untuk merabas apa saja yang menghalangi perjalanan
Atma untuk kembali ke asalnya.
[Link]

Adalah gambelan yang memakai laras selendra. Ia merupakan tanguran yang


mengasikkan mengiringi kepergian Atma, dibunyikan mengiringi wadah

[Link]

Adalah tempat untuk membakar Sawa. Bermacam-macam jenisnya, sesuai


penugrahan mereka pada Prastastinya. Ada yang mampergunakan Tabla atau
peti, Gagunungan, Ikan, Gajah mina, Singa, Singa Ambara,
[Link] petulangan ini juga menunjunkan kekeuasaan leluhurnya
[Link] ini adalah fungsi untuk nmembakar Sawa atau tulang.
Penggunaan petulangan ini diatur dalam PrasastiMasing-masing warga.

[Link] Gumi

Adalah bale yang berundag tiga dengan lantainya tanah. Bale Gumi adalah
tempat Sawa yang akan dibakar. Oleh karenanya juga disebut “bale
pamuhun” .Seperti namanya Bale Gumi berfungsi sebagai bumi.

[Link]

Adalah bunga kwangen bercampur uang kepeng, yang akan ditaburkan


sepanjang jalan. SEkarura ini merupakan persembahan kepada para
Bhutakala agar tidak menghalangi perjalanan roh.

[Link] Lunjuk atau Bale Salunglung

Bale ini ditancapkan Bale Gumi. Bale Lunjuk bertiang 4 dan [Link] ini
dibuat dari bambu gading Pada atapnya “meringring” dengan hiasan warna –
warni. Bale salunglung artinya Bale keindahan atau keasrian. Di bawah ini
Sawa itu dibakar.

[Link]

Adalah beberapa butir padi yang dimasuki uang kepeng. Sepanjang jalan
cegceg ini diletakkan dipinggir jalan yang berfungsi sebagai oleh-oleh Atma
untuk kembali ke asalnya.

[Link] Cucuk dan Damar kurung

Adalah sejenis sanggah yang dipakai untuk persembahan kepada Bhutakala.


Sanggah ini ditancapkan pada pintu keluar pekarangan. Dibawah sanggah
cucuk digantung ”Damar kurung” yang dibuat dari kelapa yang dibagi dua.
Yang dipakai bagian bawah, lalu dikurung dengan bingkai bambu dan upih.
Damar kurung berfungsi menyuluhin Marga Sanga artinya menyinari jalan
Sembilan, yakni jalan yang akan dilalui oleh Atma menuju Sorga. Damar
kurung dipergunakan saat pengabenan maupun penyekahan.

[Link]

Simbol dari keseluruhan satu sosok tubuh manusia. Sebagai alasnya adalah
sok tempeh tembong yang didalamnya dimasukkan berbagai isi alam sebagai
symbol kepala, mata, telinga, hidung, pererai, leher, tubuh, dan isinya,tangan
dan kaki.

[Link]

Adalah kumpulan kwangen sebagai simbul Padma Terdiri dari22 kwangen


dengan masing-masing berisi uang [Link] diisi 5 (paling atas yang
lainnya masing-masing 2. Pangrekan ini sebagai symbol Padma atau Bumi.

[Link] jati (Adegan)

Adegan artinya perwujudan dari orang mati tempat berstananya Panca Maha
Bhuta. Adegan ini terdiri dari ortenan daun rontal dengan dihiasi kertas
sedemikian rupa,lengkap dengan [Link] ortenan daun rontal ini
ditancpkam lukisan orang-orangan, yang dilukiskan pada sebilah kayu
cendana atau majegau. Lalu dihadapannya ditaruh anak pisang . Karenanya
upakara ini disebut Pisang Jati. Pisang Jati merupakan simbolik dari
swadarma manusia utama. Ia tidak akan berhenti nangun yasa kerti atau jasa.
Bagaikan si pisang, tidak akan mati sebelum dapat mempersembahkan
buahnya yang lezat. Pisang Jati diletakkan pada hulu dari pada Sawa, sebagai
perwujudan manusia utama.

[Link] lingga

Sama seperti Adegan, namun pada saat ini Panca Maha Bhuta sudah menjadi
Panca Tan Matra.

[Link]

Dibuat dengan kelapa yang dihaluskan kulitnya, ditancapkan bingkai yang


dilingkari benang tridatu. Didalamnya fibuatkan dammar minyak kelapa dari
kulit telur ayam. Siginya dari kapas. Angenan ini adalah symbol jantung. Ia
berupa sinar yang memberikan hidup semua organ tubuh. Angenan ini
diletakkan di atas hulu ati Sawa.

[Link] Sinom
Kreb Sinom artinya krudung muda atau krudung sari. Disebut juga Kreb Sari.
Peralatan ini berfungsi sebagai krudung.

[Link]

Kajang artinya selimut. Adalah kain putih yang bertuliskan Sad Dasa Aksara.
Kajang adalah symbol daripada kulit.

[Link] bekel/Ponjen

Adalah nerupakan bekal bagi orang yang akan kembali kepada asalnya. Isis
ok bekel ini antara lain : Sanggar surya, Cermin, jinah bolong 200, isi
ceraken, tiuk atau [Link] bekel ini dihias kain putih, beralaskan bokor
bersama [Link] bekel ini diletakkan di atas perut Sawa. Seperti
namanya sok bekel, peralatan ini merupakan bekel bagi Sawa untuk kembali
keasalnya.

[Link]/Gerutuk

Berupa bantal /galeng segi empat kecil-kecil, didalamnya berisi bunga-bunga


kering, lalu dililit sama benang yang berwarna paideran, disulam dengan
dasar bentuk senjata nawa sanga.

[Link] pering

Adalah sepasang lis yang dibuat dari ron jaka. Lis pering ini adalah symbol
dari bumi dengan isinya. Lis ini diletakkan pada kaki Sawa dengan berdiri.
Hal ini merupakan simbolik, bahwa ia tetap berdiri diatas bhumi.

[Link]

Adalah wahana untuk menghanyutkan atau melarung sekah atau tulang yang
telah dihaluskan.

[Link]-kesi deling/ Jemek

Dibuat dari daun rontal berupa deling, ditaruh pada sebuah wakul kecil yang
berisi beras 3 genggam dan uang kepeng 200, benang satukel. Deling
diberikan pakaian, diisi daun ancak beringin. Dikasi muka (prarai) dari
cendana. Dan dikasi rambut. Kesi-kesi deling ini adalah simboldari Atma .
Kesi-kesi deling ini diletakkan bagian hulu tempat Sawa.

[Link]
Dibuat dari bambu kuning memakai baju kain putih untuk yang sudah kawin
dan yang kuning untuk yang belum [Link] orang-orangan kepalanya
dibuat seperti keranjang berisi 25 kepeng uang pada pucuknya, cawan berisi
arang dibungkus dengan kain putih.

[Link] pawedaan

Adalah bale tempat Sulinggih mepuja, terbuat dari kayu dan atapnya dari
alang-alang.

[Link]

Sebatang bamboo yang dilobangi sedemikian rupa sehingga kalau ditempuh


angin akan mengeluarkan suara yany indah bagai seruling. Sunari ini
dipancangkan di keempat sudut areal balai payadnyan. Suara sunari ini
berfungsi untuk memohon kepada Dewa Wisnudan Dewi Laksmi untuk
melindungi dan melimpahkan kecukupan sandang pangan dan keperluan lain
dalam upacara Atma wedana.

[Link] Tutuwan/Sanggar Surya/Sanggar Tawang

Adalah sanggar untuk mempersembahkan banten upasaksi kepada Surya.


Pada Sanggar ini disertakan byu lalaung dan peji udu.

Note: Uperengga di atas merupakan hal secara umum, tidak menutup


kemungkinan di tiap-tiap daerah ada hal-hal khusus yang merupakan ciri
khas lokal

Sumber:
Puragunung Salak
Google Images

Anda mungkin juga menyukai