MAKALAH
CALON MEMPELAI
Oleh:
Nur Hasinah Abdullah Ulumando (2011211008)
Faridah Abdullah (2011211031)
Wulan Purnama Sari (2011211025)
FAKULTAS AGAMA ISLAM
PROGRAM STUDI AHWAL ASY-SYAKHSIYYAH
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUPANG
2021
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, karena berkat dan
bimbingan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Solawat dan salam semoga tetap tercurahkan pada Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun sebagai bentuk kewajiban mahasiswa untuk memenuhi tugas
pada mata kuliah Pengantar Hukum Keluarga. Kami berharap semoga makalah ini
dapat menambah wawasan bagi penyusun sendiri maupun bagi pembacanya.
Penulis menyadari bahwa tersusunnya makalah ini tidak lepas dari bantuan
serta arahan dari berbagai pihak. Untuk itu, melalui kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang
telah berkontribusi baik secara ide, pikiran maupun materi.
Sebagai penulis, kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan
maupun kesalahan didalam penyusunan makalah ini, baik itu kelengkapan isi
materi, maupun kesalahan dalam penyusunan kata dan tata bahasa. Oleh karena itu,
kami bersedia menerima kritik maupun saran yang bersifat membangun dari
pembaca untuk penyusunan makalah selanjutnya.
Kupang, 25 Marat 2021
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR ------------------------------------------------------------------ ii
DAFTAR ISI ----------------------------------------------------------------------------- iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ------------------------------------------------------------------ 1
B. Rumusan Masalah -------------------------------------------------------------- 2
C. Tujuan ---------------------------------------------------------------------------- 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Calon Mempelai -------------------------------------------------- 3
B. Syarat-syarat dan Ketentuan yang Harus Dipenuhi Calon Mempelai --- 3
C. Syarat Nikah dan Cara Daftar Calon Pengantin ---------------------------- 5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ---------------------------------------------------------------------- 9
B. Saran ----------------------------------------------------------------------------- 9
DAFTAR PUSTAKA------------------------------------------------------------------- 10
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah agama yang universal, yang artinya bahwa agama Islam
mencakup semua isi kehidupan. Tidak ada suatu masalahpun dalam kehidupan
ini yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satupun masalah yang tidak disentuh
oleh nilai Islam,walaupun masalah tersebut nampak kecil dan sepele. Itulah
Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam.
Allah telah menciptkan segala sesuatu berpasang pasangan. Ada lelaki, ada
pula wanita. Allah memberi karunia kepada manusia berupa pernikahan untuk
memasuki jenjang hidup baru yang bertujuan untuk melanjutkan dan
melestarikan generasinya.
Dalam masalah perkawinan, islam telah menjelaskan banyak. Mulai dari
mbagaiman mencari kriteria bakal calon pendamping hidup, hingga bagaimana
memperlakukannya saat ia resmi menjadi sang penyejuk hati. Begitu pula islam
mengajarkan bagaimana mewujudkan pesta pernikahan yang meriah,namun
tetap mendapat berkah dan tidak melanggar tuntunan Rasulullah SAW, begitu
pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh pesona.
Tidak sedikit orang yang merasa tidak siap untuk menikah walaupun
mereka sudah cukup dalam umur dan materi hanya karena mereka tidak
mengetahui kritera pasangan yang tepat untuk mereka. Pernikahan bukan hanya
sekedar perencanaan atau seperti gambaran pengantin ideal di televisi dan film-
film. Saat mencari pasangan, kita harus menyadari bahwa tidak ada orang yang
sempurna setiap orang pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Indahnya
pernikahan justru saat kita menemukan pasangan yang dapat menjadi teman
dalam pencarian spiritual, mitra membangun hidup meskipun dia mempunyai
banyak kelemahan atau kekurangan.
Calon pengantin dianjurkan mencari seorang perantara sebagai
pembimbimg yang dapat menjelaskan realitas pernikahan kepada keduanya
1
agar komitmen agama tersbut bias didapatkan oleh setiap pasangan calon
pengantin sebelum melaksanakan pernikahan. Sang perantara sebaiknya telah
dikenal baik oleh kedua belah pihak dan memiliki pengetahuan yang cukup
tentang agama dan pernikahan, karena ia juga bisa menjadi penengah disaat ada
masalah. Tiap pasangan haruslah menyadari bahwa salah satu solusi untuk
mempersiapkan calon pengantin adalah konseling pra-nikah.
Dari latar belakang yang dipaparkan di atas, maka dari itu penulis membuat
sebuah makalah yang berjudul Calon Mempelai.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan calon mempelai?
2. Apa saja syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh calon mempelai?
3. Apa saja syarat nikah dan bagaimana cara daftar yang harus diketahui oleh
calon pengantin?
C. Tujuan
Tujuan penyusunan makalh ini adalah sebagai bentuk tanggungjawab
mahasiswa Prodi Ahwal Asy-Syakhsyiyyah Fakultas Agama Islam Universitas
Muhammadiyah Kupang terhadap tugas yang diberikan oleh dones mata kuliah
Pengantar Hukum Keluarga.
Adapun tujuan khusus dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian dari calon mempelai.
2. Untuk mengetahui syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh calon
mempelai.
3. Untuk mengetahui Apa saja syarat nikah dan bagaimana cara daftar yang
harus diketahui oleh calon pengantin.
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Mempelai
Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang dimaksud dengan
mempelai adalah orang yang sedang melangsungkan pernikahannya
(pengantin).
B. Syarat-syarat dan Ketentuan yang Harus Dipenuhi Calon Mempelai
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk laki-laki dan perempuan
yang akan melangsungkan perkawinan adalah sebagai berikut:
1. Keduanya jelas identitasnya dan dapat dibedakan dengan yang lainnya, baik
menyangkut nama, jenis kelamin, keberadaan, dan hal lain yang berkenaan
dengan dirinya. Adapun syarat peminangan yang terdapat dalam Al-Qur’an
dan hadist Nabi kiranya merupakan satu syarat supaya kedua calon
pengantin telah sama-sama tahu mengenal pihak lain, secara baik dan
terbuka.
2. Keduanya sama-sama beragama Islam (tentang kawin lain agama dijelaskan
sendiri).
3. Antara keduanya tidak terlarang melangsungkan perkawinan (tentang
larangan perkawinan dijelaskan sendiri).
4. Kedua belah pihak telah setuju untuk kawin dan setuju pula dengan pihak
yang akan mengawinkannya. Tentang izin dan persetujuan kedua pihak
yang akan melangsungkan perkawinan itu dibicarakan panjang lebar dalam
kitab-kitab fiqh dan berbeda pula ulama dalam menetapkannya. Al-Qur’an
tidak menjelaskan secara langsung persyaratan persetujuan dan izin pihak
yang melangsungkan perkawinan itu74. Namun hadist Nabi banyak
berbicara dengan izin dan persetujuan tersebut salah satunya hadist dari
Ibnu Abbas menurut riwayat Muslim yang berbunyi:
3
Janda lebih berhak atas dirinya dibandingkan dengan walinya dan
perawan dimimnta izinya dan izinya itu adalah diamnya. (HR. Muslim).
Dari hadist Nabi tersebut ulama sepakat menetapkan keharusan adanya
izin dari perempuan yang dikawinkan bila ia telah janda dan izin itu harus secara
terang. Sedangkan terhadap perempuan yang masih kecil atau masih perawan
berbeda ulama tentang bentuk izin dan persetujuan tersebut.
UU Perkawinan mengatur persyaratan persetujuan kedua mempelai ini
dalam Pasal 6 dengan rumusan yang sama dengan fiqh.
Perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua mempelai. KHI
mengatur persetujuan kedua mempelai itu dalam Pasal 16 dengan uraian
sebagai berikut:
1. Perkawinan didasarkan atas persetujuan calon mempelai.
2. Bentuk persetujuan calon mempelai wanita dapat berupa pernyataan tegas
dan nyata dengan tulisan, lisan atau isyarat tapi dapat juga berupa diam
dalam arti selama tidak ada penolakan yang tegas.
Sedangkan di dalam UU perkawinan tahun 1974 di bab II tentang syarat-
syarat perkawinan di pasal 6 ayat 1 yang berbunyi: “Perkawinan harus
didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai”
Imam Abi Mu’thi Muhammad Nawawi dalam salah satu tulisannya, yaitu
kitab Nihayatu al-Zzain menyebutkan ketentuan-ketentuan yang harus
terpenuhi untuk calon istri sebagai berikut:
1. Calon istri bebas pernikahan dengan orang lain atau tidak terikat hubungan
pernikahan dengan laki-laki.
2. Tidak dalam keadaan ‘iddah.
3. Ta’yin.
4. Bukan sati mahrom (orang yang haram dinikahi), baik karena nasab
(keturunan), rodho’ dan mushoharah.
4
Kemudian pada bagian kedua pasal 15 calon mempelai harus:
1. Untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh
dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan
dalam pasal 7 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 yakni calon suami
sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon istri sekurang-kurangnya
berumur 16 tahun.
2. Bagi calon mempelai yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat
ijin sebagaimana yang diatur dalam pasal 6 ayat (2), (3), (4), dan (5) UU
Nomor 1 Tahun 1974.
C. Syarat Nikah dan Cara Daftar Calon Pengantin
Syarat nikah menjadi proses yang harus dilalui oleh calon pengantin
sebelum melangsungkan pernikahan secara legal. Di Indonesia telah terdapat
beberapa syarat nikah yang harus dilengkapi oleh calon mempelai baik pria
maupun perempuan termasuk diantaranya biaya pernikahan.
Masalah biaya sebagai salah satu syarat nikah, berdasarkan Peraturan
Pemeritah (PP) Nomor 84 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah Nomor 47 Tahun 2004 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara
Bukan Pajak yang Berlau Pada Departemen Agama (Depak), menikah di KUA
tidak dipungut biaya. Peraturan tersebut bisa menjadi salah satu sarana yang
memudahkan dan meringankan calon pasangan dalam melaksanakan
pernikahan. Namun, peraturan tersebut hanya berlaku saat jam kerja Kantor
Urusan Agama. Sementara itu, jika diluar jam kerja akan dikenakan tarif sebesar
600.000.
Syarat nikah cukup banyak bagi calon pasangan sehingga ada baiknya jika
dipersiapkan dari jauh-jauh hari agar lebih memudahkan persiapan dan tidak
mengganggu persiapa pernikahan lainnya. Meski begitu, syarat nikah harus
dipersiapkan dengan teliti agar memudahkan calon pengantin. Peril diperhaikan
bahwa proses melengkapi syarat nikah ini dapat berbeda tergantung dengan
agama yang anda anut, status kenegaraan, rumah ibadah atau lokasi pernikahan
dilaksanakan dan ketentuan dari Kantor Kelurahan dimana anda akan
5
menumpang nikah. Perhatikan baik-baik setiap syarat nikah yang ditetapkan,
seperti dokumen kependudukan dan segeralah melengkapinya, bahkan jika
memungkinkan, lakukan sebelum merencanakan detail pernikahan lainnya.
Berikut adalah Syarat Nikah:
Calon pengantin bisa datang langsung ke KUA Kecamatan untuk
mendaftarkan Pernikahannya, dengan membawa syarat nikah sebagai berikut:
a) Surat keterangan untuk nikah (model N1) Surat keterangan asal-usul (model
N2).
b) Surat persetujuan mempelai (model N3) Surat keterangan tentang orang tua
(model N4).
c) Surat pemberitahuan kehendak nikah (model N7) apabila calon pengantin
berhalangan, pemberitahuan nikah dapat dilakukan oleh wali atau wakilnya.
d) Bukti imunisasi TT1 calon pengantin wanita, Kartu imunisasi, dan
Imunisasi TT II dari Puskesmas setempat.
e) Membayar biaya pencatatan nikah sebesar Rp30.000
f) Surat izin pengadilan apabila tidak ada izin dari orangtua/wali
g) Pas foto ukuran 3 x 2 sebanyak 3 lembar
h) Dispensasi dari pengadilan bagi calon suami yang belum berumur 19 tahun
dan bagi calon istri yang belum berumur 16 tahun
i) Bagi anggota TNI/POLRI membawa surat izin dari atasan masing-masing
j) Surat izin Pengadilan bagi suami yang hendak beristri lebih dari seorang
k) Akta cerai atau kutipan buku pendaftaran talak/buku pendaftaran cerai.
l) Surat keterangan tentang kematian suami/istri yang ditandatangani oleh
Kepala Desa/Lurah atau pejabat berwenang yang menjadi dasar pengisian
model N6 bagi janda/duda yang akan menikah.
Jika beberapa dokumen di atas sudah lengkap, maka calon pasangan bisa
langsung melakukan proses pengurusan surat nikah ke KUA. Selain itu, ada
beberapa data diri/dokumen yang harus dilampirkan untuk mengurus surat
nikah.
6
Prosedur Syarat Nikah Bagi Calon Suami:
• Pengantar RT-RW dibawa ke Kelurahan setempat untuk mendapatkan
Isian Blangko N1, N2, N3 dan N4.
• Datang ke KUA setempat untuk mendapatkan Surat
Pengantar/Rekomendasi Nikah (jika calon istri beralamat lain
daerah/kecamatan).
• Jika calon istri sedaerah atau sekecamatan, berkas calon suami
diserahkan ke pihak calon istri.
Lampiran Syarat Nikah:
• Foto Copy KTP, Akta kelahiran dan C1 (Kartu Keluarga).
• Pas foto 3X4 = 2 lembar, jjika calon istri luar daerah.
• Pas foto 2X3 = 5 lembar, jika calon istri satu daerah/kecamatan.
Prosedur Syarat Nikah Bagi Calon Istri:
• Pengantar RT-RW dibawa ke Kelurahan setempat untuk mendapatkan
Isian Blangko N1, N2, N3 dan N4.
• Datang ke KUA setempat untuk mendaftarkan nikah dan pemeriksaan
administrasi (bersama walindan calon suami).
• Calon suami dan calon istri sebelum pelaksanaan nikah akan
mendapatkan Penasihatan Perkawinan dari BP4.
Lampiran Syarat Nikah:
• Foto Copy KTP, Akta kelahiran dan C1 (Kartu Keluarga) calon
pengantin.
• Foto copy kartu imunisasi TT, Pas foto latar biru ukuran 2X3 masing-
masing calon pengantin 5 lembar.
• Akta cerai dari Pengadilan Agama bagi janda atau duda cerai.
• Ijin atasan bagi anggota TNI atau POLRI
• Surat Keterangan Kematian Ayah bila sudah meninggal.
7
• Surat Keterangan Wali jika wali tidak sealamat dari kelurahan setempat.
• Dispensasi camat bila kurang dari 10 hari.
• N5 (Surat Ijin Orang Tua) bila usia calon pengantin kurang dari 21
tahun.
• N6 (Surat Kematian Suami/Istri) bagi janda/duda meninggal dunia.
8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Yang dimaksud dengan mempelai adalah orang yang sedang
melangsungkan pernikahannya (pengantin).
2. Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk laki-laki dan perempuan yang akan
melangsungkan perkawinan adalah: Keduanya jelas identitasnya dan dapat
dibedakan dengan yang lainnya, Keduanya sama-sama beragama Islam,
Antara keduanya tidak terlarang melangsungkan perkawinan, dan Kedua
belah pihak telah setuju untuk kawin dan setuju pula dengan pihak yang
akan mengawinkannya.
3. Perhatikan baik-baik setiap syarat nikah yang ditetapkan, seperti dokumen
kependudukan dan segeralah melengkapinya, bahkan jika memungkinkan,
lakukan sebelum merencanakan detail pernikahan lainnya.
B. Saran
Syarat nikah cukup banyak bagi calon pasangan sehingga ada baiknya jika
dipersiapkan dari jauh-jauh hari agar lebih memudahkan persiapan dan tidak
mengganggu persiapa pernikahan lainnya.
Sebagai penulis kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam
penyusunan makalah ini, oleh karena itu, saran dan kritikan yang membangun
dari pembaca sangat kami harapkan demi perbaikan makalah ini kedepannya.
Semoga makalah ini bermanfaat baik bagi pembaca maupun penulisnya.
9
DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 2021. Ini Syarat Nikah dan Cara Daftar yang Harus Diketahui Calon
Penganti. [Online]. Pada:
[Link]
pengantin. Diakses Pada: 25 Maret 2021
Perwira, M. G. 2016. Pendapat Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah tentang Persetujuan
Mempelai Wanita dalam Perkawinan. Skripsi. Fakultas Syari’ah dan Hukum
Universitas Islam Negeri walisongo.
Peraturan Pemeritah (PP) Nomor 48 Tahun 2014 tentang Tarif Atas Jenis
Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlau Pada Departemen Agama
(Depag).
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan
10