0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
849 tayangan2 halaman

Arti dan Makna Upacara Nilapati

Upacara pemukuran, penyekahan, dan pengliwetan merupakan proses penyucian unsur-unsur alam untuk mengembalikan status manusia menjadi dewa setelah kematian. Ritual-ritual tersebut dilakukan dengan simbol-simbol seperti kupu-kupu, burung garuda, dan bubur nasi yang dibuat dengan cara khusus untuk mengirim kembali unsur-unsur jasmani dan batin ke alam asalnya. Upacara nilapati kemu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
849 tayangan2 halaman

Arti dan Makna Upacara Nilapati

Upacara pemukuran, penyekahan, dan pengliwetan merupakan proses penyucian unsur-unsur alam untuk mengembalikan status manusia menjadi dewa setelah kematian. Ritual-ritual tersebut dilakukan dengan simbol-simbol seperti kupu-kupu, burung garuda, dan bubur nasi yang dibuat dengan cara khusus untuk mengirim kembali unsur-unsur jasmani dan batin ke alam asalnya. Upacara nilapati kemu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

UPACARA

PEMUKURAN/PENYEKAHAN/PENGRORASAN

Mukur asal katanya Bhuk (alam


bawah), Ur atau urdah (swah loka). Mukur adalah proses penyucian lanjutan dari
unsur2 Panca Mahabuta agar manjadi status Dewa untuk dikembalikan kealam
kedewataan shg disebut Dewa Pitara dan pada puncak kesuciannya disebut Hyang
Pitara.

Uperengga pada Damar Kurung


mempergunakan simbul Kupu-Kupu Dedari (seekor kupu2 berkepala widyadari)
sebagai simbul wahanyanya Hyang Pitara pulang kesumbernya. Ini terlihat dari
puja Penglepasan Pitra memohon kepada Sang Kepupu Wong. Demikian
juga pada upacara pengabenan, damar kurungnya berisi simbul burung garuda
berkepala raksasa sebagai wahanya Dewa Pitara. Puja Penglepasannya memohon
kepada Kaki Badra Lim  (manuk Raja) untuk mengantar Dewa Pitara ke
sumbernya.

UPACARA PENGLIWETAN

Upacara pemukuran disertai upacara


Pangliwetan. Pengeliwetan mengandung maksud dan tujuan Pengeluweran yaitu
mengembalikan unsur2 Panca Maha Butha, unsur Rokh dan unsur atmanya kealam
masing2 yaitu: unsur Panca Maha Buthanya ke Prakerthi Tattwa (kekuatan
acetana), sedangkan unsur rokhnya kembali ke Purusa Tattwa dan unsur atmanya
kembali ke alam Parana Nirbana (kealam moksa). (lontar Tattwa Jnana).

Dalam proses Ngeliwet, dibuatkan bubur nasi yang berasnya diseruh sebanyak 11
kali (simbul dari alam Siwa. Angka 11 jika dijumlah menjadi 2 (simbul Windu
Sunia) atau alamnya Siwa. (Lontar Tutur Saraswati). Bubur ini dicampur dengan
menyan, madu, empehan (lontar Pengerorasan), bukan telur goreng dan bawang
goreng. Menyan sebagai simbul Sang Hyang Brahma (mengembalikan unsur Panca Maha
Buthanya), madu sebagai simbul kekuatan Sang Hyang Wisnu (mengembalikan unsur
rokhnya), empehan sebagai simbul kekuatan SH Siwa (mengembalikan unsur Atmanya.
Setelah bubur kental kemudian dikepal-kepal 108  buah sebagai simbul titik
puncak kekuatan Pralina (Tattwa Samkhya) dari angka 108 menjadi 9 merupakan
angka sakti Hindu (titik lebur), sedangkan angka 0 merupakan simbul Windhu
Sunia.

UPACARA NILAPATI

Upacara Nilapati adalah upacara


ngeluwuirang Hyang Pitara atau Dewa Hyang setelah pemukuran atau penyekahan.
Nilapati asal katanya Nila (hitam) yaitu Wisnu sebagai simbul kehidupan setelah
kematian. Upacara Nilapati adalah suatu upacara untuk menstanakan Dewa yang
berada dalam alam kehidupan yang tidak nyata.

Anda mungkin juga menyukai