PERFORMA PENETASAN TELUR AYAM HASIL PERSILANGAN AYAM
BANGKOK DENGAN AYAM RAS PETELUR
1
Rusli Badaruddin, 1Syamsuddin, 1Fuji Astuty, 1)[Link] Pagala
1
Dosen Jurusan Peternakan Fakultas peternakan UHO Kendari
Email : ruslibadaruddin@[Link]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji performa produksi telur dan reproduksi hasil
persilangan ayam Bangkok dengan ayam Ras [Link] di Laboratorium
Unit Unggas Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo Kendari, pada bulan Juni
sampai dengan Agustus 2017. Penelitian ini menggunakan ayam Bangkok betina
sebanyak 15 ekor, ayam Bangkok jantan sebanyak 3 ekor, ayam Ras petelur jantan
sebanyak 2 ekor dan ayam Ras petelur betina 15 ekor. Data yang diperoleh dianalisa
secara deskriptif dan uji T untuk mengetahui perbedaan peubah-peubah anatara
persilangan BP (Persilangan ayam Bangkok jantan dengan ayam Ras petelur betina)
dan PB (Persilangan ayam Ras petelur jantan dengan ayam Bangkok betina). Hasil uji
T menunjukkan bahwa hasil persilangan BP memiliki bobot telur, bobot tetas, produksi
telur dan mortalitas emrio yang nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan ayam PB,
namun fertilitas dan daya tetas nyata (p<0,05) lebih rendah serta indeks telur dan tebal
kerang relatif sama.
Kata Kunci : Ayam Bangkok, Ayam Petelur, Persilangan.
ABSTRACT
The research aim was to evaluate production and reproduction performance of Layer
and Bangkok chicken. Research was conducted in Laboratorium Unit Unggas, Fakultas
Peternakan, Universitas Halu Oleo Kendari, on July until August 2017. This research
was using 15 birds’ female Bangkok chicken, three birds’ male Bangkok chicken, 15
birds’ female Layer chicken, and two birds’ male Layer chicken. The obtained data
were analyzed descriptively and tested by T test to understand the parameters difference
between crossed BP (male Bangkok and female layer crossing) and PB (male Layer and
female Bangkok crossing). The T test result showed that BP crossing was have
significant (p<0.05) higher of egg weight, hatching weight, egg production, and embryo
mortality compare to PB crossing, however it’s have significant (p<0.05) lower on
fertility and hatch ability while their eggshell was similar.
Key Words : Bangkok Chickens, Layer, Crossbreeding
1 JITRO VOL.4 NO.2 Mei 2017
PENDAHULUAN semua telur fertil akan menetas dengan
dengan baik, banyak faktor yang
Salah satu ternak yang banyak berpengaruh di dalamnya. Sehubungan
dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia dengan hal ini maka untuk memperoleh
hingga perdesaan adalah ayam lokal. daya tetas yang baik dalam penetasan.
Pengembangan ayam lokal merupakan Upaya perbaikan mutu genetik
cara yang tepat untuk meningkatkan melalui persilangan yaitu untuk
pendapatan petani. Beberapa faktor yang menghasilkan keturunan yang membawa
memberi kemudahan pemeliharaan ayam sifat baik dari kedua tetua yang berbeda
lokal, antara lain tidak membutuhkan yakni kombinasi sifat dari pejantan dan
lahan yang luas, penyediaan pakan betina. Persilangan ayam Bangkok dan
mudah dan murah serta siklus produksi Ras petelur dilakukan untuk
lebih singkat sehingga lebih cepat menghasilkan keturunan yang memiliki
dirasakan manfaat ekonominya. Namun kombinasi sifat baik kedua tetuanya yaitu
demikian, dalam usaha mengembangkan ayam Bangkok dan ayam Ras petelur
ayam lokal masih menghadapi berbagai dengan terlebih dahulu mengamati
kendala, antara lain sistem pemeliharaan reproduksi kedua jenis persilangan yakni
masih tradisional, produktivitas rendah, Bangkok dengan petelur (BR) dan Ras
baik produksi daging maupun produksi petelur dengan Bangkok (RB).
telur, variasi mutu genetik, tingkat
kematian tinggi, pemberian pakan belum METODE PENELITIAN
sesuai dengan kebutuhan baik kuantitas
maupun kualitasnya. Penelitian dilaksanakan di
Ayam Bangkok sudah termasuk Laboratorium Unit Unggas Fakultas
menjadi ayam lokal karena telah lama Peternakan Universitas Halu Oleo
dan banyak dibudidayakan oleh Kendari.
masyarakat Indonesia. Biasanya ayam Materi Penelitian yang digunakan
Bangkok digunakan sebagai pejantan adalah ayam Bangkok betina sebanyak 15
karena memiliki berbagai keistimewaan ekor, ayam Bangkok jantan sebanyak 3
yaitu adalah bentuk tubuh yang ramping ekor, ayam Ras petelur jantan sebanyak
dan memiliki daya tahan berlaga yang 3 ekor dan ayam Ras petelur betina 15
tinggi. Disamping itu ayam Bangkok ekor.
mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Pakan yang diberikan selama
Tidak mengherankan apabila peternak penelitian ini terdiri atas jagung giling
kemudian memeliharanya untuk 50%, dedak padi 15%, dan kosentrat RK
kepentingan bisnis bukan sekedar hobi 24 produksi PT. Charoen Phokphand
dan kebanggaan. sebanyak 35% dengan kadar protein
Ayam petelur termasuk salah satu pakan 18%.
jenis ayam Ras penghasil telur yang Peralatan yang dibutuhkan adalah
cukup potensial. Produktivitas telur kandang ayam terbuat dari kayu dan
cukup tinggi yaitu 60-70%. Penggunaan [Link] sebagai tiang dan rangka
ayam petelur sebagai induk penghasil sedangkan bambu sebagai sekat pada
telur tetas sedangkan pejantannya [Link] kandang yang dibuat
menggunakan ayam Bangkok. Hal ini yaitu batteray yang setiap petak berisi
dimaksudkan agar telur yang dihasilkan satu ekor ayam dengan ukuran perpetak
dibuahi atau fertil, sebab bila telur 30x30 cm. Peralatan kandang yang
tersebut tidak dibuahi akibatnya tidak digunakan berupa tempat pakan dan
akan menetas. Namun demikian tidak tempat minum terbuat dari pipa paralon
2 JITRO VOL.4 NO.2 Mei 2017
yang dibagi dua. Alat kebersihan seperti 2. Pengumpulan Telur Tetas dan
sapu, kain pel, ember dan serokan Penetasan
sampah juga digunakan sebagai Telur mulai dikoleksi dan diambil
penunjang pemeliharaan. data pada saat minggu kedua ayam
Ruang data untuk menyimpan berada di kandang [Link] tetas
telur dilengkapi buku catatan, alat tulis, dikumpulkan dari kandang ayam minimal
timbangan digital dan jangka [Link] 3 kali [Link] dibersihkan dengan
kegiatan penetasan dibutuhkan peralatan pisau untuk melepaskan kotoran yang
berupa mesin tetas semi otomatis menempel dan kain lap kering untuk
berkapasitas 100 butir telur yang menghilangkan debu kotoran yang telah
dilengkapi thermostat, thermometer, dikikis tanpa harus menipiskan kerabang
lampu, serta bak air. kemudian telur tetas diberi kode sesuai
nomor urutan telur [Link] telur
Prosedur Penelitian untuk jenis ayam silangan terdapat 2
1. Pemeliharaan macam yaitu untuk telur dari ayam
Ayam Bangkok dan petelur Bangkok jantan dengan petelur betina
dikandangkan secara terpisah. (BP) dan untuk telur dari ayam petelur
Perkawinan dilakukan secara IB jantan dengan Bangkok betina (PB).Telur
(Inseminasi Buatan) berdasarkan ditimbang menggunakan timbangan
persilangan ayam Bangkok jantan dengan digital dan diukur panjang dan lebarnya
ayam petelur betina (BP) serta (mm) menggunakan jangka sorong.
persilangan ayam petelur jantan dengan Telur yang ditetaskan adalah telur
ayam Bangkok betina (PB) digunakan dengan kisaran penyimpanan 1-7
perbandingan 1 jantan : 5 betina (1:5), [Link] ditetaskan telur diseleksi
sehingga terdapat 2 ulangan pada (PB) dengan parameter keutuhan kerabang,
dan 3 ulangan pada (BP). Ayam diberi bobot telur dan tidak [Link] tetas
pakan ad libitum yaitu pada pagi dan ditata vertikal ke dalam rak telur dan
sore di setiap 1 kandang ulangan dengan diganjal menggunakan kertas atau karton
pemberian maksimal 200 g/ekor/hari, air bekas hingga tidak ada ruang yang
minum diberikan ad libitum di setiap 1 longgar agar telur tidak jatuh saat
kandang ulangan. Alas kandang adalah pemutaran telur berlangsung, kemudian
sekam padi. Sekam diganti saat sekam rak telur dimasukkan ke dalam mesin
basah dan menggumpal. Pencegahan [Link] penetasan suhu dan
penyakit dilakukan dengan cara menjaga kelembaban mesin tetas dicatat dan
kebersihan kandang dan lingkungan dijaga agar tetap [Link]
sekitar kandang serta meminimalisir dijaga dengan mengisi bak air dan diisi
masuknya penyakit dari luar kandang kembali saat air sudah
dengan melepas atau mengganti alas kaki [Link] telur dilakukan
saat memasuki kandang. Pencegahan setiap hari yaitu 3 kali dalam sehari.
stres ayam dilakukan dengan Pada inkubasi hari ke-7, telur diteropong
menggunakan pakaian warna putih saat untuk mengetahui fertilitas telur tetas,
masuk ke dalam kandang. Ayam yang sedangkan hari ke-18 telur dipindahkan
cidera atau sakit dipindahkan kekandang ke dalam rak telur hatcher untuk
lain untuk pengobatan hingga ayam persiapan telur akan menetas. Saat telur
kembali pulih (medikasi). Vaksinasi juga menetas, DOC ditimbang setelah bulu
dilakukan pada bulan Juni dan Mei 2017 kering dan diperiksa kondisi kesehatan
yaitu vaksinasi ND (Newcastle Disease) dan keutuhan DOC. Kerabang telur
dan AI (Avian Influenza). diukur ketebalannya di bagian tumpul,
3 JITRO VOL.4 NO.2 Mei 2017
tengah, dan lancip kerabang untuk HASIL DAN PEMBAHASAN
mendapatkan rataan ketebalan kerabang.
A. Karakteristik Telur Tetas
D. Analisis Data Karaktersitik telur tetas yang
Data dianalisa secara deskriptif diamati pada penelitian ini yaitu bobot
dan uji T untuk mengetahui perbedaan telur tetas, indeks telur, tebal kerabang
peubah-peubah anatara persilangan BP dan bobot tetas yang disajikan pada Tabel
dan PB. 1.
(ӯ ӯ ) ( )
Uji T =
( )
1. Bobot Telur Tetas
Bobot telur sering digunakan
Keterangan : sebagai kriteria seleksi untuk telur
ӯ1 = rataan sampel 1 [Link] bobot telur menurut SNI
ӯ2 = rataan sampel 2 (2008) dimasukkan ke dalam 3 kelas
µ1 = rataan populasi 1 yakni besardengan bobot telur lebih dari
µ2 = rataan populasi 2 60 g/butir, sedang yaitu telur dengan
n1 = banyak sampel 1 bobot 50-60 g/butir, dan kecil yaitu telur
n2 = banyak sampel 2 dengan bobot kurang dari 50 g/butir.
S = akar KT(G) Pada Tabel 1, menunjukkan
bahwa rataan bobot telur PB 46,57 g/butir
E. Peubah yang Diamati (kecil) nyata (p<0,05) lebih tinggi
dibandingkan pada BP 59,40 g/butir
1. Karakteristik Telur Tetas (sedang). MenurutDitjennak (2006)
a. Bobot telur tetas (g/butir) bahwa rataan bobot telur ayam kampung
yang dipelihara secaraintensif adalah 40
b. Indeks telur = x 100% g/butir. Menurut Putri (2014), ayam
c. Ketebalan kerabang, rataan kerabang kampung yang disilangkan dengan ayam
yang menetas diukur tanpa kulit pedaging memiliki rataan bobot telur
kerabang (mm/butir). sebesar 59.41 g/butir (sedang).
d. Bobot tetas DOC (Day Old Chick) Tingginya bobot telur pada ayam
(g/ekor). BP dibandingkan telur ayam PB, hal ini
dikarenakan faktor oleh genetik
2. Performa Reproduksi (Ensminger dkk., 2004). Faktor genetik
berpengaruh terhadap lama periode
a. Hen day (%)
pertumbuhan ovum sehingga yolk yang
x 100% lebih besar akan menghasilkan telur yang
lebih besar. Campbell dkk.(2003) juga
b. Fertilitas (%) menambahkan besar ayam, umur, dan
nutrisi juga mempengaruhi bobot
x 100% [Link]-faktor yang mempengaruhi
bobot telur terutama adalah induk, seperti
c. Daya Tetas (%) bobot badan induk, umur, serta kualitas
dan kuantitas konsumsi pakan
x 100% (Achmanudkk., 2011).
d. Mortalitas (%)
x100%
4 JITRO VOL.4 NO.2 Mei 2017
Tabel [Link] Telur Tetas Ayam dari Hasil Persilangan antara PB dan BP
Persilangan Ayam
No Parameter
PB BP
1 Bobot Telur Tetas (g/butir) 46,57±1,34b 59,40±0,49a
2 Indeks Telur (%) 76,85±7,69 77,18±2,59
3 Tebal Kerabang (mm)
Atas 0,41 0,39
Tengah 0,40 0,41
Bawah 0,41 0,38
Total 0,41±0,05 0,40±0,05
4 Bobot Tetas (g/ekor) 29,67±0,63b 38,49±0,43a
Keterangan :Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan
: perlakuan berbeda nyata (p<0,05).
PB = Persilangan ayam Ras
= petelur jantan dengan ayam = Bangkok betina.
BP = Persilangan ayam Bangkok
=jantan dengan ayam Ras
= = petelur betina
2. Indeks Telur kerabang dipengaruhi kandungan
Pada Tabel 1, terlihat bahwa Kalsium (Ca) dan Fosfor (P) dalam
indekes telur pada ayam PB dan BP ransum berperan terhadap kualitas
memiliki rataan yang relatif sama yaitu kerabang telur dalam pembentukan
76,85-77,18%. Kisaran indek telur pada kerabang telur diperlukan adanya ion-ion
penelitian ini masuk dalam kisaran karbonat danion-ion Ca yang cukup
normal 69-77% (Zainuddin dan Jannah, untuk membentuk CaCO3 kerabang
2014). Selanjutnya dijelaskan bahwa nilai [Link] dkk. (2010), faktor
indeks telur merupakan suatu indikasi yang mempengaruhi tebal kerabang
untuk mengetahui tingkat kelonjongan diataranya adalah kalsium ransum yang
atau bulatnya bentuk telur, dimana berkisar 4,60-4,67% dengan imbangan
semakin besar angka indeks telur maka kadar fosfor yang tersedia antara 1,74-
bentuk telur akan semakin lonjong. 1,90%. Lebih lanjut dijelaskan bahwa
Kisaran indeks telur yang normal adalah faktorlain yang juga turut mempengaruhi
0,70-0,74. Septiawan (2007) bentuk telur tebal kerabang yaitu sifat genetik,
dipengaruhi oleh lebar tidaknya diameter ransum, umur ayam dan suhu lingkungan.
isthmus. Semakin lebar diameter isthmus, Rataan tebal kerabang yang diperoleh
maka bentuk telur yang dihasilkan pada penelitian ini yaitu 0,40-0,41 mm,
cenderung bulat dan apabila diameter hasil ini dibandingkan penelitian Widjaja
isthmus sempit, maka bentuk telur yang (2001) antara 0,33 sampai 0,36 mm.
dihasilkan cenderung lonjong. Menurut Wiradimadja dkk. (2010),
ketebalan kerabang telur jangan kurang
3. Tebal Kerabang dari 0,33 mm. Kerabang telur yang tipis
Pada Tabel 1, terlihat bahwa tebal relatif berpori lebih banyak dan besar,
kerabang pada ayam BP dan PB memiliki sehingga mempercepat turunnya kualitas
rataan yang relatif sama. Menurut telur yang terjadi akibat penguapan
Juliambarwati dkk.(2012) bahwa tebal (Haryono, 2000).
5 JITRO VOL.4 NO.2 Mei 2017
4. Bobot Tetas 1. Hen Day Production
Pada Tabel 1, terlihat bahwa Pada Tabel 2, terlihat bahwa Hen
bobot tetas ayam BP 38,49g/butir lebih day Production persilangan ayam BP
tinggi dibandingkan dengan aym PB 77,42% lebih tinggi dibandingkan dengan
29,67g/butir, hal ini dikerenakan adanya ayam PB 63,33%.Ayam Ras petelur
hubungan yang erat antara bobot telur secara genetik memiliki produksi telur
dengan bobot tetas. Saepudin (2015) juga yang lebih tinggi dibandingkan dengan
menyatakan berat telur tetas berpengaruh ayam [Link] Sajuti (2016) bahwa
terhadap berat tetas. Menurut Rahayu ayam local memiliki ketahanan yang
(2014) bahwa salah satu yang lebih baik terhadap penyakit, terutama
mempengaruhi bobot tetas yaitu bobot AI, dibandingayamras. Namun demikian
telur. Telur dengan bobot rata-rata atau ayam local mempunyai beberapa
sedang akan menetas lebih baik daripada keterbatasan budidaya antara lain
telur yang terlalu kecil dan terlalu besar pertumbuhan bobot badan yang relatif
Ahyodi dkk., 2014). lambat, produksi telur yang relatif rendah
Sadid (2016) faktor yang dibandingkan ayam ras, angka konverci
mempengaruhi bobot tetas adalah makanan dan angKa kematian yang
genetik, pakan, berat telur dan tinggi.
lingkungan. Suhu yang tinggi dan Produktivits ayam secara genetik
kelembaban rendah dapat menyebabkan dipengaruhi oleh beberapa gen penting
bobot tetas dihasilkan menurun (Nuryati seperti gen GH untuk pertumbuhan dan
dkk.2000). Penetasan telur menggunakan produksi telur (Pagala dkk, 2013; pagala
mesin otomatis dengan suhu antara 37- dkk, 2015). Nataamijaya(2008), produksi
38ºC. (misal : telur puyuh masa telur ayam kampung berkisar antara 20-
inkubasi17 hari, ayam 21 hari, itik 28 30%pada sistem pemeliharaan intensif,
hari) berkisar antara 36-39°C (Siboro, sedangkan ayamras petelur mencapai
2016). henday production 73%.Berdasarkan
pendapat tersebut ayam betina Bangkok
B. Performa Reproduksi memiliki potensi untuk dikembangkan
Performa produksi yang diamati menjadi ayam tipe [Link] yang
pada penelitian ini yaitu hen day nantinya dihasilkan memiliki nilai
production, fertilitas, daya tetas dan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan
mortalitas embrio yang disajikan pada ayam ras petelur.
Tabel 2.
Tabel 2. Performa Reproduksi Ayam dari Hasil Persilangan antara PB dan BP
Persilangan Ayam
No Parameter
PB BP
b
1 Hen Day (%) 63,33±10,61 77,42±10,21a
a
2 Fertilitas (%) 74,44±8,39 62,22±3,85b
3 Daya Tetas (%) 76,24±3,64a 65,93±4,49b
4 Mortaitas Embrio (%) 23,76±3,64b 34,07±4,49a
Keterangan :Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan
: perlakuan berbeda nyata (p<0,05).
PB = Persilangan ayam Ras
= petelur jantan dengan ayam = Bangkok betina.
BP = Persilangan ayam Bangkok
=jantan dengan ayam Ras petelur betina
6 JITRO VOL.4 NO.2 Mei 2017
2. Fertilitas penyimpanan telur, faktor genetik, suhu
Pada Tabel 2, terlihat bahwa dan kelembapan, musim, nomor induk,
fertilitas persilangan ayam PB 74,44% kebersihan induk, kebersihan telur,
nyata (p<0,05) lebih tinggi dibandingkan ukuran telur dan nutrisi. Suhu dan
dengan persilangan ayam BP 62,22%. kelembapan yang sama juga
Rendahnya fertilitas pada ayam BP menyebabkan daya tetas yang relatif
kemungkinan dipengaruhi oleh faktor sama. Suhu yang terlalu tinggi dapat
umur induk (2 tahun) yang suda berada menyebabkan gangguan syaraf, jantung,
pada puncak produkitif. Masa produktif pernapasan, ginjal, dan membran embrio
ayam petelur yaitu 1-2 tahun (Darmawan mengering sehingga membunuh embrio
dan Sitanggang, 2002). Zainuddin dan sedangkan suhu yang rendah pada
Jannah, (2014), umur sangat penetasan menyebabkan pertumbuhan
mempengaruhi ovulasi, dimana ovulasi yang tidak proporsional. Suhu rendah
meningkat cepat dari masa sebelum juga dapat menyebabkan gangguan
dewasa ke titik yang tertinggi dan jantung, pernapasan, dan gizi yang tidak
kemudian secara lambat akan menurun dapat diserap oleh embrio (Ahyodi dkk.,
kesterilitas masa tua. Menurut 2013).
Ankanegara (2011), faktor-faktor yang
mempengaruhi fertilitas adalah cahaya, 4. Mortalitas Embrio
rasio jantan dan betina, umur ternak, Mortalitas embrio pada ayam BP
interval antara waktu perkawinan dan yaitu sebesar 34,07%, sedangkan pada
penyimpanan telurtetas, pakan, ayam PB didapatkan mortalitas embrio
abnormalitas spermatozoa, produksi telur, lebih rendah yaitu sebesaar 23,76%.
bangsa dan musim. Mortalitas embrio pada penelitian ini
Selain itu penurunan suhu akibat diakibatkan listrik yang padam sehingga
listrik yang padam memnyebabkan panas menyebabkan tidak stabilnya sumber
dalam mesin tetas tidak stabil sehingga panas mesin tetas .Hafsah dkk.(2008),
fertilitas telur menurun. Menurut Suhu merupakan salah satu faktor yang
Maghfiroh dkk. (2015) bahwa sangat penting dalam menentukan atau
lingkungan ruangan mesin penetas telur mempengaruhi perkembangan embrio,
(suhu dan kelembapan) yang kurang daya tetas, dan pertumbuhan anak setelah
sesuai dapat mempengaruhi tingkat menetas. Jasa (2006), suhu embrio harus
fertilitas [Link] mesin tetas diatur sesuai dengan kondisi pada proses
pada kisaran 38-390C dengan penetasan alami menggunakan induk,
kelembaban 45-60% (Asmarawati dkk., adapun kisaran suhu dalam mesin tetas
2013). yaitu sebesar 95-1040F.
3. Daya Tetas KESIMPULAN
Pada Tabel 2, terlihat bahwa daya
tetas ayam PB nyata(p<0,05) lebih tinggi Fertilitas daya tetas dan mortalitas
dibandingkan pada ayam BP. Rendahnya embrio yang terbaik diperoleh pada ayam
daya tetas pada ayam BP, hal ini PB (Persilangan ayam Raspetelur jantan
dikarenakan dipengaruhi oleh manajemen dengan ayam Bangkok betina), namun
penetasan (suhu mesin tetas) dan umur produksi telur, bobot telur dan bobot tetas
ayam Ras Petelur yang digunakan yang terbaik diperoleh pada ayam BP
sebagai induk. Menurut Rahayu (Persilangan ayam Bangkok jantan
dkk.(2005) bahwa faktor-fakor yang
dengan ayam Ras petelur betina).
mempengaruhi daya tetas yaitu
7 JITRO VOL.4 NO.2 Mei 2017
DAFTAR PUSTAKA Fungsional non Peneliti. Balai
Penelitian Ternak, Bogor.
Ankanegara, A. A. 2011. Fertilitas telur
Jasa, L. 2006. Pemanfaatan
ayam arab hasil inseminasi buatan
mikrokontroler atmega 163 pada
menggunakan semen dari
prototipe mesin penetasan telur
frekuensi penampunan
[Link] Teknologi Elektro,
[Link]. Fakultas
5(1):30-36.
Peternakan. Institut Pertanian
Juliambarwati, M., Ratriyanto, A., dan
Bogor, Bogor.
Hanifa, A. [Link]
Ahyodi, F., K. Nova dan T. Kurtini.2104.
penggunaan tepung limbah udang
Pengaruh bobot telur terhadap
dalam ransum terhadap kualitas
fertilitas, susut tetas, daya tetas,
telur [Link] Peternakan:
dan bobot tetas telur kalkun.
Jurnal Penelitian Ilmu
Jurnal Ilmiah Peternakan
Peternakan, 10(1): 1-6.
Terpadu, 2(1).
Maghfiroh, F., Kurtini, T., dan Nova, K.
Asmarawati, W., D. T. Widayati, dan S.
2015. Pengaruh dosis larutan
[Link] dosis sperma
vitamin b kompleks sebagai
yang diencerkan dengan nacl
bahan penyemprotan telur itik
fisiologis terhadap fertilitas telur
tegal terhadap fertilitas, susut
pada inseminasi buatan ayam
tetas, daya tetas, dan kematian
[Link] Peternakan,
[Link] Ilmiah Peternakan
37(1): 1-5.
Terpadu, 3(4).
Campbell, J.R., M.D. Kenealy, K.L.
Nataamijaya, A. G. 2008. Karakteristik
Campbell. 2003. Animal Science.
dan produktivitas ayam kedu
The Biology,Care, and Production
[Link] Plasma
of Domestic Animal. Ed ke-4.
Nutfah,14(2): 85-89.
New York (US): [Link] Hill.
Nuryati, T., Sutarto, M. Khaim, dan P.
Darmawan, W. dan Sitanggang, M. 2002.
[Link]. 2000. Sukses
Meningkatkan produktivitas ayam
MenetaskanTelur. Penebar
arab petelur. AgroMedia.
Swadaya. Jakarta. Pagala, M.A.,
Direktorat Jendral Peternakan. Muladno, [Link] & S. Murtini.
Departemen Pertanian. 2006. [Link] of Mx Gene
Pedoman pembibitan ayam Genotype with Antiviral and
kampung yang baik. Ditjennak, Production Traits in Tolaki
Jakarta. [Link]. J. Poult Sci. 12 (12):
Ensminger ME, G. Brant , C.G. Scanes. 735-739.
2004. Poultry Science. Ed ke-4.
New York (US): Pearson Prentice Pagala, MA, [Link], [Link]. 2015.
Hall. Association of cGH EcoRV Gene
Hafsah, H., Yuwanta, T., Kustono, K., with Production in Tolaki
dan Djuwantoko, D. 2008. Chicken. IJSBAR. 24(7):88-95.
Karakteristik habitat mikro
sebagai dasar pola penetasan telur Putri, A.E. [Link] penetasan telur
maleo di taman nasional lore ayam hasil persilangan ayam
lindu sulawesi tengah. Agroland, kampung
15(3): 223-228. dengan ayam ras
Haryono. 2000. Langkah-Langkah Teknis [Link]. Fakultas
Uji Kualitas Telur Konsumsi Peternakan. Institut Pertanian
Ayam Ras. Temu teknis Bogor, Bogor.
8 JITRO VOL.4 NO.2 Mei 2017
Rahayu, C.T. [Link] produksi Soepuddin, A. [Link] produksi
dan reproduksi persilangan ayam telur dan reproduksi hasil
sentul persilangan ayam lokal dengan
dengan kampung serta pelung ayam ras [Link].
dengan [Link]. Fakultas Fakultas Peternakan. Institut
Peternakan. Institut Pertanian Pertanian Bogor, Bogor.
Bogor, Bogor. Standar Nasional Indonesia Nomor 3926-
Sadid, S. I. 2016. Fertilitas, daya tetas, 2008. 2008. Telur Ayam
dan bobot tetas ayam lokal Konsumsi. Jakarta: Badan
jimmy’s farm cipanas kabupaten Standarisasi Nasional.
cianjur jawa barat. Students e- Widjaja, H. 2001. Seandainyai Telur Bisa
Journal, 5(4): 1-10. Bicara. Poultry [Link].44-
Sajuti, R. 2016. Analisis agribisnis ayam 46.
buras melalui pendekatan fungsi Wiradimadja, R., Burhanuddin, H., dan
keuntungan multi output kasus Saefulhadjar, D. 2010.
Jawa Timur. Jurnal Agro Peningkatan kadar vitamin a pada
Ekonomi, 19(2): 56-74. telur ayam melalui penggunaan
Septiawan, R. 2007. Responproduktivitas daun katuk (Sauropus androgynus
dan reproduktivitasayam L. Merr) dalam Ransum. Jurnal
kampung dengan umurinduk yang Ilmu Ternak, 10(2): 90-94..
[Link] Zainuddin, D. dan Jannah, I. R.
Peternakan. InstitutPertanian (2014).Suplementasi Asam
Bogor, Bogor. Amino Lisin dalam Ransum Basal
Siboro, N. [Link] umur induk untuk Ayam Kampung Petelur
itik dan spesific gravity terhadap terhadap Bobot Telur, Indeks
karakteristik [Link] e- Telur, Daya Tunas dan Daya
Journal, 5(4): 1-7. Tetas serta [Link],
19(3):142-148.
9 JITRO VOL.4 NO.2 Mei 2017