0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
374 tayangan10 halaman

Taksonomi dan Morfologi Ciplukan

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai ciplukan (Physalis angulata L.), tanin, dan maserasi. Ciplukan memiliki berbagai manfaat kesehatan, kandungan kimia seperti saponin dan flavonoid, serta morfologi tanaman tertentu. Tanin berperan sebagai antioksidan dan digunakan dalam berbagai produk. Maserasi adalah proses ekstraksi menggunakan pelarut pada suhu ruang. [

Diunggah oleh

Tessa Putri Denia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
374 tayangan10 halaman

Taksonomi dan Morfologi Ciplukan

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai ciplukan (Physalis angulata L.), tanin, dan maserasi. Ciplukan memiliki berbagai manfaat kesehatan, kandungan kimia seperti saponin dan flavonoid, serta morfologi tanaman tertentu. Tanin berperan sebagai antioksidan dan digunakan dalam berbagai produk. Maserasi adalah proses ekstraksi menggunakan pelarut pada suhu ruang. [

Diunggah oleh

Tessa Putri Denia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

2.1. Tinjauan Pustaka

[Link] (Physalis Angulata L.)

Gambar 2.1. Tanaman ciplukan (Physalis Angulata L.)

[Link]

Kedudukan tanaman ciplukan dalam sistematika tumbuhan

termasuk dalam klasifikasi sebagai berikut:

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Bangsa : Solanales

Marga : Physalis

Jenis : Physalis angulata L.

Physalis minima L.

Sinonim : Halicacabus indicus Rumphius (Pitojo, 2002).

5
6

2. Nama Daerah

Nama lain dari ciplukan adalah ceplukan (Jawa), cecendet

(sunda), Yor-yoran (Madura), lapinonok (Seram), angket, kepok-

kepokan, keEpokan (Bali), deds (Sasak) dan leletokan (Minahasa)

(Septiatin, Atin, 2014:173).

3. Morfologi

Physalis angulata merupakan salah satu tumbuhan herbal yang

hidup semusim dan mempunyai tinggi sekitar 1 meter. Tumbuhan ini

hidup secara liar di kebun, ladang, sawah dan hutan. Bentuk

tumbuhan ini dapat dilihat di gambar 2.1. Batang ciplukan berongga

dan bersegi tajam. Daun ceplukan berbentuk lonjong dengan

ujungnya yang meruncing. Tepi daun terkadang rata terkadang tidak

dengan panjang daun antara 5-15 cm dan lebar 2-10 cm. Bunga

ceplukan (Physalis angulata) terdapat di ketiak daun, dengan tangkai

tegak berwarna keunguan dan dengan ujung bunga yang

mengangguk. Kelopak bunga berbagi lima, dengan taju yang

bersudut tiga dan meruncing. Mahkota bunga menyerupai lonceng,

berlekuk lima berwarna kuning muda dengan noda kuning tua dan

kecoklatan di leher bagian dalam. Benang sari berwarna kuning

pucat dengan kepala sari biru muda. Buah ciplukan (Physalis

angulata) terdapat dalam bungkus kelopak yang menggelembung

berbentuk telur berujung meruncing berwarna hijau muda

kekuningan, dengan rusuk keunguan, dengan panjang sekitar 2-4 cm.


7

Buah buni di dalamnya berbentuk bulat memanjang berukuran antara

1,5-2 cm dengan warna kekuningan jika masak. Rasa buah ciplukan

manis dan kaya manfaat sebagai herbal(Ratna, dkk, 2013:6).

4. Kandungan Kimia

Pada pohon ciplukan mengandung senyawa-senyawa aktif

yang ada antara lain saponin, flavonoid, polifenol, dan fasalin,

withangulatin A, asam falminat dan stearat, alkaloid, chlorogenik

acid, tanin, kriptoxantin, vitamin C dan gula (Ratna, dkk, 2013:6).

5. Khasiat

Daun Ciplukan (Physalis angulata) bermanfaat sebagai obat

penyembuhan patah tulang, busung air, bisul, borok, penguat jantung,

keseleo, nyeriperut, dan kencing nanah. Sedangkan buah ciplukan

sendiri sering dimakan langsung untuk mengobati epilepsi, sulit

buang air kecil, dan penyakit kuning (Ratna, dkk, 2013:7).

2.1.2. Tanin

Tanin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang

diketahui mempunyai beberapa khasiat sebagai astrigen, antidiare,

antibakteri, dan antioksidan. Kemudian tanin juga banyak digunakan

sebagai penyamak kulit karena kemampuannya untuk mengendapkan

protein tanpa mengubah sifat fisika dan kimia kulit. Selain itu, tanin

digunakan sebagai zat pewarna, bahan pengawet minuman, bahan baku


8

pembuatan obat-obatan seperti obat kumur dan obat cacing, ramuan

pembuatan sabun, pasta gigi, dan kosmetik (Malangngi, dkk,2012).

Tanin sebagai golongan senyawa polifenol yang sifatnya polar

dapat larut dalam gliserol, alkohol, hidoalkohololik, air, dan aseton,

tetapi tidak larut dalam kloroform, petroleum eter dan benzene (Enny

Artati, Fadilah,2007).

Tanin memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1. Dalam air membentuk larutan koloid yang bereaksi asam

dan sepat.

2. Mengendapkan larutan galetin dan larutan alkaloid.

3. Tidak dapat mengkristal.

4. Larutan alkali mampu mengoksida oksigen.

5. Mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa

dengan protein tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh

enzim protiolitik(Enny Artati,Fadilah,2007).

Secara kimia tanin diklasifikasikan ke dalam dua kelompok:

1. Tanin terkondensasi

Tanin terkondensasi secara biosintesis dapat dianggap terbentuk

dengan cara kondensasi katekin tunggal (galokatekin) yang

membentuk senyawa dimer dan kemudian oligomer yang lebih

tinggi. Proantosianidin merupakan nama lain dari tanin

terkondensasi karena jika direaksikan dengan asam panas,


9

beberapa ikatan karbon penghubung satuan terputus dan

dibebaskanlah monomer antosianidin (Lailis Sa’adah, 2010).

2. Tanin terhidrolisis

Tanin terhidrolisis merupakan molekul dengan poliol (umumnya

D-glikosa) sebagai pusatnya. Tanin terhidrolisis adalah pecahnya

karbohidrat dan asam fenolik oleh asam lemah atau basa

lemah(Hagerman, 1998) Gugus hidroksi pada karbohidrat sebagian

atau semuanya teresterifikasi dengan gugus karboksil pada asam gallat

(gallotanin) atau asam ellagat (ellagitanin). Tanin terhidrolisis

biasanya sedikit terdapat dalam tanaman (Lailis Sa’adah, 2010).

[Link]

Maserasi berasal dari bahasa latin macerace yang artinya mengairi

atau melunakan (Voight, 1995:564). Maserasi adalah proses pengekstraksi

simplisia dengan menggunakan pelarut dan dengan beberapa kali

pengocokan pada temperature ruangan dan terlindungi dari cahaya.

Prinsip maserasi serbuk simplisia direndam dalam cairan penyari

yang sesuai selama beberapa hari pada suhu kamar dan terlindungi dari

cahaya, cairan penyari akan masuk kedalam sel melewati dinding sel. Isi

sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan didalam

sel dengan diluar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak

keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses

difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan


10

konsentrasi antara larutan di luar dan didalam sel. Selama proses maserasi

dilakukan pengadukan atau pengocokan dengan tujuan supaya cairan

penyari masuk kedalam sel serbuk sampel. Endapan yang diperoleh

dipisahkan dan filtratnya dipekatkan (Voight, 1995:564).

Maserasi dilakukan dengan cara 10 bagian simplisia dengan derajat

kehalusan yang cocok, dimasukkan kedalam bejana kemudian dituang

dengan 75 bagian cairan penyari, di tutup dan dibiarkan selama 5 hari

terlindung dari cahaya (Depkes,1986:11).

Keuntungan dari metode maserasi adalah pengerjaannya serta

peralatan yang digunakan sederhana dan mudah dilakukan, kemungkinan

zat aktif didapat banyak (Depkes,1986:10-11).

2.1.3. Kromatrografi Lapis Tipis

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan

campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui

kuantitasnya yang menggunakan. Kromatografi juga merupakan analisis

cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun

cuplikannya. KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai

selayaknya sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif,

atau preparatif. Kedua, dipakai untuk menjajaki system pelarut dan system

penyangga yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau

kromatografi cair kinerja tinggi. KLT dapat digunakan untuk memisahkan

senyawa – senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida – lipida dan

hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga


11

dapat berguna untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom, analisis

fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom, identify kasi senyawa

secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala kecil. Pelarut yang

dipilih untuk pengembang disesuaikan dengan sifat kelarutan senyawa

yang dianalisis. Bahan lapisan tipis seperti silika gel adalah senyawa yang

tidak bereaksi dengan pereaksi –pereaksi yang lebih reaktif seperti asam

sulfat. Data yang di peroleh dari KLT adalah nilai Rf yang berguna untuk

identifikasi senyawa. Nilai Rf untuk senyawa murni dapat dibandingkan

dengan nilai Rf dari senyawa standar. Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai

jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik asal dibagi dengan jarak yang

ditempuh oleh pelarut dari titik asal (Rahma , 2009:3).

1. Fase diam

Penjerap untuk KLT umumnya dapat digolongkan menjadi dua

yaitu penjerap dari bahan silica gel dan alumina. Silica gel merupakan

penjerap yang paling banyak digunakan dalam KLT. Silica gel bersifat

asam, jadi lebih sering digunakan untuk memisahkan senyawa yang

bersifat asam. Sedangkan alumina bersifat basa digunakan untuk senyawa

basa. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pengikatan secara kuat

senyawa dengan penjerap karena ikatan ion antara keduanya. Selain silica

gel dan alumina dapat juga digunakan penjerap lain seperti selulosa atau

poliamida.(Yanita, 2008:22).
12

2. Fase gerak

Fase gerak diubah-ubah dengan cara mengkombinasikan dengan

cara mengkombinasikan pelarut agar diperoleh kepolaran yang tepat untuk

pemisahan tertentu. Ada dua faktor yang harus diperhatikan ketika

mencampur fase gerak. Faktor pertama, bahwa hanya pelarut yang

mempunyai kepolaran yang serupa dapat dicampur. Faktor kedua adalah,

bahwa kepolaran campuran tidak merupakan funsi linier dari susunan

campuran tapi merupakan fungsi logaritma. (Yanita, 2008:21).

Rumus untuk menentukan Rf :

jarak titik pusat bercak dari titik awal


Rf=
jarak garis depan dari titik awal

Faktor-faktor yang mempengaruhi gerak noda dalam Kromatografi

Lapis Tipis yang juga mempenggaruhi harga Rf :

a. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan.

b. Sifat dari penyerap dan derajat aktifitasnya.

Biasanya aktifitas dicapai dengan pemanasan dalam oven ± 3 menit, hal ini

akan mengeringkan molekul-molekul air yang menempati pusat-pusat

serapan dari penyerap. Perbedaan penyerap akan memberikan perbedaan

yang besar terhadap harga-harga Rf meskipun menggunakan fase gerak

dan solute yang sama.

c. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap

Meskipun dalam prakteknya tebal lapisan tidak dapat dilihat pengaruhnya,

tetapi perlu diusahakan tebal lapisan yang rata. Ketidak rataan akan
13

menyebabkan aliran pelarut menjadi tidak rata pula dalam daerah yang

kecil dari plat.

d. Pelarut dan derajat kemurnian fase gerak.

Kemurnian dari pelarut yang digunakan sebagai fase bergerak dalam KLT

adalah sangat penting dan bila campuran pelarut digunakan maka

perbandingan yang dipakai harus betul-betul diperhatikan.

e. Derajat kejenuhan dari uap dalam mana bejana pengembang yang

digunakan.

f. Teknik percobaan.

Arah dimana pelarut bergerak dari batas garis bawah plat kebatas garis

atas plat KLT.

g. Jumlah cuplikan yang digunakan.

Penetesan cuplikan dalam jumlah yang berlebihan memberikan tendensi

penyebaran noda-noda dengan kemungkinan terbentuknya ekor dan efek

tak kesetimbangan lainnya hingga akan mengakibatkan kesalahan-

kesalahan pada harga-harga Rf.

h. Suhu.

Pemisahan-pemisahan sebaiknya dikerjakan pada suhu tetap, hal ini

terutama untuk mencegah perubahan-perubahan fase.

i. Kesetimbangan

Kesetimbangan dalam Kromatografi Lapis Tipis dilakukan dengan

mengusahakan suasana dalam bejana jenuh dengan uap pelarut

(Sastrohamidjojo, 2005:35-36).
14

22. Hipotesis

Ho : tidak ada pengaruh perbandingan hasil rendemen tanin ekstrak maserasi

pada batang dan daun ciplukan.

Ha : ada pengaruh perbandingan hasil rendemen tanin ekstrak maserasi pada

batang dan daun ciplukan.

Anda mungkin juga menyukai