0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
135 tayangan2 halaman

Cinta Pertama di Usia Remaja

Tiga kalimat ringkasan dari dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut menceritakan tentang empat remaja perempuan yang menikmati waktu bersama di pasar malam sambil mengenang masa kecil mereka yang penuh keusilan, dan berjanji untuk tetap bersahabat di sekolah baru meskipun tidak membawa ponsel.

Diunggah oleh

SMK Plus Taufiqiyah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
135 tayangan2 halaman

Cinta Pertama di Usia Remaja

Tiga kalimat ringkasan dari dokumen tersebut adalah: Dokumen tersebut menceritakan tentang empat remaja perempuan yang menikmati waktu bersama di pasar malam sambil mengenang masa kecil mereka yang penuh keusilan, dan berjanji untuk tetap bersahabat di sekolah baru meskipun tidak membawa ponsel.

Diunggah oleh

SMK Plus Taufiqiyah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Majalah Dinding Aku hanya tersenyum lalu ia pun membalasnya

Bagaimana cinta pertamamu, apakah berhasil? Saling dengan senyuman kembali. Entah kenapa, aku merasa
betukar pandang di jendela kelas dengan malu-malu, menjadi orang yang beruntung. Mungkinkah ini
memberikan beberapa tangkai bunga dan coklat di dampak dari jatuh cinta pada kali pertama?
kolong meja diam-diam, dan juga belajar bersama di Nyanyian Seberang Jalan
perpustakaan merupakan alibi untuk selalu dekat Nyanyian Seberang Jalan
dengan orang yang kau damba. Begitupun denganku. Sumber foto: Gerd Altmann dari Pixabay
Rumah bergaya Belanda itu menjadi tongkrongan
Ialah sosok berambut sebahu itu, yang matanya anak-anak muda. Pemiliknya ialah sepupuku bernama
berpendar pertama kali di lorong sekolah saat melihat Angga. Biasanya pada jam 4 sore sampai malam,
karya cerpenku di mading. Cerpen remajaku yang teman-teman Angga akan berkumpul dan bernyanyi
kupasang di mading, tak kusangka dibaca olehnya dan sambil mendendangkan gitar. Rumahnya yang
membuat matanya berkaca-kaca. Aku yang berada di berseberangan dengan rumahku pun terkadang
sampingnya takjub, baru pertama kali aku melihat terganggu dengan kelakuan Angga dan teman-
orang secara langsung terenyuh membaca cerpen ku. temannya.
Rata-rata teman-teman Angga berusia 12-17 tahun.
“Bagus sekali..” gumamnya kala itu. Yang paling tua bernama Narto, ia bisa dibilang ketua
“Bagian mana yang bagus?” tanyaku geng di antara mereka. Narto kerap kali mengajak
mereka bermain game bersama di sana ataupun
“Saat Rana menggapai mimpinya dan jatuh bangun hanya memainkan gitar sambil bernyanyi. Terkadang
bersama Roni” jawabannya dengan tatapan mata pula, ia menggodaku ketika hendak keluar rumah
masih menghadap mading. Rana dan Roni adalah untuk pergi ke warung.
tokoh dalam cerpenku.
Aku tak menanggapinya lagi. Namun tiba-tiba, ia Suatu hari, Narto dan ketiga teman lainnya asyik
menghentikan langkahku ketika aku hendak beranjak bernyanyi sambil bermain gitar. Tak kutemukan Angga
pergi. di sana. Entah kemana sepupuku satu itu, mungkin
“Tunggu, namamu siapa?” tanyanya masih di dalam rumah. Apabila aku tidak disuruh pergi
“Satya.” jawabku pendek membeli telur, sangat malas aku keluar rumah dan
“Aku Sinta, kelas 8B” ujarnya cepat, padahal akupun bertemu Narto.
tak bertanya.
Sejak saat itu, aku yang ketika awal bertemu bersikap Baru saja aku membuka pintu gerbang, langkah kaki
dingin, entah mengapa seperti tersihir matanya. Narto dari seberang jalan mendekatiku. Ia bernyanyi
Caranya tersenyum seolah membuat matanya pun sambil memainkan gitarnya dan menghampiriku
ikut tersenyum. Perlahan-lahan aku mulai pura-pura dengan menggoda. Teman-teman lainnya pun
menitipkan coklat di kolong mejanya, mencuri cekikikan tertawa melihat Narto yang menggodaku.
pandang di jendela kelasku yang berseberangan Aku yang risih pun berteriak.
dengan kelasnya.
Sampai pada semester genap terakhir kelas delapan, “Diam Narto!!” Sontak ia menghentikan nyanyiannya.
di saat perpustakaan kosong, itulah keberanianku “Kalian itu ngenganggu tau gak! Tiap hari nyanyi gak
pertama kali untuk mengajaknya berhubungan lebih jelas, kayak gak ada kerjaan!” teman-temannya pun di
dari teman. Entah mengapa, dengan senyum malu- seberang jalan mendadak diam. Dan kulihat Angga
malu, ia pun menganggukan kepala tanda setuju. keluar dari dalam rumah.
Momen itu akan aku ingat seumur hidupku.
“Kamu juga, Angga! Suruh mereka pulang kek ke
Beberapa bulan berjalan, aku dan dia hendak pulang rumahnya masing-masing. Betah banget di rumah
bersama. Tetiba ia menghentikan langkah tepat di kamu kayak parasit!” Bentakku dengan keras. Kulihat
depan majalah dinding. Ia menghadap langsung dan mata mereka merenung tak berani menatapku.
bertanya,
“Kamu tahu, kenapa aku mau nerima kamu?” Segera aku pergi dari tempat itu dan meninggalkan
“Kenapa?” mereka semua. Tak kusangka, Angga mengejarku. Di
“Mungkin karena kamu menulis. Kamu juga kan yang lapangan kompleks sebelum ke warung ia
menulis cerpen remaja yang aku baca saat pertama meneriakiku.
kali kita bertemu?” Penjelasannya membuatku susah
berkata-kata. Aku tak pernah bilang kalau aku ialah
penulis cerpen di mading sekolah. “Wana! Berhenti!”
“Apa?” Tanyaku kepadanya
“Kamu gak berhak lho marah-marahin temenku kayak “Pokoknya, harus! Diusahakan aja tetep ada
gitu. Mereka juga punya amarah yang disembunyikan komunikasi dan kumpul tiap jam istirahat, gimana?”
dan melampiaskannya dengan ngobrol serta main Shila menjawabnya dengan semangat.
bareng di rumahku. Emangnya salah kalau mereka
bersenang-senang sejenak?” Mereka semua pun mengangguk. Shila yang biasanya
“Salah karena mengganggu orang, tau gak!” Bentakku menjadi anak manja di rumah, selalu bisa mengajak
tak mau kalah. dan menuntun teman-temannya itu. Di pasar malam,
“Ridwan sering ditinggal Ibunya tanpa dikasih apapun, mereka mengikrarkan sesuatu pada ingatan masa
Pandu punya masalah dengan kakaknya, dan Narto ia anak-anak mereka, dan menyambut segala hal baru di
rela bersekolah sekaligus mengamen untuk depan mata mereka.
menambah biaya obat Ayahnya, asal kamu tahu.”
Penjelasan Angga membuatku tertegun. “Gak semua “Untuk ingatan masa kecil dan ramalan masa depan,”
yang kamu kira gak berguna, gak ada nilai, Wan.” “Yeay! Yeay! Yeayyyy!!”
Perlahan Angga pun berbalik dan menjauhiku.
Segera aku pergi ke warung dan berusaha tidak
memedulikan omongan Angga. Tapi nyatanya,
omongan Angga mengusik pikiranku. Selepas kembali
dari warung, kulihat Narto dan lainnya sudah berdiri di
depan rumahku. Mereka meminta maaf. Hal itu
membuatku terenyuh. Segera aku pun meminta maaf
kepada mereka. Rupanya dengan beberapa
pengertian, segala hal menjadi indah.
Pasar Malam
Gulali berwarna merah muda itu mereka beli dengan
sisa uang yang mereka punya. Sehabis menaiki
komedi putar yang tiang-tiangnya sudah berkarat,
mereka sepakat untuk menyudahi main wahana
malam ini.
Empat orang gadis remaja itu menikmati gulali merah
di bangku pasar malam. Ada Rana yang selalu
memakai bando untuk menghias kepalanya, ada Nina
dan Nani si kembar identik yang menjadi pembeda
adalah tahi lalat di sebelah pipi kiri pada Nina dan tahi
lalat sebelah pipi kanan pada Nani, dan yang terakhir
ialah Shila si anak bungsu yang selalu dimanja
orangtuanya.

Tanpa membawa handphone satu pun, mereka bebas


melakukan dan bermain di pasar malam tanpa
diganggu oleh panggilan dari orang tua ataupun dari
orang lain. Lalu, mereka pun berbincang tentang yang
sudah terjadi ataupun yang belum terjadi.
“Tahu gak dosa kita apa? Dulu, kita sering iseng ke Pak
Sadeli, asisten mamanya Shila. Gara-gara dia selalu
pakai celana panjang batik kedodoran, hahha!” tiba-
tiba Rana memulai perbincangan.
“Haha bener, aku inget banget. Nina hampir mau
ketangkep kan sama Pak Sadeli?” Shila menimpali
“Enak aja, itu Nani tau, bukan aku! Aku kan larinya
cepet!” Nina menyangkal
“Tapi Pak Sadeli sabar deh ngadepin usilnya kita” ujar
Nani sambil melahap gulali yang tersisa.
“Untungnya aja, sekarang kita gak usil. Nanti di
sekolah baru, kita bakal tetep kompak ga, ya?” tanya
Rana

Anda mungkin juga menyukai