0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
745 tayangan6 halaman

Meringkas Novel "Pulang" Toha Mohtar

Novel Pulang karya Toha Mohtar menceritakan tentang seorang pemuda bernama Tamin yang pulang ke desanya setelah tujuh tahun menjadi tentara Heiho. Ia berbohong tentang pengalamannya selama perang kepada warga desa. Kebohongan ini membuatnya gelisah dan akhirnya pergi lagi dari desa. Suatu hari ia bertemu Pak Banji dan mengetahui ayahnya telah meninggal, lalu ia pun memutuskan

Diunggah oleh

alfahari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
745 tayangan6 halaman

Meringkas Novel "Pulang" Toha Mohtar

Novel Pulang karya Toha Mohtar menceritakan tentang seorang pemuda bernama Tamin yang pulang ke desanya setelah tujuh tahun menjadi tentara Heiho. Ia berbohong tentang pengalamannya selama perang kepada warga desa. Kebohongan ini membuatnya gelisah dan akhirnya pergi lagi dari desa. Suatu hari ia bertemu Pak Banji dan mengetahui ayahnya telah meninggal, lalu ia pun memutuskan

Diunggah oleh

alfahari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORKAN MEMBACA BUKU FIKSI

(DIBUAT UNTUK TUGAS BAHASA INDONESIA)


Novel : Pulang
Karya : Toha Mohtar

|||
Dibuat Oleh
Nama : Riknard Arfak Juliano Saroi
Kelas : XII IPA 4
NIS : 9211

TAHUN AJARAN 2022/2023 SMA NEGERI 02


MANOKWARI
2022
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur, saya panjatkan kepada Tuhan Yesus, atas berkat dan
anugerahnya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas akhir semester ini
dengan judul “meringkas buku novel yang telah dibaca”.

Saya menyadari bahwa tugas yang saya buat ini jauh dari kata sempurna,
oleh sebab itu saya membutuhkan kritik dan saran yang dapat membangun,
dan bisa membantu saya mengerjakan tugas-tugas selanjutnya dengan
sangat baik.
IDENTITAS BUKU

Judul : Pulang

Pengarang : Toha Mohtar

Penerbit : Pustaka Jaya

Tahun Terbit : 2016

Jumlah Halaman : 96 Halaman

Kota Tempat Terbit : Jakarta


BAGIAN CERITA :

menceritakan seseorang yang telah tujuh tahun menjadi Heiho,


dan memutuskan untuk kembali Pulang ke tanah kelahiran.
Adalah Tamin, seorang pemuda dari sebuah desa sekitar Gunung
Wilis yang sudah merindu pada keluarganya setelah perjalanan
panjang dari Burma. Tak ada perubahan berarti pada desanya,
masih sama seperti dulu.
“Aku, Tamin, Mak!”
Kedatangannya membawa suka cita. Ibunya begitu terkejut melihat
sosok tinggi, tegap dan berkulit hitam itu. Ayahnya masih tak
percaya, sedang adiknya, Sumi, begitu tak asing dengan sosoknya.
Malamnya, Ayah dan Ibu Tamin banyak bercerita tentang para
sahabat Tamin, Pardan dan Gamik, yang telah gugur dengan jasa
heroiknya melawan Belanda. Tamin menimpali dengan kisahnya di
Burma hingga fajar tiba.
Tamin juga masih ingat tentang sepetak sawah yang katanya
terbaik dari seluruh desa.  Namun, tanah tersebut telah terjual
untuk mempertahankan hidup ayahnya. Hati Tamin sungguh
sedih. Baginya tiada yang lebih berharga dari pada tanah itu.
Diusahakannya waktu itu dan pada akhirnya Tamin akan
menebusnya kembali.
“Sejak hari itu, Tamin menghabiskan siangnya di tengah sawah,
pacul yang telah berkarat di dapur mengilau kembali, dan bajak di
samping kandang telah diturunkan. Ia mendapati pinjaman
sepasang sapi dari Lurah Kabul. Semua dikerjakan dengan
kegembiraan yang meluap-luap.”
Tamin juga piawai dalam menembang. Dikala tubuhnya telah
capai, dirinya menembang untuk pertama kali pada saat itu. Begitu
merdu, membuat kenikmatan pada seluruh kampung
“Suara itu penuh dan lunak mengayunkan udara dalam rumahnya,
menembusi lubang-lubang dinding dan menjalari kegelapan di
luar, menyentuh daun-daun dibawa angin merayapi dinding rumah
seluruh desa.”
Saat Tamin masih sibuk mencangkyl, tibalah Pak Banji yang
hendak mengundang Tamin untuk hadir ke pendapa nanti malam.
Acara perkumpulan warga desa guna membicarakan rencana
memperbaiki kubur teman kedua akrabnya, Gamik.
Pendapa telah ramai dan Tamin merasa gembira bisa ikut
berkumpul bersama para warga kampung. Keputusan malam itu
jelas bahwa desa hendak memperbaiki makam Pardan dan Gamik
sebagai penghargaan atas jasa-jasa mereka. Malam itu, cerita
Gamik yang begitu hebat menjadi pembicaraan yang paling
menarik. Tamin pun ikut mendengarkan cerita demi cerita bersama
para warga.
Tiba pada giliran Tamin diminta untuk bercerita tentang
pengembaraannya selama tujuh tahun lalu. Ia begitu bingung dan
gugup. Bagi Tamin, tak ada cerita yang pantas disandingkan
dengan cerita sebelumnya. Cerita pertempuran melawan serdadu
Inggris dan Gurkha sudah pasti bukan hal yang menarik. Padahal
warga kampung sudah menantikan kisah Tamin yang dianggap
seorang pahlwan gerilyawan.
Tak ingin mengecawakan warga kampung, Tamin pun terpaksa
berbohong. Ia mengarang cerita tentang bagaimana ia bergerilya
melawan penjajah di lereng Gunung Cupu, Pasundan, Jawa Barat.
Kebohongan ini menjadi awal kegelisahan. Kebohongan demi
kebohongan dilakukan untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
Batin Tamin tidak tenang karena terus-terusan memikirkan
bagaimana reaksi para warga kampung seadainya tahu bahwa
dirinya adalah pembohong. Bahkan, adiknya, Sumi, sempat
ditampar olehnya karena terus bertanya tentang kisah khayal itu.
Kegelisahan telah memuncak, akhirnya ia pergi dari rumah dan
kampung halamannya lagi.
Suatu hari dalam pengembaraannya yang telah empat bulan,
Tamin dipertemukan dengan Pak Banji di sebuah kota. Masih
dengan prasangka bahwa seluruh warga desa sudah tahu tentang
kisah bohongnya. Namun, menjadi pertemuan yang penuh
penyesalan karena Pak Banji mengabarkan Ayah Tamin telah
meninggal dunia. Tamin begitu menyesal.
Sekalipun Ayahnya telah tiada, keinginannya untuk pulang masih
belum bulat. Dalam hatinya masih dihinggapi rasa takut bila nanti
warga kampung marah karena kebohongannya. Kemudian Pak
Banji menceritakan bahwa selama ini seluruh warga desa yang
tolong menolong memotong padi tanpa segantang jua sebagai
upah. Bagi Tamin itu menjadi pertanda bahwa kebohongannya
belum terbongkar, barulah berjanji untuk pulang.
Ia pun langsung menghadap makam ayahnya. Diciuminya nisan
itu dan air mata yang jatuh jua. Sumi datang dengan
ketidakpercayaanya, dan dipeluk kakaknya. Sekarang, Tamin
hanya punya Ibu, Sumi dan Sawah. Malam ini akan ada yang
menembang lagi untuk Sumi dan Isah-adiknya Gamik-yang telah
menangis nan merindu sejak kepergian Tamin.
Heiho sebenarnya bukan jalan yang Tamin pilih. Dalam hati kecil
ia berkeyakinan bahwa sebenarnya dirinya tidak sepenuhnya
bersalah ketika menjadi tentara Heiho. Waktu itu ia sangat
terpengaruh dengan propaganda Jepang dan sekutunya.

Anda mungkin juga menyukai