0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
119 tayangan16 halaman

Jenis Tanaman Obat dan Manfaatnya

Makalah ini membahas tentang inflamasi dan beberapa tanaman herbal yang berpotensi sebagai antiinflamasi seperti kunyit, temulawak, sambiloto, sirih merah, jahe, seledri dan kelor. Tanaman-tanaman tersebut memiliki khasiat untuk mengobati berbagai penyakit yang berkaitan dengan peradangan.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
119 tayangan16 halaman

Jenis Tanaman Obat dan Manfaatnya

Makalah ini membahas tentang inflamasi dan beberapa tanaman herbal yang berpotensi sebagai antiinflamasi seperti kunyit, temulawak, sambiloto, sirih merah, jahe, seledri dan kelor. Tanaman-tanaman tersebut memiliki khasiat untuk mengobati berbagai penyakit yang berkaitan dengan peradangan.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH FITOTERAPI

INFLAMASI

OLEH :

KELAS A

KELOMPOK 6

ARTIKA O1A120006

ELSI INDIARTI O1A120014

MAYANDA FIRANTI O1A120028

SALSADILA SYAWALNI O1A120041

WA ODE SITTI NUR SABANIA O1A120051

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2023
A. Patofisiologi inflamasi
Inflamasi adalah salah suatu respon terhadap cedera jaringan ataupun
infeksi. Inflamasi merupakan proses alami untuk mempertahankan
homeostasis tubuh akibat adanya agen atau senyawa asing yang masuk. Proses
inflamasi dimediatori oleh histamin, prostaglandin, eicosanoid, leukotrien,
sitokin, nitrit oksida, dan lain-lain. Proses terjadinya inflamasi dimulai
dengan kerusakan jaringan akibat stimulus yang menyebabkan pecahnya sel
mast diikuti dengan pelepasan mediator inflamasi, dilanjutkan dengan
terjadinya vasodilatasi yang kemudian menyebabkan migrasi sel leukosit.

Gambar 1. Proses terjadinya inflamasi

Inflamasi dibagi menjadi dua, yaitu inflamasi akut dan kronis. Pada
inflamasi akut terjadi dalam waktu yang lebih singkat yang melibatkan
sistem vaskular lokal, sistem imun dan beberapa sel. Tanda-tanda paling
khas yang menandakan adanya inflamasi adalah kemerahan (rubor), panas
(kalor), nyeri (dolor), bengkak (tumor) dan disertai dengan perubahan
fungsi lokal. Sedangkan pada inflamasi kronis berlangsung pada waktu
yang lebih lama (beberapa bulan bahkan bertahun). Pada inflamasi kronis
melibatkansel darah putih terutama pada sel mononuklear pada prosesnya.
B. Jenis Tanaman

1. Kunyit (Curcuma domestica)

a. Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta

Sub-divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zungiberaceae

Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma domestica

b. Pemanfaatan kunyit secara empiris

Tanaman yang selalu menjadi andalan sebagai pengobatan


tradisional salah satu diantaranya adalah rimpang kunyit. Rimpang
kunyit dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional seperti
menyembuhkan luka, antiinflamasi, mengurangi motilitas usus,
menghilangkan bau badan, menurunkan demam, meredakan diare
dan beberapa pengobatan lainnya.

c. Preparasi penyiapan herbal kunyit

Rimpang kunyit (Curcuma domestica) digunakan untuk


mengobati diare. Penggunaan rimpang kunyit dalam jamu sebagai
obat diare telah digunakan secara turun-temurun. Cara penggunaan
rimpang kunyit sebagai obat diare secara tradisional yang diturunkan
turun-temurun adalah menggunakan perasan dari rimpang kunyit
segar yang diberi sedikit garam atau menggunakan irisan rimpang
kunyit kering yang digiling halus lalu diberi air dan disaring.

2. Temulawak ( Curcuma xanthorrhiza Roxb. )

a. Klasifikasi

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma xanthorrhiza Roxb.

b. Pemanfaatan temulawak secara empiris

Temulawak telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia


sebagai pewarna, bahan pangan, obat tradisional, memelihara
kesehatan dan juga sebagai bahan obat seperti kurang nafsu makan,
sembelit, ambeien, jerawat, diare, obat kejang-kejang, untuk
menghancurkan batu empedu, untuk mengobati pengobatan
penyakit ginjal dan hati, obat pegal linu, reumatik, radang sendi,
dan dalam bentuk segar, rebusan, seduhan maupun serbuk
digunakan untuk mengobati sariawan dan keputihan.
c. Preparasi penyiapan herbal temulawak

 Diambil beberapa rimpang temulawak yang dibutuhkan dan


dijemur sampai kering

 Haluskan temulawak yang sudah kering sampai menjadi bubuk

 Kemudian, ambil 5-15 gram bubuk temulawak dan seduh dengan


air panas. Minum selagi hangat.

3. Sambiloto (( Andrographis paniculata Nees )

a. Klasikasi
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Solanaceae
Familia : Acanthaceae
Genus : Andrographis
Species :Andrographis paniculata Ness.

b. Pemanfaatan sambiloto secara empiris

Sambiloto (Andrographis paniculata) merupakan tanaman yang


telah lama digunakan sebagai obat tradisional. Tumbuhan ini dapat
ditemukan di India, Cina, Hong Kong, Philipina, Indonesia dan
Thailand. Secara tradisional tanaman ini biasa digunakan untuk
menurunkan demam, mengobati sakit perut, kencing manis, menjaga
fungsi hati dan menyembuhkan luka.
c. Preparasi Penyiapan Herbal Sambiloto
Bahan direbus dengan 2 gelas air sampai menjadi separuhnya.
Dinginkan, saring, tambahkan madu secukupnya, minum sekaligus

4. Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.)

a. Klasifikasi

Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Classis : Magnoliidae
Bangsa : Piperales
Suku : Piperaceae (sirih-sirihan)
Marga : Piper
Jenis : Piper crocatum Ruiz & Pav.

b. Pemanfaatan sirih merah secara empiris


Di masyarakat sebagai pengobatan tradisional daun sirih merah
digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit seperti hipertensi,
penurun kadar gula darah (kencing manis), ambeien, kosmetika,
gangguan jantung, TBC pada tulang, keputihan, tumor, kanker, asam
urat, hepatitis, maag, agen antibakteria, peradangan dan antiseptic.
c. Penyiapan Herbal Preparasi Sampel
 Bahan di haluskan
 Tambah air mendidih ½ cangkir, diamkan sampai hangat
 Saring dan kumur kumur selama 1 menit.
5. Jahe ( Zingiber officinale Roscoe )

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Viridiplantae
Divisi : Tracheophyta
Sub Divisi : Spermatophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber Mill
Spesies : Zingiber officinale Roscoe

b. Pemanfaatan jahe secara empiris


Komponen kimia yang terdapat jahe memberikan efek farmakologi
dan fisiologi seperti antioksidan, anti-inflamasi, analgesik,
antikarsinogenik, dan antibakteri meskipun pada konsentrasi tinggi.
Menurut hasil penelitian diketahui bahwa kandungan unsur kimia pada
jahe merupakan komponen senyawa yang banyak dibutuhkan oleh
tubuh manusia, baik untuk kesehatan maupun nutrisi dan salah satunya
sebagai senyawa antibakteri. jahe secara empiris juga digunakan
sebagai salah satu komponen penyusun berbagai ramuan obat herbal.

c. Preparasi penyiapan herbal jahe


 Diambil 3 rimpang jahe, ditumbuk hingga halus
 Kemudian di peras lalu hasil perasan tersebut diminum
6. Seledri ( Apium graveolens L. )

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub- divisi : Angiospermae
Kelas : Magnolisia
Sub- kelas : Rosidace
Ordo : Apiacedes
Keluarga : Apiaceae
Genus : Apium
Spesies : Apium graveolens L.

b. Pemanfaatan seledri secara empiris


Hasil penelitian terhadap hiperurisemia, menunjukkan bahwa
seledri dapat mengurangi kadar asam urat. Pemberian air rebusan
seledri (Apium graveolens L.) dua kali sehari menunjukkan
pengurangan keluhan nyeri dan penurunan kadar asam urat. Pemberian
air rebusan seledri (apium graveolens L.) ini dapat diaplikasikan
sebagai intervensi mandiri keperawatan dalam menangani masalah
asam urat. Seledri sebagai obat rematik karena memiliki efek sebagai
antiinflamasi seperti hasil penelitian yang menyatakan bahwa Apium
graveolens memberikan efek antiinflamasi pada tes telinga tikus dan
melawan induksi karagen pada telapak kaki tikus.
Pemanfaatan secara empiris tanaman seledri sebagai obat rematik
dengan memanfaatkan daun, batang bahkan bonggolnya.
c. Preparasi penyiapan herbal seledri
 Diambil berapa daun seledri yang sudah dibersihkan lalu
dioven selama 5 menit.
 Angkat dan haluskan seledri menggunakan blender lalu simpan
dalam toples atau wadah
 seduh dengan 1 cangkir air mendidih, diamkan lalu saring dan
diminum selagi hangat.

7. Kelor ( Moringa Oleifera )

a. Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Sub kingdom : Tracheobionta (vascular plants)

Superdivisi : Spermatophyta (seed plants)

Divisi : Magnoliophyta (flowering plants)

Kelas : Magnoliopsida (dicotyledons)

Subkelas : Dilleniidae

Famili : Moringaceae

Genus : Moringa
Spesies : Moringa oleifera Lam
b. Pemanfaatan kelor secara empiris
Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antiinflamasi adalah
daun kelor (Moringa oleifera Lam). Berdasarkan analisis fitokimia
ekstrak tanaman kelor mengungkapkan adanya kandungan senyawa
flavonoid, saponin dan senyawa polifenol yang diketahui memiliki
aktivitas antiinflamasi. Daun kelor yang dikenal sebagai sayur-sayuran
juga mempunyai banyak manfaat dan terbukti ampuh mengatasi
berbagai penyakit diantaranya diabetes, hepatitis, jantung dan kolestrol
tinggi.

c. Preparasi penyiapan herbal kelor


 Kelor direbus dengan 2 gelas air
 Direbus hingga tinggal 1 gelas
 Disaring
 Diminum selagi hangat.

8. Benalu daun kersen ( Dendrophthoe pentandra L. )

a. Klasifikasi
Kindom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Santales
Famili : Loranthaceae
Genus : Dendrophthoe
Spesies : Dendrophthoe pentandra L.
b. Pemanfaatan benalu daun kersen secara empiris
Secara empiris dibeberapa daerah Gorontalo masyarakat masih
memanfaatkan tumbuhan, atau tanaman herbal untuk obat peradangan,
kemerahan, panas dan nyeri (gejala inflamasi) seperti; daun kersen,
benalu dengan cara merebus. Benalu Kersen (Dendrophthoe
pentandra) merupakan tumbuhan parasit pada pohon kersen dengan
mengambil makanan dari tubuh inangnya, sehingga kandungan
senyawa aktif yang dimiliki benalu kersen sama dengan tumbuhan
inangnya. Hasil penelitian terdahulu oleh daun kersen mengandung
berbagai senyawa metabolit sekunder antara lain: polifenol, flavanoid
dan saponin. Senyawa yang berpotensi sebagai anti inflamasi adalah
alkaloid, steroid, triterpenoid, tannin dan [Link] benalu kersen
terdapat kandungan metabolit sekunder berupa tannin, terpenoid, dan
[Link] sebagai obat tradisional dan obat alternatif sering
dipakai karena banyak ketersediannya di alam serta kurang efek
sampingnya.

c. Preparasi penyiapan benalu daun kersen


Dengan merebus benalu daaun kersen sebanyak 13-17 lembar
dalam 750 ml air, kemudian disaring dan dimininum 3 kali sehari yaitu
pagi, sing dan malam sebanyak setengah cangkir.
9. Kencur (Kaempferia galangal)

a. Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Sub Kingdom : Phanerogamae
Division : Spermatophyta
Sub Division : Angiospermae
Class : Monocotyledonae
Ordo : Scitaminales
Family : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Species : Kaemferia galanga L.

b. Pemanfaatan kencur secara empiris


Obat Herbal seperti kencur memiliki kegunaan yang sudah dikenal
dikalangan masyarakat baik digunakan sebagai salah satu bumbu
masak, ataupun sebagai pengobatan, biasanya kencur dikenal sebagai
obat untuk mengobati berbegai masalah kesehatan diantaranya
mengobati batuk, mual, bengkak bisul maupun sebagai anti toksin
seperti keracunan. Selain itu juga terdapat manfaat lain dari kencur
yang apabila dicampurkan dengan bahan lain seperti minyak kelapa
yang dapat meredekan kaki yang keseleo. Kencur sendiri apabila
sudah diolah menjadi minuman seperti beras kencur dapat
meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah dan menghilangkan masuk
angina hal ini dikarenakan didalam kencur terdapat beberapa senyawa
seperti minyak atsiri, saponin, flavonoid, polifenol yang diketahui
memiliki banyak manfaat.

c. Preparasi penyiapan herbal


Cara pembuatan/penggunaan: bahan dihaluskan bersama beras dan
air secukupnya, ditempelkan pada bagian yang sakit dan dibiarkan
sampai kering.

10. Lengkuas (Alpinia galanga)

a. Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Alpinia
Spesies : Alpinia galanga L.

b. Pemanfaatan lengkuas secara empiris


Rimpang Lengkuas banyak digunakan di Indonesia dan
khasiatnya sudah terbukti secara empiris. Salah satu bahan alam yang
dapat digunakan Lengkuas (Alpinia galanga). Rimpang lengkuas
(Alpinia galanga) mengandung komponen utama flavonoid yang
terbukti mempunyai efek sebagai antibakteri dan antiinflamasi.
Lengkuas memiliki aktivitas farmakologis berupa: aktivitas
antimikroba, anti-ulcer, anti inflamasi,hepatotoksisitas, anti-oksidan,
antiplatelet, antitumor, anti-alergi, anti-diabetes, anti-HIV,
imunomodulator, penghambatan oksida nitrat, kardio protektif.
c. Preparasi penyiapan Herbal
Cara pembuatan/penggunaan: bahan dihaluskan, tambahkan air
secukupnya dan oleskan pada bagian yang sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Evan Vria Andesmora.,Fevi Mawadhah Putri.,Widia Bela Oktaviani.,Dalli Yulio


Saputra., 2022.,Zingiberaceae: Jenis dan Pemanfaatannya oleh Masyarakat Lokal
Jambi., EDU-BIO Jurnal Pendidikan Biologi.,VOL. 6 No. 1
Handayani, L dan lucie, W. 2020. Analisis Lanjut Pemanfaatan Empiris Ramuan Seledri
(Apium graveolens L) oleh Penyehat Tradisional. Jurnal Kefarmasian Indonesia.
Vol.10(1)
Hartanti. S dan Theeravit. J. 2018. Pengendalian mutu simplisia dan kapsul kunyit
(curcuma longa L.). Jurnal farmasi indonesia. Vol.15(02).

Kementrian Kesehatan RI.2017. Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia.


Jakarta: Kemenkes RI
Madania, Ayu, R. N., dan Ariani, H. 2023. Pembuatan Serbuk Jahe Herbal ( SEJA)
Untuk Pencegahan Stunting Di Desa Lomaya. Jurnal Pengabdian Masyarakat
Farmasi : Pharmacare Society 2(1), 44-48
Neman A. I., Wilmar, M., Ferdy, K. 2022. Uji Ekstrak Etanol Daun Benalu Kersen
(Dendropthoe Pentrandra L.) Terhadap Tikus Putih (Ratus Norvegicus) Sebagai
Anti Inflamasi. Jurnal Biofarmasetikal Tropis. Vol. 5(1), 55-59.
Novia Misnawati Aisyiyah.,Khalish Arsy Al Khairy Siregar., Paula Mariana
Kustiawan.,2021., POTENTIAL OF RED BETEL LEAVES (Piper crocatum) AS
ANTI-INFLAMMATORY IN Rheumatoid Arthritis.,JFSP: Jurnal Farmasi Sains
dan Praktis.,Vol.7 No.2

Orienty. F. N., Handajani. J., Haniastuti. T. 2015. Efek ekstrak sambiloto (andrographis
paniculata) terhadap jumlah sel inflamasi pada model periodontitis. Jurnal B-Dent
Vol. 2(1)
Prabowo, H.,Cahya, I.A.P.D.,Arisanti, C.I.S.,Samirana, P.O., 2019.,Standardisasi
Spesifik dan Non-Spesifik Simplisia dan Ekstrak Etanol 96%
Putu Nita Cahyawati., 2020.,Efek Analgetik dan Antiinflamasi Kaempferia Galanga
(Kencur)., WICAKSANA, Jurnal Lingkungan & Pembangunan., Vol. 4 No. 1 :
Hal. 15-19.
Reandy Ilham Andriyono., 2019.,Kaempferia galanga L. sebagai Anti-Inflamasi dan
Analgetik., Jurnal Kesehatan, Vol. 10, No 3, hlm 495-502
Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val.)., Jurnal Farmasi Udayana, Vol 8, No
1, 29-35
Shofia,B.N.J, Kurnia Ramadanti , Kurotul Uyun.,2022.,Identification of morphological
characteristics in galangal (Alpinia galanga) and bangle (Zingiber purpureum) in
Mesjid Priyayi village, Kasemen sub-district, Serang City, Banten., Tropical
Bioscience: Journal of Biological Science.,Vol. 2, No. 1.,Hal. 27 – 34
Soegiantoro Didik Hardiyanto.,Gregory Hope Soegiantoro, Intan Selvyanti Waruwu,
Yanti Octavia Theressia.,2021.,Pengaruh Rimpang Kunyit (Curcuma domestica,
Val.) terhadap Bakteri Usus secara in vitro.,FARMASIS: Jurnal Sains Farmasi
Vol 2 No. 1
Syamsudin. R. A. M. R., Perdana. F., Mutiaz. F. C., Rina. A. P. A., Cahyani. N.
D.,Aprilya., Yanti. R., Khendri.F. Temulawak plant (Curcuma xanthorrhiza
Roxb) as a traditional medicine. Jurnal ilmiah farmako bahari. Vol.10(1).

Ulfa, M., Wahyu, H., dan Prcilya, N. M. 2016. Formulasi Gel Ekstrak Daun Kelor
(Moringa oleifera Lam.) Sebagai Anti Inflamasi Topikal Pada Tikus (Rattus
novergicus). Journal of Pharmaceutical and Medicinal Sciences. Vol. 1(2)

Anda mungkin juga menyukai