Pakan Tepung Daun Kelor untuk Ayam Joper
Pakan Tepung Daun Kelor untuk Ayam Joper
PROPOSAL
Oleh:
CARLOS MARIANUS MANALU
190306054
SKRIPSI
Oleh:
NIM : 190306054
Disetujui oleh:
Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Sayed Umar MS Dr. Nevy Diana Hanafi [Link].,[Link].,IPM
Ketua Anggota
Mengetahui,
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan judul
setinggi-tingginya kepada kedua orang tua atas doa,dukungan, dan serta kerja
keras atas pengorbanan baik itu moral materil yang telah diberikan selama ini.
Penulis juga mengcapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Sayed Umar MS dan
Dr. Nevy Diana Hanafi [Link]., [Link].,IPM selaku ketua dan anggota komisi
Di samping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir.
Ma’ruf Tafsin [Link].,IPM selaku Ketua Program Studi Peternakan, semua staf
pengajar dan pegawai di Program Studi Peternakan, serta semua rekan rekan
penelitian ini.
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
DAFTAR TABEL................................................................................................iv
DAFTAR GAMBAR...........................................................................................v
PENDAHULUAN
Latar Belakang.......................................................................................................1
Tujuan Penelitian...................................................................................................3
Hipotesis Penelitian...............................................................................................3
Manfaat Penelitian.................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA
Tepung Daun Kelor (Moringa 0leifera)................................................................4
Jagung....................................................................................................................5
Bungkil Kedelai.....................................................................................................6
Dedak Padi Halus..................................................................................................7
Tepung Ikan...........................................................................................................8
Ayam Kampung Super..........................................................................................9
Konsumsi Pakan ...................................................................................................13
Bobot Bobot Badan (PBB)....................................................................................14
Konversi Pakan (FCR)..........................................................................................15
ii
Pengambilan Data.............................................................................................23
Analisis Data.....................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................24
DAFTAR TABEL
iii
No. Hal.
1. Komposisi Nutrisi Tepung Daun Kelor (Moringa Oleifera)...........................4
2. Kebutuhan Nutrisi Ayam Joper.......................................................................12
3. Konsumsi Pakan Ayam Joper Setiap Minggu.................................................21
4. Pertambahan Berat Badan Ayam Joper Setiap Minggu..................................22
5. Kandungan Nutrisi dalam Bahan Pakan..........................................................21
6. Komposisi dan Kandungan Nutrisi Ransum Fase Starter...............................22
7. Komposisi dan Kandungan Nutrisi Ransum Fase Finisher............................23
8. Analisis Sidik Ragam......................................................................................35
iv
DAFTAR GAMBAR
v
PENDAHULUAN
Latar Belakang
ayam hasil perbaikan genetik memanfaatkan grading up, ialah tata cara perbaikan
genetik ayam yang menyilangkan ayam ras betina dengan pejantan berupa ayam
kampung, ayam Bangkok, ataupun memakai jenis ayam lokal unggul yang lain.
Seleksi ayam kampung tersebut kini dikenal dengan nama ayam kampung super
jumlah populasi dan tingkat produksi ayam kampung super (joper) perlu
ayam kampung super bisa dilakukan melalui perbaikan kuantitas serta mutu pakan
1
mengurangi produksi optimum dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan bahan
sumber pakan yang harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ternak agar
mendapatkan hasil yang optimal (Allama et al., 2018). Sumber protein untuk
ransum unggas dipengaruhi dari protein hewani (tepung ikan) dan protein nabati
(bungkil kedelai) berasal dari hewani dan nabati yang harganya relatif tinggi.
Alternatif bahan pakan hijauan lokal yang dapat menjadi pengganti protein tinggi,
oleifera).
dapat tumbuh disemua tempat, selain itu kelor merupakan tanaman yang banyak
ternak khususya ternak ayam kampung. Daun kelor (Moringa oleifera) memiliki
kandungan protein, vitamin dan mineral, serta zat-zat lain yang membantu
pertumbuhan. Tanaman kelor yang akan dijadikan tepung pada penelitian ini
adalah bagian daunnya, daun kelor ini dimanfaatkan sebagai pakan tambahan
(Feed Additive) dalam pakan ayam kampung joper. Menurut Widodo (2002) feed
pakan dan meningkatkan kualitas produksi ternak. Daun kelor yang akan
dijadikan tepung adalah daun kelor yang sudah dikeringkan. Namun penggunaan
kelor pada ayam kampung belum banyak dilakukan padahal ayam kampung
2
pendapatan serta menyumbang sekitar 17% produksi daging dari penyediaan
tepung daun kelor dalam pakan terhadap performa (pertambahan bobot badan,
konsumsi pakan, konversi pakan) ayam kampung joper. Penambahan tepung daun
kelor 5% pada pakan ayam KUB memberikan pengaruh yang nyata terhadap
(Tirajoh et al., 2020). Oleh karena itu, peneliti akan melakukan penelitian tentang:
Tujuan Penelitan
Hipotesis Penelitian
3
Manfaat Penelitian
diharapkan juga penelitian ini dapat menjadi kajian ilmiah serta sumber informasi
bagi akademisi dan para peternak tentang pengaruh penggunaan tepung daun
4
TINJAUAN PUSTAKA
protein bagi pertumbuhan ternak. Tanaman kelor sangat mudah tumbuh dan
beradaptasi di berbagai daerah dan pada kondisi tanah marginal serta dapat
menggunakan stek (Purba et al., 2018). Tepung daun kelor bermanfaat sebagai
pakan ternak, juga bermanfaat bagi manusia, karena kelor ini memiliki
pertumbuhan.
konversi pakan, berat karkas, faktor efisiensi produksi dan income over feed cost
(IOFC), dan tidak memberikan efek negatif dalam penampilan produksi ayam
pedaging Penelitian yang dilakukan oleh (Osfar, 2008). Selain itu, membantu
dikonsumsi oleh tubuh ayam menjadi efektif digunakan. Tanaman kelor (Moringa
olifera) dapat tumbuh dimana saja, bahkan dapat menjadi tanaman hias yang
ditanam dihalaman rumah. Kandungan zat makanan pada tepung kelor (Moringa
5
Protein Kasar 29,61%
Lemak Kasar 7,48%
Serat Kasar 8,98%
Abu 10,13%
Energi Metabolis 1318,29 kkal/kg
Sumber : Osfar (2008).
Kingdom : Plantae
Subkelas : Dilleniidae
Famili : Moringaceae
Genus : Moringa
Kandungan gizi terbaik daun kelor adalah pada layer atas atau daun muda
dengan hasil analisis proksimat kadar air 13.19%, kadar abu 16.77% (bk), kadar
lemak 8.42% (bk), kadar protein 39.00% (bk), dan kadar kabohidrat 35.80% (bk)
(Sugianto, 2016). Sedangkan antinutrisi yang terkandung dalam daun kelor yaitu
asam phitat 2,3%, saponin 6,4%, tanin 0,3%, dan total phenol 2,7%, jika telah
diekstraksi ataupun diubah menjadi tepung kandungan zat tersebut akan berkurang
(Sukria et al., 2018), dan penggunaan daun kelor (Moringa oleifera) dalam pakan
sebagai pengganti tepung ikan dan bungkil kedelai dapat digunakan hingga 5%.
6
Jagung
Jagung merupakan salah satu bahan dasar pakan ternak yang sangat
penting. Penggunaan jagung bagi pakan ternak terutama unggas rata-rata berkisar
45-55 persen porsinya. Hal ini karena jagung mempunyai banyak keunggulan
pakan komplit) adalah jagung. Berdasarkan jenisnya yaitu biji bijian jagung
dikenal mempunyai nilai energi metabolis tertinggi. Selain kandungan energi yang
kuning pada telur maupun daging ternak. Indonesia merupakan negara pengekspor
Kandungan nutrisi jagung adalah 85% BK, 8,5% PK, 3,8% LK, 2,5%, dan 3300
Kkal/kg.
energi yang tinggi, jagung juga mengandung pigmen warna xantofil sebesar 0,5
ppm dan karoten sebesar 0,5 ppm. Kedua pigmen ini berfungsi sebagai zat warna
kuning telur dan kaki ayam. Tangendjaja (2006) menjelaskan bahwa jagung
bagian endosperm biji jagung. Karbohidrat dalam bentuk pati (60%) umumnya
berupa campuran amilosa dan amilopektin. Namun jagung defisiensi lisi dan
7
pakan sumber protein yang mengandung asam amino tersebut atau asam amino
sintesis.
Bungkil Kedelai
kandungan protein yang tinggi tetapi kandungan Ca, P dan vitamin A rendah dan
mengandung asam amino yang hampir lengkap namun defisiensi salah satu asam
amino esensial seperti metionin. Sekitar 50 % protein untuk pakan unggas berasal
dari bungkil kedelai dan pemakaiannya untuk pakan ayam pedaging berkisaran
antara 15–30%, sedangkan untuk pakan ayam petelur bekisaran antara 10-25%.
pertumbuhan unggas, namun zat anti nutrisi tersebut akan rusak oleh pemanasan
untuk protein kasarnya, sehingga kurang baik jika diberikan terlalu banyak.
ini (antitripsin) tidak tahan panas, sehingga bungkil kedelai yang mengalami
ransum untuk unggas. Kualitas bungkil kedelai ditentukan oleh cara pengolahan.
Pemanasan yang terlalu lama dapat merusak kadar lisin (Cisarua, 2009).
8
Dedak padi (ricebran) merupakan sisa dari penggilingan padi, yang
dimanfaatkan sebagai sumber energi Pada pakan ternak dengan kandungan serat
kasar berkisar 27% (Putrawan dan Soerawidjaja, 2007). Kandungan nutrisi dedak
Fakultas Peternakan IPB, 2015). Dedak padi merupakan sumber energi bagi
Dedak padi bisa berupa kulit padi yang mengandung serat kasar dan
mineral, seraput perah (katul), dedak halus (kaya protein, vitamin B1, lemak dan
mineral) atau dedak kasar berupa kulit gabah halus yang bercampur dengan
pecahan lembaga beras dengan daya cerna rendah. Dari ketiga jenis dedak ini,
jenis yang sering digunakan adalah dedak halus karena selain kaya akan protein,
vitamin B1, lemak dan mineral dan juga mudah dicerna oleh sapi (Harianto,
2012).
Tepung Ikan
Tepung ikan merupakan tepung yang diperoleh dari penggilingan ikan dan
termasuk bahan essensial yang sangat diperlukan untuk campuran pakan ternak
ikan merupakan sumber protein hewani yang memiliki komposisi asam amino
yang sempurna dan seimbang sehingga dapat mencukupi kebutuhan asam amino
esensial khususnya lisin dan metionin yang sering kali kurang dalam ransum
ternak (Mardiyanti, 2005). Mutu tepung ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain jenis dan kesegaran ikan dan teknik atau cara pengolahannya. Mutu
9
tepung ikan dapat dinilai secara fisik, kimia, mikrobiologi. Secara fisik, kriteria
yang dinilai adalah bentuk dan keseragaman ukuran partikel tepung. Tepung ikan
merupakan bahan baku utama dalam formulasi pakan ikan harganya terus
mengalami peningkatan (Barrientos & Soria, 2015). Nilai ekonomi yang tinggi
dari tepung ikan dikarenakan tepung ikan mengandung protein kasar 40-45% dan
mudah dicerna.
Sebagai sumber protein tepung ikan memang menjadi nutrisi utama bagi
kandungan protein, lemak, air dan abu. Secara mikrobiologi, tepung ikan harus
terbebas dari bakteri patogen seperti Salmonella dan kapang. Tepung ikan yang
yang seragam, bebas dari sisa-sisa tulang dan benda-benda asing lainnya.
Kebutuhan ternak akan pakan sumber protein hewani sangat penting, karena
memiliki kandungan protein relatif tinggi yang disusun oleh asam - asam amino
ternak (Purnamasari et al., 2006). Tepung ikan yang baik mempunyai kandungan
protein kasar sebesar 58- 68%, air 5,5-8,5%, serta garam 0,5-3,0% (Sitompul,
2004). Tepung ikan adalah salah satu produk yang diolah dari ikan, baik ikan
bentuk utuh, limbah pengolahan ikan ataupun ikan yang tidak layak dikonsumsi
manusia.
Tepung ikan yang dipasarkan memiliki protein kasar 65%, tetapi dapat
bervariasi dari 57-70% tergantung pada spesies ikan yang digunakan (Maigualema
dan Gernet, 2003). Menurut Jassim (2010) komposisi kimia tepung ikan, yaitu
protein kasar 60%, kadar air 2,5%, lemak 2,54%, dan kadar abu 1,2%. Di samping
10
mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi, tepung ikan juga merupakan
sumber mineral, misalnya kandungan unsur kalsium yang cukup tinggi yaitu 80
g/kg, kemudian fosfor 35 g/kg dan juga sejumlah mineral lainnya seperti
magnesium, besi dan iodin. Pencampuran tepung ikan ke dalam pakan ternak
dilakukan ketika pemberian pakan pada hewan usia muda, yaitu mempercepat
pertumbuhan pada tahap awal dan tahap akhir sehingga menaikkan berat badan
ayam jawa atau kampung dengan ayam ras jenis petelur. Ayam kampung super
hasil persilangan antara ayam petelur dan ayam kampung (Pakaya et al., 2019).
Ayam kampung super dikenal sebagai ternak yang mempunyai daya hidup yang
tinggi, dapat hidup diberbagai wilayah dengan perbedaan kondisi iklim yang
ekstrim, dan mempunyai kemampuan untuk hidup dalam kondisi pakan dengan
kandungan nutisi yang rendah. Hasil produksi ayam kampung berupa telur dan
ayam kampung jantan dengan ayam ras betina memiliki pertumbuhan yang relatif
cepat, umur 70 hari mencapai bobot badan 1–1,3 kg, sedangkan ayam buras hanya
0,6 kg (Sriyanto, 2013), sehingga dapat digunakan sebagai penghasil daging yang
memiliki karakteristik tekstur dan rasa hampir sama dengan ayam buras, hanya
pertumbuhannya yang cepat sehingga umur panen cepat pula (Ma’rifah et al.,
11
Tabel 2. Kebutuhan Nutrisi Ayam Joper.
Periode
Nutrisi
Starter Finisher
Energi Metabolisme (kkal/kg) 2900 2900
Protein (%) 18-19 16-17
Lemak Kasar (%) 4-5 4-7
Serat Kasar (%) 4-5 4-5
Kalsium (%) 0,95 1-1,20
Fosfor (%) 0,40 0,35
Lisin (%) 0,85 0,60
Sumber : Zanuddin (2006)
sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Aves
Subclass : Neornithes
Ordo : Galiformes
Genus : Gallus
Ayam kampung super dalam usia dua bulan beratnya bisa mencapai 1,5
kg, umur 45-60 hari siap untuk dikonsumsi. Tampilannya mempunyai bentuk
yang hampir sama dengan ayam kampung, warna telur ayam kampung super
berkerabang putih kecoklatan. Bobot badan ayam Kampung Super lebih rendah
dari bobot ayam Ras petelur, namun lebih tinggi dari ayam kampung (Tamzil dan
12
dibandingkan ayam kampung lokal. (Trisiwi., 2016). Keunggulan dari ayam
kampung super yaitu laju pertumbuhan lebih cepat dari pada ayam kampung,
masa pemeliharaan yang lebih cepat daripada ayam kampung, memiliki tingkat
kematian yang lebih rendah degan nilai konversi pakan yang lebih rendah. Selain
itu ayam joper mempunyai kandungan protein yang tinggi, dan mempunyai rasa
yang lezat, kandungannya dapat digunakan sebagai penguat stamina, obat, tubuh,
dan obat hati atau liver. (Widayanto dkk., 2019). Keunggulan lain yang dimiliki
oleh ayam kampung super adalah kemampuan beradaptasi yang baik terhadap
Konsumsi Pakan
Konsumsi pakan adalah jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak yang
diberikan secara ad libitum terbatas dalam jangka waktu yang dibatasi. Menurut
oleh ternak apabila makanan tersebut diberikan secara ad libitum dalam jangka
Tingkat energi dalam pakan menentukan banyaknya pakan yang dikonsumsi yaitu
ransum untuk memenuhi kebutuhan zat makanan untuk keperluan produksi dan
reproduksi. Apabila lemak terdapat pada pakan ayam, penggunaan dari semua
konsumsi energi menjadi lebih baik dan efisien (Mulyantini, 2014). Berikut adalah
13
Tabel 3. Konsumsi Pakan Ayam Joper Setiap Minggu
1 169 169
2 192 361
3 207 568
4 233 801
5 268 1069
6 333 1402
7 359 1761
8 386 2147
9 435 2582
10 500 3082
Konsumsi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain besar tubuh,
kuantitas serta kualitas pakan yang diberikan. Menurut Wahju (2004), faktor-
konsumsi pakan. Menurut Krogh (2000), bahwa bobot ayam, jenis kelamin,
Sholikin (2011) menyatakan bahwa konsumsi pakan ayam Joper terus meningkat
14
Pertambahan Bobot Badan (PBB)
menghitung berat badan pada waktu ke-1 dikurangi dengan berat badan
merupakan kenaikan berat badan yang dicapai oleh seekor ternak selama periode
tubuh, metabolisme yang baik akan membuat pakan yang dikonsumsi menjadi
lebih efisien meski konsumsi pakan kecil namun tetap dapat menghasilkan berat
badan yang besar (Pratikno, 2010). Pertambahan berat badan ayam Joper
15
Menurut (Munira dkk, 2016) Berat badan ayam kampung pedaging paling
minimal saat DOC yaitu 37g dan terus bertambah seiring dengan bertambahnya
penyerapan nutrisi akan berjalan lebih optimal dan akan berpengaruh terhadap
baik perlu diadakan kontrol dengan penimbangan yang teratur setiap minggunya.
Apabila berat ayam belum memenuhi standar maka jumlah pakan dapat ditambah
dengan prosentase kekurangan berat badan dari standar akan tetapi apabila bobot
badan ayam melebihi standar, maka jumlah pakan yang diberikan tetap sama
ternak ayam pedaging yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mengetahui
tingkat efisien penggunaaan pakan oleh ternak. Konversi pakan dapat juga
2006). Konversi pakan adalah metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
16
memperlambat waktu transit pencernaan di dalam usus halus , sehingga
Konversi pakan dapat dihitung dengan membagi jumlah pakan yang telah
dikonsumsi oleh ayam pedaging dengan pertambahan berat badan ayam pedaging
dengan kata lain maka semakin kecil nilai konversi pakan yang didapatkan
akan naik bila hubungan antara jumlah energi dalam formula dan kadar protein
hubungannya terhadap faktor, seperti umur hewan, bangsa, derajat masak dini,
yang sering muncul. Faktor penyebab tingginya konversi pakan berkaitan erat
lingkungan kandang yang panas dan lembab menyebabkan pengaruh kurang baik
pada ternak. Perbaikan konversi pakan mempunyai arti penting karena berkaitan
dengan efisiensi biaya produksi. Nilai konversi pakan tinggi menunjukkan bahwa
17
efisiensi pemanfaatan pakan kurang baik, sebaliknya nilai konversi pakan yang
rendah menunjukkan bahwa makin banyak pakan yang dimanfaatkan oleh ternak.
Utara.
1 hari Day Old Chicken (DOC) sebanyak 100 ekor, Bahan penyusun ransum
pakan basal terdiri dari tepung kelor, dedak padi, jagung, bungkil kedelai, tepung
ikan, premix, air minum, vitamin dan suplemen tambahan seperti Vitachick.
Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari kandang baterai yang
di modifikasi dari kawat ram dengan ukuran panjang 50 cm, lebar 100 cm dan
tinggi 100 cm. Kandang ditempatkan sebanyak 20 unit kandang, dalam setiap unit
kandang terdapat 5 ekor ayam. Setiap unit kandang dilengkapi dengan satu tempat
pakan ransum, air minum dan satu buah lampu. Peralatan lainnya yang digunakan
adalah oven untuk mengeringkan daun kelor, blender, timbangan analitik, alat
18
Metode Penelitian
yang terdiri dari 4 perlakuan 5 ulangan, dimana setiap ulangan terdiri dari atas 5
Parameter Penelitian
Konsumsi Pakan
dengan jumlah sisa pakan dibagi dengan jumlah ternak (g/ekor/hari) (Nuningtyas,
2014).
maupun pada periode tertentu yang dapat kita sesuaikan dengan satuan waktu
yang kita inginkan. Namun pada dasarnya konsumsi ransum adalah total
keseluruhan pakan yang sanggup dikonsumsi oleh unggas (ternak lain juga).
19
Pertambahan bobot badan (PBB) merupakan selisih antara bobot badan
akhir dengan bobot badan awal (Nuningtyas, 2014). Rumus untuk Menghitung
dapat pula dihitung harian dengan cara yang sama yaitu dengan
mengakumulasikan selisih bobot pada hari itu dengan bobot pada hari
sebelumnya.
pertambahan bobot badan (Nuningtyas, 2014). Nilai FCR merupakan suatu angka
mendapatkan satu kg bobot badan" semakin rendah angka FCR artinya semakin
Pelaksanaan Penelitian
setiap plot terdapat 5 ekor DOC joper. Sebelum DOC dimasukkan, kendang
20
tempat pakan dan minum serta alat penerangan. Kandang merupakan tempat
perlu diperhatikan supaya ternak merasa nyaman dan tidak mengganggu proses
produksi (T. Setiawati et al, 2016). Istirahat kendang dilakukan selama 1 minggu.
Air gula diberikan ke DOC pada saat tiba untuk mengurangi stres selama
perjalanan.
terlebih dahulu dilakukan penimbangan agar diketahui kisaran bobot baban awal
yang akan digunakan. Kemudian dilakukan pemilihan secara acak (random) untuk
Penyusunan Ransum
Ransum adalah beberapa bahan baku pakan ternak yang dicampur dan
disusun atau diramu sesuai penggunaannya. Ransum merupakan pakan jadi yang
siap dikonsumsi oleh ternak unggas yang disusun dari berbagai jenis bahan pakan
(2014)
Kandungan serta komposisi dalam ransum tidak boleh ada yang
mendominasi dikarnakan dapat mengurangi efisiensi biaya serta mutu dari ransum
tersebut. Sehingga kandungan dalam ransum harus sesuai standar mutu bahan
pakan yang telah ditetapkan agar memberikan hasil yang optimal. Kandungan
22
serta komposisi dalam ransum tidak boleh ada yang mendominasi dikarnakan
dapat mengurangi efisiensi biaya serta mutu dari ransum tersebut. Sehingga
kandungan dalam ransum harus sesuai standar mutu bahan pakan yang telah
ditetapkan agar memberikan hasil yang optimal. Adapun kandungan nutrisi dan
komposisi ransum yang digunakan dalam penelitian dibuat dalam fase starter dan
finisher ini dapat dilihat dalam Tabel 6 dan 7 dibawah ini :
23
Tepung Kelor 0 5 10 15
Bungkil Kedelai 22 17 13 9
Premix 1 1 1 1
Jumlah(%) 100 100 100 100
Komposisi Nutrisi
Energi Metabolis 2844,81 2969,55 2950,8 2988,3
Protein Kasar 17,0533 17,56 17,4556 17,6644
Lemak Kasar 4,3761 4,3699 4,3288 4,411
Serat Kasar 3,85 4,3699 5,2827 5,5209
Keterangan : Disusun Berdasarkan Tabel 5
Pengambilan Data
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisa dengan sidik ragam Rancangan Acak
Lengkap (RAL) yang terdiri dari dengan empat perlakuaan dan lima ulangan dan
apabila terjadi perbedaan yang nyata (P<0,05) akan dilanjutkan dengan uji
Duncan Multiple Range Test (Steel dan Torrie 1993). sebagai berikut :
Yij = µ + αi + ∑ij
Keterangan:
24
µ : Nilai tengah umum (population mean)
Keterangan :
t : Perlakuan
r : ulangan
25
JKT : Jumlah Kuadrat Total
Pengolahan Data :
26
DAFTAR PUSTAKA
Tirajoh, S., Tiro, B. M., Palobo, F., & Lestari, R. H. (2020). Pemanfaatan
Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Kualitas Pertumbuhan
Ayam Kampung Unggul Balitbangtan di Jayapura, Papua:
Utilization of Moringa oleifera Leaves on Growth Quality of
Kampung Unggul Balitbangtan Chicken in Jayapura, Papua. Jurnal
Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (Journal of Tropical Animal
and Veterinary Science), 10(2), 119-â.
27
Widodo, W., Rahayu, I. D., Sutanto, A., Anggraini, A. D., & Handayani, T.
(2021). The effect of Curcuma zedoaria on feed efficiency of
Kampung Super chicken. IOP Conference Series: Earth and
Environmental Science, 788(1), 012065.
[Link] 1315/788/1/012065
Purba I. E., Warnoto W. and Zain B. 2018. Penggunaan Tepung Daun Kelor
(Moringa oleifera) dalam Ransum terhadap Kualitas Telur Ayam
Ras Petelur dari Umur 20 Bulan. Jurnal Sain Peternakan Indonesia
13(4), doi:10.31186/[Link].13.4.377-387.
28
Putrawan, I.D.G.A., dan [Link]. 2007. Stabilisasi dedak padi
melalui pemasakan ekstrusif. Jurnal teknik kimia Indonesia. 6 (3)
Desember 2007 ; 681- 688.
Haril, J. D., Tonga, Y., & Kaca, I. N. (2018). Efek penambahan tepung daun
kelor (Moringa oleifera) pada ransum komersial terhadap berat
karkas, persentase karkas dan persentase non karkas ayam
broiler. Gema Agro, 23(1), 53-58.
29