TINJAUAN PUSTAKA
Ayam Joper
Ayam joper merupakan hasil persilangan antara ayam kampung jantan
dengan ayam betina ras jenis petelur. dari hasil persilangan tersebut menghasilkan
pertumbuhan ayam lebih cepat dibandingan dengan ayam kampung biasa.
Persilangan ayam buras betina dan ayam ras jantan sampai grade 1, bertujuan agar
tetap menjaga penampilan fenotipe dari persilangan tersebut memiliki
perbandingan komposisi darah 50% : 50%, jika dilakukan proses grading up
persilangan semakin mendekati ayam ras (Suprijatna et al., 2005).
Menurut Yaman, (2010), perbedaan yang paling signifikan antara ayam
kampung umumnya dengan ayam kampung super terlihat pada kemampuan
menghasilkan daging, terutama pada organ tubuh bagian dan bagian paha, seperti
ayam pedaging unggul lainnya, perkembangan kedua jenis tipe otot tersebut
menunjukan bahwa ayam kampung super memiliki sifat dengan jenis ayam
pedaging lainnya. Ciri-cirinya adalah otot bagian dada dan paha tumbuh lebih
cepat dan dominan dari pada bagian lainnya.
Menurut Sofjan, (2012), laju pertumbuhan ayam kampung super memang
bisa dibilang bagus yaitu bisa mencapai berat 0.6-0,8 kg pada umur pemeliharaan
45 hari, akan tetapi tingkat konsumsi pakan masih tergolong tinggi. Karkas ayam
kampung super sepintas memang agak sulit dibedakan dengan ayam kampung
asli.
6
7
Ayam kampung super kini ramai diperbincangkan berbagai lapisan
masyarakat, mulai dari calon pembibitan, peternakan pembesaran DOC ayam
kampung super, pengelola yang menjadi konsumen paling potensial, dan kita
sebagai konsumen biasa. Berbeda dari ayam kampung biasa, ayam kampung super
memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat, sehingga bisa dipanen pada umur
50-60 hari dengan bobot badan sekitar 0,8 – 1,0 kg/ekor.
Pemeliharaan ayam kampung super bagi sebagian besar masyarakat
dilakukan secara ekstensif sehingga hasil yang diperoleh kurang mencukupi
kebutuhan konsumen, baik dalam hal kualitas dan kwantitas produksi untuk
memperbaiki dan meningkatkan produksi ayam kampung super diperlukan
pemeliharaan intensif dengan perbaikan potensi dan juga diikuti dengan perbaikan
lingkungan, utama perkandangan dan pakan yang bergizi. Faktor yang
mempengaruhi keberhasilan usaha ternak ayam super pada umumnya adalah
pakan (feed), pembibitan (breeding), dan tatalaksana (management).
Ayam kampung super merupakan hasil persilangan terbaru antara ayam
jawa/kampung dengan ayam arab sehingga didapatkan pertumbuhan yang cepat
dan memiliki karakteristik daging bentuk ayam kampung. saat ini ayam joper
relatif banyak dikembangkan oleh para peternak karena masa pemeliharaan yang
singkat. Selain itu resiko kematian kecil, dan cita rasa dagingnya hampir sama
dengan ayam kampung yang banyak disukai masyarakat. Konsumsi daging olahan
ayam kampung super terus meningkat meskipun harganya relatif lebih mahal
dibandingkan produk daging olahan ayam broiler. Peternak banyak yang melihat
bahwa ini merupakan suatu peluang usaha yang prospek untuk dikembangkan.
8
Produktivitas ayam kampung super memang rendah, rata-rata per tahun
hanya 60 butir dengan berat telur rata-rata 30 gram/butir. Berat badan ayam jantan
tua tidak lebih dari 1,9 kg sedangkan yang betina lebih rendah lagi (Rasyaf.,
2006).
Suprijatna et, al (2005) mengemukakan taksonomi ayam kampung super
sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Aves
Subclass : Neornithes
Ordo : Galiformes
Genus : Gallus
Spesies : Gallus gallus domesticus
Keunggulan-keunggulan yang dimiliki pada ayam joper adalah memliki
daya tahan tubuh yang baik, lebih tahan terhadap penyakit jika dibandingkan
dengan unggas lain serta terhadap cekaman panas, karena suhu nyaman untuk
ayam kampung super adalah sekitar 190 C – 270 C. Keunggulan lain yang dimiiki
oleh ayam joper adalah daging yang dihasilkan oleh ayam joper juga cenderung
lebih gurih jika dibanding kandungan ayam ras (Supartini dan Sumarno., 2011).
Ayam joper memiliki kekurangan yaitu tingkat konsumsi ransum lebih
banyak, serta kandungan nutrisi dalam ransum harus seimbang untuk menunjang
pertumbuhan yang cepat (Ginting., 2015). Sebagian besar ayam kampung yang
9
terdapat di Indonesia mempunyai bentuk tubuh yang kompak dengan
pertumbuhan badan relatif bagus pertumbuhan bulunya sempurna dan variasi
warnanya juga cukup banyak (Redaksi Agromedia., 2005)
Ayam kampung super atau biasa disebut ayam joper adalah salah satu
ayam lokal asli Indonesia yang merupakan penghasil telur dan daging yang
banyak dipelihara terutama di daerah pedesaan. Ayam joper merupakan hasil
domestikasi dari jenis ayam hutan merah (Gallus gallus). Akibat dari proses
evolusi dan domestikasi, maka terciptalah ayam kampung super yang telah
beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga lebih tahan terhadap penyakit
dan cuaca dibandingkan dengan ayam ras (Sarwono., 2005). Mengenal ayam
kampung super atau kadang disebut ayam jowo super adalah ayam kampung yang
berasal dari hasil persilangan antara ayam petelur dan ayam kampung. Inovasi
ayam kampung super ini disebabkan karena banyaknya para peternak yang
mengeluh karena lamanya dari budidaya ayam kampung. Dengan penemuan ayam
ini, dapat memberi jawaban bagi para peternak. Jenis ayam kampung super dapat
dipanen hasilnya dengan kurun waktu 45-60 hari. Ayam kampung super ini relatif
banyak dikembangkan oleh para peternak karena masa pemeliharaannya yang
singkat. Selain itu resiko kematian kecil dan cita rasa dagingnya hampir sama
dengan ayam kampung yang banyak disukai masyarakat. Masruhah (2008)
menyatakan bahwa ayam kampung super lebih tahan terhadap penyakit sehingga
lebih mudah dipelihara, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru dan tidak
mudah stress, Penyebaran ayam kampung super hampir merata di seluruh pelosok
tanah air.
10
Sistem kekebalan tubuh ayam atau sering disebut sistem imun merupakan
kemampuan untuk menahan infeksi serta meniadakan kerja racun dan faktor
penyebab penyakit seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit. Untuk perkembangan
sistem kekebalan ayam yang optimal, perlu didukung dengan tatalaksana
peternakan, kecukupan nutrisi, dan program vaksinasi yang baik. Jadwal vaksinasi
harus dilakukan secara memadai dan ketat agar kekebalan yang ditimbulkan dapat
melindungi ayam dari serangan penyakit.
Penampilan ayam kampung super sampai saat ini masih sangat beragam,
begitu pula dengan sifat genetiknya. Warna bulu, ukuran tubuh dan kemampuan
produksinya tidak sama merupakan cermin keragaman genetik ayam kampung
super (Subekti dan Arlina., 2011). Karakteristik dari ayam kampung super adalah
dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan bobot seragam, laju pertumbuhan
lebih cepat dari pada ayam kampung, memiliki tingkat kematian yang rendah,
mudah beradaptasi dengan lingkungan serta memiliki citarasa yang tidak berbeda
dengan ayam kampung. Umur panen ayam kampung super yaitu kurang lebih dua
bulan (Fatimah dkk., 2014).
Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa ayam yang diternakan
masyarakat dewasa ini berasal dari 4 spesies Gallus, yaitu:
a. Gallus gallus
Spesies ini sering disebut juga sebagai Gallus bankiva, terdapat di sekitar
India sampai ke Thailand termasuk Filipina dan Sumatera. Karakteristik
dari spesies ayam ini adalah jengger berbentuk tunggal dan bergerigi.
11
b. Gallus lavayeti
Spesies ini banyak terdapat di sekitar Ceylon, sebab itu juga sebagai Ayam
Hutan Ceylon. Ayam ini mempunyai tanda-tanda mirip seperti Gallus
gallus, hanya saja yang jantan berwarna merah mudah atau orange.
c. Gallus soneratti
Spesies ini terdapat di sekitar India dan Barat Daya. Tanda-tanda ayam ini
mirip seperti Gallus gallus, hanya saja warna yang menyolok pada yang
jantan adalah warna kelabu.
d. Gallus varius
Spesies ini terdapat di sekitar Jawa sampai ke Nusa Tenggara. Yang jantan
mempunyai jengger tunggal tidak bergerigi, mempunyai bulu penutup
bagian atas berwarna hijau mengkilau dengan sayap berwarna merah
karena adanya warna kehijauan ini maka ayam ini disebut Ayam Hutan
Hijau. Ayam hutan hijau (Gallus varius) inilah yang merupakan nenek
moyang ayam kampung yang umum dipelihara. Ayam kampung yang ada
kini masih menurunkan sifat-sifat asal nenek moyangnya. Oleh karena itu
varietas asal unggas hutan setengah liar ini dikenal dengan ayam kampung
(Rasyaf., 2006).
Kebutuhan Nutrisi Ayam Joper
Kebutuhan nutrisi pada unggas berbeda sesuai dengan jenis unggas,
bangsa, umur, fase produksi dan jenis kelamin. Kebutuhan nutrisi tersebut
mencakup protein, asam amino, energi, Ca, dan P serta kadang-kadang
dicantumkan untuk tingkat konsumsi pakan/ekor/hari. Menurut Mulyono (2004)
12
bahwa pada prinsipnya kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh ayam terdiri atas
sumber energi, diantaranya karbohidrat sebagai sumber utama, lemak sebagai
cadangan utama, protein (asam-asam amino), vitamin dan mineral.
Tabel 1. Kebutuhan Nutrisi Ayam Joper
Umur Jenis Protein Serat EnergiMetabolis
Ayam Ransum Kasar (%) Kasar (%) me (Kkal/kg)
(Minggu)
0-6 Starter 18 7,5 2600
6-12 Grower 16 10 2600
12-20 Developer 14 10 2600
20-60 Layer 15 10 2600
(Afkir)
Sumber : Zainuddin., 2006.
Ransum Komersil
Ransum Komersial merupakan bahan pakan yang memiliki kandungan
protein dan energi pakan yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan,
ternak untuk memenuhi kebutuhan energinya, sehingga diperlukan tambahan
bahan-bahan lain agar kandungan nutrisi makin lengkap sebelum diberikan pada
ternak (Kompiang et al., 2001). Ransum komersial yang berkualitas baik dalam
penggunaannya sebagai campuran pakan dapat menghasilkan produksi daging dan
telur yang tinggi. Ransum komersial yang ada di pasaran sangat beragam baik
jenis produk yang dihasilkan tiap pabrik, kandungan nutrisi, maupun harga yang
selalu bersaing ketat untuk tiap pabrik yang memproduksi, tergantung dari protein
yang tersedia dalam ransum. Semakin tinggi kandungan protein, harga ransum
komersial semakin mahal pula. Pakan yang baik adalah bahan pakan yang
mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh ternak unggas khususnya energi
metabolis (EM) dan protein. Selama ini, peternak dalam mencampur bahan
13
ransum menggunakan ransum komersial yang paling murah tanpa memperhatikan
kualitas, padahal kualitas ransum yang baik sangat berpengaruh terhadap hasil
produksi dan kualitas dari telur yang dihasilkan.
Pakan merupakan faktor penting dalam budidaya ayam joper secara
intensif agar dapat berproduksi dengan optimal, pemberian pakan pada
pemeliharaan sistem intensif harus sesuai dengan kebutuhan nutrisi pakan ayam
joper. Kebutuhan nutrisi untuk unggas tergantung pada bangsa, umur, jenis
kelamin, ukuran dan fase produksi (Sukamto., 2012). Ransum yang diberikan
mengandung cukup energi, protein, mineral dan vitamin dalam jumlah seimbang
sesuai dengan fase dan umur ternak (Suprijatna et al., 2005).
Tanaman Sirsak (Annona Muricata L)
Sirsak (annona muricata linn) adalah tumbuhan berguna yang berasal dari
Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Di berbagai daerah Indonesia
dikenal sebagai nangka sebrang, nangka landa (Jawa), nangka walanda, sirsak
(Sunda), srikaya jawa (Bali), boh lona (Aceh), durio ulondro (Nias). Tanaman ini
ditanam secara komersial atau sambilan untuk diambil daging buahnya, tumbuhan
ini dapat tumbuh disembarang tempat paling baik ditanam didaerah yang cukup
berair dan pada semua jenis tanah dengan derajat keasaman (pH) antara 5-7 jadi
tanah yang sesuai adalah tanah yang agak asam sampai alkalis. Suhu udara yang
sesuai untuk tanaman ini antara 22-320C dan curah hujan dan kelembapan udara
yang tinggi (kelembapan udara 60%-80% serta curah hujan 500 mm-3000 mm per
tahun) juga mampu mempengaruhi perkembangan tanaman sirsak secara
maksimal.
14
Morfologi dari daun sirsak adalah berbentuk bulat dan panjang, dengan
bentuk daun menyirip dengan ujung daun meruncing, permukaan daun mengkilap,
serta berwarna hijau muda sampai hijau tua. Terdapat banyak putik di dalam satu
bunga sehingga diberi nama bunga berpistil majemuk. Sebagaian bunga terdapat
dalam lingkaran,dan sebagian lagi membentuk spiral atau terpencar,tersusun
secara hemisiklis (Sunarjono., 2005). Selain morfologi di atas, sirsak
diklasifikasikan sbb:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Polycarpiceae
Famili : Annonaceae
Genus : Annona
Spesies : Annona Muricata Linn (Widyaningrum., 2012)
Nama umum Graviola (Brazil), Soursop (Inggris), Guanabana (Spanyol),
Nangka Sabrang atau Nangka Belanda (Jawa), Nangka Walanda atau Sirsak
(Sunda).
Sirsak sejauh ini dibudidayakan untuk dimanfaatkan buahnya karena
kandungan gizinya yang tinggi seperti karbohidrat, vitamin C dan mineral
(Rahmani., 2008). Menurut Widyaningrum (2012), buah berkhasiat mencegah dan
mengobati diare, maag, disentri, demam, flu, menjaga stamina dan pelancar ASI.
Bunga digunakan sebagai obat bronkhitis dan batuk. Biji digunakan untuk
15
mencegah dan mengobati astrigent, karminatif, penyebab muntah, mengobati
kepala berkutu dan parasit kulit serta obat cacing. Kulit batang digunakan untuk
pengobatan asma, batuk, hipertensi, obat parasit, obat penenang dan kejang. Akar
digunakan untuk obat diabetes (khusus kulit akarnya), obat penenang dan kejang.
Di antara bagian-bagian tanaman sirsak tersebut, daun juga bermanfaat sebagai
obat penyakit jantung, diabetes dan antikanker yang merupakan senyawa
antioksidan.
Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, annocatacin, annocatalin,
annohexocin, annonacin, annomuricin, anomurine, anonol, caclourine, gentisic
acid, gigantetronin, asam linoleat dan muricapentocin (Widyaningrum., 2012).
Kandungan Kimia Daun Sirsak
Daun sirsak mengandung alkaloid, tanin, dan beberapa kandungan kimia
lainnya termasuk Annonaceous acetogenins. Acetogenins merupakan senyawa
yang memiliki potensi sitotoksik. Senyawa sitotoksik adalah senyawa yang dapat
bersifat toksik untuk menghambat dan menghentikan pertumbuhan sel kanker
(Mardiana, 2011). Acetogenins pada daun sirsak dapat digunakan untuk melawan
kanker dengan menghambat ATP (adenonsina trifosfat) yang memberi energi
pada sel kanker (Widyaningrum dkk., 2012).
Feed Additive
Feed Additive adalah suatu bahan atau kombinasi bahan yang
ditambahkan, biasanya dalam kuantitas yang kecil, kedalam campuran makanan
dasar atau bagian dari padanya, untuk memenuhi kebutuhan khusus, contohnya
16
additive bahan konsentrat, additive bahan suplemen, additive bahan premix,
additive bahan makanan (Anggorodi., 1995).
Feed Additive adalah susunan bahan atau kombinasi bahan tertentu yang
sengaja ditambahkan ke dalam ransum pakan ternak untuk menaikkan nilai gizi
pakan guna memenuhi kebutuhan khusus atau imbuhan yang umum digunakan
dalam meramu pakan ternak. Murwani et al., (2002) menyatakan bahwa additive
adalah bahan pakan tambahan yang diberikan pada ternak dengan tujuan untuk
meningkatkan produktifitas ternak maupun kualitas produksi.
Feed additive merupakan bahan makanan pelengkap yang dipakai sebagai
sumber penyedia vitamin-vitamin, mineral-mineral dan atau juga antibiotika
(Anggorodi, 1995). Fungsi feed additive adalah untuk menambah vitamin-
vitamin, mineral dan antibiotika dalam ransum, menjaga dan mempertahankan
kesehatan tubuh terhadap serangan penyakit dan pengaruh stress, merangsang
pertumbuhan badan (pertumbuhan daging menjadi baik) dan menambah nafsu
makan, meningkatkan produksi daging maupun telur.
Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan merupakan ukuran produksi bagi seekor ternak.
Pertambahan bobot badan dapat diukur dalam mingguan atau harian. Pertambahan
bobot dipengaruhi oleh tipe ternak, suhu lingkungan, jenis ternak dan gizi yang
ada di dalam ransum. Laju pertumbuhan seekor ternak dikendalikan oleh
banyaknya konsumsi ransum, terutama energi yang diperoleh. selain itu
keseimbangan energi dan protein merupakan hal yang harus diperhatikan dalam
penyusunan ransum unggas, sebab hal ini berpengaruh terhadap kecepatan
17
pertumbuhan, konsumsi ransum dan efisiensi penggunaan ransum (Suprijatna et
al., 2005).
Konsumsi Pakan
Konsumsi ransum adalah jumlah ransum yang dapat dimakan oleh ternak
apabila ransum tersebut diberikan secara adlibitum. Faktor-faktor yang
mempengaruhi konsumsi ransum diantaranya adalah tingkat energi,
keseimbangan, asam amino, tekstur ransum, aktivitas ternak, berat badan,
kecepatan, pertumbuhan, dan suhu lingkungan (Amrullah., 2003). Lebih lanjut
dijelaskan bahwa nonsumsi ransum juga dipengaruhi oleh tinggi rendahnya
kandungan dan imbangan dan protein dalam pakan.
Konversi Pakan
Konversi ransum adalah jumlah ransum yang diperlukan untuk
membentuk satu kilogram pertambahan bobot badan. Keberhasilan dalam
memilih atau menyusun ransum yang berkualitas tercermin dari nilai konversi
ransum. Nilai konversi ransum dipengaruhi oleh kualitas ransum, teknik
pemberian pakan dan angka mortalitas (Amrullah., 2003). Faktor-faktor yang
berpengaruh terhadap nilai efisiensi penggunaan ransum adalah laju pertumbuhan,
kandungan energi metabolisme ransum, bobot badan, kecukupan zat-zat makanan
dalam ransum dan temperatur lingkungan serta kesehatan ayam (Suprijatna et al.,
2005).