0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
529 tayangan3 halaman

Monolog Bode Riswandi: Nasib Kampung

Monolog ini memberikan peringatan tentang bahaya yang mengancam kampung dan warganya akibat penjualan tanah oleh pemiliknya kepada pengusaha besar. Sang penceramah menggambarkan nasib buruk yang menimpa warga kampung setelah tanah dan sumber daya alamnya diambil alih, seperti kematian, pengusiran, dan kemiskinan. Ia juga memperingatkan para politikus tentang bahaya yang mengintai mereka jika tidak was
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
529 tayangan3 halaman

Monolog Bode Riswandi: Nasib Kampung

Monolog ini memberikan peringatan tentang bahaya yang mengancam kampung dan warganya akibat penjualan tanah oleh pemiliknya kepada pengusaha besar. Sang penceramah menggambarkan nasib buruk yang menimpa warga kampung setelah tanah dan sumber daya alamnya diambil alih, seperti kematian, pengusiran, dan kemiskinan. Ia juga memperingatkan para politikus tentang bahaya yang mengintai mereka jika tidak was
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Naskah Monolog

Bode Riswandi

LIYAN

Para makhluk politik yang budiman,


Jangan dulu sentimentil tentang nasib kampung yang kalian cintai selama ini, jika
kelak jadi tanah kelahiran yang sulit lagi untuk dikenali. Sikap sentimentil, bisa dengan
cepat membuat saudara wafat sebelum waktunya. Memang belum ada buktinya hingga hari
ini, tetapi dapat dirasakan jika hal tersebut akan segera terjadi. Pokoknya, kalian harus
percaya, titik!
Para makhluk politik yang budiman,
Mungkin hari tadi Saudara lupa membaca koran yang banyak dibaca para politikus.
Di halaman pertama tertulis beberapa kampung yang kepemilikan tanahnya berada di
tangan orang-orang pribumi, kini telah dimiliki seorang pengusaha sekaligus penguasa,
katanya. Bayangkan saja, tanah sekampung bisa dimiliki satu orang.
Jika dia kelak akan membangun apa pun, orang-orang kampung mutlak tidak akan
punya hak untuk mengatur. Selain diam saja, sabar menyaksikan pembangunan yang
bertahap. Jika anak-anak kecil lantas merengek karena tidak bisa lagi bermain bola, cara
paling sopan sebagai orang tua jelas membiarkan saja anak itu menangis, sampai mereka
benar-benar merasa lelah.
Tidaklah mengerikan jika kampung kita kelak sehebat ibu kota yang gemerlap. Tak
perlu takut, karena memang semua itu akan tiba saatnya. Lihat saja nanti, sawah-sawah
yang luas itu pasti akan terkenang lewat cerita saja. Empang dan ladang juga demikian
nasibnya. Kampung adat satu per satu hilang tempat di daerahnya masing-masing. Lalu
nasib ibu kota itu? Barang tentu akan menambah gemerlapnya biar tidak didahului
kemajuan kampung kita. Maksud saya, kampung kita yang sudah dijual ke pemodal, yang
tentunya telah berkongkow kekuasaan.
Para makhluk politik yang budiman,
Jika saat ini saudara masih menetap di kampung, ada baiknya dekatilah kampung
saudara seintim mungkin, agar kelak tidak terlalu merasa kehilangan yang teramat
menyedihkan. Dan jika akhirnya saudara harus sampai terusir juga dari tanah kampung
saudara sendiri, itu pertanda ujian terberat bagi orang-orang yang terlalu naif seperti
saudara, seperti halnya Haji Sopyan bandar beras terkaya di kampung, yang kini jadi supir
pribadinya penguasa yang membeli tanah sekampung itu.
Kampungnya Haji Sopyan hari ini sudah sulit lagi dikenali asal mulanya. Tidak ada
lagi hal-hal unik yang dahulu menjadi daya tarik kampung itu. Lapangan sepak bola, sawah
dan empangnya raib. Pemakaman umum dan makam keramat pun harus rela dibongkar.
Bagi mereka, orang-orang mati sudah tidak lagi berarti. Makam-makam itu hanya membuat
tanah jadi mubazir, sudah tidak produktif, dan mengganggu proses percepatan ekonomi
negara. Jadi harus dibongkar, buang jeroannya, dan bangun jadi apapun. Yang penting
ekonomi eksekutif, ekonomi legislatif, ekonomi yudikatif dan ekonomi para naga naik
signifikan. Sisanya, baru buat negara.
Dan kalian para pemuda kampung harus tahu diri, kalian harus angkat kaki segera.
Kalau masih memaksakan diri tinggal, paling banter kalian jadi kuli, babu atau pelayan
yang menaruhkan nyawanya di atas gondola. Lihatlah istri dan anak perempuan Haji
sopyan, mereka sudah tidak lagi tinggal di kampung yang telah berubah itu. Mereka hijrah
ke rumah mertuanya. Mereka hidup alakadarnya, jauh berbeda saat kampungnya masih
terjaga. Dan orang pejabat Pemda makin harum karier politiknya usai orang pusat
mengapresiasi kemajuan kampung itu sebagai sistem kerja modernisasi yang merata.
Para makhluk politik yang budiman,
Pengusaha itu membeli kampung, kemudian membeli pula gunung. Setiap hari
puluhan truk bergantian ngangkut pasir melewati perumahan warga. Para pemuda
tanggung cukup menyaksikan lintang pukang truk-truk itu membawa pasir gunung tempat
mereka berburu. Semenjak gunung itu hampir ludes, mereka tidak sadar kalau rumah
mereka posisinya jadi berdiri di bibir jurang, dan Alat-alat burunya telah jadi kayu bakar.
Seorang pemuda yang protes, esok harinya tewas ngambang di sungai. Dalihnya
terpeleset lalu terbawa arus. Tak pernah pula dilakukan visum walau beberapa bekas
hantaman memenuhi tubuhnya. Kini kampung dan gunung dijaga mereka yang kekar-
kekar tubuhnya. Seorang wartawan yang idealis, dikubur bersama sepeda motornya.
Para makhluk politik yang budiman,
Kampung dan gunung bagaikan tabungan kecemasan yang panjang bagi Haji
Sopyan, bagi pemuda yang menaruhkan nyawa di atas gondola, bagi kuli dan babu-babu
pribumi. Dan dua contoh kematian itu efektif menutup mulut pribumi yang tersisa. Saudara
jangan keburu sentimen untuk urusan ini. Maut saat ini, begitu doyan mengintai mereka
yang sentimentil. Jika kampung dan gunung telah raib, saudara tentu sudah tahu bagaimana
jalan terusnya toh? Mereka akan mengeruk seluruh isi tubuh kalian seperti mengeruk
gunung-gunung itu.
(Melirik sekitar. Dengan nada penuh waspada) Saudara, media cetak dan
elektronik tidak lagi mungkin mewartakan kekacauan ini semua. Saya cuma titip pesan,
saudara sekalian harus waspada. Nasib kalian tinggal tunggu nomor antrean menyusul
takdir pemuda dan wartawan tadi.
Saya sendiri cuma bias ngelus dada ketika rumah orang tua saya diratakan sehabis
dipaksa menandatangani dokumen dari desa. Saya tidak bisa melawan mereka. Tubuh
mereka kekar-kekar semua. Apalagi pengusaha itu, taat bayar pajak, katanya. Hari ini, saya
baru benar-benar berani mengabarkan ini semua kepada saudara, setelah para anjing
piaraan pengusaha itu tidak mungkin lagi dapat melihat tubuh saya.
Para makhluk politik yang budiman,
Napas saya terasa sesak sekali. Pundak saya serasa ada yang memukul dengan
balok. Tubuh saya sangat sakit, tidak bisa digerakkan. Dan motor ini sengaja dijatuhkan di
atas tubuh saya. Saudara, Saya harus pulang. Di bawah basemant hotel itu saya berbaring.

*2023*

Anda mungkin juga menyukai