0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan14 halaman

Analisis Soal JFT Basic A2 dan HOTS

Analisis soal ujian JFT BASIC A2 menemukan bahwa 43% soal menerapkan Higher Order Thinking Skills (HOTS) sedangkan 57% lainnya menerapkan Lower Order Thinking Skills (LOTS). Karakteristik soal HOTS mampu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta dan berbasis pada masalah kontekstual.

Diunggah oleh

igaru kun
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan14 halaman

Analisis Soal JFT Basic A2 dan HOTS

Analisis soal ujian JFT BASIC A2 menemukan bahwa 43% soal menerapkan Higher Order Thinking Skills (HOTS) sedangkan 57% lainnya menerapkan Lower Order Thinking Skills (LOTS). Karakteristik soal HOTS mampu mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta dan berbasis pada masalah kontekstual.

Diunggah oleh

igaru kun
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Analisis Butir Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS)

Pada Soal Ujian JFT BASIC A2

Trisgar1, Juju Juangsih2


Fakultas Pasca Sarjana, Jurusan Pendidikan Bahasa Jepang, UPI12
Bandung12
trisgar@upi.edu1, jujujuangsih@upi.edu2

Abstract
Supporting the realization of the nation's golden generation in 2045 with productive,
creative, innovative and affective characteristics, one way to hone these abilities is to provide
questions based on HOTS. However, it is known that many Japanese exam questions are not
based on HOTS. Because of this, the author is interested in examining more deeply the questions
on JFT BASIC A2 exam sheet, so that it can be used as a reference in making HOTS-based
Japanese exam questions. This qualitative research using descriptive method and collecting data
using documentation techniques. The problem in this research is: 1) How is the implementation
of the HOTS and LOTS-based questions on the JFT BASIC A2 sheet?, 2) What are the
characteristics and forms of the HOTS and LOTS-based questions? To answer the problem
formulation above, the author uses the revised edition of Bloom's theory regarding cognitive
levels and the theory of the Kemendikbud (2017) regarding the implementation of HOTS. The
results showed that the percentage of questions that implemented HOTS was 43% and 57%
LOTS out of a total of 70 multiple choice questions only. The characteristics of the HOTS
questions is measure higher-order thinking skills and are based on contextual problems.

Key Word: HOTS Implementation, JFT Questions, Characteristics

1. PENDAHULUAN
Jepang merupakan salah satu negara
yang paling maju di dunia. GDP atau Gross
Domestic Product (Produk Domestik Bruto)
yaitu nilai semua barang dan jasa yang
dihasilkan di Jepang dalam setahun adalah
kedua tertinggi di dunia (Anggita 2022).
Namun tingginya nilai GDP tersebut tidak
berbanding lurus dengan laju pertumbuhan
penduduk di Negara Jepang. Dirilis oleh Biro
Statistik Kementerian Dalam Negeri dan
Komunikasi Jepang pada bulan Maret 2023 (Sumber:[Link]
terlihat laju pertumbuhan penduduk Jepang pdf/[Link])
dari tahun ke tahun adalah sebagai berikut.
Pada grafik diatas terlihat bahwa dari
Gambar 1. Grafik laju pertumbuhan tahun 2011 sampai ke tahun 2022
penduduk di Jepang kecenderungan pertumbuhan penduduk
Jepang adalah menurun, lalu di tahun 2023
pun diprediksi laju penduduk Jepang masih
akan terus menurun. Tentunya dengan status perlu untuk ditingkatkan agar dapat bersaing
sebagai pelaku ekonomi terbesar di dunia, dengan tenaga kerja dari negara lainnya.
penurunan jumlah penduduk ini menjadi Salah satu cara untuk mengasah
masalah besar yang harus segera ditemukan kemampuan tersebut adalah dengan
solusinya. Pemerintah Jepang tentunya tidak memberikan soal-soal berbasis Higher Order
tinggal diam, pemerintah Jepang Thinking Skill (HOTS) pada evaluasi hasil
mengupayakan segala cara untuk pendidikan bahasa Jepang, karena selain
meningkatkan angka penduduk di Jepang dapat mengasah untuk berpikir tingkat tinggi
seperti memberikan subsidi untuk para wanita juga diharapkan dengan itu peserta didik
yang mau melahirkan, menggratiskan biaya dapat berpikir lebih luas dan mendalam.
pemeriksaan kehamilan, biaya persalinan Seperti dikatakan pada maklumat
serta memberikan jaminan kesehatan untuk kemendikbud ((2019) bahwa pemerintah
ibu dan anak sampai usia tertentu (Octaviani mengharapkan para peserta didik mencapai
2019). Namun kalaupun program-program berbagai kompetensi dengan penerapan
tersebut berhasil, manfaat yang akan HOTS atau keterampilan berpikir tingkat
didapatkan Negara Jepang adalah dimasa tinggi. Kompetensi tersebut yaitu berpikir
depan, sedangkan roda perekonomian yang kritis (critical thinking), kreatif dan inovatif
terus berjalan saat ini harus didukung oleh (creative and innovative), kemam- puan
orang-orang dengan usia produktif yang siap berkomunikasi (communication skill),
bekerja. Karena itulah pemerintah Jepang kemampuan bekerja sama (collaboration),
mengupayakan beberapa solusi alternatif dan kepercayaan diri (confidence).
yang diantaranya adalah kebijakan perekturan Tentunya, penerapan HOTS pada
tenaga kerja asing produktif berbasis soal-soal yang akan dibuat guru bahasa
keterampilan (Risda & Nanggala 2022). Jepang tidak dilakukan dengan berdasarkan
Indonesia mulai mengerahkan tenaga pada kemampuan nalar saja, perlu ada teori
kerja untuk bekerja di Jepang pada tahun dan contoh nyata soal-soal sebelumnya yang
1993 (Elsy 2018), namun jumlah penduduk dijadikan referensi pada skala global, agar
yang banyak dan usia produktif yang relatif tujuan untuk membuat soal-soal yang dapat
besar tidak menjadikan Indonesia sebagai mengasah kemampuan berpikir peserta didik
lima besar sebagai penyalur tenaga kerja ke dapat terwujud. Salah satu yang bisa
Jepang. Dikutip dari laman Kementerian dijadikan referensi adalah soal-soal pada
Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan ujian Japan Foundation Test for Basic
Jepang, penyalur tenaga asing terbesar Japanese (JFT BASIC), karena seperti
dikuasai oleh Cina dengan 31.8%, kemudian diketahui dari laman JFT Jepang (2023)
menyusul setelahnya Vietnam, Filipina, bahwa orang asing yang akan pergi ke Jepang
Brazil dan Nepal. Sebagai negara di Asia untuk bekerja menggunakan visa pekerja
tenggara dengan jumlah penduduk terbanyak diharuskan memiliki sertifikat JFT BASIC
seharusnya Indonesia bisa menjadi lima besar sebagai salah satu syaratnya.
sebagai penyalur tenaga kerja ke Jepang Dikutip dari laman Japan Foundation
seperti Vietnam dan Filipina. (2023) bahwa JFT BASIC diterapkan sebagai
Sejalan dengan visi pendidikan di ujian yang mengukur standar kemampuan
Indonesia saat ini yaitu membentuk karakter bahasa Jepang yang diperlukan untuk
generasi emas sampai pada tahun 2045 yang memperoleh status izin tinggal sebagai
produktif, kreatif, inovatif dan afektif pekerja berketerampilan spesifik no.1 yang
(supriatna 2016), kemampuan tenaga kerja diber- lakukan sejak 1 April 2019. Ujian ini
Indonesia dalam belajar bahasa Jepang pun berdasarkan kerangka yang digunakan
bersama pada institusi pembelajaran dan
pendidikan bahasa-bahasa di Eropa (CEFR: tingkat tinggi peserta didik. Kemudian pada
Common European of Reference for penelitian Hartiti dan Prasetyo (2020) diatas
Languages: Learning, teaching, assessment). juga hanya disebutkan bahwa soal dibuat oleh
Berdasarkan kerangka CEFR tersebut, The guru bahasa Jepang, namun tidak dijelaskan
Japan Foundation mengembangkan “Standar apa yang menjadi referensi guru-guru tersebut
Pendidikan Bahasa Jepang JF” yang disebut dalam membuat soal ujian akhir semester
dengan “JF Standard” sebagai kerangka bagi untuk pelajaran bahasa Jepang. Berdasarkan
pendidikan bahasa Jepang yang berkonsep latar belakang tersebut, permasalahan yang
pada “bahasa Jepang untuk pemahaman lintas hendak penulis cari jawabannya dalam tulisan
budaya” untuk mengukur apa dan seberapa ini adalah “Bagaimanakah implementasi soal-
mampu melakukannya dengan bahasa Jepang. soal berbasis HOTS dan LOTS yang ada pada
Penelitian terkait analisis soal bahasa lembar ujian JFT BASIC A2?” serta
Jepang berbasis HOTS pernah dilakukan oleh “Bagaimanakah karakteristik dan bentuk soal
Hartiti dan Prasetyo (2020) yang mana objek yang berbasis HOTS yang ada pada naskah
kajiannya adalah naskah soal ujian akhir ujian tersebut?” agar didapat standar yang
semester kelas XII di SMA, yang dibuat oleh bisa menjadi acuan dalam penyusunan soal
guru bahasa Jepang, dimana penelitian ini ujian bahasa Jepang berbasis HOTS untuk
dilakukan secara kualitatif dengan metode siswa di LPK yang akan diberangkatkan
analisis desktiptif untuk mencari seberapa bekerja ke Jepang.
besar implementasi soal-soal berbasis HOTS Dari beberapa penelitian yang
dan bagaimana karakter soal-soal berbasis dilakukan, ditemukan dua tingkatan dalam
HOTS tersebut. Hasil penelitian keterampilan berpikir yaitu keterampilan
menunjukkan bahwa dari 335 soal buatan berpikir tingkat rendah (Lower Order
guru yang ada pada enam SMA berbeda, Thinking Skills/LOTS) dan keterampilan
terdapat 45 soal (13%) yang telah berbasis berpikir tingkat tinggi (Higher Order
HOTS. Kemudian karakter soal berbasis Thingking Skills/HOTS). HOTS merupakan
HOTS yang ditemukan pada penelitian ini suatu konsep reformasi pendidikan
yaitu dapat mengukur kemampuan berpikir berdasarkan pada taksonomi bloom yang
tingkat tinggi dan berbasis permasalahan dimulai pada awal abad ke-21. Konsep ini
kontekstual. dimaksukan ke dalam pendidikan bertujuan
Penelitian lainnya yang menunjukkan untuk menyiapkan sumber daya manusia
persentase penggunaan HOTS pada soal-soal yang diharapkan tidak hanya menjadi
ujian lainnya juga ditemukan pada penelitian seseorang yang bisa mengikuti perintah dan
Acesta (2020) dimana penggunaan soal hanya memiliki kemampuan intelektual saja,
berbasis HOTS pada materi IPA di sekolah tetapi memiliki keterampilan abad ke-21
dasar hanya 25%, juga pada Ahmad dan mencakup kemampuan mengevalusi, berpikir
Sukiman (2019) pada materi agama Islam di kreatifitas, analisis dan kritis (Alfian 2019).
dirasah islamiyah, soal HOTS berjumlah Peserta didik dengan kemampuan
24%, dan pada Nursyifa, dkk (2020) pada berpikir LOTS berperilaku dengan hanya
materi matematika di sekolah dasar hanya menggunakan ingatannya dan hanya dapat
terdapat 20% dari total 295 soal yang menerapkan suatu informasi atau konsep saja,
dianalisis. sedangkan peserta didik dengan kemampuan
Berdasarkan hasil penelitian diatas HOTS adalah peserta didik yang mampu
penulis melihat porsi penerapan soal berbasis melakukan analisis suatu fenomena. Karena
HOTS masih dirasa kecil, yang mana belum itu dalam taksonomi bloom dibedakan ranah
mencerminkan soal-soal yang mengarah kognitif menjadi enam kategori level yaitu
kepada mengasah kemampuan berpikir mengingat (C1), memahami (C2),
menerapkan (C3), menganalisis (C4), 1.4) Mencontohkan (Istilah lain:
mengevaluasi (C5) dan mencipta (C6). Ranah mengilustrasikan, memberi contoh) yaitu
kognitif C1 sampai C3 dimasukkan kedalam menemukan contoh atau ilustrasi tentang
kategori level LOTS dan C4 sampai C6 konsep atau prinsip.
dikategorikan kedalam level HOTS 1.5) Mengklasifikasikan (Istilah lain:
(Ramadhan dkk 2017; Sutedi 2019). mengkategorikan, mengelompokkan) yaitu
Untuk mencari seberapa banyak soal- menentukan sesuatu dalam satu kategori.
soal berbasis HOTS yang ada pada naskah 1.6) Merangkum (Istilah lain: mengabstraksi,
ujian JFT BASIC A2 pada tulisan ini adalah menggeneralisasi) yaitu mengabstraksikan
teori Taksonomi Bloom edisi revisi karya tema umum atau poin (-poin) pokok.
tulisan Anderson dan Krathwohl (2017). 1.7) Menyimpulkan (Istilah lain: Menyarikan,
Alasan mengambil teori ini karena mereka Mengekstrapolasi, Menginterpolasi,
telah melakukan studi dan mensintesis dari Memprediksi) yaitu membuat kesimpulan
beragam literatur sistem klasifikasi yang yang logis dari informasi yang diterima.
dipelajari oleh peneliti lainnya, semisal 1.8) Membandingkan (Istilah lain:
DeLandsheere, 1977; Metfessel, Michael dan mengontraskan, memetakan, mencocokan)
Kirsner, 1969; Mosenthal, 1998; Royer, yaitu menentukan hubungan antara dua
Cisceri dan Carlo, 1993; serta Sternberg, ide, dua objek, dan semacamnya.
1998. Berikut adalah ranah proses kognitif 1.9) Menjelaskan (istilah lain: membuat model)
berdasarkan taksonomi bloom edisi revisi yaitu membuat model sebab-akibat dalam
(Anderson dan Krathwohl 2017; Sutedi sebuah sistem.
2019). 3) Mengaplikasikan (C3)
1) Mengingat (C1) Level mengaplikasikan adalah
Level mengingat adalah Mengambil menerapkan atau menggunakan suatu
pengetahuan dari memori jangka panjang prosedur dalam keadaan tertentu yang
yang mana untuk menjabarkan perilaku ini mana kata kuncinya adalah
kata kuncinya adalah ‘tahu’. Terdiri dari ‘menggunakan’. Terdiri dari dimensi
beberapa dimensi sebagai berikut. sebagai berikut.
1.1) Mengenali/ mengidentifikasi yaitu 1.10) Mengeksekusi yaitu menerapkan
menempatkan pengetahuan dalam memori suatu prosedur pada tugas yang familier.
jangka panjang yang sesuai dengan 1.11) Mengimplementasikan yaitu
pengetahuan tersebut. menerapkan suatu prosedur pada tugas
1.2) Mengingat /mengambil yaitu mengambil yang tidak familier.
pengetahuan yang relevan dari memori 4) Menganalisis (C4)
jangka panjang. Level menganalisis adalah
2) Memahami (C2) memecah materi menjadi bagian-bagian
Level memahami adalah penyusunnya lalu menentukan hubungan
mengkonstruksikan makna dari materi antara bagian-bagian tersebut dengan
pembelajaran, termasuk apa yang keseluruhan struktur atau tujuan. Kata
diucapkan, ditulis dan digambar oleh guru kuncinya adalah ‘analisis’ dan terdiri dari
yang mana kata kuncinya adalah ‘paham’. dimensi sebagai berikut.
Terdiri dari dimensi sebagai berikut. 1.12) Membedakan (Istilah lain:
1.3) Menafsirkan (Istilah lain: mengklarifikasi, Menyendirikan, Memilah, Memfokuskan,
memparafrasakan, merepresentasi, Memilih) yaitu membedakan bagian materi
menerjemahkan) yaitu mengubah satu pelajaran yang relevan dari yang tidak
bentuk gambaran jadi bentuk lain. relevan, bagian yang penting dan yang
tidak penting.
1.13) Mengorganisasi (Istilah lain: Kemudian untuk melihat karakteristik
Menemukan koherensi, Memadukan, soal-soal berbasis HOTS yang ada pada
Membuat garis besar, Mendeskripsikan naskah ujian JFT BASIC A2 mengacu kepada
peran, Menstrukturkan) yaitu menentukan modul penyusunan soal HOTS yang
bagaimana elemen-elemen bekerja atau dikeluarkan oleh kemendikbud pada tahun
berfungsi dalam sebuah struktur. 2017 yang ditulis oleh I Wayan Widana
1.14) Mengatribusikan (Istilah lain: sebagai berikut.
Mendekonstruksi) yaitu menentukan sudut 1) Mengukur kemampuan berpikir tingkat
pandang, bias, nilai, atau maksud di balik tinggi
materi pelajaran. Kemampuan berpikir tingkat tinggi
5) Mengevaluasi (C5) merupakan proses menganalisis,
Level mengevaluasi adalah merefleksi, memberikan argument,
mengambil keputusan berdasarkan kriteria menerapkan konsep pada situasi berbeda,
dan atau standar, yang mana kata kuncinya menyusun, dan menciptakan. Kemampuan
adalah ‘menilai’. Terdiri dari dimensi berpikir tingkat tinggi bukanlah
sebagai berikut. kemampuan untuk mengingat, mengetahui
1.15) Memeriksa (Istilah lain: atau mengulang. Dengan demikian
Mengoordinasi Mendeteksi, Memonitor, jawaban soal-soal HOTS tidak tersurat
Menguji) yaitu menemukan inkonsistensi secara eksplisit dalam stimulus.
atau kesalahan dalam suatu proses atau 2) Berbasis permasalahan kontekstual
produk: menentukan apakah suatu proses Soal-soal HOTS merupakan
atau produk memiliki konsistensi internal, asesmen yang berbasis situasi nyata dalam
menemukan efektivitas suatu prosedur kehidupan sehari-hari, Permasalahn
yang sedang dipraktekkan. kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat
1.16) Mengkritik (Istilah lain: Menilai) dunia saat ini adalah terkait lingkungan
yaitu menemukan inkonsistensi antara hidup, kesehatan, kebumian dan ruang
suatu produk dan kriteria eksternal, angkasa, serta pemanfaatan ilmu
menentukan apakah suatu produk memiliki pengetahuan dan teknologi dalam berbagai
konsistensi eksternal, menemukan aspek kehidupan. Dalam pengertian
ketepatan suatu prosedur untuk tersebut termasuk bagaimana keterampilan
menyelesaikan. peserta didik untuk menghubungkan,
6) Mencipta (C6) menginterpretasikan, menerapkan dan
Mencipta adalah memadukan mengintegrasikan.
bagian-bagian untuk membentuk sesuatu 3) Menggunakan bentuk soal beragam
yang baru dan koheren atau untuk Bertujuan untuk memberikan
membuat suatu produk yang orisinal. Kata informasi yang lebih rinci dan menyeluruh
kuncinya adalah ‘membuat’. Terdiri dari tentang kemampuan peserta didik. Hal ini
dimensi sebagai berikut. penting dilakukan agar penilaian yang
1.17) Merumuskan (Istilah lain: Membuat dilakukan dapat menjamin prinsip objektif.
hipotesis) yaitu membuat hipotesis- Artinya hasil penilaiain dapat
hipotesis berdasarkan kriteria. menggambarkan kemampuan sesungguh
1.18) Merencanakan (Istilah lain: nya. Bentuk soal yang digunakan pada
Mendesain) yaitu merencanakan prosedur soal-soal JFT BASIC A2 adalah jenis tes
untuk menyelesaikan suatu tugas. objektif berupa pilihan ganda (multiple
1.19) Memproduksi (Istilah lain: choice). Variasi soal pilihan ganda
Mengkonstruksi) yaitu menciptakan suatu menurut Sudijono (2011) dibagi menjadi:
produk. a) Melengkapi pilihan
b) Model asosiasi Adapun terkait teknik analisis data
c) Model melengkapi berganda dilakukan dengan langkah sebagai
d) Model analisis hubungan antar hal berikut:
e) Model analisis kasus a. Membaca satu per satu soal pada
f) Model hal kecuali naskah ujian JFT BASIC A2 sampai
g) Model hubungan dinamik selesai sebanyak 60 soal.
h) Model pemakaian diagram, grafik, peta b. Mengidentifikasi mana saja soal yang
atau gambar berbasis HOTS yaitu soal yang
mengandung kata kerja operatif yang
2. METODE menunjukkan level C4 sampai C6, dan
Penelitian ini merupakan penelitian mengidentifikasi juga soal yang
dengan pendekatan kualitatif, yang mana berbasis LOTS (C1-C3).
jika dilihat dari metode yang digunakan c. Soal yang teridentifikasi HOTS
merupakan termasuk penelitian desktiptif maupun LOTS diberikan tanda khusus
karena akan menjabarkan secara terfokus berupa pemberian nomor sesuai
terkait karakteristik, bentuk serta dengan urutan pada saat membaca.
implementasi soal berbasis HOTS yang d. Setelah 60 data teridentifikasi,
ada pada naskah soal JFT BASIC A2. langkah selanjutnya yaitu
Sutedi (2018) menyatakan bahwa menganalisis nomor-nomor soal yang
penelitian desktiptif adalah penelitian yang sudah ditandai dengan dua tahapan.
dilakukan untuk menggambarkan dan Pertama, menggolongkan level C1
menjabarkan suatu fenomena yang terjadi sampai C6 lebih terperinci lagi
saat ini dengan menggunakan prosedur berdasarkan dimensi kognitifnya,
ilmiah untuk menjawab masalah secara mencakup:
aktual. Dalam penelitian ini peneliti - Level C1 (Mengingat), dibagi
menjadi instrument penelitian itu sendiri menjadi dimensi mengenali dan
sebagai penentu fokus penelitian, mengingat.
menetapkan sumber data, melakukan - Level C2 (Memahami), dibagi
pengumpulan data, menilai kualitas data, menjadi dimensi menafsirkan,
analisis data, menafsirkan data dan mencontohkan, mengklasifikasikan,
membuat kesimpulan terhadap temuan. merangkum, menyimpulkan,
Data dikumpulkan dengan teknik membandingkan dan menjelaskan).
dokumentasi yaitu dengan cara - Level C3 (Mengaplikasikan), dibagi
mengumpulkan naskah soal ujian JFT menjadi dimensi mengeksekusi dan
BASIC A2 beserta lembar jawabannya mengimplementasikan.
yang telah ditentukan oleh peneliti dengan - Level C4 (Menganalisis), dibagi
langkah-langkah sebagai berikut: menjadi dimensi membedakan,
a. Membaca semua soal yang ada pada mengorganisasi dan
naskah JFT BASIC A2 dari awal mengatribusikan.
hingga akhir. - Level C5 (Mengevaluasi), dibagi
b. Mencari dan menandai data yang menjadi dimensi memeriksa dan
diperlukan untuk menjawab rumusan mengkritik.
masalah. - Level C6 (Mencipta), dibagi menjadi
c. Mengklasifikasikan, menganalisis dan dimensi merumuskan, merencanakan
mendeskripsikan data berdasarkan dan memproduksi.
rumusan masalah.
Kedua, menemukan karakteristik dan 8,29,30
bentuk soal dilihat dari stimulus soal, Mengatri
tema dalam soal dan ragam soal. bu-si
C5
3. HASIL DAN PEMBAHASAN Memerik
Meng-
Penelitian ini mengulas hasil dari sa
evaluasi
penelitian soal ujian kemampuan bahasa C6 Mengko
Jepang JFT BASIC A2 pada tiga naskah Mencipta ntruksi
ujian yang disusun oleh Nirmala (2022)
berdasarkan susunan ujian yang
sesungguhnya. Dari sumber data tersebut
diketahui bahwa soal ujian JFT BASIC A2
memiliki kesamaan bentuk soal pada Dimensi
Level

Basis
setiap naskahnya yaitu terdiri dari 60 soal Proses No Soal
Kognitif
pilihan ganda dengan rincian 15 soal Kognitif
tulisan dan kosakata, 15 soal percakapan 1,2,3,4,5,6,
dan ekspresi, 15 soal mendengarkan dan C1 Mengena 7,8,9,10,11
15 soal membaca. Mengingat li ,12,13,14,1
5
Tabel 1. Hasil Data Soal JFT BASIC A2
Menyim 16,17,18,1
Berbasis LOTS (C1-C3) dan HOTS (C4-C6) C2
pul- 9,20,21,22,
memahami
LOTS

kan 23,24,25
Dimensi 36,37,38,3
Level Mengek-
Basis

Proses No Soal 9,40,41,42,


Kognitif sekusi
Kognitif C3 43,44,45
Mengap- Mengim
Mengena likasikan
7,8,9,10 ple- 46,47,48,4
C1 li mentasik 9,50
Mengingat Mengide an
1,2,3
ntifikasi Membe- 31,32,33,3
Menyim da kan 4,35
C2
pul- C4
LOTS

memahami Mengorg 56,57,58,5


kan Meng-
anisasi 9,60
Mengek- analisis
4,5,6 Mengatri 26,27,28,2
HOTS

sekusi
C3 bu-si 9,30
Mengim
Mengap- C5 61,62,63,6
ple- Memerik
likasikan Meng- 4,65,66,67,
mentasik sa
evaluasi 68,69,70
an
C6 Mengko 51,52,53,5
C4 Membe- Mencipta ntruksi 4,55
Meng- da kan
analisis Mengorg 11,12,13,1
HOTS

Dari hasil penelitian seperti pada tabel


anisasi 4,15,16,17, 1, diperoleh data dari 70 soal pilihan ganda
18,19,20,2 yang ada bahwa terdapat 40 soal yang
1,22,23,24, berbasis LOTS (57%) dan 30 soal yang
25,26,27,2 berbasis HOTS (43%). Pada hasil penelitian
juga terlihat bahwa semua level kognitif dari diperlukan kemampuan menganalisis, menilai
C1 sampai C6 terimplementasi dalam naskah dan membuat sesuatu dari peserta didik.
ujian JFT BASIC A2 yaitu C1 (mengingat), Kemudian juga terdapat 15 soal dengan
C2 (memahami), C3 (mengaplikasikan), C4 karakteristik berbasis permasalahan
(menganalisis), C5 (mengevaluasi) dan C6 kontekstual, yang mana peserta didik dituntut
(mencipta). untuk selalu memperbaharui ilmu
pengetahuannya terkait hal-hal yang ada
Tabel 2. Karakteristik Soal LOTS disekitar untuk mampu menjawab soal.

Menggunakan Menerapkan Tabel 4. Ragam soal pilihan ganda JFT


ingatan konsep BASIC A2
No 1,2,3,4,5,6,7,8, 36,37,38,39,40,
Soal 9,10,11,12,13, 41,42,43,44,45, Ragam Soal Nomor Soal Total
14,15,16,17,18 46,47,48,49,50 16,17,18,19,20,21
19,20,21,22, Model 22,23,24,25,36,37
23,24,25 melengkapi 38,39,40,41,42,43 25
Total 25 soal 15 soal pilihan 44,45,46,47,48,49
50
Dari hasil penelitian seperti pada tabel 1,2,3,4,5,6,7,8,9
Model asosiasi 15
2 diatas, diperoleh data bahwa dari 40 soal 10,11,12,13,14,15
yang berbasis LOTS terdapat 25 soal dengan Model
karakteristik menggunakan ingatan, yaitu melengkapi 51,52,53,54,55 5
hanya diperlukan kemampuan mengingat berganda
peserta didik dalam mengerjakannya. Model analisis
Kemudian terdapat 15 soal dengan 26,27,28,29,30,31
hubungan 10
karakteristik menerapkan konsep, yaitu 32,33,34,35
antar hal
diperlukan kemampuan peserta didik untuk Model analisis
menggunakan suatu prosedur pada soal. 56,57,58,59,60 5
kasus
Model
Tabel 3. Karakteristik Soal HOTS pemakaian
61,62,63,64,65,66
diagram, 10
Mengukur Berbasis 67,68,69,70
grafik, peta
kemampuan permasalahan atau gambar
berpikir tingkat kontekstual
tinggi Dari hasil penelitian seperti pada tabel
No 26,27,28,29,30 56,57,58,59,60, 4 diatas, diperoleh data yang mencerminkan
Soal 31,32,33,34,35 61,62,63,64,65, data soal yang beragam, terdiri dari enam
51,52,53,54,55 66,67,68,69,70 bentuk soal yaitu soal melengkapi pilihan
Total 15 soal 15 soal sebanyak 25 soal, soal asosiasi 15 soal, soal
melengkapi berganda 5 soal, soal analisis
Dari hasil penelitian seperti pada tabel hubungan 10 soal, soal analisis kasus 5 soal
3 diatas, diperoleh data bahwa dari 30 soal dan soal model pemakaian diagram, grafik,
yang berbasis HOTS terdapat 15 soal dengan peta atau gambar 10 soal.
karakteristik mengukur kemampuan berpikir
tingkat tinggi, yaitu tidak hanya kemampuan Analisis data
mengingat dan menerapkan konsep tapi juga
Dari temuan-temuan diatas maka bisa pada kalimat rumpang, lalu menyimpulkan
disimpulkan data hasil penelitian pada 70 soal isinya dan mengisi dengan jawaban yang
yang ada pada naskah JFT BASIC A2 adalah tepat. Dengan demikian data 2 tergolong
sebagai berikut: soal LOTS level proses kognitif C2
a. Terdapat 15 soal berbasis LOTS dengan (memahami) dengan dimensi kognitif yang
level kognitif C1 ‘mengingat’ dan dimensi dilalui berupa ‘menyimpulkan’ karena
prosesnya ‘mengenali’. Karakter soalnya pada soal ini peserta didik dituntut untuk
adalah ‘menggunakan ingatan’ dan bentuk bisa memahami awalan kalimat yaitu
soalnya adalah ‘model asosiasi’. kalimat さとうさんがけがをしたと聞い
Contoh data 1 て (Saya mendengar Sato san jatuh sakit),
今日はとても楽しかったですね。 setelah memahami awalan kalimat tersebut
1. いそがしかった maka peserta didik akan mampu
2. すずしかった menyimpulkan apa yang biasanya
3. たのしかった (jawaban benar) terpikirkan ketika mendengar seseorang
4. かなしかった jatuh sakit, sesuai jawaban yang benar,
Soal nomor 1 sampai 15 memiliki maka ketika mendengar seseorang sakit
bentuk yang sama seperti pada data 1, pada umumnya orang akan merasakan
dimana peserta didik dituntut untuk khawatir (しんぱい).
mengenali kanji yang tertulis pada soal c. Terdapat 10 soal berbasis LOTS dengan
maupun kebalikannya, kemudian mampu level kognitif C3 ‘mengaplikasikan’ dan
memilih jawabannya dengan tepat dengan dimensi prosesnya ‘mengeksekusi’.
mengingat hiragana atau kanji mana yang Karakter soalnya adalah ‘menerapkan
sesuai dengan soal tersebut. Dengan konsep’ dan bentuk soalnya adalah ‘model
demikian data 1 tergolong soal LOTS melengkapi pilihan’.
level proses kognitif C1 mengingat Contoh data 3
dengan dimensi kognitif yang dilalui このロボットは人( )会話することがで
berupa mengenali, karena pada soal ini きます。
peserta didik harus mengingat kanji 楽し 1. や
い yang jika dituliskan dengan hiragana 2. を
menjadi たのしい. 3. へ
b. Terdapat 10 soal berbasis LOTS dengan 4. と (jawaban benar)
level kognitif C2 ‘memahami’ dan dimensi Soal nomor 36 sampai 45 memiliki
prosesnya ‘menyimpulkan’. Karakter bentuk soal yang sama seperti pada
soalnya adalah ‘menerapkan konsep’ dan contoh data 3 yaitu peserta didik dituntut
bentuk soalnya adalah ‘model melengkapi untuk dapat mengeksekusi soal dengan
pilihan’. mengap- likasikan partikel maupun kata
Contoh data 2 yang tepat pada kalimat rumpang agar
さとうさんがけがをしたと聞いて、み menjadi kalimat yang benar. Dengan
んな( )しました。 demikian data 3 tergolong soal LOTS
1. しんぱい (jawaban benar) level proses kognitif C3
2. けいけん ‘mengaplikasikan’ dengan dimensi
3. しつれい kognitif ‘mengeksekusi’ karena peserta
4. おじぎ didik dituntut untuk bisa mengaplikasikan
Soal nomor 16 sampai 25 memiliki partikel yang tepat pada kalimat rumpang
bentuk yang sama seperti pada data 2, yang kehilangan kata ‘dengan’ pada
dimana peserta didik dituntut untuk dapat kalimatnya. Tentu pada soal ini
memahami konsep dari informasi yang ada
jawabannya adalah partikel と yang 2. おとうとはあのきっさてんではたらいて
artinya ‘dengan’. います。(jawaban benar)
d. Terdapat 5 soal berbasis LOTS dengan 3. おとうとはあのきっさてんでコーヒーを
level kognitif C3 mengaplikasikan dan 飲んでいます。
dimensi prosesnya ‘mengimplement- 4. おとうとはあのきっさてんで友達と話し
tasikan’. Karakter soalnya adalah ています。
‘menerapkan konsep’ dan bentuk soalnya Soal nomor 26 sampai 30 memiliki
adalah ‘model melengkapi pilihan’. bentuk soal yang sama dengan contoh data
Contoh data 4 5 yaitu peserta didik dituntut untuk dapat
木村「山田さん、あしたの午後、サッカー mengatribusikan yaitu menentukan sudut
の練習に行きますか。」 pandang yang berhubungan dengan soal
山田「ええ、行きます。午前中に用事があ yang ada. Dengan demikian data 5
るので、( )。」 tergolong soal HOTS level proses kognitif
1. 遅れないでください C4 ‘Menganalisis’ dengan dimensi
2. 遅れるかもしれません (jawaban betul) kognitif ‘mengatribusi’ karena peserta
3. 遅れない方がいいです didik dituntut untuk memahami dan
4. 遅れてはいけません menentukan sudut pandang akan makna
Soal nomor 46 sampai 50 memiliki dibalik kata ア ル バ イ ト , yang mana jika
bentuk soal yang sama dengan contoh merujuk kepada buku pelajaran maka akan
data 4 yaitu peserta didik dituntut untuk ditemukan arti kata tersebut adalah
dapat mengimplementasikan pola tata ‘bekerja paruh waktu’. Maka diketahui
bahasa yang benar pada kalimat rumpang. bahwa atribusi yang cocok untuk kata アル
Dengan demikian data 4 tergolong soal バイト adalah はたらく.
LOTS level proses kognitif C3 f. Terdapat 5 soal berbasis HOTS dengan
‘mengaplikasikan’ dengan dimensi level kognitif C4 ‘menganalisis’ dan
kognitif ‘mengimplemen tasikan’ karena dimensi prosesnya ‘membedakan’.
peserta didik dituntut untuk dapat Karakter soalnya adalah ‘mengukur
menerapkan pola tata bahasa yang benar kemampuan berpikir tingkat tinggi’ dan
pada kalimat rumpang yang seharusnya bentuk soalnya adalah ‘model analisis
terisi dengan kalimat ‘mungkin akan hubungan antar hal’.
telat’. Pola tata bahasa yang harus Contoh data 6
diketahui oleh peserta didik untuk さいきん
merubah kata kerja menjadi ‘mungkin + 1. さいきんりょうりができたので、いっしょ
kata kerja’ adalah dengan menggunakan に食べましょう。
‘kata kerja bentuk kamus/dasar + か も し 2. さいきんしゅくだいを出してください。
れません. 3. きむらさんはさいきんけっこんしたそう
e. Terdapat 5 soal berbasis HOTS dengan です。(jawaban benar)
level kognitif C4 ‘menganalisis’ dan 4. さいきん 電車が来ますから、いそいで
dimensi prosesnya ‘mengatribusikan’. えきに行きましょう。
Karakter soalnya adalah ‘mengukur Soal nomor 31 sampai 35 memiliki
kemampuan berpikir tingkat tinggi’ dan bentuk soal yang sama dengan contoh data
bentuk soalnya adalah ‘model analisis 6 yaitu peserta didik dituntut untuk dapat
hubungan antar hal’. menganalisis dengan membedakan
Contoh data 5 diantara jawaban yang mirip, mana kalimat
おとうとはあのきっさてんでアルバイトをし yang benar-benar sesuai dengan soal.
ています。 Dengan demikian data 6 tergolong soal
1. おとうとはあのきっさてんでまっていま HOTS level proses kognitif C4
す。
‘menganalisis’ dengan dimensi kognitif kata atau penghubung yang tepat. Pada
‘membedakan’ karena peserta didik soal ini kata penghubung yang tepat untuk
dituntut untuk dapat menganalisis mengorganisasi kalimat pertama dan kedua
penggunaan kata さいきん (baru-baru ini) untuk menjadi kesatuan kalimat yang
yang tepat jika digunakan pada kalimat. benar adalah しかし(tetapi) karena kalimat
Juga disini peserta didik dituntut untuk pertama bermakna positif yaitu 私のしゅみ
dapat menganalisis dengan membedakan は水泳です。毎日プールで泳いでいます
penggunaan kata さ い き ん , dan い ま (Hobi saya adalah berenang. Setiap hari
(sekarang), karena jika tidak bisa saya berenang di kolam renang). Namun
membedakan arti さ い き ん dengan い ま kalimat kedua bermakna negatif yaitu 半年
maka peserta didik akan terjebak dengan 前までは泳ぐことができませんでした
nomor jawaban 1, 3 maupun 4. (sampai setengah tahun kebelakang saya
g. Terdapat 5 soal berbasis HOTS dengan tidak bisa berenang).
level kognitif C4 ‘menganalisis’ dan h. Terdapat 10 soal berbasis HOTS dengan
dimensi prosesnya ‘mengorganisasi’. level kognitif C5 ‘mengevaluasi’ dan
Karakter soalnya adalah ‘berbasis dimensi prosesnya ‘memeriksa’. Karakter
permasalahan kontekstual’ dan bentuk soalnya adalah ‘berbasis permasalahan
soalnya adalah ‘model analisis kasus’. kontekstual’ dan bentuk soalnya adalah
Contoh data 7 ‘Model pemakaian diagram, grafik, peta
私のしゅみは水泳です。毎日プールで泳 atau gambar’.
いでいます。( )、半年前までは泳ぐこ Contoh data 8
とができませんでした。日本に来る前に住 このお知らせが日本語学校の教室にあり
んでいた場所には海もプールもなかった ます。
のです。 忘れ物がありました
1. しかし (jawaban benar) 忘れた人は、先生たちの部屋へ取りに
2. だから 来てください。
3. たとえば ①. 辞書 (103 教室にありました)
4. それに ②. 帽子(食堂にありました)
Soal nomor 56 sampai 60 memiliki
bentuk soal yang sama dengan data 7 12 月 5 日(月)から 7 日(水)までは、試
diatas yaitu pada sebuah narasi panjang 験中ですから、先生たちの部屋には入
terkait permasalahan kontekstual, peserta れません。教室でクラスの先生に言って
ください。
didik dituntut untuk dapat menganalisis
kasus atau permasalahan tersebut 2016 年 12 月 1 日(水)
kemudian mampu mengorganisasi isi 大西日本語学校
narasi tersebut menjadi kalimat yang utuh 試験中の日間に忘れ物を取りに行きたい
dan bersambung, karena ada beberapa 人は、どうしなければなりませんか。
kalimat rumpang di tengah narasi tersebut 1. 忘れ物があった場所へ取りに行きま
yang harus dicari jawabannya. Dengan す。
demikian data 7 tergolong soal HOTS 2. 教室で、自分のクラスの先生に話しま
level proses kognitif C4 ‘menganalisis’ す。(jawaban benar)
dengan dimensi kognitif ‘mengorganisasi’ 3. 試験が終わるまで待ちます。
karena peserta didik dituntut untuk 4. 先生たちの部屋へ取りに行きます。
menganalisis kasus terkait permasalahan Soal nomor 61 sampai 70 memiliki
kontekstual yang ada pada narasi diatas bentuk soal yang sama dengan data 8
kemudian mengorganisasi antara satu diatas yaitu menampilkan sebuah gambar,
kalimat dengan kalimat lainnya dengan selebaran, catatan dan laman berita yang
mana peserta didik dituntut mampu 1. ぜひ行きたい
mengevaluasi isi permasalahan kontekstual 2. ことがない
dengan cara memeriksa informasi yang 3. 見に行った
ada pada kontennya secara menyeluruh 4. ので (jawaban benar)
agar mengetahui jawaban yang tepat sesuai Soal nomor 51 sampai 55 memiliki
dengan yang ditanyakan pada soal. bentuk soal yang sama dengan data 9
Dengan demikian data 8 tergolong soal diatas yaitu berdasarkan pemahaman
HOTS level proses kognitif C5 terhadap kalimat rumpang yang ada
‘mengevaluasi’ dengan dimensi kognitif peserta didik dituntut mampu
‘memeriksa’ karena peserta didik dituntut menciptakan kalimat baru dengan
untuk bisa mengevaluasi isi lembar mengkontruksinya kata demi kata dari
pengumuman terkait kehilangan barang pilihan jawaban yang ada, setelah kalimat
dengan memeriksa kalimat mana yang bisa baru tercipta peserta didik juga dituntut
menjadi jawaban untuk soal yang untuk mampu menentukan jawaban yang
ditanyakan, yaitu bagaimana cara tepat sesuai dengan yang ditandai.
mengambil barang untuk siswa yang akan Dengan demikian data 9 termasuk
mengambilnya di waktu ujian sedang golongan soal HOTS level proses
berlangsung. Jawabannya adalah 教室で、 kognitif C6 ‘mencipta’ dengan dimensi
自分のクラスの先生に話します (di kelas, kognitif ‘mengkontruksi’ karena peserta
berbicara kepada guru yang mengajar), didik dituntut untuk bisa menciptakan
karena dalam pengumuman dituliskan kalimat baru untuk mengungkapkan
dalam bahasa Jepang perkataan 教 室 で ク jawaban atas pertanyaan Hayashi yang
ラ ス の 先 生 に 言 っ て く だ さ い (silahkan bertanya terkait keluangan waktu untuk
katakan kepada guru yang mengajar di melihat pertandingan baseball. Setelah
kelas). Disinilah diperlukan kemampuan mampu mengkontruksi kalimat jawaban
siswa untuk tidak hanya memeriksa soal dengan benar selanjutnya peserta didik
namun memeriksa jawaban yang cocok memilih kosakata apa yang ada pada
karena terdapat pula jawaban-jawaban tanda bintang. Karena disini kalimat
pengecoh yang jika tidak dievaluasi jawaban lengkapnya menjadi 見 に 行 っ
dengan baik maka akan mudah terkecoh, た ことがない ので★ ぜひいきたいです,
contoh jika ia hanya terfokus pada kalimat maka jawaban yang tepat untuk
di awal paragraph saja maka akan terkecoh pertanyaan ini adalah 4 yaitu ので karena
untuk memilih jawaban no 4 先生たちの sesuai posisinya saat kita kontruksikan
部 屋 へ 取 り に 行 き ま す (pergi untuk berada pada posisi bintang.
mengambil barang ke ruangan guru). Hasil temuan ini jika dibandingkan
i. Terdapat 5 soal berbasis HOTS dengan dengan hasil temuan pada penelitian
level kognitif C6 ‘mencipta’ dan dimensi Hartiti dan Prasetyo (2020) terdapat
prosesnya ‘mengkontruksi’. Karakter perbedaan yang cukup signifikan untuk
soalnya adalah ‘mengukur kemampuan persentase penggunaan soal berbasis
berpikir tingkat tinggi’ dan bentuk soalnya HOTS. pada soal ujian bahasa Jepang
adalah ‘model melengkapi berganda’. yang digagas oleh guru bahasa Jepang di
Contoh data 9 SMA terdapat 13% soal HOTS
林「来週、野球の試合を見に行こうと思っ sedangkan pada soal ujian JFT BASIC
ているんですが、リーさんもいっしょにどう A2 terdapat 43% soal HOTS.
ですか。」
リー「えっ、野球の試合ですか。いいです 4. KESIMPULAN
ね。____ ____ __★__ _____です。」
Kesimpulan pada penelitian ini yaitu, diketahui bagaimana implementasi LOTS
pada ujian kemampuan bahasa Jepang dan HOTS, bagaimana karakteristik
JFT BASIC A2, diterapkan soal-soal soalnya dan bagaimana ragam bentuk
berbasis LOTS dan HOTS dengan soal yang digunakannya. Dengan
menggunakan enam jenis ragam soal penelitian ini dapat diketahui apakah
yang berbeda untuk 70 soal pilihan soal-soal pada lembar ujian JFT BASIC
ganda. Pada soal-soal tersebut terdapat A2 bisa dijadikan referensi untuk
40 soal (57%) yang berbasis LOTS membuat soal-soal berbasis HOTS serta
mencakup level ranah kognitif C1 sampai bagaimana pembagian bobot antara
C3, dan 30 soal (43%) yang berbasis HOTS dan LOTS.
HOTS mencakup C4 sampai C6. Soal- Kemudian secara praktis manfaat
soal LOTS pada JFT BASIC A2 ini yang mungkin bisa didapat bagi lembaga
memiliki karakteristik menggunakan pembelajaran bahasa Jepang maupun
ingatan (nomor soal 1 sampai 25) dan bagi guru yang mengajar yaitu penelitian
menerapkan konsep (nomor soal 36 ini dapat menjadi bahan pertimbangan
sampai 50), sedangkan soal-soal HOTS dan acuan dalam pembuatan soal tes
pada JFT BASIC A2 ini memiliki untuk evaluasi belajar peserta didik,
karakteristik mengukur kemampuan sehingga guru dapat mengetahui soal tes
berpikir tingkat tinggi (nomor soal 26 mana yang sudah baik yang perlu
sampai 35 dan 51 sampai 55) dan dipertahankan dan soal tes mana yang
berbasis permasalahan kontekstual harus diganti maupun diperbaiki, serta
(nomor soal 56 sampai 70). apakah harus ditambah maupun
Penyusunan soal pada ujian JFT dikurangi jumlah soalnya. Sedangkan
BASIC A2 dilakukan dengan sangat manfaat praktis bagi peserta didik yaitu
matang dan terukur, terbukti dengan mereka akan mengetahui hasil tes
adanya pembagian jumlah soal LOTS evaluasi tersebut. Serta manfaat lainnya
dan HOTS yang hampir sebanding, serta adalah sebagai bahan referensi yang
terbukti dengan adanya bentuk soal dan relavan bagi penelitian selanjutnya.
karakteristik soal yang dibuat beragam.
Karena itu menurut penulis, soal-soal
pada lembar ujian JFT BASIC A2
memenuhi kategori soal yang dapat
membantu peserta didik untuk mengasah
kemampuan berpikir tingkat tinggi dan
dapat dijadikan referensi dalam
pembuatan soal-soal ujian bahasa Jepang
dalam pembelajaran di Indonesia, agar
generasi emas bangsa pada tahun 2045
yang memiliki karakter yang produktif,
kreatif, inovatif dan afektif dapat
terwujud.
Setelah meneliti tentang soal JFT
BASIC A2 ini, secara teoritis penulis
mendapatkan manfaat yaitu mengetahui
bagaimana implementasi pembuatan soal
pada ujian bahasa Jepang JFT BASIC
A2. Dengan penelitian tersebut dapat
DAFTAR REFERENSI Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 7(4),
121-131.
Acesta, A. (2020). Analisis kemampuan Prasetyo, J. (2020) Analisis Soal Buatan Guru
higher order thingking skills (hots) Bahasa Jepang Berbasis Higher Order
siswa materi ipa di sekolah Thinking Skills (Hots) Dalam Soal
dasar. Quagga: Jurnal Pendidikan Dan Ujian Akhir Semester Ganjil Kelas Xii
Biologi, 12(2), 170. Sma Di Surabaya Tahun Pelajaran
Ahmad, I. F. (2019). Analisis Higher Order 2017/2018.
Thinking Skills (Hots) Pada Soal Ujian Purnomo, A. (2007). Kemampuan guru dalam
Akhir Siswa Kelas 6 Kmi Dalam merancang tes berbentuk pilihan ganda
Kelompok Mata Pelajaran Dirasah pada mata pelajaran ips untuk ujian
Islamiyahdi Pondok Modern Tazakka akhir sekolah (UAS). Lembaran Ilmu
Batang. Jurnal Pendidikan Agama Kependidikan, 36(1).
Islam,, 16(2), 137-164. Purwanto. (2016). Evaluasi hasil belajar.
Alfian, N. (2019). Implementasi Higher Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Order Thingking Skills (Hots) Dalam Sriyanti, A., Samdewi, A. R., Mania, S., &
Pembelajaran Mata Pelajaran Pai Yuliany, N. (2022). Analisis Soal Tipe
Kelas Xi Di Sma Negeri 3 Higher Order Thinking Skill (HOTS)
Kediri (Doctoral dissertation, IAIN pada Buku Ajar Matematika SMK
Kediri). Kelas XI. Edukatif: Jurnal Ilmu
Anderson, L.W. & Krathwohl, D.R. (2017). Pendidikan, 4(2), 2385-2394.
Kerangka landasan untuk Supriatna, M. (2016). Problem Ontology
pembelajaran, pengajaran dan Pedagogik
asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Indonesia. PEDAGOGIA, 14(3), 485-
Hartiti, E. S. (2020). Analisis Soal Buatan 489.
Guru Bahasa Jepang Berbasis Higher Suryapuspitarini, B. K., Wardono, W., &
Order Thinking Skills (Hots) Dalam Kartono, K. (2018, February). Analisis
Soal Ujian Akhir Semester Ganjil Kelas soal-soal matematika tipe Higher Order
Xii Sma Di Surabaya Tahun Pelajaran Thinking Skill (HOTS) pada kurikulum
2017/2018. 2013 untuk mendukung kemampuan
Hasanah, U., Danaryanti, A., & Suryaningsih, literasi siswa. In PRISMA, Prosiding
Y. (2019). Analisis Soal Ujian Nasional Seminar Nasional Matematika (Vol. 1,
Matematika SMA Tahun Ajaran pp. 876-884).
2017/2018 Ditinjau dari Aspek Berpikir Sutedi, D. (2009). Penelitian pendidikan
Tingkat Tinggi. bahasa Jepang. Bandung: Humaniora.
Jlptonline Indonesia. (2023). Japanese- Sutedi, D. (2019). Bahasa Jepang: Evaluasi
Language Proficiency Test (JLPT). The hasil belajar (Teori dan praktik).
Japan Foundation: Jakarta. Bandung: Humaniora.
Kemendikbud RI. (2019). Pengembangan Widana, I. W. (2017). Modul Penyusunan
Pembelajaran Berorientasi HOTS. Soal Higher Order Thinking Skills
Kementrian Pendidikan dan (HOTS). Jakarta: Kemendikbud.
Kebudayaan Republik Indonesia.
Nursyifa, H. S., Lidinillah, D. A. M., &
Kosasih, E. (2020). Analisis Soal
HOTS Materi Geometri dalam Buku
Teks Matematika Kelas IV
SD. PEDADIDAKTIKA: Jurnal Ilmiah

Common questions

Didukung oleh AI

Bentuk soal HOTS yang paling dominan ditemukan pada ujian JFT BASIC A2 adalah model analisis hubungan antar hal dan model analisis kasus yang menuntut peserta didik untuk dapat mengorganisasi isi narasi dan menjawab pertanyaan berbasis masalah kontekstual . Model ini membantu mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan mendorong peserta didik untuk menganalisis, mengatribusikan, dan mengorganisasi informasi dengan cara yang lebih mendalam .

Pendekatan tes model melengkapi dapat digunakan untuk menguji kemampuan HOTS dalam ujian bahasa Jepang dengan memberikan kalimat-kalimat rumpang yang membutuhkan peserta didik untuk menggunakan pemahaman dan analisis mendalam untuk mengisi bagian yang hilang dengan benar . Misalnya, peserta didik diminta untuk memilih kalimat penghubung atau partikel yang tepat dalam sebuah narasi panjang. Ini tidak hanya mengukur kemampuan mereka dalam bahasa tetapi juga keterampilan berpikir kritis dan analitis .

HOTS diterapkan dalam pendidikan dengan tujuan untuk mengembangkan keterampilan kritikal, analitis, evaluatif, dan kreatif siswa yang sangat penting di era abad ke-21. Kemampuan ini diperlukan agar sumber daya manusia dapat memenuhi tuntutan pekerjaan yang tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga inovasi dan pemecahan masalah . Dalam konteks tenaga kerja, HOTS mempersiapkan individu untuk mengambil keputusan yang lebih baik, adaptif terhadap perubahan, dan siap menghadapi tantangan global yang kompleks .

Publikasi hasil penelitian tentang soal berbasis HOTS dapat membantu lembaga pendidikan bahasa Jepang dan guru di Indonesia sebagai acuan dalam menyusun dan mengevaluasi soal ujian. Hasil penelitian tersebut dapat memberikan informasi mengenai karakteristik dan proporsi soal LOTS dan HOTS yang ada, sehingga guru dapat memperbaiki kualitas evaluasi dan meningkatkan keterampilan kognitif siswa. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penambahan atau pengurangan jumlah soal .

Dari penelitian yang dilakukan oleh Hartiti dan Prasetyo (2020), dapat disimpulkan bahwa penerapan soal berbasis HOTS oleh guru bahasa Jepang di Indonesia masih minim, dengan hanya 13% dari 335 soal yang berbasis HOTS . Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas guru dalam menyusun soal yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, agar peserta didik lebih siap bersaing secara global .

Kendala yang mungkin dihadapi dalam penerapan HOTS di sekolah-sekolah Indonesia antara lain adalah keterbatasan pemahaman dan keterampilan guru dalam menyusun soal berbasis HOTS dan kurangnya referensi sebagai acuan dalam penyusunan soal tersebut. Penelitian oleh Hartiti dan Prasetyo menunjukkan bahwa sebagian besar soal masih berbasis LOTS, yang menunjukkan bahwa implementasi HOTS belum sepenuhnya merata dan maksimal .

Berdasarkan taksonomi Bloom, HOTS terdiri dari kemampuan kognitif tingkat tinggi yang meliputi menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6), sedangkan LOTS mencakup kemampuan kognitif dasar seperti mengingat (C1), memahami (C2), dan menerapkan (C3). Peserta didik dengan kemampuan HOTS mampu melakukan analisis, evaluasi, dan kreasi dari fenomena atau informasi, sedangkan peserta didik dengan kemampuan LOTS cenderung hanya dapat mengingat dan menerapkan informasi yang sudah ada tanpa inovasi .

Instrumen soal JFT BASIC A2 efektif dalam mengukur kemampuan bahasa Jepang yang dibutuhkan bagi seseorang untuk mendapatkan status izin tinggal sebagai pekerja di Jepang karena disusun berdasarkan kerangka Common European of Reference for Languages (CEFR) yang memiliki standar pengukuran kemampuan bahasa secara komprehensif . Soal-soal dalam ujian ini dirancang agar dapat mengukur pemahaman lintas budaya dan kemampuan praktis dalam bahasa Jepang .

Indonesia belum menjadi lima besar penyalur tenaga kerja ke Jepang karena sejumlah faktor termasuk kemampuan bahasa Jepang tenaga kerja Indonesia yang dinilai masih rendah jika dibandingkan dengan negara lain seperti Cina, Vietnam, dan Filipina . Kemampuan bahasa ini krusial bagi tenaga kerja untuk bisa bersaing di Jepang. Selain itu, kebijakan pemerintah Jepang yang lebih terbuka terhadap negara-negara tersebut mungkin juga mempengaruhi posisi Indonesia .

Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah keterampilan berpikir yang melibatkan analisis, evaluasi, dan kreasi, yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, penting untuk menyikapi tantangan zaman . Dalam konteks pendidikan bahasa Jepang di Indonesia, HOTS penting karena dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik terkait penguasaan bahasa dan budaya Jepang sehingga meningkatkan daya saing mereka saat bekerja di Jepang .

Anda mungkin juga menyukai