Supplement Daun Mengkudu untuk Broiler
Supplement Daun Mengkudu untuk Broiler
LAPORAN
PROYEK USAHA MANDIRI
OLEH:
BADRIS SHODA
NIM. 16253231035
1
PEMBERIAN TEPUNG DAUN MENGKUDU (Morinda citrifolia Linn)
SEBAGAI SUPPLEMENT PADA RANSUM BROILER
Oleh :
BADRIS SHODA
16253231035
RINGKASAN
2
I. PENDAHULUAN
3
kebutuhannya. Pertumbuhan yang cepat diikuti oleh menurunnya daya tahan
tubuh broiler, untuk meningkatkan pertumbuhan broiler banyak peternak percaya
bahwa produksi ternak hampir tidak mungkin berhasil tanpa penggunaan
antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan (Antibiotic Growth Promotor).
Penggunaan Antibiotic Growth Promotor (AGP) menyebabkan penggunaan
antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan pada unggas telah dilarang di beberapa
negara karena adanya cemaran dan residu yang berbahaya bagi konsumen (Fritts
and Waldroup, 2003). Adanya dampak negatif dan dilarangnya penggunaan
AGP, pakan yang ada sekarang tidak bisa menunjang pertumbuhan broiler sesuai
dengan potensinya, maka dicarilah alternatif lain yang berbahan dasar organik
salah satunya menggunakan supplement pada daun mengkudu.
Feed supplement merupakan zat tambahan yang memilki nutrisi, terutama
nutrisi mikro seperti vitamin, mineral atau asam amino. Pemberian feed
supplement dalam ransum berfungsi sebagai melengkapi atau meningkatkan
ketersedian zat nutrisi. Feed supplement yang diberikan dalam ransum berupa
feed supplement alami. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan
tanaman mengkudu (Morinda citrifolia linn).
Daun mengkudu dapat digunakan sebagai pakan karena tersedia setiap
waktu, tidak bersaing dengan manusia, mengandung nutrisi lengkap dan tinggi
seperti protein 21,63% dan lemak 3,06% (Mardiansyah, 2013). Menurut Sjabana
dan Bahalwan (2000), daun dan buah mengkudu mengandung zat nutrisi seperti
protein, vitamin serta mineral. Senyawa-senyawa yang berperan dalam mengkudu
sangat aktif dalam menguatkan sistem kekebalan tubuh, memperbaiki fungsi sel
dan mempercepat regenerasi sel-sel yang rusak seperti senyawa xeronin,
proxeronin, proxeronase, serotonin, zat antikanker (damnacanthal), scopoletin,
sumber vitamin C, anti oksidan, mineral, protein, enzim, alkaloid dan fitronutrien
lainnya yang (Djauhariya dan Tirtoboma, 2001). Sedangkan menurut Darusman
(2002), pada daun mengkudu terkandung protein, zat kapur, zat besi, karoten dan
askorbin.
Daun mengkudu juga mengandung xeronine yang dapat membantu
penyerapan protein (Bangun dan Sarwono, 2002). Wardiny (2006), menyatakan
bahwa tepung daun mengkudu mengandung protein kasar 22,11%, Ca 10,30%, Fe
4
437 ppm, Zn 35,80 ppm dan β-karoten 161 ppm. Pemberian tepung daun
mengkudu (Morinda citrifolia linn) dengan taraf 2% dapat meningkatkan
pertambahan bobot badan karena pada daun mengkudu mengandung β-karoten,
Fe, dan Zn yang membuat ayam lebih cepat tumbuh (Wardiny dan Sinar, 2011).
Berdasarkan hal tersebut telah dilaksanakan Proyek Usaha Mandiri (PUM) yang
berjudul “Pemberian Tepung Daun Mengkudu (Morinda citrifolia linn) Sebagai
Supplement Pada Ransum Broiler”.
1.2 Tujuan
1.3 Manfaat
5
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Broiler
Menurut North dan Bell (1990), broiler merupakan galur ayam dari hasil
rekayasa genetik yang memiliki karakteristik dengan ciri khas pertumbuhan cepat
sebagai penghasil daging, masa panen pendek dan menghasilkan daging berserat
lunak, serta dada lebih besar dan kulit yang licin. Sedangkan menurut
Kartasudjana dan Suprijatna (2006), broiler merupakan ayam jantan atau ayam
betina yang bisa dipanen pada umur 5 – 6 minggu yang bertujuan sebagai
penghasil daging. Broiler berasal dari jenis ayam unggulan impor yang telah
dikembangbiakkan yang bertujuan sebagai produksi (Ruhyat dan Suprijatna,
2006).
Pada umumnya di Indonesia broiler dipasarkan setelah berumur 4-5 minggu
dengan bobot badan berkisar antara 1-2 kg, waktu pertumbuhan yang relatif
singkat menandakan broiler memiliki kualitas genetik untuk pertumbuhan yang
baik. Rentannya broiler terhadap penyakit disebabkan oleh tingginya laju
pertumbuhan (Yuwanta dan Tri, 2004). Untuk itu diperlukan manajemen yang
baik dalam pemeliharaan agar broiler tidak rentan terhadap penyakit sehingga
kualitas genetik lebih maksimal.
Jenis strain broiler yang banyak beredar di pasaran adalah : Super 77, Tegal
70, ISA, Kim Cross, Hyline, Vdet, Missouri, Hubbard, Shaver Starbro, Pilch,
Yabro, Goto, Arbor Arcres, Tatum, Indian River, Hybro, Cornis, Brahma,
Langshans, Hypeco Broiler, Ross, Marshall ”m”, Euribrid, A.A 70, Sussex,
Bromo (Cahyono, 2002).
6
berdaging dengan panjang 5–10 cm. Tanaman ini berakar tunggang berwarna
coklat muda (Syamsuhidayat dan Hutapea, 1991).
Tanaman mengkudu (Morinda citrifloria linn) berasal dari daerah tropis
salah satunya di Indonesia. Tanaman mengkudu memiliki kandungan nutrisi yang
cukup lengkap seperti protein, vitamin dan mineral yang sangat bermanfaat bagi
tubuh (Sjabana dan Bahalwan, 2000).
Menurut Djauhariya dan Tirtoboma (2001), Senyawa-senyawa yang
berperan dalam mengkudu sangat aktif dalam menguatkan sistem kekebalan
tubuh, memperbaiki fungsi sel dan mempercepat regenerasi sel-sel yang rusak
seperti senyawa xeronin, proxeronin, proxeronase, serotonin, zat antikanker
(damnacanthal), scopoletin, sumber vitamin C, anti oksidan, mineral, protein,
enzim, alkaloid dan fitronutrien lainnya yang. Senyawa lain yang terkandung
pada daun mengkudu seperti protein, zat kapur, zat besi, karoten dan askorbin
(Darusman, 2002). Sedangkan menurut Aprianto dan Farid (2002), daun dan akar
mengkudu berfungsi sebagai antiseptik, antibakteri, dan antikanker yang berfungsi
untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena adanya senyawa antrakuinon
(damnacanthal). Lebih lanjut oleh Risna (2012), menyatakan bahwa senyawa
alkaloid, saponin, flavonoid, terpenoid dan antrakuinon, serta polifenol
merupakan kandungan kimia yang ada pada daun dan buah mengkudu. Senyawa-
senyawa terpenoid berfungsi untuk membantu dalam proses sintesis organik dan
pemulihan sel-sel tubuh dan bersifat bakterial.
Wardiny (2006), menyatakan bahwa tepung daun mengkudu mengandung
protein kasar 22,11%, Ca 10,30%, Fe 437 ppm, Zn 35,80 ppm dan β-karoten 161
ppm. Tepung daun mengkudu dapat membuat ayam lebih cepat dewasa kelamin,
produksi telur meningkat, konversi ransum menurun, dan pertambahan bobot
badan meningkat karena adanya kandungan β-karoten, Fe dan Zn. Kandungan
nutrisi tepung daun mengkudu dapat dilihat pada Tabel 1.
7
Tabel 1. Nutrisi tepung daun mengkudu.
Nutrien Jumlah
Bahan kering (%) 92,92
Abu (%) 9,72
Protein kasar (%) 21,63
Serat kasar (%) 29,38
Lemak kasar (%) 3,06
Beta-N (%) 29,13
Ca (%) 2,28
P (%) 0,28
Energi bruto (Kal/g) 4.147,00
Sumber : Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut
Pertanian Bogor (2012).
8
Tabel 2. Kebutuhan nutrisi pakan broiler pada periode starter dan periode
finisher.
No Nutrisi Starter (1-21 hari) Finisher (22-42 hari)
1 Energi metabolis (kkal/kg) 3200 3200
2 Protein kasar (%) 23,00 20,00
3 Serat kasar (%) 4,00 5,00
4 Lemak (%) 6,00 6,00
5 Ca(%) 1,00 0,90
6 P tersedia (%) 0,45 0,35
7 Lissin (%) 1,10 1,0
8 Metionin (%) 0,50 0,38
Sumber: NRC (1994).
9
III. LANDASAN USAHA
10
Tabel 3 menunjukkan jumlah pemotongan broiler di Provinsi Sumatera
Barat dari tahun 2014-2018 mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Berdasarkan data pemotongan broiler tahun 2014-2018, maka dapat
diproyeksikan jumlah permintaan karkas broiler dari tahun 2020-2024 dengan
menggunakan persamaan linear Y= a + bX atau Y= 22.941.408 + 2.599.548X dan
proyeksi permintaan karkas broiler pada tahun 2019 sebesar 30.740.052 kg.
Berdasarkan persamaan linear tersebut maka dapat diproyeksikan berapa jumlah
permintaan karkas broiler di Provinsi Sumatera Barat tahun 2020-2024 seperti
yang terdapat pada Tabel 4.
Tabel 4. Proyeksi jumlah permintaan karkas broiler di Provinsi Sumatera Barat
2020-2024.
Tahun Permintaan karkas broiler + edible offal (kg)
2020 33.339.600
2021 35.939.148
2022 38.538.696
2023 41.138.244
2024 43.737.792
Ket : Menggunakan rumus persamaan regresi linear (Y =a+bX).
11
Tabel 5. Jumlah penawaran karkas broiler di Provinsi Sumatera Barat tahun
2014-2018.
Tahun Populasi broiler (ekor) Karkas (kg)*
2014 17.921.143 17.562.720
2015 18.445.762 18.076.847
2016 18.790.036 18.414.235
2017 26.232.909 25.708.251
Berdasarkan data tabel di atas, maka dapat dilihat pada grafik Jumlah
penawaran karkas broiler di Provinsi Sumatera Barat pada Grafik 2.
24,000,000
15,000,000
2014 2015 2016 2017 2018
Gambar 2. Grafik jumlah penawaran karkas broiler di Provinsi Sumatera Barat tahun
2014-2018.
12
Tabel 6. Proyeksi penawaran karkas broiler di Provinsi Sumatera Barat tahun
2020-2024.
Tahun Penawaran karkas broiler (kg)
2020 30.651.894
2021 33.041.910
2022 35.431.926
2023 37.821.942
2024 40.211.958
13
Berdasarkan Tabel 7 bahwa peluang pasar untuk broiler di Provinsi
Sumatera Barat tahun 2020-2024 mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Berdasarkan hal ini sangat memungkinkan untuk berusaha broiler di Provinsi
Sumatera Barat.
3.4 Penjualan
Produk ini dijual dalam bentuk ayam hidup dan daging segar yang sudah
dipotong, dikuliti dan dikeluarkan isi perutnya. Produk dijual langsung di sekitar
masyarakat Tanjung Pati.
3.4.1 Produk
3.4.2 Harga
Harga produk yang ditawarkan per kg yaitu Rp. 20.000 untuk periode 1
dan Rp. 23.500 untuk periode 2.
3.4.3 Promosi
Promosi dilakukan melalui dari mulut ke mulut dan lewat sosial media
seperti, Facebook dan Instagram.
3.4.4 Distribusi
14
IV. MATERI DAN METODE PELAKSANAAN
1. Persiapan kandang
a. Pembersihan kandang
15
mencegah dan perkembangan mikroorganisme yang masih tersisa. Cara
pengapuran yaitu kapur diencerkan terlebih dahulu dengan air dengan
perbandingan 1 : 3, kemudian larutan kapur dioleskan pada permukaan kandang
dengan menggunakan kuas.
c. Penaburan litter
Tempat pakan dan tempat minum yang digunakan dicuci terlebih dahulu
menggunakan air bersih kemudian direndam dengan desinfektan, yang bertujuan
untuk membunuh bakteri atau bibit penyakit.
f. Pemasangan tirai
16
g. Persiapan ransum
2. Pengadaan DOC
3. Penerimaan DOC
17
3. Pemeliharaan broiler
Pakan yang diberikan pertama kali pada broiler adalah pakan yang dalam
bentuk crumble yaitu pakan BR-1, setelah broiler memasuki umur 2 minggu
pakan yang diberikan yaitu pakan BR-1 yang dicampur dengan tepung daun
mengkudu sebanyak 2% untuk ayam pedaging yang diberi perlakuan pada periode
I sebanyak 1,83 kg dan periode II 1,97 kg, sedangkan yang kontrol hanya diberi
ransum komersil tanpa ada campuran, pemberian pakan secara ad libitum. Pakan
yang dihabiskan selama pemeliharaan periode 1 sebanyak 172,47 kg dan 189,98
kg untuk periode II.
5. Pengendalian penyakit
7. Panen
Panen dilakukan pada ayam berumur 4 minggu dengan bobot hidup untuk
periode I 1,5 kg pada perlakuan dan 1,4 kg pada kontrol, sedangkan periode II 1,4
kg untuk perlakuan dan 1,3 kg untuk kontrol. Ayam yang dipanen, dijual ke
kantor-kantor, rumah makan, ibu–ibu rumah tangga di sekitar Tanjung Pati yang
telah disembelih/dipotong serta ke pedagang pengumpul dalam bentuk hidup.
18
4.4.2 Prosedur teknologi
Teknologi yang digunakan dalam Proyek Usaha Mandiri (PUM) ini adalah
pemberian tepung daun mengkudu pada ransum. Jumlah tepung daun mangkudu
yang baik diberikan adalah 2% dari jumlah ransum. Pemberian dilakukan selama
21 hari mulai pada minggu II sampai dengan minggu IV.
Pemberian tepung daun mengkudu dilakukan dengan cara mencampurkan
tepung ke dalam ransum dengan memperhatikan standar kebutuhan pakan broiler.
Pada minggu kedua hingga minggu ke empat standar pemberian tepung daun
mengkudu selalu sama yaitu 2% dari jumlah standar ransum yang diberikan pada
broiler.
Bagan pembuatan tepung daun mengkudu dapat dilihat pada Gambar 3
sebagai berikut:
19
4.5 Variabel yang Diukur atau Diamati
a. Penerimaan
Penerimaan merupakan hasil yang didapatkan dari penjualan produk.
Penerimaan dapat dihitung dengan rumus :
Penerimaan = Harga jual x Jumlah produk
b. Biaya
Biaya adalah pengeluaran yang dikeluarkan selama proses produksi.
Biaya terrdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap merupakan biaya
yang tidak berubah, ada atau tidak adanya ayam dalam kandang. Sedangkan
biaya variabel merupakan biaya yang berhubungan langsung dengan jumlah ayam
yang dipelihara. Semakin banyak ayam semakin besar pula biaya variabel,
begitupun sebaliknya.
20
c. R/C ratio
R/C ratio adalah jumlah ratio yang digunakan untuk melihat keuntungan
relatif yang akan didapatkan, guna untuk mengetahui perbandingan antara
penerimaan penjualan broiler dengan total biaya yang dikeluarkan selam usaha
ternak broiler berlangsung. R/C dapat dihitung dengan rumus :
Penerimaan
R/C =
Biaya
d. Laba
Laba merupakan tingkat keuntungan yang diperoleh dalam suatu usaha.
Laba dapat dihitung dengan rumus :
Laba = Penerimaan – Biaya
e. BEP harga
BEP harga merupakan seberapa besar harga yang didapatkan untuk
memperoleh titik pulang pokok dari produk yang dihasilkan. BEP harga yaitu
perbandingan antara biaya yang dikeluarkan dengan total produk.
Biaya
BEP harga =
Hasil (kg)
f. BEP produksi
BEP produksi yaitu berapa banyak produksi yang harus didapatkan untuk
memperoleh titik pulang pokok dari harga jual. BEP produksi diperoleh dari
perbandingan antara total biaya dengan harga jual produk. BEP produksi dapat
dihitung dengan menggunakan rumus :
Biaya
BEP produksi =
Harga jual
g. Persentase keuntungan
Suatu ukuran dalam persentase untuk menilai suatu usaha broiler apakah
mampu menghasilkan laba pada tingkat yang dapat diterima. Persentase
keuntungan dihitung dengan menggunakan rumus :
Keuntungan
Persentase keuntungan = x 100%
Biaya
21
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
1400
1300
1200
Periode 1 Periode 2
Perlakuan Kontrol
22
broiler berkaitan dengan pakan yang dikonsumsi, apabila konsumsi pakan
terganggu maka akan dapat mengganggu pertambahan bobot badan broiler.
Selain itu tingginya pertambahan bobot badan broiler perlakuan juga dipengaruhi
oleh pemberian tepung daun mengkudu sebanyak 2% ke dalam pakan komersil.
Menurut Wardiny dan Sinar (2011), tepung daun mengkudu mengandung β-
karoten, Fe dan Zn yang membuat ayam cepat tumbuh. Hal ini sesuai dengan
pendapat Piliang (2004), fungsi vitamin A untuk penglihatan dan berperan dalam
pertumbuhan serta reproduksi. Mineral Zn penting untuk berfungsinya enzim
pancreatic carboxypeptidase A dan B yang mencerna peptida-peptida menjadi
asam-asam amino, enzim dipeptidase yang memecah dipeptida menjadi bentuk
asam-asam amino bebas dan enzim protease yang memecah protein dalam
pencernaan agar dapat diabsorpsi. Adanya peningkatan daya cerna ini
mengakibatkan asupan zat-zat makanan menjadi lebih baik sehingga pertambahan
bobot badan yang dihasilkan lebih tinggi. Selain itu daun mengkudu dapat
membantu penyerapan protein karena adanya senyawa xeronin (Bangun dan
Sarwono, 2002).
Pertambahan bobot badan broiler pada periode 1 lebih tinggi dibandingkan
dengan pertambahan bobot badan broiler pada periode 2 baik perlakuan maupun
kontrol. Hal ini disebabkan karena konsumsi pakan pada periode 1 lebih tinggi
dibandingkan dengan konsumsi pakan pada periode 2. Hal ini sesuai dengan
pendapat Fajri (2012), bahwa pertumbuhan bobot badan yang cepat didukung
dengan konsumsi ransum yang banyak. Sedangkan menurut Abidin (2002), faktor
yang mempengaruhi pertambahan bobot badan diantaranya yaitu konsumsi pakan.
Selain itu Hidyatullah dkk (2014), juga menyatakan bahwa faktor yang
memepengaruhi pertambahan bobot badan adalah jumlah ransum yang
dikonsumsi dan kandungan zat makanan dalam ransum.
Pertambahan bobot badan broiler pada realisasi PUM periode 1 dan
periode 2, baik perlakuan maupun kontrol lebih tinggi dibandingkan dengan
pertambahan bobot badan perencanaan, hal ini disebabkan karena perbedaan
bobot awal pada perencanaan dan realisasi. Bobot awal pada perencanaan yaitu
37-gram baik perlakuan maupun kontrol, sedangkan bobot awal pada realisasi
periode 1 perlakuan dan kontrol adalah 43-gram dan 42 gram, periode 2 adalah
23
40-gram dan 39 gram. Hal ini sesuai dengan pendapat Sklan dan Noy (2001),
melaporkan bahwa anak ayam yang lebih berat pada saat menetas akan mencapai
berat akhir yang lebih tinggi dibanding anak ayam dengan berat tetas yang lebih
ringan, peningkatan berat akhir rata-rata sebesar 8 - 13 g setiap peningkatan
sebesar 1 g dari berat tetas. Sedangkan menurut Vargas dkk (2009), pertambahan
bobot badan dipengaruhi oleh bobot awal ayam, semakin tinggi bobot awal, maka
semakin tinggi pula pertambahan bobot badan ayam dan kebutuhan ransum juga
lebih akan lebih banyak.
B. Konsumsi ransum
1900 1866
1850
1800
Periode 1 Periode 2
Perlakuan Kontrol
24
aliran darah menuju semua sel tubuh. Semua sel tubuh yang dimasuki xeronin
akan menjadi aktif, lebih sehat dan terjadi perbaikan struktur maupun fungsinya.
Cepatnya proses penyerapan protein di dalam sistem pencernaan menyebabkan
menigkatnya konsumsi broiler. Hal ini disebabkan habisnya cadangan dalam
saluran pencernaan yang menimbulkan rasa lapar pada broiler (Solomon, 2002).
Selain itu, tingginya jumlah konsumsi perlakuan disebabkan karena
adanya kandungan senyawa alkaloid, saponin, flavonoid, terpenoid dan
antrakuinon, serta polifenol pada daun mengkudu (Risna, 2012). Hal ini sesuai
dengan pendapat Fajri (2012), yang menyatakan bahwa setiap tanaman yang
memiliki kandungan senyawa aktif seperti minyak atsiri, sapoin, flavonoid, dan
tannin dapat meningkatkan kecernaan zat makanan di dalam saluran pencernaan
sehingga zat makanan yang dikonsumsi dapat diserap dan dimanfaatkan secara
optimal untuk pembentukan jaringan tubuh produksi dan reproduksi. Hal ini yang
menyebabkan peningkatan konsumsi ransum ayam broiler selama pemeliharaan.
Konsumsi sangat berpengaruh terhadap produksi yang dicapai, karena bila nafsu
makan menurun, dapat menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan hidup,
sehingga laju pertumbuhan jadi terhambat dan akhirnya produksi akan menurun
(Malvin, 2014).
Konsumsi ransum pada saat realisasi selama PUM lebih tinggi dari pada
konsumsi ransum yang direncanakan berdasarkan standar kebutuhan broiler yang
ada pada literatur baik untuk kontrol maupun perlakuan selama 2 kali periode
pemeliharaan, hal ini disebabkan karena pemberian tepung daun mengkudu pada
perlakuan, ayam mengkonsumsi ransum lebih tinggi dan tidak mengurangi
palatabilitas ternak terhadap ransum yang diberikan, sehingga pertambahan bobot
badan broiler yang dihasilkan pada realisasi lebih tinggi dibandingkan dengan
pertambahan bobot badan broiler pada perencanaan. Hal ini sesuai dengan
pendapat Hidyatullah dkk (2014), menyatakan bahwa faktor yang memepengaruhi
pertambahan bobot badan adalah jumlah ransum yang dikonsumsi dan kandungan
zat makanan yang ada dalam ransum. Sedangkan menurut Suprijatna dkk (2005),
jumlah konsumsi pakan yang lebih banyak akan menghasilkan pertambahan bobot
badan lebih tinggi pula.
25
C. Konversi ransum
Berdasarkan data pada tabel 8, maka dapat dilihat konsumsi ransum broiler
selama PUM pada Grafik 4.
26
yang dihasilkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Zuidhof dkk (2014), nilai
konversi ransum dipengaruhi oleh jumlah konsumsi ransum dan pertambahan
bobot badan. Sedangkan menurut Wijayanti (2011), tinggi rendahnya angka
konversi ransum disebabkan oleh adanya selisih yang semakin besar atau kecil
pada perbandingan antara ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot
badan yang dicapai.
5.2 Aspek Finansial
Aspek finansial adalah suatu pertimbangan dalam usaha layak atau tidak
layaknya pemeliharaan broiler, jika menguntungkan maka usaha broiler layak
untuk dikembangkan atau untuk dilanjutkan, analisa finansial dapat dilihat dari
hasil penerimaan dan keuntungan, analisa R/C ratio, BEP harga, BEP produksi
dan persentase keuntungan. Analisa finansial dari pemeliharaan broiler selama 2
kali periode pada pelaksanaan PUM dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Analisa biaya dan pendapatan
Perlakuan Kontrol
Uraian
Rencana Periode 1 Periode 2 Rencana Periode 1 Periode 2
Penerimaan 1.577.800 1.380.920 1.743.700 1.465.100 1.131.200 1.575.252
Rekapitulasi
1.254.166 1.333.772 1.378.892 1.247.136 1.211.022 1.302.402
biaya (Rp)
Laba (Rp) 323.634 47.148 364.808 217.864 (79.822) 272.850
R/C Ratio 1,26 1,03 1,26 1,17 0,93 1,21
BEP harga
18.282 19.317 18.583 19.578 21.411 19.429
(Rp)
BEP hasil
54,53 66,7 58,68 54,22 60,55 55,42
(kg)
Persentase
25,80 3,53 26,46 17,47 -6,59 20,95
keuntungan
27
kontrol penerimaan yang direncanakan yaitu Rp. 1.465.100, dan hasil yang
diperoleh dari realisasi PUM untuk kontrol periode 1 yaitu Rp. 1.131.200, lebih
rendah dari penerimaan kontrol periode 2 yaitu Rp. 1.575.252. Dari angka
tersebut dapat dilihat bahwa penerimaan yang lebih besar diperoleh pada
pemeliharaan periode 2 baik untuk perlakuan maupun kontrol. Hal ini disebabkan
karena pada periode 1 tingkat kematian lebih tinggi dari pada periode 2.
Banyaknya tingkat kematian ayam pada periode 1 disebabkan karena kurang
memperhatikan ventilasi udara dalam kendang sehingga amoniak menjadi tinggi.
Hal ini sesuai dengan pendapat Fairchild dan Lacy (2006), bahwa peranan dari
sistem ventilasi pada pemeliharaan ayam broiler yakni untuk mengurangi jumlah
amoniak yang bisa mengganggu produksi, aspek penyakit sangat dominan sebagai
pemicu kematian utama ayam broiler. Tingkat kematian perlakuan lebih rendah
dibandingkan dengan kontrol, hal ini disebabkan karena pada daun mengkudu
terdapat senyawa antrakuinon yang berfungsi sebagai antiseptik. Hal ini sesuai
dengan pendapat Apriyantono dan Farid (2002), bahwa daun dan akar mengkudu
mengandung senyawa antrakuinon (damnakantal) yang berfungsi sebagai
antiseptik, antibakteri dan antikanker.
Dilihat dari tingkat keuntungan yang diperoleh dari hasil realisasi PUM
untuk periode 1 mendapatkan keuntungan pada perlakuan sebesar Rp. 47.148 dan
kerugian pada kontrol sebesar Rp. 79.822, hal ini disebabkan karena tingkat
kematian yang tinggi, produksi yang rendah dan ditambah karena harga jual yang
juga rendah. Sedangkan untuk periode 2 memperoleh laba sebesar Rp. 364.808
untuk perlakuan dan Rp. 272.850 untuk kontrol. Keuntungan yang didapatkan
pada periode 2 disebabkan karena harga jual yang lebih tinggi daripada periode 1
dan juga tingkat kematian pada periode 2 juga lebih rendah sehingga dapat
meningkatkan hasil produksi untuk perlakuan dan kontrol.
B. R/C ratio
28
pelaksanaan pada periode 1 mengalami kerugian pada kontrol. Sedangkan untuk
periode 2 R/C ratio yang didapatkan lebih tinggi daripada periode 1, yaitu 1,26
untuk perlakuan dan 1,21 untuk kontrol, yang artinya setiap pengeluaran biaya
Rp. 1000 akan memperoleh pendapatan sebesar Rp. 1.260 dan Rp. 1.210.
C. BEP harga
BEP harga yaitu titik pulang pokok dari produk yang dihasilkan. BEP
harga yang direncanakan untuk pelaksanaan PUM yaitu Rp. 18.282 untuk
perlakuan dan Rp. 19.578 untuk kontrol. BEP harga yang didapatkan dari hasil
realisasi pemeliharaan broiler selama PUM untuk periode 1 yaitu Rp. 19.317
untuk perlakuan dan Rp. 21.411 untuk kontrol, sedangkan pada periode 2 BEP
harga yang didapatkan yaitu sebesar Rp. 18.583 untuk perlakuan dan Rp. 19.429
untuk kontrol. BEP harga perlakuan lebih rendah dibandingkan dengan BEP
harga kontrol karena hasil produksi perlakuan lebih tinggi dibandingkan dengan
hasil produksi kontrol.
BEP hasil merupakan titik pulang pokok dari harga jual produk. BEP
produksi yang diperoleh dari hasil realisasi pemeliharaan broiler selama PUM
untuk periode 1 yaitu 66,7 kg untuk perlakuan dan 60,55 kg untuk kontrol,
sedangkan pada periode 2 BEP produksi yang didapatkan yaitu 58,68 kg untuk
perlakuan dan 55,42 kg untuk kontrol. Hal ini berbeda dengan BEP produksi
yang direncanakan baik untuk perlakuan dan kontrol, dimana BEP produksi yang
direncanakan yaitu 54,53 kg untuk perlakuan dan 54,22 kg untuk kontrol.
E. Persentase keuntungan
29
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran
30
DAFTAR PUSTAKA
31
Mardiansyah, A. 2013. Performa produksi dan organ dalam puyuh diberi pakan
mengandung dedak gandung dan tepung daun mengkudu. Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Murtidjo, B.A. 1987. Pedoman bertenak ayam broiler. Yokyakarta, Kanisius.
Nadzir, A., Tusi, A. Haryanto. 2015. Evaluasi desain kandang ayam broiler di
desa Rejobinangun, Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung
Timur. Jurnal Teknik Pertanian Lampung 4(4):255-266.
Nastiti, R. 2014. Menjadi milyarder ayam broiler. Seri Peternakan Ayam
Broiler. Jakarta.
National Research Council (NRC). 1994. Nutrient Requirement of Poultry.
National Academy Press. Washington, D.C.
North, M.O. dan D.D. Bell. 1990. Commercial chicken production manual.4 Ed
an Avian Book, Published by Van Nastrand Rienhard. New York.
Onning, G., Q. Wang, B.R. Westrom, N.G. Asp and B.W. Karlsson. (1996).
Influence of oat saponin on intestinal permeability in vitro and in vivo in
the rat. Jurnal Nutr, 76, 141-151
Piliang,W.G. (2004). Nutrisi Vitamin Vol. I. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu
Hayati, Institut Pertanian Bogor.
Rail, R. 2007. Tumbuh kembang bagian-bagian karkas ayam broiler pada jenis
kelamin dan tingkat umur yang berbeda. Skripsi Fakultas Peternakan,
Universitas Haluoleo, Kendari.
Rasidi. 2002. 302 Formulasi Pakan Lokal Alternatif untuk Unggas. Penebar
Swadaya. Jakarta
32
Subkhie, H., Suryahadi dan A. Saleh. 2012. Analisis kelayakan usaha peternakan
ayam pedaging dengan pola kemitraan di Kecamatan Ciampea
Kabupaten Bogor. Manajemen IKM 7(1):54-63.
Suprijatna, E.U, Atmomarsono, R., Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak
Unggas. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suprijatna, E. 2008. Ilmu dasar ternak unggas. Penebar Swadaya. Jakarta.
Syamsuhidayat, S.S dan J.R. Hutapea. 1991. Inventaris tanaman obat Indonesia.
Badan Litbang Kesehatan, Depkes RI, Jakarta.
Uzer, F., N. Iriyanti dan Roesdiyanto. 2013. Penggunaan pakan fungsional dalam
ransum terhadap konsumsi pakan dan pertambahan bobot badan ayam
broiler. J. Ilmiah Peternakan. 1 (1): 282-288.
Vargas, F.S. C., T. R. Baratto, F. R. Magalhães, A. Maiorka and E. Santin. 2009.
Influences of breeder age and fasting after hatching on the performance of
broilers. Poult. Sci. 18 :8–14.
Wardiny, T.M. 2006. Kandungan kolesterol dan vitamin A telur ayam yang
diberi mengkudu (Morinda Citrifolia) dalam ransum ayam ras petelur.
Tesis yang tidak dipublikasikan. Fakultas Pasca Sarjana IPB, Bogor.
Wardiny, T.M. dan T.E.A. Sinar. 2011. Substitusi tepung daun mengkudu dalam
ransum meninkatkan kinerja ayam broiler. Fakultas Biologi. Universitas
Terbuka. Tangerang.
Wijayanti, R.P. 2011. Pengaruh suhu kandang yang berbeda terhadap performans
ayam pedaging periode starter. Jurnal [Link] Peternakan.
Universitas Brawijaya. Malang.
Yuwanta dan S.U. Tri. 2004. Dasar ternak unggas. Yogyakarta : Kanisius.
Zuidhof, M.J., B.L. Scheider, V.L. Carney, D.R. Korver and F.E. Robinson. 2014.
Growth, efficiency and yield of commercial broilers from 1957, 1978
and 2005. Poult. Sci. 93(12): 29702982.
Zumrotun. 2012. Manajemen brooding pada ayam broiler. Artikel, Berita Dinas.
33
Dokumentasi PUM
34
Broiler umur 4 minggu Vaksinasi
35