0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
175 tayangan15 halaman

Profil Responden Petani dan Pedagang

Dokumen ini membahas profil petani dan pedagang di suatu kelompok tani. Profil petani meliputi umur (mayoritas berusia produktif 15-54 tahun), pendidikan (mayoritas SD dan SMP), jumlah anggota keluarga (rata-rata 4 orang), dan pengalaman bertani (3-20 tahun). Profil pedagang juga meliputi umur dimana mayoritas berusia produktif 15-54 tahun.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
175 tayangan15 halaman

Profil Responden Petani dan Pedagang

Dokumen ini membahas profil petani dan pedagang di suatu kelompok tani. Profil petani meliputi umur (mayoritas berusia produktif 15-54 tahun), pendidikan (mayoritas SD dan SMP), jumlah anggota keluarga (rata-rata 4 orang), dan pengalaman bertani (3-20 tahun). Profil pedagang juga meliputi umur dimana mayoritas berusia produktif 15-54 tahun.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

1 Profil Responden

Petani memegang peranan penting dalam melaksanakan kegiatan usaha tani. Petani

merupakan pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan usaha tani ditunut untuk dapat

mengoptimalkan sumber daya yang ada melalui pengalokasian yang efisien, untuk

memenuhi kebutuhan sebagian atau seluruh kebutuhan hidupnya. Keberhasilan petani dalam

melakukan kegiatan usaha tani dipengaruhi oleh umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota

kelaurga dan lama pengalaman dalam melakukan usaha tani. Berikut akan dijelaskan profil

dari petani dan pedagang yang meliputi umur, tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga

dan pengalaman dalam berusaha tani.

4.2.1 Profil Anggota Kelompok Tani

Umur memperngaruhi petani dalam melakukan kegiatan usaha tani karena petani

merupakan perkerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik. Seseorang yang memiliki umur

lebih muda mempunyai fisik yang lebih kuat dalam melakukan usaha tani sehingga dapat

memberikan hasil tani yang lebih banyak dan baik. Umur juga memengaruhi seseorang

dalam mengambil keputusan dan mengadopsi suatu inovasi baru. Menurut Soekartawi

( 2001) salah satu indikator dalam menentukan produktivitas kerja dan pengemabangan

usaha adalah tingkat umur, dimana umur petani yang berusia relatif muda lebih kuat bekerja,

cekatan, mudah menerima inovasi baru, tanggap terhadap lingkungan sekitar bila

dibandingakan dengan tenaga kerja yang memiliki usia yang relatif tua sering menolak

inovasi baru. Berdasarkan Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 disebutkan bahwa tenaga

kerja yang produktif tingkat umurnya 15-64 tahun.


> 55 tahun
27%

15-54 tahun
73%

Gambar 13. Umur Petani

Berdasarkan Gambar 13. dapat dilihat bahwa 73 % petani berusia produktif dan 27 %

petani berusia tidak produktif. Dengan demikian, kelompok tani bunga sari memiliki petani

yang dominan berusia produktif, sehingga memberikan indikasi bahwa petani tersebut

memiliki kekuatan fisik untuk bekerja dan mudah mengadopsi inovasi baru, sehingga

diharapkan petani yang berusia produktif tersebut dapat mengembangkan pertanian di

kelompok tani bunga sari menjadi lebih maju.

Semakin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin tinggi pula produktivitas

seseorang tersebut dalam mengelola usahanya. Menurut Tohir (1983), pendidikan yang

dimiliki seorang petani menentukan dalam mengambil keputusan untuk memanfaatkan

sumber daya alam dan modal secara optimal, karena pendidikan merupakan faktor yang

memperlancar bagi keberhasilan seorang petani. Menurut Kamaludian (1982) tingkat

pendidikan yang rendah dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja yang akan dicapai

serta pendapatan yang diperoleh juga rendah, pada akhirnya akan memengaruhi tingkat

kesejahteraan keluarga petani. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan

produktivitas petani adalah melakukan berbagai program yang berhubungan dengan


pendidikan dan pelatihan. Di Kelurahan Sidomulyo Barat sudah terdapat UPTD Pertanian

yang membuka jasa konsultasi bagi para petani dan memberikan penyuluhan kepada petani

setiap bulannya. Untuk mengetahui identitas petani sampel berdasarkan tingkat pendidikan

disajikan pada Gambar 14.

Tidak tamat SD
7%
S1
7%

SMA
20%
SD
33%

SMP
33%

Gambar 14. Tingkat Pendidikan Petani

Berdasarkan Gambar 14. diketahui bahwa petani di kelompok tani bunga sari banyak

yang lulusan SD dan SMP yaitu masing-masing sebanyak 33%, sedangakan lulusan SMA

sebanyak 20%, lulusan S1 sebanyak 7% dan tidak tamat SD sebanyak 7%. Hal ini

menunjukkan bahwa tingkat pendidika terakhir yang ditempuh petani masih rendah, para

petani hanya mengandalkan kemampuan bertani secara turun temurun dan pengalaman dari

orang lain. Untuk itu diperlukan pendidikan, penyuluhan, dan pelatihan kepada petani, agar

petani dapat meningkatkan hasil usaha taninya.

Jumlah anggota keluarga merupakan jumlah seluruh anggota keluarga yang berada

dalam tanggungan keluaraga. Semakin banyak jumlah anggota keluaga yang tanggung,

maka semakin banyak pengeluaran yang harus dipenuhi dan semakin besar motivasi petani
untuk bekerja keras dan meningkatkan hasil usaha taninya agar dapat memenuhi kebutuhan

keluarga. Berdasakan hasil wawancara di lapangan, dapat diketahui bahwa jumlah anggota

keluraga petani rata-rata berjumlah 4 orang dan maksimal 7 orang, hal ini diartikan bahwa

cukup banyak petani sampel memiliki anggota keluaga dan hal ini berpengaruh terhadap

pendapatan dan pengeluaran biaya hidup.

Tingkat pengalaman berusaha yang dimiliki seorang petani secara tidak langsung akan

memengaruhi pola pikir dari petani tersebut. Petani yang memiliki pengalaman usaha tani

lebih lama akan lebih mampu merencanakan usaha tani dengan lebih baik, karena sudah

mengalami segala aspek dalam berusah tani. semakin lama berusah tani akan semakin

banyak pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya. Tingkat keterampilan seseorang

dapat memengaruhi dalam mengelola usaha tani, semakin terampil maka hasil yang

diperoleh akan baik dan penghasilan yang diterima dari usaha tani tersebut akan sekmakin

tinggi. Berdasarkan wawancara dengan petani menunjukkan bahwa pengalaman usaha tani

berkisar antara 3 tahun sampai dengan 20 tahun, hal ini menunjukkan bahwa petani rata-rata

sudah mempunyai berpengalaman dalam berusaha tani.

Pekerjaan secara umum merupakan suatu kegiatan atau aktivitas aktif yang dilakukan

oleh manusia dan juga merupakan tugas atau kerja yang menghasilkan sebuah karya bernilai

imbalan dalm bentuk uang. Pekerjaan dibagi menjadi dua yaitu pekerjaan utama dan

pekerjaan sampingan. Pekerjaan utama adalah pekerjaan pokok yang rutin dilakukan setiap

hari untuk menghasilkan pendapatan, sedangkan pekerjaan sampingan adalah pekerjaan

yang dilakukan untuk menambah pendapatan diluar pekerjaan utama dan biasnya tidak

terbatas oleh waktu. Responden didaerah penelitian rata-rata memiliki pekerjaan utama dan

sampingan. Adapaun pekerjaan utama dan sampingan dapat dilihat pada Gambar
nonpetani
7%

petani
93%
Gambar 15.

Pekerjaan Utama Petani

Berdasarkan Gambar 15. dapat dilihat bahwa pekerjaan utama dari responden didominasi

oleh petani yaitu sebanyak 93%, sedangkan pekerjaan utama dari responden yang nonpetani

sebanyak 7% atau hanya 1 orang. Responden yang pekerjaan utamanya merupakan nonpetani,

bekerja sebagai pegawai tata usaha di sebuah sekolah dasar di Kelurahan Sidomulyo Barat.

Adapun pekerjaan sampingan dari responden dapat dilihat pada Gambar


petani
7%
tukang urut
7%

buruh
86%

Gambar 16.

Pekerjaan Sampingan Petani

Berdasarkan Gambar 16. pekerjaan sampingan dari responden didominasi oleh buruh

yaitu sebanyak 86%, tukung urut sebanyak 7% dan respoden yang menjadikan petani sebagai

pekerjaan sampingannya sebanyak 7%.

Luas lahan merupakan hal yang utama dalam menunjang tingat produksi atau hasil yang

akan diterima, semakin luas lahan yang diusahakan maka semakin tinggi produksi yang

dihasilkan. Menurut Mubyarto (2000) lahan sebagai salah satu faktor produksi yang

merupakan pabriknya hasil pertanian yang mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap

usahatani. Besar kecilnya produksi dari usahatani antara lain dipengaruhi oleh luas

sempitnya lahan yang digunakan. Luas lahan pertanian responden dapat dilihat pada Gambar
3000-4000 m2
7%

2000-3000 m2 1000-2000 m2
40% 53%

Gambar 17.
Luas Lahan

Berdasarkan Gambar 17. terlihat bahwa rata-rata petani memiliki lahan dengan luas 1000-

2000 m2, terdapat 53% respoden memiliki luas lahan 1000-2000 m 2, 40% responden memiliki

luas lahan 2000-3000 m2 dan 7% responden memiliki luas lahan 3000-4000 m 2. Status

kepemilikan dari lahan tersebut rata-rata adalah pinjam. Petani meminjam lahan dari pemilik

lahan tanpa adanya kesepakatan bagi hasil, sehingga petani dapat memanfaatkan lahan tersbut

dengan maksimal tanpa mengeluarkan biaya sewa.

1.2 Profil Pedagang

Usaha tani yang dilakukan oleh petani merupakan suatu usah yang komersial, produksi

yang dihasilkan umumnya akan dijual untuk mendapat keunutngan. Dalam hal ini Pedagang

berperan penting dalam membantu petani untuk memasarkan hasil usaha taninya. Beberapa hal

yang akan dibahas profil pedagang yaitu umur, pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, dan

pengalaman dalam berdagang.


Umur memengaruhi dan mendukung keberhasilan sebuah usaha karena umur berkaitan

dengan proses pengambilan keputusan dalam mengembangkan sebuah usaha. Identitas

pedagang berdasarkan umum dapat dilihat pada Gambar 18.

>55
33%

15-54
67%

Gambar

18. Umur Pedagang

Menurut Simanjuntak dalam Yasin (2003), penduduk yang berada pada kisaran umur

15-54 tergolong pada tenaga kerja produktif, sedangkan umur 0-14 tahun dan >54 tahun

tergolong tenaga kerja tidak produktif. Berdasarkan Gambar pedagang yang berusia

produktif sebanyak 67% dan pedagang yang berusia tidak produktif sebanyak 33%, hal ini

menunjukkan bahwa banyaknya pedagang yang berusia produktif diharapkan mampu

memberikan kontribusi pemikiran dalam pengambilan keputusan untuk mengembangkan

usaha.

Tingkat pendidikan merupakan salah saru faktor penunjang dalam keberhasilan sebuah

usaha. Pendidikan memengaruhi sikap dan cara berpikir sseorang dalam mengambil sebuah
keputusan guna kelangsungan usaha yang sedang dilakukan. Seseorang yang memiliki

pendidikan yang tinggi memiliki wawasan yang luas, mampu berfikir dinamis, dan lebih

mudah mneyerap sesatu hal yang baru. Untuk melihat identitas pedagang berdasarkan tingkat

pendidikan dapat dilihat pada Gambar 19.

S1
33%

SMA
67%

Gambar

19. Tingkat Pendidikan Pedagang

Berdasarkan Gambar 19. terlihat bahwa pedagang sudah memiliki tingkat pendidikan

yang baik. Pedagang yang tamatan SMA sebanyak 67% dan pedagang yang tamatan S1

sebanyak 33%, dengan tingkat pendidikan yang baik ini, diharapkan para pedagang mampu

berpikir lebih dinamis.

Jumlah tanggungan keluarga merupakan jumlah seluruh anggota keluarga yang belum

bekerja atau yang masih sekolah yang kebutuhan hidupnya ditanggung oleh kepala keluarga.

Jumlah tanggungan keluarga berpengaruh pada pengeluaran dari keluarga. Semakin banyak

jumlah keluarga yang ditanggung maka akan semakin banyak pengeluaran yang dikelurkan.
Dari hasil wawancara di lapangan, jumlah anggota keluarga yang ditanggung oleh pedagang

tidak banyak yaitu minimal 2 jiwa dan maksmimal 3 jiwa.

Pengalaman merupakan salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan sebuah usaha

karena dari pengalaman, seorang pedagang mampu memaksimalkan penjualannya. Setiap

usaha yang dilakukan pasti memiliki resiko, dengan adanya pengalaman pedagang dapat

memperkecil resiko tersbut dan mampu membuat strategi agar usaha yang dilakukan dapat

memebrikan hasil yang maksimal.

1-10 tahun
33%

11-20 tahun
67%

Gambar 20.

Pengalaman Berdagang

Pada Gambar dapat dilihat bahwa pedagang sudah cukup memiliki pengalaman dalam

berusaha. Pedagang yang memilki pengalaman selama 1-10 tahun sebanyak 33% dan

pedagang yang memiliki pengalaman 11-20 tahun sebanyak 67%. Dengan pengalaman

berdagang ini, pedagang diharapkan mampu membuat strategi untuk memperkecil resiko dari

suatu usaha.
1.3 Analisis Persepsi Respoden

4.4.1 Persepsi Petani

Petani merupakan orang yang melakukan kegiatan usaha tani, sedangkan untuk

pemasaran petani dapat menjual hasil taninya melaui pedagang atau langsung ke konsumen.

Petani yang menjual hasil taninya kepada pedagang biasanya akan mencari pedagang yang

memberikan harga tinggi atau harga yang sesuai. Adanya pedagang tersebut akan membantu

petani untuk memasarkan hasil taninya kepada konsumen secara luas.

4.4.2 Persepsi Pedagang

Pedagang merupakan orang yang akan menyalurkan hasil usaha tani atau pruduksi dari

petani ke konsumen. Pedagang akan mengambil hasil tani atau produksi dari petani apabila

hasil tani yang dihasilkan banyak, karena pedagang mempertimbangkan biaya yang akan

dikeluarkannya. Apabila pedagang mengambil dalam jumlah banyak, maka biaya yang

dikeluarkan akan lebih sedikit. Apabila pedagang tidak mengambil hasil taninya, maka

petani akan menjula hasil taninya sendiri ke konsumen.

4.5 Analisis Hubungan Petani dengan Pedagang

Manusia sebagai makhluk sosial artinya manusia tidak dapat hidup sendiri dan

membuthkan bantuan dari orang lain, termasuk dalam usahanya untuk menjual hasil taninya

kepada konsumen. Untuk memasarkan hasil usaha taninya kepada konsumen, petani

memerlukan pedagang agar hasil usaha taninya dapat dipasarkan dengan luas.

Sebagian besar petani pada penelitian ini menjual hasil taninya kepada pedagang atau

toke, tetapi petani tidak memiliki pedagang atau toke yang tetap sebagai tempat untuk menjual
hasil taninya. Petani mencari pedagang atau toke yang dapat memberikan harga yang sesuai atau

harga yang tinggi. Hubungan antar petani dan pedagang mengarah kepada hubungan kerjasama

yang saling mengunutngkan dan tidak bersifat khusus, sehingga hubungan antara petani dan

pedagang tidak disebut dengan patron-client.

Patron client merupakan pola hubungan dari aliansi dua kelompok kimunitas atau

individu yang tidak sederajat, baik dari segi status, kekuasaan, maupun penghasilan, sehingga

menempatkan klien dalam keudukan yang lebih rendah ( inferior) dan patron dalam kedudukan

yang lebih tinggi (superios). Hubungan patron client terjalin bedasarkan atas pertukaran jasa,

dimana keterganutngan klien kepada patronya dibayarkan atau dibalas oleh patron dengan cara

memberikan perlindungan kepada kliennya. Menurut James Scott (1981) hubungan patron client

memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Karena danya kepemilikan seumber daya ekonomi yang tidak seimbang antara pedagang

sebagai patron dan petani sebagai client

2. Adanya hubungan resiprositas yaitu hubungan yang saling mengunutngakan, saling memberi,

dan menerima walaupun dalam kadar yang tidak seimbang

3. Adanya hubungann loyalitas yaitu kesetiaan atau kepatuhan

4. Adanya hubungan personal yaitu hubungan yang bersifat langsung dan intesif antara patron

dan client, sehingga hubungan yang terjadi tidak semata-mata hanya bermotifkan keuntungan

saja, tetapi juga mengandung unsur perasaan yang bersifat pribadi.

Hubungan antara pedagang dan petani pada penelitian ini bukan merupakan hubungan

patron client, karena hubungan antara pedagang dan petani hanya mengarah pada hubungan

kerjasama yang saling menguntungkan. Hubungan antara petani dan pedagang tidak
memenuhi semua syarat-syarat hubungan patron client menurut Scott. Dalam hubungan

patron client, petani akan menjual hasil taninya kepada 1 pedagang, sedangkan petani pada

penelitian ini akan menjual hasil taninya kepada pedagang yang memberikan hasil tinggi.

Pada hubungan patron client, petani dan pedagang memiliki ikatan hubungan loyalitas,

resiprositas dan personal yang didasarkan pada balas jasa.

V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yanh dilakukan di kecamatan Tampan kelurahan Sidomulyo barat

Kota Pekanbaru diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Potensi yang dimiliki oleh masing-masing desa penelitian terletak kepada luasnya areal

lahan yang dimiliki dan sumberdaya alam yang sangat mendukung disektor pertanian.

2. Profil petani: dominasi umur berada pada usia produktif (73%), pendidikan dominasi (33%)

SMP dan SD, Jumlah tanggungan keluarga dominasi 4 jiwa / kk dan pengalaman usahatani

berada pada kategori tahap pengembangan > 10 tahun, sedangkan pada pedagang : dominasi

umur berada pada usia produktif (67%), pendidikan didominasi (67%) SMA, jumlah

tanggungan keluarga dominasi 2 jiwa / kk dan pengalaman berdagang berada pada kategori

tahap pengemabangan menjalankan usaha baru >5 tahun .

3. Aspek sosial hubungan antara pedagang dengan petani bersifat saling menguntungkan dan

tidak bersifat khusus, sehingga tidak terjadi hubugan patron client. Petani menjual hasil

taninya kepada pedagang yang memberikan harga tinggi atau harga yang sesuai.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah dirumuskan dapat disarankan

beberapa hal sebagai berikut:

1. Kelompok tani yang sudah ada sebaiknya berusaha untuk menyatukan anggotanya secara

kolektif menjual hasil produksi langsung ke pedagang dengan harga yng diterima oleh petani

lebih tinggi.
2. Peran penyuluh dan instansi terkait dalam pembinaan, menjalin komunikasi dengan lembaga

pemasaran yang terlibat dan berperan membantu petani dalam penyampaian informasi seputar

teknologi dalam meningkatkan produksi,mutu dan kualitas hasil kebun petani.

3. Pemerintah juga perlu memberi bantuan modal guna meningkatkan kinerja masing-masing

petani dalam kelompok tani tersebut. Bantuan tersebut dapat berupa sarana dan prasarana

produksi.

Anda mungkin juga menyukai