PERFORMA AYAM BROILER YANG DIBERI SUPLEMENTASI EKSTRAK DAUN
KELOR (Moringa oleifera) DALAM AIR MINUM
PROPOSAL PENELITIAN
OLEH
MUTIARA SALINA
2005104010083
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2023
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ayam broiler merupakan ayam unggulan hasil dari persilangan yang mempunyai daya
produktifitas tinggi terutama dalam produksi [Link] broiler sangat beperan penting
sebagai penunjang kebutuhan protein hewani bagi [Link] ini dikarenakan ayam ini
memiliki penampilan produksi yang sangat baik, pertumbuhan cepat, perdagingan tebal dan
lembut, efisien dalam pemakaian pakan, dan masa pemeliharaan yang relatif singkat (Priyanto,
2000).
Salah satu faktor pendukung keberhasilan pemeliharaan ayam broiler adalah
kesehatan ternak, dimana pada umumnya untuk meningkatkan kekebalan ayam broiler peternak
memberikan suplemen dan obat-obatan seperti antibiotik [Link] antibiotik kimia
dapat menyebabkan residu bahan kimia berbahaya dalam produk yang dihasilkan dan
menyebabkan resistensi bakteri-bakteri berbahaya yang terdapat di dalam tubuh ayam, maka
perlu dicarikan alternatif feed additive alami yang dapat menggantikan feed additive komersial,
mampu meningkatkan kekebalan tubuh dan memproduksi daging dan telur secara efisien. Feed
additive alami yang berpotensi untuk menggantikan feed additive komersial antara lain
tanaman obat. Banyak tanaman yang terdapat di Indonesia yang mempunyai potensi untuk
dijadikan feed additive (Nuraini, 2012). Tanaman obat yang memenuhi kriteria di atas antara
lain kelor (Moringa oleifera).
Tanaman kelor dikenal sebagai tanaman obat maupun makanan dengan memanfaatkan
seluruh bagian dari tanaman kelor mulai dari daun, kulit, batang, biji hingga akarnya (Simbolan
et al.., 2007). Tanaman kelor memiliki banyak kandungan senyawa aktif berupa antioksidan
terutama pada bagian daunnya (Rofiah, 2015). Daun kelor mengandung flavonoid, sterol,
triterpenoid, alkaloid, saponin, tanin dan fenol (Ikalinus et al., 2015)
Kelemahan daun kelor, antara lain, adalah adanya zat antinutrisi berupa tanin, saponin,
asam phitat, dan phenol yang terkandung di dalam daunnya.. Akibatnya, penggunaan daun kelor
dalam persentase tinggi dapat memberi efek negatif bagi unggas dikarenakan adanya kandungan
antinutrisi tersebut. Kandungan zat antinutrisi ini dapat dikurangi dengan cara mengekstrak
ataupun diolah menjadi tepung (Astuti, 2005).
Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Trisna et al. (2014) menunjukkan
bahwa pemberian sebanyak 5% ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) melalui air minum
dapat meningkatkan konsumsi ransum, konsumsi air minum, berat badan akhir, pertambahan
bobot badan, dan menghasilkan FCR yang efisien pada ayam broiler umur 2- 6 minggu Karena
di dalam ekstrak daun kelor menghasilkan rasa yang pahit, yang mampu meningkatkan nafsu
makan dapat merangsang sekresi kelenjar saliva dan meningkatkan produksi antibodi sehingga
kekebalan tubuh meningkat pada ayam [Link] uraian yang telah dilakukan, tujuan
penelitan ini adalah untuk mengetahui performans ayam broiler yang meliputi konsumsi pakan,
pertambahan bobot badan dan konversi pakan ayam broiler setelah pemberian ekstrak kelor
(Moringa oleifera).
[Link] Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah suplementasi ekstrak daun kelor
melalui air minum pada pemeliharaan ayam broiler dengan pemberian ransum komersil yang 20%
disubstitusi dengan pakan alternatif berpengaruh terhadap performan ayam broiler?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitan ini adalah untuk mengetahui pengaruh suplementasi ekstrak daun kelor
melalui air minum pada pemeliharaan ayam broiler dengan pemberian ransum komersil yang 20%
disubstitusi dengan pakan alternatif terhadap performan ayam broiler.
1.4. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi ilmiah tentang penggunaan
ekstrak daun kelor melalui air minum pada pemeliharaan ayam broiler dengan pemberian ransum
komersil yang 20% disubstitusi dengan pakan alternatif dan pengaruhnya terhadap performan
ayam broiler.
1.5. Hipotesis
H0 : Suplementasi ekstrak daun kelor melalui air minum pada pemeliharaan ayam broiler dengan
pemberian ransum komersil yang 20% disubstitusi dengan pakan alternatif tidak berpengaruh
nyata (p<0,05) terhadap performan ayam broiler.
H1 : Suplementasi ekstrak daun kelor melalui air minum pada pemeliharaan ayam broiler dengan
pemberian ransum komersil yang 20% disubstitusi dengan pakan alternatif berpengaruh nyata
(p<0,05) atau sangat nyata (p<0,01) terhadap performan ayam broiler.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ayam Broiler
2.1.1 Deskripsi ayam broiler
Ayam ras pedaging atau dikenal dengan istilah ayam broiler adalah ayam yang
dihasilkan melalui perkawinan silang, seleksi dan rekayasa genetik yang dilakukan oleh
pembibitnya. Ayam broiler merupakan jenis ayam ras unggulan hasil persilangan dari bangsa–
bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi terutama dalam memproduksi daging
ayam (Sudaryani dan Santoso, 2011). Ayam broiler merupakan ayam yang memiliki
kemampuan produksi daging sangat cepat sehingga saat ini banyak dikembangkan oleh
masyarakat. Broiler adalah istilah untuk menyebut strain ayam hasil budidaya teknologi yang
memiliki karaktristik ekonomis dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging,
konversi pakan irit, siap dipotong pada usia relatif muda, serta menghasilkan kualitas daging
berserat lunak (Murtidjo, 1987).
Gambar. 1. Ayam Broiler (Sumber Japfacomfeed [Link])
Hardjosworo dan Rukminasih (2000) menyatakan bahwa ayam broiler dapat digolongkan
ke dalam kelompok unggas penghasil daging. Ayam broiler sering dibudidayakan karena
memiliki masa panen yang pendek dan relatif mudah dalam pemeliharaan sehingga dalam waktu
yang singkat sudah dapat dipasarkan. Hingga saat ini, usaha peternakan ayam broiler merupakan
salah satu kegiatan usaha yang paling cepat dan efisien untuk menghasilkan bahan makanan
hewani yang bermutu dan bernilai gizi tinggi (Rasyaf, 2010). Pemeliharaan ayam broiler harus
diusahakan dalam waktu singkat agar diperoleh berat badan yang tinggi dengan ransum yang
efesien. Menurut North dan Bell (1994), ayam broiler biasanya dipasarkan pada saat berat hidup
antara 1,8–2,0 kg, dan biasa dicapai pada umur 6–8 minggu. Di Indonesia, ayam broiler
dipasarkan dengan berat 1,52 kg yang dicapai pada umur 5–6 minggu (Rasyaf, 2010).
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan usaha ayam broiler adalah bibit atau
genetik yang baik, ransum yang berkualitas, dan manajemen pemeliharaan yang baik. Ketiga
hal tersebut saling terkait dan mendukung sehingga peternak harus memahami dengan baik
agar usaha peternakan ayamnya berhasil (Mangisah et al., 2018). Keunggulan ayam broiler
diperoleh dari hasil seleksi dan perkawinan silang yang sangat ketat sehingga didapatkan sifat
genetik yang unggul dengan kondisi pemeliharaan yang terkontrol meliputi makanan,
temperatur lingkungan, dan manajemen pemeliharaannya (Usman,2009).
2.2. Pertumbuhan Ayam Broiler
Pertumbuhan merupakan korelasi antara pertambahan bobot badan atau massa tubuh
ternak pada waktu tertentu sesuai dengan car akhas dari setiap jenis hewan (Hafid dan Hasnudi,
2001). Berdasarkan kecepatan pertumbuhannya, periode pertumbuhan ayam broiler terdiri dari
2 fase, yatiu fase starter (umur 0–3 minggu) dan fase finisher (umur 3–6 minggu). Pertumbuhan
ayam broiler yang semakin cepat saat ini dikarenakan proses pemuliaan yang dilakukan secara
terus-menerus (Murwarni, 2010).
Produktivitas ayam broiler merupakan respon penampilan yang diperoleh ayam broiler
selama periode pemeliharaan. Produktivitas ayam broiler dapat diukur dari pertambahan bobot
badan dan Feed Convertion Ratio atau FCR (Nugraha et al., 2017). Pertambahan bobot badan
merupakan perbandingan antara selisih bobot akhir dan bobot awal dengan lamanya waktu
pemeliharaan (Fahrudin et al., 2016).
Tabel 1. Standar Performa Mingguan Broiler MB 202
Umur Rata-rata berat badan Konsumsi pakan Konversi pakan
(minggu) (g/ekor) (g/ekor)
1 200 180 0,90
2 500 550 1,10
3 960 1180 1,23
4 1550 2180 1,41
Sumber: Japfa Comfeed Indonesia (2012)
Menurut Qurniawan (2016), faktor yang mempengaruhi pertambahan bobot badan, antara
lain, bibit, konsumsi pakan, jenis kelamin, kualitas pakan, dan lingkungan. Menurut Soeparno
(2009),,faktor-faktor yang mempengaruhi bobot hidup broiler adalah konsumsi pakan, kualitas
pakan, jenis kelamin, lama pemeliharaan, dan aktivitas. Lebih lanjut dikatakan bahwa faktor
genetik dan lingkungan juga memengaruhi laju pertumbuhan komposisi tubuh yang meliputi
distribusi bobot, komposisi kimia, dan komponen karkas.
2.3. Konsumsi Ransum
Pakan merupakan bahan makanan yang terdiri dari campuran bahan organic dan
anorganik yang dapatdikonsumsi oleh ternak untuk memenuhi nutrisi ternak (Manurung dan
Julius, 2011). Pakan merupakan bagian terbesar dari total biaya produksi dan merupakan faktor
penentu nilai ekonomi budidaya ayam broiler karena pakan yang dikonsumsi berpengaruh
terhadap produktivitas ternak. Oleh karena itu, faktor pakan harus mendapat perhatian yang
cukup serius terutama kualitas dan harganya (Budiansyah, 2010).
Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan adalah tercukupinya kebutuhan
energi, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air (Subekti, 2009). Kebutuhan zat tersebut bagi
ternak sangat dibutuhkan untuk kebutuhan aktivitas (maintenance), pertumbuhan, dan
perkembangan. Kualitas dan jumlah konsumsi pakan sangat berpengaruh terhadap produktivitas
ternak. Pada umumnya, semakin tinggi kualitas pakan semakin tinggi konsumsinya oleh ternak,
dan pada akhirnya semakin tinggi pula produktivitas ternak (Budiansyah, 2010). Kebutuhan
nutrisi ayam broiler dapat dilihat pada Tabel 2. Pemberian pakan harus sesuai kebutuhan ternak
dan dilakukan secara teratur dengan jumlah yang sesuai. Kelebihan atau ataupun kekurangan
pemberian pakan akan berdampak kurang baik pada ternak dan berpengaruh pada efisiensi
produksi (Rahardi dan Hartono, 2003).
Tabel 2. Kebutuhan Nutrisi Ayam
Nutrisi Starter (0–3 minggu) Finisher (3–6 minggu)
Energi (kkal EM/kg) 3.200 3.200
Protein (%) 23 20,00
Lisin (%) 1 1,00
Metionin (%) 0 0,38
Metionin + Sistin(%) 0 0,72
Ca (%) 1 0,90
P tersedia (%) 0 0,35
Sumber: SNI (2008) ,
Menurut Sidadolog (2006), konsumsi pakan dipengaruhi oleh faktor fisiologis, berat
badan, laju pertumbuhan, kondisi pakan terutama kandungan energi dan protein, dan kondisi
lingkungan. Ayam yang dipelihara di daerah iklim tropis cenderung mengalami penurunan
konsumsi pakan, akibatnya ransum menjadi tidak efesien karena energi banyak digunakan
untuk mengurangi beban panas tubuh. Suhu nyaman untuk ayam di daerah tropis berkisar
antara 18–28 oC dengan kelembaban nyaman yaitu ≤70 dan heat stress index yang masih
mampu ditolerir 160 (Rahmawati et al., 2017).
2.4. Konversi Ransum
Konversi ransum didefinisikan sebagai perbandingan antara konsumsi ransum dan
pertambahan bobot badan yang diperoleh selama waktu tertentu (Hafid dan Syam, 2001).
Indeks konversi pakan yang rendah menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan pakan yang baik,
karena semakin efisien ayam mengkonsumsi pakan untuk memproduksi daging (Allama et al.,
2012). Nilai konversi ransum akan meningkat apabila hubungan antara jumlah energi dan kadar
protein dalam formula disesuaikan secara teknis (Mookiah et al., 2014; Nugraha et al., 2017).
Nilai konversi ransum dipengaruhi oleh jumlah konsumsi ransum dan pertambahan bobot
badan (Usman, 2009). Mulyantini (2010) menyatakan bahwa suhu lingkungan juga
memengaruhi tingkat konsumsi pakan, pertambahan bobot badan,dan konversi pakan. Standar
performa mingguan ayam broiler strain MB202 dapat dilihat pada Tabel 1. Banyak jenis strain
ayam broiler yang beredar di pasaran yang perbedaannya pada umumnya terletak pada
konsumsi ransum, pertumbuhan ayam, dan konversi ransum. Beberapa strain ayam broiler yang
ada di Indonesia, antara lain, lohmann, hubbard, ross, cobb, dan hybro (Muwarni, 2010).
2.5. Daun Kelor
Moringa oleifera Lamk atau biasa dikenal dengan sebutan daun kelor merupakan tanaman
perdu dengan tinggi batang 7−11 meter. Batang berkayu getas (mudah patah), cabang jarang,
tetapi mempunyai akar yang kuat. Bunga berbau semerbak, berwarna putih kekuningan, dan
tudung pelepah bunganya berwarna hijau, sedangkan buahnya berbentuk segitiga (Widowati et
al., 2014). Menurut Tilong (2012), klasifikasi tanaman kelor (Moringa oleifera L) adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliopsida
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Brassicales
Suku : Moringaceae
Marga : Moringa
Jenis : Moringa oleifera, L
Daun kelor berbentuk bulat telur dengan tepi daun rata dan ukurannya kecil-kecil bersusun
majemuk dalam satu tangkai (Tilong, 2012). Daun kelor muda berwarna hijau muda dan berubah
menjadi hijau tua pada daun yang sudah tua. Daun muda memiliki tekstur yang lembut dan
lemas, sedangkan daun tua agak kaku dan keras. Daun berwarna hijau tua biasanya digunakan
untuk membuat tepung atau powder daun kelor. Daun kelor memiliki rasa agak pahit tetapi tidak
beracun (Hariana, 2008). Rasa pahit akan hilang jika kelor sering dipanen secara berkala untuk
dikonsumsi. Untuk kebutuhan konsumsi, umumnya daun dan buah kelor digunakan yang masih
muda. .
Gambar 2 Tanaman Kelor
Menurut Hartwell (1971), bunga, daun, dan akar dari tanaman bisa dipakai sebagai sayuran
untuk konsumsi manusia dan sebagai obat tradisional. Daunnya bisa digunakan sebagai bahan
ransum domba, kambing, sapi, babi, kelinci, ikan terutama gurami. Kulit kayu dan daun serta
mempunyai bau yang sangat tajam dan menyengat, juga dapat digunakan untuk merangsang atau
meningkatkan pencernaan. Price (1985) menambahkan bahwa nilai nutrisi daun kelor tinggi
sebagai sumber asam amino yang mengandung sulfur, menthionin, dan sistin.
Daun kelor merupakan suplemen yang mempunyai nilai gizi tinggi dan dianggap sebagai
suplemen protein dan kalsium. Beberapa hasil penelitian dilaporkan bahwa pada daun kelor
terdapat komposisi Vitamin A, B, kalsium, zat besi, dan protein yang tinggi. Bunga kelor juga
dapat dikonsumsi oleh manusia dengan cara dimasak terlebih dahulu karena pada bunganya
mengandung potassium dan kalsium (Vietmeyer, 1996)???. Daun kelor juga telah banyak
digunakan sebagai ransum ternak, terutama sapi dan kambing maupun pupuk hijau. Akar kelor
sering digunakan sebagai bumbu campuran untuk merangsang nafsu makan (Suriawiria, 2005).
Tabel 3. Nutrisi Tepung Daun Kelor
Komposisi Nutrisi(%)
Protein kasar(%) 29,61
Lemak kasar(%) 7,48
Serat kasar(%) 8,98
Abu (%) 10,13
BETN(%) 43,80
Energi Metabolisme*([Link]) 1318,20
Sumber: Hasil analisis Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Universitas Brawijaya, Malang (2007)
Energi metabolisme diestimasi dari 70% GE (Patrick dan Schaible, 1990)
Makkar dan Becker (1997) melaporkan bahwa daun kelor mengandung 27% protein.
Kemudian ditambahkan bahwa kelor sebagai sumber protein memiliki kandungan asam amino
seimbang. Hasil penelitian di Afrika menunjukkan bahwa daun kelor mengandung Vitamin C
tujuh kali lebih banyak daripada buah jeruk, mengandung empat kali kalsium lebih banyak dari
susu, dan kandungan protein daunnya yang dapat mencapai 43% jika diekstrak dengan etanol
(Soetanto, 2005).
Kelor sebagai salah satu jenis tanaman leguminosa memiliki zat antinutrisi yang tergolong
rendah dibandingkan dengan jenis tanaman leguminosa lainnya. Antinutrisi yang terkandung
dalam daun kelor berdasarkan persen BK adalah tannin 0,3; saponin 6,4; asam phitat 2,3, dan
total phenol 2,7. Daun kelor yang telah diekstraksi ataupun diubah menjadi tepung daun
mengandung kadar antinutrisi lebih rendah (Astuti, 2005).
DAFTAR PUSTAKA
Astuti P., dan Suwiningsih. 2010. Produksi telur ayam arab yang mendapatkan pakan
dengan suplementasi temu ireng. Majalah Ilmiah, 15(2):11--20.
Priyanto, 2000. Modul Risiko Agribisnis. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Nuraini. 2012. Performa Broiler dengan Ransum Mengandung Campuran Ampas Sagu dan
Ampas Tahu yang Difermentasi dengan Neurospora crassa. Jurnal Media Peternakan. 32(3):
196-203
Simbolan, J.M., M. Simbolan, N. Katharina. 2007. Cegah Malnutrisi dengan Kelor.
Kanisius. Yogyakarta.
Rofiah, D. 2015. Aktivitas Antioksidan Dan Sifat Organoleptik Teh Daun Kelor Dengan
Variasi Lama Pengeringan Dan Penambahan Jahe Serta Lengkuas Sebagai Perasa Alami.
Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta
Ikalinus, R., Widyastuti, S.K, dan Setiasih N.L.E. 2015. Indonesia Medicus Veterinus,
Skrining fitokimia ekstrak etanol kulit Batang Kelor (Moringa Oleifera Lam). EJournal
Peternakan Tropika 4 (1): 71-79
Trisna, D. K., I G. N. G. Bidura, dan D.P.M.A. Candrawati. 2014. Pengaruh Pemberian
Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam) Dan Bawang Putih (Allium Sativum) Pada Air
Minum Terhadap Penampilan Broiler Umur 2- 6 Minggu. . E- Jurnal
Peternakan Tropika. Universitas Udayana. Denpasar.
Sudaryani dan Santoso. 2011. Pembibitan Ayam Ras. Penebar Swadaya, Jakarta.
Mangisah, I., B. Sukamto, F. Wahyono, N. Suthamadan [Link]. 2018. Perbaikan pakan
untuk meningkatkan produktivitas ayam kampung super di Kecamatan Plantungan
Kabupaten Kendal. Jurnal DIANMAS Vol. 7 (1): 35–40.
Mulyantini, 2010. Ilmu Manajemen Ternak Unggas. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Hardjosworo, P. S. dan M. S. Rukminasih. 2000. Meningkatkan Produksi Daging Unggas.
Penebar Swadaya, Yogyakarta.
Rasyaf, M. 2010. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Usman. 2009. Pertumbuhan ayam buras periode grower melalui pemberian tepung biji buah
merah (Pandanus conoideus LAMK) sebagai pakan alternatif. Prosiding Seminar
Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
Papua.
Hafid, H. dan A. Syam. 2001. Pengaruh pemberian pakan komersial terhadap konsumsi dan
konversi ransum ayam pedaging. Majalah Ilmiah Agriplus Vol.16 (3): 10–18.
Murwarni, R. 2010. Broiler Modern. Ed. ke-1. Penerbit Widya Karya, Semarang.
Nugraha, Y. A., K. Nissa, [Link], F. M. Amrullah, dan D.W. Harjanti. 2017. Pertambahan
bobot badan da
n feed conversion rate ayam broiler yang dipelihara menggunakan desinfektan herbal. Jurnal
Ilmu-Ilmu Peternakan. Vol. 27 (2): 19–24
Fahruddin, A., W. Tanwirah, dan H. Indrijani. 2016. Konsumsi Ransum, Pertambahan Bobot
Badan dan Konversi Ransum Ayam Lokal di Jimmy’s Farm Cipanas Kabupaten Cianjur,
Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran.
Qurniawan, A. 2016. Kualitas Daging dan Performa Ayam Broiler di Kandang Terbuka pada
Ketinggian Tempat Pemeliharaan yang Berbeda di Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan.
Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Manurung, E. dan Julius. 2011. Performa Ayam Broiler pada Frekuensi dan Waktu Pemberian
Pakan yang Berbeda. Skripsi. Insitut Pertanian Bogor. Bogor,
Budiansyah, A. 2010. Performan ayam broiler yang diberi ransum yang mengandung bungkil
kelapa yang difermentasi ragi tape sebagai pengganti sebagian ransum komersial. Jurnal
Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan. Vol. 13 (5): 260–268.
Subekti, E. 2009. Ketahanan Pakan Ternak Indonesia. Madiagro 5 (2): 63–71.
Rahardi, F dan R. Hartono. 2003. Agribisnis Peternakan. Penebar Swadaya, Jakarta.
BAB III MATERI DAN METODE
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian ini Penelitian ini akan dilakukan di laboratorium lapangan peternakan (LLP),
Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Darusallam,Banda
[Link] ini berlangsung selama 35 hari yang dimulai dari bulan sampai dengan bulan
2024.
3.2 Materi,Bahan Dan Peralatan
Penelitian ini direncanakan menggunakan 100 ekor ayam broiler (DOC).Anak ayam ini
akan dipesan dari Medan, Sumatera Utara melalui salah satu poultry shop yang ada di Banda
Aceh. Bahan-bahan lain yang akan digunakan terdiri dari ransum komersial ayam broiler CP
155, Menir,dedak padi,dedak jagung,topmix, vaksin ND dan gumboro, vitachick,vitastress,
desinfektan,kapur,dan litter. Peralatan yang akan digunakan meliputi kandang bersekat ukuran 1
x 1 m sebanyak 20 unit, timbangan,Temat pakan,tempat minum,pemanas,discmill,dandang,alat
peneris,dan kompor.
3.3 Perlakuan
Perlakuan dalam penelitian ini adalah ekstrak daun kelor dalam air minum ayam broiler
sebanyak .... Pemberian air minum disusun berdasarkan ...