3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pakan Ruminansia
Pakan merupakan semua bahan pakan yang dapat dikonsumsi ternak, tidak
menimbulkan suatu penyakit, dapat dicerna, dan mengandung zat nutrien yang
dibutuhkan oleh ternak untuk keperluan hidup, reproduksi maupun proses
perkembangan. Pakan dengan kualitas yang baik, memberikan efek terhadap
ternak yaitu dapat meningkatkan produktivitas ternak. Pakan yang diberikan pada
ternak ruminansia umumnya berupa hijauan dan pakan penguat atau konsentrat
(Kadir, 2014).
Berdasarkan kelas pakan internasional, pakan hijauan termasuk pada kelas
1, 2 dan 3. Kelas 1, berupa hijauan kering dan pakan berserat yaitu pakan hijauan
yang mengandung energi rendah karena tingginya kandungan komponen serat.
Kelas 2, berupa rumput, tanaman pastura dan hijauan lain yaitu semua hijauan
segar baik yang dipotong atau utuh. Kelas 3, berupa silase yaitu hanya hijauan
yang diawetkan dengan cara fermentasi secara an aerob di dalam suatu tempat
atau silo (Achmadi, 2012). Konsentrat merupakan suatu bahan pakan yang
dicampur dengan bahan pakan lain untuk meningkatkan gizi ternak sebagai
suplemen atau pelengkap (Tillman et al., 1997). Tujuan diberikannya pakan
konsentrat yaitu sebagai suplai energi dan protein yang kurang tercukupi akibat
pemberian hijauan saja (Nurhayati, 2008).
4
Pemberian pakan pada ternak ruminansia secara konvensional biasanya
konsentrat diberikan terlebih dahulu, setelah itu baru pemberian hijauan 3 jam
kemudian. Pemberian pakan pada ternak ruminansia akan lebih efisien bila
diberikan dalam bentuk pakan komplit. Pakan komplit merupakan perpaduan
komponen antara pakan penguat dan sumber serat (Wahyono dan Hardianto,
2004). Menurut Firsoni et al. (2008), pakan komplit adalah pakan yang dibuat
lengkap terdiri dari hijauan, konsentrat, atau ditambah suplemen pakan dan zat
aditif lainnya seperti vitamin dan mineral dengan perbandingan tertentu untuk
dapat memenuhi kebutuhan nutrisi ternak. Keuntungan pembuatan pakan komplit
yaitu meningkatkan efisiensi dalam pemberian pakan, mengurangi sisa pakan
dalam palungan, dan hijauan yang palatabilitas rendah setelah dicampur dengan
konsentrat dapat mendorong meningkatnya konsumsi (Yani, 2001).
2.2. Bahan Pakan Sumber Protein
Pakan sumber protein adalah pakan yang mengandung lebih dari 20%
protein kasar (Achmadi, 2012). Sumber protein bisa didapatkan dari hijauan,
limbah industri, biji-bijian dan hewan. Sumber protein yang berasal dari hijauan
yaitu dari tanaman leguminosa, sedangkan biji-bijian yaitu biji yang sudah
diekstraksi minyaknya seperti bungkil kedelai. Sumber protein yang berasal dari
hewan yaitu tepung ikan, tepung darah dan tepung bulu (Haryanto, 2012).
Lamtoro (Leucaena leucocephala) merupakan leguminosa yang banyak
dimanfaatkan untuk makanan ternak. Daun lamtoro sangat disukai ternak karena
daya cerna tinggi yaitu sekitar 70%. Pemberian lamtoro sebanyak 40% dalam
5
ransum tidak memberikan efek keracunan mimosin (Yurmiaty dan Suradi, 2007).
Komposisi kimia daun lamtoro, yaitu bahan kering 97,89%; abu 7,90%; serat
kasar (SK) 24,10%; lemak kasar (LK) 11,94%; protein kasar (PK) 24,34%; dan
bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 31,72%; (Putri et al., 2012).
Tanaman ketela pohon merupakan salah satu jenis tanaman pertanian di
Indonesia dan termasuk famili Euphorbiacea yang mudah tumbuh sekalipun pada
tanah kering dan tanaman ini mampu tahan terhadap serangan penyakit maupun
tanaman pengganggu (gulma). Komposisi kimia dari daun ketela pohon (dalam
bentuk 100% bahan kering) yaitu abu 8,82%; protein kasar 28,65%; serat kasar
19,06%; lemak kasar 9,40%; bahan ekstrak tanpa nitrogen 34,07%; dan total
digestible nutrients 61% (Askar, 1996).
Bungkil kedelai merupakan hasil samping dari pembuatan minyak kedelai.
Bungkil kedelai memiliki kelebihan yaitu kecernaannya tinggi dan dapat
meningkatkan palatabilitas ransum. Bahan ini sangat baik untuk campuran pakan
ternak karena kandungan proteinnya tinggi, yaitu sekitar 42 - 50% dan merupakan
bahan pakan sumber protein nabati (Nurhayati, 2008). Menurut Rismarianty
(2015), kandungan nutrien bungkil kedelai yaitu bahan kering 88,10%; abu
7,00%; protein kasar 49,00%; lemak kasar 1,60%; serat kasar 6,00% bahan
ekstrak tanpa nitrogen 36,40%. Prasetiyono (2008) menyatakan bahwa bungkil
kedelai memiliki kandungan protein tinggi yaitu 37,7%. Tingkat degradabilitas
bungkil kedelai sebesar 75% dan yang tidak terdegradasi sekitar 25%.
Tepung ikan merupakan tepung yang diperoleh dari proses penggilingan
ikan dan termasuk bahan essensial yang sangat diperlukan untuk campuran pakan
6
ternak (Sugiantoro dan Hidajati, 2013). Tepung ikan lokal yang bersumber dari
sisa industri dan limbah tangkapan nelayan dengan hanya dijemur di bawah sinar
matahari mengandung protein kasar sebesar 59,10 % BK (Marjuki, 2007).
Penelitian Ariantini (2016) mendapatkan hasil bahwa produksi VFA, produksi
NH3, kecernaan protein kasar (KcPK) dan kelarutan protein tanpa terproteksi tanin
dengan sumber protein bungkil kedelai, tepung ikan, tepung daun ketela pohon
dan tepung daun lamtoro disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Produksi VFA, Produksi NH3, Kecernaan Protein Kasar (KcPK)
dan Kelarutan Protein dengan Berbagai Sumber Protein
Hasil
Sumber Protein
VFA NH3 KcPK Kelarutan Protein
---- (mM) ---- ---------------- (%) ----------------
Bungkil Kedelai 173,3 7,3 80,99 63,9
Tepung Ikan 136,7 8,1 51,22 30,9
Tepung Daun Ketela Pohon 166,7 4,3 57,50 55,1
Tepung Daun Lamtoro 140,0 6,7 48,21 22,4
Ariantini (2016); VFA : Volatile fatty acids; NH3 : Amonia; KcPK : Kecernaan protein kasar
2.3. Sistem Pencernaan Ruminansia
Proses pencernaan adalah suatu proses perubahan pakan atau bahan pakan
secara fisik maupun kimiawi dari komponen kompleks menjadi komponen yang
lebih sederhana yang diabsorbsi di dalam saluran pencernaan untuk memenuhi
kebutuhan ternak (Puastuti, 2005). Proses pencernaan pakan pada ternak
ruminansia terjadi melalui 3 tahapan yaitu pencernaan mekanik yang terjadi di
mulut, pencernaan fermentatif di dalam rumen, dan pencernaan hidrolitik di organ
pasca rumen (Sutardi, 1980). Pencernaan secara mekanis terjadi di dalam mulut
oleh gigi melalui proses mengunyah dengan tujuan untuk memperkecil ukuran
7
(Kurniawati, 2009). Pencernaan fermentatif merupakan perubahan senyawa-
senyawa tertentu menjadi senyawa lain yang sama sekali berbeda dengan molekul
zat makanan asalnya yang dilakukan oleh mikroba rumen (Nurhayati, 2008).
Mikroba yang mendiami pada bagian-bagian saluran pencernaan
bertanggungjawab dalam pencernaan fermentatif. Enzim-enzim yang disekresikan
oleh mikroba mendegradasi pakan menjadi komponen-komponen nutrien selama
pencernaan fermentatif. Bagian saluran pencernaan yang melakukan pencernaan
fermentatif secara intensif adalah retikulorumen pada ternak ruminansia
(Achmadi, 2012).
Keberadaan mikroorganisme rumen memberikan keuntungan bagi ternak
ruminansia yaitu berupa produk fermentasi rumen menjadi bentuk yang lebih
mudah diserap dalam usus, hewan inang mampu memanfaatkan nitrogen bukan
protein dan mampu mencerna pakan kasar dalam jumlah yang besar. Namun,
keberadaan mikroorganisme rumen dapat menimbulkan kerugian, yaitu sebagian
energi makanan terbuang dalam rumen sebagai panas fermentasi dan gas metan,
sebagian provitamin A juga mengalami kerusakan dalam rumen (Suhartati, 2005).
Pencernaan hidrolitik terjadi di organ pasca rumen, pakan yang tidak dicerna
disalurkan ke abomasum dan dicerna secara hidrolitik oleh enzim-enzim
pencernaan (Arora, 1995).
2.3.1. Pencernaan karbohidrat dan lemak
Pakan ruminansia mengandung sejumlah nutrien seperti karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan mineral, namun sebagian besar (60 – 75%) pakan
8
ruminansia terdiri dari karbohidrat (polisakarida). Karbohidrat tersebut terdapat
dalam pakan kasar (hijauan) berupa selulosa, hemiselulosa dan lignin, sedangkan
dalam konsentrat umumnya terdapat sebagai pati (Rahmadi et al., 2003).
Pemecahan karbohidrat di dalam rumen dibagi menjadi 2 tahap. Pertama
karbohidrat kompleks (polisakarida) dipecah menjadi gula sederhana (glukosa,
fruktosa, pentosa). Gula sederhana yang dihasilkan pada tahap pertama jarang
ditemukan di dalam cairan rumen karena gula-gula tersebut diambil dan
dimetabolisme secara intraseluler oleh mikroorganisme. Tahap kedua yaitu proses
pemecahan piruvat menjadi produk akhir pencernaan karbohidrat pada
ruminansia, yaitu VFA (terutama asam asetat, asam propionat, asam butirat), CO2
dan gas metan. VFA yang dihasilkan dari proses fermentasi akan diserap ke dalam
sistem aliran darah porta terutama melalui dinding rumen. Sejumlah kecil asam
laktat juga terserap di sepanjang saluran pencernaan (McDonald et al., 2002).
Lemak atau trigliserida pakan akan dihidrolisis oleh bakteri rumen
menghasilkan asam lemak bebas dan galaktosil gliserol. Galaktosil gliserol
selanjutnya akan dipecah menjadi galaktosa dan gliserol yang selanjutnya diubah
menjadi VFA terutama propionat. VFA hasil metabolisme lemak akan diabsorpsi
lewat dinding rumen. Selanjutnya asam lemak yang beredar dalam darah akan
menjadi sumber pembentukan asam lemak rantai panjang yang bersama-sama
dengan α-gliserol-β- dari glukosa akan menyusun lemak susu (Rahmadi et al.,
2003).
9
2.3.2. Pencernaan protein
Proses metabolisme protein di dalam rumen disajikan pada Ilustrasi 1.
Protein pakan yang masuk ke dalam rumen pada awalnya akan mengalami
proteolisis oleh enzim-enzim protease menjadi peptida, kemudian dihidrolisis
menjadi asam amino yang kemudian secara cepat dideaminasi menjadi amonia
dan asam α-keto (Wahyuni, 2008).
Pakan
Protein Non Protein
KELENJAR
Nitrogen (NPN)
LUDAH
Protein Tidak Protein Non Protein
Terdegradasi Terdegradasi Nitrogen (NPN)
Peptida
HATI
Asam Amino Amonia NH3 Urea
Protein Mikroba
Ginjal
Dicerna di Usus
Urin
Ilustrasi 1. Proses Pencernaan Protein Pada Ruminansia (McDonald et al., 2002)
Amonia sebagai hasil deaminasi akan diserap melalui dinding rumen ke
peredaran darah porta, yang selanjutnya diubah menjadi urea di dalam hati.
10
Sebagian amonia mengalami recycling melalui saliva yang kembali ke rumen dan
sebagian amonia juga diekskresikan lewat ginjal dalam bentuk urin (Suhartati,
2005).
Amonia merupakan sumber nitrogen utama dan penting untuk sintesis
protein mikroba (Sakinah, 2005). Konsentrasi amonia yang dibutuhkan untuk
menunjang pertumbuhan mikroba rumen yang maksimal sebesar 4 – 12 mM
(Sutardi, 1980). Adanya mikroorganisme di dalam rumen dan retikulum, ternak
ruminansia dapat mensintesis asam-asam amino esensial untuk kebutuhannya.
Untuk memenuhi hal itu, dibutuhkan protein pakan yang berkualitas baik. Namun,
terdapat pula kelemahan dimana protein yang masuk akan dirombak pula oleh
mikroba menjadi amonia untuk sintesis protein tubuhnya, sehingga diperlukan
strategi pemberian protein yang dapat mensuplai secara keseluruhan bagi induk
semang dan mikroba (Nurhayati, 2008). Faktor yang mempengaruhi konsentrasi
amonia adalah kadar protein pakan, sumber dan proporsi karbohidrat terlarut,
kelarutan protein, tingkat degradabilitas protein pakan (Prayitno, 2010).
2.4. Kecernaan dan Fermentabilitas In Vitro
Kecernaan in vitro merupakan teknik pendugaan kecernaan secara tidak
langsung yang dikerjakan di laboratorium dengan meniru proses-proses yang
terjadi di dalam saluran pencernaan ternak ruminansia. Faktor yang
mempengaruhi metode kecernaan in vitro yaitu derajat keasaman, temperatur,
sumber inokulum, dan prosedur analisis (Rahmadi et al., 2003). Kecernaan in
11
vitro dapat diketahui dengan cara menghitung residu pasca proses inkubasi
produksi gas selama 48 jam (Muchlas et al., 2014).
Metode kecernaan bahan kering (KcBK) dan kecernaan bahan organik
(KcBO) dilakukan dalam 2 tahap diawali dengan pencernaan fermentatif, yaitu
memasukkan 0,25 g sampel ke dalam tabung fermentor yang kemudian ditambah
25 ml larutan McDougall (buffer) dan cairan rumen yang sudah dicampur
sebelumnya pada suhu 390C yang dialiri gas CO2 selama 30 detik. Setelah itu,
sampel diinkubasi selama 48 jam dalam keadaan anaerob. Tahap selanjutnya
(kedua) yaitu ditambahkan larutan pepsin HCl untuk menghentikan proses
fermentasi dan diinkubasi selama 48 jam. Tahapan yang kedua ini terjadi di dalam
organ pasca rumen (abomasum). Residu bahan yang tidak larut disaring kemudian
dioven untuk menghitung KcBK, dan dilanjutkan dengan pengabuan untuk
pengukuran hasil KcBO (Tilley dan Terry, 1963) dalam (Tanuwiria et al. 2005).
Suhu fermentasi diusahakan sama dengan suhu fermentasi dalam rumen
yaitu antara 40 - 420C. Suhu harus tetap stabil agar mikroba dapat berkembang
sesuai dengan kondisi asal. Aktivitas mikroba rumen tetap berlangsung normal
bila pH rumen berkisar antara 6,7 - 7,0. Perubahan pH yang besar dapat dicegah
dengan menambahkan larutan buffer bikarbonat dan fosfat (Johnson, 1996).
Menurut Sutardi (1980), KcBK dipengaruhi oleh sifat protein pakan karena setiap
sumber protein memiliki kelarutan dan ketahanan degradasi yang berbeda.
Fermentabilitas pakan berhubungan dengan aktivitas dan populasi mikroba
yang ada didalam rumen. Nilai fermentabilitas dapat dilihat dari produksi VFA
dan NH3 yang dihasilkan. Volatile fatty acids (VFA) merupakan hasil akhir proses
12
pencernaan karbohidrat yang ada di dalam rumen ternak ruminansia yang tersusun
atas asetat, propionat, butirat, valerat, dan formiat. Produksi VFA yang tinggi
merupakan cerminan kecukupan energi bagi ternak (Sakinah, 2005). Dijelaskan
lebih lanjut bahwa produksi VFA yang tinggi menunjukkan mudah atau tidaknya
pakan difermentasi oleh mikroba rumen dan menjadi tolak ukur fermentabilitas
pakan. Menurut Sutardi et al. (1983), VFA mempunyai peran ganda yaitu sebagai
sumber energi utama bagi ternak ruminansia dan sumber kerangka karbon untuk
pembentukan protein mikroba. Produksi VFA yang mendukung pertumbuhan
mikroba yang optimal yaitu antara 80 - 160 mM.
Amonia (NH3) merupakan sumber nitrogen utama dan penting untuk
sintesis protein mikroba (Sakinah, 2005). Protein bahan pakan yang masuk ke
dalam rumen pada awalnya akan mengalami proteolisis oleh enzim-enzim
protease menjadi peptida, lalu dihidrolisis menjadi asam amino yang kemudian
secara cepat dideaminasi menjadi amonia. Amino akan digunakan oleh mikroba
rumen dalam pembentukan protein mikroba. Pengukuran NH3 in vitro dapat
digunakan untuk mengestimasi degradasi protein dan penggunaannya oleh
mikroba (Wahyuni, 2008). Kelebihan NH3 akan diserap melalui dinding rumen
dan dibawa ke hati untuk sintesis urea, sebaliknya apabila kekurangan N dapat
menurunkan produksi mikroba per unit karbohidrat tercerna (Susanti et al., 2002).
Rahmadi et al. (2003) menyatakan bahwa konsentrasi amonia untuk pertumbuhan
mikroba yang optimal yaitu 3,57 – 7,14 mM. Menurut Sutardi (1980), Konsentrasi
amonia yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan mikroba rumen yang
maksimal sebesar 4 – 12 mM.