BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Domba
Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang digunakan sebagai salah
satu pangan sumber protein. Domba memiliki kelebihan yaitu mudah dipelihara
dan dapat dijumpai di berbagai lingkungan, baik basah, kering maupun tropis
(ekstrim) karena memiliki daya adaptasi yang cukup baik (Rusdiana dan
Praharani, 2015). Keuntungan pemeliharaan domba dibandingkan dengan
ruminansia besar yaitu domba memiliki siklus reproduksi yang cepat karena
dalam kurun waktu dua tahun dapat beranak tiga kali, bersifat prolifik (beranak
lebih dari satu) dan seasonal polyestrus (dapat kawin sepanjang tahun)
(Najmuddin dan Nasich, 2019). Karakteristik domba lokal antara lain memiliki
badan kecil, warna bulu tidak seragam, selain itu bulu tidak lebat dan bertekstur
kasar. Domba lokal juga lambat mencapai dewasa kelamin dan daging yang
diproduksi relatif sedikit (Supratman et al., 2016). Domba yang berasal dari
Indonesia antara lain domba Ekor Tipis (DET), domba Ekor Gemuk (DEG)
domba Garut atau Periangan (Sudarmono dan Sugeng, 2011).
Domba Ekor Tipis (DET) dikenal sebagai domba asli Indonesia yang telah
banyak dikembangkan di berbagai wilayah di Indonesia. Domba ini banyak
tersebar di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat (Mulyono, 2011). Karakteristik
DET secara khusus membedakan dari yang lain dilihat dari ekornya yang tipis,
selain itu tubuhnya tergolong kecil dibandingkan domba lokal lainnya. Perbedaan
5
domba jantan dan betina dapat dilihat dari tanduk, domba betina tidak memiliki
tanduk, sedangkan domba jantan terdapat tanduk (Sodiq dan Abidin, 2008).
Domba ini memiliki sifat prolifik yang mampu melahirkan anak kembar 2 – 5
ekor, namun domba ini menghasilkan daging sedikit dan pertumbuhan yang
lambat. Bobot badan domba jantan dewasa berkisar 30 – 40 kg, sedangkan domba
betina dewasa berkisar 15 – 20 kg (Arifin, 2015).
Domba setelah lahir akan mengalami proses pertumbuhan yang awalnya
lambat kemudian meningkat lebih cepat sampai berumur 3 – 4 bulan. Domba
lepas sapih memiliki kurva pertumbuhan yang akan meningkat pada titik tertentu
dan memiliki laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan domba
dewasa (Sudarmono dan Sugeng, 2011). Domba muda masih mengalami
perkembangan sistem pencernaan terutama rumen yang optimal setelah umur 8
minggu. Perkembangan rumen pada domba terjadi dalam tiga fase yaitu fase non
ruminansia (domba setelah lahir hingga umur 3 minggu), fase transisi (domba
umur 3 – 8 minggu) dan fase dewasa (domba yang berumur setelah 8 minggu)
(Jiao et al., 2015). Laju pertumbuhan domba muda sangat ditentukan dari faktor
lingkungan dan pakan, baik kandungan nutrien dan jumlah pakan yang diberikan
serta faktor genetik pada masing-masing individu ternak (Faisal et al., 2017).
2.2. Bahan Pakan
Bahan pakan merupakan suatu yang diberikan dan dimanfaatkan oleh ternak
baik berupa bahan organik maupun anorganik. Pemberian bahan pakan pada
ternak sebaiknya dapat membantu proses pertumbuhan dan tidak memberikan
6
efek samping sehingga tidak mengganggu kesehatan ternak (Mathius dan Sinurat,
2001). Kriteria bahan pakan yang baik yaitu memiliki tingkat palatabilitas tinggi,
mengandung nutrien yang lengkap, mudah dicerna, tidak bersifat toksin (beracun),
harganya murah dan mudah didapat (Rahmat dan Harianto, 2017). Ternak
membutuhkan pakan yang mengandung nutrien seperti protein, karbohidrat,
lemak, mineral, vitamin dan air (Sudarmono dan Sugeng, 2011). Bahan pakan
digunakan oleh ternak untuk hidup pokok, berproduksi (pertumbuhan dan
perkembangan) serta bereproduksi.
Jenis bahan pakan yang dapat diberikan berupa pakan hijauan dan
konsentrat. Hijauan merupakan bahan pakan utama bagi ternak ruminansia berupa
rumput-rumputan dan dedaunan (Rukmana, 2005). Hijauan dapat berupa
rerumputan (rumput Gajah, rumput Raja, rumput Mexico dan rumput Odot),
leguminosa (Lamtoro, Turi, Kaliandra dan Gamal) serta limbah pertanian (jerami
padi, jerami jagung dan bonggol jagung). Hijauan pakan mengandung energi
rendah, namun kandungan serat tergolong tinggi (Suryani et al., 2014).
Ketersediaan hijauan pakan ternak harus kontinyu dan berkualitas baik dengan
jumlah cukup karena sangat berpengaruh dalam kelangsungan hidup dan
produktivitas ternak (Ati et al., 2017).
Pemberian pakan berupa hijauan saja bagi ternak belum mencukupi
kebutuhan nutriennya, sehingga perlu ditambahkan pakan berupa konsentrat untuk
meningkatkan produktivitas (Gustiar et al., 2014). Konsentrat merupakan bahan
pakan yang dicampur dengan bahan pakan lain sebagai suplemen atau bahan
pelengkap dengan tujuan untuk meningkatkan keseimbangan nutrien pakan
7
(Hartadi et al., 1986). Konsentrat mengandung serat kasar kurang dari 18%,
namun kandungan protein cukup tinggi dan bersifat mudah dicerna oleh ternak
(Retnani et al., 2015). Pakan konsentrat dapat berasal dari biji-bijian, hasil produk
ikutan pertanian atau industri dan umbi-umbian.
Pakan komplit merupakan jenis pakan ternak yang tersusun dari beberapa
jenis bahan pakan seperti pakan sumber serat, protein dan nutrien lainnya yang
disusun secara seimbang (Wahjuni dan Bijanti, 2006). Pakan komplit
mengandung nutrien yang cukup untuk ternak dalam tingkat fisiologis tertentu
(Fachiroh et al., 2012). Pemberian pakan komplit merupakan langkah yang
menjanjikan dalam usaha peternakan khususnya pada pemeliharaan secara
intensif. Pemanfaatan pakan komplit merupakan solusi bagi peternak akan
ketersediaan hijauan di musim kemarau, karena penyediaan pakan komplit dapat
digunakan dalam jangka panjang (Suwignyo et al., 2016). Keuntungan
penggunaan pakan komplit yaitu meningkatkan palatabilitas pakan dan membatasi
ternak dalam memilih pakan dan memudahkan pemberian pakan kepada ternak.
Pakan komplit digunakan agar mampu memenuhi kebutuhan ternak,
meningkatkan kualitas dan kuantitas (ketersediaan) pakan, serta meningkatkan
konsumsi dan kecernaan ternak (Mustabi et al., 2019).
2.3. Probiotik Isi Rumen
Probiotik adalah bahan aditif yang mengandung mikroorganisme hidup
sehingga dapat membantu proses pencernaan pakan. Probiotik digunakan
bertujuan untuk menyeimbangkan mikroba dalam saluran pencernaan terutama
8
rumen dan meningkatkan produktivitas ternak (Raguati dan Endri, 2018).
Probiotik digunakan sebagai salah satu alternatif untuk mengontrol fermentasi
rumen agar lebih efisien dalam penggunaan nutrien pakan dan dapat
meningkatkan aktivitas mikroba rumen sehingga dapat meningkatkan kecernaan
pakan (Puastuti, 2009). Mikroorganisme yang terkandung dalam probiotik antara
lain mikroba pemecah serat, protozoa, yeast dan fungi. Probiotik yang baik
mengandung mikroba yang bersifat tidak patogen, aktif di dalam rumen (tidak
dorman) dan dapat hidup di saluran pencernaan secara anaerob (Nur, 2017).
Mikroba tersebut juga tidak mengganggu inangnya dan aman dikonsumsi oleh
ternak. Bahan yang dapat dikatakan sebagai probiotik mengandung jumlah
mikroba berkisar ± 5 × 1010 koloni/g bahan probiotik (Haryanto, 2000).
Isi rumen kerbau merupakan limbah hasil pemotongan kerbau yang dapat
dimanfaatkan sebagai probiotik karena mengandung mikroba dan pakan yang
belum tercerna seluruhnya. Pemanfaatan isi rumen jarang dilakukan oleh
masyarakat karena tingkat palatabilitas dan kecernaan yang masih rendah
(Khattab et al., 2011). Isi rumen kerbau mengandung bakteri selulolitik 2,4×103
CFU/g bolus dan total bakteri 2,9×1010 CFU/g bolus (Aprintasari et al., 2012).
Mikroba yang terdapat dalam bolus kerbau yaitu bakteri selulolitik, lipolitik,
proteolitik dan amilotilik, fungi, yeast dan protozoa dengan total bakteri yang
tinggi (Dewi et al., 2012). Rumen kerbau dewasa terdapat bakteri selulolitik
seperti Ruminococcus albus, Bacteroides succinogenes, Butyrivibrio fibrisolvens,
Clostridium lochheadii, Clostridium longisporum dan Clostridium spp (Sinha dan
Rancanathan, 1983). Penggunaan probiotik dari mikroba rumen dapat mencegah
9
terjadinya diare pada ternak muda, merangsang perkembangan rumen pada ternak
muda dan menjaga fermentasi agar stabil di dalam rumen (Wahyudi, 2006).
2.4. Kecernaan Nutrien Pakan
Kecernaan merupakan nilai ukur proses pencernaan dan penyerapan nutrien
pakan di saluran pencernaan berdasarkan jumlah dan kandungan nutrien pakan.
Kecernaan pada ternak ruminansia terbagi menjadi dua tahap yaitu kecernaan
fermentatif di dalam rumen dan kecernaan enzimatis di dalam abomasum dan usus
halus (Ekawati et al., 2014). Kecernaan nutrien pada ternak ruminansia
berhubungan dengan jumlah dan aktivitas mikroba di dalam rumen. Faktor yang
mempengaruhi kecernaan nutrien pakan meliputi kandungan nutrien, komposisi
bahan pakan, bentuk fisik pakan, kondisi fisiologis ternak dan jumlah pakan yang
dikonsumsi (Marhaeniyanto dan Susanti, 2011).
Kecernaan bahan kering (BK) dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk
mengetahui kualitas pakan yang diberikan. Nilai kecernaan BK yang tinggi
menandakan banyaknya nutrien dapat terserap oleh saluran pencernaan sehingga
dimanfaatkan untuk peningkatan produksi ternak (Hernaman et al., 2008).
Kecernaan BK dapat meningkat ditandai dengan pertumbuhan bakteri yang
meningkat sehingga proses fermentasi pakan dalam rumen berjalan lebih baik
(Puastuti, 2009). Kecernaan bahan organik (BO) akan sejalan dengan KcBK
karena BO merupakan bagian dari bahan kering (Andayani, 2010). Komponen BO
terdiri dari protein kasar, lemak kasar (LK) serta karbohidrat (serat kasar dan
BETN) (Tillman et al., 1991). Kecernaan nutrien dapat dilihat dari kandungan
10
nutrien dari bahan pakan yang terkonsumsi dan feses. Pengukuran nilai kecernaan
nutrien dapat dilakukan menggunakan metode total koleksi (Ekawati et al., 2014).
2.5. Total Digestible Nutrients (TDN)
Total digestible nutrients (TDN) merupakan total energi nutrien tercerna
oleh ternak yang dapat diperoleh secara biologis dan melalui data analisis
proksimat. Nilai TDN berkaitan erat dengan BO dapat dicerna (BOdd) yang
menunjukkan bahwa ketersediaan nutrien pakan dapat dimanfaatkan oleh ternak
(Tillman et al., 1991). Total digestible nutrients (TDN) dapat diperoleh
berdasarkan kecernaan komponen serat, protein, lemak dan karbohidrat dalam
pakan (Van Soest, 1994). Nilai TDN yang semakin rendah dapat mengganggu
peningkatan bobot badan pada ternak.
Total digestible nutrients sebagai energi yang dimanfaatkan ternak tidak
terpenuhi dapat menghambat pertambahan bobot tubuh, penurunan bobot tubuh
dan berkurangnya semua fungsi produksi yang dapat menyebabkan kematian bila
berlangsung lama (Tillman et al., 1991). Ternak memanfaatkan energi untuk
kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan produksi (Parakkasi, 1999).
Penggunaan TDN sebagai satuan energi memiliki kekurangan karena hilangnya
nutrien yang dibakar saat metabolisme dan energi panas yang timbul saat
mengkonsumsi pakan tidak dihitung (Anggorodi, 1994). Faktor-faktor
mempengaruhi besar kecilnya nilai TDN adalah kondisi ternak dan lingkungan,
jenis kelamin, bobot badan dan komposisi pakan (Khairi et al., 2014).