Uji Aktivitas Antiinflamasi Kulit Matoa
Uji Aktivitas Antiinflamasi Kulit Matoa
DISUSUN OLEH:
Nim: 144820120082
2024
i
DAFTAR ISI
BAB I .......................................................................................................................1
PENDAHULUAN ...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang ..........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah .....................................................................................3
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................................3
1.4 Manfaat Penelitian .....................................................................................4
1.5 Defenisi Operasional .................................................................................4
BAB II ......................................................................................................................5
TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................................5
A. Kajian Teori ...................................................................................................5
2.1 Uraian Tanaman .........................................................................................5
2.2 Klasifikasi Tanaman ..................................................................................5
2.3 Morfologi tanaman ....................................................................................5
2.4 Jenis- Jenis Matoa Di Papua ......................................................................7
2.5 Kandungan Kimia......................................................................................8
2.5.1 Flavonoid ................................................................................................8
2.5.2 Saponin...............................................................................................8
2.5.3 Tanin ...................................................................................................8
2.5.4 Fenol...................................................................................................9
2.5.5 Alkaloid ..............................................................................................9
2.6 Khasiat dan Manfaat ................................................................................10
2.7 AntiInflmasi.............................................................................................10
2.7.1 Obat Antiinflamasi Non-Steroid (OAINS) ............................................10
2.8 Ekstrak .....................................................................................................12
2.8.1 Metode Ekstraksi ...................................................................................12
2.9 Karagenan ................................................................................................14
2.10 Natrium Diklofenak (Diclofenac Sodium) ..............................................14
2.11 Mekanisme Kerja Natrium Diklofenak ....................................................15
2.12 CMC-Na (Sodium-Carboxymethyl Cellulose) ........................................16
2.13 Hewan Uji Tikus Putih (Rattus norvegicus) ...........................................17
D. Hipotesis......................................................................................................19
BAB III ..................................................................................................................20
ii
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Buah Matoa. ..........................................................................................5
Gambar 2. Struktur Karagenan ...............................................................................7
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumber daya alam yang dimiliki Indonesia merupakan bagian yang dapat
dimanfaatkan untuk pemanfaatan tumbuhan fungsional, selain manusia
mendapatkan manfaat dari tumbuhan dalam berbagai aspek kehidupan mereka,
seperti dalam bidang kesehatan. tumbuhan yang dapat dibagikan banyak yang
dikatakan memiliki khasiat yang berasal dari alam dan berkontribusi dalam
pengobatan dan pengembangan obat-obatan baru yang dapat dijadikan obat herbal
terkait kegunaannya atau ilmu pengetahuannya dan dijadikan sebagai sumber obat.
Pemanfaatan tumbuhan salah satu menjadi bahan obat yang sangat beraiktan erat
dengan kandunganya, sebagai obat herbal, terutama karena zat aktif yang ada di
dalam tanaman. Beberapa zat aktif yang ditemukan di dalam tumbuhan adalah
flavonoid, tanin, fenol, dan alkaloid. (Trimedona et al., 2015).
Inflamasi ialah serangkaian kejadian pada jaringan yang telah rusak atau
terinfeksi. Ketika jaringan terinfeksi, reaksi darah terjadi. Di lokasi infeksi atau
kerusakan, cairan, sel darah, sel darah putih (leukosit) dan mediator kimia
berkumpul. Kemerahan, rubor, panas, tumor, dan nyeri merupakan tanda utama
peradangan.(Ricciotti & Fitzgerald, 2011)
Pometia pinnata J.R. Forster adalah anggota famili Sapindaceae yang tumbuh
di seluruh kawasan Asia-Pasifik, yang meliputi Kepulauan Solomon, Fiji, Tonga,
Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Ini adalah tumbuhan yang memiliki khasiat
biologi dan pohon matoa yang dapat digunakan sebagai obat. (Trimedona et al.,
2015). Tanaman matoa (Pometia pinnata J.R. Forst & G. Forst) banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat di Papua, Jawa, Sumatera, dan Sulawesi sebagai
obat. Mengandung bahan kimia metabolit sekunder dengan sifat anti-inflamasi dan
menjaga sistem kekebalan tubuh yang berasal dari keluarga alkaloid, saponin, tanin,
flavonoid, fenol, dan terpenoid. Dengan menghambat degranulasi neutrofil,
aktivitas enzim siklooksigenase (COX) dan lipoksigenase, pelepasan histamin, dan
pencegahan akumulasi, flavonoid berfungsi sebagai anti inflamasi. (Riansyah et al.,
2016)
Beberapa bagian matoa telah diuji aktivitas antiinflamsi dan diketahui kulit
buah matoa mempunyai aktivitas antiinflamsi terhadapa suatu peradangan (Sulastri
et al., 2022). Kulit buah matoa diketahui mengandung metabolit sekunder, tanin,
flavonoid, kulit buah, akar dan buah dapat digunakan untuk terapi sebagai bahan
3
obat. Diketahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada ekstrak etanol
kulit buah matoa yaitu flavonoid, saponin, alkaloid, fenol dan tannin (Hajar et al.,
2021).
Agar penelitian tidak saja bermanfaat bagi masyarakat di papua tetapi juga
bermanfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia bahwa kulit buah matoa yang
tumbuh di Papua mampu menyembuhan antiinflamasi dengan beberapa dosis
penting untuk dilakukan. Dan juga diharapkan penelitian ini dapat memberikan
informasi terkait manfaat kulit buah matoa yang dapat dikembangkan sebagai
sebagai agen antiinflamasi yang terkait senyawa aktif yang terkandung dalam kulit
buah matoa juga dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.
1. Apakah ekstrak kulit buah Matoa (Pometia pinnata J.R. Forst & G. Forst)
memlikii efek antiinflmasi pada tikus putih (Rattus novergicus)
2. Pada dosis berapakah ekstrak kulit buah matoa (Pometia pinnata J.R. Forst &
G. Forst) memiliki efek antiinflmasi paling baik pada tikus putih (Rattus
novergicus)
1. Matoa merupakan tanaman khas yang menjadi identitas flora bagi daerah papua
yang biasanya dijumpai karena pohonnya tumbuh secara liar di hutan papua
2. Tikus putih merupakan hewan uji penelitian yang termasuk dalam keluarga
hewan pengerat
3. Skrining fitokimia bertujuan untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang
terkandung dalam kulit buah matoa
4. Antiinflamasi adalah anti radang yang memiliki sifat mengurangi peradangan
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
Divisio : Magnoliophyta
Class : Dicotyledonae
Ordo : Sapindales
Famili : Sapindaceae
Genus : Pometia
Pometia pinnata di Papua Nugini dapat ditemukan pada berbagai tumbuhan dan
tanah di dataran rendah. Sebagian besar ciri morfologi tanaman matoa tidak berubah
karena kemiripan tanaman. Perbedaan yang paling mencolok adalah perbedaan
6
warna kulit buah saat masak, sehingga dikelompokkan dengan nama yang sama
dengan Pometia pinnata JR. & G. Forst mendefinisikannya dengan [Link]
memiliki akar tunggang berwarna coklat tua yang dapat muncul dari dalam tanah
ketika tanaman berumur puluhan tahun. Pohon ini dapat mencapai tinggi 20 hingga
40 meter dengan batang berdiameter 8 meter. Permukaannya kasar, berwarna hitam
putih, dan berbentuk silindris. Cabang tanda itu tumbuh dan berubah menjadi
bayangan daun matoa dengan empat hingga dua belas helai daun. Seiring
bertambahnya usia, daun muda berubah menjadi hijau. Daunnya panjang, tebal, dan
kuat, dengan ujung (akuminatus) dan helaian (obtusus) daun tumpul bermata lurus
yang menahan urat. Buah matoa berbentuk bulat lonjong dan panjangnya sekitar 5-
6 sentimeter, dengan dagingnya berwarna kuning. Buah bulat lainnya berwarna
coklat atau hitam. Kebanyakan pohon reproduktif berbuah pertama kali setelah
berumur empat hingga lima tahun, dan perbanyakan vegetatif, seperti sambungan,
stek, dan okulasi, dapat mulai berbuah setelah berumur dua hingga tiga tahun.
(BPTP Papua Barat, 2014)
Bunga matoa terdiri dari berbagai jenis, termasuk rumah satu, berkelamin
tunggal, dan berkelamin tunggal. bunga betina tanpa kepala sari yang pendek dari
ras yang sama. Bunga-bunga ini kecil dan memiliki kelopak yang berwarna kuning
atau merah kecil. Dua kepala telur betina berwarna coklat tua dengan semburat
merah ditemukan di bunga jantan yang belum berkembang sempurna. Biji-biji ini
berbentuk bulat atau elips dan berukuran 3 hingga 5 cm panjang. Banyak benih dan
mikroba dilindungi oleh jamur tepung atau bubuk arillot. Matoa, yang merupakan
hibrida durian, rambutan, dan kelengkeng, sering dikenal karena rasanya yang unik.
Selain menyemai, tanaman matoa ini dapat ditanam melalui okulasi. Daya
berkecambah biji matoa selama penyimpanan turun menjadi 86% dari 100% tanpa
penyimpanan dan 67% setelah empat hari. (Faustina & Santoso, 2017). Selain
menyemai, tanaman matoa ini dapat ditanam melalui okulasi. Daya berkecambah
biji matoa selama penyimpanan turun menjadi 86% dari 100% tanpa penyimpanan
dan 67% setelah empat hari. (Effira N, Anwar A, 2018).
7
Warna Kulit
Daun Warna Bunga
Buah
Biji matoa dapat digunakan jika masih segar. Rasa buahnya sangat berbeda,
seperti durian dan rambutan. Buah ini sangat bermanfaat secara ekonomi bagi
masyarakat Papua karena rasa dan aromanya. Rata-rata dijual seharga Rp 20.000
ribu per kilo, dan biasanya harganya lebih mahal. sehingga masyarakat luar Papua
banyak mengimpornya sebagai oleh-oleh. Pada musimnya, bibit tersebut banyak
sekali dijual di pasar, atau dipinggir jalan. Cangkang biji matoa yang tebal dan
keras, Mereka dapat disimpan selama minggu tanpa diproses. dan biji matoa dapat
disimpan hingga 1 minggu disimpan pada suhu 5-10oC. Tanaman ini di tumbuh
secara banyak melalui biji, tumbuhan, pohon atau herba. Untuk perbanyakan
dengan buah sebaiknya di bungkus di dalam kantong plastik dan bila sudah cukup
kuat dapat dipindahkan ke lahan/kebun. Jarak umumnya adalah 8 sampai 12 meter.
8
Kandungan kimia meliputi flavonoid, tanin, saponin, fenol, dan alkoid yang
mudah ditemukan pada kulit buah matoa. Kualitas antibakteri, antiinflamasi,
antijamur, dan antioksidan dimiliki oleh flavonoid.
2.5.1 Flavonoid
2.5.3 Tanin
Tanin adalah campuran polifenol yang berbeda yang memiliki jumlah gugus
fenol yang lebih besar sebanding dengan berat molekul tanin. Tanin biasanya
terlihat sebagai granular kuning, merah, atau coklat menggunakan mikroskop.
Tanin memiliki kemampuan untuk mengatur pertumbuhan jaringan ini. Tanin juga
dapat berkempuan untuk mengendapkan protein dari campuran karena berikatan
9
2.5.4 Fenol
Fenol (C6H6OH) adalah molekul organik dengan gugus hidroksil yang terikat
pada cincin benzena. Beberapa nama lain untuk senyawa fenolik adalah fenil hidrat,
monofenol, fenil hidrat, fenol alkohol, dan monohidroksibenzena fenat .(Poerwono,
2012). Di antara banyak karakteristiknya adalah pembentukan kompleks protein
yang cepat, kelarutan yang tinggi dalam air, dan sensitivitas ekstrim terhadap
oksidasi enzim. Konstituen dasar fenol adalah padatan dengan titik leleh rendah.
Cairan mencapai suhu tekanan uap jenuh yang tinggi karena adanya ikatan hidrogen
yang mengikat molekul-molekulnya menjadi satu. Karena berat molekul air yang
rendah dan titik beku molal fenol (C6H5OH) yang tinggi, yaitu 7,5, fenol hanya
sedikit larut dalam air (9 g per 100 g air). Hasilnya, pada suhu tersebut campuran
fenol dan 5-6% air telah membentuk cairan. khas. Bahan kimia tersebut juga tidak
berwarna jika struktur fenol tidak memiliki gugus yang berperan terhadap warna.
2.5.5 Alkaloid
2.7 AntiInflmasi
kerja enzim siklooksigenase, dimana enzim ini berperan penting pada jalur
metabolisme asam arakhidonat untuk mengkatalis perubahan asam arakhidonat
menjadi prostaglandin dan tromboksan .
2.8 Ekstrak
Sediaan lengkap yang dibuat dengan ekstraksi bahan dan kulit tumbuhan atau
hewan sederhana disebut ekstrak. Kulit atau sebagian besar dikeringkan dan sisa
debu atau bubuk diolah sesuai parameter yang ditentukan.. Banyak ekstrak dibuat
dengan menghilangkan bahan mentah tanaman melalui penyaringan. Lindi
biasanya dikonsentrasikan pada tekanan yang dikurangi dalam distilasi sehingga
peralatan tersebut memenuhi suhu serendah mungkin, seperti°C.
a. Maserasi
Maserasi merupakan teknik yang mudah dan populer. Langkah pertama dalam
prosedur ini adalah menempatkan bubuk dan herba dalam wadah tertutup rapat dan
membiarkannya pada suhu kamar. Proses parsial berakhir ketika konsentrasi bahan
kimia dalam pelarut dan air dalam sel tumbuhan mencapai tingkat rata-rata. Filtrasi
digunakan untuk menghilangkan larutan dari sampel setelah ekstraksi. Kelemahan
utama metode maserasi ini adalah memerlukan waktu lebih lama, memerlukan lebih
banyak larutan dalam penggunaannya, dan terdapat komponen yang hilang. Selain
itu, beberapa bahan mungkin mengalami kesulitan melepaskan panas. Namun
maserasi melindungi mineral-mineral ini dari kerusakan. (Mukhtarini, 2014).
b. Perkolasi
2. Cara Panas
a. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada titik didihnya selama waktu dan
jumlah pelarut terbatas yang relative konstan dengan adanya pendingin balik.
Umumnya dilakukan penggulangan proses pada residu pertama 3-5 kali sehingga
dapat termasuk proses ekstraksi sempurna. Pada metode reflux, sampel
dimasukkan bersama pelarut ke dalam labu yang dihubungkan dengan kondensor.
Pelarut dipanaskan hingga mencapai titik didih. Uap terkondensasi dan
kembali ke dalam labu (Mukhtarini, 2014).
b. Soxhlet
Soxhlet adalah ekstraksi menggunkan pelarut yang selalu baru yang umunya
dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah
pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Metode ini dilakukan
dengan menempatkan serbuk sampel dalam sarung selulosa (dapat digunakan
kertas saring) dalam slonsong yang ditempatkan di atas labu dan di bawah
kondensor. Pelarut yang sesuai dimasukkan ke dalam labu dan suhu penangas
diatur di bawah suhu reflux. Keuntungan dari metode ini adalah proses. ektraksi
yang kontinyu, sampel terekstraksi oleh pelarut murni hasil kondensasi sehing- ga
tidak membutuhkan banyak pelarut dan tidak memakan banyak waktu.
Kerugiannya adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi karena
ekstrak yang diperoleh terus-menerus berada pada titik didih (Mukhtarini, 2014)
c. Digesti
Suatu proses ekstraksi yang berkerja dengan pelarut air pada temperature
penangas air sewaktu tertentu 15-20 menit (Rahmah, 2016)
14
e. Dekokta
Suatu Proses yang mirip dengan infusa dalam sewaktu yang cukup lama >30ºC
dan temperature sampai titik didih (Rahmah, 2016).
2.9 Karagenan
Natrium diklofenak oral dapat diberikan dalam tablet lepas lambat atau tablet
dengan Immediate- tablet pelepasan diberikan dalam tablet 25 hingga 150 mg untuk
mencapai dosis harian total 100 hingga 150 mg per hari. Dosis ini berlaku untuk
ankylosing spondylitis, osteoarthritis dan rheumatoid [Link] topikal,
natrium diklofenak tersedia dalam sediaan gel dengan konsentrasi 1 hingga 3%. 19
Gel natrium diklofenak 1-2% diindikasikan untuk pemberian topikal pada
osteoartritis, hingga 16 g per hari pada sendi monoartritis dan hingga 32 g per hari
pada sendi poliartritis. Sediaan natrium diklofenak 3% digunakan untuk mengobati
keratosis aktinik dan digunakan dua kali sehari sebagai terapi hibrid.
bagian penting dari respon inflamasi dan nosiseptif, dan fungsi diklofenak terjadi
dengan menghentikan asam arakidonat untuk berikatan dengan COX-1 dan COX-
2. Selain itu, diklofenak dan NSAID lainnya juga berfungsi menghambat produksi
tromboksan, terutama tromboksan- B2 (TXB2). Dikenal sebagai salah satu
penghambat PGE2 yang paling efektif, diklofenak meningkatkan jumlah primer
[Link] respon inflamasi (Altman et al., 2015)
CMC-Na merupakan zat dengan warna putih atau sedikit kekuningan, tidak
berbau dan tidak berasa, berbentuk granula yang halus atau bubuk yang bersifat
higroskopis. CMC Na digunakan untuk suspending agen dalam sediaan cair (pelarut
air) yang ditujukan untuk pemakaian eksternal, oral atau parenteral. Juga dapat
digunakan untuk penstabil emulsi dan untuk melarutkan endapan yang terbentuk
bila tinctur ber-resin ditambahkan ke dalam air. (Aponno et al., 2014)
Ada empat sifat fungsional yang penting dari CMC-Na yaitu untuk pengental,
stabilisator, pembentuk gel dan beberapa hal sebagai pengemulsi. CMC ini mudah
larut dalam air panas maupun air dingin. Pada pemanasan dapat terjadi pengurangan
viskositas yang bersifat dapat balik (reversible). Viskositas larutan CMC
dipengaruhi oleh pH larutan, kisaran pH CMC-Na adalah 5-11 sedangkan pH
optimum adalah 5, dan jika pH terlalu rendah (<3), Na-CMC akan mengendap. Na-
CMC akan terdispersi dalam air, kemudian butir-butir CMC-Na yang bersifat
hidrofilik akan menyerap air dan terjadi pembengkakan. Air yang sebelumnya ada
di luar granula dan bebas bergerak, tidak dapat bergerak lagi dengan bebas sehingga
keadaan larutan lebih mantap dan terjadi peningkatan viskositas.
17
Hewan Uji yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Tikus Putih
(Rattus norvegicus) strain wistar. Menurut Hedrich (2006) taksonomi tikus putih,
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Ordo : Rodentia
Subordo : Myomorpha
Famili : Muroidae
Subfamili : Murinae
Genus : Rattus
Klasifikasi tanamanan
Uraian Tanaman
Kulit buah Matoa Morfologo tanaman
Flavonoid
Kandungan
KimiaTanaman Kulit Saponin
buah Matoa
Tanin
Akloid
fenol
Natrium Diklofenak
Mekanisme Kerja Natrium
Diklofenak
Na CMC
C. Kerangka Konsep
Skring fitokimia
Ekstrak kulit
buah matoa
(Pometia Pinnata
linn) Uji Antiinflmasi ekstrak kuliah
buah Matoa pada telapak kaki
Tikus Putih
Keterangan :
D. Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah ekstrak kulit buah matoa mempunyai efek
anti inflamasi pada tikus putih (Rattus noversecus).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis penelitian
Adapun waktu dan tempat ini akan dilaksanakan di laboratorium bahan alam
Dan Laboratorium farmakologi di UNIMUDA Sorong.
Populasi penelitian ini ialah Tikus putih, dan Sampelnya Kulit Buah Matoa
(Pometia pinnata J.R. Forst & G. Forst) yang di ambil Kota Serui,
a. Variabel Bebas
Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah skring fitokimia
dan uji Antiinflmasi ekstrak kulit buah matoa (Pometia pinnata J.R. Forst & G.
Forst) pada telapak kaki Tikus Putih
c. Variabel Kendali
Variabel kendali yang di gunakan dalam penelitian ini adalah Dosis, pelarut,
waktu pengambilan kulit buah matoa,tempat pengambilan kulit buah matoa
(Pometia pinnata J.R. Forst & G. Forst) dan metode analisis.
a. Alat
b. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kulit buah Matoa
dengan menggunakan Etanol 96% sebagai pelarut, aquades, ektrak etanol kulit
buat matoa, tikus putih dengan berat antara 200 sampai 350 gram. Larutan
22
Dalam penelitian ini, saya memilih jenis Buah matoa Kelapa yang Buah
Matoanya berwarna Merah dan juga kulitnya berwarna Merah dari Kota Serui
Seleksi dilakukan berdasarkan kriteria Jenis Buah yang berada di kalangan
masyarakat.
Kulit buah matoa (Pometia Pinnata) yang masih sehat kemudian dikeringkan
tanpa terpapar dari sinar matahari secara langsung. setelah Kulit buah matoa
kering hingga mencapai bobot konstan maka selanjutnya daun di giling atau
dihaluskan untuk mendapat serbuk halus. Setelah didapatkan serbuk halus
kemudian simplisia di maserasi menggunkan pelarut etanol 96 % selama 3 hari
24 jam untuk memdapatkan ekstrak cair.. Pelarut untuk pembuatan ektrasi ini
dipilih berdasarkan polaritas obat yang diperkirakan mempunyai efek sedatif.
a) Uji alkaloid
Satu mg HCl 2M dan 9 mg akuades dicampur dengan 0,5 gram ekstrak pekat
sampel. Ditambahkan pereaksi Mayer, Bouchardat, dan Dragendorff, filtrat
dibagi menjadi tiga bagian. Ketika ekstrak ditambahkan dengan pereaksi Mayer,
endapan putih, coklat kehitaman, dan kuning jingga terbentuk.
b) Uji Flavonoid
c) Uji Tanin
d) Uji Saponin
e) Uji fenol
Sebanyak 0,5 gram ekstrak dan ditambahkan tiga hingga empat tetes FeCl3.
Adanya fenol menunjukkan perubahan warna dari biru kehitaman menjadi hitam
pekat.
Hewan uji yang di di gunakan adalah tikus putih yang berjenis Jantan,
berjumlah 15 ekor yang berat badannya, sekitaran 200-350 gram. Kemudian
dikelompokan menjadi 5 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari
3 ekor. Kelompok 1 Sebelum pengujian hewan uji harus di timbang sesekali
setiap hari.
a. Pengahambat Edema
Data volume edema pada telapak kaki tikus dari seluruh kelompok
perlakuan dihitung persentase edema dan persentase penghambatan edema
dengan rumus mengikuti Saputri dan Zahara (2016):
𝑣𝑡 − 𝑣𝑜 100 𝑜
Edema (0⁄0) = × ⁄𝑜
𝑣0
Keterangan:
Vt = Volume telapak kaki tikus setelah perlakuan
26
𝑎 − 𝑏 100 𝑜
Penghambat Edema (0⁄0) = × ⁄𝑜
𝑎
Keterangan:
a = Edema pada kelompok kontrol negatif (%)
b = Edema pada kelompok zat uji (%)
Penyiapan Suspensi
Natrium Diklofenak
Penyiapan Larautan
karagenan 1%
Uji Alkaloid Uji Flavonoid Uji Tannin Uji Saponin Uji Fenol
Analisis Data
28
DAFTAR PUSTAKA
Altman, R., Bosch, B., Brune, K., Patrignani, P., & Young, C. (2015). Advances
in NSAID development: Evolution of diclofenac products using
pharmaceutical technology. Drugs, 75(8), 859–877.
[Link]
BPTP Papua Barat, 2010. (2014). Mengenal Buah Matoa Lebih Dekat.
Dalimunthe, A., Harahap, U., Silalahi, J., & Satria, D. (2021). Phytochemicals
constituent and anti-pancreatic cancer activity of ethanol extract of litsea
cubeba lour. Fruits. Rasayan Journal of Chemistry, 14(1), 41–45.
[Link]
Hajar, S., Rahmah, W., Putri, E. M., Ressandy, S. S., & Hamzah, H. (2021).
Jurnal Farmasi Sains dan Praktis POTENSI EKSTRAK BUAH MATOA (
29
Maryam, A., Fariba, A., Azita, M., Babak, B., & Tabandeh, S. (2020). The
Effects of Auriculotherapy on Shoulder Pain After a Cesarean Section.
JAMS Journal of Acupuncture and Meridian Studies, 13(5), 157–162.
[Link]
Puspitasari, L. (2017). Dan kadar kortisol tikus jantan galur wistar yang depresi.
30
Rambe, U. K., Nasution, H. M., Mambang, D. E. P., Yuniarti, R., Muslim, U.,
Al, N., A, J. G. I. I., Munandar, H., Universitas, N., Nusantara, M.,
Wasliyah, A., Garu, J., & Medan, I. I. A. (2022). UJI EFEKTIVITAS
ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOL DAUN MATOA ( Pometia pinnata
J . R Forst & G . Forst ) TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN ANTI-
INFLAMMATORY EFFECTIVENESS TEST OF ETHANOL EXTRACT OF
MATOA LEAVES ( Pometia pinnata J . R Forst & G . Forst ) AGAINST
MAL. 2(1), 31–37.
Riansyah, Y., Mulqie, L., & Choesrina, R. (2016). Uji Aktivitas Antiinflamasi
Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar Ungu. Prosiding Penelitian SPeSIA, 1(1),
630–636.
Riyanti, S., Sulastri, L., Rizikiyan, Y., & Prayogo, I. B. (2022). FORMULASI
DAN UJI STABILITAS LOTION EKSTRAK FORMULATION AND
STABILITY OF LOTION ETHANOL EXTRACT OF MATOA FRUIT PEEL
( Pometia pinnata J . R & G . Forst ) CONCENTRATION 1 , 5 % AND 2
%. 3(1), 11–20.
[Link]
Sulastri, L., Suratman, P. P., Indriaty, S., & Hidayati, N. R. (2022). UJI DAYA
HAMBAT EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH MATOA ( Pometia pinnata J
. R & G FORST ) DENGAN METODE CETAK LUBANG TERHADAP
BAKTERI Staphylococcus aureus. 5(2), 142–147.
Trimedona, N., Nurdin, H., Darwis, D., & Efdi, M. (2015). Isolation of
triterpenoid from stem bark of Pometia pinnata, forst & forst. Journal
of Chemical and Pharmaceutical Research, 7(11).