3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Broiler
Broiler adalah ayam yang memiliki kemampuan menghasilkan daging
yang cepat atau kecepatan pertumbuhanya sangat pesat sehingga dapat mencapai
berat tertentu dalam waktu relatif singkat (Rasyaf, 1994). Broiler umumnya
dipanen pada bobot 1,5 kg pada umur 40 hari, saat ini bobot tersebut dapat dicapai
pada umur 32 hari. Umur panen broiler juga dapat ditentukan oleh permintaan
konsumen (Murwani, 2010). Pemeliharaan broiler dibagi menjadi 2 periode yaitu
periode starter dan finisher. Fase starter dimulai sejak hari pertama hingga akhir
minggu ke-3, sedangkan fase finisher dimulai sejak awal minggu ke-4 sampai
ayam siap dijual (Abidin, 2003).
Ayam broiler yang baik mempunyai ciri-ciri bentuk kaki pendek dan tegap,
dada lebar, gerak lamban, temperatur tenang, badan besar, pertumbuhan bulu
cepat, daging yang berlemak, pertumbuhan badan cepat dan lebih efisien dalam
mengubah ransum menjadi daging (Winter dan Funk, 1980). Pada broiler modern
yang memiliki ciri khas pertumbuhan yang semakin cepat ternyata memiliki
beberapa dampak yang kurang baik seperti ascities, gangguan pada kaki, serta
deposisi lemak yang berlebihan, sehingga diperlukan proses seleksi untuk
mengurangi kelemahan-kelemahan tersebut (Murwani, 2010).
Ayam broiler yang masa hidupnya cukup singkat, pertumbuhannya sangat
bergantung pada makanan. Bila makanan yang diberikan baik (kualitas maupun
4
kuantitasnya) maka hasilnya juga baik, tetapi bila sebaliknya maka hasilnya akan
buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pada ayam broiler mencerminkan perlakuan
peternak dalam memberikan pakan dan cara pemeliharaan ayam (Rasyaf, 2003).
2.2. Ransum dan Kebutuhan Nutrisi
Ransum adalah bahan pakan ternak yang tersusun dari dua atau lebih
bahan pakan ternak untuk kebutuhan ternak selama 24 jam yang dapat diberikan
sekali atau dua kali (Lubis, 1992). Bahan-bahan pakan yang biasa digunakan
dalam ransum unggas di Indonesia adalah jagung kuning, dedak halus, bungkil
kelapa, bungkil kacang tanah, bungkil kacang kedelai, tepung ikan, bahan-bahan
pakan berupa butir-butiran atau kacang-kacangan dan hasil ikutan pabrik
pertanian lainya (Anggorodi, 1995).
Menurut Scott et al., (1982), bahwa tujuan penyusunan ransum adalah
untuk mendapatkan pertumbuhan, produksi dan efisiensi yang maksimal. Jull
(1997), menyatakan bahwa dalam menyusun ransum perlu diperhatikan syarat
kecernaan, palatabilitas dan harga ransum, disamping juga diperhatikan kualitas
fisik bahan yang digunakan. Penyusunan ransum unggas perlu diperhatikan
kandungan serat kasar kareana unggas umumnya tidak dapat mencerna serat kasar
secara sempurna.
Unggas mengkonsumsi ransum secara naluriah menyesuaikan diri dengan
kebutuhan energinya (Soeharsono, 1976). Konsumsi ransum dipengaruhi oleh
temperatur lingkungan, genetik, keseimbangan zat-zat pakan, kualitas ransum,
kecepatan pertumbuhan, tingkat produksi, bobot badan, palatabilitas dan tingkat
5
energi ransum. Tingkat energi sangat menentukan banyaknya ransum yang
dikonsumsi, bila energi semakin tinggi menyebabkan penurunan jumlah
konsumsinya, demikian pula sebaliknya (Scott et al., 1982). Ayam mengkonsumsi
ransum sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan energi. Energi yang
dibutuhkan ayam digunakan ayam untuk memenuhi pertumbuhan jaringan tubuh,
produksi, aktifitas dan mempetahankan suhu tubuh (Wahju, 1997).
Ransum dikatakan seimbang apabila mengandung semua zat yang
dibutuhkan oleh ternak dan antara zat yang satu dengan zat yang lainya dalam
perbandinagn yang sesuai (Anggorodi, 1995). Ransum ayam pedaging harus
mengandung energi metabolis sebesar 2900-3200 kkal/kg dengan kadar protein
19-23 % untuk periode starter dan 2900-3200 kkal/kg dengan kadar protein 18-20
% untuk periode finisher (NRC, 1994).
Penyusunan ransum harus memperhatikan perbandingan antara protein dan
energi dalam ransum karena merupakan hal yang penting. Protein dalam ransum
unggas berfungsi sebagai sumber asam amino yang penting bagi tubuh (Wahju,
1997). Anggorodi (1995), menyatakan bahwa kadar protein ransum berhubungan
erat dengan kecepatan pertumbuhan, yang digunakan untuk membentuk jaringan
baru dan mengganti jaringan yang rusak untuk membentuk jaringan yang baru,
memelihara jaringan yang sudah ada, mengganti jaringan yang sudah rusak dan
untuk metaabolisme energi dalam tubuh.
2.3. Gathot
Gathot adalah hasil fermentasi alami ketela kering yang berasal dari Jawa
Indonesia, dibuat secara tradisional, gathot diproduksi oleh masyarakat setempat
6
dan dianggap aman untuk dikonsumsi. Gathot dibuat dengan cara mengupas
singkong, lalu membiarkannya di permukaan tanah atau di atas atap rumah
beberapa minggu atau beberapa bulan sehingga menjadi berwarna hitam di
dalamnya. Warna hitam merupakan salah satu ciri penting gathot (Purwandari et
al., 2014). Menurut Prabawati et al., (2011), Ketela dikupas kulitnya kemudian
dijemur (aerob) terkena air hujan dan sinar matahari dengan mempertahankan
kelembaban selama 1 bulan, sampai area yang hitam tumbuh di dalam ketela
tersebut. Keadaan lembab berasal dari air hujan dimana airnya mengandung
garam, garam sangat selektif untuk menerima jamur yang ada di alam.
Gathot telah terbukti bebas dari aflatoksin B1 (Purwandari, 2000).
Aflatoksin tidak ditemukan dalam semua sampel singkong yang terkontaminasi
oleh A. flavus, oleh karena itu gathot aman untuk dikonsumsi sebagai bahan pakan
(Adjovi et al., 2014). Kandungan energi (EM) dalam gathot dapat menggantikan
peran jagung dalam ransum karena gathot mempunyai kandungan nutrien yang
lebih tinggi dan zat antinutrisi asam sianida (HCN) yang lebih rendah dengan
ketela pohon yang tidak difermentasi (Hartadi et al., 1990). Gathot mempunyai
kandungan energi metabolis yang baik sehingga dapat menjadi pakan alternatif
untuk menggantikan peranan jagung sebagai sumber energi selain harganya yang
murah, pengolahan yang mudah dan mudah didapatkan, gathot mempunyai
kandungan lemak kasar 1,50%, serat kasar 2,80%, protein kasar 1,95%, energi
metabolis 3568 kkal/kg, abu 1,43% dan air 13,25% (Analisis Proksimat
Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Undip, 2015).
7
Gathot diketahui memiliki potensi antioksidan yang cukup tinggi.
Antioksidan tersebut berasal dari fungi yang berada pada gathot yaitu
Acremonium charticola dan Rhizopus oryzae. Kandungan antioksidan pada gathot
yang dihasilkan masing-masig fungi Acremonium charticola sebesar 51,96 µg/ml
dan Rhizopus oryzae sebesar 55,89 µg/ml. Fermentasi diketahui dapat
meningkatkan aktifitas antioksidan dari suatu bahan pakan atau makanan
(Sugiharto et al., 2016).
Sugiharto et al., (2016), menyatakan bahwa fungi yang terlibat dalam
pembuatan gathot selain berpotensi sebagai antioksidan juga mempunyai potensi
sebagai probiotik, sehingga diperlukan studi in vivo lebih lanjut untuk
mengevaluasi kegiatan probiotik pada kesehatan dan performan ayam. Fungi yang
terdapat dalam gathot yaitu berupa kapang dengan strain (A. charticola dan R.
oryzae), adapun jumlah fungi tersebut yaitu 108 CFU/g.
Probiotik merupakan kultur mikroorganisme hidup yang dapat
menggantikan bakteri-bakteri patogen sehingga menciptakan mikrobiota usus
yang sehat dan seimbang. Dijelaskan lebih lanjut probiotik diartikan sebagai
suplemen pakan yang berisi mikrobia hidup (direct feed microbials) baik bakteri,
kapang dan khamir yang mempunyai pengaruh menguntungkan pada hewan inang
dengan memperbaiki keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan. Probiotik
adalah mikroorganisme hidup yang bila dikonsumsi dapat meningkatkan
kesehatan manusia ataupun ternak dengan cara menyeimbangkan mikroflora
dalam saluran pencernaan jika dikosumsi dalam jumlah yang cukup (Murwani,
2008).
8
Menurut Wiryawan (2003), bahwa probiotik dapat berperan dalam
membantu mengoptimalkan fungsi saluran pencernaan untuk mencerna dan
menyerap nutrisi pakan. Probiotik bekerja dengan cara berkompetisi antara bakteri
dengan organisme tertentu atau senyawa lain yang dipakai sehingga bakteri pada
patogen tidak dapat menempel pada permukaan saluran pencernaan atau dan
keluar bersama feses (competitive exclution), sehingga bakteri patogen tidak dapat
melekat dan dikeluarkan dari usus. Untuk dapat berperan sebagai probiotik,
beberapa persyaratan harus dipenuhi diantaranya adalah mempunyai viabilitas
yang tinggi sehingga tetap hidup, tumbuh, dan aktif dalam sistem pencernaan,
tahan terhadap asam, garam empedu dan kondisi anaerob, mampu tumbuh dengan
cepat dan menempel (melakukan kolonisasi) pada dinding saluran pencernaan,
mampu menghambat atau membunuh bakteri patogen pada permukaan usus
(Murwani, 2008).
2.4. Kolesterol
Kolesterol adalah senyawa yang tidak larut dalam air tetapi larut didalam
lemak, kolesterol dalam tubuh diperoleh dari 2 sumber yaitu dari makanan
(kolesterol eksogen) dan sintesis didalam tubuh (kolesterol endogen) (Baraas,
1994). Kolesterol digunakan tubuh sebagai bahan pembentuk hormon, membantu
fungsi vitamin D, bahan untuk membuat atau membangun dinding sel, sebagai
bahan pembuat asam dan garam empedu yang berfungsi untuk mencerna lemak
dan sebagai pembungkus jaringan tubuh (Martin et al., 1992). Peredaranya
melalui darah dan sebagian kembali ke hati untuk diubah menjadi asam empedu
9
dan garam-garamnya (Prakkasi, 1990). Menurut Murwani et al., (2011), bahwa
total kolesterol darah ayam broiler dengan pemeliharaan yang normal antara 94,19
- 135,61 mg/dl. Menurut Basmacioglu dan Ergul (2005), bahwa rata-rata kadar
kolesterol darah ayam ras yaitu 52 - 148 mg/dl.
Kolesterol diproduksi oleh hati, mekanisme kerja kolesterol adalah
kolesterol dibawa oleh lipoprotein yang bernama LDL untuk dibawa ke sel-sel
tubuh yang memerlukan, termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-lain.
Kelebihan kolesterol yang diangkut oleh LDL akan diangkut kembali oleh
lipoprotein yang disebut HDL untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnya
akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam (cairan)
empedu (Lehninger, 1982).
Hargis (1988), yang menyatakan bahwa kolesterol darah banyak
dipengaruhi oleh faktor genetik, pakan dan obat-obatan. Frandson (1992), bahwa
jumlah kolesterol dalam darah tergantung pada sebagian besar pakan yang
dikonsumsi, umur dan jenis kelamin ternak. Montgomery (1993), mengemukakan
bahwa perimbangan besar lemak nabati dalam makanan mengakibatkan
penurunan kolesterol dalam serum, sedangkan lemak hewani dalam jumlah yang
sama memberikan yang berlawanan. Harper et al., (1979), yang menyatakan
bahwa kandungan kolesterol didalam darah sebesar 1/3 berasal dari kolesterol
yang terdapat dalam bahan pakan dan 2/3 berasal dari kolesterol yang disintesis
oleh hati.
10
2.5. Low Density Lipoprotein dan High Density Lipoprotein
Pada unggas dikenal 4 jenis lipoprotein darah yaitu portomikron, very low
density lipoprotein (VLDL), low density lipoprotein (LDL) dan high density
lipoprotein (HDL). Low Density Lipoprotein adalah salah satu bentuk lipoprotein
yang berfungsi mengangkut dan meyimpan kolesterol ke jaringan tubuh
(Murwani, 2010). LDL merupakan lipoprotein yang berperan dalam pengiriman
kolesterol dari hati keseluruh jaringan tubuh, LDL mengandung setengah hingga
dua pertiga kolesterol, penurunan kadar kolesterol darah akan menyebabkan
penurunan kadar LDL karena 65% kolesterol ada dalam bentuk LDL (Murray et
al., 2003). Menurut Menurut Basmacioglu dan Ergul (2005), bahwa rata-rata
kadar LDL darah ayam ras adalah <130 mg/dl.
Bahan pangan yang banyak mengandung banyak kolesterol akan
meningkatkan kadar LDL dalam tubuh (Sitepoe, 1992). Setiap peningkatan kadar
LDL kolesterol selalu diikuti peningkatan kolesterol total dalam tubuh, sehingga
dapat dikatakan kadar LDL kolesterol berhubungan langsung dengn kadar
kolesterol total (Poerjoto, 1992).
Frendson (1992), bahwa jumlah kolesterol dalam darah tergantung pada
sebagian besar pakan yang dikonsumsi, umur dan jenis kelamin ternak. Hasil
kadar LDL yang tidak berbeda nyata dikarenakan hasil kadar kolesterol juga
menunjukan hasil yang tidak berpengaruh nyata, karena 65% kolesterol ada dalam
bentuk LDL. Penurunan kadar kolesterol darah akan menyebabkan penurunan
kadar LDL karena 65% kolesterol ada dalam bentuk LDL, Kolesterol yang
terdapat pada LDL dalam darah juga dipengaruhi oleh kandungan asam lemak
11
dalam pakan yang dikonsumsi (Murray et al., 2003). Jenis makanan yang
dikonsumsi oleh manusia atau hewan dapat mempengaruhi kadar LDL darah
(Montgomery et al., 1993).
High Density Lipoprotein adalah lipoprotein berdensitas tinggi, terutama
mengandung protein, HDL disekresikan oleh hati. HDL mengambil kolesterol
yang berlebih yang ada di dalam jaringan untuk diangkut kembali atau
dikeluarkan dari tubuh (Murray et al., 2003). High Density Lipoprotein
merupakan lipoprotein yang paling berperan dalam pengangkutan kolesterol. HDL
berperan mengumpulkan kelebihan kolesterol dari jaringan tubuh dan
mengembalikanya ke hati kemudian mengeluarkanya bersama garam empedu.
Fungsi HDL adalah mengangkut kolesterol yang berlebih dari jaringan perifer
menuju ke hepar (Hartini dan Okid 2009). Menurut Mustikaningsih (2010), bahwa
kadar HDL yang baik adalah lebih dari 60 mg/dl.
Sesuai dengan pendapat Murray et al., (2003) bahwa penurunan HDL
dapat disebabkan oleh 1) aliran masuknya kolesterol dari lipoprotein yang
potensial kolesterolnya rendah (HDL) menuju membran sel, 2) penggunaan HDL
untuk sintesis senyawa steroid seperti hormon atau garam empedu di hati. Kadar
HDL ataupun LDL darah pada amyam broiler, dapat dipengaruhi oleh berbagai
faktor seperti genetik, lingkungan, terutama makanan, baik komposisi bahan
penyusun ransum atau zat-zat makanan ransum (Saidin, 2000).