Kibble untuk Performa Ayam Broiler
Kibble untuk Performa Ayam Broiler
JUDUL PROGRAM
BIDANG KEGIATAN :
PKM PENELITIAN
DIUSULKAN OLEH :
FAKULTAS PERTANIAN
SURAKARTA
2015
i
ii
DAFTAR ISI
iii
RINGKASAN
Ayam merupakan unggas pemakan biji-bijian dan kebanyakan bentuk
pakan yang sudah ada tidak mengakomodir sifat alamiah tersebut. Bentuk pakan
ayam broiler yang biasa digunakan di Indonesia adalah bentuk crumble, mash dan
pellet. Bahan pakan merupakan aspek terpenting dari segi ekonomi pada
pemeliharaan unggas komersial, hal ini bukan hanya karena pakan merupakan
faktor terpenting untuk respon pertumbuhan ayam, tetapi karena pakan
membutuhkan biaya paling besar dalam siklus produksi. Setiap bentuk pakan
memiliki efek yang berbeda terhadap performa ayam broiler Pemberian pakan
dalam bentuk berbeda adalah salah satu strategi pemanfaatan nutrisi dan dapat
dicapai dengan memanipulasi ukuran partikel pakan. Sehingga bentuk pakan yang
efisien saat ini sangat dibutuhkan untuk menghasilkan performa ayam broiler
dengan hasil paling optimal.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam broiler sebanyak
100 ekor. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) untuk mengetahui adanya pengaruh perlakuan terhadap
peubah yang diamati dengan menggunakan empat perlakuan dan masing-masing
perlakuan diulang sebanyak lima kali. P1 = mash, P2 = crumble, P3 = pellet,
P4 = kibble. Setiap ulangan terdiri dari 5 ekor ayam broiler.
Penelitian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap adaptasi, tahap perlakuan
dan tahap pengambilan data. Tahap adaptasi dimulai dengan menimbang DOC
untuk mengetahui bobot awal. Kemudian ayam diberikan air gula sebanyak 20
gram/liter air (Setiawan dan Sujana, 2009) dan ditempatkan di kandang brooder.
Selama masa adaptasi dari umur 1 sampai 7 hari, ayam diberi pakan dengan
protein 23% tanpa suplementasi secara ad libitum. Air minum diberikan secara ad
libitum. Penimbangan bobot badan dilakukan lagi pada hari ke-8 untuk
menentukan bobot awal perlakuan.
Tahap perlakuan dimulai ketika ayam berumur 8 hari. Ayam
didistribusikan ke petak perlakuan secara acak. Ayam sebanyak 100 ekor dibagi
menjadi 20 unit perlakuan. Ayam diadaptasikan dengan ransum perlakuan selama
dua hari dengan cara mencampurkan ransum adaptasi dan ransum perlakuan
dengan perbandingan 50:50%. Ransum perlakuan dan air minum diberikan secara
ad libitum. Sebanyak 2 ekor setiap unit percobaan dipotong pada umur 36 hari
sebagai sampel pengukuran karakteristik karkas. Peubah yang diamati adalah :
konsumsi ransum, pertambahan bobot badan harian, feed conversion ratio, rasio
efisiensi protein, bobot potong, karkas, dada dan lemak abdominal.
Manfaat dari penelitian ini adalah pengguna dapat mengkaji bentuk pakan
kibble terhadap performa dan karakteristik karkas ayam broiler. Bentuk kibble
diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pakan sehingga efisiensi usaha dan
margin keuntungan peternak ayam broiler meningkat.
iv
1
BAB 1. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Produktivitas ayam broiler dipengaruhi 3 faktor, yaitu: bibit, pakan dan
manajemen pemeliharaan. Bahan pakan merupakan aspek terpenting dari segi
ekonomi dalam pemeliharaan unggas komersial, hal ini bukan hanya karena pakan
merupakan faktor terpenting untuk respon pertumbuhan ayam, tetapi karena
pakan membutuhkan biaya paling besar dalam siklus produksi (Ávila et al., 2003).
Peningkatan performa ayam broiler melalui manajemen pakan dapat dilakukan
dilakukan dengan meningkatkan kualitas nutrien atau memperbaiki manajemen
pakan. Perbaikan manajemen pakan dapat dilakukan dengan cara mencari bentuk
pakan yang efisien untuk ayam broiler.
Selain kandungan nutrien pakan yang perlu diperhatikan dalam
manajemen pakan adalah bentuk pakan, karena bentuk pakan dapat memengaruhi
palatabilitas dan performa ayam broiler. Menurut Retnani et al. (2011) bentuk
ransum disesuaikan dengan jenis, umur dan kondisi ternak. Ayam dapat memilih
ukuran berbeda dari partikel pakan sejak ayam berusia sangat muda. Bentuk dan
struktur paruh menjelaskan ukuran dan tipe pakan yang dapat ditelan sehingga
granulometri dari partikel pakan sangat penting untuk regulasi dari konsumsi
pakan tersebut (Neves et al., 2014). Ayam merupakan unggas pemakan biji-bijian
dan kebanyakan bentuk pakan yang sudah ada tidak mengakomodir sifat alamiah
tersebut. Menurut berbagai macam penelitian yang telah dilakukan, bentuk pakan
yang saat ini sudah biasa digunakan oleh peternak terbukti memiliki efek yang
berbeda terhadap performa ayam broiler (Zakeri et al., 2013).
Bentuk pakan ayam broiler yang biasa digunakan di Indonesia adalah
bentuk crumble, mash dan pellet. Pemberian pakan dalam bentuk berbeda adalah
salah satu strategi pemanfaatan nutrisi dan dapat dicapai dengan memanipulasi
ukuran partikel pakan (Engberg et al., 2002). Sehingga bentuk pakan yang efisien
saat ini sangat dibutuhkan untuk menghasilkan performa ayam broiler dengan
hasil paling optimal. Menurut Jahan et al. (2006) ransum dalam bentuk crumble
menghasilkan produksi lebih baik daripada ransum bentuk mash dan pellet pada
broiler komersil selama umur 21-56 hari, selain itu ransum dalam bentuk crumble
dan pellet juga lebih efisien dari pada ransum mash.
Menurut Zakeri et al. (2013) ayam broiler yang diberi pakan berbentuk
crumble menghasilkan PBB yang lebih baik dibandingkan mash, tetapi PBB ayam
broiler yang diberi pakan antara mash dan pellet maupun crumble dan pellet tidak
terjadi perbedaan yang signifikan. Pakan berbentuk crumble dan pellet
menghasilkan Feed Convertion Ratio (FCR) ayam broiler yang lebih baik
dibandingkan mash. Ayam broiler yang diberi pakan dalam jumlah yang sama
2
dengan bentuk crumble dan pellet tumbuh lebih cepat dibandingkan pemberian
pakan dengan bentuk mash .
Penelitian yang dilakukan oleh Mirghelenj et al. (2009) menunjukkan
bahwa pemberian pakan dalam bentuk pellet atau crumble-pellet menyebabkan
peningkatan feed intake dan pertambahan bobot badan ayam broiler secara
signifikan. Mash memiliki efisiensi konversi pakan paling rendah dibandingkan
pakan dalam bentuk lain. Indeks performa (IP) dan jumlah produksi tertinggi
ditunjukkan oleh pemberian pakan pellet atau crumble-pellet dibandingkan
dengan mash. Bobot gizzard dan ceca meningkat dengan pemberian pakan pellet
dan crumble-pellet daripada dengan pakan berbentuk mash, tetapi bobot bagian
gastrointestinal tidak mengalami dampak signifikan dengan pemberian bentuk
pakan yang berbeda. Jahan (2006) menyatakan bahwa FCR tertinggi ditunjukkan
ayam broiler yang diberi pakan mash dan ayam broiler dengan pakan crumble
memiliki FCR terendah. IP dan angka produksi yang dihasilkan oleh pakan
crumble dan pellet relatif sama sedangkan mash memiliki IP dan angka produksi
yang lebih rendah.
Bentuk pakan yang sangat jarang diproduksi oleh produsen pakan
komersial di Indonesia adalah bentuk pakan kibble. Kibble merupakan campuran
bentuk pakan pellet dan biji-bijian yang dipecah. Biji-bijian yang biasa digunakan
adalah jagung sebagai sumber energi. Warna kuning jagung digunakan untuk
menarik perhatian ayam broiler dan mengakomodir sifat alamiah ayam sebagai
pemakan biji-bijian sehingga konsumsi pakan diharapkan dapat meningkat dan
performa ayam broiler akan semakin baik. Bentuk pakan kibble sangat jarang
diketahui dan digunakan oleh peternak pada umumnya, biasanya bentuk pakan ini
dimanfaatkan untuk pakan ayam petelur. Bentuk pakan kibble adalah bentuk
campuran antara pellet dan biji-bijian yang dipecah sehingga diharapkan dapat
meningkatkan konsumsi pakan dan pada akhirnya dapat meningkatkan performa
ternak serta meningakatkan kualitas karkas ayam broiler.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh bentuk pakan
terhadap performa dan karakteristik karkas ayam broiler.
C. Urgensi Penelitian
Urgensi penelitian ini adalah mengetahui kelebihan dari pakan berbentuk
kibble dibandingkan bentuk pakan lain terhadap performa dan karakteristik
karkas ayam broiler. Pemberian pakan berbentuk kibble diharapkan dapat
meningkatkan performa ayam broiler dengan karakteristik karkas yang baik.
3
A. Ayam Broiler
Ayam mempunyai klasifikasi sebagai ayam pedaging dan petelur dibagi
menurut komoditi utama yang dapat dihasilkan. Ayam pedaging adalah ayam
yang menghasilkan komoditi utama berupa daging dan diharapkan
pertumbuhannya mencapai bobot badan tertentu dalam waktu pemeliharaan yang
lebih cepat dari jenis ayam lainnya. Ayam yang memenuhi kriteria ini adalah
ayam broiler yang mampu menghasilkan bobot badan seberat 1,6-1,8 kg dalam
usia 5-6 minggu (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Bobot badan ayam broiler
berumur 5 minggu adalah 1,9 kg dengan nilai konversi ransum 1,6 sedangkan
bobot badan ayam berumur 6 minggu adalah 2,6 kg dengan nilai konversi ransum
1,7 (Aviagen, 2007). Ayam broiler memiliki pertumbuhan yang sangat cepat
karena memiliki kemampuan mengubah makanan menjadi daging dengan sangat
efisien. Kemampuan ini akan ditunjukkan pada temperatur 19-21oC dan dengan
nutrisi yang tercukupi sesuai standar dengan kualitas pakan yang baik
(Wijayanti et al., 2011).
Ayam broiler adalah strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki
karakteristik ekonomis yang mempunyai pertumbuhan cepat dengan konversi
pakan yang rendah (Suprijatna et al., 2005). Ayam broiler memiliki bentuk badan
segi empat dan dalam, bulu luas dan lebar dengan alas dada bulat, shank bulat dan
tebal (Yuwanta, 2004). Ayam broiler yang baik adalah gerakannya lincah, mata
dan muka yang cerah, berdiri tegak, berbulu cerah, memiliki nafsu makan yang
baik dan anus tidak kotor.
Ayam broiler termasuk ternak yang mempunyai tingkat efisiensi yang
tinggi dalam mengkonversi ransum menjadi daging. Produsen menghadapi
masalah dalam hal harga ransum ternak unggas yang semakin mahal karena biaya
produksi yang dikeluarkan untuk ternak unggas komersial seperti ayam broiler
menyita biaya produksi sekitar 60-70%. Upaya untuk menekan biaya produksi
masalah ransum yaitu dengan membatasi pemberian ransum, karena ayam broiler
cenderung mengkonsumsi ransum melebihi dari kuantitas yang diperlukan
(Zulfanita et al., 2011).
B. Ransum Ayam Broiler
Ransum merupakan unsur utama dari total biaya produksi dan merupakan
salah satu faktor penentu keberhasilan dalam usaha peternakan, khususnya ayam.
Penggunaan bahan pakan alternatif atau bahan pakan non konvensional perlu
sekali diupayakan guna menekan biaya produksi. Penggunaan bahan pakan
alternatif sebagai sumber ransum harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi
ternak tersebut agar diperoleh produksi yang optimal. Pemilihan bahan ransum
5
yang tepat akan menghasilkan ransum yang berkualitas dan mampu memenuhi
kebutuhan ayam broiler. Ransum tidak boleh mengandung unsur-unsur yang
dapat mempengaruhi performa dari pertumbuhan ternak maupun konsumen yang
akan mengkonsumsi hasil ternak tersebut (Allama et al., 2012).
Ransum yang baik adalah memiliki sifat palatable atau disukai ternak, tidak
mudah rusak selama penyimpanan, memiliki kandungan nutrisi yang baik, mudah
dicerna, menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi dan memiliki harga
yang terjangkau. Bentuk ransum disesuaikan dengan jenis, umur dan kondisi
ternak. Kandungan zat makanan ransum broiler starter yaitu energi metabolis
sebesar 3141,05 kkal/kg, protein kasar sebesar 23,74%, serat kasar sebesar 4,38%,
kalsium (Ca) sebesar 1,06%, fosfor (P) total sebesar 0,81%, lysin sebesar 1,10%
dan metionin sebesar 0,50% (Retnani et al., 2011).
Tabel. 1 Kebutuhan Nutrien Ayam Broiler
Starter Finisher
Nutrien
(1-21 hari) (22-42 hari)
Energi metabolis (kkal/kg) 2800-3200 2900-3200
Protein kasar (%) 23,00 20,00
Lemak kasar (%) 6,00 6,00
Serat kasar (%) 4,00 5,00
Ca (%) 1,00 0,90
P tersedia (%) 0,45 0,35
Lisin (%) 1,10 1,00
Metionin (%) 0,50 0,38
Sumber : NRC (1994)
Ayam broiler pada fase starter, grower dan finisher memiliki tingkat
kebutuhan nutrisi dalam ransum pakan yang berbeda. Kandungan zat makanan
ransum broiler starter yaitu kadar air maksimal 14%, protein kasar minimal 19%,
lemak kasar maksimal 7,4%, serat kasar maksimal 6%, abu maksimal 8%, kalsium
(Ca) sekitar 0,9-1,2%, fosfor (P) total sekitar 0,6-1%, fosfor (P) tersedia minimal
0,4%, total aflatoksin maksimal 50 µg/kg, energi metabolis (ME) minimal 2900
kkal/kg, lysin minimal 1,1%, metionin minimal 0,4% dan metionin + sistin
minimal 0,6%. Kandungan zat makanan ransum broiler finisher yaitu kadar air
maksimal 14%, protein kasar minimal 18%, lemak kasar maksimal 8%, serat
kasar maksimal 6%, abu maksimal 8%, kalsium (Ca) sekitar 0,9-1,2%, fosfor (P)
total sekitar 0,6-1%, fosfor (P) tersedia minimal 0,4%, total aflatoksin maksimal
50 µg/kg, energi metabolis (ME) minimal 2900 kkal/kg, lysin minimal 0,9%,
metionin minimal 0,3% dan metionin + sistin minimal 0,5% (SNI, 2006).
C. Bentuk Pakan Ayam Broiler
Ayam broiler yang diberi pakan dalam bentuk pellet dan crumble memiliki
feed intake yang lebih besar dibandingkan pemberian ransum dalam bentuk mash.
6
Pemberian pakan dalam bentuk pellet dapat meningkatkan efisiensi pakan ayam
broiler sampai dengan 5,9%, selain itu pemberian pakan crumble dan pellet dapat
memperbaiki konversi pakan sampai dengan 1,5% dibandingkan pakan ayam
broiler berbentuk mash. Pertambahan bobot badan (PBB) ayam broiler yang diberi
pakan berbentuk mash, pellet maupun crumble tidak memiliki perbedaan yang
signifikan pada fase starter, sedangkan pada fase grower dan fase finisher terjadi
perbedaan yang signifikan antara mash-crumble, crumble menghasilkan PBB
yang lebih baik dibandingkan mash, tetapi PBB antara mash-pellet maupun
crumble-pellet tidak terjadi perbedaan yang signifikan. Pakan berbentuk crumble
dan pellet menghasilkan Feed Convertion Ratio (FCR) ayam broiler yang lebih
baik dibandingkan mash. Ayam broiler yang diberi pakan dalam jumlah yang
sama dengan bentuk crumble dan pellet tumbuh lebih cepat dibandingkan
pemberian pakan dengan bentuk mash (Zakeri et al., 2013).
Pemberian ransum dalam bentuk pellet atau crumble-pellet menyebabkan
peningkatan feed intake dan pertambahan bobot badan ayam broiler secara
signifikan. Mash memiliki efisiensi konversi pakan paling rendah dibandingkan
ransum pakan dalam bentuk lain. Perbedaan kriteria performa ayam broiler
tertinggi terdapat pada fase finisher. Indeks performa (IP) dan jumlah produksi
tertinggi ditunjukkan oleh pemberian pakan pellet atau crumble-pellet
dibandingkan dengan mash. Bobot gizzard dan ceca meningkat dengan pakan
pellet dan crumble-pellet daripada mash dimana bobot bagian gastrointestinal lain
hasil karkas yang diproduksi tidak mengalami dampak signifikan dengan
pemberian bentuk pakan yang berbeda (Mirghelenj dan Golian, 2009). Jahan
(2006) menyatakan bahwa FCR tertinggi ditunjukkan ayam broiler yang diberi
pakan mash dan ayam broiler dengan pakan crumble memiliki FCR terendah. IP
dan angka produksi yang dihasilkan oleh pakan crumble dan pellet relatif sama
sedangkan mash memiliki IP dan angka produksi yang lebih rendah.
D. Performa Ayam Broiler
Ensminger (1991) menyatakan bahwa pertumbuhan adalah suatu proses
peningkatan ukuran tulang, otot, organ dalam dan bagian tubuh lainnya yang
terjadi sebelum lahir dan sesudah lahir sampai mencapai tubuh dewasa. Salah satu
kriteria untuk mengukur pertumbuhan adalah dengan pengukuran pertambahan
bobot badan. Pertumbuhan pada ayam broiler dimulai dengan perlahan-lahan
kemudian berlangsung cepat sampai dicapai pertumbuhan maksimum setelah itu
menurun kembali, hingga akhirnya terhenti. Pertumbuhan yang paling cepat
terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan
dan terhenti sampai mencapai dewasa (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
Konversi ransum didefinisikan sebagai banyaknya ransum yang
dihabiskan untuk menghasilkan setiap kilogram pertambahan bobot badan. Angka
konversi ransum yang kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan untuk
menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit
7
3. Vaksin
Vaksin yang diberikan selama pemeliharaan ayam broiler adalah ND B1,
Gumboro dan ND La Sota.
4. Kandang dan Peralatan
a. Kandang
Penelitian ini menggunakan 20 petak kandang litter dengan ukuran
panjang, lebar, dan tinggi berturut-turut adalah 0,9×0,9×0,6 m.
b. Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah:
1) Tempat pakan dan minum
Tempat pakan yang digunakan merupakan tempat pakan yang terbuat dari
bahan plastik sebanyak 20 buah yang ditempatkan satu buah pada setiap petak
11
kandang. Tempat minum yang digunakan terbuat dari bahan plastik sebanyak 20
buah yang ditempatkan satu buah pada setiap petak kandang.
2) Higrometer
Higrometer yang digunakan adalah higrometer digital untuk mengukur
suhu dan kelembaban di dalam dan diluar kandang.
3) Timbangan
Timbangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan digital
berkapasitas lima kg dengan kepekaan 1 g untuk menimbang pakan dan ayam
broiler serta timbangan dengan kapasitas 400 g dan kepekaan 0,001 g untuk
menimbang betain dan metionin.
4) Brooder
Brooder adalah alat pemanas berupa gassolec yang digunakan sebagai
penghangat ketika DOC datang sampai berumur tujuh hari (selama masa
adaptasi).
C. Tahapan Penelitian
1. Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) untuk mengetahui adanya pengaruh perlakuan terhadap
peubah yang diamati dengan menggunakan empat perlakuan dan masing-masing
perlakuan diulang sebanyak lima kali. P1 = mash, P2 = crumble, P3 = pellet, P4 =
kibble. Setiap ulangan terdiri dari 5 ekor ayam broiler.
2. Persiapan Kandang
Tahap persiapan kandang meliputi pembersihan, pembuatan petak
kandang, pengapuran dan desinfeksi. Peralatan kandang seperti tempat pakan dan
minum dicuci kemudian direndam dalam larutan antiseptik dan dikeringkan di
bawah sinar matahari. Dinding kandang, lantai kandang, kandang petak, tempat
pakan dan minum didesinfeksi dengan Rodalon yang berdosis 15 ml dalam 10
liter air. Desinfeksi bertujuan untuk menjaga sanitasi kandang dari mikrobia
patogen. Kandang brooder disiapkan untuk memelihara DOC sampai umur satu
minggu sebelum diberi pakan perlakuan.
3. Penentuan Petak Kandang
Penentuan petak kandang dilakukan secara acak yaitu dengan cara
pengundian.
4. Penyusunan Ransum
Penyusunan ransum dilakukan dengan cara mencampur bahan-bahan yang
mempunyai proporsi terkecil terlebih dahulu kemudian baru bahan-bahan yang
mempunyai proporsi besar agar pencampurannya homogen. Minyak kelapa
dicampurkan setiap tiga hari sekali untuk menghindari ketengikan.
12
5. Pembuatan Pellet
a. Pellet dengan jagung (P2 dan P3)
Pembuatan pellet terdiri dari proses pencetakan, pendinginan dan
pengeringan. Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan
pergudangan. Proses penting dalam pembuatan pellet adalah pencampuran
(mixing), pengaliran uap (conditioning), pencetakan (extruding) dan pendinginan
(cooling). Proses mixing adalah pencampuran bahan pakan sesuai dengan susunan
ransum basal yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ayam broiler yang terdiri dari
jagung kuning 55,11% bekatul 8 %, bungkil kedelai 23,55%, tepung ikan 8%,
minyak kelapa 3,9 %, DL-metionin 0,09, Dikalsium fosfat 0,30%, batu kapur
0,60%, premix 0,20% dan NaCl 0,25% secara merata dan homogen, pakan ini
masih berbentuk mash yang merupakan perlakuan 1 (P1). Proses selanjutnya
adalah conditioning dengan cara dengan bantuan steam boiler yang uapnya
diarahkan ke dalam campuran pakan.
Proses conditioning adalah proses pemanasan dengan uap air pada bahan
yang ditujukan untuk gelatinisasi dan melunakkan bahan agar mempermudah
pencetakan, membuat pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit
penyakit, menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat; pakan
menjadi lebih lunak sehingga ternak mudah mencernanya; menciptakan aroma
pakan yang lebih merangsang nafsu makan ternak. Penguapan tidak boleh
dilakukan di atas suhu 80oC. Selama proses kondisioning terjadi penurunan
kandungan bahan kering sampai 20% akibat peningkatan kadar air bahan dan
menguapnya sebagian bahan organik. Proses kondisioning akan optimal bila kadar
air bahan berkisar 15 ± 18%. Kadar air yang lebih dari 20% akan menurunkan
kekentalan larutan gel hasil gelatinisasi (Pujianingsih, 2006). Setelah proses ini
dilakukan pencetakan pellet dengan ukuran 1,2 cm (0,48 inci) menggunakan
cetakan pakan manual.
Proses pendinginan (cooling) merupakan proses penurunan temperatur
pelet dengan menggunakan aliran udara sehingga pelet menjadi lebih kering dan
keras. Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam
pakan menjadi kurang dari 14%, sesuai dengan syarat mutu pakan ternak pada
umumnya. Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran dengan
bantuan sinar matahari dan diangin-anginkan atau menggunakan mesin.
Pakan yang sudah terbentuk nantinya akan dipecah lagi menjadi pakan
berbentuk crumble yang merupakan perlakuan P2 dan masih dalam bentuk pellet
yang merupakan perlakuan P3.
b. Pellet tanpa jagung
Pembuatan pellet terdiri dari proses pencetakan, pendinginan dan
pengeringan. Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan
pergudangan. Proses penting dalam pembuatan pellet adalah pencampuran
13
f. Bobot Karkas
Karkas ayam diperoleh dari hasil pemotongan dikurangi bulu, organ
pencernaan, organ reproduksi, limpa, trakea, kepala, leher, kaki, hati, jantung dan
lemak abdominal (Sun et al., 2008).
g. Bobot Dada
Karkas unggas bagian dada merupakan daging yang menempel pada
tulang sternum. Bobot bagian dada diperoleh dengan menimbang bagian dada
dan, dinyatakan dalam satuan gram (Swatland, 1984).
h. Kandungan Lemak Abdominal
Kandungan lemak abdominal diperoleh dari lemak didalam rongga perut
termasuk disekitar organ pencernaan (Setiawan dan Sujana, 2009), dinyatakan
dalam satuan gram.
D. Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisis
variansi (ANOVA). Apabila hasil analisis variansi terdapat pengaruh perlakuan
maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) untuk
mengetahui perbedaan antar perlakuan (Yitnosumarto, 1993).
16
A. Anggaran Biaya
Tabel 3. Anggaran Biaya Penelitian
No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)
3 Perjalanan 3.125.000
4 Lain-lain 1.875.000
Jumlah 12.500.000
B. Jadwal Kegiatan
Tabel 4. Jadwal Kegiatan Penelitian
Tahapan Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4
Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Penelitian
Persiapan
X X
Penelitian
Analisis
Proksimat Bahan X
Pakan Ransum
Masa
X X X X X X X
Pemeliharaan
Pengamatan dan
X X X X X X X
Pengambilan Data
Analisis Data X X
Laporan Hasil
X X X
Penelitian
Seminar Nasional X
Publikasi
X
Penelitian
17
DAFTAR PUSTAKA
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari dijumpai
ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Hibah Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian “
Kibble sebagai Strategi Peningkatan Performa dan Karakteristik Karkas Berbasis
Habitus Alamiah Ayam Broiler”.
Surakarta, 30 September 2015
A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap Mela Purnaningrum
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Program Studi Peternakan
4 NIM H0513086
5 Tempat dan Tanggal Lahir Sragen, 1 Mei 1995
6 Alamat Rumah Candi Rt 07/IV, Gemolong,
Sragen
7 E-mail purnaningrum_mela@[Link]
8 Nomor Telepon/HP 085647118795
B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMK
Institusi SMP SMK
SD Negeri IV
Negeri 2 Negeri 1
Gemolong
Gemolong Miri
Jurusan - - Multimedia
Tahun
2001-2007 2007-2010 2010-2013
Masuk/Lulus
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari dijumpai
ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Hibah Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian “
Kibble sebagai Strategi Peningkatan Performa dan Karakteristik Karkas Berbasis
Habitus Alamiah Ayam Broiler”.
22
A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap Bin Mikuwati
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Program Studi Peternakan
4 NIM H0514021
5 Tempat dan Tanggal Lahir Klaten, 05 Januari 1996
6 Alamat Rumah Dk. Trip Rt.03/Rw.01, Bolali,
Wonosari, Klaten
7 E-mail binmikuawti@[Link]
8 Nomor Telepon/HP 085647367102
B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Institusi SMP N 1 SMA N 1
SD 1 Kagokan
Wonosari Wonosari
Jurusan - - IPA
Tahun
2002/2008 2008/2011 2011/2014
Masuk/Lulus
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari dijumpai
ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Hibah Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian “
Kibble sebagai Strategi Peningkatan Performa dan Karakteristik Karkas Berbasis
Habitus Alamiah Ayam Broiler”.
23
A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap Aksi
2 Jenis Kelamin Perempuan
3 Program Studi Peternakan
4 NIM H0514008
5 Tempat dan Tanggal Lahir Tanjung Serang, 26 Februari
1996
6 Alamat Rumah Dusun I RT.003 Desa Tanjung
Serang, Kayuagung, Ogan
Komering Ilir, Palembang
7 E-mail aksiqsii@[Link]
8 Nomor Telepon/HP 085789100194
B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Institusi SD N 2 Tanjung SMP N 6 SMA N 1
Serang Kayuagung Kayuagung
Jurusan - - IPA
Tahun
2002/2008 2008/2011 2011/2014
Masuk/Lulus
Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari dijumpai
ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi.
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Hibah Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian
“Kibble sebagai Strategi Peningkatan Performa dan Karakteristik Karkas Berbasis
Habitus Alamiah Ayam Broiler”.
24
B. Riwayat Pendidikan
SD SMP SMA
Institusi SD SLTPNegeri 15 SMU Negeri 2
WerguWetan 02 Semarang Semarang
Kudus
Jurusan IPA
Tahun 1989/1995 1995/1998 1998/2001
Masuk/Lulus
Paten
6 2012 Optimasi Produktivitas Burung Puyuh (Coturnix Penelitian 115
coturnix japonica) melalui Transfer Gugus Unggulan
Metil dari Betain dalam Pakan Perguruan
Tinggi
7 2012 Pemanfaatan Ekstrak Kulit Manggis (Garnicia Hibah 41.5
mangostana L.) sebagai Feed Aditif Alami Bersaing
Untuk Meningkatkan Kualitas dan Masa
Simpan Daging Ayam Broiler
8 2013 Optimasi Kandungan Protein dan Energi Penelitian 75
Pakan Ayam Broiler Untuk Daerah Tropis Unggulan
Melalui Suplementasi Dengan Donor Gugus Perguruan
Metil Tinggi
9 2014 The Effect of Protein Levels and Methyl Hibah Peneliti 19
Group Donors Supplementation on Utama DIPA
Nutrient Digestibility, Performance and PNBP UNS
Carcass Characteristics of Broiler Chicken
Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi salah satu
persyaratan dalam pengajuan Hibah Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian
“Kibble sebagai Strategi Peningkatan Performa dan Karakteristik Karkas Berbasis
Habitus Alamiah Ayam Broiler”.
1. Peralatan Penunjang
Material Justifikasi Kuantitas Harga Jumlah (Rp)
Pemakaian Satuan
(Rp)
Timbangan Penimbangan 1 Unit 300.000 300.000
Ransum
Kandang Pemeliharaan 20 Unit 20.000 400.000
ayam broiler
Tempat Pemeliharaan 20 Unit 60.000 1.200.000
pakan dan ayam broiler
minum
Nampan Karkasing ayam 20 Paket 15.000 300.000
Seng/Chick Perawatan ayam 20 Unit 25.000 500.000
Guard broiler
Pisau Karkasing ayam 5 Unit 10.000 50.000
Lampu Pemeliharaan 20 Unit 15.000 300.000
pemanas ayam broiler
Kabel Pemeliharaan 15 Meter 5.000 75.000
ayam broiler
SUB TOTAL (Rp) 3.125.000
3. Perjalanan
4. Lain-lain
Material Justifikasi Kuantitas Harga Jumlah (Rp)
Pemakaian Satuan (Rp)
Seminar Seminar 2 Orang 400.000 800.000.
penelitian
sebagai
pemakalah
Fotocopy + Pencatatan Data 1 Paket 150.000 150.000
alat tulis
Pembuatan Pembuatan 3 Paket 75.000 225.000
proposal dan laporan
laporan pertanggung
pertanggung jawaban
jawaban kegiatan PKM
Publikasi Publikasi 1 Buah 700.000 700.000
jurnal penelitian
nasional
terakreditasi
SUB TOTAL (Rp) 1.875.000
Total (Keseluruhan) 12.500.000
32