0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan16 halaman

Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana AKDR

kb iud

Diunggah oleh

durotul mufidah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan16 halaman

Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana AKDR

kb iud

Diunggah oleh

durotul mufidah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEBIDANAN KELUARGA BERENCANA METODE AKDR DI


PUSKESMAS BUARAN

Disusun untuk memenuhi Target Praktik Stage Keluarga Berencana

Oleh:
DUROTUL MUFIDAH
NIM P1337424823368

PROGRAM STUDI PROFESI BIDAN JURUSAN KEBIDANAN


POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
2023 / 2024
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana metode AKDR


telah diperiksa dan disahkan pada tanggal

Semarang, 2024

Pembimbing Klinik Praktikan

Eti Widyaningsih, [Link] Durotul Mufidah


NIP. 19770409 200604 2 006 NIM. P1337424823368

Mengetahui
Pembimbing Institusi

Suwanti,[Link]., [Link]
NIP. 197805122002122002
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian AKDR
AKDR adalah alat kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus berbentuk spiral
(Lippes Loop) atau berbentuk lain (Cu T 380 A) yang terpasang didalam
rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau bidan. (Saifudin, 2010)

B. Jenis AKDR
1. Lippes Loop
Lippes Loop, terbuat dari polyethylene (suatu plastik inert secara biologik)
ditambah Barium Sulfat. Lippes loop ada empat macam yaitu :
a. Lippes Loop A
Panjang 26,2 mm, lebar 22,2 mm, benang biru, satu titik pada pangkal
AKDR dekat benang ekor.
b. Lippes Loop B
Panjang 25,2 mm, lebar 27,4 mm, 2 benang hitam, bertitik 4.
c. Lippes Loop C
Panjang 27,5 mm, lebar 30,0 mm, 2 benang kuning, bertitik 3.
d. Lippes Loop D
Panjang 27,5 mm, lebar 30.0 mm, 2 benang putih, bertitik 2. Lippes
Loop ini dapat bertahan sampai menopause, sepanjang tidak ada
keluhan (Hartanto, 2010)
2. CuT 380 A
Panjang 36 mm, lebar 32 mm, 314 mm2 kawat Cu pada batang vertikal, 2
selubung Cu seluas masing-masing 33 mm2 pada masing-masing lengan
horizontal. Daya kerja 8 tahun atau sampai 10 tahun. (Hartanto, 2010)
3. Nova-T
Panjang 32 mm, lebar 32 mm, 200 mm2 luas permukaan Cu dengan inti
Ag di dalam kawat Cu-nya. Daya kerja 5 tahun. (Hartanto, 2010)
4. AKDR dengan progestin
Jenis AKDR yang mengandung hormone steroid adalah Prigetase yang
mengandung Progesteron dan Mirena yang mengandung Levonorgestrel.
(Saifuddin, 2010)
C. Mekanisme Kerja
AKDR akan berada dalam uterus, bekerja terutama mencegah terjadinya
pembuahan (fertilisasi) dengan menghalangi bersatunya ovum dengan sperma,
mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopi dan menginaktifasikan
sperma. Ada beberapa mekanisme cara kerja AKDR sebagai berikut :
1. Timbulnya reaksi radang lokal di dalam cavum uteri sehingga
implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu. Disamping itu, dengan
munculnya leokosit, makrofag, dan sel plasma yang dapat mengakibatkan
lysis dari spermatozoa atau ovum dan blastocyt.
2. Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan
terhambatnya implantasi.
3. Gangguan atau terlepasnya blastocyt telah berimplantasi didalam
endometrium
4. Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba fallopii.
5. Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri.
6. Pemadatan endometrium oleh leokosit, makrofag, dan limfosit
menyebabkan blastokis dirusak oleh makrofag dan balstokis tidak dapat
melakukan nidasi.
7. Ion Cu yang dikeluarkan AKDR dengan Cupper menyebabkan
gangguan gerak spermatozoa sehingga mengurangi kemampuan untuk
melakukan konsepsi (Hartanto, 2010).

D. Cara Penyimpanan
Kondisi penyimpanan : Lindungi dari kelembaban, sinar matahari langsung,
suhu 15-30°C. Masa kadaluwarsa tergantung dari jenis AKDR yang dipasang.
AKDR jangan digunakan apabila kemasan steril sudah rusak atau terbuka.
Efektifitas AKDR Cu tidak berkurang bila Cu-nya terlihat gelap atau ada
noda/ bintik hitam (Hartanto, 2010).

E. Efektifitas Pemakaian AKDR


Efektifitas metode AKDR yaitu 0,6 – 0,8 kehamilan per 100 perempuan
selama satu tahun pertama penggunaan. (Saifuddin, 2010)
1. Efektifitas dari AKDR dinyatakan dalam rangka kontinuitas yaitu
beberapa lama AKDR tetap berada di dalam uterus tanpa:
a. Ekspulsi spontan.
b. Terjadinya kehamilan
c. Pengangkutan / pengeluaran karena alasan-alasan medis
atau pribadi.

2. Efektifitas dari bermacam-macam AKDR tergantung pada :


a. AKDR-nya yaitu ukuran, bentuk, mengandung Cu atau
Progesterone.
b. Akseptor yaitu umur, paritas, frekuensi senggama.
3. Dari faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor yaitu umur,
dan paritas, diketahui :
a. Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi
dan pengangkatan/pengeluaran AKDR.
b. Makin muda usia, terutama pada nulligravida, makin
tinggi angka ekspulsi dan pengankatan/pengeluaran AKDR.
Dari uraian diatas, maka efektifitas dari AKDR tergantung pada pasien dan
medis, termasuk kemudahan insersi, pengalaman pemasang, kemungkinan
ekspulsi dari pihak akseptor, kemampuan akseptor untuk mengetahui
terjadinya ekspulsi dan kemudahan untuk mendapatkan pertolongan medis.
(Hartanto, 2010)

F. Keuntungan Pemasangan AKDR


Keuntungan - keuntungan AKDR adalah sebagai berikut :
1. Efektif dengan proteksi jangka panjang.
2. Tidak menganggu hubungan suami istri.
3. Tidak berpengaruh terhadap produksi ASI.
4. Kesuburan segera kembali sesudah AKDR dilepas.
5. Mengurangi nyeri haid (Saifudin, 2010)

G. Kerugian Pemasangan AKDR


AKDR bukanlah alat kontrasepsi yang sempurna, sehingga masih terdapat
beberapa kerugian antara lain :
1. Pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi saluran genetalia
diperlukan sebelum pemasangan AKDR.
2. Dapat meningkatkan resiko penyakit radang panggul.
3. Memerlukan prosedur pencegahan infeksi sewaktu memasang dan
mencabutnya.
4. Bertambah darah haid dan rasa sakit selama beberapa bulan
pertama pemakaian AKDR.
5. Klien tidak dapat mencabut sendiri AKDR-nya.
6. Tidak dapat melindungi klien terhadap PMS (penyakit menular
seksual), AIDS/HIV.
7. AKDR dapat keluar rahim melalui kanalis hingga keluar vagina
(Saifudin, 2010)

H. Indikasi Pemasangan AKDR


Yang boleh menggunakan AKDR antara lain:
1. Usia reproduksi.
2. Telah memiliki anak maupun belum.
3. Menginginksn kontrasepsi yang efektif jangka panjang untuk
mencegah kehamilan.
4. Sedang menyusui dan ingin memakai kontrasepsi.
5. Pasca keguguran dan tidak ditemukan tanda-tanda radang panggul.
6. Mempunyai resiko rendah mendapat penyakit menular seksual
(Saifudin, 2010)

I. Kontraindikasi Pemasangan AKDR


Kontraindikasi AKDR terbagi manjadi dua yaitu :
1. Kontra-indikasi absolut :
a. Infeksi pelvis akut, diduga Gonorrhoe atau Chlamyda.
b. Kehamilan atau diduga hamil.
2. Kontra-indikasi relatife :
a. Partner seksual yang banyak.
b. Kesukaran memperoleh pertolongan gawat darurat bila
terjadi komplikasi.
c. Pernah mengalami infeksi pelvis
d. Cervicitis akut atau purulent.
e. Riwayat kehamilan ektopik atau keadaan-keadaan yang
menyebabkan predisposisi untuk terjadinya kehamilan ektopik.
f. Gangguan respon tubuh terhadap infeksi (AIDS, Diabetes
Militus, Pengobatan dengan kortikosteroid dan lain-lain).
g. Kelainan pembekuan darah.
3. Keadaaan-keadaan lain yang dapat menyebabkan kontraindikasi
untuk insersi AKDR :
a. Keganasan endometrium atau serviks
b. Endometriosis
c. Myoma uteri
d. Polip endometrium
e. Kelainan congenital uterus
f. Dismenorhoe yang hebat, darah haid yang banyak, haid
yang irregular, atau perdarahan bercak Atau (spotting)
g. Alergi terhadap Cu atau penyakit Wilson yaitu penyakit
gangguan Cu yang turun menurun
h. Anemia (Hartanto, 2010)

J. Efek Samping Pemasangan AKDR


1. Beberapa efek samping yang ringan ialah sebagai berikut :
a. Nyeri pada waktu pemasangan. Kalau nyeri sekali, dapat
dilakukan anestesi paraservikal.
b. Kejang rahim, terutama pada bulan-bulan pertama. Hal
ini dapat diatasi dengan memberikan spasmollitikum atau pemakaian
AKDR lebih kecil ukurannya.
c. Nyeri pelvic. Pemberian spasmolitikum dapat
mengurangi keluhan ini.
d. Perdarahan diluar haid.
e. Darah haid lebih banyak.
f. Sekret vagina lebih banyak.
2. Disamping itu pula terjadi efek samping yang lebih serius yaitu
sebagai berikut :
a. Perforasi uterus
b. Infeksi pelvic
c. Endometritis (Hartanto, 2010)

K. Waktu Pemasangan AKDR


Waktu pemasangan menurut Everett (2008). AKDR biasanya dipasang pada
akhir menstruasi karena serviks terbuka pada waktu ini, yang membuat
pemasangan menjadi lebih mudah. AKDR dapat dipasang sampai 5 hari
setelah hari ovulasi paling awal yang diperhitungkan, sebagai kontrasepsi
pasca koitus. Setelah kelahiran bayi, wanita dapat dipasang AKDR 6 minggu
postnatal. Setelah keguguran atau terminasi kehamilan.
AKDR dapat dipasang pada :
1. Bersamaan dengan menstruasi
2. Segera setelah bersih menstruasi
3. Pada masa akhir puerperium
4. Tiga bulan pasca persalinan
5. Bersamaan dengan seksio sesarea
6. Bersamaan dengan abortus dan curetase
7. Hari kedua-ketiga pasca persalinan (Saifudin, 2010)

L. Hal-hal yang harus diketahui oleh akseptor AKDR


1. Cara memeriksa sendiri benang ekor AKDR.
2. Efek samping yang sering timbul misalnya perdarahan haid yang
bertambah banyak atau lama, rasa sakit atau kram.
3. Segera mencari pertolongan medis bila timbul gejala-gejala infeksi.
4. Jenis AKDR yang dipakai.
5. Pertimbangan pemakaian metode kontrasepsi tambahan seperti
kondom atau spermisid selama tiga bulan pasca pemasangan.
6. Mengetahui tanda bahaya AKDR : terlambat haid, perdarahan
abnormal, nyeri abdomen, dispareunia, keputihan abnormal,
demam/menggigil, benang ekor AKDR hilang/bertambah
pendek/bertambah panjang.
7. Bila mengalami keterlambatan haid segera periksa ke petugas
kesehatan.
8. Sebaiknya tunggu tiga bulan untuk hamil kembali setelah
pelepasan AKDR dan gunakan metode kontrasepsi lain. Ini dapat
mencegah kehamilan ektopik.
9. Bila berobat apapun, beritahu dokter bahwa akseptor menggunakan
AKDR.
10. AKDR tidak memberi perlindungan terhadap virus AIDS
(Hartanto, 2010)

M. Insersi/ Pemasangan IUD


1. Insersi yang tidak baik dari IUD dapat menyebabkan :
a. Ekspulsi
b. Kerja kontraseptif tidak efektif
c. Perforasi uterus.
2. Untuk berhasilnya insersi IUD tergantung pada beberapa hal, yaitu:
a. Ukuran dan macam IUD beserta tabung inseternya.
b. Makin kecil IUD, makin mudah insersinya, makin tinggi
ekspulsinya
c. Makin besar IUD, makin sukar insersinya, makin rendah
ekspulsinya.
3. Waktu atau saat insersi
a. Insersi Interval
1) Kebijakan (policy) lama : Insersi IUD
dilakukan selama atau segera sesudah haid.
2) Kebijakan (policy) sekarang : Insersi IUD
dapat dilakukan setiap saat dari siklus haid asal kita yakin seyakin-
yakinnya bahwa calon akseptor tidak dalam keadaan hamil.
b. Insersi Post-Partum
Insersi IUD adalah aman dalam beberapa hari post partum, hanya
kerugian paling besar adalah angka kejadian ekspulsi yang sangat
tinggi. Tetapi menurut penyelidikan di Singapura, saat terbaik adalah
delapan minggu post-partum. Alasannya karena antara empat-delapan
minggu post-partum, bahaya perforasi tinggi.
c. Insersi Post-Abortus
Karena konsepsi sudah dapat terjadi 10 hari setelah abortus, maka IUD
dapat segera dipasang sesudah :
1) Abortus trimester I : Ekspulsi, infeksi, perforasi, dan lain-lain sama
seperti pada insersi interval.
2) Abortus trimester II : Ekspulsi 5-10 kali lebih besar daripada
setelah abortus trimester I
d. Insersi Post Coital
Dipasangkan maksimal setelah 5 hari senggama tidak terlindungi.
4. Teknik insersi, ada tiga cara :
a. Teknik Push out : mendorong : Lippes Loop. Bahaya
perforasi lebih besar.
b. Teknik Withdrawal : menarik : Cu IUD.
c. Teknik Plunging : “mencelupkan” : Progestasert-T.
5. Prosedur Insersi AKDR/ IUD
a. Menjelaskan pada klien prosedur yang akan dilakukan
dan inform consent
b. Memastikan klien telah mengosongkan kandung
kencingnya.
c. Mempersiapan Alat :
1) 1 set IUD
2) 1 pasang sarung tangan
3) Cairan anti septic (betadine solotion)
4) Deppers/ kassa steril pada tempatnya
5) Bivale speculum/ speculum cocor bebek
6) Tenakulum (penjempit porsio)
7) Sounde uterus (untuk mengukur kedalaman
uterus)
8) Korentang
9) Gunting
10) Lampu penerang
11) Kom berisi air DTT
12) Kom berisi air klorin
13) 2 Ember plastik diberi kantong plastik
(tempat kotoran)
14) untuk sampah basah dan sampah kering
d. Mengatur posisi pasien di Gyn bed dan lampu penerang
e. Mamakai sarung tangan steril
f. Memerikasa genetalia eksterna (ulkus, pembengkakan
kelenjar bartholini dan kelenjar skene)
g. Memasang spekulum, beri anti septic (betadine) pada
porsio
h. Menjepit bibir depan porsio dengan tenaculum pada jam
10
i. Memasukkan sonde uterus dengan cara “no touch
technique” sesuai arah rahim untuk mengetahui dalam/ panjangnya
uterus (kurang dari 6 cm tidak boleh dipasang)
j. Menyiapkan IUD steril dengan cara memasukkan lengan
IUD didalam tabung inserter pada kemasan sterilnya.
k. Mengatur letak leher biru pada tabung inserter sesuai
kedalaman kavum uteri yang telah diukur dengan sonde uterus.
l. Memasukkan tabung inserter dengan hati-hati sampai
leher biru menyentuh fundus atau sampai terasa ada tahanan.
m. Melepas lengan IUD dengan menggunakan teknik
menarik (with-drawal technique). Menarik keluar pendorong.
n. Setelah lengan lepas, mendorong secara perlahan tabung
inserter kedalam kavum uteri sampai leher biru menyentuh serviks.
o. Menarik keluar sebagian tabung inserter, potong benang
IUD kira-kira 3 cm.
p. Melepaskan tenaculum dengan hati-hati dan gunting
benang kira-kira 3 cm. Merawat perdarahan tenaculum dengan cara
menekan dengan deppers betadine sampai perdarahan berhenti.
q. Kemudian speculum dilepas, semua alat-alat dimasukkan
kedalam larutan klorin 0,5%
r. Melakukan VT untuk menyelipkan benang pada forniks
posterior
s. Pasien diminta untuk tetap berada ditempat tidur kira-kira
15-30 menit.
t. Membuang bahan-bahan (kassa) yang telah dipakai
kedalam kantong plastik.
u. Mencelupkan sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5%
kemudian buka dan rendam dalam keadaan terbalik.
v. Mencuci tangan dengan air dan sabun.
w. Melakukan konseling pasca pemasangan.
x. Mengajarkan pada klien bagaimana cara memeriksa
sendiri benang AKDR dan kapan harus dilakukan.
y. Menganjurkan pada klien untuk melakukan kontrol pasca
pemasangan 1 minggu, 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan sewaktu-waktu
bila ada keluhan (Saifuddin, 2010)

N. Pelepasan IUD
1. Jika klien menginginkannya
2. Jika klien ingin hamil
3. Jika ada efek samping yang menetap atau masalah kesehatan
lainnya
4. Pada akhir masa efektifitas (Hartanto, 2010)

O. Penelitian Mengenai AKDR


Penelitian dilakukan oleh dinas kesehatan kota semarang tahun 2013
mengenai angka kejadian ekspulsi IUD pada wanita usia reproduksi 20 – 35
tahun. Hasil dari penelitian menyatakan angka kejadian ekspulsi di kota
semarang sebanyak 35% tahun 2013, dengan akseptor yang mengetahui kalau
terjadi ekspulsi sebanyak 60 % dan yang tidak mengetahui kalau terjadi
ekspulsi sebanyak 40%. Pemerintah bersama dinas kesehatan berupaya untuk
merangkul tenaga kesehatan yang melakukan pemasangan kontrasepsi IUD
untuk melakukan konseling pada akseptor sesuai dengan prosedur dan
mengajak akseptor KB IUD untuk rutin mengecek kondisi IUD didalam.

P. AKDR post plasenta


AKDR pasca plasenta adalah AKDR yang dipasang dalam 10 menit
setelah plasenta lahir (pada persalinan normal) sedangkan pada persalinan
caesar, dipasang pada waktu operasai caesar (Kemenkes RI, 2012).
Menurut Saifuddin (2010) AKDR pasca plasenta dimasukkan ke dalam
fundus uteri menggunakan teknik manual dengan jari atau teknik
menggunakan kombinasi ring forceps/klem ovarium dan inserter AKDR.
AKDR yang dipasang setelah persalinan selanjutnya juga akan berfungsi
seperti AKDR yang dipasang sesuai siklus menstruasi. Pada pemasangan
AKDR pasca plasenta umumnya digunakan jenis AKDR yang mempunyai
lilitan tembaga atau CuT-380A yang menyebabkan terjadinya perubahan
kimia di uterus sehingga sperma tidak dapat membuahi sel telur. Cara kerja
AKDR yaitu mencegah sperma dan ovum bertemu dengan mempengaruhi
kemampuan sperma sehingga tidak mampu fertilisasi, mempengaruhi
implantasi sebelum ovum mencapai kavum uteri, dan menghalangi implantasi
embrio pada endometrium (BKKBN, 2012).
Adapun indikasi pemasangan AKDR pasca plasentaadalah wanita pasca
persalinan pervaginam atau pasca persalinan sectio secareadengan usia
reproduksi dan paritas berapapun, pasca keguguran (non infeksi), masa
menyusui (laktasi), riwayat hamil ektopik,tidak memiliki riwayat keputihan
purulen yang mengarah kepada IMS (gonore, klamidia dan servisitis purulen)
dan kontraindikasi pemasangan AKDR pasca plasentayaitumengalami
perdarahan pervaginam yang tidak dapat dijelaskan hingga ditemukan dan
diobati penyebabnya, menderita anemia, menderita kanker atau infeksi
traktus genitalis, memiliki kavum uterus yang tidak normal, menderita TBC
pelvic, kanker serviks dan menderita HIV/AIDS (Kemenkes RI, 2012).
Kelebihan AKDR pasca plasentamenurut Kemenkes RI (2012) bagi
klien yaitu: a) Dapat digunakan oleh semua pasien normal atau sectio
sesarea (tanpa komplikasi); b)Pencegahan kehamilan dalam jangka panjang
yang efektif; c) Insersi AKDR dikerjakan dalam 10 menit setelah
keluarnya plasenta; d) Tidak meningkatkan risiko infeksi ataupun perforasi
uterus; e) Kejadian ekspulsi yang rendah hampir sama dibandingkan
dengan pemasangan setelah empat minggu pasca persalinan selama teknik
dilakukan dengan benar.
Kelebihan non kontrasepsi bagi klien yaitu: a) Dapat dipasang langsung
saat ostium masih terbuka setelah plasenta lahir sehingga mengurangi rasa
sakit; b) Tidak mempengaruhi hubungan suami istri bahkan dapat menambah
kenikmatan dalam hubungan karena mengurangi kekhawatiran akan hamil;
c) Tidak mempengaruhi kualitas dan volume Air Susu Ibu (ASI); d)
Dapat membantu mencegah kehamilan diluar kandungan; e) Dilakukan satu
kali pemasangan dan ekonomis dalam jangka waktu maksimal 8-10 tahun;
f)Tidak ada interaksi dengan obat- obatan lain; g) Kesuburan dapat
langsung kembali setelah AKDR terlepas (reversible); h) Tidak
menimbulkan ada efek sistemik dan efek samping hormonal.
Kelebihan AKDR pasca plasenta bagi program yaitu: a) Meningkatkan
capaian peserta KB baru MKJP, b) Menurunkan angka unmet need; c)
Meningkatkan Contraseptive Prevalence Rate (CPR). Kelebihan AKDR pasca
plasenta bagi provider yaitu: a) Pemasangan mudah sesaat setelah plasenta
lahir dimana ostium masih terbuka; b) Klien lebih dapat diajak kerjasama
karena sensasi sakit tidak terlalu terasa saat AKDR diinsersi.
Disamping adanya kelebihan AKDR pasca plasenta terdapat pula
keterbatasan alat kontrasepsi ini yaitu: a) Dapat terjadi perubahan siklus haid,
haid lebih lama dan banyak, perdarahan bercak (spotting) dan nyeri haid,
biasanya pada tiga bulan pertama setelah pemasangan dan keluhan akan
hilang dengan sendirinya; b) Kemungkinan terjadi resiko infeksi dan
keputihan; c) AKDR dapat terlepas dari uterus tanpa diketahui oleh klien; c)
AKDR tidak dapat dilepas sendri oleh klien, tetapi harus dilakukan oleh
tenaga terlatih; d) Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.
Penelitian yang dilakukan oleh Kaitheit dan Agarwal (2013), dimana
studi dilakukan secara longitudinal prospektif dan dievaluasi saat pemakaian
6 minggu diperoleh hasil kejadian ekspulsi sebesar 10,5 % dari total ibu
yang dipasangkan KB AKDR pasca plasenta dan tidak ditemukan kasus
perforasi. Walaupun tingkat ekspulsinya yang cukup tinggi tetapi lebih besar
manfaat pemakaian kontrasepsi ini, terlebih lagi ibu yang memiliki akses
yang terbatas terhadap pelayanan kesehatan.
Hal ini sejalan dengan penelitian Grimes,et al., (2003) menyebutkan
bahwa pemasangan AKDR segera setelah plasenta lahir amandan efektif.
Keuntunganlangsungdari pemasangan yaitu memilikimotivasi yang tinggi,
jaminan bahwa wanita tidak hamil, dan kenyamanan.
Diperkuat oleh penelitian Vanita Suri (2012) yang menyatakan bahwa
penggunaan AKDR segera setelah melahirkan sangat direkomendasikan oleh
WHO, terutama bagi negara berkembang dimana masih rendahnya kontak
antara wanita post partum dengan petugas kesehatan pada kunjungan ulang
periode pertama. Dibandingkan dengan metode steril, penggunaan AKDR
segera setelah melahirkan dapat menghindari ketidaknyamanan pada waktu
pemasangan dan perdarahan yang terjadi disamarkan oleh lokhea. Selain
itu penelitian oleh Divakar,et al., (2013) menyatakan pemasangan AKDR
CUT 380A pada 10 menit setelah plasenta lahir adalah aman, nyaman,
efektif biaya serta tingkat ekspulsi akan minimal jika dimasukkan oleh
petugas kesehatan yang terlatih. Metode KB AKDR pasca plasenta
menjadi salah satu upaya untuk menekan jumlah kelahiran dengan
menurunkan unmet need dan missed opportunity pada ibu pasca persalinan
sehingga penggunaan MKJP diharapkan dapat mengurangi angka
diskontinuitas serta dapat berkontribusi menekan laju pertumbuhan penduduk
Indonesia.
BKKBN melakukan Penelitian Operasional (OR) AKDR pascaplasenta
yang dilakukan secara cross sectional terhadap akseptor yang dilayani di
RSUD Abdul Muluk Lampung dan RSUP [Link] Semarang. Hasil OR
tersebut menunjukkan bahwa di RSUD Abdul Muluk Lampung dari 207
akseptor IUD post plasenta yang dilayani setelah 6 bulan pemakaian
sebanyak lima orang ( 2,4 persen) dijumpai adanya ekspulsi. Sementara di
RSUP [Link] Semarang dari 203 akseptor AKDR plasenta setelah 6
bulan ekspulsi yang terjadi pada dua orang (1,0 persen). Kedua Rumah
Sakit tersebut menerapkan teknik pelayanan yang berbeda, dimana RSUD
Abdul Muluk Lampung dengan teknik jari, sedangkan RSUP Karyadi
Semarang dengan teknik “Push and Push”, tetapi pada pemakaian selama 12
bulan di kedua Rumah Sakit tersebut tidak dijumpai adanya ekspulsi
(BKKBN, 2012).
Penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih E dan Wahyuni S (2017)
mengenai “Pengaruh KB IUD Pasca Salin (Intracaesarian IUD) terhadap
Proses Involusi Uteri pada Ibu Nifas”, hasil Pelaksanaan KB Pasca Salin
(Intracaesarian IUD) pada kelompok eksperimen sebanyak 29 responden
(50%) dan kelompok kontrol sebanyak 29 responden (50%). pengukuran
involusi uteri dari 29 responden kelompok eksperimen pada hari pertama
sebagian besar mengalami percepatan proses involusi uteri yaitu 21
responden (74,2%) dan pada hari ketiga sebagian besar mengalami
perlambatan proses involusi uteri yaitu 18 responden (62,1%).
Sedangkan dari 29 responden kelompok kontrol pada hari pertama
sebagian besar proses involusi uterinya normal yaitu 15 responden
(51,7%). Dan pada hari ketiga sebagian besar mengalami perlambatan
proses involusi uteri yaitu 22 responden (75,9%). Sehingga, ada
pengaruh KB Intracaesarian IUD terhadap involusi uteri pada ibu nifas.
DAFTAR PUSTAKA

BKKBN dan Kemenkes RI. 2012. Pedoman Pelayanan Keluarga Berencana


Pasca Persalinan di Fasilitas Kesehatan. Jakarta: Direktorat Bina
Kesehatan Ibu dan Anak Kemenkes RI.

Divakar H, Vajpyee J, Joshi R, Kabadi YM, dan Kittur S. 2013. Enhancing


Contraceptive Usage by Postplacental Intrauterine Contraceptive Devices
(IUCD) Insertion: Safety, Efficacy, and [Link] of Health
Management. 15(2): 263– 274. [Diakses tanggal 20 Januari 2019]. Didapat
dari: [Link]

Everett S. 2008. Kontrasepsi dan Kesehatan Seksual Reproduksi. Jakarta: EGC.

Fuadah L, Kumalasari R. 2014. Hubungan Pemasangan IUD Post Plasenta


dengan Kejadian Ekspulsi pada Wanita Usia Subur. Jurnal Ilmiah
Kebidanan. Vol 5 No. 1. [Diakses tanggal 20 Januari 2019]. Didapat dari:
[Link]

Hartanto H. 2010. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar


Harapan.

Herlyssa, Mulyati S, Theresia EVK. 2014. Kejadian Perdarahan pada


Penggunaan IUD Post Plasenta. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan.
Vol. 1 No. 2. [Diakses tanggal 20 Januari 2019]. Didapat dari:
[Link]

Katheit G, Agarwal J. 2013. Evaluation of Post Plasental Intrauterine Device


(PPIUCD) in Terms of Awareness, Acceptance and Expulsin in a tetiary
care centre. Int J Reprod Contracept Obstet Gynecol 2: 539 – 543.
[Diakses tanggal 20 Januari 2019]. Didapat dari:
[Link]

Kemenkes RI. 2012. Pedoman keluarga berencana pascapersalinan di fasilitas


kesehatan. Semarang: BKKBN.

Saifuddin AB, dkk (ed). 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta :Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Wahyuningsih E, Wahyuni S. 2017. Pengaruh KB IUD Pasca Salin


(Intracaesarian IUD) terhadap Proses Involusi Uteri pada Ibu Nifas. The
6th University Research Colloquium 2017. Universitas Muhamadiyah
Magelang. [Diakses tanggal 20 Januari 2019]. Didapat dari:
[Link]

Anda mungkin juga menyukai