0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan9 halaman

Dewi Santika

Diunggah oleh

Dewi Santika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
55 tayangan9 halaman

Dewi Santika

Diunggah oleh

Dewi Santika
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Journal of Pharmaceutical and Health Research

Vol 5, No 2, June 2024, pp. 82−90


ISSN 2721-0715 (media online)
DOI 10.47065/jharma.v5i2.5015

Uji Efektivitas Analgetik Ekstrak Etanol Buah Kundur (Benincasa hispida


(Thunb.) Cogn.) Terhadap Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus L.) yang
Diinduksi Asam Asetat
Muhammad Gunawan, Cut Fatimah, Dewi Santika*
Farmasi, S-1 Farmasi, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indah, Medan, Indonesia
Email: 1muhammadgunawan905@[Link], 2cutmah57@[Link], 3,* dewi13209@[Link]
Email Penulis Korespondensi: dewi13209@[Link]
(*: coressponding author)
Abstrak− Golongan obat yang dikenal sebagai analgesik bekerja dengan cara menurunkan atau menghambat rasa sakit. Hal ini dapat
dicapai dengan beberapa cara, seperti dengan mencegah sintesis prostaglandin, yang merupakan mediator persepsi nyeri, atau dengan
mengurangi sensitivitas reseptor nyeri terhadap rangsangan mekanis, termis, elektrik. Minat untuk menggunakan obat berbasis bahan
alami untuk terapi semakin meningkat di masyarakat Indonesia. Buah kundur merupakan salah satu tanaman obat yang dapat digunakan
sebagai analgesik. Telah dibuktikan secara empiris bahwa buah kundur (Benincasa hispida (Thunb.) Cogn.) dapat mengurangi rasa
sakit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memastikan Pembuatan simplisia, analisis makroskopik dan mikroskopik, penapisan
fitokimia simplisia, dan uji khasiat analgetik dilakukan secara eksperimental dalam penelitian ini. Asam asetat 0,5% disuntikkan secara
intraperitoneal di bawah perut tikus putih jantan untuk menstimulasi tikus putih jantan tersebut. pemberian larutan ekstrak etanol buah
kundur secara oral dengan dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, CMC 0,5% (blanko) dan metampiron 45 mg/kgBB
Selama satu jam jumlah hewan yang menggeliat dihitung setiap sepuluh menit. Selain itu data yang terkumpul diperiksa secara statistik
menggunakan uji Tukey dan SPSS ver. 20 One Way ANOVA. Analisis simplisia dan ekstrak etanol buah kundur memiliki skrining
fitokimia adanya kandungan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid dan glikosida. Persentase penurunan geliat meningkat dengan
meningkatnya dosis rebusan herba bambu randu yang mengindikasikan peningkatan potensi dan khasiat analgesik. Berdasarkan hasil
uji Tukey dan uji One Way ANOVA, dosis 400 mg/kgBB memiliki potensi analgesik terbaik pada menit ke-50 dan tidak berbeda
secara statistik dengan metampiron 45 mg/kgBB.
Kata Kunci: Analgetik; Ekstrak Etanol; Buah Kundur; Metampiron; Metode Geliat
Abstract−The class of drugs known as analgesics work by reducing or inhibiting pain. This can be achieved in several ways, such as
by preventing the synthesis of prostaglandins, which are mediators of pain perception, or by reducing the sensitivity of pain receptors
to mechanical, thermal, electrical stimuli. Interest in using natural-based medicine for therapy is increasing in Indonesian society.
Kundur fruit is one of the medicinal plants that can be used as an analgesic. It has been empirically proven that kundur fruit (Benincasa
hispida (Thunb.) Cogn.) can reduce pain. The purpose of this study was to ensure that the preparation of simplisia, macroscopic and
microscopic analysis, phytochemical screening of simplisia, and analgesic efficacy tests were carried out experimentally in this study.
Acetic acid 0.5% was injected intraperitoneally under the abdomen of male white rats to stimulate the male white rats. oral
administration of ethanol extract solution of kundur fruit at doses of 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, 400 mg/kgBB, CMC 0.5% (blank)
and metampirone 45 mg/kgBB For one hour the number of writhing animals was counted every ten minutes. In addition, the collected
data were statistically examined using Tukey test and SPSS ver. 20 One Way ANOVA. Analysis of simplisia and ethanol extracts of
kundur fruit had phytochemical screening for the presence of alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, steroids and glycosides. The
percentage of writhing reduction increased with increasing doses of bamboo randu herb decoction, indicating an increase in analgesic
potential and efficacy. Based on the results of the Tukey test and One Way ANOVA test, a dose of 400 mg/kgBB has the best analgesic
potential at the 50th minute and is not statistically different from metampirone 45 mg/kgBB.
Keywords: Analgesic; Ethanol Extract; Kundur Fruit; Metampirone; Writhing Method

1. PENDAHULUAN
Nyeri merupakan perasaan sensoris serta emosional yang mengakibatkan rasa tidak nyaman berupa timbulnya kerusakan
jaringan pada tubuh yang mengalami nyeri mengindikasikan adanya masalah. Stimulasi mekanis atau kimiawi dapat
melukai jaringan dan menghasilkan zat kimia yang dikenal sebagai mediator nyeri, termasuk prostaglandin, bradikinin,
histamin, dan serotonin. Analgesik ialah senyawa dalam dosis terapeutik meringankan atau menekan rasa nyeri dapat
sepenuhnya tanpa membuat pasien menjadi kurang sadar tidak mempunyai kerja anestesi umum (Ilmi et al., 2021).
Golongan obat yang dikenal sebagai analgesik bekerja dengan cara menurunkan atau menghambat rasa sakit. Hal
ini dapat dicapai dengan beberapa cara, seperti dengan mencegah sintesis prostaglandin, yang merupakan mediator
persepsi nyeri, atau dengan mengurangi sensitivitas reseptor nyeri terhadap rangsangan mekanis, termis, elektrik, atau
kimiawi pada inti atau perifer (Lara et al., 2021).
Minat untuk diperlukan menggunakan obat berbasis bahan alami untuk terapi semakin meningkat di masyarakat
Indonesia, oleh karena anggapan menghindari efek samping dari penggunaan obat kimia . Validasi ilmiah untuk
berbagai komponen kimia aktif dan efek farmakologis yang beragam yang ditemukan dalam tanaman obat. Buah kundur
(Benincasa hispida (Thunb.) Cogn.) merupakan salah satu tanaman obat yang dapat digunakan sebagai analgesik (R.
Yulia et al., 2020). Kandungan flavonoid berperan untuk melancarkan peredaran darah ke seluruh tubuh dan mencegah
terjadinya penyumbatan pembuluh darah, antiinflamasi dan analgetik (Prambudi, 2020). Flavonoid dengan berbagai
macam struktur fenol merupakan kandungan alami yang terdapat pada tanaman. Efek klinis dari flavonoid yaitu

Copyright © 2024 Muhammad Gunawan, Page 82


This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
Journal of Pharmaceutical and Health Research
Vol 5, No 2, June 2024, pp. 82−90
ISSN 2721-0715 (media online)
DOI 10.47065/jharma.v5i2.5015

antikanker, mengurangi penyakit kardiovaskuler, dan mengurangi inflamasi. Mekanisme yang berhubungan dengan efek
analgetik dari flavonoid yaitu dapat menghambat metabolisme asam arakidonat (Anaba et al., 2021).
Benincasa hispida (Thunb.) Cogn. yang dikenal dengan nama buah kundur ini memiliki kandungan asam amino,
karbohidrat, dan asam organik yang dikenal dengan istilah metabolit sekunder, diantaranya sterol, asam fenolat, terpenoid,
kumarin, karoten, dan flavonoid. Selain itu, menurut (M. Yulia & Wulandari, 2022). Buah kundur (Benincasa hispida
(Thunb.) Cogn.) mengandung banyak mineral antara lain garam, kalium (K), kalsium (Ca), dan zat besi (Fe) serta berbagai
macam vitamin antara lain vitamin C, vitamin B1, vitamin B2 dan vitamin B3. Buah kundur telah lama dimanfaatkan
sebagai obat dengan sejumlah sifat farmakologis, termasuk antibakteri, analgesik, antidiabetes, antioksidan, dan efek
diuretik, Buah kundur telah terbukti secara empiris untuk menghilangkan rasa sakit. Namun penggunaan buah kundur
sebagai penghilang rasa sakit belum terbukti secara ilmiah. Di samping itu peneliti ingin membuat ekstrak dengan maksud
untuk memperkecil volume sebagai obat (Purnamasari & Tiku, 2022).

2. METODE PENELITIAN
2.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain eksperimental, dengan tikus putih jantan (Rattus norvegicus L.) yang diberi ekstrak
etanol buah kundur dengan dosis yang berbeda sebagai variabel bebas dan pendekatan yang berbeda untuk skrining
fitokimia dan pengujian efikasi analgesik sebagai variabel terikat. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini
adalah: mengidentifikasi buah kundur sebagai sampel; menyiapkan sampel dan membuat simplisia; mengkarakterisasi
simplisia (menentukan kadar air); membuat ekstrak etanol dari buah kundur; melakukan skrining fitokimia; menyiapkan
hewan coba; dan melakukan uji efektivitas analgetik ekstrak etanol buah kundur terhadap tikus putih jantan dengan
metode geliat.
2.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi dan Laboratorium Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indah
Medan. Determinasi tumbuhan dilakukan di Laboratorium Sistematika Tumbuhan Herbarium Medanense (MEDA),
Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai dengan bulan Juli 2023.
2.3 Alat yang digunakan pada penelitian
Alat yang digunakan saat penelitian seperti alat-alat gelas laboratorium, azeotropi (destilasi toluena), batang pengaduk,
blender, lemari pengering, penangas air, pipet tetes, kertas perkamen, neraca analitik, neraca hewan digital, oral sonde,
spuit (1 mL, 3 mL), stopwatch. Sedangkan bahan yang digunakan saat penelitian ini berupa amil alkohol, akuadest, asam
asetat anhidridat, asam klorida pekat, asam klorida 2 N, asam nitrat, asam sulfat pekat, asam sulfat 1%, barium klorida,
besi (III) klorida, bismut (III) nitrat, etil asetat, iodium, kalium iodida, kloralhidrat, buah kundur, etanol 80%, natrium
karboksi metil selulosa (Na-CMC), larutan NaCl 0,9%, asam asetat dan metampiron, hewan uji yang digunakan adalah
tikus putih jantan
2.4 Hewan Uji
Tikus putih jantan (Rattus norvegicus L.), dengan berat antara 180 dan 220 gram pada usia 2-3 bulan, digunakan [Link]
penelitian ini. Tikus-tikus tersebut dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari 6 ekor. Hewan percobaan harus
diadaptasikan selama dua minggu sebelum pengujian. Kandang yang terawat dengan baik, berventilasi baik, dan selalu
mendapat perhatian. Tikus yang sehat menunjukkan aktivitas yang bersemangat dan perkembangan yang sesuai (Tandi
et al., 2020).
2.5 Pengambilan Buah Kundur
Sampel yang digunakan buah kundur (Benincasa hispida (Thunb.) Cogn.) yang diperoleh dari Supermarket Berastagi di
jalan Gatot Subroto No.288, Sei Putih Tengah, Kec. Medan Petisah, Kota Medan, Sumatera Utara.
2.6 Pengolahan Buah Kundur
Setelah dibersihkan, daging buah dari buah Kundur (Benincasa hispida (Thunb.) Cogn.) diiris tipis-tipis, menghasilkan
hingga 10 kg sampel basah. Daging buah kemudian dibersihkan dengan air mengalir dan ditiriskan. Buah kemudian
dikeringkan dalam oven pada suhu 60oC selama tiga hari, atau sampai terasa rapuh dan hancur saat diremas. Buah kundur
yang telah kering, kemudian dihaluskan dengan blender dan diayak untuk menghasilkan serbuk simplisia yang disimpan
dalam keadaan kering dan terhindar dari sinar matahari langsung.

Copyright © 2024 Muhammad Gunawan, Page 83


This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
Journal of Pharmaceutical and Health Research
Vol 5, No 2, June 2024, pp. 82−90
ISSN 2721-0715 (media online)
DOI 10.47065/jharma.v5i2.5015

2.7 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia


2.7.1 Pemeriksaan Makroskopik
Pengujian ini dilakukan dengan melihat ukuran, bau dan warna dari simplisia dari buah kundur.
2.7.2 Pemeriksaan Mikroskopik
Serbuk simplisia buah kundur diperiksa di bawah mikroskop setelah diletakkan di atas permukaan kaca objek yang telah
ditetesi dengan larutan kloral hidrat, ditutup dengan kaca penutup, dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop. Parenkim
berlubang, berkas pembuluh, dan parenkim periderm merupakan ciri-ciri mikroskopis yang harus diperhatikan, sesuai
dengan materi yang dimuat di dalam buku Materia Medika Indonesia Jilid V tahun 1989 (Noviyanti et al., 2023).
2.8 Penetapan Kadar Air Simplisia
Kadar air simplisia diukur untuk memastikan apakah simplisia tersebut memenuhi kriteria kadar air minimal 8% untuk
simplisia buah yang baik atau tidak. dilakukan dengan menggunakan teknik penyulingan toluena, atau metode azeotropi.
Komponen alat terdiri dari labu alas bulat 500 ml, alat pengumpul, pendingin bola, tabung penghubung, dan tabung
penerima air suling berskala 0,05 ml. Cara kerjanya adalah sebagai berikut, (Wijaya, 2022).
1. Toluen
200 mililiter toluen dan dua mililiter air suling ditambahkan ke dalam labu penyulingan. Instrumen kemudian disiapkan
dan air didistilasi selama dua jam, atau sampai semua air yang tidak terserap oleh toluen terdistilasi sepenuhnya. Setelah
itu, toluen dijenuhkan dan tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar hingga air dan toluen di dalam tabung
benar-benar terpisah. Hal ini memungkinkan air dalam tabung penerima diukur dengan tepat sesuai dengan volume air
awal, dalam 0,05 mililiter. Setelah membilas instrumen sedikit, instrumen dibiarkan.
2. Penetapan Kadar Air Simplisia
Lima gram serbuk simplisia yang telah ditimbang dengan teliti ditambahkan ke dalam labu yang berisi toluena jenuh.
Labu tersebut kemudian dipanaskan dengan hati-hati selama lima belas menit. Setelah toluena mendidih, kecepatan
tetesan disesuaikan menjadi dua tetes per detik hingga sebagian besar air tersuling, kemudian dinaikkan menjadi empat
tetes per detik. Toluena jenuh digunakan untuk membersihkan bagian dalam pendingin setelah semua air disuling. Setelah
lima menit penyulingan, tabung penerima dibiarkan mendingin hingga mencapai suhu sekitar. Setelah pemisahan air dan
toluena secara sempurna, volume air akhir diukur dengan ketelitian 0,05 ml. Perbedaan antara kedua volume ini kemudian
diukur dan dihitung sebagai air.
(volume air akhir−volume air awal)ml
Kadar air = x100% (1)
bobot sampel (g)

2.9 Pembuatan Ekstrak Etanol Buah Kundur


Proses maserasi digunakan untuk membuat ekstrak, dengan menggunakan 2250 mL pelarut etanol 80% dan 1000 g daging
buah kundur yang telah ditimbang. Simplisia tersebut disimpan dalam wadah selama lima hari, dengan setiap hari
dilakukan perendaman. Setelah itu, rendaman disaring menggunakan kertas saring (saringan 1), dan sisa bahan diekstraksi
kembali menggunakan etanol 80% selama dua hari, hingga 750 mL. Filtrat 2 dibuat dengan cara menggabungkan filtrat
1 dan filtrat 2, yang kemudian diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 60°C hingga ekstrak menjadi tidak
terlalu kental, dan selanjutnya diuapkan kembali menggunakan freeze dryer pada suhu -40°C hingga ekstrak kering (tanpa
mengandung etanol). Ekstrak kental yang dihasilkan sebanyak 100 g. Pada penelitian ini digunakan ekstrak etanol buah
kundur dengan konsentrasi 2% dalam bentuk suspensi (Mentari et al., 2020).
2.10 Pembuatan Larutan Pereaksi
2.10.1 Larutan Pereaksi Bouchardat
Timbang kalium iodida sebnayak 4 gram yang dilarutkan pada air suling secukupnya, kemudoan tambahkan 2 gram
iodium sedikit demi sedikit dengan air suling hingga 100 ml (Terhadap & Escherichia, 2023).
2.10.2 Larutan Pereaksi Mayer
Raksa (II) klorida ditimbang sebanyak 1,569 gram yang dilarutkan dalam 60 ml akudes serta pada yang lain dilarutkan
kalium iodid sebanyak 5 gram dilarutkan dengan aquades sebanyak 10 ml serta dicampurkan dua pelarut tersebut
kemudian diencerkan pada aquadest hingga 100 ml (Kimia & Pendidikan, 2023).
2.10.3 Larutan Preaksi besi (III) klorida 1%
1 gram besi (III) klorida yang dilarutkan pada aquades hingga 100 ml.

Copyright © 2024 Muhammad Gunawan, Page 84


This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
Journal of Pharmaceutical and Health Research
Vol 5, No 2, June 2024, pp. 82−90
ISSN 2721-0715 (media online)
DOI 10.47065/jharma.v5i2.5015

2.10.4 Larutan preaksi asam klorida 2 N


Asam klorida pekat sebanyak 16,58 ml ditambahkan air suling sampai volume 100 ml
2.11 Skrining Fitokimia
2.11.1 Pemeriksaan Alkaloid
Masing-masing ditambahkan 0,5 g simplisia dan 9 ml akuades, 1 ml asam klorida 2 N, dipanaskan di atas penangas air
selama 2 menit, didinginkan, dan disaring. Filtrat yang dihasilkan digunakan untuk uji alkaloid: satu mililiter filtrat
dimasukkan ke dalam masing-masing tiga tabung reaksi. Di dalam setiap tabung reaksi:
1. Ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan berwarna putih atau kuning yang megandung alkaloid
2. Ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam jika mengandung
alkaloid
3. Ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan berwarna coklat atau jingga jika megandung
alkaloid
Pengujian Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan pada paling sedikit dua dari tiga percobaan di atas
2.11.2 Pemeriksaan Saponin
Dalam tabung reaksi, campurkan 0,5 g masing-masing ekstrak etanol buah kundur dan serbuk simplisia. Tambahkan 10
ml air mendidih, dinginkan, dan kocok kuat-kuat selama 10 detik. Saponin ada jika terbentuk busa stabil setinggi 1 sampai
10 cm dalam waktu kurang dari 10 menit dan tidak hilang ketika ditambahkan 1 tetes asam klorida 2 N (Hayon et al.,
2023).
2.11.3 Pemeriksaan Tanin
Sepuluh mililiter air digunakan untuk merendam 0,5 gram serbuk simplisia dan 0,5 gram ekstrak etanol buah kundur
masing-masing selama lima belas menit, kemudian disaring. Larutan yang diperoleh sebanyak dua mililiter, dan
ditambahkan satu atau dua tetes reagen kolrida besi (III) 1%. Ketika warna biru-hitam atau hijau-hitam muncul, berarti
ada tanin (Anisa & Najib, 2022).
2.12 Pembuatan Bahan Uji Efektivitas Analgetik
Pembuatan suspensi CMC sebagai kontrol negatif, pembuatan suspensi metampiron sebagai pembanding, pembuatan
suspensi ekstrak etanol buah kundur sebagai bahan uji, dan pembuatan larutan asam asetat 0,5% sebagai penginduksi rasa
sakit merupakan tahapan dalam penyiapan bahan untuk uji efektivitas analgetik.
2.12.1 Pembuatan Larutan Asan Asetat 0,5% (v/v)
Larutan Asam asetat glasial mengadung tidak kurang sebesar 99,5% serta tidak lebih 100,5% asam asetat. Dipipet
sebanyak 1 ml asam asetat glasial lalu encerkan menggunakan aquadest sebanyak 200 ml.
2.12.2 Pembuatan Suspensi CMC 0,5%
CMC ditimbang hingga maksimum 500 mg dan kemudian ditaburi hingga 1/3 air suling panas dalam mortar. Campuran
diaduk selama 30 menit hingga terbentuk massa transparan, kemudian ditambahkan air suling secara bertahap hingga
volumenya mencapai 100 mL (Sugiarti et al., 2023).
2.12.3 Pembuatan Suspensi Metampiron 0,5%
Diambil 1 tablet metampiron (500 mg metampiron) digerus kemudian ditambahkan ke dalam lumpang yang berisi 1/3
bagian suspensi CMC 0,5% (100 mL), dituangkan ke dalam wadah lalu dicukupkan volumenya dengan CMC 0,5%
sampai 100 ml (Sinaga et al., 2022).
2.12.4 Pembuatan Suspensi Ekstrak Etanol Buah Kundur 2%
Dua gram ekstrak etanol buah kundur ditambahkan ke dalam lumpang yang berisi sepertiga CMC 0,5% (100 ml, dan
campuran tersebut digerus secara homogen hingga volume yang sesuai dengan CMC 0,5% hingga 100 mL. Selain itu,
diberikan pada hewan sebagai bahan uji dengan dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 400 mg/kgBB, yang dihitung
(Aprilia et al., 2022).
2.13 Pengujian Efektivitas Analgesik
Tikus dengan berat antara 180 dan 220 gram dan berusia antara dua dan tiga bulan dibagi menjadi lima kelompok, dengan
enam tikus di masing-masing kelompok. Setelah berpuasa selama 18 hingga 24 jam, tikus diprovokasi dengan 1 mL asam
asetat 0,5% secara intraperitoneal, dan kemudian dipantau dan dihitung selama 10 menit.
Selanjutnya, setiap kelompok menerima perawatan oral berikut (L, 2023):

Copyright © 2024 Muhammad Gunawan, Page 85


This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
Journal of Pharmaceutical and Health Research
Vol 5, No 2, June 2024, pp. 82−90
ISSN 2721-0715 (media online)
DOI 10.47065/jharma.v5i2.5015

1. Kelompok I : Kontrol negatif berupa suspensi CMC 0,5% sebanyak 1 mL


2. Kelompok II : Pembanding berupa suspensi metampiron 45 mg/KgBB
3. Kelompok III : Suspensi ekstrak etanol buah kundur (EEBK) dengan konsentrasi 2% dosis 100 mg/kgBB
4. Kelompok IV : Suspensi ekstrak etanol buah kundur (EEBK) dengan konsentrasi 2% dosis 200 mg/kgBB
5. Kelompok V : Suspensi ekstrak etanol buah kundur (EEBK) dengan konsentrasi 2% dosis 400 mg/kgBB.

Setelah itu, geliatnya diperhatikan, dan selama satu jam, jumlah geliat dihitung setiap sepuluh menit. Tikus
mengempiskan perutnya dan menarik kedua kaki belakangnya ke belakang, memberikan kesan bahwa tubuhnya lebih
panjang, dan geliatnya yang khas itulah yang dijadikan acuan.
2.14 Perhitungan dan Analisis Data
Daya analgesik, atau kapasitas bahan uji untuk mengurangi respons geliat tikus yang dihasilkan oleh induksi asam asetat,
dihitung dengan menggunakan data penelitian dalam bentuk jumlah geliat kumulatif pada setiap kelompok perlakuan.
Daya analgesik ini dilaporkan dalam bentuk persen (%). Dengan membandingkan jumlah rata-rata geliat kelompok bahan
uji kontrol negatif (blanko), persentase daya analgetik dihitung (Firmansyah et al., 2021).
Rasio potensi analgesik
Jumlah geliat pada kelompok pemberian bahan uji
(100% − X 100%) (2)
Jumlah geliat pada kelompok pemberian blanko

Untuk melihat persentase efektivitas analgesik bahan uji, dilakukan dengan perhitungan membandingkan % daya
analgesik kelompok bahan uji terhadap persen daya analgesik kelompok pembanding (metampiron) yang dihitung dengan
rumus sebagai berikut:
% daya analgesik kelompok pemberian bahan uji
Persen efektivitas analgetik = % 𝑑𝑎𝑦𝑎 𝑎𝑛𝑎𝑙𝑔𝑒𝑡𝑖𝑘 𝑘𝑒𝑙𝑜𝑚𝑝𝑜𝑘 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟𝑖𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑎𝑛𝑑𝑖𝑛𝑔 X 100% (3)

Setelah perolehan data persentase daya analgesik, data tersebut dinilai dengan menggunakan SPSS (Static Product
and Service Solution) dan teknik ANOVA (Analysis of Variance) satu arah dengan tingkat kepercayaan 95%. Mengetahui
apakah ada perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan yang berbeda adalah tujuan dari uji ANOVA. Untuk
memastikan apakah ada perbedaan yang signifikan antara dua kelompok perlakuan yang dibandingkan, uji Tukey
kemudian dilakukan.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Identifikasi Tanaman Kundur dan Pemeriksaan Makroskopik Buah Kundur
Buah Kundur diindetifikasi pada Tumbuhan Hebarium Medanense (MEDA) dengan bahasa latin (Benincasa hispida
(Thumb.) Cogn.) kemudian berdasarkan bentuk ukuran, bau dan warna dari buah kundur (Benincasa hispida (thunb.)
Cogn.) memiliki bentuk bulat memanjang, berdaging dengan panjang 20 sampai 30 cm, berwarna hijau dan mempunyai
serbuk putih yang menyerupai tepung, baunya khas serta mempunyai biji yang keras berbentuk pipih bewarna putih.
3.2 Hasil Pemeriksaan Kadar Air
Sebagai dari proses karakterisasi, kadar air simplisia diperiksa, pendekatan azeotropi menghasilkan kadar air sebesar 5%
untuk serbuk simplisia buah kundur. Temuan ini mendukung literatur yang menyatakan bahwa simplisia buah memiliki
kadar air 8%. Tujuan dari prosedur pengeringan yang digunakan untuk membuat simplisia adalah untuk menurunkan
kadar air bahan. Kadar air dapat berdampak pada kualitas simplisia dengan membuatnya lebih rentan terhadap
kontaminasi mikroba, reaksi enzimatik, dan degradasi fisik (Nirmala et al., n.d.).
3.3 Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol Buah Kundur
Hasil uji skrining fitokimia dari serbuk simplisia dan ekstrak etanol buah kundur dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hasil skrining fitokimia buah kundur
Serbuk simplisia buah Ekstrak etanol buah
No Metabolit sekunder
kundur kundur
1 Alkaloid Positif Positif
2 Flavonoid Positif Positif
3 Saponin Positif Positif
4 Tanin Positif Positif
5 Glikosida Positif Positif
6 Steroid/triterpenoid Positif Positif

Copyright © 2024 Muhammad Gunawan, Page 86


This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
Journal of Pharmaceutical and Health Research
Vol 5, No 2, June 2024, pp. 82−90
ISSN 2721-0715 (media online)
DOI 10.47065/jharma.v5i2.5015

3.4 Hasil Pengujian Efektivitas Analgetik Ekstrak Etanol Buah Kundur


Mengetahui apakah ada dampak analgetik pada ekstrak etanol buah kundur dan seberapa besar daya analgetik yang
dimiliki buah kundur merupakan tujuan dari pengujian ekstrak etanol buah kundur. Prosedur yang digunakan untuk
pengujian ini adalah dengan memberikan rangsangan kimiawi yang mengandung asam asetat dan mengukur jumlah geliat.
Pendekatan ini dipilih karena kesederhanaannya, kemudahan penggunaan, dan sensitivitasnya yang tinggi dalam hal
analgesik non-narkotika atau analgesik ringan.
Tikus putih jantan dipilih sebagai hewan percobaan karena fisiologi anatomi mereka sebanding dengan manusia,
sehingga mudah ditangani, dibeli, dipelihara, dan dipekerjakan. Dengan demikian, tikus putih jantan dapat beradaptasi
dengan baik di laboratorium dan dapat menyesuaikan diri dengan baik di lingkungan laboratorium. dapat menyesuaikan
diri dengan baik di lingkungan laboratorium dan harganya terjangkau. Hewan dengan jenis kelamin yang sama-tikus putih
jantan dengan berat antara 180 dan 220 gram-dipekerjakan untuk mencegah fluktuasi hasil.
Hewan uji dipilih dalam keadaan sehat berdasarkan pengamatan bahwa mereka tidak menunjukkan indikasi yang
membahayakan, seperti perilaku yang lincah, atau variasi berat badan (> 10%). Untuk meminimalkan dampak makanan
terhadap hasil pengujian, hewan uji dipuasakan selama ± 18 jam sebelum percobaan. Berdasarkan hasil konversi dosis
dari manusia (500 mg sekali pakai) ke tikus, maka kelompok pembanding pada uji ini diberikan dosis 45 mg/kgBB
metampiron sebagai kelompok blanko yang diberi CMC 0,5%. Suspensi ekstrak etanol buah kundur 2% diberikan dengan
dosis 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 400 mg/kgBB pada kelompok perlakuan bahan uji.
Tikus yang digunakan dalam percobaan pada awalnya diberi rangsangan kimiawi, yaitu asam asetat glasial 0,5%
secara intraperitoneal (IP). Untuk tikus, volume pemberian oral maksimal sediaan uji adalah 5 mililiter. Tikus akan
menggeliat sebagai respon rasa sakit saat merasakan adanya asam asetat karena akan melepaskan ion H+ yang akan
menyebabkan iritasi jaringan lokal. Hal ini akan mengakibatkan penurunan pH jaringan dan iritasi pada jaringan, yang
akan ditandai dengan tikus menggeliat-geliatkan kedua pasang kakinya ke depan dan ke belakang serta menekan perutnya
ke lantai.
3.5 Hasil Perhitungan Jumlah Geliat
Konsekuensi dari induksi asam asetat adalah jumlah geliat. Tikus diorientasikan selama sepuluh menit untuk mengamati
reaksi menggeliat yang ditimbulkan oleh proses induksi. Data rata-rata jumlah geliat untuk setiap perlakuan pada enam
hewan percobaan ditampilkan. Informasi tentang jumlah geliat tikus putih jantan sebelum induksi asam asetat 0,5%
hingga satu mililiter dapat dilihat pada Tabel 2 dan setelah induksi dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 2. Data orientasi rata-rata jumlah sebelum diinduksi asam asetat 0,5%

Tikus Sebelum diinduksi dengan asam asetat


1 5 7 6 7 5
2 7 6 7 7 6
3 6 7 7 6 6
4 7 5 7 6 5
5 7 7 7 6 6
6 7 7 6 6 5
Tabel 3. Data orientasi rata-rata jumlah sebelum diinduksi asam asetat 0,5%

Tikus Sesudah diinduksi asam asetat 0,5%


1 28 24 25 25 25
2 27 22 23 23 23
3 29 25 26 26 26
4 31 21 22 22 23
5 29 24 25 25 25
6 30 26 27 27 27
Pemberian asam asetat 0,5% dengan volume 1 mL pada setiap tikus percobaan sudah dapat memberikan
rangsangan nyeri yang nyata, seperti yang ditunjukkan oleh peningkatan yang sangat signifikan pada jumlah respon
menggeliat yang dihasilkan dari sebelum induksi ke setelah induksi, sesuai dengan pengamatan pada Tabel 3.2 dan 3.3.
Untuk alasan ini, volume 1 mL dan dosis asam asetat 0,5% dipilih sebagai pemicu nyeri untuk penelitian tambahan.
Proses siklooksigenase dan pembuatan prostaglandin membebaskan asam bebas dari jaringan fosfolid, yang
menghasilkan rasa sakit pada teknik menggeliat yang diinduksi asam asetat. Karena peningkatan permeabilitas kapiler
yang disebabkan oleh peningkatan kadar prostaglandin dalam rongga peritoneum, maka terjadi peningkatan
ketidaknyamanan inflamasi.
Jumlah geliat pada hewan setelah diinduksi dan telah ada respon nyeri, dilanjutkan pemberian berbagai bahan
uji, diperoleh jumlah geliatnya setiap 10 menit sampai menit ke-60. Datanya dapat dilihat pada Tabel 4.

Copyright © 2024 Muhammad Gunawan, Page 87


This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
Journal of Pharmaceutical and Health Research
Vol 5, No 2, June 2024, pp. 82−90
ISSN 2721-0715 (media online)
DOI 10.47065/jharma.v5i2.5015

Tabel 4. Rata-rata jumlah geliat tikus sesudah pemberian bahan uji


Waktu perhitungan Jumlah geliat pada setelah pemberian masing-masing bahan uji
(menit ke) CMC Metampiron 100 mg/KgBB 200 mg/KgBB 400 mg/KgBB
10 29 24 25 25 25
20 54 35 47 44 43
30 41 22 32 30 27
40 35 12 22 20 11
50 36 7 18 14 8
60 34 0 11 7 1

Berdasarkan hasil pengamatan analgetik digunakan asam asetat 0,5% Tabel 4. menunjukkan bahwa tikus putih
jantan yang telah diinduksi dan memperlihatkan respon nyeri, diberikan berbagai bahan uji, sampai menit ke-20
seluruhnya masih terlihat adanya kenaikan jumlah geliat, belum ada penurunan jumlah geliat, berarti sampai menit ke-20
belum ada pengurangan rasa nyeri atau dapat dikatakan belum terlihat adanya daya analgetik.
Pada menit ke-30 sampai menit ke-60 sudah terlihat adanya penurunan jumlah geliat dari berbagai kelompok yang
diberikan bahan uji, dan terlihat penurunan jumlah geliat yang berbeda pada setiap kelompok berbagai bahan uji. Semakin
tinggi dosis ekstrak etanol buah kundur (EEBK) yang diberikan, semakin besar penurunan jumlah geliat, berarti semakin
besar daya analgetik nya.
3.6 Hasil Perhitungan Persentase Daya Analgesik
Untuk melihat besarnya persentase daya analgetik dari berbagai dosis ekstrak etanol buah kundur yang diberikan dapat
ditentukan dengan perhitungan persentase daya analgetik yaitu membandingkan jumlah geliat dari bahan uji dengan
jumlah geliat dari blanko yang dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Persentase daya analgetik berbagai bahan uji

Persen daya analgetik berbagai bahan uji (%)


Waktu
(Menit) EEBK 100 EEBK 200 EEBK 400
Metampiron
mg/KgBB mg/KgBB mg/KgBB
10 17,46±5,37 13,97±5,36 13,97±5,36 13,39±4,08
20 35,20±4,11 13,55±3,12 18,50±2,46 20,96±2,93
30 46,40±5,37 20,27±2,85 27,66±2,54 35,36±4,31
40 66,78±2,32 36,25±1,99 43,45±2,32 55,21±1,79
50 82,07±2,57 50,42±3,29 62,82±1,85 80,27±2,02
60 98,94±1,64 68,05±2,14 77,92±1,73 97,53±1,23
Tabel 5. menunjukan bahwa persentase daya analgesik tertinggi adalah pada kelompok pemberian metampiron 45
mg/kgBB. Pada kelompok yang diberikan bahan uji ekstrak etanol buah kundur (EEBK) semakin tinggi dosis yang
diberikan, maka persen daya analgetiknya semakin besar, terlihat pada menit ke-50, dan 60 dengan dosis EEBK 400
mg/kg BB menunjukkan persentase daya analgesik mendekati dengan pemberian metampiron 45 mg/kgBB.
3.7 Hasil Perhitungan Efektivitas Analgetik
Dengan menghitung kemanjuran analgesik dengan membandingkan daya analgesik bahan uji dengan daya analgesik
pembanding metampiron, maka dapat diketahui sejauh mana efektivitas analgesik dari berbagai dosis ekstrak etanol buah
kundur (EEBK) yang diberikan. menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis ekstrak etanol buah kundur (EEBBK)
diberikan, maka efektivitas analgesik semakin besar, maka persen daya analgetiknya semakin besar, terlihat dengan dosis
EEBK 400 mg/KgBB menunjukkan efektivitas analgetiknya paling besar.
3.8 Uji Statistik Anova dan Tukey
Hasil uji dan perhitungan daya analgetik dari berbagai kelompok yang diberikan berbagai bahan uji terlihat adanya
perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Untuk melihat adanya perbedaan yang signifikan hasil yang
diperoleh di antara berbagai kelompok uji ini dilakukan perhitungan uji ANOVA dan untuk melihat kelompok mana yang
berbeda dan yang tidak berbeda dilakukan dengan uji Tukey. Hasil uji ANOVA dan Tukey.

Copyright © 2024 Muhammad Gunawan, Page 88


This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
Journal of Pharmaceutical and Health Research
Vol 5, No 2, June 2024, pp. 82−90
ISSN 2721-0715 (media online)
DOI 10.47065/jharma.v5i2.5015

1. Hasil uji pada menit ke-10


Setelah pemberian ekstrak etanol buah kundur dosis 100 mg/kg BB, 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, dan metampiron pada
menit ke-10 terlihat bahwa tidak ada perbedaan daya analgetik antara berbagai kelompok perlakuan. Nilai daya analgesik
yang masih terlalu kecil menunjukkan bahwa tidak ada daya analgesik yang baik dari berbagai kelompok perlakuan.
2. Temuan uji pada menit ke-20
Pada menit ke-20, terlihat bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada potensi analgesik antara kelompok perlakuan
ketika ekstrak etanol buah kundur diberikan dengan dosis 200 mg/kgBB dibandingkan dengan 100 mg/kgBB. Meskipun
tidak ada perbedaan yang signifikan antara dosis 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB, namun terdapat perbedaan yang
signifikan antara dosis 400 mg/kgBB dan metampiron. Selain itu, nilai daya analgesik masih terlalu rendah, yang berarti
kelompok perlakuan yang berbeda tidak memiliki daya analgesik yang baik.
Daya analgesik masing-masing kelompok perlakuan mulai muncul pada menit ke 30 dan 40. Kelompok yang
menerima metampiron menunjukkan daya analgesik tertinggi yaitu 66,77%, sedangkan kelompok blanko yang menerima
CMC tanpa bahan uji tidak menunjukkan daya analgesik sama sekali.
Dosis 200 mg/kgBB dan dosis 100 mg/kg BB berbeda secara signifikan pada menit ke-50 dan ke-60. Namun, tidak
ada perbedaan yang signifikan antara kelompok yang mendapat metampiron dan ekstrak etanol buah kundur dosis 400
mg/kg BB. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol buah kundur dosis 400 mg/kg BB memiliki daya
analgetik dan efektivitas yang sangat baik, karena tidak ada perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan
metampiron.

4. KESIMPULAN
Ekstrak etanol buah kundur menghasilkan senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin,
steroid/triterpenoid, dan glikosida. Senyawa-senyawa tersebut dapat menimbulkan efek analgesik, seperti penurunan rasa
nyeri pada tikus putih jantan yang diinduksi dengan larutan asam asetat 0,5% hingga 1 mL. Efektivitas analgesik terkuat
terlihat pada menit ke-50, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada efektivitas analgesik antara ekstrak etanol
buah kundur dengan metampiron dosis 45 mg/KgBB pada menit ke-50 dan ke-60 setelah pemberian bahan uji.

REFERENCES
Anaba, F., Andriyanto, & Mayasari, N. L. P. I. (2021). Potensi Infusa Kemiri (Aleurites moluccana) sebagai Analgesik dan Stimulator
Stamina. Acta VETERINARIA Indonesiana, 9(1), 14–20. [Link]
Anisa, N., & Najib, S. Z. (2022). Skrining Fitokimia Dan Penetapan Kadar Total Fenol Flavonoid Dan Tanin Pada Daun Kersen.
INDONESIAN JOURNAL PHARMACEUTICAL AND HERBAL MEDICINE (IJPHM) Akademi Farmasi Yannas Husada
Bangkalan, 1(2), 96–104.
Aprilia, A. Y., Salasanti, C. D., & Agustiani, N. (2022). Penentuan Kadar Flavonoid Total dan Aktivitas Antipiretik Ekstrak Etanol
Buah Kapulaga (Amomum compactum Soland. ex Maton). Prosiding Seminar Nasional Diseminasi, Vol 2, 279–285.
Firmansyah, D., Wibisana, H., & Zainab, S. (2021). Analisa dan Pemetaan Suhu Permukaan Laut di Pesisir Sampang Bagian Utara
Dengan Data Citra Satelit Terra Modis. KERN : Jurnal Ilmiah Teknik Sipil, 7(1), 19–26. [Link]
Hayon, M. F. K., Supriningrum, R., & Fatimah, N. (2023). IDENTIFIKASI JENIS SAPONIN DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI
EKSTRAK METANOL KULIT BATANG SEKILANG (Embelia borneensis Scheff.) TERHADAP BAKTERI Pseudomonas
aeruginosa ATCC 9027 DAN Streptococcus mutans ATCC 25175. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 5(2), 258–272.
[Link]
Ilmi, T., Suprihatin, Y., & Probosiwi, N. (2021). Hubungan Karakteristik Pasien dengan Perilaku Swamedikasi Analgesik di Apotek
Kabupaten Kediri, Indonesia. Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan, 17(1), 21. [Link]
Kimia, J., & Pendidikan, D. A. N. (2023). S a i n s. 12, 41–49.
L, K. M. (2023). UJI EFEKTIVITAS ANALGESIK KOMBINASI EKSTRAK ETANOL DAUN BELIMBING MANIS ( Averrhoa
carambola L .) DAN DAUN. 3(2), 90–99.
Lara, A. D., Elisma, & Sani K, F. (2021). Uji Aktivitas Analgesik Infusa Daun Jeruju (Acanthus ilicifolius L.) Pada Mencit Putih Jantan
(Mus musculus). Indonesian Journal of Pharma Science, 3(2), 71–80. [Link]
Mentari, I. A., Wirnawati, W., & Putri, M. R. (2020). KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK DAUN BANDOTAN
(Ageratum conyzoides L) SEBAGAI KANDIDAT OBAT KARIES GIGI. Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi Dan
Kesehatan, 5(1), 1–9. [Link]
Nirmala, E., Yuniarni, U., & Hazar, S. (n.d.). Pemeriksaan Karakteristik Simplisia dan Penapisan Fitokimia Simplisia dan Ekstrak
Etanol Daun Suji ( Draceana angustifolia ( Medik .) Roxb .).
Noviyanti, Farid, P., Irfan Ahmad, R., & Sativa, N. (2023). Determinasi Total Fenol dan Kadar Total Flavonoid Pada Ekstrak Batang
Tanaman Kemuning ( Murraya paniculata ( L .) Jack ) Determination of Total Phenol , Total Flavonoid Levels in the Methanol.
Jurnal Agroteknologi Dan Sains, 7(2), 80–92.

Copyright © 2024 Muhammad Gunawan, Page 89


This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License
Journal of Pharmaceutical and Health Research
Vol 5, No 2, June 2024, pp. 82−90
ISSN 2721-0715 (media online)
DOI 10.47065/jharma.v5i2.5015
Prambudi, H. (2020). Uji Analgetik Infus Daun Jambu Biji Berdaging Merah pada Mencit Jantan dengan Metode Rangsangan Kimia.
Health Information : Jurnal Penelitian, 12(1), 76–85. [Link]
Purnamasari, R., & Tiku, E. (2022). Uji Efektivitas Antipiretik Sari Buah Kundur (Benincasa hispida (Thunb). Cogn) Pada Mencit
Jantan (Mus musculus). Jurnal Kesehatan Luwu Raya, 8(2), 60–69.
Sinaga, M. P. B., Mambang, D. E. P., Lubis, M. S., & Yuniarti, R. (2022). Analgesic Activity Test Of Sungkai Leaf (Peronema
Canescens Jack.) Extract On Male Mice(Mus Musculus). Farmasainkes, 2(1), 100–110.
Sugiarti, B. A. D., Februyani, N., & Saputri, R. K. (2023). Uji Antioksidan Sediaan Suspensi Ekstrak Sereh Dapur (Cymbopogon
Citratus) Dengan Variasi Konsentrasi Suspending Agent PGA (Pulvis Gummi Arabici) Dan CMC-NA
(Carboxymethylcellulosum Natrium). Indonesian Journal of Health Science, 3(2a), 257–262.
[Link]
Tandi, J., Lalu, R., Magfirah, Kenta, Y. S., & Nobertson, R. (2020). Uji Potensi Nefropati Diabetes Daun Sirih Merah (Piper croatum
Ruiz & Pav) pada Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus). KOVALEN: Jurnal Riset Kimia, 6(3), 239–251.
[Link]
Terhadap, L., & Escherichia, B. (2023). Sains Medisina. 1(5), 298–302.
Wijaya. (2022). Penetapan Kadar Air Simplisia Daun Kemangi (Ocimum Basilicum L.) Berdasarkan Perbedaan Metode Pengeringan.
Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia, 4(2), 185–199.
Yulia, M., & Wulandari, Y. (2022). FORMULASI SERBUK EFFERVESCENT SARI BUAH KUNDUR (Benincasa hispida (Thunb)
Cogn.) DENGAN VARIASI NATRIUM BIKARBONAT. SITAWA : Jurnal Farmasi Sains Dan Obat Tradisional, 1(2), 41–49.
[Link]
Yulia, R., Handayani, N., & Juliani, J. (2020). Pengaruh Buah Kundur (Benincasa hispida) dan Buah Nanas (Ananas comosus L. Merr)
Rasio Serta Konsentrasi Gula Terhadap Mutu Fruit Leather. Jurnal Serambi Engineering, 5(2), 995–1002.
[Link]

Copyright © 2024 Muhammad Gunawan, Page 90


This Journal is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License

Anda mungkin juga menyukai