0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan9 halaman

Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan

Diunggah oleh

nuke putri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan9 halaman

Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan

Diunggah oleh

nuke putri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDALAMAN MATERI

(LK MODUL 7)

A. Nama : MARIYANA ULFA


B. Mapel / Kelas : K2. 5
C. Judul Modul : Moderasi Beragama
D. Kegiatan Belajar : Wawasan Kebangsaan (KB 3)
E. Refleksi :
Wawasan kebangsaan mengacu pada pemahaman yang mendalam tentang identitas, sejarah,
dan nilai-nilai yang menjadi dasar keberadaan suatu bangsa. Dalam konteks moderasi beragama,
hal ini berarti memahami bagaimana nilai-nilai kebangsaan dapat sejalan dengan nilai-nilai
moderasi dalam menjaga keharmonisan antaragama.

BUTIR
NO RESPON/JAWABAN
REFLEKSI
1 Konsep
(Beberapa
istilah dan
definisi) di
KB

A. Konsep Wawasan Kebangsaan


Wawasan kebangsaan adalah pemahaman mendalam dan kesadaran yang
dimiliki oleh individu atau suatu bangsa terhadap identitas, nilai-nilai, sejarah,
dan tujuan bersama yang menjadi dasar keberadaan suatu negara. Secara lebih
spesifik, wawasan kebangsaan mencakup pemahaman terhadap kebudayaan, adat
istiadat, tradisi, dan nilai-nilai yang dipegang oleh suatu bangsa sebagai entitas
politik dan sosial.
Wawasan kebangsaan penting untuk memperkuat jati diri dan persatuan suatu
negara, serta untuk membentuk rasa solidaritas dan kesetiaan warga terhadap
negara mereka. Dengan memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, individu dan
masyarakat dapat merasa terikat oleh persamaan nilai dan tujuan bersama, yang
pada gilirannya dapat memperkuat stabilitas dan keberlanjutan negara dalam
konteks globalisasi yang semakin kompleks ini.
Wawasan kebangsaan Indonesia menjadi respon terhadap dari kolonialisme
Belanda dalam politik, eksploitasi ekonomi dan penetrasi budaya.
Konsep wawasan kebangsaan dilihat dari perspektif agama yaitu:
1) Ukhuwah Islamiyah Wathoniyah Basyariyah artinya persaudaraan antara
warga negara atau sesama bangsa
2) Hubbul Wathon Minal Iman berarticinta terhadap tanah airadalah bagian dari
iman
3) Sesuai dengan Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13

Peraturan/kebijakan mengenai pentingnya wawasan kebangsaan yaitu:


1) UUD 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2 Penetapan Presiden RI Nomor 1 Tahun 1965
tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama
2) Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor:
01/BER/mdn-mag/1969 tentang Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerintahan
Dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan dan
Ibadat Agama Oleh Pemeluknya
3) Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 1
Tahun 1979 tentang Tatacara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar
Negeri kepada Lembaga Keagamaan
4) Keputusan Menteri Agama Nomor 35 Tahun 1980 tentang
WadahMusyawarah Umat Beragama Instruksi Menteri Agama Nomor 4Tahun
1978 tentang Kebijaksanaan Mengenai Aliran-Aliran Kepercayaan
5) Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 9
Tahun 2006/8 Tahun 2006 yang melahirkan Forum Kerukunan Umat Beragama
(FKUB)
Peraturan/kebijakan mengenai pentingnya wawasan kebangsaanyaitu :1) Undang-Undang
Dasar 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2PenetapanPresiden RI Nomor 1 Tahun 1965 tentang
PencegahanPenyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama2) Keputusan Bersama Menteri
Agama dan Menteri Dalam NegeriNomor: 01/BER/mdn-mag/1969 tentang Pelaksanaan
Tugas Aparatur Pemerintahan Dalam Menjamin Ketertiban danKelancaran
Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat Agama OlehPemeluknya3) Keputusan
Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam NegeriNomor: 1 Tahun 1979 tentang Tatacara
Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga
Keagamaan4) Keputusan Menteri Agama Nomor 35 Tahun 1980 tentang
WadahMusyawarah Umat BeragamaInstruksi Menteri Agama Nomor 4Tahun 1978 tentang
Kebijaksanaan Mengenai Aliran-AliranKepercayaan5) Peraturan Bersama Menteri
Agama dan Menteri Dalam NegeriNomor: 9 Tahun 2006/8 Tahun 2006 yang melahirkan
ForumKerukunan Umat Beragama (FKUB)B. Pentingnya Membangun Rasa Cinta
Tanah Air
Nasionalisme muncul sebagai salah satu perwujudan perlawanan terhadap
feodalisme (kekuasaan absolut yang dimiliki oleh pemuka agama dan
bangsawan). Seiring munculnya negara bangsa, timbullah berbagai pemikiran
tentang nasionalisme sebagai basis filosofis terbentuknya negara bangsa tersebut
Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan memiliki wilayah yang sangat luas,
dengan jumlah penduduk yang sangat besar dengan berbagai macam ras, suku,
budaya, dan agama
Perlunya nilai-nilai nasionalisme dalam menghadapi perbedaan tersebut, Nilai-
nilai nasionalisme dalam konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
yaitu :
1) Pancasila
2) Undang-Undang Dasar 1945
3) Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika.
Nasionalisme muncul sebagai salah satu perwujudan perlawananterhadap feodalisme
(kekuasaan absolut yang dimiliki oleh pemukaagama dan bangsawan). Seiring munculnya
negara bangsa, timbullahberbagai pemikiran tentang nasionalisme sebagai basis
filosofisterbentuknya negara bangsa tersebut.

Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan memiliki wilayah yangsangat luas, dengan
jumlah penduduk yang sangat besar denganberbagai macam ras, suku, budaya, dan agama

Perlunya nilai-nilai nasionalisme dalam menghadapi perbedaantersebut, Nilai-nilai
nasionalisme dalam konsep Negara KesatuanRepublik Indonesia (NKRI) yaitu :1)
Pancasila2) Undang-Undang Dasar 19453) Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal
Ika.
Mencintai tanah air merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Rasulullah
mencintai Makkah dan Madinah karena dua tempat mulia tersebut merupakan
tanah air beliau. Mencintai tanah air adalah bagian dari iman, karena tanah air
merupakan sarana primer untuk melaksanakan perintah agama.
Contoh teladan dari nabi untuk mencintai tanah air dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari juz 3 hal. 23

“Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya


kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding kota Madinah Bahkan beliau
sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu
dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya."(HR. Bukhari)
Hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan dianjurkannya mencintai
tanah air serta merindukannya”. Dalam konteks Indonesia, menjaga kemerdekaan
RI, menjaga Pancasila, menjaga BhinekaTunggal Ika, menjaga NKRI, dan
menjaga Undang-Undang Dasar 1945 adalah bagian dari iman dan agama.
Hubbul wathan minal iman mencintai tanah air Indonesia sangat penting bagi
seluruh warga negara RI karena hanya dengan kondisi bangsa dan negara yang
aman dan stabil, masyarakat bangsa ini bisa beribadah dengan nyaman, beramal
dengan baik, dan dapat beristirahat dengan nyenyak.
Dengan kecintaan terhadap tanah air, setiap orang memiliki keinginan untuk
menjadikan tanah airnya maju, aman, dan damai. Dengan cinta tanah air,
seseorang tidak menginginkan bangsanya hancur, terpecah belah, penuh konflik,
dan saling bermusuhan.
Ekspresi cinta pada tanah air pada era saat ini adalah dengan menghormati dan
mematuhi ketentuan hukum dan peraturan-peraturannya, memelihara fasilitas
umum, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, bekerja untuk kemajuan
bangsa dalam menyongsong masa depan Indonesia maju
C. Pentingnya Berbangsa dan bernegara
Berdasarkan Pancasila yang menjadi panduan moderasi beragama,sila pertama
"Ketuhanan yang Maha Esa", mencerminkan komitmen kebangsaan untuk
menghargai keberagaman agama dan kepercayaan. Masyarakat perlu
membangun sikap saling menghormati dan menghargai keyakinan orang lain,
sehingga tidak ada pihak yang merasa dianak tirikan atau dikesampingkan.
Komitmen kebangsaan dalam konteks moderasi beragama mencakupupaya untuk
menciptakan suasana yang kondusif bagi berbagaiagama dan kepercayaan untuk
berkembang dan berdampingansecara damai.
Pendidikan kebangsaan yang inklusif, misalnya, menjadi salah satucara untuk
memperkenalkan nilai-nilai moderasi beragama sejak dini
Komitmen kebangsaan dalam moderasi beragama juga tercermin dalam
perlindungan terhadap kelompok minoritas dan kepercayaan yang kurang dikenal
bentuk-bentuk wawasan kebangsaan yang perlu ditanamkan sebagaiwarga negara
yaitu :
1) Toleransi
Toleransi dalam konteks moderasi beragama mencakupkemampuan untuk
menghargai perbedaan keyakinan danagama orang lain, serta memberi mereka
kebebasan untukmengekspresikan keyakinan mereka tanpa rasa takut
atautekanan
2) Anti Kekerasan
Moderasi beragama menolak semua bentuk radikalisme dan ekstremisme, agama
adalah sarana untuk mencapai kedamaian dan kasih sayang, bukan alasan untuk
melakukan kekerasan atau diskriminasi. Dalam upaya menghindari kekerasan
atas nama agama, moderasi beragama mengedepankan dialog dan komunikasi
yang efektif antara berbagai kelompok masyarakat. Melalui interaksi yang sehat
dan konstruktif, kita dapat menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang
keberagaman agama dan keyakinan, serta mengatasi kesalahpahaman yang sering
kali menjadi akar permasalahan
3) Akomodasi dan Penerimaan Terhadap Tradisi dan Budaya
Moderasi beragama juga mencakup sikap akomodatif dan penerimaan terhadap
perbedaan tradisi dan budaya. Sebagai bangsa yang besar, kita harus bersikap
terbuka dan menerima perbedaan, bukan justru menciptakan sekat dan
perpecahan. Dengan demikian, keharmonisan dan persatuan bangsa akanterus
terjaga
Penerimaan terhadap tradisi dan budaya dalam konteks moderasi beragama
mencakup penghormatan dan pengakuan terhadap keberagaman cara beribadah,
adat istiadat, dan tradisi yang ada di masyarakat. Setiap agama memilikikeunikan
tersendiri dalam melaksanakan praktik keagamaan,yang sering kali terkait
dengan tradisi dan budaya local
Nilai-nilai yang sering terkait dengan wawasan kebangsaan yaitu :
1) Patriotisme
2)Nasionalisme
3)Bhineke Tunggal Ika
4) Keadilan dan Kesetaraan
5) Demokrasi
6) Tanggung Jawab Sosial
7) Kemandirian
D. Urgensi Posisi Kemenag dalam Penguatan Moderasi Beragama
Kementerian Agama (Kemenag) memiliki urgensi yang sangat penting dalam
penguatan moderasi beragama di Indonesia dan negara-negara lain yang
memiliki departemen atau kementerian serupa.
Secara keseluruhan, peran Kemenag dalam penguatan moderasi beragama tidak
hanya terbatas pada pengaturan formal terhadap urusan keagamaan, tetapi juga
meliputi pendidikan, pengawasan, penyuluhan, dan memfasilitasi dialog
antaragama. Dengan berbagai inisiatif ini, Kemenag dapat berkontribusi secara
signifikan dalam menjaga kestabilan sosial dan membangun masyarakat yang
damai dan harmonis berdasarkan nilai-nilai agama yang moderat dan toleran.
Kemenag memiliki tanggung jawab utama dalam mengatur urusan keagamaan di
Indonesia. Hal ini mencakup pengelolaan tempat ibadah, regulasi terkait agama,
serta pengawasan terhadap penyelenggaraan ibadah dan kegiatan keagamaan
lainnya. Dengan memiliki otoritas yang kuat, Kemenag dapat memberikan
pengarahan yang konsisten terkait praktik keagamaan yang moderat dan toleran.
Kemenag memiliki peran dalam mengawasi dan mengendalikan aliran-aliran
keagamaan yang berpotensi radikal atau ekstremis. Dengan adanya pengawasan
yang ketat, Kemenag dapat mencegah penyebaran paham-paham yang
bertentangan dengan nilai-nilai moderat dan mengancam keamanan nasional.
Munculnya tantangan moderasi beragama dan keberhasilan usaha-usaha
mengatasinya sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan tindakan pemerintah
termsuk guru. Guru sebagai representasi negara bersikap dan bertindak adil
dalam pelayanan keagamaan sebagaimana prinsip dan mandat dari Pancasila dan
UUD Negara RI Tahun 1945
Pentingnya moderasi beragama bagi Indonesia menurut kemenag :
1) negara yang bermasyarakat religius dan majemuk. Meskipun bukan negara
agama, masyarakat lekat dengan kehidupan beragama dan kemerdekaan
beragama dijamin oleh konstitusi
2) Moderasi beragama merupakan perekat antara semangat beragama dan
komitmen berbangsa
3)Moderasi Beragama menjadi sarana mewujudkan kemaslahatan kehidupan
beragama dan berbangsa yang harmonis, damai dan toleran sehingga Indonesia
maju.
Tantangan dalam moderasi beragama dan wawasan kebangsaan :
1) praktik beragama yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan
2) munculnya tafsir agama yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara
pengetahuan
3) terlihat adanya cara beragama yang merusak ikatan kebangsaan dengan
tekanan yang mendorong pada pilihan sikap untuk mempolitisasi agama dan
sikap majoritarianisme
Pentingnya moderasi beragama bagi Indonesia menurut kemenag :1) negara yang
bermasyarakat religius dan majemuk. Meskipunbukan negara agama, masyarakat lekat dengan
kehidupanberagama dan kemerdekaan beragama dijamin oleh
konstitusi2) Moderasi beragama merupakan perekat antara semangatberagama dan
komitmen berbangsa3) Moderasi Beragama menjadi sarana mewujudkan
kemaslahatankehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai dantoleran sehingga
Indonesia maju.

Tantangan dalam moderasi beragama dan wawasan kebangsaan :1) praktik
beragama yang bertentangan dengan nilai
kemanusiaan2) munculnya tafsir agama yang tidak dapatdipertanggungjawabkan secara
pengetahuan3) terlihat adanya cara beragama yang merusak ikatan kebangsaandengan
tekanan yang mendorong pada pilihan sikap untukmempolitisasi agama dan sikap
majoritarianisme
E. Jati Diri Guru
Jati diri guru dalam menerapkan moderasi beragama merupakan hal yang sangat
penting dalam konteks pendidikan dan pembentukan karakter siswa.
Guru adalah sosok yang menjadi teladan utama bagi siswa. Dengan memiliki jati
diri yang kuat dalam menerapkan nilai-nilai moderasi beragama, guru dapat
mempengaruhi siswa secara langsung melalui perilaku dan tindakan sehari-hari
yang menunjukkan toleransi, penghargaan terhadap perbedaan, serta sikap
inklusif terhadap semua agama dan keyakinan.
Seorang guru yang memiliki jati diri yang kuat dalam konteks moderasi
beragama akan memiliki pemahaman yang mendalam tentang agama-agama
yang berbeda dan keberagaman dalam masyarakat. Hal ini memungkinkan guru
untuk mengajarkan materi agama dengan cara yang tidak hanya akademis, tetapi
juga mengedepankan penghargaan terhadap keberagaman dan menjauhkan siswa
dari pemahaman sempit atau ekstremis.
Dengan memiliki jati diri yang kuat dalam menerapkan moderasi beragama, guru
dapat menjadi agen perubahan positif dalam masyarakat dengan mempengaruhi
generasi muda untuk menjadi warga negara yang lebih toleran, terbuka, dan
menghargai keberagaman. Oleh karena itu, penting bagi pendidikan untuk terus
mendorong pembentukan jati diri guru yang sesuai dengan nilai-nilai moderasi
beragama ini.

Guru juga berperan sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas


penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui
pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari
intervensi politik, serta bersih dari praktikKorupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Guru juga berperan sebagai perencana, pelaksana, dan pengawaspenyelenggaraan tugas umum
pemerintahan dan pembangunannasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik
yangprofesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktikKorupsi, Kolusi, dan
NepotismeGuru perlu memiliki kapasitas :
1) Wawasan keagamaan
Memahami nilai universal ajaran agama, Memahami argumentasi teologis
Moderasi Beragama, Memahami indikator Moderasi Beragama, Bersedia
menghormati keyakinan umat agama lain
2) Wawasan Kebangsaan
Memiliki komitmen terhadap NKRI, Memiliki wawasan kebangsaan yang luas,
Memahami regulasi (konsep dan aplikasi), Mendukung dan implementasikan
regulasi yang adil dan nondiskriminasi, Memiliki kesadaran menjadi ASN
Kemenag adalah wujud, keimanan, Memiliki kesadaran menerima kesetaraan
warga negaraadalah bagian dari ajaran agama
3) Kecakapan
Citra diri ASN termasuk guru-guru (konsep diri sebagai aparatur, negara untuk
urusan agama), Kepemimpinan, Keterampilan membangun jejaring, kemampuan
membentuk pemahaman, resolusi konflik, berpikir kritis, analisis sosial,literasi
digital.
4) Sikap Diri
Sikap diri ASN termasuk Guru-guru perlu memiliki nilai-nilai Kemenag,
inklusif, demokratis, egaliter dan moderat, humanis, non diskriminatif, berani,
anti kekerasan
5) Paham Konteks Persoalan kehidupan Keagamaan
Memahami konteks yang membenturkan agama dan negara, Memahami konteks
benturan paham dan praktik keagamaan, dalam ruang intra (internal) agama,
Memahami REEVE (Religious, Exclusivism, Extremism, Violent Extremism)
Guru perlu memiliki kapasitas :1) Wawasan keagamaan

Memahami nilai universal ajaran agama

Memahami argumentasi teologis Moderasi Beragama

Memahami indikator Moderasi Beragama

Bersedia menghormati keyakinan umat agama lain2) Wawasan Kebangsaan

Memiliki komitmen terhadap NKRI

Memiliki wawasan kebangsaan yang luas

Memahami regulasi (konsep dan aplikasi)

Mendukung dan implementasikan regulasi yang adil dan nondiskriminasi

Memiliki kesadaran menjadi ASN Kemenag adalah wujud

keimanan

Memiliki kesadaran menerima kesetaraan warga negaraadalah bagian dari ajaran agama3)
Kecakapan

Citra diri ASN termasuk guru-guru (konsep diri sebagaiaparatur, negara untuk urusan agama),
Kepemimpinan,Keterampilan membangun jejaring, kemampuan membentukpemahaman,
resolusi konflik, berpikir kritis, analisis sosial,literasi digital.4) Sikap Diri

Sikap diri ASN termasuk Guru-guru perlu memiliki nilai-nilaiKemenag, inklusif,
demokratis, egaliter dan moderat, humanis,non diskriminatif, berani, anti kekerasan5) Paham
Konteks Persoalan kehidupan Keagamaan

Memahami konteks yang membenturkan agama dan negara

Memahami konteks benturan paham dan praktik keagamaan

dalam ruang intra (internal) agama

Memahami REEVE (Religious, Exclusivism, Extremism,Violent Extremism

Daftar
materi pada
Bagaimana negara dapat mengakomodasi keberagaman agama tanpa
2 KB yang
mengorbankan identitas kebangsaan yang kuat sering kali sulit dipahami.
sulit
dipahami
Daftar materi
yang sering
Miskonsepsi yang sering terjadi adalah bahwa wawasan kebangsaan
mengalami
memungkinkan penggunaan agama untuk kepentingan politik tertentu, yang
3 miskonsepsi
sebenarnya bertentangan dengan prinsip-prinsip moderasi beragama yang
dalam
menjunjung tinggi kerukunan sosial.
pembelajara
n

Anda mungkin juga menyukai