SEPATU MONITA
Monita bersungut-sungut.
"Kamu itu kenapa, Mon?", tanya ibu yang baru selesai memasak di dapur.
"Ini, bu..", kata Monita sambil menunjukkan sepatu baru.
"Wahhh.. Alhamdulillah dong, Mon.. Kamu sudah dibelikan sepatu baru sama bapak..", kata
ibu.
"Tapi jelek, bu.. Aku tidak suka..", kata Monita.
Monita memang menginginkan sepasang sepatu baru. Sepatu lamanya sudah pudar
warnanya. Makanya tadi bapak mengajak Monita ke toko sepatu di kota.
"Tidak boleh begitu, Mon.. Kamu harus bersyukur lho..", kata ibu menasehati Monita.
***
Marni melihat sepatu di samping lemari di kamarnya. Sepatu yang sudah sangat usang.
Sudah bolong bagian depan. Apalagi warnanya. Sudah sangat memudar.
"Tabunganku belum cukup untuk membeli sepatu baru..", batin Marni.
Marni kemudian memakai sepatu itu. Lalu mengambil tasnya.
Marni memang membantu simboknya berjualan pisang goreng setiap harinya. Bahkan dijual
di sekolah. Nah, dari jualan itu, Marni diberi upah sama simboknya.
Marni kemudian mengambil sepatu bolong miliknya itu. Lalu memakainya. Marni langsung
mengambil tasnya.
"Mbok, Marni berangkat dulu ya..", pamit Marni kepada simbok yang sedang menyiapkan
dagangannya.
Simbok menoleh. "Ya, nduk. Hati-hati..", kata simbok sambil menyerahkan pisang goreng
yang akan dijual Marni di sekolah. Marni menerima sekotak pisang goreng dari simbok.
Lumayan besar kotaknya.
"Assalamu'alaikum, mbok..", ucap Marni.
"Wa'alaikumsalam...", jawab simbok.
***
Di sekolah. "Wah, sepatunya baru niyeee..", ucap Mida sumringah melihat Monita memakai
sepatu baru.
"Apaan sih, Da.. Jelek gini kok..", kata Monita manyun.
"Lhohhh.. Kan bagus banget ini, Ta...", kata Eka menyahut.
"Bagus apaan.. Murahan kok, aku tidak suka..", kata Monita lagi.
Eka dan Mida saling berpandangan. Tidak mengerti kenapa Monita berkata seperti itu.
***
Jam istirahat. "Pisang gorengnya, Ka, Da, Mon..", Marni menjajakan pisang gorengnya
kepada Eka, Mida dan Monita yang sedang duduk di bawah pohon mangga depan sekolah.
"Berapaan, Mar?", tanya Eka.
"Lima ratusan, Ka.. Mau beli berapa?", sahut Marni.
"Emmm.. Beli enam saja, Mar..", kata Eka sambil menyerahkan uang tiga ribu rupiah kepada
Marni.
Marni mengambilkan pisang goreng di dalam plastik bening. Kemudian menyerahkan
kepada Eka. "Terimakasih ya, Ka..", kata Marni.
Diam-diam Monita memperhatikan Marni. Dia melihat sepatu Marni sobek bagian depan.
"Eh, kamu kenapa Mon?", tanya Mida sambil menyenggol Monita.
"Iya, ngalamun saja kamu ini.. Nih, pisang gorengnya.. Ambil dua buat kamu.. Mida juga
dapet dua..", kata Eka sambil menyodorkan pisang goreng dalam plastik kepada Mida dan
Monita.
Mereka menikmati pisang goreng itu dengan nikmatnya.
***
"Bu, Pak.. Makasih ya Monita sudah dibeliin sepatu baru..", kata Monita setiba di rumah dan
bertemu bapak dan ibu.
Ibu dan bapaknya mengernyitkan dahi.
"Iya, Mon.. Sama-sama..", kata bapak.
"Tadi Monita melihat Marni, teman di sekolah hanya memakai sepatu yang sudah robek bu,
pak..", cerita Monita seakan tahu keheranan bapak dan ibunya.
"Kasihan bu, pak.. Dia berjualan pisang goreng setiap hari di sekolah..", lanjut Monita.
"Terus kamu beli tidak?", tanya ibu.
"Kalau tadi yang beli Eka, bu. Biasanya gantian..", jawab Monita.
Bapak dan ibu tersenyum mendengarnya.
"Pak, bu.. Bagaimana kalau sepatu lamaku dikasih ke Marni. Boleh tidak?", tanya Monita
tiba-tiba.
"Ya boleh, Mon.. Asal kamu ikhlas ketika memberikan..", jawab ibu.
"Iya, bu.. Monita ikhlas kok.. Toh sepatu lamaku masih layak dipakai.. Marni pasti senang,
bu, pak..", kata Monita lagi.
"Ya, besok kamu bawa ke sekolah ya.. Lalu berikan sepatumu untuk Marni..", kata ibu lagi.
Monita mengangguk. Dia tersenyum. Sepatu lamanya akan bermanfaat untuk temannya.
Dan dia tetap memakai sepatu baru yang telah dibelikan bapak untuknya.
"Jangan lupa, besok dibeli pisang gorengnya Marni juga Mon..", kata bapak.
"Sekalian membantu dia..", lanjut bapak.
"Iya, pak..", sahut Monita senang.
Besok sepatu lamanya itu akan diberikan kepada Marni. Biar Marni memakai sepatu yang
tidak robek lagi.
3. Amplop
Nisa memandang amplop-amplop yang dia pegang. Amplop ukuran terkecil berwarna putih
bersih. Ada sekitar 20 lembar.
Di atas meja ada uang sepuluh ribuan, dua puluh ribuan dan lima puluh ribuan. Di atas meja
itu juga tergeletak buku kecil yang terbuka dan sebuah bolpoin.
***
"Sa, ini tolong dimasukkan ke dalam amplop-amplop ini..", pinta ibu.
"Dan ini ada buku catatan. Ini uangnya..", lanjut ibu lagi.
Sejurus kemudian Nisa menerima amplop, buku catatan dan sejumlah uang dari tangan ibu.
Nisa waktu itu masih sekolah jenjang SD kelas lima.
Nisa membaca catatan di buku ibu. Kemudian dia mendapati tulisan nama-nama yang tak
asing. Dan sekaligus ada catatan nominal uang.
"Mengko nek wis diamplopi, tolong dikasihkan ke nama-nama itu ya..", pinta ibu.
"Nggih, bu..", jawab Nisa.
"Kita harus berbagi, Sa. Sedikit atau banyak rezeki yang kita miliki itu ada hak orang lain..",
kata ibu.
"Dengan begitu harta yang kita miliki akan bersih, Sa. Percayalah, dengan memberi kamu
tidak akan menjadi miskin.. Justru kamu akan menjadi kaya.. Kaya hati, Sa", lanjut ibu.
Nisa mendengarkan perkataan ibu sambil memasukkan uang- uang itu ke dalam amplop.
***
Nisa masih memegang amplop-amplop putih baru ukuran kecil itu. Masih teringat jelas
nasehat dengan pemberian contoh langsung dari almarhumah ibunya.
"Alhamdulillah, ini tahun pertamaku mendapatkan gaji dari kerjaku. Dan pertama kali
membagi ini untuk tetangga-tetanggaku yang kekurangan..", batin Nisa.
Nisa mulai memasukkan uang-uang miliknya ke dalam amplop. Sesuai dengan catatan,
amplop A berisi berapa, amplop B berisi berapa, dan seterusnya. Mungkin tak seberapa,
tapi akan memberi manfaat bagi yang benar-benar membutuhkan.
Jika dulu Nisa membantu ibunya, sekarang Nisa mengeluarkan sedekah ini hasil jerih
payahnya sendiri.
Baca artikel detikedu, "8 Contoh Cerpen Singkat yang Bermakna"
selengkapnya [Link]
yang-bermakna.
Download Apps Detikcom Sekarang [Link]