Asuhan Kebidanan pada Akseptor KB DMPA
Asuhan Kebidanan pada Akseptor KB DMPA
STUDI KASUS
URL artikel: [Link]
K
Andi Rezky Ramadhani1, Nurhayati2, Suchi Avnalurini Sharief3
123
D3 Kebidanan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muslim Indonesia
Email Penulis Korespondensi (K): andirezkyramadhani0@[Link]
andirezkyramadhani0@gmail.com1, [Link]@[Link].id2, [Link]@[Link].ic3
ABSTRAK
Peningkatan pertumbuhan penduduk menjadi masalah karena dapat menghambat usaha peningkatan dan
kesejahteraan rakyat Indonesia. Hal ini membuat pemerintah berupaya untuk menekan laju pertumbuhan
penduduk dengan penggunaan kontrasepsi dalam program keluarga berencana. Program keluarga berencana dapat
membantu individu atau pasangan suami istri dalam mengatur interval kehamilan dan menekan jumlah kelahiran
dengan penggunaan alat kontrasepsi baik yang hormonal maupun non-hormonal yang dimana masing-masing
memiliki tingkat efektifitas yang berbeda-beda dan hampir sama. Menurut World Health Organization tahun 2019,
diantara 1,9 miliar wanita usia subur (15-49 tahun) yang berada di dunia, terdapat 1,1 miliar yang membutuhkan
KB, saat ini terdapat 406 juta pengguna kontrasepsi metode modern, diantaranya yaitu pengguna KB Intrauterine
Device sebanyak 159 juta akseptor, KB implant sebanyak 23 juta akseptor, KB suntik sebanyak 74 juta akseptor,
KB pil sebanyak 150 juta akseptor. Tujuan dari penelitian ini yaitu melaksanakan asuhan kebidanan Keluarga
Berencana terhadap akseptor KB Depo Medroxyprogesterone Acetate di Klinik Pratama BKIA Rakyat serta
membantu klien mengatasi keluhannya. Pada kasus ini didapatkan Ny. A telah menggunakan KB suntik 3 bulan
kurang lebih 3 tahun sejak tahun 2020 sampai sekarang dan mengeluh tidak haid sejak tiga bulan yang lalu serta
tidak ditemukan adanya tanda-tanda kehamilan. Berdasarkan hasil pengkajian tersebut maka ditemukan diagnosa
aktual yaitu Ny. A Akseptor KB suntik Depo Medroxyprogesterone Acetate dengan Amenorea. KB suntik DMPA
memiliki berbagai efek samping salah satunya adalah amenorea. Amenorea disebabkan oleh kandungan hormone
progesterone yang terdapat pada KB suntik DMPA. Berdasarkan hasil pengkajian tersebut tidak ditemukan adanya
kesenjangan antara teori dan hasil penelitian.
Article history :
PUBLISHED BY :
Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Received 14 Agustus 2023
Kesehatan Masyarakat UMI Received in revised form 15 Agustus 2023
Address : Accepted 27 Desember 2023
Jl. Urip Sumoharjo Km. 5 (Kampus II UMI) Available online 30 Desember 2023
Makassar, Sulawesi Selatan licensed by Creative Commons Attribution-ShareAlike4.0 International License.
Email :
[Link]@[Link]
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 152
Window of Midwifery Journal Vol. 04 No. 02 (Desember, 2023) : 152-160 E-ISSN 2721-4001
ABSTRACT
Increased population growth is a problem because it can hamper efforts to increase and improve the welfare of
the Indonesian people. This makes the government try to reduce of population growth by using contraception in
the family planning program. Family planning programs can assist individuals or married couples in managing
pregnancy intervals and reducing the number of births by using contraception hormonal and non-hormonal
contraceptives, each of which has a different and almost the same level of effectiveness. According to the World
Health Organization, in 2019, among 1.9 billion women of childbearing age (15-49 years) in the world, there are
1.1 billion who need family planning; currently, there are 406 million users of modern contraceptive methods,
including users KB Intrauterine Device 159 million acceptors, KB Implants 23 million acceptors, KB injections
74 million acceptors, KB pills 150 million acceptors. This research aims to carry out family planning midwifery
care for Depo Medroxyprogesterone Acetate family planning acceptors at the BKIA Rakyat Pratama Clinic and
help clients overcome their complaints. In this case, it was found that Mrs A had been using 3-month injectable
birth control for approximately 3 years from 2020 until now and complained of not menstruating for the past three
months, and no signs of pregnancy were found. Based on the results of this assessment, the actual diagnosis was
found, namely Mrs A DMPA injectable birth control has various side effects, one of which is amenorrhea.
Amenorrhea is caused by the hormone progesterone contained in the DMPA contraceptive injection. Based on the
results of this study, no gaps were found between theory and research results.
PENDAHULUAN
Peningkatan pertumbuhan penduduk menjadi masalah dibidang kependudukan karena dapat
menghambat usaha peningkatan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Hal ini membuat pemerintah
berupaya untuk menekan laju pertumbuhan penduduk dengan penggunaan kontrasepsi dalam program
keluarga berencana.1
Program keluarga berencana dapat membantu individu atau pasangan suami istri dalam mengatur
interval kehamilan dan menekan jumlah kelahiran dengan penggunaan alat kontasepsi baik yang
hormonal maupun non-hormonal yang dimana masing-masing memiliki tingkat efektifitas yang
berbeda-beda dan hampir sama.2
Salah satu jenis kontrasepsi hormonal yang paling sering digunakan adalah suntik Depo
Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) yang merupakan kontrasepsi cukup aman dan sangat efektif
dalam mencegah kehamilan. DMPA diberikan 3 bulan sekali yang berfungsi untuk menekan ovulasi,
mengentalkan lendir serviks, mengganggu proses implantasi dan mempengaruhi transport ovum di
dalam tuba fallopi.3
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2019, diantara 1,9 miliar wanita usia subur
(15-49 tahun) yang berada di dunia, terdapat 1,1 miliar yang membutuhkan KB, saat ini terdapat 406
juta pengguna kontrasepsi metode modern, diantaranya yaitu pengguna KB Intrauterine Device (IUD)
sebanyak 159 juta akseptor (39,1%), KB Implant sebanyak 23 juta akseptor (5,7%), KB suntik sebanyak
74 juta akseptor (18,2%), KB pil sebanyak 150 juta akseptor (37,0%).4
Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), jumlah Pasangan Usia
Subur (PUS) pada tahun 2021 sebanyak 31.527.492 orang dengan jumlah akseptor KB aktif sebanyak
21.308.258 akseptor, dimana KB suntik menjadi jenis kontrasepsi yang paling banyak diminati yaitu
sebanyak 12.658.568 akseptor (72,94%), KB pil sebanyak 4.124.439 akseptor (19,36%), IUD sebanyak
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 153
Window of Midwifery Journal Vol. 04 No. 02 (Desember, 2023) : 152-160 E-ISSN 2721-4001
1.814.158 akseptor (8,51%), implant sebanyak 1.808.093 akseptor (8,49%), Metode Operasi Wanita
(MOW) sebanyak 556.447 akseptor (2,61%), kondom sebanyak 228.947 akseptor (1,07%), Metode
Operasi Pria (MOP) sebanyak 117.606 akseptor (0,55%).5
Menurut Profil Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan tahun 2020, terdapat jumlah sasaran Pasangan
Usia Subur (PUS) sebesar 1.525.791 orang dengan jumlah peserta KB aktif sebanyak 1.123.156 akseptor
(73,61%). Jenis kontrasepsi dengan pemakaian terbanyak adalah kontrasepsi suntik sebanyak 600.580
akseptor (53,47%), pil sebanyak 282.639 akseptor (25,16%), implant sebanyak 139.505 akseptor
(12,42%), IUD sebanyak 51.436 akseptor (4,58%), kondom sebanyak 26.130 akseptor (2,33%), metode
operasi wanita sebanyak 20.961 akseptor (1,87%), metode operasi pria sebanyak 1.905 akseptor
(0,17%).6
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan di Kota Makassar tahun 2017, terdapat
22.266 Pasangan Usia Subur (PUS) yang menjadi akseptor KB aktif, adapun suntik sebanyak 11.974
akseptor (53,8%), pil sebanyak 7.898 akseptor (35,5%), kondom sebanyak 960 akseptor (4,3%), implant
sebanyak 767 akseptor (3,4%), IUD sebanyak 444 akseptor (2,0%), metode operasi wanita sebanyak
162 akseptor (0,7%), metode operasi pria sebanyak 61 akseptor (0,3%).7
Dari hasil pendataan yang diperoleh dari Klinik Pratama BKIA Rakyat Kota Makassar pada bulan
Januari sampai Desember 2022 ditemukan sebanyak 2.583 orang wanita usia subur yang menjadi
akseptor KB dan diantaranya akseptor KB suntik 3 bulan sebanyak 1.321 akseptor (51,1%), KB suntik
1 bulan sebanyak 1.257 akseptor (48,7%) dan KB implant sebanyak 5 akseptor (0,20%).
Berdasarkan data di atas, dapat dilihat bahwa jenis kontrasepsi suntik hormonal paling banyak
diminta oleh wanita karena cukup aman dan sangat efektif dalam mencegah kehamilan apabila
penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang telah ditentukan.
KB suntik Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) memiliki efek samping amenorea,
spotting, menoragia, keputihan, kenaikan berat badan, peningkatan tekanan darah dan mual atau muntah.
Salah satu keluhan yang paling banyak ditemukan pada akseptor KB suntik DMPA di Klinik Pratama
BKIA Rakyat yaitu amenorea.8
Dari uraian tersebut maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut mengenai Asuhan
Kebidanan pada Ny. A Akseptor KB Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) di Klinik Pratama
BKIA Rakyat dengan Amenorea agar akseptor dapat mengetahui kondisinya dan tidak khawatir lagi
mengenai kondisinya sehingga keluhan amenorea dapat teratasi.
METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah dengan pendekatan studi kasus dengan
menggunakan penerapan Asuhan Kebidanan Tujuh Langkah Varney dan melakukan catatan
perkembangan dalam bentuk SOAP. Studi kasus ini adalah seorang pasien yang merupakan akseptor
KB suntik Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA). Data yang diperoleh menggunakan hasil
penelitian dengan menggunakan format pengkajian Keluarga Berencana selanjutnya dianalisa
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 154
Window of Midwifery Journal Vol. 04 No. 02 (Desember, 2023) : 152-160 E-ISSN 2721-4001
HASIL
Identifikasi Data Dasar
Ibu melakukan kunjungan ulang suntik KB 3 bulan. Ibu telah menggunakan KB suntik 3 bulan
kurang lebih 3 tahun sejak tahun 2020 sampai sekarang dan mengeluh tidak haid sejak tiga bulan yang
lalu. Pengumpulan data subjektif ditemukan klien atas nama Ny. A umur 29 tahun dengan suami Tn.F
yang berumur 33 tahun, telah menikah 1 kali dengan lamanya 4 tahun, suku Makasssar, agama Islam
dengan pendidikan terakhir SMA bekerja sebagai Wiraswasta serta bertempat tinggal di [Link]
Pelajar Lr.159.
Riwayat reproduksi, ibu menarche pada usia 14 tahun, siklus haid 28-30 hari, lamanya haid 3-5
hari, dan tidak pernah merasakan dismenore. Riwayat obstetrik, ibu sudah memiliki 1 anak dan tidak
pernah mengalami keguguran. Riwayat KB sebelumnya, ibu pernah menjadi akseptor KB pil selama 2
bulan sejak bulan Maret sampai April tahun 2020, lalu mengganti dengan KB suntik 3 bulan selama
kurang lebih 3 tahun sejak tahun 2020 sampai sekarang.
Riwayat kesehatan sekarang dan yang lalu, ibu tidak ada riwayat penyakit jantung, diabetes
melitus dan asma, ibu tidak memiliki riwayat gangguan hormonal seperti kanker payudara dan kanker
serviks, ibu tidak memiliki riwayat hipertensi, ibu tidak ada riwayat penyakit menular seksual, ibu tidak
ada riwayat alergi terhadap makanan, minuman dan obat-obatan.
Riwayat psikologi, spiritual dan sosial ekonomi, tidak ada kendala dari pihak suami dan keluarga
untuk menggunakan KB suntik DMPA, hubungan ibu dan suami harmonis, biaya penyuntikan KB
DMPA ditanggung secara umum. Ibu, suami dan keluarga selalu berdoa untuk kelancaran dan kesehatan
ibu dan anak.
Data objektif ditemukan keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis, berat badan sebelum
menjadi akseptor DMPA 53 kg, berat badan sekarang 54 kg, tanda-tanda vital dalam keadaan normal
dimana tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80x/menit, pernapasan 22x/menit, suhu 36,6oC. Pada
pemeriksaan head to toe ibu dalam keadaan normal dan tidak ada tanda-tanda kehamilan serta tidak ada
masalah yang ditemukan.
Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
Diagnosa dari kasus tersebut akseptor KB suntik Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA)
dengan amenorea.
Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial
Tidak ada data yang menunjang terjadinya diagnosa/masalah potensial.
Tindakan Segera/Kolaborasi
Tidak ada data yang menunjang dilakukannya tindakan segera/kolaborasi
Intervensi
Intervensi yang dilakukan dalam kasus Ny. A bertujuan untuk membantu ibu dalam
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 155
Window of Midwifery Journal Vol. 04 No. 02 (Desember, 2023) : 152-160 E-ISSN 2721-4001
menyelesaikan masalahnya dan ibu tidak khawatir lagi mengenai kondisinya. Adapun rencana tindakan
yang diberikan yaitu sapa ibu dengan sopan, cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir,
lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pada ibu, dan berikan kesempatan pada ibu untuk
mengemukakan masalahnya. Jelaskan mengenai amenorea yang merupakan salah satu efek samping
DMPA, lakukan informend consent sebagai bahan acuan bahwa ibu setuju terhadap tindakan yang akan
dilakukan, memastikan 5B (benar pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu dan benar rute), lakukan
prosedur penyuntikan KB suntik DMPA, berikan konseling pasca penyuntikan KB suntik DMPA
dengan anjuran tidak menggosok diarea bekas suntikan. Berikan saran untuk menggunakan alat
kontrasepsi jangka panjang yang memiliki waktu perlindungan cukup lama, beritahu ibu agar melakukan
kunjungan ulang jika terdapat efek samping yang mengganggu aktivitasnya, beritahu ibu jadwal
kunjungan ulang pada tanggal 19 September 2023, dan lakukan pendokumentasian.
Implementasi
Implementasi dilakukan pada tanggal 27 Juni 2023 pukul 16.00 WITA. Adapun implementasi
yang diberikan kepada ibu yaitu menyapa ibu dengan sopan, mencuci tangan dengan air bersih dan
sabun yang mengalir, melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pada ibu, memberikan kesempatan pada
ibu untuk mengemukakan masalahnya. Menjelaskan mengenai amenorea yang merupakan salah satu
efek samping DMPA, melakukan informend consent sebagai bahan acuan bahwa ibu setuju terhadap
tindakan yang akan dilakukan, memastikan 5B (benar pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu dan
benar rute), melakukan prosedur penyuntikan KB suntik DMPA, dan memberikan konseling pasca
penyuntikan KB suntik DMPA seperti untuk tidak menggosok di area bekas suntikan. Memberikan saran
untuk menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang yang memiliki waktu perlindungan cukup lama,
memberitahu ibu agar melakukan kunjungan ulang jika terdapat efek samping yang mengganggu
aktivitasnya, memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang pada tanggal 19 September 2023, dan melakukan
pendokumentasian.
Evaluasi
Evaluasi dilakukan pada tanggal 27 Juni 2023 pukul 16.30 WITA dengan hasil keadaan umum
ibu baik ditandai dengan tanda-tanda vital dalam batas normal tekanan darah 110/80 mmHg, nadi
80x/menit, pernapasan 22x/menit, suhu 36,6oC. Ibu telah mengertahui kondisinya dan tidak khawatir
lagi sehingga keluhan amenorea dapat teratasi serta ibu bersedia melakukan kunjungan ulang dan tetap
menjadi akseptor KB DMPA.
PEMBAHASAN
Telah dilakukan manajemen asuhan kebidanan pada Ny. A dengan akseptor KB suntik Depo
Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) di Klinik Pratama BKIA Rakyat dengan menggunakan 7
langkah varney. Pada kasus ini didapatkan yaitu ibu telah menggunaan KB suntik 3 bulan kurang lebih
3 tahun sejak tahun 2020 sampai sekarang dan mengeluh tidak haid sejak tiga bulan yang lalu serta tidak
ditemukan adanya tanda-tanda kehamilan. Berdasarkan teori KB suntik DMPA memiliki berbagai efek
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 156
Window of Midwifery Journal Vol. 04 No. 02 (Desember, 2023) : 152-160 E-ISSN 2721-4001
samping yang dapat terjadi bagi para akseptor salah satunya adalah Amenorea. Menurut teori Akseptor
KB suntik DMPA dengan amenorea disebabkan oleh kandungan hormone progesterone yang terdapat
pada KB suntik DMPA, dimana hormone tersebut menekan hormone estrogen dari dalam tubuh yang
dimana dapat mencegah kerja hipotalamus mengirim sinyal kimiawi untuk memproduksi Gonadotropin
Realising Hormone (GnRH). GnRH ini dapat memicu sel-sel di kelenjar hipofisis anterior untuk
memproduksi Luteinizing Hormone (LH) dan Folikel Stimulating Hormone (FSH) yang dimana saat
kedua hormone ini terhambat maka akan menghambat perkembangan folikel sehingga tidak terjadi
ovulasi dan menyebabkan tidak terjadinya menstruasi. Dari keluhan tersebut telah dilakukan asuhan
pada tanggal 27 Juni 2023 pukul 16.00 WITA dengan setiap tindakan yang diberikan telah disetujui oleh
klien. Berdasarkan hasil penelitian dan teori di atas, maka dapat disimpulkan penulis tidak menemukan
adanya kesenjangan antara teori dan hasil penelitian.
Identifikasi Data Dasar
Identifikasi data dasar merupakan tahap awal dari proses manajemen asuhan kebidanan yang
dimana tahap ini ditujukan untuk mengumpulkan informasi mengenai akseptor KB. Pada langkah ini
penulis tidak mendapatkan kesulitan atau hambatan. Ini dapat dilihat dari respon dan sikap akseptor
yang terbuka untuk memberikan informasi yang diperlukan. Jika dilihat dari teori suntik Depo
Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) merupakan jenis kontrasepsi yang efektif karena memiliki
efektifitas yang relatif lebih tinggi dan angka kegagalan yang relatif rendah bila dibandingkan dengan
alat kontrasepsi sederhana lainnya. Kontrasepsi suntik DMPA ini cukup menggembirakan bagi para
akseptor karena cocok bagi ibu yang menyusui, tidak memiliki dampak serius terhadap penyakit
gangguan pembekuan darah dan jantung karena tidak mengandung hormon estrogen, dapat mencegah
kanker endometrium, kehamilan ektopik serta beberapa penyebab penyakit akibat radang panggul.9 Dari
hasil pengkajian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa ibu datang ke klinik Pratama BKIA Rakyat
untuk melakukan kunjungan ulang KB suntik 3 bulan, ibu telah menggunakan KB suntik 3 bulan kurang
lebih 3 tahun sejak tahun 2020 sampai sekarang dan mengeluh tidak haid sejak tiga bulan yang lalu serta
keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis, berat badan 54 kg, serta tanda-tanda vital ibu dalam
keadaan normal. Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan hasil penelitian.
Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
Akseptor KB suntik DMPA dengan amenorea disebabkan oleh kandungan hormone progesterone
yang terdapat pada KB suntik DMPA, dimana hormone tersebut menekan hormone estrogen dari dalam
tubuh yang dimana dapat mencegah kerja hipotalamus mengirim sinyal kimiawi untuk memproduksi
Gonadotropin Realising Hormone (GnRH). GnRH ini dapat memicu sel-sel di kelenjar hipofisis anterior
untuk memproduksi Luteinizing Hormone (LH) dan Folikel Stimulating Hormone (FSH) yang dimana
saat kedua hormone ini terhambat maka akan menghambat perkembangan folikel sehingga tidak terjadi
ovulasi dan menyebabkan tidak terjadinya menstruasi.10
Berdasarkan hasil pengkajian ditemukan ibu telah menggunakan KB suntik 3 bulan kurang lebih
3 tahun sejak tahun 2020 sampai sekarang dan mengeluh tidak haid sejak tiga bulan yang lalu sehingga
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 157
Window of Midwifery Journal Vol. 04 No. 02 (Desember, 2023) : 152-160 E-ISSN 2721-4001
dapat disimpulkan diagnosa yaitu Akseptor KB Suntik Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA)
dengan amenorea. Dengan demikian tidak ada kesenjangan antara teori dan hasil penelitian.
Identifikasi Diagnosa/Masalah Potensial
Menurut teori KB suntik Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) memiliki efek samping
amenorea, spotting, menoragia, keputihan, kenaikan berat badan, dan mual atau muntah.8
Pengguna kontrasepsi KB suntik DMPA memang memiliki beragam potensi efek samping. Efek
samping tersebut merupakan hal yang dapat dialami para pengguna akseptor KB suntik DMPA
walaupun tidak semua akseptor mengalami efek samping tetapi hal ini bukan merupakan sesuatu yang
dapat dikhawatirkan bagi para akseptor. Maka dalam kasus ini, tidak ditemukan data yang mendukung
terjadinya masalah potensial dan tidak ada ditemukan kesenjangan antara teori dan hasil penelitian.
Tindakan Segera/Kolaborasi
Prosedur penyuntikan KB suntik Depo Medroxyprogesterone Acetate (DMPA) diberikan setiap
12 minggu atau 3 bulan sekali dengan cara menyuntikkan pada intramuscular di daerah bokong.
Pastikan suntikan yang dilakukan tidak terlalu dangkal karena akan berpengaruh pada penyerapan
kontrasepsi. Dalam kasus ini tidak ada data yang menunjang untuk melakukan tindakan kolaborasi,
karena pada pada saat penyuntikan KB DMPA dilakukan oleh bidan saja serta tidak ada kesenjangan
antara teori dan hasil penelitian.
Intervensi
Amenorea disebabkan oleh kandungan hormon progesterone yang terdapat pada KB suntik
DMPA, dimana hormon tersebut menekan hormon estrogen dari dalam tubuh yang dimana dapat
mencegah kerja hipotalamus mengirim sinyal kimiawi untuk memproduksi Gonadotropin Realising
Hormon (GnRH).10
Tujuan yang akan dicapai yaitu keadaan umum ibu baik dan mengetahui kondisinya serta tidak
khawatir lagi mengenai kondisinya dengan kriteria Tanda-Tanda Vital dalam batas normal dan ibu
mengerti dan menerima penjelasan atas keluhan yang dialami serta tetap bersedia menjadi akseptor KB
suntik DMPA. Intervensi yang telah direncanakan akan dilaksanakan berdasarkan persetujuan klien
yaitu: sapa ibu dengan sopan, cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir, lakukan
pemeriksaan tanda-tanda vital pada ibu, berikan kesempatan pada ibu untuk mengemukakan
masalahnya. Jelaskan mengenai amenorea yang merupakan salah satu efek samping KB suntik DMPA,
lakukan informend consent sebagai bahan acuan bahwa ibu setuju terhadap tindakan yang akan
dilakukan, pastikan 5B (benar pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu dan benar rute), lakukan
prosedur penyuntikan KB suntik DMPA, dan berikan konseling pasca penyuntikan KB suntik DMPA
seperti untuk tidak menggosok diarea bekas suntikan. Berikan saran untuk menggunakan alat
kontrasepsi jangka panjang yang memiliki waktu perlindungan cukup lama, beritahu ibu agar melakukan
kunjungan ulang jika terdapat efek samping yang mengganggu aktifitasnya, beritahu ibu jadwal
kunjungan ulang pada tanggal 19 September 2023, dan lakukan pendokumentasian. Dalam kasus ini ibu
dan keluarga setuju dengan setiap tindakan yang akan dilakukan dan bersedia melakukan kunjungan
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 158
Window of Midwifery Journal Vol. 04 No. 02 (Desember, 2023) : 152-160 E-ISSN 2721-4001
ulang pada jadwal yang telah ditentukan, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan teori
dan hasil penelitian.
Implementasi
Tindakan rencana asuhan yang telah dibuat telah diselesaikan dengan baik oleh petugas kesehatan
berdasarkan persetujuan klien yaitu seperti: menyapa ibu dengan sopan, mencuci tangan dengan sabun
dan air bersih yang mengalir, melakukan pemeriksaan tanda-tanda vital pada ibu, memberikan
kesempatan pada ibu untuk mengemukakan masalahnya. Menjelaskan mengenai amenorea yang
merupakan salah satu efek samping KB suntik DMPA, melakukan informend consent sebagai bahan
acuan bahwa ibu setuju terhadap tindakan yang akan dilakukan, memastikan 5B (benar pasien, benar
obat, benar dosis, benar waktu dan benar rute), melakukan prosedur penyuntikan KB suntik DMPA, dan
memberikan konseling pasca penyuntikan KB suntik DMPA seperti untuk tidak menggosok diarea
bekas suntikan. Memberikan saran untuk menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang yang memiliki
waktu perlindungan cukup lama, memberitahu ibu agar melakukan kunjungan ulang jika terdapat efek
samping yang mengganggu aktifitasnya, memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang pada tanggal 19
September 2023, dan melakukan pendokumentasian. Dalam kasus ini ibu dan keluarga setuju dengan
setiap tindakan yang diberikan, maka dari itu tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan hasil
penelitian.
Evaluasi
Pada kasus ini evaluasi yang didapatkan yaitu: keadaan umum ibu baik ditandai dengan tanda-
tanda vital dalam batas normal tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80x/menit, pernapasan 22x/menit,
suhu 36,6oC, dan ibu telah mengetahui kondisinya dan tidak khawatir lagi mengenai kondisinya serta
bersedia melakukan kunjungan ulang serta tetap menjadi akseptor KB suntik DMPA. Dalam hal ini tidak
ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan hasil penelitian.
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 159
Window of Midwifery Journal Vol. 04 No. 02 (Desember, 2023) : 152-160 E-ISSN 2721-4001
yang telah ditentukan yaitu 19 September 2023. Pendokumentasian pada kasus Ny. A dituliskan dalam
bentuk SOAP. Disarankan bagi pasien agar datang unjungan ulang sesuai jadwal yang telah ditentukan
yaitu tanggal 19 September 2023 serta memberi saran untuk menggunakan alat kontrasepsi jangka
panjang yang memiliki waktu perlindungan yang cukup lama, bagi petugas kesehatan yang melayani
pasien harus selalu meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan pada pasien karena pasien yang
ditangani dengan benar akan mengurangi terjadinya kasus emergency, dan bagi institusi untuk
meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran harus meningkatkan lagi metode-metode pembelajaran
yang diberikan untuk mahasiswa agar dapat menghasilkan mahasiswa yang lebih kompeten.
DAFTAR PUSTAKA
1. Desi Emilda, Sri Haryani Y. Hubungan Penggunaan Alat Kontrasepsi Suntik Depo Medroxy
Progesteron Asetat (Dmpa) Terhadap Peningkatan Berat Badan Dan Tekanan Darah Tinggi Di
Wilayah Kerja Puskesmas Pasar Kepahiang. 2022;10(1):135-141.
2. Sartika W, Qomariah S. Faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Kb Suntik Factors Affecting The
Use Of Injection Kb Yang Memengaruhi Pemilihan Metode Salah Satu Metode Kontrasepsi Yang
Penyesuaian Sosial , Hambatan Kesehatan. 2020;7(1):1-8.
3. [Link], Ahmad Rizani Es. Hubungan Kontrasepsi Suntik Depo Medroxy Progesteron Asetat
(Dmpa) Dengan Pertambahan Berat Badan Di Wilayah Kerja Puskesmas Kertak Hanyar Kabupaten
Banjar Tahun 2017. 2021;12(1).
4. Nurbaity, Anisa. Hubungan Pengetahuan Dan Paritas Ibu Dengan Penggunaan Kb Suntik Di Pmb
Zuniawati. Published Online 2021.
5. Novianti I, Bakri Krr, Rahayu S. Manajemen Asuhan Kebidanan Keluarga Berencana Pada Ny “J”
Akseptor Kb Suntik 3 Bulan Dengan Kenaikan Berat Badan Di Pmb Hj. Nurhaedah Kab. Bone.
Midwery. 2023;5(1):41-46. Doi:10.24252/Jmw.V5i1.35482
7. Noviantari D, Sriasih Ngk, Mauliku J. Hubungan Antara Lama Penggunaan Kontrasepsi Suntik
Depo Medroxyprogesterone Acetate Dengan Peningkatan Berat Badan Akseptor Di Praktik
Mandiri Bidan Hs Denpasar Barat Tahun 2019. J Ilm Kebidanan. 2019;7(2):71-78.
8. Setyoningsih Fy. Efek Samping Akseptor Kb Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat (Dmpa)
Di Bpm Fitri Hayati. J Kebidanan Malahayati. 2020;6(3):298-304. Doi:10.33024/Jkm.V6i3.2743
9. Prawita Aa, Gulo As. Hubungan Penggunaan Kontrasepsi Suntik 3 Bulan Dengan Kenaikan Berat
Badan Ibu Di Klinik Linez Kota Gunungsitoli. J Bidan Komunitas. 2019;2(3):153.
Doi:10.33085/Jbk.V2i3.4469
10. Made N, Pramasari D. Hubungan Depo Medroksi Progesterone Acetat (Dmpa) Dengan
Ketidakteraturan Siklus Haid Pada Pengguna Akseptor Kb Suntik 3 Bulan Di Bpm Nurhasanah
Kota Bandar Lampung. 2017;3(4):178-183.
Penerbit : Pusat Kajian dan Pengelola Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat UMI 160