0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan5 halaman

Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan5 halaman

Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS RESUME MODERASI BERAGAMA (MODUL 12 )

WAWASAN KEBANGSAAN ( KB 3 )

PETA KONSEP

Konsep wawasan
kebangsaan

Pentingnya
membangun rasa
cinta tanah air.

Pentingnya
WAWASAN KEBANGSAAN berbangsa dan
bernegara.

Urgensi posisi
kemenag dalam
moderasi beragama.

Jati diri guru

URAIAN MATERI
A. Konsep Wawasan Kebangsaan
1. Definisi Wawasan Kebangsaan
 Wawasan: Pandangan atau konsepsi cara pandang.
 Kebangsaan: Kesadaran diri sebagai bagian dari suatu bangsa yang mengutamakan
persatuan dan kesatuan.
 Wawasan Kebangsaan: Konsepsi cara pandang yang didasari kesadaran sebagai warga
negara untuk menjaga kesatuan wilayah dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.

2. Ciri-Ciri Wawasan Kebangsaan Indonesia


a. Memandang Indonesia sebagai kesatuan wilayah yang mencakup darat, laut, dan udara
secara utuh.
b. Menolak diskriminasi berdasarkan suku, agama, ras, status sosial, dan golongan.
c. Membangun persatuan dan kesatuan di segala aspek: ekonomi, politik, sosial budaya,
dan pertahanan keamanan.

3. Esensi Wawasan Kebangsaan


 Jiwa dan Semangat Bangsa: Wawasan kebangsaan adalah ruh yang menentukan
eksistensi dan kedaulatan suatu negara.
 Landasan Filosofis: Berakar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
 Sejarah Perjuangan: Muncul sebagai respons terhadap penjajahan Belanda, dengan
tujuan mempertahankan dan mengembangkan persatuan bangsa.

4. Perspektif Agama dalam Wawasan Kebangsaan


a. Ukhuwah Islamiyah Wathoniyah Basyariyah: Persaudaraan antara warga negara dan
bangsa.
b. Hubbul Wathon Minal Iman: Cinta tanah air sebagai bagian dari iman.
c. Surah Al-Hujurat Ayat 13 Prinsip kesetaraan dan persaudaraan antarbangsa dan suku.

5. Kebijakan Terkait Wawasan Kebangsaan


a. UUD 1945 Pasal 29 Ayat 1 dan 2: Menjamin kebebasan beragama.
b. Keputusan Presiden dan Menteri: Berbagai regulasi yang mengatur hubungan antarumat
beragama dan kebebasan beribadat, termasuk pembentukan Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB).
c. Permendagri No. 71 Tahun 2012: Empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara:
o NKRI
o Bhinneka Tunggal Ika
o Undang-Undang Dasar 1945
o Pancasila

B. Pentingnya membangun rasa cinta tanah air

1. Nasionalisme dan Konteks Sejarah


 Nasionalisme muncul pada abad ke-17 sebagai reaksi terhadap feodalisme dan
kekuasaan absolut.
 Di Indonesia, yang memiliki keragaman ras, suku, agama, dan budaya, nasionalisme
sangat penting untuk mempersatukan bangsa.
 Nilai-nilai nasionalisme di Indonesia berlandaskan pada Pancasila, Undang-Undang
Dasar 1945, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
2. Pancasila sebagai Ideologi Negara
 Pancasila adalah dasar negara Indonesia dan ideologi bangsa yang tercantum dalam
UUD 1945.
 Pancasila mengandung nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis yang harus
diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3. Mencintai Tanah Air dalam Perspektif Agama
 Cinta tanah air diajarkan dalam Islam sebagai bagian dari iman.
 Rasulullah SAW mencintai Makkah dan Madinah sebagai tanah air beliau, dan mencintai
tanah air merupakan kewajiban bagi umat Muslim.
 Hadis-hadis mengajarkan bahwa cinta tanah air adalah bentuk kesetiaan kepada negara
dan bangsa, yang juga merupakan bagian dari agama.
4. Pandangan Islam tentang Kemerdekaan dan Kemandirian
 Umat Islam diwajibkan bekerja, mandiri, dan produktif untuk menjaga martabat negara.
 Setiap warga negara, sesuai profesinya, memiliki peran penting dalam membangun
Indonesia yang merdeka, maju, dan berdaulat.
5. Makna Cinta Tanah Air dalam Kehidupan Berbangsa
 Cinta tanah air merupakan landasan dalam membangun negara yang aman, damai, dan
makmur.
 Dengan cinta tanah air, setiap orang berkomitmen untuk menjadikan negara maju dan
menghindari perpecahan dan konflik.
 Cinta tanah air tercermin dalam tindakan nyata, seperti menghormati hukum, menjaga
fasilitas umum, dan peduli terhadap lingkungan.
6. Tanggung Jawab Warga Negara
 Ekspresi cinta tanah air di era modern melibatkan menjaga ketertiban sosial, melawan
radikalisasi, dan mematuhi peraturan negara.
 Sebagai umat beragama dan warga negara, kita berkewajiban untuk mempertahankan
kemerdekaan Indonesia, serta mengisi kemerdekaan dengan partisipasi aktif.

C. Pentingnya Berbangsa dan Bernegara

1 Pancasila dan Moderasi Beragama


 Pancasila, khususnya sila pertama "Ketuhanan yang Maha Esa," menekankan nilai
toleransi beragama dan keharmonisan.
 Komitmen kebangsaan terhadap moderasi beragama mendorong saling menghormati
antara kelompok agama yang berbeda dan bertujuan menciptakan kehidupan
berdampingan yang damai.
2. Komitmen terhadap Moderasi Beragama
 Moderasi beragama berfokus pada menciptakan lingkungan di mana agama-agama yang
berbeda dapat berkembang tanpa takut diskriminasi. Ini termasuk merayakan hari raya
agama bersama dan memastikan pembangunan rumah ibadah yang adil.
 Perlindungan terhadap minoritas agama dan kepercayaan yang kurang dikenal
merupakan aspek penting dari komitmen kebangsaan terhadap moderasi beragama.
 Media dan platform digital memiliki peran dalam menyebarkan pesan toleransi,
mempromosikan pemahaman, dan mencegah disinformasi.
3. Aspek-Aspek Kunci Nasionalisme dalam Mempromosikan Moderasi Beragama
 Toleransi: Menghormati perbedaan dalam keyakinan dan tradisi sangat penting untuk
menciptakan kehidupan yang damai. Hal ini tercermin dalam kehidupan sehari-hari,
seperti umat Islam merayakan Idul Fitri bersama kelompok agama lain dan sebaliknya.
 Anti-Kekerasan: Moderasi beragama menolak kekerasan atas nama agama dan
mengutamakan dialog serta kerjasama untuk menyelesaikan konflik.
 Penerimaan terhadap Tradisi dan Budaya: Menerima dan menghargai tradisi serta
budaya Indonesia yang beragam merupakan kunci untuk menjaga keharmonisan antar
kelompok agama.
4. Nilai-Nilai Inti Nasionalisme
 Patriotisme: Cinta tanah air dan komitmen untuk membangun negara.
 Nasionalisme: Kesadaran akan identitas nasional dan tanggung jawab kolektif untuk
menjaga kedaulatan negara.
 Bhinneka Tunggal Ika: Menghargai dan mempromosikan keberagaman budaya, agama,
suku, dan bahasa sebagai kekuatan bangsa.
 Keadilan dan Kesetaraan: Menjamin keadilan sosial dan hak serta kesempatan yang
setara bagi seluruh warga negara.
 Demokrasi: Menghormati prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.
 Tanggung Jawab Sosial: Memiliki kesadaran akan tanggung jawab terhadap masyarakat
dan lingkungan serta berkontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan.
 Kemandirian: Membangun kemampuan bangsa dalam bidang ekonomi, teknologi, dan
keamanan.
5. Tanggapan Indonesia terhadap Tantangan Global dan Nasional
 Indonesia harus memperkuat persatuan internal, mempromosikan inklusivitas, dan
menghormati keberagaman untuk meminimalkan risiko konflik internal yang dapat
muncul akibat ketegangan internasional.
 Diplomasi, pertahanan, dan kebijakan inklusif sangat penting untuk menjaga keamanan
nasional dan memastikan stabilitas.

D. Urgensi Posisi Kemenag dalam Penguatan Moderasi Beragama

 Berdasarkan perundang-undangan, agama merupakan kewenangan pemerintah pusat,


yang dalam hal ini diatur oleh Kementerian Agama (Kemenag). Di tengah berbagai
peristiwa intoleransi dan ekstremisme kekerasan berbasis agama, Kemenag menjadi
lembaga yang sangat diandalkan oleh masyarakat dan negara untuk menjaga moderasi
beragama. Keberadaan Kemenag sangat penting dalam mengelola dan menyelesaikan
isu-isu yang berkaitan dengan agama di Indonesia.
 Namun, dalam banyak kasus intoleransi dan kekerasan agama, terkadang ada
kecenderungan di mana aparatur negara, yang seharusnya bertindak sesuai dengan
norma-norma konstitusi, justru tunduk pada tuntutan kelompok intoleran. Pemimpin
yang baik adalah pemimpin yang tidak mengabaikan fakta-fakta dan tantangan yang
dihadapi, serta mampu mengambil langkah-langkah yang tepat dalam menyikapi situasi
tersebut.
 Tantangan Moderasi Beragama dan Peran Guru
 Tantangan dalam moderasi beragama dan keberhasilan usaha-usaha untuk mengatasi
tantangan tersebut sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan tindakan pemerintah,
termasuk peran guru. Sayangnya, dalam praktiknya masih ada guru yang belum
bertindak secara tepat sebagai representasi negara dalam urusan keagamaan. Sebagian
guru terkadang bersikap dan mengambil kebijakan terkait masalah sosial keagamaan
berdasarkan pandangan pribadi atau kelompok keagamaan yang mereka anut. Padahal,
dalam kapasitas mereka sebagai "representasi negara," guru harus bersikap adil dalam
melayani masalah keagamaan, sebagaimana yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD
1945.
 Peran Kemenag dalam Menjaga Keberagaman dan Moderasi Beragama
 Materi ini bertujuan untuk mengingatkan pentingnya kesadaran bahwa Kementerian
Agama sebagai bagian dari negara Indonesia yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945
memiliki mandat untuk melindungi dan melayani agama-agama di Indonesia tanpa
diskriminasi. Kesadaran ini mensyaratkan pemahaman yang utuh mengenai kedudukan
Kemenag, baik dari perspektif sejarah maupun dalam konteks tata pemerintahan
Indonesia saat ini.
 Sejarah Pembentukan Kemenag
 Tujuan dibentuknya Kementerian Agama adalah untuk memenuhi tuntutan sebagian
besar rakyat Indonesia yang beragama, yang merasa bahwa urusan keagamaan pada
masa penjajahan tidak mendapatkan perhatian dan layanan yang semestinya.
Pembentukan Kemenag bertujuan agar urusan keagamaan diurus dan diselenggarakan
oleh sebuah instansi yang berwenang, dengan mengedepankan prinsip-prinsip
Pancasila dan UUD 1945.

E. Jati Diri Guru


 Penguatan Moderasi Beragama dapat berhasil jika para guru, sebagai aktor
penggerak, meyakini dan menerapkan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan
sehari-hari. Nilai-nilai tersebut berasal dari citra diri guru yang didasarkan pada
Konstitusi dan UUD 1945, serta visi-misi dan tugas Kemenag RI. Sebagai
aparatur negara, guru harus bersikap adil, imparsial, dan profesional dalam
melaksanakan mandat perlindungan dan pelayanan bagi umat beragama di
Indonesia.
 Untuk mencapai tujuan ini, guru perlu memahami peran mereka sebagai warga
negara yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, dan
perekat bangsa. Guru juga berperan sebagai perencana, pelaksana, dan
pengawas tugas pemerintahan dan pembangunan nasional dengan menjaga
kebijakan yang bebas dari intervensi politik serta praktik Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme (KKN).
 Guru perlu memiliki beberapa kapasitas penting sebagai berikut:
1. Wawasan Keagamaan:
o Memahami nilai universal ajaran agama.
o Memahami argumentasi teologis Moderasi Beragama.
o Memahami indikator Moderasi Beragama.
o Bersedia menghormati keyakinan umat agama lain.
2. Wawasan Kebangsaan:
o Memiliki komitmen terhadap NKRI.
o Memiliki wawasan kebangsaan yang luas.
o Memahami dan mendukung regulasi yang adil serta nondiskriminatif.
o Menyadari bahwa menjadi ASN Kemenag adalah bagian dari manifestasi
keimanan.
o Memiliki kesadaran untuk menerima kesetaraan warga negara sebagai bagian
dari ajaran agama.
3. Kecakapan:
o Memiliki citra diri yang mencerminkan peran sebagai aparatur negara.
o Memiliki keterampilan kepemimpinan, membangun jejaring, serta kemampuan
dalam resolusi konflik.
o Mampu berpikir kritis, melakukan analisis sosial, dan literasi digital.
4. Sikap Diri:
o Menumbuhkan sikap inklusif, demokratis, egaliter, moderat, humanis, dan non-
diskriminatif.
o Berani dan anti kekerasan.
5. Pemahaman Konteks Persoalan Kehidupan Keagamaan:
o Memahami konflik antara agama dan negara.
o Memahami perbedaan paham dan praktik keagamaan dalam ruang internal
agama.
o Memahami isu-isu terkait Religious Exclusivism, Extremism, Violent Extremism
(REEVE).

Anda mungkin juga menyukai