0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
98 tayangan32 halaman

Tepung Daun Kelor untuk Ayam Broiler

Dokumen ini adalah proposal tugas akhir yang membahas pengaruh tepung daun kelor (Moringa oleifera) terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan kecernaan bahan kering pada ayam broiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi manfaat tepung daun kelor sebagai sumber protein lokal dalam pakan ayam broiler untuk meningkatkan produktivitas ternak. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan edukasi kepada peternak mengenai penggunaan tepung daun kelor dalam ransum ayam broiler.

Diunggah oleh

dedysukardi1954
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
98 tayangan32 halaman

Tepung Daun Kelor untuk Ayam Broiler

Dokumen ini adalah proposal tugas akhir yang membahas pengaruh tepung daun kelor (Moringa oleifera) terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan kecernaan bahan kering pada ayam broiler. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi manfaat tepung daun kelor sebagai sumber protein lokal dalam pakan ayam broiler untuk meningkatkan produktivitas ternak. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan edukasi kepada peternak mengenai penggunaan tepung daun kelor dalam ransum ayam broiler.

Diunggah oleh

dedysukardi1954
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG DAUN KELOR (Moringa oleifera)

TERHADAP KONSUMSI PAKAN, PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN


KECERNAAN BAHAN KERING AYAM BROILER

Proposal Tugas Akhir

Oleh:
Sri Lestari
NIRM. [Link]

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PAKAN TERNAK


JURUSAN PETERNAKAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN YOGYAKARTA MAGELANG
KEMENTERIAN PERTANIAN
2025
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kelor (Moringa


oleifera) Terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan
Bobot Badan dan Kecernaan Bahan Kering Ayam
Broiler
Nama : Sri Lestari
NIRM : [Link]
Program Studi : Teknologi Pakan Ternak
Jurusan : Peternakan

Telah disetujui
Tanggal……………………..

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Dwi Novrina Nawangsari, [Link]., [Link]. Nur Prabewi, [Link]., M.P.


NIP. 198911182019022001 NIP. 196804091992032001

Mengetahui

Ketua Jurusan Ketua Program Studi


Peternakan Teknologi Pakan Ternak

Ir. Sumaryanto, M.M. Dr. Joko Daryatmo, [Link]., M.P.


NIP. 196011171986031002 NIP. 197210162001121002

ii
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala
rahmat hidayah-Nya sehingga penulis dapat menulis proposal tugas akhir yang
berjudul “Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera)
Terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan Bobot Badan dan Kecernaan Bahan
Kering Ayam Broiler”. penulisan ini tidak terlepas dari petunjuk berbagai pihak
oleh karena itu saya ucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Bambang Sudarmanto, [Link]., M.P. selaku Direktur Politeknik
Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang;
2. Bapak Ir. Sumaryanto, M.M. selaku Ketua Jurusan Peternakan
3. Bapak Dr. Joko Daryatmo, [Link]., M.P. selaku Ketua Jurusan Program Studi
Teknologi Pakan Ternak
4. Ibu Dwi Novrina Nawangsari, [Link]., [Link]. selaku pembimbing utama
5. Ibu Nur Prabewi, [Link]., M.P. selaku pembimbing pendamping
6. Semua pihak yang telah membantu penyusunan proposal.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini masih banyak
kekurangan, oleh karena itu diperlukan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan penyusunan proposal Tugas Akhir Pengaruh
Penggunaan Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Konsumsi Pakan,
Pertambahan Bobot Badan dan Kecernaan Bahan Kering Ayam Broiler.

Magelang, Februari 2025

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ ii
PRAKATA .................................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ........................................................................................ v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vi
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................ vii
I. PENDAHULUAN ................................................................................ 1
A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................... 3
C. Tujuan ......................................................................................... 3
D. Manfaat ....................................................................................... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 4

A. Ayam Broiler................................................................................ 4
B. Daun Kelor .................................................................................. 5
C. Pakan .......................................................................................... 6
D. Konsumsi Pakan ......................................................................... 7
E. Pertambahan Bobot Badan ......................................................... 8
F. Kecernaan Bahan Kering ............................................................ 9
G. Kerangka Pikir ........................................................................... 10
H. Hipotesis ................................................................................... 12
III. METODOLOGI ................................................................................. 13
A. Lokasi dan Waktu ...................................................................... 13
B. Bahan ........................................................................................ 13
C. Alat ............................................................................................ 13
D. Rancangan Percobaan ............................................................ 14
E. Variabel Penelitian .................................................................... 15
F. Prosedur Penelitian ................................................................... 14
G. Analisis Data ............................................................................. 20
H. Jadwal ....................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 21

iv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Kebutuhan nutrisi ayam broiler……………………………………... 05
2. Formulasi dan kandungan nutrisi pakan perlakuan periode
starter ………………………………………………………………… 17
3. Formulasi dan kandungan nutrisi pakan perlakuan periode
finisher………………………………………………………………… 18
4. Jadwal penelitian tugas akhir……………………………………….. 20

v
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Daun Kelor…………………………………………………………… 06
2. Kerangka Pikir Penelitian…………………………….…………….. 11
3. Prosedur Pembuatan Tepung Kelor……………………………….. 16

vi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Rancangan anggaran biaya…...…………………………………… 28
2. Konsumsi pakan harian...…………………………….…………….. 29

vii
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Daging ayam broiler menjadi salah satu pilihan masyarakat


sebagai pangan sumber protein hewani, bahkan kebutuhan daging ayam
broiler di Indonesia cukup tinggi, data Direktorat Jenderal Peternakan dan
Kesehatan Hewan (2024) menyatakan bahwa kebutuhan ayam broiler
tahun 2024 mencapai 4 juta ton dan diperkirakan kebutuhan ayam broiler
meningkat setiap tahunnya di Indonesia. Manusia membutuhkan nutrisi
seperti protein, lemak, serat, mineral dan vitamin serta zat – zat penting
lainnya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, oleh karena itu dapat
meningkatkan kesadaran masyarakat akan kebutuhan nutrisi seperti
kebutuhan protein dari hewani salah satunya adalah ayam broiler, yang
menyebabkan melonjaknya permintaan pasar daging ayam broiler (Rini et
al., 2019). Ayam broiler banyak dibudidayakan oleh peternak karena
perawatan yang cukup mudah, serta masa pemeliharaan yang tidak begitu
lama karena ayam broiler dapat dipanen pada umur 28 hari sampai dengan
45 hari dengan kisaran bobot tubuh per ekor antara 1,2 kg hingga 1,9 kg
bahkan lebih (Solehah, 2016). Adanya permintaan pasar yang cukup tinggi
mendorong para peternak ayam broiler untuk meningkatkan kualitas daging
ayamnya dengan memenuhi kebutuhan nutrisi pada pakannya karena
pakan merupakan salah satu faktor yang paling penting dalam
meningkatkan produktivitas ternak ayam broiler (Anggitasari et al., 2016).
Pada pertumbuhan ayam broiler dibutuhkan pakan yang dapat
memenuhi kebutuhan nutrisi ayam broiler, Hidayat (2016) menyatakan
bahwa pakan termasuk kedalam salah satu biaya produksi yang paling
tinggi dalam usaha peternakan, biaya produksi pakan dapat mencapai 70%
hingga 80%. Perlu adanya pemanfaatan bahan pakan lokal untuk
menunjang biaya produksi pada kebutuhan pakan ayam broiler, namun
tetap memperhatikan kandungan nutrisinya. Menurut Wati et al. (2018)

1
kebutuhan nutrisi utama pada ayam broiler adalah pakan yang
mengandung sumber protein dan sumber energi. Dari banyaknya bahan
pakan lokal yang mengandung sumber protein yang cukup tinggi serta
tersebar dan tersedia disekitar lingkungan salah satu diantaranya adalah
tanaman daun kelor.
Daun kelor (Moringa oleifera) dapat dijadikan untuk bahan pakan
ayam broiler, daun kelor merupakan salah satu tanaman perdu tahunan
yang sering ditemui pada daerah pedesaan, tanaman ini termasuk kedalam
jenis tanaman leguminosa. Tingginya kandungan protein dalam daun kelor
dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan sumber protein lokal untuk ayam
broiler, dalam pemanfaatan daun kelor sebagai pakan ayam broiler perlu
dilakukan pengolahan lebih lanjut agar bisa dikonsumsi ayam broiler,
mengingat bahwa penggunaan daun tanaman untuk pakan ayam broiler
dibatasi karena mengandung serat yang cukup tinggi, maka daun kelor
perlu dibuat tepung untuk memperkecil partikel dan memperluas
permukaan sehingga diharapkan dapat meningkatkan kecernaan serat
yang dapat dikonsumsi ayam broiler.
Daun kelor mengandung zat fitokimia berupa saponin dengan
kadar 2,46% hingga 3,42% (Steven et al., 2016), zat saponin pada daun
kelor dapat membantu meningkatkan pertambahan bobot badan dan
konsumsi ayam broiler sehingga dapat meningkatkan produktivitas ternak
(Soliva et al., 2008). Saponin berperan sebagai antimikroba yang
membentuk senyawa kompleks dan dapat mengahambat enzim urease,
enzim urease yang terhambat dapat mengurangi kadar protein atau asam
amino pada pakan yang dirombak menjadi air dan ammonia, sehingga
kandungan protein pada daun kelor yang dicampur dalam ransum dapat
tercerna dengan baik (Aditia, 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Amin et
al. (2022) dengan menambahkan tepung daun kelor sebanyak 9% dapat
menurunkan kadar ammonia namun tidak berpengaruh nyata terhadap
pertambahan bobot badan, bobot karkas dan persentase karkas, Fenita et
al. (2024) menyatakan bahwa penambahan tepung daun kelor sebanyak

2
10% hingga 15% dapat mengurangi aroma amis pada daging ayam broiler
dengan tidak merubah karakteristik pada dagingnya. Tepung daun kelor
yang ditambahkan dalam ransum sebanyak 15% dapat meningkatkan
pertambahan bobot badan dan konsumsi pakan ayam broiler serta
berpengaruh positif pada kecernaan bahan kering dan kecernaan
proteinnya (Muhaiyaratun, 2018).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan paparan latar belakang tersebut, maka permasalahan
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera)
terhadap konsumsi pakan ayam broiler?
2. Bagaimana pengaruh penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera)
terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler?
3. Bagaimana pengaruh penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera)
terhadap kecernaan bahan kering ayam broiler?

C. Tujuan
Berdasarkan paparan latar belakang tersebut, maka tujuan
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera)
terhadap konsumsi pakan ayam broiler
2. Mengetahui pengaruh penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera)
terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler
3. Mengetahui pengaruh penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera)
terhadap kecernaan bahan kering ayam broiler.

D. Manfaat
Diharapkan dengan penelitian ini dapat mengedukasi Masyarakat
umum terkhusus peternak ayam broiler tentang penggunaan dan manfaat
tepung daun kelor dalam ransum ayam broiler sebagai pakan sumber
protein yang diharapkan mampu meningkatkan pertambahan bobot badan,
konsumsi pakan dan kecernaan bahan kering pada ayam broiler.

3
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Ayam Broiler
Ayam broiler adalah ayam hasil seleksi genetik intensif yang telah
merevolusi industri peternakan unggas. Siklus hidup ayam broiler relatif
singkat, dengan masa pertumbuhan optimal berkisar antara 4 sampai
dengan 6 minggu. Selama periode ini, ayam broiler mengalami
pertumbuhan yang eksponensial untuk mengubah pakan menjadi daging
dalam waktu yang relatif cukup singkat (Ratnasari et al., 2015). Namun,
pertumbuhan yang cepat ini juga disertai dengan peningkatan kerentanan
terhadap berbagai penyakit, seperti mudah stress, serta penyakit yang
disebabkan oleh bakteri, kapang maupun virus. Selain itu, faktor lingkungan
seperti suhu ekstrem, kelembaban tinggi, dan kualitas udara yang buruk
dapat memicu stres pada ayam broiler, sehingga menghambat
pertumbuhan dan meningkatkan mortalitas (Siregar et al., 2017).
Kualitas pakan memegang peranan yang sangat krusial dalam
mencapai produktivitas optimal pada ayam broiler. Ayam broiler pada fase
awal pertumbuhan, khususnya fase starter, sangat sensitif terhadap
defisiensi protein yang dapat menghambat pertumbuhannya. Oleh karena
itu, pemilihan ransum yang tepat dengan kandungan nutrisi yang seimbang,
terutama protein, menjadi faktor penentu keberhasilan pemeliharaan
(Rosita, 2017). Selain ransum, pemilihan strain ayam broiler juga
merupakan faktor penting yang perlu dipertimbangkan sejak awal,
mengingat kedua faktor ini saling berinteraksi dan mempengaruhi kinerja
produksi secara keseluruhan (Ardiansyah et al., 2013).
Jenis ayam broiler yang sering digunakan adalah jenis ayam strain
Lohman yang memiliki ciri – ciri bertubuh padat, berwarna kuning, kaki
besar tanpa bulu serta memiliki persentase karkas yang tinggi yang
disebabkan oleh faktor genetik (Mait et al., 2019). Salah satu perusahaan

4
yang menghasilkan ayam broiler strain Lohman (MB 202) yaitu PT Japfa
Comfeed. Strain Lohman banyak dipilih oleh peternak karena strain ini
memiliki kelebihan yaitu dapat menghasilkan performa yang tinggi serta
memiliki nilai Feed Convertion Ratio (FCR) yang rendah. Banamtuan (2019)
menyatakan bahwa kebutuhan pakan ayam umur 1 minggu yaitu 165 gram
per ekor dengan berat bobot badan ayam yaitu 187 gram per ekor. Ayam
broiler fase starter dan finisher memiliki kandungan nutrien yang dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kebutuhan nutrien ayam broiler
Nutrien Satuan Starter Finisher
(0 – 3 minggu) (4 – 6 minggu
Serat kasar*** % 6 6
Kadar air*** % 13 13
Kadar abu*** % 9 9
Energi metabolis** Kkal/kg 3050 3100
Lemak kasar** % 7,4 8
Protein kasar* % 23 20
Triptopan ** % 0,20 0,18
Lisin ** % 1,10 1,00
Kalsium * % 1 0,90
Metionin ** % 0,50 0,38
Sumber: ***SNI (2023), **Leasson and Summers (2005), *NRC (1994)

B. Daun Kelor
Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu tanaman yang
memiliki kandungan protein yang cukup tinggi (Kurniasih, 2017). Hampir
semua bagian dari tanaman kelor dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan
manusia maupun kebutuhan ternak. Menurut Marhaeniyanto (2014) daun
kelor dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh yang dapat melawan
virus yang masuk kedalam tubuh, selain mengandung protein yang tinggi
daun kelor juga mengandung zat besi, salah satu iron kalium dan
multivitamin atau potassium dapat membantu meningkatkan produktivitas
ternak serta membantu meningkatkan produksi susu. Daun kelor memiliki
ciri – ciri daun berbentuk bulat seperti telur berukuran kecil – kecil, daun
kelor termasuk kedalam daun majemuk yang tersusun kedalam satu
tangkai dan termasuk kedalam tanaman tahunan. Tanaman kelor termasuk

5
kedalam kingdom plantae, kelas magnoliopsida dan termasuk kedalam
genus Moringa dengan spesies Moringa oleifera (Tilong, 2012). Bentuk
daun kelor dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Daun kelor


Daun kelor yang sudah dijadikan tepung memiliki kandungan
Neutral Detergent Fiber (NDF) yang rendah sehingga dapat meningkatkan
kecernaan protein dan kecernaan bahan keringnya karena sintesis pada
protein mikrobia yang berada di rumen naik (Nouman et al., 2014). Pada
ternak unggas daun kelor dalam bentuk segar dapat meningkatkan
kecernaan bahan kering dan serat kasarnya selain itu daun kelor dapat
memperbaiki kondisi yang memungkinkan pada lambung (Soetanto et al.,
2011). Oleh karena tanaman kelor memiliki kandungan protein yang tinggi
maka tanaman ini dapat dijadikan sebagai pakan alternatif yang dapat
dicampurkan dengan konsentrat untuk ternak unggas. Kandungan nutrisi
pada daun kelor sangat dipengaruhi oleh cuaca, umur tanaman, jumlah
tanaman yang digunakan serta cara pengolahan daun kelor (Yunita et al.,
2023).

C. Pakan
Pakan merupakan hal yang paling penting dalam usaha
peternakan, pakan memegang peranan paling besar, hampir 80% biaya
dalam beternak ayam broiler adalah biaya produksi pakan (Hidayat, 2016).

6
Pakan merupakan sesuatu yang diberikan untuk ternak, pemberian pakan
harus sesuai dengan kebutuhan ternak yang dipelihara seperti kebutuhan
protein, vitamin, mineral, karbohidrat, serat dan lain – lain (Bidura, 2016).
Ternak yang diberi pakan sesuai dengan kebutuhannya maka
produktivitasnya akan meningkat. Kandungan protein akan membangun
struktur tubuh sedangkan kandungan karbohidrat berperan sebagai
penyedia energi pada ayam broiler, untuk mengatur sistem metabolis dan
mengatur bentuk tubuh dibutuhkan adanya vitamin dan mineral (Putri dan
Bintari, 2021).
Bahan pakan umumnya dibagi menjadi dua jenis yaitu bahan pakan
hewani yang berasal dari hewan dan bahan pakan nabati yang berasal dari
tumbuhan, bahan pakan dari tumbuhan dapat diambil dari batang, daun dan
hasil dari ikutannya (Utomo et al., 2021). Penggunaan bahan pakan untuk
pakan ayam broiler perlu diperhatikan secara khusus, sehingga dihasilkan
pakan dengan harga yang murah namun memiliki kualitas pakan yang baik.
Pakan sendiri dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis yaitu bahan pakan
sumber protein (bahan pakan yang mempunyai kandungan protein lebih
dari 20%), bahan pakan sumber energi (bahan pakan yang memiliki
kandungan protein kurang dari 20 % dan memiliki kandungan serat kasar
kurang dari atau tidak lebih dari 18%), bahan pakan sumber mineral, vitamin
serta feed additive atau pakan tambahan (Subekti, 2009).

D. Konsumsi Pakan
Konsumsi pakan dalam peternakan merupakan jumlah pakan yang
diberikan untuk ternak yang dipengaruhi oleh ternak, lingkungan disekitar
ternak serta jenis pakan yang diberikan (Kuswoyo et al., 2022). Kadar
bahan kering yang ada pada pakan sangat mempengaruhi jumlah konsumsi
yang dihasilkan oleh ternak, apabila kadar bahan kering terlalu tinggi maka
konsumsi pakan akan menurun, menurunnya konsumsi pakan dikarenakan
pakan tersebut menutup ruang yang berada dalam rumen atau yang disebut
voluminous, adanya voluminous memberikan rasa kenyang pada ternak
sehingga menyebabkan jumlah konsumsi pakan yang menurun. Beberapa

7
faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan menurut Anggitasari et al.
(2020) adalah adanya kandungan nutrisi pada pakan serta sifat fisiknya.
Bentuk pakan yang diberikan pada ternak juga sangat berpengaruh
terhadap konsumsi pakan, ternak ayam broiler cenderung menyukai pakan
yang berbentuk pellet maupun crumble hal ini disebabkan bentuk paruh
yang dimiliki ayam, selain bentuk pakan yang diberikan, kandungan nutrisi
pada pakan yang meliputi kandungan serat kasar, lemak kasar, protein
kasar, mineral dan vitamin juga akan berpengaruh terhadap rasa pada
pakan, adanya zat antinutrisi pada bahan pakan juga akan berpengaruh
terhadap kualitas pakan (Paramita et al., 2003). Konsumsi pakan erat
kaitannya dengan kecernaan pada pakan, hal ini dikarenakan apabila
konsumsi pakan meningkat dapat menurunkan kecernaan pada pakan.
Penurunan kecernaan pada pakan dapat disebabkan oleh pakan yang tidak
terdegradasi dengan sempurna pada saluran pecernaan yang diakibatkan
pemberian pakan dengan jumlah yang banyak maka memenuhi kapasitas
tampung yang tersedia (Mathius et al., 2002).

E. Pertambahan Bobot Badan


Pertambahan bobot badan ternak dengan kata lain yaitu
meningkatnya ukuran tubuh pada ternak, dengan bobot badan yang dicapai
dalam periode pemeliharaan (Hunton, 1995). Pada pertambahan bobot
badan memiliki beberapa perbedaan yang mendasari yaitu pada pakan
yang diberikan terus menerus atau ad libitum dan pakan yang dalam
pemberiannya dibatasi, salah satunya adalah ternak yang diberik pakan
secara optimal atau secara tidak optimal, biasanya pada pemberian pakan
dengan metode pembatasan pemberian pakan merupakan ternak
perlakuan untuk beberapa tujuan (Lederle et al., 2002).
Pada peningkatan bobot badan pada ayam broiler agar dapat
tumbuh dengan optimal adalah memperhatikan faktor – faktor yang
memungkinkan untuk peningkatan bobot badan yang baik seperti pemilihan
bibit ayam yang sehat dan baik, memperhatikan suhu yang dibutuhkan
untuk ayam berkembang, sistem penggunaan kandang, pemberian pakan

8
yang berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan ternak serta peralatan
kandang yang memadai. Selain faktor tersebut tumbuh kembangnya ternak
juga sangat dipengaruhi dari faktor genetik, faktor genetik ini akan
menyebabkan tumbuh kembang ayam yang berbeda dari ayam yang satu
dengan ayam yang lainnya (Suprijatna et al., 2008). Menurut Anggorodi
(1995) pertambahan bobot badan ayam broiler pada awalnya bertambah
secara pelan – pelan kemudian seiring berjalannya waktu ayam broiler akan
tumbuh dengan cepat.

F. Kecernaan Bahan Kering


Faktor yang mempengaruhi kecernaan bahan kering dalam suatu
ternak adalah kandungan protein pada pakannya, setiap bahan pakan yang
merupakan sumber protein biasanya terdapat ketahanan degradasi serta
kelarutan yang membedakan. Pada ternak ruminansia terdapat mikroba
dalam rumen yang mendegradasi pakan dengan cara yang berbeda – beda,
sehingga dengan adanya hal tersebut terdapat perbedaan pada kecernaan
pakan (Herryanto et al., 2019). Tingginya kecernaan bahan kering pada
ternak menandakan bahwa pakan yang diberikan memiliki kandungan
nutrisi yang baik, apabila kecernaan bahan kering semakin tinggi
menandakan bahwa pakan yang diberikan merupakan pakan dengan
kualitas yang sangat baik (Saelan dan Nurdin, 2019).
Faktor lain yang dapat mempengaruhi meningkatnya kecernaan
bahan kering adalah jumlah pakan yang dicerna oleh ternak, semakin
banyak pakan yang dikonsumsi oleh ternak maka semakin baik
kecernaannya, selain itu proses pencernaan yang terjadi pada saluran
pencernaan pada ternak juga mempengaruhi kecernaan bahan keringnya,
proses pencernaan dapat berjalan baik dapat disebabkan oleh adanya
kandungan nutrisi yang terdapat pada pakan, hal lain yang mempengaruhi
meningkatnya kecernaan BK dalam pakan yaitu jumlah proporsi bahan
pakan yang digunakan dalam pembuatan ransum, kandungan kimia yang
terkandung dalam bahan pakan, kandungan protein serta memperhatikan
kandungan serat kasar pada bahan pakan, dikarenakan ada batasan –

9
batasan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan ransum untuk ayam
broiler mengingat bahwa ayam broiler tidak dapat mengkonsumsi serat
kasar dengan kadar yang tinggi (Mohamad et al., 2021)

G. Kerangka Pikir
. Dikenal dengan pertumbuhannya yang pesat dan efisiensi
konversi pakan yang tinggi, ayam broiler menjadi pilihan utama dalam
produksi daging sumber protein hewani (Subowo dan Saputra, 2019).
Penelitian menunjukkan bahwa kandungan protein dalam pakan secara
signifikan mempengaruhi karakteristik karkas dan pertumbuhan ayam
(Anggitasari et al., 2016). Tanaman daun kelor (Moringa oleifera)
merupakan salah satu tanaman sumber protein yang dapat diberikan untuk
ternak unggas. Daun kelor yang sudah dalam bentuk tepung mengandung
protein kasar 24,14%, kadar abu 9,45%, kadar air 10,96%, lemak kasar
6,11% dan serat kasar sebesar 11,44 % (Kantja et al., 2022). Daun kelor
memiliki kandungan anti nutrien seperti tanin yang memiliki kadar 0,003%
hingga 2,85%, zat flavonoid dengan kadar 2,7% hingga 14,07%, polifenol
dengan kadar 2,02%, oksalat dengan kadar 22,3 mg/g, asam fitat dengan
kadar 0,001% hingga 0,49% dan kandungan tripsin sebanyak 0,66 mg
hingga 100 gram (Lin et al., 2018), adanya zat antinutrisi pada daun kelor
maka diperlukan pengolahan untuk mengurangi kandungan zat
antinutrisinya. Pengolahan daun kelor menjadi tepung dapat mengurangi
kandungan antinutrisi pada daun kelor terutama dalam menurunkan kadar
tanin dan asam fitat pada daun kelor (Satria et al., 2016). Asam fitat yang
terkandung dalam daun kelor juga dapat menghambat produktivitas ternak
karena kandungan asam fitat pada daun kelor dapat mengikat mineral
seperti Ca, zat besi dan seng, asam fitat dapat dihilangkan dengan cara
direndam, direbus maupun difermentasi (Hadrawi dan Pitres, 2022).
Pengolahan daun kelor dengan dijadikan tepung dapat
memperluas permukaan pada daun kelor yang menjadikan daun kelor
memiliki ukuran yang lebih kecil sehingga memudahkan ternak untuk
mengkonsumsinya, hal ini dapat meningkatkan konsumsi pakan pada ayam

10
broiler (Purba et al., 2018), apabila konsumsi pakan yang diimbangi
kecernaan bahan kering dengan cukup baik maka pertambahan bobot
badan ayam akan meningkat, namun sebaliknya apabila kecernaan bahan
kering tinggi tetapi konsumsi pada pakan rendah maka ayam tidak akan
mendapatkan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhannya, dan dapat
berpengaruh negatif pada pertambahan bobot badannya (Herryanto et al.,
2019). Kerangka pikir pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.

Daun Kelor (Moringa oleifera)

Daun kelor (Moringa oleifera) dalam bentuk


tepung mengandung protein kasar 24,14%,
kadar abu 9,45%, kadar air 10,96%, lemak
kasar 6,11% dan serat kasar sebesar 11,44 %
(Kantja et al., 2022)

Daun kelor mengandung antioksidan zat flavonoid


2,7 – 14,07%, polifenol 2,02%, oksalat 22,3 mg/g
dan asam amino tripsin 0,66 mg – 100gram (Lin
et al., 2018)

Dicampur dalam ransum dengan perlakuan


sebagai berikut:
P0 : 100% ransum tanpa perlakuan
P1 : 90% ransum + 10% tepung daun kelor
P2 : 80% ransum + 20% tepung daun kelor

Variabel yang diteliti:


1. Konsumsi pakan,
2. Pertambahan bobot badan dan kecernaan
3. Bahan kering pada ayam broiler

Gambar 2. Kerangka pikir penelitian

11
H. Hipotesis
Dari uraian diatas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
1. Diduga pemberian tepung daun kelor (Moringa oleifera) berpengaruh
nyata terhadap konsumsi pakan ayam broiler
2. Diduga pemberian tepung daun kelor (Moringa oleifera) berpengaruh
nyata terhadap pertambahan bobot badan ayam broiler
3. Diduga pemberian tepung daun kelor (Moringa oleifera) berpengaruh
nyata terhadap kecernaan bahan [Link] broiler.

12
III. METODOLOGI
A. Lokasi dan Waktu
Kegiatan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di dua lokasi.
Pemeliharaan ayam broiler bertempat di kandang unggas Block C8
Laboratorium Ternak Unggas, dan Aneka Ternak PoIiteknik Pembangunan
Pertanian Yogyakarta MageIang Kampus MageIang, analisis kecernaan
bahan kering dilaksanakan di Laboratorium Pengujian Mutu Pakan Ternak
Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang dan analisis
proksimat bertempat di Laboratorium Uji Obat Hewan dan Pakan Provinsi
Jawa Tengah. Pelaksanaan tugas akhir akan diIaksanakan pada buIan
Februari sampai dengan Juni 2025.

B. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain DOC ayam
broiler strain Lohman sebanyak 90 ekor yang diproduksi oleh PT. Japfa
Comfeed Indonesia, bungkil kedelai, jagung, Meat Bone Meal (MBM),
Crude Palm Oil (CPO), Pollard, Corn Gluten Feed (CGF), lysin, dedak padi,
premix broiler, tepung daun kelor, dengan total kebutuhan pakan fase
starter yaitu 30 kg dan fase finisher 126,63 kg sehingga total kebutuhan
pakan yang digunakan adalah 156,63 kg, vaksin gumboro, vaksin ND
Lasota, vitachick, air, kapur, sekam dan gula jawa.

C. Alat
AIat yang digunakan daIam peneIitian ini antara lain: kandang
bambu bersekat berjumlah 18 kotak dengan ukuran 100 x 100 x 80 cm,
kandang battery sebanyak 18 sekat dengan ukuran 15 x 30 x 30, tempat
minum sebanyak 18 buah, tempat pakan sebanyak 18 buah,
termohigrometer, timbangan digital SF400 dengan kapasitas berat
maksimal 10kg dan ketelitian 1g, tempat pakan, tempat minum, karung,
pallet, Iampu pijar 40 watt, sekop, pisau, detergen, kapur, dan desinfektan.

13
D. Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan 3 perlakuan dan 6 ulangan, oleh karena itu penelitian ini terdiri dari
18 unit percobaan dengan masing – masin unit terdiri dari 5 ekor, sehingga
total ayam yang digunakan berjumlah 90 ekor, perlakuan yang diberikan
dalam ransum adalah penambahan daun kelor dengan level pemberian
yang berbeda yaitu:
P0 = 100 % ransum tanpa pakan perlakuan
P1 = 90 % ransum + 10% tepung daun kelor
P2 = 80 % ransum + 20% tepung daun kelor

E. Variabel Penelitian
Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah konsumsi pakan,
pertambahan bobot badan dan kecernaan bahan kering pada ayam broiler.
1. Konsumsi pakan
Konsumsi pakan yaitu jumlah pakan yang dimakan oleh ternak
dalam proses pertumbuhannya. Konsumsi pakan didapat dengan
menimbang pakan yang diberikan dengan dikurangi dengan pakan yang
tersisa (Nuningtyas, 2014). Konsumsi pakan dihitung dengan cara
mengakumulasikan selama masa pemeliharaan selama 35 hari dengan
dihitung menggunakan rumus berikut (Mahendra, 2022):
pakan yang diberikan − pakan sisa
konsumsi pakan =
masa pemeliharaan
2. Pertambahan bobot badan
Pertambahan bobot badan didapat dengan menimbang ayam secara
keseluruhan yang dilakukan setiap seminggu sekali untuk mengetahui
peningkatan pertambahan bobot badan ayam setiap minggunya. Adapun
rumus untuk mengetahui pertambahan bobot badan adalah sebagai berikut
(Sapsuha dan Saelan, 2013).
bobot akhir − bobot awal
PBB =
masa pemeliharaan

14
3. Kecernaan bahan kering
Kecernaan bahan kering dihitung untuk mengetahui total
kandungan yang telah diserap oleh tubuh ternak. Pengambilan data
kecernaan bahan kering dilakukan pada umur 30 hingga 33 hari (Mohamad
et al., 2021). Pada dasarnya bahan pakan dibagi menjadi dua komponen
utama yaitu bahan kering dan air. Adapun rumus yang digunakan untuk
mengetahui kecernaan bahan kering adalah sebagai berikut:
konsumsi BK − BK ekskreta
KcBk (%) = 𝑥100%
Konsumsi BK

F. Prosedur Penelitian
1. Pembuatan tepung daun kelor
Daun kelor yang digunakan berasal dari tanaman kelor lokal yang
sehat diperoleh dari Kecamatan Bandungan dan Kecamatan Banyubiru,
Kabupaten Semarang. Daun kelor segar setelah dipisahkan dari
tangkainya, ditimbang untuk mendapatkan berat awalnya sebelum proses
pengeringan. Penjemuran di bawah sinar matahari dilakukan selama 24
jam, kemudian daun kelor yang telah kering ditimbang kembali untuk
mengetahui berat akhirnya. Selanjutnya, daun kelor kering tersebut
dihaluskan menggunakan blender hingga menjadi tepung. Proses
penggilingan ini bertujuan untuk mengurangi kandungan antinutrisi seperti
asam fitat dan tanin yang terdapat pada daun kelor (Kantja, 2018). Alur
pembuatan tepung daun kelor dapat dilihat pada Gambar 3.

15
Daun kelor

Ditimbang untuk mengetahui


berat awal

Dijemur dibawah sinar matahari


selama 4-5 hari hingga kering

Ditimbang untuk mengetahui


berat akhir

Dihaluskan hingga menjadi tepung

Gambar 3. Prosedur pembuatan tepung daun kelor


2. Pembuatan pakan
Pembuatan pakan melalui beberapa tahapan, tahap pertama yaitu
dengan penyusunan formula pakan menggunakan metode trial and eror.
Penyusunan formula disesuaikan dengan kebutuhan ternak ayam broiler
serta disesuaikan dengan perlakuan yang akan dilakukan dengan mengacu
pada Standar Nasional Indonesia (SNI), menggunakan SNI 8173-2: 2023
pada ayam broiler fase starter. Formulasi pakan yang dibuat yaitu pakan
fase starter dan fase finisher. Formulasi pakan serta kandungan nutriennya
pada ayam broiler fase starter dapat dilihat pada Tabel 2.

16
Tabel 2. Formulasi dan kandungan nutrisi pakan perlakuan periode
starter
Bahan Pakan (%) Periode starter
P0 P1 P2
Bungkil kedelai 13,5 9,50 6,75
Jagung 36,0 34,0 31,5
MBM 6,5 6,50 6,5
CPO 2,0 1,40 1,5
Pollard 20,0 19,6 16,75
CGF 11,0 10,0 8,0
L-lysin 0,5 0,5 0,5
Dedak Halus 10,0 8,0 8,0
Premix Broiler 0,5 0,5 0,5
Daun Kelor 0,0 10,0 20,0
Jumlah (%) 100 100 100
Energi Metabolisme (Kkal/kg) 3068,02 3069,67 3070,16
BK 88,04 88,21 88,36
PK 18,11 18,11 18,12
LK 5,57 5,73 5,72
SK 5,74 6,42 6,84
Abu 3,61 4,15 4,60
Ca 0,91 0,87 0,81
P 1,85 1,70 1,43
Lysin 1,44 1,29 1,12
Met 0,72 0,61 0,54

Pada pembuatan pakan periode finisher mengacu pada Standar


Nasional (SNI) dengan nomor acuan SNI 8173-3: 2023 pada ayam broiler
finisher, penyusunan formulasi pakan menggunakan metode trial and error,
formulasi pakan ayam broiler fase finisher dapat dilihat pada Tabel 3.

17
Tabel 3. Formulasi dan kandungan nutrisi pakan perlakuan periode
finisher
Bahan Pakan (%) Periode finisher
P0 P1 P2
Bungkil kedelai 9,0 6,20 2,55
Jagung 40,5 36,2 30,0
MBM 8,0 8,0 7,0
CPO 2,50 2,6 2,95
Pollard 20,0 18,0 18,5
CGF 9,0 9,0 9,0
L-lysin 0,5 0,5 0,5
Dedak Halus 10,0 9,0 9,0
Premix Broiler 0,5 0,5 0,5
Daun Kelor 0,0 10,0 20,0
Jumlah (%) 100 100 100
Energi Metabolisme (Kkal/kg) 3100,55 3101,91 3101,25
BK 88,13 88,36 88,62
PK 17,02 17,03 17,07
LK 6,17 6,64 7,23
SK 5,44 5,95 6,82
Abu 3,41 3,95 4,55
Ca 0,99 0,97 0,88
P 1,67 1,61 1,55
Lysin 1,32 1,19 1,07
Met 0,67 0,60 0,57

3. Persiapan kandang
Kandang pemeliharaan dibersihkan tujuh hari sebelum Day of
Chicken (DOC) datang, sanitasi kandang dilakukan dengan membersihkan
kandang dari kotoran sisa pemeliharaan menggunakan sapu, kotoran yang
masih menempel disikat menggunakan sikat, setelah itu kandang disemprot
menggunakan air dan detergen, peralatan yang akan digunakan untuk
pemeliharaan seperti tempat pakan dan tempat minum dibersihkan
menggunakan detergen lalu dibilas menggunakan air bersih, kemudian
disemprot desinfektan untuk membasmi virus, jamur maupun bakteri yang
tertinggal di peralatan kandang. Kandang yang sudah bersih ditaburi
dengan menggunakan kapur untuk meminimalisir bakteri pada kandang.

18
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan pada ayam dilakukan selama 35 hari. Pada saat Day
of Chicken (DOC) datang ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui bobot
awalnya, DOC dimasukkan kedalam kandang sekat dengan jumlah ayam
per kandang berjumlah 5 ekor, pembagian DOC kekandang sekat dibagi
dengan acak menurut bobot badannya, ayam DOC diberi air gula sebanyak
10 %, dengan tujuan untuk menghilangkan stress pada ayam saat di
perjalanan (Prajalika et al., 2018). Pakan perlakuan diberikan setelah ayam
berusia tujuh hari dengan tujuan agar ayam dapat beradaptasi dengan
lingkungan terlebih dahulu (Fati, 2019). Pakan perlakuan disiapkan terlebih
dahulu ditempatkan pada karung disimpan diatas pallet dan diberi label
sesuai dengan perlakuan yang diberikan.
Pemberian vaksin ND Lasota 1 pada ayam diberikan ketika ayam
berumur 4 hari melalui air minumnya, pemberian vaksin gumboro pada
ayam diberikan ketika ayam berumur 13 hari, sedangkan vaksin ND Lasota
2 diberikan pada saat ayam berumur 20 hari, pemberian vaksin dapat
dilakukan pada pagi hari maupun sore hari. Pencegahan penyakit pada
ayam broiler dapat dilakukan dengan mencuci tempat pakan dan tempat
minum serta sering mengganti sekam pada ayam yang digunakan sebagai
litter.
5. Pengumpulan data
Pada pengumpulan data dilakukan sesuai dengan variabel
penelitian yaitu konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan kecernaan
bahan kering. Pakan sisa yang diberikan pada ayam ditimbang untuk
mengetahui jumlah konsumsi pada ayam broiler, konsumsi pakan dihitung
dalam gram per ekor per harinya dengan mengurangi jumlah pakan yang
diberikan dengan jumlah pakan yang tersisa, konsumsi pakan didapat
dengan menjumlahkan konsumsi pakan dari awal pemeliharaan hingga
ayam berumur 35 hari kemudian dibagi dengan lama waktu pemeliharaan
ayam. Pertambahan bobot badan ayam didapat dengan menimbang bobot
ayam setiap akhir minggu kemudian dikurangi dengan bobot awal

19
sebelumnya. Ketika ayam berumur 30 hari hingga 33 hari, sampel ayam
berjumlah 18 ekor ditempatkan pada kandang battery individu dengan
tujuan untuk mempermudah pengumpulan feses, feses yang sudah
dikumpulkan diuji bahan keringnya di laboratorium, kemudian dihitung
dengan mengurangi konsumsi bahan kering dengan bahan kering feses
kemudian dikalikan 100% untuk mengetahui kecernaan bahan kering pada
ayam broiler.

G. Analisis Data
Data yang diperoIeh dianaIisis statistik dengan Analysis of Variance
(ANOVA). Uji ANOVA digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh
perIakuan yang diberikan terhadap variabel, dan jika diperoIeh hasiI yang
berbeda nyata, maka diIakukan uji Ianjut Duncan’s New Multiple Range Test
(DMRT), dengan bantuan software StatisticaI Product and Service SoIution
(SPSS).

H. Jadwal
Jadwal penelitian tugas akhir dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Jadwal penelitian tugas akhir
Tahapan dan kegiatan Rencana waktu pelaksanaan
Jan Feb Mar Apr Mei Jun
Pembuatan proposal
Konsultasi proposal
Seminar proposal
Persiapan penelitian
Pelaksanaan penelitian
Pengambilan data
Analisis data
Pembuatan laporan
Konsultasi laporan
Seminar hasil

20
DAFTAR PUSTAKA

Aditia, Y. 2017. Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Tembelekan (Lantana


camara linn) Dalam Air Minum Terhadap Bobot Hidup Dan
Karakteristik Karkas Broiler. Padang.
Amin, R. F., Hertamawati, R. T., Muhammad, N., Syahniar, T. M., Mahanani,
R. S., Farlinda, S., & Rahmasari, R. 2022. Penambahan feed additive
tepung daun kelor (Moringa oleifera) untuk mitigasi amonia terhadap
kualitas karkas dan lemak abdominal ayam broiler. In Conference of
Applied Animal Science Proceeding Series (Vol. 3, pp. 142-149).
Anggitasari, S., O. Sjofjan, dan I. H. Djunaedi. 2016. Pengaruh beberapa
jenis pakan komersial terhadap kinerja produksi kuantitatif dan
kualitatif ayam pedaging (Effect of some kinds of commercial feed on
quantitative and qualitative production performance of broiler
chicken). Buletin Peternakan, 40(3), 187–196.
Anggitasari, S., O. Sjofjan, dan I. H. Djunaedi. 2016. Pengaruh beberapa
jenis pakan komersial terhadap kinerja produksi kuantitatif dan
kualitatif ayam pedaging (effect of some kinds of commercial feed on
quantitative and qualitative production performance of broiler
chicken). Buletin Peternakan, 40 (3), 187-196.
Anggorodi, R. 1995. Nutrisi aneka ternak unggas. PT Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Ardiansyah, F., S. Tantalo, dan K. Nova. 2013. Perbandingan performa dua
strain ayam jantan tipe medium yang diberi ransum komersial broiler.
Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu, 1(2), 1–6.
Bidura. I.G.N.G. 2016. Bahan Ajar Bahan Makanan. Fakultas Peternakan,
Universitas Udayana, Denpasar.
Fati, N. 2019. Pengaruh Penggunaan Dedak Padi yang Difermentasi
dengan Kapang Trichoderma harzianum Terhadap Performa Broiler
Sampai Umur Enam Minggu.
Fenita, Y., Kaharuddin, D., Nurmeiliasari, N., Azis, A. R., & Kumalasari, W.
2024. The Effect of Moringa Leaf Extract (Moringa oleifera L) as Feed
Additive in Drinking Water on Growth Performance and Percentage
of Broiler Internal Organs: Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Kelor
(Moringa oleifera L) sebagai Feed Additive dalam Air Minum
terhadap Performa Pertumbuhan dan Persentase Organ dalam
Broiler. Buletin Peternakan Tropis (Bulletin of Tropical Animal
Science), 5(2), 221-233.

21
Hadrawi, J., & Pitres, S. P. 2022. Efek Suplementasi Tepung Daun Kelor
(Moringa oleifera) terhadap Performa Produksi dan Kualitas Telur
Ayam Petelur. Jurnal Sains dan Teknologi Peternakan, 3(2), 43-48.
Herryanto, R. H., Mandey, J. S., Untu, I. M., & Rahasia, C. A. 2019.
Kecernaan Bahan Kering, Retensi Nitrogen dan Energi Metabolis
Ransum Ayam Pedaging yang Menggunakan Tepung Limbah Labu
Kuning (Cucurbita moschata). ZOOTEC, 39(2), 223-232.
Hidayat, S. 2016. Rancang bangun dan implementasi sistem pendukung
keputusan berbasis web untuk menentukan formulasi ransum pakan
ternak. Jurnal Sains dan Seni ITS, 4(2).
Hunton, P. 1995. Understanding the architecture of the egg shell. World's
Poultry Science Journal, 51(2), 141-147.
Kantja, I. N., Nopriani, U., & Pangli, M. 2022. Uji kandungan nutrisi tepung
daun kelor (Moringa oleifera L) sebagai pakan ternak. Jurnal Riset
Rumpun Ilmu Hewani, 1(1), 1-7.
Kurniasih. 2017. Khasiat dan Manfaat Daun Kelor. Jakarta. PB.
Kuswoyo, A., Safitri, R., & Kiptiah, M. 2022. Pengaruh Substitusi Pakan
Ternak terhadap Pertambahan Bobot Badan dan Konsumsi Ransum
Ayam Pedaging. Jurnal Peternakan Borneo, 1(1), 6-10.
Lederle, F. A., Wilson, S. E., Johnson, G. R., Reinke, D. B., Littooy, F. N.,
Acher, C. W., ... & Bandyk, D. 2002. Immediate repair compared with
surveillance of small abdominal aortic aneurysms. New England
Journal of Medicine, 346(19), 1437-1444.
Lin, M., J. Zhang, & X. Chen. (2018). Bioactive flavonoids in Moringa
oleifera and their healts-promoting properties. Journal of Functional
Foods. 47, 469-479.
Madalla, N., N.W. Agbo & K. Jauncey. 2013. Evaluation of aqueous
extracted moringa leaf meal as a protein source for nile tilapia
juveniles. Tanzania Journal of Agricultural Sciences. 12 (1): 53–64.
Mahendra, Y. 2022. Pengaruh Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa
oleifera) yang Telah Melalui Proses Perebusan dalam Ransum
terhadap Performa Ayam RAS Pedaging (Doctoral dissertation,
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau).
Marhaeniyanto, E. 2014. Strategi Suplementasi Daun Tanaman Untuk
Memacu Produktivitas Ternak Domba (Doctoral dissertation,
Universitas Brawijaya).
Mathius, I. W., Yulistiani, D., & Puastuti, W. 2002. Pengaruh substitusi
protein kasar dalam bentuk bungkil kedelai terproteksi terhadap
penampilan domba bunting dan laktasi. JITV, 7(1), 22-29.

22
Mohamad, F., Tulung, Y. L. R., Poli, Z., & Montong, P. R. R. I. 2021. Subtitusi
sebagian jagung dengan kulit kopi olahan sederhana terhadap
retensi nitrogen, energi metabolis dan kecernaan bahan kering
ransum ayam pedaging. ZooteC, 41(1), 106-113.
Moyo, B. 2011. Antimicrobial activities of Moringa oleifera Lam leaf extracts.
African Journal of Biotechnology 11(11): 2797-2802.
Muhaiyaratun, M. 2018. Penambahan Tepung Daun Kelor (Moringa
Oleifera) Dalam Pakan Terhadap Pertumbuhan Ayam Broiler Dari
Umur 1 Sampai 7 Minggu. Universitas Mataram.
Nouman, W., S.M.A. Basra, M.T. Siddiqui, A. Yasmeen, T. Gull, dan M. A. C.
Alcayde. 2014. Potential of Moringa Oleifera as Livestock Fodder
Crop: a review: Turk. J. Agric. For. 38:1-14. H PS://[Link]/10.3906/ta
r-2 11-66.
NRC. 1994. Nutrient Requirement of Poultry. National academy Press :
Washington D. C.
Nuningtyas, Y. F. 2014. Pengaruh penambahan tepung bawang putih
(Allium sativum) sebagai aditif terhadap penampilan produksi ayam
pedaging. Ternak Tropika Journal of Tropical Animal
Production, 15(1), 65-73.
Paramita, W., H. Setyono, T. Nurhayati, M. Lamid. 2003. Prospek
Pemanfaatan Daun Pepaya untuk Meningkatkan Produksi Telur dan
Konsumsi Pakan pada Ayam Buras. J. Penelitian Medika Eksata
2:10 – 16.
Purba, I. E., Warnoto, W., & Zain, B. 2018. Penggunaan tepung daun kelor
(Moringa oleifera) dalam ransum terhadap kualitas telur ayam ras
petelur dari umur 20 bulan. Jurnal Sain Peternakan Indonesia, 13(4),
377-387.
Putri, A. F. L., & Bintari, S. H. 2021. Pengaruh pemberian pakan dengan
penambahan overripe tempeh terhadap konsumsi pakan,
pertambahan bobot badan dan konversi pakan pada ayam
petelur. Life Science, 10(1), 33-41.
Ratnasari, R., W. Sarengat, dan A. Setiadi. 2015. Analisis pendapatan
peternak ayam broiler pada sistem kemitraan di kecamatan Gunung
Pati Kota Semarang. Animal Agriculture Journal, 4(1), 47–53.
Rini, S.R., Sugiharto, dan L.D. Mahfudz. 2019. Pengaruh perbedaan suhu
pemeliharaan terhadap kualitas fisik daging ayam broiler periode
finisher. Jurnal Sain Peternakan Indonesia 14(4): 387-395.
Rosita, D. 2017. Pemberian bahan pakan sumber protein berbeda terhadap
performa ayam lokal persilangan umur 2-10 minggu. Skripsi.
Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro, 4-19.

23
Saelan, E., & Nurdin, A. S. 2019. Uji kimia tepung daun kersen (Muntingia
calabura) dan implementasinya dalam ransum Ayam Broiler
terhadap nilai kecernaan. Jurnal Ilmu Ternak, 19(2), 24-28.
Sapsuha, Y., & Saelan, E. 2013. Pengaruh penambahan jenis tepung daun
leguminosa yang berbeda terhadap konsumsi, pertambahan bobot
badan dan konversi ransum ayam broiler. Agrikan: Jurnal Agribisnis
Perikanan, 6(1), 10-16.
Satria, E. W., Sjofjan, O., & Djunaidi, I. H. 2016. Respon pemberian tepung
daun kelor (Moringa oleifera) pada pakan ayam petelur terhadap
penampilan produksi dan kualitas telur. Buletin Peternakan, 40(3),
197.
Siregar, R. A. S., A. Nurmi, dan M. Hasibuan. 2017. Pemberian ekstrak
pegagan (centella asiatica) terhadap performans ayam broiler. Jurnal
Peternakan (Jurnal of Animal Science), 1(2), 23–27.
Soetanto, H., Marhaeniyanto, E., & Chuzaemi, S. 2011. Penerapan
teknologi suplementasi berbasis daun kelor dan molases pada
peternakan kambing rakyat. Buana Sains, 11(1), 25-34.
Solehah, H. 2016. Analisis perhitungan harga pokok produksi ayam potong
(broiler) dengan metode full costing pada Peternakan Abshar Selaku
Mitra Usaha CV. Mutiara Sinar Abadi Samarinda. Ejournal Ilmu
Administrasi Bisnis 4(1): 1– 14.
Soliva, C.R., A.B. Zeleke, C. Clement, H.D. Hess, M. Kreuzer, V. Fievez.
2008. “In vitro screening of various tropical foliages, seeds, fruits and
medicinal plants for low methane and high ammonia generating
potentials in the rumen. Anim”, Feed Sci. Technol. 147: 53-71.
Stevens, C. G., F. D. Ugese, G. T. Otitoju. and K. P. Baiyeri .2016.
“Proximate and anti-nutritional composition of leaves and seeds of
Moringa oleifera in Nigeria : a comparative study Proximate And Anti-
Nutritional Composition Of Leaves And Seeds Of Moringa Oleifera In
Nigeria : A Comparative”, J. Trop Agric. Food Env Ext, 14: 9-17.
Subekti, E. 2009. Ketahanan pakan ternak Indonesia. Jurnal Mediagro,
5(2), 63–71.
Subowo, E. dan M. Saputra 2019. Sistem Informasi Peternakan Ayam
Broiler Android. Surya Informatika, 6(1), 53–65.
Suprijatna, E., Kismiati, S., & Furi, N. R. 2008. Penampilan Produksi Dan
Kualitas Telur Pada Puyuh (Coturnix Coturnix Japonica) Yang
Memperoleh Ransum Protein Rendah Disuplementasi Enzim
Komersial (Performance Of Production And Egg Quality In Japanese
Quail (Coturnix Coturnix Japonica) Fed Low Dietary Protein
Suplemented By Commercial Enzyme).

24
Tilong. 2012. Ternyata, Kelor Penakluk Diabetes. Diva Press. Yogyakarta.
Utomo, R., Agus, A., Noviandi, C. T., Astuti, A., & Alimon, A. R. 2021. Bahan
pakan dan formulasi ransum. Ugm Press.
Wati, A. K., Z. Zuprizal., K. Kustantinah., E. Indarto., N. D. Dono, dan W.
Wihandoyo. 2018. Performan ayam broiler dengan penambahan
tepung daun dalam pakan. Sains Peternakan, 16(2), 74.
Yunita, Y., Simbolon, D., & Suryani, D. 2023. Pemberdayaan Kelompok
Wanita Tani (KWT) dalam Pemanfaatan Daun Kelor sebagai Bahan
Dasar MP-ASI Kota Bengkulu. Jurnal Kreativitas Pengabdian
kepada Masyarakat (PKM, 6(5), 2116-2126.
Yunus, M., Rahardja, D. P., & Rotib, L. A. 2020. Performa Ayam pedaging
terhadap pemberian tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam
pakan: performance of broiler feed dietary of moringa leaf meal
(Moringa oleifera). Jurnal Agrisistem, 16(2), 108-113.

25

Anda mungkin juga menyukai