Pertambahan Berat Domba dengan Bungkil Sawit
Pertambahan Berat Domba dengan Bungkil Sawit
Pertambahan Berat Badan Domba Ekor Tipis Jantan Yang Diberikan Bungkil
Inti Sawit Sebagai Substitusi Dedak Padi Dengan Pakan Basal Rumput Odot
Kering dan Limbah Sereh Wangi (Cymbopogon Nardus) Amoniasi
(Weight Gain of Male Thin-Tailed Sheep Given Palm Kernel Flour as a Substitute for Rice
Bran with Basal Feed of Dried Odot Grass and Ammonia of Lemongrass Waste
(Cymbopogon nardus))
Abstrak. Tujuan Pelaksanaan penelitian ini ialah untuk mengetahui sejauh mana pertambahan berat badan domba
ekor tipis jantan yang diberikan bungkil inti sawit sebagai substitusi dedak padi. Penelitian ini dilaksanakan pada
tanggal 12 Februari 2021 sampai dengan 08 Mei 2021. Analisis proksimat dilaksanakan di Laboratorium Ilmu dan
Nutrisi Ternak. Pembuatan pakan amoniasi dan pemeliharaan ternak dilakukan di Laboratorium Lapangan
Peternakan Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini menggunakan 4 ekor
domba yang berumur 1,5- 2 tahun dengan bobot badan 20-25 kg. Penelitian ini menggunakan bungkil inti sawit
untuk substitusi dedak padi yang diberikan pada domba dengan persentase yang berbeda yaitu R0 (0% bungkil inti
sawit), R1 (10% bungkil inti sawit ), R2 (20% bungkil inti sawit) dan R3 (30% bungkil inti sawit ). Rancangan
penelitian yang digunakan adalah Rancangan Bujur Sangkar Latin (RBSL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan.
Parameter yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan berat badan dan konversi pakan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian bungkil inti kelapa sawit dengan level 0%, 10%, 20%, dan 30% tidak berpengaruh
nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan, pertambahan berat badan dan konversi pakan domba ekor tipis jantan.
Namun Konsumsi pakan tertinggi pada R3 790,74 gr/ekor/hari dan terendah R0 adalah 754,41±140,37
gr/ekor/hari. Pertambahan berat badan dengan nilai tertinggi pada perlakuan R0 sebesar 76,96 gr/ekor/hari dan
terendah pada R1 20,54 gr/ekor/hari . Nilai konversi pakan terendah terdapat pada perlakuan R0 = 11,09 dan yang
tertinggi pada perlakuan R3 = 152,04.
Kata kunci : Domba Lokal Ekor Tipis, Bungkil Inti Sawit, Amoniasi, Konsumsi Ransum, Pertambahan Berat
Badan Harian, Konversi Ransum
Abstract. The purpose of this study was to determine the extent of body weight gain of lean rams given palm
kernel cake as a substitute for bran This research was conducted on February 12 - 2021 to May 08 - 2021 The
proximate analysis was carried out at the Laboratory of Animal Nutrition and Science The manufacture
of ammonia feed and livestock rearing were carried out at the Animal Husbandry Field Laboratory Department
of Animal Husbandry Faculty of Agriculture Syiah Kuala University This study used 4 sheep aged 1 5-2 years
with a body weight of 20-25 kg This study used palm kernel cake as a substitute for bran given to sheep with
different percentages namely R0= ( 0% palm kernel flour) R1= (10% palm kernel flour) R2= (20% palm kernel
flour) and R3= (30% palm kernel flour) The research design used was Latin Square Design RBSL with 4 treatments
and 4 replications Parameters observed were feed consumption body weight gain and feed conversion The results
showed that the provision of palm kernel cake at the levels of 0% , 10% , 20% and 30% had no significant effect
P > 0,05 on feed consumption body weight gain and ration conversion of lean male sheep. Meanwhile the highest
ration consumption was at R3= 790,74 g head day and the lowest R0 was 754,41±140,37 g/ head /day. Body
weight gain with the highest value in the R0 treatment was 76,96 g /head/day and the lowest was at R1 20,54 g/
head/ day. The lowest feed conversion value was found in the treatment R0= 11,09 and the highest in the treatment
R3= 152,04.
Keywords: Thin-Tailed Sheep, Palm Kernel Flour, Ammonia, Ration Consumption, Daily Weight Gain , Ration
Conversion.
PENDAHULUAN
Di Indonesia, ada beberapa jenis domba, antara lain domba ekor tipis (DET), domba
ekor gemuk (DEG), domba garut dan lain-lain. Domba merupakan salah satu jenis hewan
ruminansia kecil yang dapat memberikan peranan yang cukup berarti dalam memenuhi
kebutuhan manusia terhadap protein hewani. Kebutuhan protein manusia semakin meningkat
dalam jangka waktu yang panjang, hal ini dipengaruhi oleh peningkatan populasi dan informasi
publik tentang pentingnya protein bagi kebutuhan manusia. Meningkatkan jumlah populasi
ternak domba merupakan salah satu usaha yang harus digalakkan dalam memenuhi kebutuhan
protein hewani kehidupan manusia. Populasi domba pada tahun 2019 mencapai 17.794.344
ekor atau meningkat dibandingkan tahun 2018 dan 2017 yang masing-masing mencapai
17.611.000 ekor dan 17.142.000 ekor. Sedangkan populasi domba tahun 2019 di Aceh
mencapai 636.069 ekor (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2019).
Domba ekor tipis memiliki keunggulan, misalnya, dapat bertahan hidup dengan kualitas
pakan yang rendah, beradaptasi dengan baik dengan lingkungan sekitar, tahan terhadap
penyakit, dan juga menjadi penghasil karkas yang baik. Ransum merupakan faktor yang sangat
penting dalam suatu usaha peternakan, karena ransum berpengaruh langsung terhadap produksi
ternak. Ternak ruminansia membutuhkan ransum 10% dari bobot tubuhnya dalam bentuk bahan
segar atau 3-4% dalam bentuk bahan kering. Oleh karena itu, penyusunan bahan ransum yang
sesuai dengan manajemen pakan yang baik sangat dianjurkan untuk menekan biaya operasional
peternakan. Menurut Fauzyah, et al. (2017) ada beberapa macam permasalahan yang sering
dihadapi dalam pengembangan peternakan di Indonesia yaitu ketersediaan pakan yang tidak
berkesinambungan dan kualitas bahan pakan yang bervariasi. Ketersediaan bahan pakan berupa
hijauan untuk ternak ruminansia di Indonesia sangat tidak stabil. Hal ini dikarenakan Indonesia
memiliki iklim tropis yang menyebabkan produksi hijauan sangat bergantung pada musim.
Namun jika dilihat dari sisi lain, ini merupakan peluang yang baik bagi petani karena berbagai
macam hasil samping perkebunan dan pertanian dapat diolah menjadi pakan bersumber serat
bagi ternak ruminansia. Beberapa limbah pertanian dan agroindustri yang berpotensi untuk
diolah menjadi pakan adalah bungkil inti sawit dan limbah daun serai wangi yang merupakan
produk akhir dari penyulingan minyak atsiri.
Dedak padi merupakan hasil samping penggilingan padi. Ketersediaannya berfluktuasi
sepanjang tahun dimana pada musim panen melimpah, sebaliknya pada musim kemarau
berkurang. Dedak padi mempunyai kendala daya simpan yang singkat atau cepat rusak,
sehingga ketersediaannya menjadi salah satu kendala yang dirasakan oleh para peternak.
Penggunaan konsentrat alternatif yang tersedia sepanjang waktu menjadi fokus utama. Salah
satu konsentrat alternatif yang tersedia sepanjang waktu adalah bungkil inti sawit.
Bungkil inti sawit (BIS) merupakan limbah atau hasil ikutan industri pengolahan kelapa
sawit yang tersedia sangat berlimpah dan berpotensi sebagai sumber protein bagi ruminansia.
Protein pada bungkil inti sawit memiliki kualitas yang baik meski lebih rendah nilainya
dibanding bahan pakan sumber protein lain, Bungkil inti sawit sangat berpotensi digunakan
sebagai bahan substitusi dedak padi karena memiliki kandungan protein cukup tinggi, dapat
mencapai 21,51% (Wijianto, 2016) atau 14 – 20 % (Zarei et al., 2012) dan energi metabolis
antara 1817-2654 kkal/kg (Chanjula et al., 2010). Penggunaan BIS pada ransum ternak
ruminansia belum umum digunakan oleh peternak sedangkan penggunaan dedak padi pada
ransum ternak ruminansia sangat umum digunakan oleh peternak. Hal tersebut suatu potensi
yang baik bagi BIS untuk digunakan untuk mensubstitusi dedak padi sebagai pakan konsetrat
ternak ruminansia. Kemudian BIS harganya relatif sama dengan dedak padi, tidak bersaing
dengan manusia, jumlahnya melimpah dan ketersediaan sepanjang tahun.
Masalah kecukupan pakan dengan memanfaatkan limbah agroindustri sebagai sumber
protein serta sumber serat dan pengaruhnya terhadap pertambahan berat badan domba ekor tipis
jantan merupakan suatu kajian yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Oleh karena itu,
diperlukan penelitian untuk mengetahui apakah terjadi pengaruh terhadap pertambahan berat
badan domba ekor tipis akibat pemberian bungkil inti sawit sebagai bahan pakan subtitusi
dedak padi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapangan (LLP) Program Studi Peternakan
Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh pada bulan Februari
sampai dengan Maret 2021.
Prosedur Penelitian
Domba yang akan dijadikan materi penelitian adalah jenis domba ekor tipis jantan.
Domba-domba tersebut dipilih terlebih dahulu dengan cara acak , pemillihan domba ini
bertujuan untuk mendapatkan keseragamaan antar domba, baik itu jenis kelamin, umur,
maupun berat badan domba, hasil pemilihan didapatkan umur domba rata-rata berkisar 2 tahun,
dengan berat badan domba berkisar antara 20 kg-25 kg. Pelaksanaan penelitian ini dibagi
menjadi dua tahap yaitu :
Tahap adaptasi awal yang berupa adaptasi kandang dan linkungan yang bertujuan agar
ternak tidak stress dengan lingkungan baru, adaptasi pakan yang dilakukan selama 1 bulan
bertujuan untuk menghilangkan pengaruh pakan pada sebelumnya dan agar ternak terbiasa
dengan pakan penelitian dan analisis pakan perlakuan yang bertujuan untuk mengetahui
kandungan nutrisi dalam pakan perlakuan.
Tahap penelitian terdiri atas 4 periode. Masing- masing periode berlangsung selama 21
hari yang terdiri atas 7 hari masa adaptasi pakan perlakuan dan 14 hari masa pengumpulan data.
Sebelum penelitian dimulai peralatan seperti kandang, tempat pakan, tempat feses dan urine
dibersihkan , yang bertujuan untuk memudahkan dalam pengumpulan data, guna mengurangi
kesalahan dalam analisis data. Selanjutnya domba ditimbang untuk mendapatkan data awal
berat badan untuk perkiraan pakan yang dibutuhkan ternak. Pemberian bungkil inti sawit dan
dedak halus setiap pukul 08.00 WIB sedangkan pemberian Sereh wangi amoniasi dan rumput
gajah mini kering dibagi dua sesuai table 5 pada pukul 10.00 WIB dan sore pukul 17.00 WIB
dan air diberikan secara ad libitum.
Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ramcangan Bujur Sangkar Latin
(RBSL) yaitu dengan menggunakan empat perlakuan dan empat periode (ulangan).
Konsumsi Ransum
Data mengenai konsumsi ransum diperoleh dengan menghitung jumlah ransum yang
pertama diberikan dikurangi pakan yang tinggal (sisa) dalam satuan g/hari perhitungan
konsumsi ransum selama 14 hari setiap periodenya yaitu pada hari 8 -21 berdasarkan bahan
kering pakan.
Konversi Ransum
Konversi Ransum dapat dihitung dengan cara membagi angka rata-rata konsumsin
ransum bahan kering per ekor per hari dengan rata-rata produksi pertambahan bobot badan per
ekor per hari.
Konversi Ransum = Ransum yang dikonsumsi (g/hari)
Analisa Statistik
Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam. Apabila terdapat perbedaan
perbedaan antar perlakuan maka akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan ( Duncan Multiple
Range Test) ( Steel and Torrie, 1991).
Pemberian 0% bungkil inti sawit dan 40% dedak padi pada perlakuan memperlihatkan
jumlah konsumsi ransum terendah hal tersebut karena dedak padi mempunyai asupan nilai
energi cenderung tinggi sehingga diduga dapat menurunkan tingkat konsumsi pada ransum.
Menurut Mulyaningsih (2006), pemberian pakan konsentrat yang banyak akan meningkatkan
konsentrasi energi ransum dan dapat menurunkan tingkat konsumsi. Selain itu tinggi dan
rendahnya konsumsi pakan dapat dipengaruhi oleh faktor internal (ternak sendiri) dan eksternal
(lingkungan) (Wahyuningsih,2010). Parakkasi (1999) juga melaporkan jenis pakan dan kadar
energi dalam pakan akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan. Kusumaningrum (2009)
berpendapat bahwa tinggi rendahnya konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat
dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti, palatabilitas ransum, nilai nutrisi ransum, bentuk
pakan serta faktor internal lainnya yaitu, selera, status fisiologi ternak, bobot tubuh dan tingkat
produksi ternak itu sendiri. Konsumsi ransum dalam penelitian ini berada dalam hampir normal
dengan pendapat NRC (2006) domba dengan bobot badan 20-30 kg pada masa penggemukan
dapat mengkonsumsi bahan kering sebesar 690-1240 g/ekor/hari.
Konsumsi ransum berbasis tongkol jagung yang diberikan pada domba dapat
mengkonsumsi sebesar 4,17% dari bobot badan atau sebesar 1092-1240 g/ekor/hari (Yulistiani,
2010). Kisaran konsumsi ransum dalam penelitian ini lebih baik dari pendapat Tarmidi (2004)
bahwa pada domba yang sedang tumbuh dapat mengkonsumsi bahan kering ransum sebesar
677,6-718,68 g/ekor/hari. Konsumsi BK pada domba pada penelitian ini lebih rendah nilainya
dengan konsumsi BK domba lokal jantan hasil penelitian Purbowati et al.(2009) dengan rataan
901,64-956,71 g/ekor/hari yang diberikan pakan perlakuan jerami fermentasi. Konsumsi
ransum penelitian ini normal dibandingkan dengan penelitian Manalu et al. (2012) sebesar
682,69-956,71 g/ekor/hari yang diberikan pakan perlakuan limbah jerami padi fermentasi
dengan EM4.
Tabel 2. Rataan pertambahan berat badan harian domba ekor tipis jantan (g/ekor/hari).
Perlakuan
Periode
R0 R1 R2 R3
I 77,86 145,71 32,14 71,43
II 115,71 -117,14 21,43 135,71
III 21,43 25,00 92,86 89,29
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil yang bahwa pemberian
bungkil inti sawit sebagai substitusi dedak padi dengan pakan basal rumput odot kering dan
limbah sereh wangi (Cymbopogon nardus) amoniasi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap
pertambahan berat badan harian domba ekor tipis jantan. Hasil rataan penelitian ini
menunjukkan bahwa semua perlakuan memperlihatkan kenaikan berat badan. Perlakuan R0
dengan (0% bungkil inti sawit + 40% dedak padi) memiliki pertambahan berat badan harian
yang cenderung tinggi (76,96 g/ekor/hari) sementara R3 dengan ( 30% bungkil inti sawit +
10% dedak padi ) memiliki pertambahan berat badan harian sebesar 52,68 g/ekor/hari. Hal ini
dapat diartikan bahwa bungkil inti sawit tidak dapat berperan sebagai substitusi bagi dedak padi
dalam meningkatkan berat badan pada domba ekor tipis jantan yang diberikan bungkil inti sawit
untuk mensubsitusi dedak padi dengan pakan basal rumput odot kering dan limbah sereh wangi
(Cymbopogon nardus) amoniasi. Berdasarkan hal tersebut, hasil penelitian ini belum mencapai
pertambahan bobot badan standar.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat data negatif (-) di dalam Tabel 9 pada
perlakuan R1 periode II dan perlakuan R3 pada periode IV disebabkan karena domba
mengalami gangguan fisiologis seperti lemas kemudian gangguan pencernaan sehingga
mengeluarkan feses yang lembek sehingga sangat berpengaruh terhadap berat badan. Hal
tersebut sejalan dengan pendapat Gatenby dalam Yunidar (2011) faktor-faktor penting yang
mempengaruhi pertumbuhan domba antara lain spesies, pakan, genetik, kesehatan menajemen
dan iklim. Perlakuan R3 yang memiliki nilai konsumsi yang tinggi namun mendapatkan nilai
pertambahan berat badan harian yang rendah justru sebaliknya perlakuan R0 yang memiliki
nilai konsumsi rendah namun mendapat rataan pertambahan berat badan paling tinggi yaitu
76,96 g/ekor/hari, hal tersebut karena didalam data perlakuan R3 mendapat satu data negatif (-
) sehingga dapat berpengaruh pada perhitungan. Kemudian apabila ditinjau dari ternaknya
domba mengalami gangguan kodisi fisiologis sehingga berbanding terbalik dengan pendapat
Muck (2004) yang menyatakan bahwa pertambahan berat badan atau penurunan berat badan
sangat dipengaruhi oleh banyak atau sedikitnya ternak dalam mengkonsumsi pakan.
Sekalipun secara statistik PBBH tidak terlalu berbeda antar perlakuan, namun tingkat
penggunaan dedak 40% dalam konsentrat menunjukkan hasil yang terbaik pada pertumbuhan
domba ekor tipis dan yang terendah diperlihatkan oleh respon dari perlakuan R1 yaitu 20,54
g/ekor/hari. Hal tersebut berbanding terbalik dengan pendapat Kartadisastra (1997) bahwa berat
badan ternak senantiasa berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya. Perlakuan
ransum R0 memiliki tingkat konsumsi rendah namun dapat menunjang pertambahan berat
badan harian yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya hal tersebut diduga
proses penyerapan nutrisi yang sangat baik sehingga jumlah pakan yang dikonsumsi lebih
sedikit namun dapat menunjang kenaikan pertambahan berat badan harian cenderung tinggi.
Sementara itu, perlakuan R3 memperlihatkan konsumsi yang tinggi namun tidak efektif dalam
meningkatkan pertambahan berat badan harian. Kemungkinan hal ini terjadi karena didalam
kandungan nutrisi pada R3 terdapat nilai serat kasar yang cenderung tinggi sehingga tingginya
serat kasar pada pakan ruminansia dapat menyebabkan tertinggalnya pakan dalam rumen lebih
lama dan meninggalkan rasa kenyang pada ternak sehingga asupan pakan menjadi rendah. Hal
tersebut sesuai pendapat Susanti dan Marhaeniyanto (2007) Bahan pakan yang mengandung
serat kasar tinggi sukar dicerna sehingga kecepatan alirannya dalam rumen rendah, khususnya
serat kasar selain menentukan kecernaan juga menentukan laju kecepatan aliran pakan
meninggalkan rumen.
Pertambahan berat badan harian pada penelitian ini yaitu 76,96 g/ekor/hari, lebih baik
dibandingkan dengan dengan penelitian Manurung et al. (2015) yang memberikan limbah
jerami padi amoniasi dengan nilai pertambahan berat badan harian domba yaitu berkisar 49,65-
64,65 g/ekor/hari, kemudian lebih rendah dari penelitian Zain et al. (2017) yang memberikan
pakan substitusi rumput lapangan dengan kulit buah coklat amoniasi yang mengalami
peningkatan sebesar 96-104 g/ekor/hari. Pertambahan berat badan harian dalam penelitian
tergolong tinggi dan menunjukkan adanya peningkatan berat badan setiap periode
penimbangan, karena domba dipelihara secara insentif di dalam kandang individu. Hal ini
sesuai dengan pendapat Sudarmono dan Sugeng (2003) bahwa terjadi peningkatan pertambahan
berat badan harian sebesar 50-150 g/ekor/hari pada domba yang dipelihara secara insentif.
Berdasarkan kandungan nutrisi dan ketersediaannya, BIS mempunyai potensi yang cukup
besar untuk mensubstitusi dedak padi apabila ditinjau dari kandungan proteinnya. Hal tersebut
sesuai pendapat Krisnan et al. (2012) variasi protein yang terkandung didalam bungkil inti
sawit berkisar 16 - 19% sehingga sangat baik digunakan sebagai pakan tambahan untuk ternak
ruminansia. Mathius (2009) melaporkan pula bahwa pemberian BIS yang dikombinasikan
dengan pelepah daun sawit terfermentasi memberikan respon yang baik. Demikian pula telah
dilaporkan penambahan BIS hingga 30% pada domba yang diberi pakan dasar rumput dapat
meningkatkan pertumbuhan dari 30 g (hanya diberi rumput) menjadi 70 g/ekor/ hari pada
kambing jantan (Chanjula et al., 2009),
Konversi Ransum
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh nyata
(P>0.5) terhadap konversi ransum. Rataan konversi ransum pada penelitian ini dari yang
terendah sampai tertinggi adalah perlakuan R0 = 11,09, R1 = 144,66, R2 = 18,80, dan R3
=152,04 Rataan konversi ransum domba ekor tipis jantan yang diberi bungkil inti sawit sebagai
substitusi dedak padi dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 menunjukan bahwa nilai konversi ransum yang diperoleh dari masing-masing
perlakuan adalah berbeda, Namun secara keseluruhan memperlihatkan nilai konversi yang
relatif tinggi. Menurut Juarini et al. (1999), nilai konversi ransum yang tinggi mengindikasikan
bahwa besaran ransum yang digunakan untuk menaikkan berat badan persatuan berat badan
semakin banyak, atau dapat diartikan bahwa tingkat efisiensi ransumnya rendah. Tabel 3 juga
menunjukkan bahwa perlakuan R3 dengan rataan nilai konversi ransum tertinggi sebesar
152.04 memiliki pertambahan berat badan harian 52,68 g/ekor/hari. Sedangkan perlakuan R0
dengan nilai konversi ransum terendah sebesar 11,09 mempunyai pertambahan berat badan
76,96 g/ekor/hari. Perlakuan R3 mempunyai nilai konsumsi cenderung tinggi dan pbbh
cenderung rendah kemudian apabila ditinjau dari nilai konversinya sangat tinggi berarti ransum
yang digunakan untuk menaikkan berat badan harian tidak efisien sesuai pendapat Nurjannah
et al. (2019) konsumsi pakan yang tinggi belum tentu menyebabkan angka konversi pakan
menjadi tinggi dan sebaliknya konsumsi pakan yang rendah belum tentu menyebabkan angka
konversi menjadi rendah. Martawidjaja (2003) menjelaskan semakin baik kualitas pakan, maka
semakin sedikit jumlah pakan untuk menaikkan tiap kg berat badan dan penggunaan pakan
semakin efisien.
Nilai konversi ransum konsetrat standar NRC (2006) adalah 3,00. Yunita (2008) dalam Sobri
(2012) menyatakan hal yang berbeda, yaitu bahwa nilai konversi ransum standar NRC yang
mengacu kepada negara dengan iklim subtropis, hendaknya dibedakan dari nilai konversi pakan
standar untuk negara tropis seperti Indonesia. Hal ini disebabkan kebutuhan nutrisi di daerah
tropis cenderung lebih tinggi dibandingkan daerah subtropis.
Angka konversi dalam penelitian ini lebih tinggi dibandingkan penelitian Rahayu et al.
(2011) yang mendapatkan angka konversi 4,75 yang diberikan pakan limbah taoge dan
Indigofera sp. pada domba jonggol balibu, namun lebih rendah jika dibandingkan penelitian
Manalu et al. (2012) yang memberikan limbah jerami padi dengan penambahan EM4 pada
domba sungai putih (domba komposit sumatera) dengan angka konversi 22,73. Sementara pada
penelitian Adhadinia (2011) menyatakan domba lokal dengan penambahan ampas kurma
dalam ransum dengan persentase berbeda memperoleh angka konversi 10,80. Dengan
demikian, pakan yang digunakan dalam penelitian ini dikategorikan sebagai ransum tidak
efisien. karena semakin efisien ternak dalam menggunakan pakan untuk produksi daging maka
angka konversi semakin kecil. Sebaliknya jika angka konversi semakin besar artinya ransum
tersebut tidak efisien. Besar angka konversi sangat berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan
ransum (Baihaqi et al. 2004).
DAFTAR PUSTAKA
Adhadinia, N. (2011). Performa Pertumbuhan Domba Lokal yang diberi Pakan dengan Level
Ampas Kurma Berbeda.
Baihaqi, M., M. Duldjaman, and R. Herman. "Penampilan Domba Lokal Yang Dikandangkan
Dengan Pakan Kombinasi Tiga Macam Rumput (Bracharia Humidicola, Bracharia
Decumbens Dan Rumput Alam)." (2004).
Chanjula, P., A. Mesang, and S. Pongprayoon. 2010. Effects of Dietary Inclusion of Palm
Kernel Cake on Nutrient Utilization, Rumen Fermentation Characteristics and
Microbial Populations of Goats Fed Paspalum Plicatulum Hay-Based Diet.
Songklanakarin J Sci Technol. 32:527- 536.
Chanjula, P., A. Mesang, and S. Pongprayoon. 2010. Effects of Dietary Inclusion of Palm
Kernel Cake on Nutrient Utilization, Rumen Fermentation Characteristics and
Microbial Populations of Goats Fed Paspalum Plicatulum Hay-Based Diet.
Songklanakarin J Sci Technol. 32:527- 536.
Ditjenbun. 2017. Statistik Perkebunan Indonesia. Kelapa sawit 2015/2017. Hendaryati DD,Ar
ianto Y, penyunting. Jakarta (Indonesia): Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian
Pertanian.
Fauzyah, A. Panjono, A. Agus, Budisatria dan Widyobroto. 2017. The Effect of Rumen
Undegradable Protein Level of Concentrate with Rice Straw as Basal Diet on 29
Growth Performance of Sumba Ongole Beef Cattle. Bulletin of Animal Science. 41:
142-149. (2).
Haryanto, B., & Jarmani, S. N. (2010). Performans domba sebagai respons terhadap pemberian
pakan mengandung bungkil inti sawit terproteksi molases.
Juarini, E. 1999., Budiarsana, I. G. M., MATHIUS, I., ). SUTAMA, I & Pertumbuhan dan
perkembangan seksual anak kambing peranakan Etawah dari induk dengan tingkat
produksi susu yang berbeda. JITV, 4, 95-100.
Kartadisastra, H.R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak [Link],
Yogyakarta.
Krisnan, R., J. Sirait, A. Tarigan, K. Simanuhuruk. 2012. Indigofera sebagai Pakan Ternak.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Litbang Pertanian. Kementerian
Pertanian. IAARD Press.
Kusumaningrum, D. (2009). Efek probiotik terhadap peningkatan berat badan ayam
pedaging. Partner, 16(2), 19-24.
Manalu, N. M., S. Zulfikar dan A. Trisna. 2012. Pemanfaatan Jerami Padi (Oryza sativa) yang
Ditambah Dengan Em-4 Terhadap Pertumbuhan Domba Sungei Putih Jantan. Program
Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.
Manurung, R., Melinda, R., Abduh, M. Y., Widiana, A., Sugoro, I., & Suheryadi, D. (2015).
Potential use of lemongrass (Cymbopogon winterianus) residue as dairy cow
feed. Pakistan Journal of Nutrition, 14(12), 919.
Martawidjaja, M. 1998. Pengaruh pemberian jerami padi fermentasi dalam ransum terhadap
peforman kambing peranakan etawah betina. Pros. Seminar Nasional Teknologi
Peternakan dan Veteriner: Bogor, 4-5 Agust. 2004. Puslitbang Petemakan, Bogor.407-
415.
Mathius, I., Puastuti, W., Yulistiani, D., Giyai, F. R. A. N. S. I. S. C. U. S., & Dihansih, E. L.
I. S. (2010). Ransum berbasis kulit buah kakao yang disuplementasi Zn organik: Respon
pertumbuhan pada domba. JITV, 16(4), 269-277.
Mathius, I., Puastuti, W., Yulistiani, D., Giyai, F. R. A. N. S. I. S. C. U. S., & Dihansih, E. L.
I. S. (2010). Ransum berbasis kulit buah kakao yang disuplementasi Zn organik: Respon
pertumbuhan pada domba. JITV, 16(4), 269-277.
Mulyaningsih, N. 1990. Domba Garut sebagai Plasma Nutfah Ternak. Plasma Nutfah Hewan
Indonesia. Komisi Pelestarian Plasma Nutfah Indonesia. 42-49.
National Research Council. 2006. Nutrient Requirement of Small Ruminant. National Academy
Press, Washington D. C.
Nurjannah, S., Ayuningsih, B., Hernaman, I., & Susilawati, I. (2019). Penggunaan kaliandra
(Calliandra Calothyrsus), Indigofera Sp. dan campurannya dalam ransum sebagai
pengganti konsentrat terhadap produktivitas domba garut jantan. Jurnal Ilmiah
Peternakan Terpadu, 7(3), 293-298.
Nursasih, E. 2005. Kecernaan Zat Makanan dan Efisiensi Pakan pada Kambing Peranakan
Etawah yang Mendapat Ransum dengan Sumber Serat Berbeda. Skripsi. Fakultas
Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
Purbowati. E., C.I. Sutrisno., E. Baliarti dan S.P.S. Budhi. 2009. Penampilan Domba Lokal
Jantan Dengan Pakan Komplit Dari Berbagai Limbah Pertanian dan Agroindustri.
Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan, Semarang. 130-138.
Rahayu, S., D.A. Astuti., K.B. Satoto., R. Priyantoro., L. Khotijah., T. Suryati dan M. Baihaqi.
2011. Produksi Domba Balibu UP3J Jonggol Melalui Strategi Perbaikan Pakan Berbasis
Indigofera sp dan Limbah Taoge. Laporan Penelitian Fakultas Peternakan. Bogor (ID)
: Institut Pertanian Bogor.
Sobri. [Link] Domba Ekor Tipis (Ovis aries) Jantan Yang Digemukkan Dengan
Pemberian Biskuit Daun Jagung dan Rumput Lapangan. Fakultas Peternakan. Skripsi.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Steel, R.G.D dan J.H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur Statistika. PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Sudarmono, A.S dan Y.B. Sugeng. 2003. Beternak Domba Edisi Revisi. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Susanti, Sri, and Eko Marhaeniyanto. "Kecernaan, retensi nitrogen dan hubungannya dengan
produksi susu pada sapi peranakan Friesian Holstein (PFH) yang diberi pakan pollard
dan bekatul." Jurnal Peternakan 15 (2007): 142-143.
Tarmidi, A. R. (2004). Pengaruh pemberian ransum yang mengandung ampas tebu hasil
biokonversi oleh jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) terhadap performans domba
Priangan. JITV, 9(3), 157-163.
Wahyuningsih, N. (2010). Pengaruh penggunaan ampas ganyong (Canna edulis kerr)
fermentasi dalam ransum terhadap performan domba lokal jantan.
Wijianto, G.A. 2016. Pengaruh Pemberian Ransum Berbasis Limbah Kelapa Sawit terhadap
Kadar Amonia dan Volatile Fatty Acid Pada Cairan Rumen Sapi Peranakan Ongole.
Skripsi. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Bandar
Lampung.
Yudith, T. A. 2010. Pemanfaatan Pelepah Sawit dan Hasil Ikutan Industri Kelapa Sawit
terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Simental Fase Pertumbuhan. Departemen
Pendidikan Fakultas Peternakan, Universitas Sumatra Utara, Medan.
Yulistiani, D. 2010. Fermentasi tongkol jagung (kecernaan >50%) dalam ransum komplit
domba komposit sumatera dengan laju pertumbuhan >125 gram/hari. program insentif
riset terapan. Balai Penelitian Ternak. Bogor
Yunidar, M. 2011. Performa Dan Kebersihan Domba Garut dengan Perlakuan Pencukuran dan
Pemeliharaan Secara Semi Intensif.
Zain, M., Marlida, Y., Erpomen, E., & Rahmiwati, R. (2017). PENERAPAN PRODUKSI SAPI
POTONG DAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA DI UNIVERSITAS
ANDALAS. Jurnal Warta Pengabdian Andalas, 24(4), 190-215.
Zarei, M., A. Ebrahimpour, A. Abdul Hamid, F. Anwar and N. Saari. 2012. Production of
Defatted Palm Kernel Cake Protein Hydrolysate As A Valuable Source Of Natural
Antioxidants. International Journal of Molecular Sciences. 13 (7) : 8097- 8111