Karakteristik Ayam Kampung Polos Muna
Karakteristik Ayam Kampung Polos Muna
Kabupaten Muna
1
Faculty of Animal Science, University of Halu Oleo
Jl. H.E.A. Mokodompit, Kendari 93232, Sulawesi Tenggara, Indonesia
muh.firman097@[Link]
ABSTRACT
Free-range chicken is the result of the domestication of the red jungle fowl (Red jungle fowl
or Gallus galus) which has been raised by their ancestors for generations and has spread to
almost all parts of the Indonesian archipelago. This study aims to examine the qualitative and
population in this study were all male and female native chickens belonging to farmers in
Batalaiworu District, Muna Regency. Southeast Sulawesi. The study sample was 400 adult
villages aged ≥ 6 months (200 males and 200 females) located in Laiworu Village, Sidodadi
Village, Wakorambu Village and Wawesa Village, Batalaiworu District, Muna Regency. Data
collection of qualitative traits of native chickens including feather color, shank color, and
beard shape. Meanwhile, quantitative data collection, including body weight, is carried out
through weighing using digital scales, while native chicken body sizes are measured using
measuring tape (cm) and caliper (cm). The results of this study show that the qualitative
nature of native chickens in Batalaiworu District has a fairly high diversity in terms of feather
color, beard shape and shank color. The quantitative nature of native chickens generally has
low diversity except for body weight in roosters KK 21.3% and chest width in hens KK
15.56%.
domestikasi ayam hutan merah (Red jungle ayam kampung yang mempunyai sifat-
fowl atau Gallus galus) yang telah sifat spesifik tersebut akan punah
dipelihara oleh nenek moyang secara turun (Sujionohadi dan Setiawan 2000).
kampung jantan lebih jelas dari segi Sulawesi Tenggara. Kabupaten Muna
bentuk, memiliki tubuh yang gagah, merupakan salah satu daerah yang
sedangkan pada betina, bulu ekor lebih
berpotensi untuk pengembangan ayam
pendek dari panjang tubuh, memiliki
kampung seperti di Kecamatan
ukuran badan dan kepala yang lebih kecil
Batalaiworu. Jumlah populasi ayam
(Rasyaf 2011).
kampung di Kecamatan Batalaiworui
Ayam kampung memiliki
sebanyak 77.982 ekor, yang tersebar di
kelebihan yaitu pemeliharannya yang
Kelurahan Laiworu, Kelurahan Sidodadi,
relatif mudah atau sederhana, biaya yang
Desa Wawesa dan Desa Wakorambu (BPS
dikeluarkan murah, resisten terhadap panas
Kabupaten Muna 2019).
serta memiliki daya adaptasi yang baik.
Salah satu usaha pelestarian sumber
Namun di sisi lain Ayam kampung juga
daya genetik ayam lokal adalah
memiliki beberapa kelemahan, antara lain
melakukan karakterisasi sifat fenotipik.
adalah sulitnya memperoleh bibit yang
Tahap awal karakterisasi adalah
baik dan produktifitasnya yang rendah,
menggunakan karakteristik genetik eksternal
ditambah dengan adanya faktor penyakit
ternak. Tahapan ini meliputi pengamatan
musiman seperti ND (Newcastle disease),
sifat-sifat kualitatif dan kuantitatif ternak.
Ayam kampung adalah salah satu jenis Kabupaten Muna. Tujuan dari penelitian
ayam lokal yang memiliki keragaman sifat- ini adalah untuk mengkaji sifat kualitatif
kelompok atau lebih, dan pengelompokan bulan Agustus 2022 sampai dengan bulan
itu berbeda jelas satu sama lain (Subekti September 2022, bertempat di Kecamatan
kuantitatif adalah sifat yang dapat diukur, Tenggara. Lokasi penelitian di Kecamatan
sifat ini dipengaruhi oleh banyak pasangan Batalaiworu ditentukan dengan cara
gen dan sangat dipengaruhi oleh faktor Purposive Sampling yaitu dipilih 4 (empat)
sifat kualitatif dan kuantitatif ayam adalah teknik penentuan sampel dengan
kualitatif dan kuantitatif tersebut sangat adalah ayam kampung yang berumur ≥ 6
penting bagi pengembangkan ternak ayam bulan. Populasi dalam penelitian ini adalah
kampung di Kecamatan Batalaiworu 400 ekor (jantan 200 dan betina 200) yang
berada di Kelurahan Laiworu, Kelurahan b. Individu ayam dengan warna
kampung meliputi warna bulu, warna ujung ekor dan ujung sayap
pengambilan data sifat kuantitatif meliputi pada fenotipe pola bulu tipe
menggunakan pita ukur (cm) dan jangka fenotipe pola bulu tipe liar (e+_
sorong (cm). ),
Analisis Data
∑ =Penjumlahan
Xi =Nilai pengamatan ke-i
Data sifat-sifat kualitatif ayam n =Jumlah sampel
S =Standar deviasi
kampung ditabulasi, selanjutnya dihitung
P=
∑ X i x 100 %
terletak di bagian selatan garis
n
Keterangan: khatulistiwa, memanjang dari utara ke
statistik deskriptif dengan menghitung sekitar 22,71 km2 yang terletak di bagian
1 Jagung 50 109,7
2 Ubi Kayu 9 707,1
3 Ubi jalar 4 68,0
Sumber: BPS Kabupaten Muna 2021
Tabel 4.1. Persentase Warna Bulu Ayam Kampung Berdasarkan Jenis Kelamin
Fenotipe Genotipe Jantan Betina Jumlah
N=200 % N=200 %
Warna
1
Bulu
Berwarna Ii 151 75,5 152 76 303
Tidak
I 49 24,5 48 24 97
Berwarna
Jumlah 200 200
2 Pola Bulu
Hitam E- 49 24.5 88 44 137
Colombian Ee 90 45 51 25,5 141
Liar E+- 61 30,5 61 30,5 122
Jumlah 200 200
Corak
3
Bulu
Lurik B- 102 51 101 50,5 203
Polos Bb 98 49 99 49,5 197
Jumlah 200 200
Kerlip
4
Bulu
Perak S- 68 34 71 35,5 139
Emas Ss 132 66 129 64,5 261
Jumlah 200 200
bahwa warna bulu ayam kampung di pada ternak betina. Kerlip bulu dengan
berwarna (Ii) yaitu 86% pada ternak jantan betina adalah kerlip bulu emas (Ss) yaitu
dan 87% pada ternak betina. Pola warna 54% untuk ternak jantan dan 35% untuk
ternak jantan adalah pola warna liar (e+-) Bentuk Jengger Ayam Kampung
yakni terdiri dari jengger pea, ros dan (2016) maka hasil penelitian ini tidak
tunggal. Dari ketiga bentuk jengger ini, berbeda jauh bahwa bentuk jengger ayam
jengger yang dominan adalah jengger kampung yang dominan pada ayam
tunggal 49% pada jantan dan 14% pada kampung jantan adalah tunggal 44 % dan
betina. Sementara jengger ros hanya 36% pada betina bentuk pea 40%. Demikian
pada jantan dan 41% pada betina dan pula pernyataan Subekti dan Arlina (2011)
sisanya adalah jengger pea 15% pada bahwa ayam kampung masih mempunyai
jarak genetik yang dekat dengan ayam yakni 44% pada ternak jantan dan bentuk
hutan merah yang ada di Indonesia. Lebih jengger pea (rrPP) 48% pada ternak betina
jengger ayam kampung jantan dan betina melaporkan bahwa bentuk jengger ayam
pengaruh gen pea kuat terhadap gen dan betina dominan bentuk jengger tunggal
tunggal, dimana ayam kampung telah (rrpp) yakni 50% pada ternak jantan dan
menerima aliran gen yang berasal dari 56% pada ternak betina.
bangsa ayam unggul yaitu ayam brahma Warna Shank Ayam Kampung
Hasil penelitian warna shank ayam abu-abu ayam jantan 25% dan pada ternak
kampung di Kecamatan Batalaiworu jantan betina yaitu 33%. Warna shank kuning
lebih dominan berwarna kuning yaitu pada ayam kampung lebih dominan
sebesar 48% pada ternak jantan, betina dibandingkan dengan warna shank abu-abu
sebesar 40,5%. Warna shank hitam pada dan warna shank hitam. Hal ini sesuai
ayam jantan yaitu sebesar 27% dan betina dengan pernyataan Sartika et al (2006)
sebesar 25,5%. Sedangkan warna shank bahwa karakteristik warna shank kuning
atau putih (Id) disebabkan oleh kurangnya untuk ternak betina sedangkan warna
kandungan melanin pada jaringan kulit shank hitam/abu-abu (Idid) pada ternak
(dermis). Kandungan melanin dalam jantan 13% dan pada betina 31%
resesif terkait kelamin (Id) dalam keadaan melaporkan bahwa warna shank ayam
homozigot atau heterozigot. Warna cakar kampung di Desa Menaming pada ternak
hitam inhibitor dari melanin dermis (Id) jantan dan betina lebih dominan
bersifat dominan tidak lengkap terhadap putih/kuning (Id) yakni 64% pada ternak
(Id). Demikian pula peryataan Scaner et al jantan dan 52% pada ternak betina
ditemukan pada ayam dari kombinasi (Idid) pada ternak jantan 36% dan 48%
pigmen yang berbeda di lapisan atas dan pada ternak betina dan Subekti dan Arlina
bawah kulit. Warna cakar kuning (2011) melaporkan bahwa warna shank
karotenoid pada epidermis dan tidak pada ternak jantan dan betina lebih
adanya pigmen melanin. Warna cakar dominan putih/kuning (Id) yakni 74% pada
hitam dipengaruhi oleh adanya pigmen jantan dan 66% pada ternak betina
pigmen tersebut tidak ada maka cakar pada ternak jantan 26% dan 34% pada
Tabel 4.2. Sifat Kuantitatif Ayam Kampung Berdasarkan Jenis Kelamin Dikecamatan
Batalaiworu
Jantan N=200 Betina N= 200
No Variabel KK(% KK(%
NR ± SD ) NR± SD )
1415,685 1022,3 ±
1 Bobot Badan (kg) ± 297,7 21,03 110,06 10,83
31,575 28,21 ±
2 Lingkar Dada (cm) ± 2,69 8,58 2,30 8,17
10,635 10,465 ±
3 Lebar Dada (cm) ± 1,34 12,581 1,63 15,56
8,355 8,03 ±
4 Panjang Shank (cm) ± 0,97 11,56 1,23 15,29
17,13 14,185 ±
5 Panjang Sayap (cm) ± 1,05 6,15 2,73 19,25
9,73 8,99 ±
6 Panjang Femur (cm) ± 1,15 11,78 1,01 11,21
N= Jumlah Sampel, NR = Nilai rata-rata, SD = Standar Deviasi, KK(%) = Koefisien Keragaman,
bahwa Rata-rata bobot ayam jantan di penelitian ini dipengaruhi oleh genetik dan
masih seragam adalah 1415,685 ± 297,7 pendapat Noor (2000) bahwa perbedaan
dengan KK 21,03% memiliki keragaman yang dapat diamati pada ternak untuk
yang tinggi di duga di sebabkan oleh berbagai sifat disebabkan oleh faktor
Subekti dan Arlina (2011) rata-rata bobot rata-rata untuk ayam kampumg di
Kecamatan Sungai Pagu yaitu 1,90 kg ± (KK) adalah 20,27% sedangkam pada
betina didapatkan rata-rata bobot badan Kusuma dan Prijono (2007) bahwa variasi
(KK) adalah 19,65%, menunjukan bobot disebabkan oleh kondisi lingkungan asal
badan ayam kampung jantan dan betina bibit yang berbeda, lingkungan
bahwa rataan lingkaran dada ayam dengan hasil penelitian Amlia et al (2016).
Kabupaten Muna memiliki nilai pada penelitian ini cenderung lebih rendah
keragaman yang rendah yaitu ayam jantan dari hasil penelitian Amlia et al (2016).
adalah 31,475 cm ± 2,69 cm dengan KK Lingkar dada pada ayam jantan lebih besar
8,56% dan pada ayam betina yaitu 28,21 dibandingkan ayam betina disebabkan
Hasil penelitian ini berbeda dengan ayam jantan lebih besar dari pada betina.
hasil penelitian Amlia et al (2016) dimana Menurut Resnawati (2004), secara umum
rata-rata lingkar dada ayam kampung di faktor utama yang menentukan ukuran otot
Kecamatan Lasalimu pada ternak jantan bagian dada adalah bobot badan, jenis
panjang dada ayam sentul 9,504 cm, 0,97 dengan KK 11,56%, sedangkan pada
namun lebih rendah dibandingkan dengan ayam betina masih seragam yaitu 8,03 cm
lebar dada ayam kampung di Kecamatan Kuswardani (2012) bahwa rataan panjang
Lasalimu pada ternak jantan adalah shank ayam kampung di Kotamadya Bogor
6,01±0,70 dengan KV 11,57% dan pada pada ternak jantan adalah 111,12 cm ±
ternak betina 5,19±0,62 dengan KV 12% . 13,89 dengan KK 12,50% dan pada ternak
2007) bahwa variasi ukuran tubuh ayam Kecamatan Lasalimu pada ternak jantan
kampung dapat disebabkan oleh kondisi adalah 8,58 cm ± 0,45 dengan KK 5,21%
lingkungan, asal bibit yang berbeda dan dan pada ternak betina 7,06 cm ± 0,44
bagian bawah atau cakar pada umumnya dibandingkan dengan penelitian Amlia et
tertutup oleh sisik, tetapi pada bangsa al (2016). Hal ini menunjukan bahwa
tertentu terutama yang berbulu total penelitian ini lebih seragam bila
Perbedaan hasil penelitian ini disebabkan Amlia, MA Pagala dan [Link] 2016. Studi
karakteristik sifat kualitatif dan
genetik dan lingkungan. Hal ini sesuai kuantitatif ayam kampung di
Kecamatan Lasalimu
dengan pendapat Yatim (1991) bahwa Kabupaten Buton. 3(1):2-8
Andrianto [Link] Baa dan M Rusdin. 2015.
variasi yang terdapat pada suatu individu Sifat-sifat kualitatif dan
kuantitatif ayam ketawa di
disebabkan oleh variasi genetik dan Kota Kendari, Jitro: 1 (4).
Noor. 2008. Identifikasi jenis kelamin anak Sartika T, Sulandari S, MSA Zein,
ayam buras berdasarkan bobot Paryanti S. 2006. Karakter
dan indeks telur tetas berbeda. fenotipe/genetik eksternal
Jurnal ilmu ternak dan ayam lokal indonesia. Laporan
tanaman.5(1).6-10. Akhir Penelitian Kompetitif
Riset Karakterisasi molekuler–
Noor. 2008. Karakteristik genetic eksternal LIPI. 16 hlm.
dan morfologi ayam kampung.
Jurnal Ilmu Ternak dan Sartika T. 2012. Ketersediaan sumber daya
Lingkungan. Universitas genetik ayam lokal dan strategi
Patimura. Ambon. pengembangannya untuk
pembentukkan parent dan
Nozawa K. 1980. Phylogenetic studis on grand parent stock. Workshop
native domestic animal in East Nasional Unggas Lokal 2012:
and Southeast Asia. Tropical 19-23.
Agriculture Reseach Center,
Japan IV : 23-43. Scaner, CG, Brant G dan ED. Me. 2003.
Poultry Science. 4th Edition.
Rahayu, I., T. Sudaryani dan H. Santosa. Prentice Hall (2003-07-17)
2011. Panduan lengkap ayam. Publisher, Inc. Danville.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Scanes C.G, G. Brant and D.M.
Rasyaf, M. 2011. Beternak Ayam Ensminger. 2003. Poultry
Kampung. Penebar Swadaya, Science. 4 th Edition. Prentice
Jakarta. Hall Publisher, Inc. Danville.
Resnawati H. 2004. Bobot potong karkas Subekti K dan F Arlina. 2011.
dan lemak abdomen ayam ras Karakteristik genetic eksternal
pedaging yang diberi ransum ayam kampung di Kecamatan
mengandung tepung cacing Sungai Pagu Kabupaten Solok
Selatan. Jurnal Ilmiah Ilmu-
Ilmu Peternakan14(2):74-86.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian.
Universitas Pendidikan
Indonesia. Perpustakaan. UPI.
Edu.
Suharyanto AA. 2007. Panen ayam
kampung dalam tujuh minggu
bebas flu burung. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Sujionohadi, K dan A.I. Setiawan. 2000.
Ayam kampung petelur.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Supranto, J. 1990. Statistik teori dan
aplikasi, Edisi Kelima.
Erlangga, Jakarta.
Suprijatna E, Atmomarsono U dan
Kartasudjana R. 2005. Ilmu
Dasar Ternak Unggas . Jakarta:
Penebar Swadaya
Tarigan RT. 2010. Karakteristik Sifat
Kualitatif dan Kuantitatif
Ayam Walik di Sumedang dan
Bogor. [Skripsi]. Fakultas
Peternakan, IPB. Bogor.
Warwick EJ. JM Astuti dan W
Hardjosubroto. 1995.
Pemuliaan Ternak, Cet.5.
Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Woli LO., LO Nafiu. dan Syamsuddin
2018. Karakteristik genetik
eksternal ayam kampung di
kecamatan kusambi kabupaten
muna barat provinsi sulawesi
tenggara. Jurnal Ilmiah
Peternakan Halu Oleo 2(3):
228-237.
Yaman MA. 2010. Ayam kampung unggul
enam minggu panen. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Yatim W. 1991 Genetika, Edisi IV.
Tarsito. Bandung.