0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan18 halaman

Karakteristik Ayam Kampung Polos Muna

Penelitian ini mengkaji sifat kualitatif dan kuantitatif ayam kampung di Kecamatan Batalaiworu, Kabupaten Muna, dengan melibatkan 400 ekor ayam dewasa. Hasil menunjukkan bahwa terdapat keragaman tinggi dalam sifat kualitatif seperti warna bulu dan bentuk jengger, sementara keragaman kuantitatif umumnya rendah kecuali pada bobot badan dan lebar dada. Penelitian ini penting untuk pengembangan dan pelestarian ayam kampung lokal di daerah tersebut.

Diunggah oleh

syahrirce
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
73 tayangan18 halaman

Karakteristik Ayam Kampung Polos Muna

Penelitian ini mengkaji sifat kualitatif dan kuantitatif ayam kampung di Kecamatan Batalaiworu, Kabupaten Muna, dengan melibatkan 400 ekor ayam dewasa. Hasil menunjukkan bahwa terdapat keragaman tinggi dalam sifat kualitatif seperti warna bulu dan bentuk jengger, sementara keragaman kuantitatif umumnya rendah kecuali pada bobot badan dan lebar dada. Penelitian ini penting untuk pengembangan dan pelestarian ayam kampung lokal di daerah tersebut.

Diunggah oleh

syahrirce
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Sifat Kualitatif dan Kuantitatif Ayam Kampung di Kecamatan Batalaiworu

Kabupaten Muna

Muhammad Firman1, Muh. Rusdin2, Rahim Aka2

1
Faculty of Animal Science, University of Halu Oleo
Jl. H.E.A. Mokodompit, Kendari 93232, Sulawesi Tenggara, Indonesia
muh.firman097@[Link]

ABSTRACT

Free-range chicken is the result of the domestication of the red jungle fowl (Red jungle fowl

or Gallus galus) which has been raised by their ancestors for generations and has spread to

almost all parts of the Indonesian archipelago. This study aims to examine the qualitative and

quantitative characteristics of native chickens in Batalaiworu District, Muna Regency. The

population in this study were all male and female native chickens belonging to farmers in

Batalaiworu District, Muna Regency. Southeast Sulawesi. The study sample was 400 adult

villages aged ≥ 6 months (200 males and 200 females) located in Laiworu Village, Sidodadi

Village, Wakorambu Village and Wawesa Village, Batalaiworu District, Muna Regency. Data

collection of qualitative traits of native chickens including feather color, shank color, and

beard shape. Meanwhile, quantitative data collection, including body weight, is carried out

through weighing using digital scales, while native chicken body sizes are measured using

measuring tape (cm) and caliper (cm). The results of this study show that the qualitative

nature of native chickens in Batalaiworu District has a fairly high diversity in terms of feather

color, beard shape and shank color. The quantitative nature of native chickens generally has

low diversity except for body weight in roosters KK 21.3% and chest width in hens KK

15.56%.

Keywords: Native chicken, qualitative and quantitative, Batalaiworu, Muna


INTRODUCTION sehingga dikhawatirkan populasi ayam

Ayam kampung merupakan hasil kampung akan semakin menurun, bahkan

domestikasi ayam hutan merah (Red jungle ayam kampung yang mempunyai sifat-

fowl atau Gallus galus) yang telah sifat spesifik tersebut akan punah

dipelihara oleh nenek moyang secara turun (Sujionohadi dan Setiawan 2000).

temurun dan menyebar hampir di seluruh Ayam kampung tersebar di

kepulauan Indonesia. Ciri-ciri ayam sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di

kampung jantan lebih jelas dari segi Sulawesi Tenggara. Kabupaten Muna
bentuk, memiliki tubuh yang gagah, merupakan salah satu daerah yang
sedangkan pada betina, bulu ekor lebih
berpotensi untuk pengembangan ayam
pendek dari panjang tubuh, memiliki
kampung seperti di Kecamatan
ukuran badan dan kepala yang lebih kecil
Batalaiworu. Jumlah populasi ayam
(Rasyaf 2011).
kampung di Kecamatan Batalaiworui
Ayam kampung memiliki
sebanyak 77.982 ekor, yang tersebar di
kelebihan yaitu pemeliharannya yang
Kelurahan Laiworu, Kelurahan Sidodadi,
relatif mudah atau sederhana, biaya yang
Desa Wawesa dan Desa Wakorambu (BPS
dikeluarkan murah, resisten terhadap panas
Kabupaten Muna 2019).
serta memiliki daya adaptasi yang baik.
Salah satu usaha pelestarian sumber
Namun di sisi lain Ayam kampung juga
daya genetik ayam lokal adalah
memiliki beberapa kelemahan, antara lain
melakukan karakterisasi sifat fenotipik.
adalah sulitnya memperoleh bibit yang
Tahap awal karakterisasi adalah
baik dan produktifitasnya yang rendah,
menggunakan karakteristik genetik eksternal
ditambah dengan adanya faktor penyakit
ternak. Tahapan ini meliputi pengamatan
musiman seperti ND (Newcastle disease),
sifat-sifat kualitatif dan kuantitatif ternak.
Ayam kampung adalah salah satu jenis Kabupaten Muna. Tujuan dari penelitian

ayam lokal yang memiliki keragaman sifat- ini adalah untuk mengkaji sifat kualitatif

sifat kualitatif dan kuantitatif. Sifat dan kuantitatif ayam kampung di

kualitatif adalah sifat yang dapat Kecamatan Batalaiworu, Kabupaten Muna.

dideskripsikan, dan individu-individu MATERIAL AND METHOD

dapat diklasifikasikan ke dalam satu, dua Penelitian ini dilaksanakan pada

kelompok atau lebih, dan pengelompokan bulan Agustus 2022 sampai dengan bulan

itu berbeda jelas satu sama lain (Subekti September 2022, bertempat di Kecamatan

dan Arlina 2011). Sedangkan sifat Batalaiworu, Kabupaten Muna Sulawesi

kuantitatif adalah sifat yang dapat diukur, Tenggara. Lokasi penelitian di Kecamatan

sifat ini dipengaruhi oleh banyak pasangan Batalaiworu ditentukan dengan cara

gen dan sangat dipengaruhi oleh faktor Purposive Sampling yaitu dipilih 4 (empat)

lingkungan. desa yang memiliki populasi ayam

Hingga saat ini informasi mengenai kampung terbanyak. Purposive Sampling

sifat kualitatif dan kuantitatif ayam adalah teknik penentuan sampel dengan

kampung di Kecamatan Batalaiworu belum pertimbangan tertentu (Sugiyono 2012).

dilaporkan. Informasi tentang sifat Kriteria ternak yang dijadikan sampel

kualitatif dan kuantitatif tersebut sangat adalah ayam kampung yang berumur ≥ 6

penting bagi pengembangkan ternak ayam bulan. Populasi dalam penelitian ini adalah

kampung ke depan. semua ayam kampung jantan dan betina

Berdasarkan latar belakang maka milik peternak di Kecamatan Batalaiworu,

perlu dilaksanakan penelitian dasar Kabupaten Muna. Sulawesi Tenggara.

mengenai karakteristik fenotipe baik sifat Sampel penelitian adalah kampung

kualitatif maupun kuantitatif ayam dewasa yang berumur ≥ 6 bulan sebanyak

kampung di Kecamatan Batalaiworu 400 ekor (jantan 200 dan betina 200) yang
berada di Kelurahan Laiworu, Kelurahan b. Individu ayam dengan warna

Sidodadi, Desa Wakorambu dan Desa bulu putih polos digolongkan

Wawesa, Kecamatan Batalaiworu, pada fenotipe tidak

Kabupaten Muna. Teknik pengumpulan berwarna/warna bulu putih (I-),

data pada penelitian melalui observasi di c. Individu ayam dengan dasar

lapangan, dengan mengumpulkan data sifat hitam, digolongkan pada

kualitatif dan data sifat kuantitatif. fenotipe bulu hitam (E_),

Pengambilan data sifat kualitatif ayam d. Individu ayam dengan bagian

kampung meliputi warna bulu, warna ujung ekor dan ujung sayap

shank, dan bentuk jengger. Sedangkan berwama hitam digolongkan

pengambilan data sifat kuantitatif meliputi pada fenotipe pola bulu tipe

bobot badan, dilakukan melalui columbian (ee),

penimbangan menggunakan timbangan e. Individu ayam dengan bulu

digital, sedangkan untuk ukuran-ukuran seperti garis-garis memanjang

tubuh ayam kampung diukur dengan dipunggung digolongkan pada

menggunakan pita ukur (cm) dan jangka fenotipe pola bulu tipe liar (e+_

sorong (cm). ),

Variabel Penelitian f. Individu ayam dengan warna

A. Sifat Kualitatif bulu hitam dengan variasi putih

Pengamatan sifat kualitatif atau sebaliknya digolongkan

meliputi: pada fenotipe corak bulu

1. Warna Bulu lurik/barret (B_ ),

a. Individu ayam dengan bulu g. Individu ayam dengan warna

berwarna digolongkan pada kerlip bulu keperakan dan

fenotipe bulu berwarna (ii), keemasan masing- masing


digolongkan pada fenotipe c. Individu ayam dengan jengger

kerlip bulu keperakan (S_) dan tunggal digolongkan pada

keemasan (ss). fenotipe bentuk jengger

2. Warna Shank tunggal, dikontrol oleh gen (r).

a. Individu ayam dengan cakar B. Sifat Kuantitatif

berwarna putih/kuning Pengukuran sifat kuantitatif

digolongkan pada fenotipe meliputi ukuran-ukuran tubuh ayam

warna cakar berwarna kampung adalah sebagai berikut:

putih/kuning, dikontrol oleh a. Bobot badan diperoleh dengan

gen (Id). penimbangan menggunakan

b. Individu ayam dengan cakar timbangan dalam satuan kg

berwarna hitam/abu-abu b. Panjang femur diperoleh dengan

digolongkan pada fenotipe mengukur panjang femur

warna cakar hitam/abu-abu menggunakan jangka sorong (cm)

dikontrol oleh gen (id). c. Panjang shank diperoleh dengan

3. Bentuk Jengger mengukur panjangm shank

a. Individu ayam dengan jengger menggunakan jangka sorong (cm)3

rose digolongkan pada fenotipe d. Panjang sayap diperoleh dengan

bentuk jengger rose, dikontrol mengukur panjang sayap dari

oleh gen (R), humerus, radius ulna metacarpus

b. Individu ayam dengan jengger sampai phalanges pita ukur (cm).

kapri/ercis/pea digolongkan e. Lingkar dada diperoleh dengan

pada fenotipe bentuk jengger mengukur lingkar dada

kapri, dikontrol oleh gen (P) menggunakan pita ukur (cm).


f. Lebar dada dilakukan dengan cara
X=
∑ Xi
n
mengukur jarak antara sisi kanan
s= √ ∑ ¿¿ ¿ ¿
dada dan sisi kiri dada X
KK ( % ) = ×100 %
δ
menggunakan pita ukur (cm). Keterangan :
X =Nilai rata-rata pengamatan atau
rata-rata sampel

Analisis Data
∑ =Penjumlahan
Xi =Nilai pengamatan ke-i
Data sifat-sifat kualitatif ayam n =Jumlah sampel
S =Standar deviasi
kampung ditabulasi, selanjutnya dihitung

nilai persentase, dimana ayam

dikelompokkan berdasarkan jenis RESULT AND DISCUSSION

Gambaran Umum Lokasi Penelitian


kelaminnya. Perhitungan persentase
Secara Astronomis, Kecamatan
dilakukan dengan menggunakan rumus
Batalaiworu terletak di bagian timur Pulau
Suprapto (1990):
Muna. Secara geografis, Batalaiworu

P=
∑ X i x 100 %
terletak di bagian selatan garis
n
Keterangan: khatulistiwa, memanjang dari utara ke

P : Jumlah persentase selatan di kira- kira 40 47’ LS - 40 49 LS


Xi : Nilai pengamatan ke-i dan membentang dari Barat ke Timur
n : Jumlah sampel
Sifat kuantitatif ayam kampung diantara 1220 40’- 1220 44’ BT BT . Luas

dianalisis dengan menggunakan analisis daratan Kecamatan Batalaiworu yaitu

statistik deskriptif dengan menghitung sekitar 22,71 km2 yang terletak di bagian

Timur Pulau Muna. Kecamatan


rataan ( X ), simpangan baku (δ ) dan
Batalaiworu terdiri atas 2 desa dan 2
koefisien keragaman (KK). Menurut
kelurahan yaitu Wawesa, Laiworu,
Sudjana (1989) dengan rumus :
Wakorambu, dan Sidodadi (BPS

Kabupaten Muna 2021).


Potensi komoditi tanaman pangan dengan kampung karena didukung dengan

luas panen dan produksi di Kecamatan ketersediaan sumber pakan yang

Batalaiworu cukup besar sehingga melimpah, sehingga dapat mendukung

memungkinkan untuk berkembangnya pertumbuhan ayam kampung yang

usaha peternakan sapi potong dan ayam dipelihara.

Tabel 4.1. Potensi komoditi tanaman pangan di Kabupaten Muna


No Komoditi Luas panen (ha) Produksi (ton)

1 Jagung 50 109,7
2 Ubi Kayu 9 707,1
3 Ubi jalar 4 68,0
Sumber: BPS Kabupaten Muna 2021

Sifat Kualitatif Ayam Kampung. di pelihara di Kecamatan Batalaiworu

Warna Bulu Ayam Kampung disajikan pada Tabel 4.1

Hasil pengamatan terhadap sifat

kualitatif warna bulu ayam kampung yang

Tabel 4.1. Persentase Warna Bulu Ayam Kampung Berdasarkan Jenis Kelamin
Fenotipe Genotipe Jantan Betina Jumlah
N=200 % N=200 %
Warna
1
Bulu
Berwarna Ii 151 75,5 152 76 303
Tidak
I 49 24,5 48 24 97
Berwarna
Jumlah 200 200
2 Pola Bulu
Hitam E- 49 24.5 88 44 137
Colombian Ee 90 45 51 25,5 141
Liar E+- 61 30,5 61 30,5 122
Jumlah 200 200
Corak
3
Bulu
Lurik B- 102 51 101 50,5 203
Polos Bb 98 49 99 49,5 197
Jumlah 200 200
Kerlip
4
Bulu
Perak S- 68 34 71 35,5 139
Emas Ss 132 66 129 64,5 261
Jumlah 200 200

Keterangan N = Sampel Hal ini menunjukan ayam kampung

belum memiliki ciri-ciri khusus karena


Hasil penelitian menunjukan bahwa
memiliki penampilan fenotipe yang masih
warna bulu ayam kampung di Kecamatan
beragam. Pernyataan ini sesuai dengan
Batalaiworu sebagian besar berwarna (Ii)
pendapat Sukbeti et al (2011) bahwa ayam
75,5% pada ternak ayam jantan dan 76%
kampung memiliki sifat kualitatif yang
pada ternak ayam betina. Pola warna bulu
beragam pada warna bulu, corak bulu, pola
dengan frekuensi tertinggi pada ayam
bulu, kerlip bulu, tipe jengger, dan warna
jantan adalah pola warna Columbian (Ee)
shank. Demikian pula pernyatakan Tantu
yaitu 45% sedangkan pada pola warna
(2007) bahwa ayam kampung didefinisikan
hitam (E) yaitu 24,5% corak bulu dengan
sebagai ayam yang tidak mempunyai ciri-
frekuensi tertinggi pada ayam jantan
ciri khas, dengan kata lain penampilan
maupun betina adalah corak bulu lurik (B-)
fenotipenya masih sangat beragam. Sifat-
yaitu 51% pada ayam jantan dan 50,5%
sifat kualitatif seperti warna bulu sangat
pada ayam betina. Kerlip bulu dengan
bervariasi, ada yang berwarna hitam (EE,
frekuensi tertinggi pada ayam jantan
Ee+, Ee), warna bulu tipe liar (e+e+, e+e),
maupun betina adalah kerlip bulu emas
tipe columbian (ee), bulu putih (I-cc) serta
(Ss) yaitu 66% pada ayam jantan dan
warna lurik (B-, Bb) masih bercampur
64,5% pada ayam betina. Sifat kualitatif
baur. Warna bulu ayam dipengaruhi oleh
ayam kampung berdasarkan warna bulu,
adanya pigmen melanoblast yang dibentuk
pola bulu, corak bulu, dan kerlip bulu
saat awal embrio sekitar 8 jam inkubasi
masih beragam dan belum menunjukan
(Scanes et al 2003).
ciri-ciri khusus secara tegas.
Amlia et al (2016) melaporkan (bb) yaitu 81% pada ternak jantan dan 92%

bahwa warna bulu ayam kampung di pada ternak betina. Kerlip bulu dengan

Kecamatan Lasalimu sebagian besar frekuensi tertinggi baik jantan maupun

berwarna (Ii) yaitu 86% pada ternak jantan betina adalah kerlip bulu emas (Ss) yaitu

dan 87% pada ternak betina. Pola warna 54% untuk ternak jantan dan 35% untuk

bulu dengan frekuensi tertinggi pada ternak betina.

ternak jantan adalah pola warna liar (e+-) Bentuk Jengger Ayam Kampung

yaitu 35% sedangkan pada ternak betina


Hasil pengamatan ayam kampung
adalah pola warna hitam yaitu 32%. Corak
di Kecamatan Batalaiworu disajikan pada
bulu dengan frekuensi tertinggi baik jantan
Tabel 3 dan Gambar 4.1
maupun betina adalah corak bulu polos

Tabel 3. Persentase bentuk jengger ayam kampung berdasarkan jenis kelamin


Fenotipe Genotipe Jantan Betina Jumlah
N=200 % N=200 %
Pea rrP_ 30 15 90 45 120
Rose R_pp 72 36 82 41 154
Tunggal Rrpp 98 49 28 14 126
Keterangan: N = Sampel
Hasil penelitian menunjukkan jantan dan 45% pada betina. Bila hasil

bahwa bentuk jengger ayam kampung di penelitian ini dibandingkan dengan

Kecamatan Batalaiworu cukup beragam penelitian yang dilakukan oleh Amlia et al

yakni terdiri dari jengger pea, ros dan (2016) maka hasil penelitian ini tidak

tunggal. Dari ketiga bentuk jengger ini, berbeda jauh bahwa bentuk jengger ayam

jengger yang dominan adalah jengger kampung yang dominan pada ayam

tunggal 49% pada jantan dan 14% pada kampung jantan adalah tunggal 44 % dan

betina. Sementara jengger ros hanya 36% pada betina bentuk pea 40%. Demikian

pada jantan dan 41% pada betina dan pula pernyataan Subekti dan Arlina (2011)

sisanya adalah jengger pea 15% pada bahwa ayam kampung masih mempunyai
jarak genetik yang dekat dengan ayam yakni 44% pada ternak jantan dan bentuk

hutan merah yang ada di Indonesia. Lebih jengger pea (rrPP) 48% pada ternak betina

lanjut dikatakan bahwa perbedaan bentuk sedangkan Sadarman et al (2013)

jengger ayam kampung jantan dan betina melaporkan bahwa bentuk jengger ayam

yang dominan disebabkan karena kampung di Desa Menaming pada jantan

pengaruh gen pea kuat terhadap gen dan betina dominan bentuk jengger tunggal

tunggal, dimana ayam kampung telah (rrpp) yakni 50% pada ternak jantan dan

menerima aliran gen yang berasal dari 56% pada ternak betina.

bangsa ayam unggul yaitu ayam brahma Warna Shank Ayam Kampung

yang memiliki bentuk jengger pea.


Hasil pengamatan terhadap sifat
Subekti dan Arlina (2016)
kualitatif warna shank ayam kampung di
melaporkan bahwa bentuk jengger ayam
Kecamatan Batalaiworu disajikan pada
kampung di Kecamatan Sungai Pagu
Tabel 4 dan Gambar 4.1.
dominan bentuk jengger tunggal (rrpp)

Tabel 4. Persentase warna shank ayam kampung berdasarkan jenis kelamin


Fenotipe Genotipe Jantan Betina Jumlah
N = 200 % N = 200 %
Kuning/putih Id- 104 52 119 59,5 223
Hitam/Abu-abu Id 96 48 81 40,5 177
Keterangan N = Sampel

Hasil penelitian warna shank ayam abu-abu ayam jantan 25% dan pada ternak

kampung di Kecamatan Batalaiworu jantan betina yaitu 33%. Warna shank kuning

lebih dominan berwarna kuning yaitu pada ayam kampung lebih dominan

sebesar 48% pada ternak jantan, betina dibandingkan dengan warna shank abu-abu

sebesar 40,5%. Warna shank hitam pada dan warna shank hitam. Hal ini sesuai

ayam jantan yaitu sebesar 27% dan betina dengan pernyataan Sartika et al (2006)

sebesar 25,5%. Sedangkan warna shank bahwa karakteristik warna shank kuning
atau putih (Id) disebabkan oleh kurangnya untuk ternak betina sedangkan warna

kandungan melanin pada jaringan kulit shank hitam/abu-abu (Idid) pada ternak

(dermis). Kandungan melanin dalam jantan 13% dan pada betina 31%

lapisan kulit (dermis) dikontrol oleh gen sedangkan Sadarman et al (2013)

resesif terkait kelamin (Id) dalam keadaan melaporkan bahwa warna shank ayam

homozigot atau heterozigot. Warna cakar kampung di Desa Menaming pada ternak

hitam inhibitor dari melanin dermis (Id) jantan dan betina lebih dominan

bersifat dominan tidak lengkap terhadap putih/kuning (Id) yakni 64% pada ternak

(Id). Demikian pula peryataan Scaner et al jantan dan 52% pada ternak betina

(2003), beberapa warna cakar berbeda sedangkan warna shank hitam/abu-abu

ditemukan pada ayam dari kombinasi (Idid) pada ternak jantan 36% dan 48%

pigmen yang berbeda di lapisan atas dan pada ternak betina dan Subekti dan Arlina

bawah kulit. Warna cakar kuning (2011) melaporkan bahwa warna shank

dipengaruhi oleh adanya pigmen ayam kampung di Kecamatan Sungai Pagu

karotenoid pada epidermis dan tidak pada ternak jantan dan betina lebih

adanya pigmen melanin. Warna cakar dominan putih/kuning (Id) yakni 74% pada

hitam dipengaruhi oleh adanya pigmen jantan dan 66% pada ternak betina

melanin pada epidermis. Bila kedua sedangkan warna hitam/abu-abu (Idid)

pigmen tersebut tidak ada maka cakar pada ternak jantan 26% dan 34% pada

berwarna putih. ternak betina.

Amlia et al (2016) melaporkan Sifat Kuantitatif Ayam Kampung.

bahwa warna shank ayam kampung di


Hasil pengamatan sifat kuantitatif
Kecamatan Lasalimu pada ternak jantan
ayam kampung jantan dan betina yang
dan betina lebih dominan putih/kunig (Id)
dalam hal ini meliputi bobot badan dan
yakni 87% untuk ternak jantan dan 69%
ukuran-ukuran tubuh dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Sifat Kuantitatif Ayam Kampung Berdasarkan Jenis Kelamin Dikecamatan
Batalaiworu
Jantan N=200 Betina N= 200
No Variabel KK(% KK(%
NR ± SD ) NR± SD )
1415,685 1022,3 ±
1 Bobot Badan (kg) ± 297,7 21,03 110,06 10,83
31,575 28,21 ±
2 Lingkar Dada (cm) ± 2,69 8,58 2,30 8,17
10,635 10,465 ±
3 Lebar Dada (cm) ± 1,34 12,581 1,63 15,56
8,355 8,03 ±
4 Panjang Shank (cm) ± 0,97 11,56 1,23 15,29
17,13 14,185 ±
5 Panjang Sayap (cm) ± 1,05 6,15 2,73 19,25
9,73 8,99 ±
6 Panjang Femur (cm) ± 1,15 11,78 1,01 11,21
N= Jumlah Sampel, NR = Nilai rata-rata, SD = Standar Deviasi, KK(%) = Koefisien Keragaman,

Bobot Badan 0,53 pada ayam jantan dan 1,36 kg ± 0,28

Hasil penelitian menunjukkan pada ayam betin. Perbedaan hasil

bahwa Rata-rata bobot ayam jantan di penelitian ini dipengaruhi oleh genetik dan

Kecamatan Batalaiworu Kabupaten Muna lingkungan. Hal ini sesuai dengan

masih seragam adalah 1415,685 ± 297,7 pendapat Noor (2000) bahwa perbedaan

dengan KK 21,03% memiliki keragaman yang dapat diamati pada ternak untuk

yang tinggi di duga di sebabkan oleh berbagai sifat disebabkan oleh faktor

genetik dan lingkungan, sedangkan pada genetik dan lingkungan.

ayam betina masih beragam adalah 1022,3

± 110,0 dengan KK 10,83%. Bila Misna et al (2018) Bedasarkan

dibandingkan dengan hasil penelitian hasil pengukuran bobot badan didapatkan

Subekti dan Arlina (2011) rata-rata bobot rata-rata untuk ayam kampumg di

badan ayam kampung di Kecamatan Kecamatan Moramo pada jantan adalah

Batalaiworu lebih tinggi dibanding 1635,98 g dengan koefisien keragaman

Kecamatan Sungai Pagu yaitu 1,90 kg ± (KK) adalah 20,27% sedangkam pada
betina didapatkan rata-rata bobot badan Kusuma dan Prijono (2007) bahwa variasi

1176,45 g dengan koefisien keragaman ukuran tubuh ayam kampung dapat

(KK) adalah 19,65%, menunjukan bobot disebabkan oleh kondisi lingkungan asal

badan ayam kampung jantan dan betina bibit yang berbeda, lingkungan

masih beragam. pemeliharaan yang berbeda. Nilai KK

Lingkar Dada lingkar dada ayam kampung di Kecamatan

Hasil penelitian menunjukkan Batalaiworu lebih kecil bila dibandingkan

bahwa rataan lingkaran dada ayam dengan hasil penelitian Amlia et al (2016).

kampung di Kecamatan Batalaiworu Hal ini menunjukkan bahwa lingkar dada

Kabupaten Muna memiliki nilai pada penelitian ini cenderung lebih rendah

keragaman yang rendah yaitu ayam jantan dari hasil penelitian Amlia et al (2016).

adalah 31,475 cm ± 2,69 cm dengan KK Lingkar dada pada ayam jantan lebih besar

8,56% dan pada ayam betina yaitu 28,21 dibandingkan ayam betina disebabkan

cm ± 2,30 cm dengan KK 8,17%. karena perawakan dan postur tubuh dari

Hasil penelitian ini berbeda dengan ayam jantan lebih besar dari pada betina.

hasil penelitian Amlia et al (2016) dimana Menurut Resnawati (2004), secara umum

rata-rata lingkar dada ayam kampung di faktor utama yang menentukan ukuran otot

Kecamatan Lasalimu pada ternak jantan bagian dada adalah bobot badan, jenis

adalah 41,51 cm ± 1,88 cm dengan KK kelamin, konformasi tubuh dan genetik

4,54% dan pada ternak betina 37,47 cm ± unggas.

1,04 cm dengan KK 2,77%. Perbedaan Lebar Dada

lingkaran dada disebabkan sumber daya


Rata-rata lebar dada ayam jantan di
genetik yang keragamannya rendah dan
Kecamatan Batalaiworu Kabupaten Muna
sistem pemeliharaan dan lingkungan yang
masih beragam yaitu 10,635 ± 1,34 dengan
berbeda. Hal ini sesuai dengan pernyataan
KK 12,58%, sedangkan pada ayam betina
di Kecataman Batalaiworu masih seragam bulu. Rata-rata panjang shank ayam jantan

yaitu 10,465± 1,63 cm dengan KK 15,56% di Kecamatan Batalaiworu kabupaten

. Penelitian Munggaran 2004 rata-rata Muna masih beragam yaitu 8,355 cm ±

panjang dada ayam sentul 9,504 cm, 0,97 dengan KK 11,56%, sedangkan pada

namun lebih rendah dibandingkan dengan ayam betina masih seragam yaitu 8,03 cm

ayam pelung betina 12,04 cm (Purnomo, ± 1,23 dengan KK 15,29%. Bila

2004). Menurut Amlia (2016) Rata-rata dibandingkan dengan hasil penelitian

lebar dada ayam kampung di Kecamatan Kuswardani (2012) bahwa rataan panjang

Lasalimu pada ternak jantan adalah shank ayam kampung di Kotamadya Bogor

6,01±0,70 dengan KV 11,57% dan pada pada ternak jantan adalah 111,12 cm ±

ternak betina 5,19±0,62 dengan KV 12% . 13,89 dengan KK 12,50% dan pada ternak

Perbedaan ukuran tubuh ayam kampung betina 84,16 mm ± 7,23 dengan KK

disebabkan oleh genetik, lingkungan serta 8,60%.

pemeliharaan yang berbeda. Hal ini sesuai Amlia et al (2016) rata-rata

dengan pernyataan Kusuma dan Prijono, panjang shank ayam kampung di

2007) bahwa variasi ukuran tubuh ayam Kecamatan Lasalimu pada ternak jantan

kampung dapat disebabkan oleh kondisi adalah 8,58 cm ± 0,45 dengan KK 5,21%

lingkungan, asal bibit yang berbeda dan dan pada ternak betina 7,06 cm ± 0,44

lingkungan pemeliharaan yang berbeda dengan KK 6,28%.Nilai KK panjang

Panjang Shank shank ayam kampung yang dipelihara di

Panjang shank merupakan kaki Kecamatan Batalaiworu lebih besar bila

bagian bawah atau cakar pada umumnya dibandingkan dengan penelitian Amlia et

tertutup oleh sisik, tetapi pada bangsa al (2016). Hal ini menunjukan bahwa

tertentu terutama yang berbulu total penelitian ini lebih seragam bila

(seluruh tubuh) bagian cakar tertutup oleh


dibandingkan dengan penelitian Amlia et Rata-rata panjang femur ayam

al (2016). kampung di Kecamatan Batalaiworu

Kabupaten Muna masih beragam yaitu


Panjang Sayap
pada ternak ayam jantan 9,73 cm ± 1,15
Hasil penelitian menunjukan bahwa
dengan KK 11,78% dan pada ternak ayam
rataan panjang sayap ayam jantan di
betina 8,99 cm ± 1,01 dengan KK 11,21%.
Kecamatan Batalaiworu di Kabupaten
Bila dibandingkan dengan hasil penelitian
Muna masih beragam yaitu 17,13 cm ±
Kuswardani (2012) bahwa rataan panjang
1,05 dengan KK 6,15 dan pada ternak
femur ayam kampung di Kotamadya
ayam betina masih seragam yaitu 14,185
Bogor pada ternak jantan adalah 125,45
cm ± 2,73 dengan KK 19,25. Kuswardani
mm ± 17,63 dengan KK 14,05% dan pada
(2012) bahwa rataan panjang sayap ayam
ternak betina adalah 105,43 mm ± 10,14
kampung di Kotamadya Bogor pada ternak
dengan KK 9,62%. Perbedaan hasil
jantan adalah 166,77 mm ± 17,40 dengan
penelitian ini disebabkan genetik dan
KK 10,43% dan pada ternak betina 143,97
lingkungan. Hal ini sesuai dengan
mm ± 9,71 dengan KK 6,76%. Perbedaan
pendapat Yatim (1991) bahwa variasi yang
panjang sayap disebabkan oleh genetik dan
terdapat pada suatu individu disebabkan
lingkungan. Hal ini sesuai dengan
oleh variasi genetik dan lingkungan.
pernyataan Nozawa (1980) bahwa
Nilai KK panjang femur ayam
keragaman ukuran tubuh hewan
kampung di Kecamatan Batalaiworu lebih
disebabkan oleh faktor genetik dan
besar bila dibandingkan dengan penelitian
lingkungan. Yatim (1991) menambahkan
Subekti dan Arlina (2011) rata-rata
bahwa variasi yang terdapat pada suatu
panjang femur ayam kampung di
individu disebabkan oleh variasi genetik
Kecamatan Sungai Pagu untuk ternak
dan lingkungan.
jantan adalah 109,24 mm ± 9,19 dengan
Panjang Femur
KK 8,41% dan pada ternak betina 95,39 Animal Production and Health
Guidelines. No. 11. Roma (IT):
mm ± 11,59 dengan KK 12,15%. FAO.

Perbedaan hasil penelitian ini disebabkan Amlia, MA Pagala dan [Link] 2016. Studi
karakteristik sifat kualitatif dan
genetik dan lingkungan. Hal ini sesuai kuantitatif ayam kampung di
Kecamatan Lasalimu
dengan pendapat Yatim (1991) bahwa Kabupaten Buton. 3(1):2-8
Andrianto [Link] Baa dan M Rusdin. 2015.
variasi yang terdapat pada suatu individu Sifat-sifat kualitatif dan
kuantitatif ayam ketawa di
disebabkan oleh variasi genetik dan Kota Kendari, Jitro: 1 (4).

lingkungan. Edowai E. ELS Tumbal dan FM Maker.


2019. Penampilan Sifat
CONCLUSION Kualitatif Dan Kuantitatif
Ayam Kampung Di Distrik
Berdasarkan hasil penelitian dapat Kabupaten Nabire. Jurnal
Pertanian dan
disimpulkan bahwa: Peternakan.4(1):1-8
Fitro R, D Sudrajat dan E Dihansih. 2015.
1. Sifat kualitatif ayam kampung di Performa ayam pedaging yang
diberi ransum komersial
Kecamatan Batalaiworu memiliki mengandung tepung ampas
kurma sebagai pengganti
keragaman yang cukup tinggi dilihat jagung. Jurnal Peternakan
Nusantara. Vol 1(1) : 1-2.
dari warna bulu, bentuk jengger dan
Iskandar. 2010. Metodologi penelitian
warna shank. pendidikan dan sosial
(kuantitatif dan kualitatif):
2. Sifat kuantitatif ayam kampung Gaung Persada Press Jakarta.
Kurnianto E. 2010. Ilmu pemuliaan ternak.
umumnya memiliki keragaman yang
lembaga pengembangan dan
penjaminan mutu pendidikan.
rendah kecuali bobot badan pada ayam
Universitas Diponegoro.
Semarang (ID).
jantan KK 21,3% dan lebar dada pada
Kusuma, D. dan NS. Prijono. 2007.
ayam betina KK 15,56%. Keanekaragaman Sumber Daya
Hayati Ayam Lokal Indonesia:
Manfaat dan Potensi. LIPI
Press. Jakarta.
REFERENCES
Kuswardani, WFA. 2012. Studi ukuran dan
bentuk tubuh ayam Ketawa,
[FAO] Food and Agriculture Organization ayam Pelung danayam
of The United Nations. 2012. kampung melalui analisis
Phenotypic Characterization komponen utama. Skripsi
of Animal Genetic Resources.
Fakultas Peternakan Institut tanah (Lumbricus Rubellus). In
Pertanian Bogor, Bogor. didalam: Prosiding Seminar
Nasonal Teknologi Peternakan
Marhiyanto B. 2000. Sukses Beternak dan Veteriner (Pp. 563-567).
Ayam Arab. Dila Publiser : Jakarta.
Sadarman, Elfawati dan Sadriadi. 2013.
Mulyono, RH dan RB. Pangestu. 1996. Studi frekuensi sifat kualitatif
Analisis statistik ukuran- dan kuantitatif ayam kampung
ukuran tubuh dan analisis di desa menaming kecamatan
karakter-karakter genetik rambah kabupaten rokan hulu
eksternal pada ayam kampung, propinsi riau. Seminar nasional
pelung dan kedu. Seminar Teknologi Peternakan dan
hasil-hasil penelitian Institut Veteriner.
Pertanian Bogor. Hal: 17-21.
Sartika T, DK Wati, Iman RHS, Iskandar
Nishida T, C Lee , Y Hayashi , T S. 2008. Perbandingan genetik
Hashiguchi , K Mochizuki . eksternal ayam wareng dan
1983. Body measurement of ayam kampung yang dilihat
native fowlsin Korea. 45(2): dari laju introgresi dan
179-186. variabilitas genetiknya. Jurnal
Noor, R. 2000. Genetika Ternak. Penebar Ilmu Temak dan Veteriner
Swadaya. Jakarta. 13(4):279–287.

Noor. 2008. Identifikasi jenis kelamin anak Sartika T, Sulandari S, MSA Zein,
ayam buras berdasarkan bobot Paryanti S. 2006. Karakter
dan indeks telur tetas berbeda. fenotipe/genetik eksternal
Jurnal ilmu ternak dan ayam lokal indonesia. Laporan
tanaman.5(1).6-10. Akhir Penelitian Kompetitif
Riset Karakterisasi molekuler–
Noor. 2008. Karakteristik genetic eksternal LIPI. 16 hlm.
dan morfologi ayam kampung.
Jurnal Ilmu Ternak dan Sartika T. 2012. Ketersediaan sumber daya
Lingkungan. Universitas genetik ayam lokal dan strategi
Patimura. Ambon. pengembangannya untuk
pembentukkan parent dan
Nozawa K. 1980. Phylogenetic studis on grand parent stock. Workshop
native domestic animal in East Nasional Unggas Lokal 2012:
and Southeast Asia. Tropical 19-23.
Agriculture Reseach Center,
Japan IV : 23-43. Scaner, CG, Brant G dan ED. Me. 2003.
Poultry Science. 4th Edition.
Rahayu, I., T. Sudaryani dan H. Santosa. Prentice Hall (2003-07-17)
2011. Panduan lengkap ayam. Publisher, Inc. Danville.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Scanes C.G, G. Brant and D.M.
Rasyaf, M. 2011. Beternak Ayam Ensminger. 2003. Poultry
Kampung. Penebar Swadaya, Science. 4 th Edition. Prentice
Jakarta. Hall Publisher, Inc. Danville.
Resnawati H. 2004. Bobot potong karkas Subekti K dan F Arlina. 2011.
dan lemak abdomen ayam ras Karakteristik genetic eksternal
pedaging yang diberi ransum ayam kampung di Kecamatan
mengandung tepung cacing Sungai Pagu Kabupaten Solok
Selatan. Jurnal Ilmiah Ilmu-
Ilmu Peternakan14(2):74-86.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian.
Universitas Pendidikan
Indonesia. Perpustakaan. UPI.
Edu.
Suharyanto AA. 2007. Panen ayam
kampung dalam tujuh minggu
bebas flu burung. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Sujionohadi, K dan A.I. Setiawan. 2000.
Ayam kampung petelur.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Supranto, J. 1990. Statistik teori dan
aplikasi, Edisi Kelima.
Erlangga, Jakarta.
Suprijatna E, Atmomarsono U dan
Kartasudjana R. 2005. Ilmu
Dasar Ternak Unggas . Jakarta:
Penebar Swadaya
Tarigan RT. 2010. Karakteristik Sifat
Kualitatif dan Kuantitatif
Ayam Walik di Sumedang dan
Bogor. [Skripsi]. Fakultas
Peternakan, IPB. Bogor.
Warwick EJ. JM Astuti dan W
Hardjosubroto. 1995.
Pemuliaan Ternak, Cet.5.
Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Woli LO., LO Nafiu. dan Syamsuddin
2018. Karakteristik genetik
eksternal ayam kampung di
kecamatan kusambi kabupaten
muna barat provinsi sulawesi
tenggara. Jurnal Ilmiah
Peternakan Halu Oleo 2(3):
228-237.
Yaman MA. 2010. Ayam kampung unggul
enam minggu panen. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Yatim W. 1991 Genetika, Edisi IV.
Tarsito. Bandung.

Anda mungkin juga menyukai