0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan30 halaman

Laporan Praktikum Produksi Ternak Ayam

Laporan praktikum ini membahas tentang pengamatan dan karakteristik unggas, khususnya berbagai jenis ayam, serta tujuan praktikum untuk memahami ciri-ciri dan organ-organ pada ayam. Praktikum dilakukan di IPB University dengan pengamatan terhadap ayam ras dan organ pencernaan, reproduksi, serta karakteristik fisik ayam. Hasil pengamatan menunjukkan variasi dalam jenis ayam, termasuk ayam pedaging dan petelur, serta ciri khas dari masing-masing varietas.

Diunggah oleh

Sung ji Woo
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan30 halaman

Laporan Praktikum Produksi Ternak Ayam

Laporan praktikum ini membahas tentang pengamatan dan karakteristik unggas, khususnya berbagai jenis ayam, serta tujuan praktikum untuk memahami ciri-ciri dan organ-organ pada ayam. Praktikum dilakukan di IPB University dengan pengamatan terhadap ayam ras dan organ pencernaan, reproduksi, serta karakteristik fisik ayam. Hasil pengamatan menunjukkan variasi dalam jenis ayam, termasuk ayam pedaging dan petelur, serta ciri khas dari masing-masing varietas.

Diunggah oleh

Sung ji Woo
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

MATA KULIAH PRINSIP PRODUKSI TERNAK

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PRINSIP PRODUKSI TERNAK

Disusun Oleh Kelompok 2


Yusuf Faqih D1401231001
Lidia Geofanny D1401231006
Ismi Ali D1401231007
Juana Puspaningtyas D1401231017
Aaliyah Raytu Kirana D1401231018
Toddy Abror Hadi Wijoyo D1401231022

Dosen Pengampu:

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
IPB UNIVERSITY
BOGOR
2024
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Unggas merupakan jenis hewan bertulang belakang (chordata) masuk dalam
kelas aves (bersayap) yang telah mengalami domestikasi (diternak) untuk
memenuhi kebutuhan manusia seperti daging dan telur. Menurut para ahli,
berdasarkan catatan sejarah, ayam-ayam yang dikenal sekarang, baik yang
dipelihara secara komersial maupun secara tradisional diduga berasal dari turunan
ayam hutan (Gallus) yang mengalami proses domestikasi dalam waktu yang lama.
Unggas termasuk hewan monogastrik, yaitu hewan yang memiliki satu lambung.
Hewan ini berbeda dengan hewan ruminansia yang memiliki lambung yang terbagi
menjadi empat kompartemen/bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan
abomasum.
Indonesia kaya akan sumber daya genetik ternak (SDGT) atau animal genetic
resources (AnGR) yang merupakan bagian dari keanekaragaman hayati
(biodiversity) dunia yang tidak hanya memiliki manfaat saat ini tetapi juga untuk
masa depan. Secara umum, unggas lokal Indonesia memberikan kontribusi yang
penting baik untuk ketahanan pangan maupun pendapatan masyarakat pedesaan.
Ayam lokal merupakan ayam di Indonesia, secara tradisioanal mempunyai peran
sebagai penghasil daging dan telur yang banyak memberikan tambahan pendapatan
peteni/peternak dari segi agribisnis cukup menjadi mata pencaharian. Ayam lokal
dikenal sebagai ternak yang mempunyai daya hidup yang tinggi, dapat hidup
diberbagai wilayah dengan perbedan kondisi iklim yang ekstrim, mempunyai
kemampuan untuk hidup dalam kondisi pakan dengan kandungan nutisi yang
rendah, Hasil produksi ayam kampung berupa telur dan daging sangat digemari
masyarakat.
Ayam pedaging merupakan jenis unggas yang populasinya relatif tinggi,
yakni sebesar 60,75% dan akan meningkat seiring bertambahnya kebutuhan gizi
pada masyarakat. Ayam broiler khususnya jenis pedaging biasanya lebih unggul
dan banyak dikembangbiakkan di Indonesia. Sejarah keberadaan ayam broiler
sendiri berasal dari ayam yang diciptakan dari perkawinan silang, seleksi dan
rekayasa genetik (Hidayat et al. 2020). Jenis ayam atau strain ayam broiler yang
lazim di temukan di Indonesia ada berbagai macam, namun strain yang paling
banyak dikembangkan oleh breeder (perusahaan pembibitan) antara lain Cobb,
Loghman, Ross dan Hubbard.
Produksi daging di Indonesia dipenuhi oleh ternak unggas (ayam buras, ayam
ras petelur, ayam broiler, itik, puyuh, merpati dan entok) sebesar 1 775.3 ribu ton.
Ternak itik dan entok hanya memenuhi sebagian kecil dari produksi daging unggas
tersebut yaitu masing-masing sebesar 30 ribu ton (1.7%) dan 3.6 ribu ton (0.21%)
dari total produksi daging unggas (Priyambodo et al. 2015). Entok merupakan salah
satu jenis unggas yang memiliki bobot badan yang cukup tinggi yang diharapkan
mampu membantu dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani (Fatmarischa et al.
2014). Rendahnya produksi daging unggas air, khususnya daging itik dan entok
disebabkan oleh sedikitnya usaha budidaya ternak itik dan entok tersebut dalam
skala industri; secara umum itik dan entok dipelihara oleh masyarakat secara
tradisional.

1.2 Tujuan
Tujuan pada praktikum adalah Mengetahui ciri-ciri, bangsa, dan varietas dari
masing-masing kelas ayam, Mengetahui perbedaan karakteristik dari masing-
masing kelas ayam serta organ pencernaan, organ pembantu pencernaan, organ
pernafasan, endoktrin, organ reproduksi ayam jantan, organ reproduksi ayam betina
dewasa, dan sistem urinasi.
BAB II
METODA
2.1 Bangsa – Bangsa Ayam
2.1.1 Lokasi dan Waktu Pengamatan
Pengamatan dilakukan di Laboratorium Karkas, Fakultas Peternakan, IPB
University Pada hari Senin, 4 November 2024 pukul 13.00–16.00.
2.1.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas dan pulpen untuk
mencatat informasi yang diamati selama praktikum. Bahan yang diamati berupa
kertas yang berisi gambar-gambar ayam dengan keterangan mengenai bangsa dan
varietasnya, yang telah dikelompokkan sesuai dengan kelas masing-masing.
2.2.3 Prosedur
Dalam praktikum ini, langkah pertama adalah menyiapkan alat dan bahan
yang perlukan. Selanjutnya, lakukan pengamatan terhadap perbedaan kelas,
bangsa, dan varietas ayam yang ada pada gambar. Amati pula ciri-ciri seperti
bantuk dan warna earlob, pial, shank, serta warna kerabang telur. Setelah
pengamatan dilakukan, catat setiap infomasi yang diperoleh dengan rapi.

2.2 Pengamatan Katakteristik Unggas


2.2.1 Lokasi dan Waktu Pengamatan
Pengamatan dilakukan di Kandang B, Peternakan IPB University, pada
Senin, 11 November 2024, pukul 13.00–16.00.
2.2.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan meliputi Kertas Catatan, panduan
Pengamatan, Pena, Kamera untuk dokumentasi visual.
2.2.3 Prosedur
Lakukan pengamatan terhadap unggas yang akan dijadikan sampel
penelitian dengan mencatat kondisi bulu, bentuk dan ukuran jengger atau
caruncle, postur tubuh, serta karakteristik suara. Ambil dokumentasi untuk
mendukung visual sebagai bukti tambahan. Setelah itu, catat semua hasil
pengamatan pada tabel yang telah disiapkan untuk memudahkan analisis dan
interpretasi data.

2.3 Pengamatan Organ Pencernaan, Pembantu Pencernaan, Pernafasan,


Kelenjar Endoktrin, Reproduksi Betina, Reproduksi Jantan, dan Urinari
pada Unggas
2.3.1 Lokasi dan Waktu Pengamatan
Pengamatan dilakukan di LAB Karkas Fakultas Peternakan IPB University
Pada hari Senin, 18 November 2024 pukul 13.00–16.00.
2.3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah Kertas Catatan, Panduan
Pengamatan, Pena, Handphone/Kamera Untuk Dokumentasi Visual. Sedangkan
Bahan yang digunakan adalah Preparat Ayam jantan, Ayam betina, dan entog.
2.3.3 Prosedur
Lakukan pengamatan terhadap preparat yang telah disiapkan untuk
penelitian, dengan mengikuti panduan dari dosen untuk menunjukkan bagian-
bagian organ pencernaan, organ pembantu pencernaan, organ pernapasan, sistem
endokrin, dan organ reproduksi pada ayam jantan, organ reproduksi betina
dewasa, serta urinasi. Ambil dokumentasi secara visual sebagai pendukung
praktikum untuk memperjelas temuan. Setelah itu, catat hasil pengamatan pada
kertas laporan sementara untuk mencatat semua informasi yang diperoleh selama
praktikum.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Bangsa- bangsa Ayam


Secara umum, Ayam ras sering disebut juga ayam negeri yang merupakan
jenis unggas yang telah mengalami seleksi genetik sehingga memiliki sifat
produktivitas tinggi, baik dalam menghasilkan daging maupun telur. Ayam ras
dibagi menjadi dua jenis utama: ayam pedaging dan ayam petelur. Ayam pedaging,
seperti broiler, dikenal karena pertumbuhannya yang sangat cepat, sehingga
dagingnya banyak diminati. Sementara itu, ayam petelur, seperti layer, dipelihara
untuk menghasilkan telur dalam jumlah yang banyak. Selain kedua jenis utama ini,
terdapat juga ayam ras dwiguna yang memiliki kemampuan berproduksi daging dan
telur yang cukup baik.
Ayam ras, sering disebut juga ayam negeri, adalah jenis unggas yang telah
mengalami seleksi genetik sehingga memiliki sifat produktivitas tinggi, baik dalam
menghasilkan daging maupun telur. Salah satu kelas ayam ras adalah ayam kelas
Mediterania. Ayam ras Mediterania memiliki sejarah panjang dalam dunia
peternakan. Ayam-ayam kelas Mediterania umumnya memiliki ciri khas fisik
Ayam Mediterania umumnya memiliki tubuh yang lebih ramping dan panjang
dibandingkan dengan jenis ayam lainnya. Bentuk tubuh yang ramping ini
memungkinkan mereka lebih lincah dan gesit. Bulu-bulu mereka seringkali
berwarna cerah dan bervariasi, tergantung pada varietasnya.
Ciri khas lain dari ayam Mediterania adalah kepala yang relatif kecil dengan
jengger tunggal yang tegak. Selain itu, mereka memiliki mata yang besar dan cerah,
serta paruh yang kuat. Kaki mereka biasanya panjang dan ramping, mendukung
kemampuan mereka untuk bergerak aktif. Secara keseluruhan, ayam Mediterania
memiliki penampilan yang elegan dan anggun. Mediterania memiliki lima varietas
diantaranya:

3.1.1 Ayam Leghorn


Ayam Leghorn adalah jenis ayam yang populer dikenal sebagai petelur
unggul. Asal usulnya dari Italia dan memiliki tubuh ramping dengan bulu
seringkali berwarna putih. Jantan dewasa biasanya memiliki bobot sekitar 2,4
hingga 3,4 kilogram, sedangkan betina dewasa sekitar 2 hingga 2,5 kilogram.
Meskipun berukuran sedang, ayam Leghorn sangat produktif dalam bertelur
dan menghasilkan telur putih berkualitas. Selain itu, mereka juga dikenal aktif
dan [Link] Leghorn memiliki tiga varietas diantaranya:

1. Single Comb Brown Leghorns


Ayam Leghorn cokelat dengan jengger tunggal adalah varian menarik
dari ras Leghorn yang terkenal. Meski umumnya dikenal dengan bulu
putih, varietas cokelat ini memiliki bulu dominan cokelat dengan variasi
warna yang menarik. Mereka memiliki tubuh ramping khas Leghorn,
jengger tunggal berwarna merah cerah, dan kaki kuning.

Gambar 1. Single Comb Brown Leghorns

2. Single Comb White Leghorns


Jenis ayam yang sangat populer dan dikenal karena kemampuan bertelur
yang luar biasa. Mereka memiliki ciri khas bulu berwarna putih
seluruhnya dan jengger tunggal.

Gambar 2. Single Comb White Leghorns

3. Rosecomb Black Leghorns.


Ayam Leghorn berbulu putih mulus dengan jengger mawar merupakan
variasi menarik dari jenis ayam Leghorn yang terkenal. Ciri khasnya
adalah bulu putih bersih yang menyeluruh, tanpa bercak atau corak.
Jenggernya unik, berbentuk seperti mawar dengan tonjolan-tonjolan
kecil. Meski berbeda dari jengger tunggal yang umum pada Leghorn,
varietas ini tetap memiliki tubuh ramping dan panjang khas Leghorn.

Gambar 3. Rosecomb Black Leghorns


3.1.2 Ayam Minorca
Ayam Minorca adalah salah satu jenis ayam yang berasal dari Pulau
Minorca di Laut Mediterania. Ayam ini dikenal memiliki tubuh yang besar dan
elegan, dengan ciri khas leher panjang dan dada yang penuh. Bulunya bisa
berwarna putih, hitam, atau buff (kecoklatan). Selain itu, ayam Minorca juga
memiliki jengger tunggal yang besar dan tegak. Bobot badan ayam Minorca
cukup bervariasi tergantung pada varietas dan kondisi pemeliharaan. Secara
umum, ayam Minorca jantan dewasa memiliki bobot sekitar 3,20 hingga 3,6
kilogram, sedangkan ayam betina dewasa memiliki bobot sekitar 2,7 hingga
3,0 [Link] Minorca memiliki tiga varietas yaitu:

1. Single Comb White Minorca (SCWM). Varietas ini memiliki bulu


berwarna putih seluruhnya dan sering digunakan sebagai ayam petelur.

Gambar 4. Single Comb White Minorca

2. Single Comb Black Minorca (SCBM). Varietas ini memiliki bulu berwarna
hitam seluruhnya dan sering digunakan sebagai ayam hias.

Gambar 5. Single Comb Black Minorca


3. Single Comb Buff Minorca (SCBM). Varietas ini memiliki bulu berwarna
buff atau kecoklatan dan juga sering digunakan sebagai ayam hias.

Gambar 6. Single Comb Buff Minorca

3.1.3 Ayam Andulasian


Ayam Andalusia, atau sering disebut Andalusia Biru, adalah jenis ayam
yang berasal dari wilayah Andalusia, Spanyol. Ayam ini dikenal karena
keindahan bulu bulunya yang berwarna biru keabu-abuan yang unik. Bulu
berwarna biru ini sebenarnya adalah kombinasi dari bulu hitam dengan bulu
putih yang menghasilkan efek visual berwarna biru. Selain bulu birunya, ayam
Andalusia juga memiliki jengger tunggal yang besar dan tegak, serta mata
berwarna merah cerah. Bobot badan ayam Andalusia bervariasi tergantung
pada varietas dan kondisi pemeliharaan. Secara umum, ayam Andalusia jantan
dewasa memiliki bobot sekitar 2,5 hingga 3 kilogram, sedangkan ayam betina
dewasa memiliki bobot sekitar 2 hingga 2,5 [Link] Andalusian
memiliki dua varietas yaitu:

1. Single Comb Blue Andalusian.


● Ciri khas: Memiliki jengger tunggal yang besar dan tegak, serta
bulu berwarna biru keabu-abuan yang merata di seluruh tubuh.
● Variasi warna: Meskipun dominan biru, ada beberapa variasi
dalam intensitas warna biru, mulai dari biru muda hingga biru tua.
● Ukuran tubuh: Ukuran tubuhnya sedang, dengan ayam jantan
sedikit lebih besar dari betina.

Gambar 7. Single Comb Blue Andalusian.


2. Rose Comb Blue Andalusian
● Ciri khas: Mirip dengan Single Comb, namun memiliki jengger
berbentuk mawar. Jengger mawar ini memberikan tampilan yang
lebih unik dan menarik.
● Warna bulu: Warna bulunya sama seperti Single Comb, yaitu biru
keabu-abuan.

3.1.4 Ayam Ancona


Ayam Ancona adalah jenis unggas yang berasal dari Italia, dikenal
dengan bulu putih berpola hitam yang khas. Ayam ini merupakan petelur yang
produktif, menghasilkan telur putih berukuran sedang hingga 200 butir per
tahun. Meskipun begitu, ayam Ancona juga memiliki sifat aktif dan sedikit
waspada. Bobot tubuhnya tergolong sedang, dengan ayam jantan dewasa
umumnya memiliki bobot antara 2,5 hingga 3 kilogram, sedangkan betina
sekitar 2 hingga 2,5 kilogram. Selain sebagai sumber telur, ayam Ancona juga
sering dijadikan sebagai ayam hias karena keindahan bulunya.

3.1.5 Ayam Spanish


Ayam Spanish, khususnya varietas White-Faced Black Spanish, adalah
jenis unggas yang mencolok dengan bulu hitam legam berkilau dan wajah putih
bersih. Asalnya diperkirakan dari wilayah Mediterania. Ayam ini dikenal
sebagai petelur yang cukup produktif dan sering dijadikan sebagai ayam hias
karena penampilannya yang unik. Ayam jantan dewasa umumnya memiliki
bobot antara 3 hingga 4 kilogram, sedangkan betina sekitar 2,5 hingga 3,5
kilogram.

Gambar 8. White-Faced Black Spanish

3.1.6 Ayam Ras Asia


Ayam ras Asia merupakan kelompok unggas domestik yang kaya akan
keanekaragaman genetik dan memiliki sejarah panjang budidaya di berbagai
wilayah Asia. Ciri khas ayam ras Asia umumnya adalah tubuh yang besar dan
kokoh, bulu yang lebat, serta beberapa varietas memiliki kaki berbulu. Selain
itu, mereka cenderung memiliki sifat yang lebih tenang dan mudah beradaptasi.
Meskipun tidak semua varietasnya merupakan penghasil telur yang tinggi,
namun banyak di antaranya dikenal sebagai sumber daging berkualitas tinggi.
[Link] Varietas Ayam Ras Asia

Ayam ras Asia memiliki beragam varietas, masing-masing


dengan ciri khasnya sendiri. Berikut adalah beberapa varietas yang
terkenal:

● Brahma: Asal Amerika Serikat, namun nenek moyangnya


berasal dari Asia. Merupakan salah satu ayam ras terbesar,
dengan bulu lebat dan kaki berbulu.
● Cochin: Asal Cina, memiliki tubuh bulat dan bulat, bulu lebat,
dan kaki berbulu.
● Langshan: Asal Cina, tubuh tegak, bulu hitam berkilau, dan kaki
berwarna hitam.
● Shamo: Asal Jepang, tubuh berotot dan kuat, sering digunakan
untuk adu ayam.
● Malay: Asal Malaysia, tubuh tegak dan panjang, kaki panjang,
dan temperamen agresif.

3.1.7 Ayam Ras Amerika


Ayam ras Amerika merupakan hasil domestikasi unggas di benua
Amerika yang menawarkan keunikan tersendiri. Dibandingkan dengan
beberapa varietas Asia, ayam-ayam ini cenderung memiliki tubuh yang lebih
kompak dan padat. Keindahan bulu mereka pun sangat beragam, mulai dari
pola sederhana hingga yang kompleks. Dari segi produktivitas, banyak varietas
ayam ras Amerika yang dikembangkan khusus untuk menghasilkan daging
berkualitas. Namun, tak sedikit pula yang dikenal sebagai penghasil telur yang
baik, menunjukkan fleksibilitas dalam pemanfaatannya.

[Link] Varietas Ayam Ras Amerika diantaranya:

● Plymouth Rock: Salah satu varietas tertua di Amerika, dikenal


karena ketahanannya dan kemampuan beradaptasi dengan
berbagai lingkungan. Terdapat dua jenis utama, yaitu Plymouth
Rock Barred dan Plymouth Rock White.
● Wyandotte: Memiliki bulu yang indah dan beragam warna.
Terkenal sebagai ayam yang tenang dan mudah dipelihara.
● Rhode Island Red: Ayam petelur yang produktif, dengan bulu
berwarna merah kecoklatan.
● Cornish: Ayam pedaging yang kuat dan berdaging banyak.
Sering digunakan sebagai induk jantan dalam persilangan untuk
menghasilkan ayam broiler komersial.
● Sussex: Ayam dual purpose (daging dan telur) yang populer di
Inggris, namun juga dikembangbiakkan di Amerika.
3.1.8 Ayam Ras Inggris
Ayam ras Inggris telah lama menjadi bagian penting dari warisan
peternakan di Inggris. Dikembangbiakkan selama berabad-abad, ayam-ayam
ini dikenal karena tubuhnya yang besar dan kokoh, serta tulang yang kuat.
Keindahan bulunya pun sangat beragam, mulai dari pola sederhana hingga
yang kompleks. Uniknya, banyak varietas ayam ras Inggris yang
dikembangkan sebagai ayam dual purpose, artinya mereka dapat menghasilkan
baik daging maupun telur dalam jumlah yang cukup. Selain itu,
temperamennya yang tenang dan mudah beradaptasi membuat mereka menjadi
pilihan populer bagi banyak peternak.

[Link] Varietas Ayam Ras Inggris diantaranya:

● Sussex: Salah satu varietas tertua di Inggris, dikenal sebagai


ayam dual purpose yang sangat baik.
● Orpington: Ayam besar dengan bulu lebat dan lembut, cocok
untuk iklim dingin.
● Dorking: Ayam kuno dengan lima jari kaki, sering digunakan
untuk kontes.
● Australorp: Ayam petelur yang produktif, dengan bulu hitam
berkilau.
● Cornish: Meskipun asalnya dari Inggris, namun sering
digolongkan sebagai ayam ras Amerika karena
pengembangannya yang lebih pesat di sana.

3.2 Karakter Unggas


3.2.1 Kriteria Kesehatan Unggas
Seekor unggas dikatakan sehat jika menunjukkan beberapa tanda fisik
dan perilaku yang normal. Pertama, aktivitasnya harus aktif dan responsif
terhadap rangsangan di sekitarnya, dengan keseimbangan tubuh yang baik.
Ayam lokal biasanya lebih agresif, ayam ras cenderung lebih pasif, dan entok
sering berada di area basah atau mencari makan. Bulu unggas yang sehat akan
tampak bersih, rapi, mengilap, dan tidak kusam atau rontok berlebihan, dengan
warna yang sesuai untuk jenisnya ayam lokal bervariasi, ayam ras seragam, dan
entok dominan gelap atau mengilap. Mata unggas sehat akan terlihat jernih,
cerah, tanpa adanya cairan, pembengkakan, atau tanda infeksi. Kulit atau
caruncle pada entok juga harus tampak segar tanpa luka atau infeksi.
Nafsu makan yang baik merupakan indikasi penting kesehatan, di mana
unggas yang sehat akan terlihat bersemangat saat diberi pakan. Terakhir,
kotoran unggas yang sehat memiliki konsistensi normal, tidak cair, berlendir,
atau berdarah. Semua kriteria ini berlaku untuk ayam lokal, ayam ras, dan
entok, dengan beberapa penyesuaian pada karakteristik spesifik masing-
masing unggas.
3.2.2 Karakter Penentu Produktivitas Petelur
● Ayam Lokal : Mulai bertelur lebih lambat, sekitar 5-6 bulan dan
produktivitas telur lebih rendah (60-100 butir/tahun), tetapi telur lebih
tahan lama dan berkualitas. Ayam lokal cenderung mencari makan
sendiri, tetapi pakan yang kaya nutrisi akan meningkatkan produksi
telur.
● Ayam Ras : Ayam petelur fase layer adalah ayam dewasa yang sedang
menjalani masa bertelur atau berproduksi (Purwaningsih, 2014).
Mulai bertelur lebih cepat, sekitar 4-5 bulan, dengan puncak produksi
pada 6-12 bulan dan produktivitas tinggi (250-300 butir/tahun),
terutama ayam ras petelur yang dioptimalkan untuk produksi telur.
Perlu adanya manajemen pemeliharan yang baik agar produktivitas
ternak yang dihasilkan maksimal. Salah satunya dengan memberikan
pakan yang berkualitas untuk ternak (Purnamasari et al. 2024).
● Entok : Mulai bertelur lebih lambat, sekitar 7-8 bulan, dengan puncak
produksi pada 12-18 bulan dan produktivitas sedang (80-120
butir/tahun), tetapi telur memiliki kualitas yang lebih tebal dan lebih
tahan lama. Pakan alami dan tambahan yang mengandung protein
tinggi sangat mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan.

3.2.3 Karakter Betina dan Jantan Unggas


● Ayam Lokal : Perbedaan jenis kelamin ayam broiler berpengaruh
terhadap dimensi tubuh dan bobot badan (Saputra et al. 2017). Ayam
lokal betina memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil, suara pelan, dan
jengger yang kecil serta kurang mencolok. Perilaku betina cenderung
lebih tenang dan fokus pada bertelur. Sebaliknya, ayam lokal jantan
memiliki tubuh lebih besar, suara keras dan sering berkokok, dengan
jengger besar, tegak, dan berwarna cerah. Jantan juga cenderung lebih
dominan dan sering terlibat dalam pertarungan.
● Ayam Ras : Ayam lokal di negara berkembang umumnya memiliki
keragaman fenotip yang cukup tinggi (Talebe et al. 2021), sehingga
tahapan karakterisasi ayam lokal yang mudah, murah, dan umum
dilakukan adalah dengan menggunakan karakteristik sifat kualitatif
dan sifat kuantitatif (Hassan et al. 2020). Ayam ras betina memiliki
tubuh lebih kecil dibandingkan jantan, tetapi bobotnya ideal untuk
produksi telur. Jenggernya kecil dan tidak mencolok, dengan suara
yang pelan dan tidak berkokok. Perilaku betina lebih pasif dan fokus
pada bertelur. Sementara itu, ayam ras jantan memiliki tubuh lebih
besar, berdaging tebal (terutama pada ayam pedaging), suara keras
dan sering berkokok, serta jengger yang besar dan berwarna merah
cerah. Perilaku jantan lebih agresif dan cenderung melindungi betina.
● Entok : Entok betina memiliki ukuran tubuh lebih kecil, suara yang
lebih pelan berupa desisan halus kecil, dan caruncle (tonjolan daging
di kepala) yang lebih kecil dan kurang mencolok. Betina cenderung
tenang dan sering berada di sarang untuk bertelur. Di sisi lain, entok
jantan memiliki tubuh yang lebih besar dan berotot, entok jantan
memiliki rerata bobot badan 3 kg/ekor, suara lebih keras dengan nada
berat, serta caruncle yang lebih besar, mencolok, dan berwarna cerah
(Fatmarischa et al. 2014). Jantan juga memiliki perilaku lebih agresif
dan sering mempertahankan wilayah.

3.3 Organ pencernaan, pembantu pencernaan, pernafasan, endoktrin,


reproduksi betina, repduksi jantan, dan urinari.
3.3.1 Organ Pencernaan
[Link] Mulut
Mulut atau paruh pada unggas, adalah organ pencernaan pertama
yang bertugas dalam proses pencernaaan makanan (Saputro dan
Saputra 2014). Paruh pada ayam pendek dan lancip serta untuk
mematuk biji-bijian, sedangkan paruh bebek lebar dan lebih panjang
ke depan serta untuk menyaring makanan dari air, seperti ganggang,
serangga kecil, dan ikan.
[Link] Esophagus
Esofagus adalah saluran fleksibel berdinding tipis yang
menghubungkan laring dengan proventrikulus. Bagian servikalnya
awalnya berada di belakang trakea, lalu bergeser ke sisi kanan leher.
Saat masuk ke toraks, esofagus melebar membentuk tembolok yang
umumnya terletak di bagian ventral. Setelah itu, esofagus kembali
berada di belakang trakea, melewati paru-paru, jantung, dan membuka
ke proventrikulus di ruang interkostal ketiga hingga keempat. Dalam
rongga toraks, esofagus dikelilingi oleh kantung udara servikal dan
toraks (König HE et al. 2016).
[Link] Tembolok
Tembolok adalah pelebaran kerongkongan sebelum masuk ke
rongga tubuh yang berfungsi untuk menyimpan makanan sementara,
melunakkan, dan memulai pencernaan awal, terutama pada granivora.
Beberapa spesies memiliki spesialisasi, seperti hoatzin yang
menggunakan tembolok untuk mengunyah dan Columbiformes
(merpati) yang menghasilkan "susu tembolok" kaya lipid untuk anak
burung. Struktur dinding tembolok menyerupai kerongkongan,
dengan kelenjar mukosa di sekitar saluran makanan pada ayam dan di
fundus pada merpati. Kontraksi otot tembolok mendorong makanan
menuju perut (König HE et al. 2016).
[Link] Proventrikulus

Proventrikulus adalah lanjutan kerongkongan tanpa batas


anatomi jelas, terletak di dekat hati dan limpa dalam kantung
peritoneum usus. Mukosanya memiliki lipatan dengan papila, dan
kelenjarnya terbagi menjadi kelenjar dangkal dan dalam, yang
mengeluarkan pepsinogen, asam klorida, serta faktor intrinsik untuk
penyerapan vitamin B12. Dindingnya mengandung jaringan ikat,
pleksus saraf, dan pembuluh darah, dengan lapisan otot melingkar
dalam dan longitudinal luar. Proventrikulus dilapisi tunika serosa dan
terhubung dengan ventrikulus melalui isthmus gaster, zona transisi
tanpa kelenjar. Makanan singkat berada di sini sebelum dialirkan ke
ventrikulus untuk pencernaan lebih lanjut (König HE et al. 2016).

[Link] Gizzard

Gizzard (Ventrikulus atau ampela), merupakan organ


pengunyahan karena menggantikan fungsi gigi. Gizzard terletak
disebelah kiri rongga peritoneum usus, di antara lapisan-lapisan
septum posthepatil. Berbentuk seperti lensa bikonveks, gizzar terletak
di kuadran kiri bawa rongga tubuh. Sebagian besar permukaannya
ditutupi oleh kantung udara perut kiri, bersebelahan rongga
peritoneum hepar ventral kiri di sisi kiri gizzard. Dinding gizzard
memiliki struktur berlapis yang khas (mukosa, submukosa, tunika
berotot, dan serosa (König HE et al. 2016).

[Link] Duodenum

Duodenum berfungsi sebagai penyerap air, natirum, dan mineral-


mineral lain. Duodenum dimulai dari ostium ventrikulo-pilorus dan
membentuk ansa berbentuk U, terdiri dari pars descendens dan pars
ascendens. Di antara keduanya terletak pankreas. Duodenum
ascendens mengakomodasi tiga saluran pankreas dan dua saluran
empedu, yaitu duktus hepatoenterika dan duktus sistikoenterika, yang
terbuka dekat papilla duodeni (König HE et al. 2016).

[Link] Jejenum dan ileum (Mickle’s diverticulum)

Ileum dan jejunum adalah dua bagian utama dari usus halus yang
memiliki peran penting dalam proses pencernaan dan penyerapan
nutrisi. Jejunum terletak di antara duodenum dan ileum, berfungsi
sebagai tempat utama untuk penyerapan nutrisi seperti protein,
karbohidrat, dan lemak. Bagian ini memiliki struktur yang lebih
berlipat-lipat dan permukaan yang lebih besar untuk memaksimalkan
penyerapan (König HE et al. 2016).

Menurut König HE et al. (2016), ileum yang terletak setelah


jejunum, berfungsi untuk melanjutkan penyerapan nutrisi dan air serta
menyerap vitamin dan garam empedu yang dibutuhkan tubuh. Pada
beberapa spesies unggas, ileum terstruktur dalam lingkaran yang
disebut ansa supraduodenalis, terutama pada bebek, angsa, dan
merpati, yang terletak di bagian dorsal duodenum. Sementara itu,
divertikulum Mickle’s, yang merupakan sisa embrionik dari tangkai
kuning telur, terletak di bagian tengah jejuno-ileum dan sering
dianggap sebagai batas antara jejunum dan ileum meskipun tidak ada
perbedaan morfologi yang jelas.

[Link] Cecum

Caecum (sekum) pada unggas domestik terdiri dari dua struktur


besar yang terletak di antara ileum dan rektum, dihubungkan oleh
ligamentum ileocaecal. Setiap sekum berkomunikasi dengan rektum
melalui ostium caeci dan memiliki sfingter otot di dasar caecum. Pada
ayam, sekum berkembang dengan baik dan kaya akan jaringan
limfatik, sering disebut amandel sekum, dengan badan sekum
berbentuk ampula dan apex yang bisa berbentuk runcing atau
vesikuler. Pada spesies herbivora dan frugivora, caeca berfungsi untuk
mencerna polisakarida tanaman, seperti selulosa (König HE et al.
2016).

[Link] Rektum

Rektum adalah bagian terakhir dari usus yang berbentuk lurus dan
mengarah ke kloaka. Bagian ini sering disebut sebagai usus besar.
Pada burung unta, bebek, dan angsa, transisi menuju kloaka ditandai
oleh lipatan mukosa berbentuk cincin yang disebut plica
rectocoprodealis (König HE et al. 2016).

[Link] Kloaka

Menurut König HE et al. (2016), kloaka adalah saluran ekskresi


yang digunakan bersama untuk sistem pencernaan dan urogenital pada
ayam, dengan panjang sekitar 2,5 cm dan lebar 2-2,5 cm. Dua lipatan
mukosa membagi kloaka menjadi tiga bagian, yaitu: koprodeum,
urodeum, dan proktodeum.
3.3.2 Organ Pembantu Pencernaan

[Link] Hati

Hati ayam besar dan dikelilingi oleh kantung peritoneum hepatik,


menutupi trabekula median sternum dan bersentuhan dengan tulang
rusuk sternum. Lobus hepatik mengelilingi perikardium dan
membentuk kesan jantung di dalam hati. Permukaan viseral hati
bersentuhan dengan paru-paru, proventrikulus, ventrikulus, limpa,
dan duodenum. Hati berwarna merah-coklat hingga coklat muda,
dengan konsistensi lunak pada ayam dan keras pada bebek atau angsa.
Hati berwarna kuning saat menetas, akibat pigmen karotenoid. Hati
terbagi menjadi lobus kiri dan kanan, dengan jembatan parenkim yang
menghubungkan keduanya (König HE et al. 2016).

[Link] Pankreas

Pankreas terletak di mesoduodenum antara dua tungkai


duodenum, berwarna kuning pucat hingga merah muda, dengan
panjang mencapai 140mm pada ayam, bebek, dan angsa. Menurut
König HE et al. (2016), menyatakan bahwa Pankreas terdiri dari tiga
lobus: lobus punggung, lobus ventral, dan lobus limpa. Sekresi
eksokrin pankreas bermuara di duodenum asendens melalui tiga
saluran: duktus pankreatikus dorsalis, ventralis, dan tertius. Jaringan
endokrin pankreas terdiri dari kumpulan sel endokrin Langerhans,
yang menghasilkan hormon seperti glukagon, insulin, dan
somatostatin, serta polipeptida pankreas. Kumpulan sel endokrin
Langerhans terbesar terdapat di lobus limpa.

[Link] Limpa

Limpa adalah organ yang terdiri dari daging merah dan daging
putih, yang terkait dengan sistem pembuluh darah dan limfatik. Berat
limpa sekitar 1,4-4 g pada ayam dan bebek, dan lebih besar pada
angsa. Berwarna cokelat hingga merah ceri, limpa memiliki bentuk
bulat pada ayam dan segitiga pipih pada unggas air. Terletak di bagian
medial persimpangan kelenjar dan perut berotot, dekat permukaan
visceral hati. Limpa terdiri dari jaringan limforetikular, dengan
selubung limfatik periarterial (zona sel-T) dan nodul limpa (zona sel-
B) yang membentuk pulpa putih, yang berperan dalam respons
kekebalan tubuh, serta pemecahan sel darah merah yang sudah tua di
pulpa merah (König HE et al. 2016).
3.3.3 Organ Pernafasan

[Link] Lubang Hidung

Rongga hidung pada ayam terletak di sebelah kiri dan kanan


septum hidung tengah, dengan lubang hidung (nares) terletak di
pangkal paruh. Pada ayam dan kalkun, ada operkulum yang menjorok
keluar dari batas dorsal nares. Burung memiliki tiga konka hidung
(rostralis, media, dan caudalis). Saluran nasolakrimal membuka di
antara konka hidung belakang dan tengah. Bagian tengkorak rongga
hidung dilapisi mukosa non-kelenjar dan bagian pernapasan dengan
epitel bersilia (König HE et al. 2016).

Menurut König HE et al. (2016), menyatakan bahwa pada ayam


dan burung air, daerah penciuman kecil dan terbatas, sedangkan pada
pemakan ikan dan daging, alat penciuman lebih berkembang. Rongga
hidung terhubung dengan sinus infraorbital yang terletak di bawah
kulit dekat mata. Sinus ini penting untuk prosedur klinis seperti
paracentesis. Kelenjar hidung ayam, yang terletak di atas bola mata,
berfungsi untuk melembabkan lubang hidung dan bermuara pada
celah septum hidung dekat koncha hidung rostral. Pada burung laut,
kelenjar ini mengeluarkan larutan garam pekat.

[Link] Glotis

Glotis adalah bagian dari sistem pernapasan yang terletak di laring,


bukan di paru-paru. Glotis berfungsi sebagai saluran yang mengatur
aliran udara ke trakea dan paru-paru. Secara spesifik, glotis merujuk
pada ruang antara pita suara yang ada di laring. Ketika kita bernapas,
glotis membuka untuk memungkinkan udara masuk ke trakea dan
menuju paru-paru. Sebaliknya, saat berbicara atau bernyanyi, glotis
menutup dan menggetarkan pita suara.

[Link] Larynk

Laring terletak di orofaring ventral, dekat lidah, dan memiliki celah


glotis di garis tengah. Laring didukung oleh tulang rawan krikoid,
prokrikoid, dan arytenoid. Tulang rawan krikoid berbentuk seperti
sendok gula, sementara arytenoid berpasangan dan berbentuk garpu
tala. Dua otot utama, m. dilatator dan m. konstriktor glottidis,
mengatur pembukaan dan penutupan glotis. Fungsi utama laring
adalah mencegah benda asing masuk ke saluran udara melalui
penutupan refleks glotis, tetapi tidak berperan dalam fonasi (König
HE et al. 2016).
[Link] Trachea

Trakea dimulai dari ujung ekor tulang rawan krikoid dan terletak
di sisi kanan leher, bergerak menuju toraks. Pada beberapa spesies,
seperti angsa dan bangau, trakea sangat panjang dan melilit di antara
kulit atau tulang dada. Trakea didukung oleh cincin-cincin tulang
rawan yang membentuk struktur seperti meterai. Jumlah cincin trakea
bervariasi antar spesies (120 pada ayam), yang semakin mengecil
menuju rongga tubuh. Mukosa trakea dilapisi epitel bersilia dengan
sel piala yang mensekresi musin (König HE et al. 2016).

Otot-otot trakea, seperti m. trakeolateralis dan m. cleidohyoideus,


mengontrol pergerakan trakea. Meskipun trakea burung memiliki
hambatan udara yang tinggi karena panjangnya, diameternya yang
besar mengimbanginya, sehingga hambatan udara pada burung mirip
dengan mamalia, meski ruang mati trakea burung lebih besar (König
HE et al. 2016).

[Link] Syrink

Syrinx adalah organ vokalisasi pada burung, terletak pada


percabangan trakea menjadi bronkus primer. Pada ayam, empat cincin
trakea terakhir membentuk bagian dari syrinx, dengan cincin-cincin
berikutnya bergabung membentuk jembatan median yang disebut
pesulus. Membran semilunaris yang memanjang dari pesulus
berfungsi bersama komponen tulang rawan membentuk timpanum.
Membran timpani lateral dan medial juga berperan dalam struktur
syrinx. Labia, bantalan jaringan ikat elastis, menonjol dari membran
dan berfungsi mirip dengan pita suara pada mamalia selama fonasi
(König HE et al. 2016).

Pada burung kicau, otot-otot syringeal memungkinkan pengaturan


suara, sementara unggas domestik tidak memiliki otot-otot ini. Pada
bebek jantan, syrinx dimodifikasi menjadi bulla syringeal bertulang,
yang berfungsi sebagai ruang resonansi untuk memperkuat suara
(König HE et al. 2016).

[Link] Bronchi

Bronkus pada burung terbagi menjadi beberapa tingkat, dimulai


dengan bronkus primer (bronchi primarii) yang menembus septum
horizontal dan melewati paru-paru hingga batas ekor, kemudian
terbuka ke dalam kantung udara perut. Dinding bronkus primer
mengandung cincin tulang rawan berbentuk C dan dilapisi epitel
pernapasan, jaringan elastis, kolagen, serta otot polos melingkar.
Bronkus sekunder (bronchi secundarii) dilepaskan dari bronkus
primer dan dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai arah jalannya.
Mereka berventilasi bagian berbeda paru-paru yang memiliki "usia"
filogenetik yang berbeda, yaitu "paru-paru baru" (neopulmo) dan
"paru-paru tua" (paleopulmo). Parabronkus (bronchi tertier) adalah
unit fungsional utama paru-paru burung, yang berbentuk tabung
paralel dan beranastomosis satu sama lain. Parabronkus dilapisi epitel
skuamosa sederhana dan memiliki atrium yang dilapisi epitel kuboid,
tempat pertukaran gas terjadi. Kapiler udara (pneumocapillares)
adalah pembuluh darah kecil yang memungkinkan pertukaran gas
dengan kapiler darah. Penghalang darah-gas burung lebih tipis
dibandingkan mamalia, yang memungkinkan efisiensi pertukaran gas
yang lebih tinggi (König HE et al. 2016).

[Link] Paru - Paru

Paru-paru unggas kiri dan kanan terletak di sisi dorsal tubuh,


sepanjang tulang belakang, tanpa lobus. Paru-paru memiliki kesan
khas berupa sulci costales yang memisahkan jaringan paru menjadi
tori intercostales. Bagian ventral paru-paru memiliki hilus yang
memungkinkan masuknya pembuluh darah dan bronkus primer, serta
berhubungan dengan kantung udara. Bentuk paru-paru bervariasi:
ayam cenderung persegi panjang, sementara angsa dan bebek lebih
segitiga. Paru-paru burung tidak memiliki pleura dan didukung oleh
jaringan ikat yang mencegah keruntuhan. Meskipun memiliki berat
yang setara dengan paru-paru mamalia, volume paru-paru burung jauh
lebih kecil, hanya sekitar sepersepuluh dari paru-paru mamalia
seukuran (König HE et al. 2016).

[Link] Kantung Udara

Kantung udara adalah rongga berdinding tipis yang melekat pada


paru-paru dan berfungsi untuk memberikan ventilasi mekanis dengan
cara berfungsi sebagai belos. Kantung udara terhubung dengan organ
atau otot lain melalui jaringan ikat dan dapat dilapisi sebagian oleh
tunika serosa. Dinding kantung mengandung kolagen, serat elastis,
dan otot polos. Selain itu, kantung udara juga berfungsi untuk
membuat kerangka menjadi pneumatik dengan menembus tulang.
Pada ayam, terdapat delapan kantung udara, dua di antaranya tidak
berpasangan, yaitu kantung udara serviks dan kantung udara klavikula
(König HE et al. 2016).

3.3.4 Kelenjar Endoktrin

[Link] Hipofisa

Hipofisis terletak di dekat kiasma optik dan terbagi menjadi dua


bagian utama: adenohipofisis dan neurohipofisis. Adenohipofisis
terhubung dengan hipotalamus melalui sistem pembuluh darah dan
memproduksi hormon yang mengatur kelenjar endokrin lain, seperti
ACTH, TSH, STH, MSH, FSH, LH, dan PRL. Hormon-hormon ini
mengatur proses seperti pertumbuhan, metabolisme, reproduksi.
Neurohipofisis, yang menyimpan hormon vasopresin dan oksitosin,
tidak memproduksi hormon sendiri, tetapi menyimpannya untuk
dilepaskan oleh neuron hipotalamus. Perpanjangan dari hipotalamus,
yaitu infundibulum, menghubungkan kedua bagian hipofisis ini
(König HE et al. 2016).

[Link] Thymus

Thymus adalah organ limfoid primer yang bertugas menghasilkan


dan mendukung proses pematangan limfosit T, yaitu jenis sel imun
penting bagi tubuh (Masum et al. 2014).

[Link] Tiroid

Kelenjar tiroid pada burung terletak di dasar leher dekat arteri


subklavia dan karotis. Kelenjar ini menghasilkan hormon
triiodotironin dan tiroksin yang berperan dalam metabolisme,
termoregulasi, pergantian bulu, serta perkembangan dan fungsi gonad.
Ukuran dan fungsinya bervariasi secara musiman (König HE et al.
2016).

[Link] Paratiroid

Kelenjar paratiroid, yang berjumlah dua atau tiga pasang (tiga pada
ayam, dua pada spesies domestik lainnya), sebagian menyatu dengan
kelenjar tiroid dan berwarna lebih gelap. Kelenjar ini menghasilkan
hormon paratiroid (parathormon) yang meningkatkan kadar kalsium
darah dengan menyerap kalsium dari usus dan melepaskannya dari
tulang. Fungsi ini sangat penting selama masa bertelur karena kalsium
dalam jumlah besar diperlukan untuk pembentukan cangkang telur
(König HE et al. 2016).
[Link] Pankreas

Unggas memiliki lebih dari satu jenis kumpulan sel endoktrin


pankreas.K umpulan sel endoktrin pankreasini terbagi menjadi k
umpulan sel endoktrin pankreas gelap tipe A (dominan sel A), terang
tipe B (dominan sel B), dan tipe campuran, dengan ayam umumnya
memiliki tipe campuran. Kumpulan-kumpulan sel endoktrin pankreas
pankreas lebih banyak ditemukan di lobus limpa. Hormon yang
dihasilkan meliputi glukagon (sel A), insulin (sel B), dan somatostatin
(sel D). Pada burung, glukagon lebih berperan dalam mengatur
metabolisme lipid dan glukosa dibandingkan insulin, dengan
kandungan insulin pada pankreas burung hanya sekitar sepersepuluh
dari mamalia (König HE et al. 2016).

[Link] Adrenal

Kelenjar adrenal burung terletak di dekat ginjal dan aorta desenden,


berbentuk piramida dengan warna bervariasi. Tidak seperti mamalia,
sel adrenal dan interrenal bercampur. Sel adrenal menghasilkan
adrenalin dan noradrenalin, sementara sel interrenal memproduksi
kortikosteron dan aldosteron untuk metabolisme dan elektrolit.
Paraganglia ditemukan di sekitar kelenjar adrenal, badan karotid, dan
pembuluh darah besar (König HE et al. 2016).

[Link] Bursa Fabricius

Bursa Fabricius merupakan organ penting dalam sistem imun ayam


yang berperan dalam perkembangan sel B, yaitu sel limfosit yang
memproduksi antibodi. Organ ini terletak di dekat kloaka dan aktif
terutama selama masa pertumbuhan awal ayam. Setelah ayam
mencapai dewasa, fungsi bursa Fabricius menurun, namun perannya
selama perkembangan imunologis tetap krusial dalam membentuk
sistem pertahanan tubuh ayam (Ismiraj 2020).

3.3.5 Organ Reproduksi Betina

[Link] Ovarium

Ovarium burung memiliki peran penting dalam reproduksi, dengan


perkembangan yang dimulai sejak awal kehidupan embrio. Pada
embrio betina, sebagian besar gamet bermigrasi dari ovarium kanan
ke ovarium kiri selama awal perkembangan. Ovarium kiri mulai
terbentuk sempurna sejak hari ketujuh, sedangkan ovarium kanan
hanya menyisakan sedikit sel germinal dan oosit yang tidak
berkembang. Secara anatomis, ovarium terletak di peritoneum
kraniodorsal, dekat paru kiri, kelenjar adrenal kiri, ginjal kiri, aorta,
dan vena cava kaudal. Pada ayam muda, ovarium berukuran kecil,
sekitar 15–20 mm dengan berat 0,5 g. Namun, selama masa bertelur,
ukurannya dapat membesar hingga 110 mm dengan berat lebih dari 60
g (König HE et al. 2016).

Struktur ovarium terdiri dari korteks, yang berisi folikel tempat


oosit berkembang, dan medula. Korteks ovarium mengandung oosit
yang dikelilingi oleh epitel folikular, dengan folikel matang mencapai
diameter hingga 40 mm. Dinding folikel kaya akan pembuluh darah,
saraf, dan otot polos. Oosit burung dikenal sebagai gamet betina
terbesar di dunia hewan, dengan ciri khas area pucat tanpa pembuluh
darah pada dinding folikel yang disebut stigma, berperan dalam
ovulasi. Selain itu, endoskopi dapat digunakan untuk melihat folikel
ovarium dan menentukan jenis kelamin pada burung monomorfik
(König HE et al. 2016).

[Link] Oviduct

Oviduk burung terdiri dari lima segmen: infundibulum, magnum,


isthmus, uterus, dan vagina. Pada kebanyakan burung, hanya oviduk
kiri yang berkembang sepenuhnya. Selama bertelur, oviduk membesar
dan panjangnya bisa mencapai 65 mm dengan berat 75 g. Oviduk
dilapisi oleh beberapa lapisan seperti tunica muscularis, tunica serosa,
dan tunica mucosa, serta memiliki lipatan mukosa yang membantu
memutar telur. Kontraksi otot sirkular dan longitudinal membantu
pergerakan telur dan sperma melalui oviduk (König HE et al. 2016).

[Link].1 Infundibulum

Infundibulum terdiri dari bagian proksimal berbentuk corong


dan bagian distal berbentuk tabung. Pembukaannya berukuran
sekitar 80mm pada ayam. Dinding infundibulum memiliki lipatan
dangkal dan kelenjar yang berkembang menjadi glandula tubi
infundibulares, yang menghasilkan sekresi untuk membentuk
lapisan chalaziferous pada oosit. Pembuahan oosit terjadi di bagian
tuba infundibulum, dan transit oosit melalui infundibulum
membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit pada ayam (König HE et
al. 2016).
[Link].2 Magnum

Magnum adalah segmen terpanjang saluran kelamin betina


burung, dengan panjang sekitar 34 cm pada ayam. Epitel magnum
bertransisi menjadi sel kolumnar, dan mukosa membentuk lipatan
besar yang mengandung kelenjar tubular, yang menghasilkan
ovalbumin, ovotransferrin, dan ovomucoid, komponen utama
albumen. Oosit menghabiskan waktu sekitar tiga jam di magnum
(König HE et al. 2016).

[Link].3 Isthmus

Isthmus pada ayam memiliki panjang sekitar 10 cm dan


dibedakan oleh mukosa yang awalnya transparan tanpa lipatan,
kemudian membentuk lipatan longitudinal dengan banyak kelenjar
tubular. Oosit menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam di Isthmus, di
mana kelenjar sekresi menghasilkan protein keratin yang stabil
untuk membentuk membran kulit telur dan ruang udara di ujung
telur. Albumen juga ditambahkan di segmen ini (König HE et al.
2016).

[Link].4 Shell Gland/Uterus

Uterus, yang sering disebut sebagai "kelenjar cangkang (shell


gland)" berlanjut dari isthmus tanpa batas makroskopis yang jelas
dan memiliki panjang sekitar 8 cm pada ayam. Uterus berbentuk
tabung yang mengembang menjadi segmen seperti kantong,
dengan lapisan otot yang berkembang baik dan mukosa yang
membentuk lipatan melingkar. Di segmen ini, albumen
diselesaikan dengan penambahan air dan protein, membentuk putih
telur. Oosit menghabiskan sekitar 20 jam di rahim untuk
pembentukan cangkang berkapur dari kalsium karbonat, serta
matriks organik dan kutikula pada telur (König HE et al. 2016).

[Link].5 Vagina

Di persimpangan antara rahim dan vagina, otot melingkar


membentuk sfingter vagina yang kuat. Vagina, yang panjangnya
sekitar 8 cm, terlipat menjadi bentuk sigmoid dan memiliki dinding
berotot yang berkembang baik. Mukosa vagina mengandung epitel
kolumnar bersilia dan lipatan sempit. Di dekat sfingter vagina,
terdapat kelenjar tubular bercabang yang berfungsi sebagai tempat
penyimpanan sperma. Tempat ini dapat menyimpan sperma yang
layak selama beberapa minggu, memungkinkan ayam betina
bertelur yang telah dibuahi hingga dua minggu setelah kawin. Sel
telur melewati vagina dalam waktu rata-rata 5-10 menit (König HE
et al. 2016).

[Link].6 Kloaka

Kloaka pada organ reproduksi betina merupakan bagian akhir


dari saluran reproduksi, tempat pertemuan antara sistem
reproduksi, urin, dan pencernaan. Pada betina, kloaka menerima
telur yang telah dibentuk di ovarium dan diproses di saluran telur.
Setelah melewati vagina, telur atau oosit akan memasuki kloaka
sebelum akhirnya dikeluarkan. Kloaka juga berfungsi sebagai
saluran untuk mengeluarkan kotoran dan urin, yang dicampur dan
dikeluarkan melalui satu lubang yang sama.

3.3.6 Organ Reproduksi Jantan

[Link] Testis

Testis pada burung berpasangan dan terletak di rongga tubuh, dekat


ginjal, tanpa mengalami penurunan, testis tidak memiliki skrotum, dan
terhindar dari suhu tubuh yang tinggi berkat sistem pembuluh darah
pleksus vena yang berfungsi sebagai pendingin. Ukuran testis
bervariasi tergantung pada musim kawin, usia, iklim, dan jenis
burung, dengan ukuran yang meningkat pesat selama musim kawin.
Testis dilapisi oleh mesorchium dan terhubung ke dinding dorsal
rongga tubuh. Vena testis memiliki cabang-cabang yang berperan
dalam termoregulasi. Pada endoskopi, testis tampak berwarna putih
kekuningan atau hitam pada beberapa spesies (König HE et al. 2016).

[Link] Epididimis

Pada ayam dan unggas lainnya, epididimis terletak di permukaan


dorsomedial testis dan memanjang sekitar dua pertiga panjang testis.
Epididimis ayam berukuran pendek, sekitar 3-4 mm, dan tidak
tersegmentasi seperti pada mamalia. Saluran eferen mengalirkan
spermatozoa ke epididimis, berbeda dengan mamalia yang hanya
membuka pada kepala epididimis. Saluran epididimis dilapisi epitel
kolumnar pseudostratifikasi stereoseluler dan jaringan ikat longgar
yang mengandung banyak sel otot polos pada beberapa spesies.
Sepanjang panjangnya, saluran epididimis bertambah tebal dan
terbuka ke dalam saluran deferens di kutub ekor epididimis (König
HE et al. 2016).
[Link] Vas Deferens

Vas deferens pada ayam terletak retroperitoneal dan berkelok-


kelok, melewati lateral ureter dan menuju kloaka. Duktus deferens
dilapisi epitel pseudostratifikasi dengan stereosilia. Bagian
terminalnya, pars recta, membuka menjadi ampul yang tidak memiliki
sel sekretori. Duktus deferens berakhir pada papilla duktus deferentis
di urodeum, dengan pembuluh darah yang mendukung ereksi lingga
pada spesies tertentu. Fungsi utamanya adalah mengalirkan sperma
matang, dengan panjang sekitar 10 cm pada Galliformes, dan volume
ejakulasi 0,5-1 ml pada ayam (König HE et al. 2016).

[Link] Vesika Seminalis

Vesikula seminalis adalah kelenjar berpasangan yang


menghasilkan cairan mani, menyumbang sekitar 70% komponen
semen. Terletak di panggul, di samping ampula vas deferens, kelenjar
ini berfungsi menghasilkan cairan basa yang mengandung fruktosa
untuk energi sperma, serta protein, enzim, vitamin C, dan
prostaglandin. Cairan ini juga mengandung semenogelin, yang
membentuk gel untuk membungkus sperma, mencegah kapasitasi
segera. Selama ejakulasi, vesikula seminalis berkontraksi di bawah
pengaruh saraf simpatis, mengeluarkan sperma dan cairan mani ke
dalam uretra (Mckay dan Sharma 2018).

[Link] Kloaka

Kloaka pada jantan burung berfungsi sebagai saluran penghubung


antara saluran reproduksi, saluran pencernaan, dan saluran ekskresi.
Pada jantan, kloaka menerima sperma dari saluran deferens dan
mengarahkan cairan ini ke luar tubuh melalui vent. Secara anatomis,
kloaka terletak di bagian posterior tubuh, di mana saluran reproduksi,
urin, dan pencernaan bertemu. Sperma dikeluarkan melalui kloaka
selama proses ejakulasi. Kloaka pada burung jantan tidak memiliki
organ eksternal, dan fungsi reproduksi terjadi di dalam tubuh melalui
saluran ini.
3.3.7 Organ Urinari

[Link] Ginjal

Ginjal adalah organ vital yang berperan besar dalam proses


metabolisme protein. Produk sisa dari metabolisme protein yang
dikeluarkan melalui ginjal meliputi asam urat, kreatinin, ureum, dan
albumin.(Iriyanti et al. 2020).

[Link] Ureter

Ureter unggas adalah saluran yang menghubungkan ginjal dengan


kloaka, berfungsi mengalirkan urin ke kloaka untuk dikeluarkan. Urin
unggas mengandung asam urat sebagai produk sisa metabolisme, yang
lebih efisien dalam penggunaan air. Ureter unggas lebih sederhana dan
pendek dibandingkan mamalia, tanpa kantung urin.

[Link] Kloaka

Kloaka adalah saluran ekskresi yang digunakan bersama untuk


sistem pencernaan dan urogenital pada ayam, dengan panjang sekitar
2,5 cm dan lebar 2-2,5 cm. Dua lipatan mukosa membagi kloaka
menjadi tiga bagian, yaitu: koprodeum, urodeum, dan proktodeum
(König HE et al. 2016).
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Ayam merupakan unggas dengan berbagai bangsa dan varietas yang


dikembangkan sesuai tujuan, seperti produksi telur, daging, atau keindahan. Setiap
varietas memiliki karakteristik unik yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan
lingkungan, seperti efisiensi pakan, daya tahan penyakit, dan kemampuan
reproduksi. Sistem tubuh ayam dirancang untuk mendukung fungsinya secara
optimal. Sistem pencernaan meliputi organ seperti paruh, tembolok, proventrikulus,
gizzard, usus, dan kloaka, dengan bantuan organ seperti hati dan pankreas untuk
memproses dan menyerap nutrisi. Sistem pernafasan yang unik dengan kantong
udara mendukung pertukaran gas dan termoregulasi. Sistem endokrin melalui
kelenjar hormon mengatur proses fisiologis penting, seperti metabolisme dan
reproduksi. Sistem reproduksi betina terdiri dari ovarium dan oviduk untuk
membentuk telur, sedangkan sistem reproduksi jantan menghasilkan sperma
melalui testis. Pada sistem urinari, limbah nitrogen diekskresikan dalam bentuk
asam urat melalui kloaka. Pemahaman mendalam tentang anatomi dan fisiologi
ayam sangat penting untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan
kesejahteraan dalam peternakan.

4.2 Saran

Untuk mendukung keberhasilan peternakan ayam, perlu diterapkan praktik


manajemen yang baik, termasuk pemberian pakan berkualitas sesuai kebutuhan
varietas ayam, menjaga kebersihan kandang untuk mencegah penyakit, serta
memastikan kondisi lingkungan yang mendukung kesehatan ayam, seperti ventilasi
yang baik dan suhu optimal. Penelitian lebih lanjut tentang pengelolaan genetik dan
inovasi teknologi dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Selain itu, penting untuk selalu memperhatikan kesejahteraan ayam guna
menciptakan sistem peternakan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA

Hassan OM. Tiambo CK. Issa S. Hima K. Laouali M. Adamou I, Bakasso Y. 2020.
Morpho-biometric characterization of local chicken population in niger. GSC
Biological and Pharmaceutical Sciences. 13(2):211-224.
Hidayat DF, Widodo A, Diyantoro. & Yuliani MGA. 2020. Performa pemberian
susu fermentasi terhadap performa ayam broiler. Journal of Applied
Veterinary Science and Technology. (1):43-47
Heinrichs, C. (2016). The Backyard Field Guide to Chickens. Voyageur Press.
Iriyanti N, Hartoyo B, Rimbawanto EA. 2020. Fungsi ginjal ayam broiler dengna
pemberian berbagai jenis acidifier sebagai feed additive dalam pakan yang
mengandung pribiotik. Prosiding Seminar Teknologi dan Agribisnis
Peternakan VII–Webinar.
Ismiraj RM. Review: Tinjauan mengenai fisiologi bursa fabricius pada ayam.
Jurnal Sumber Daya Hewan. 1(1).
König HE, Liebich HG, Korbel R. 2016. Avian Anatomy Textbook and Colour
Atlas. Klupiec C penerjemah; König EH, editor.
Masum MA, Khan MZI, Nasrin M, Siddiqi MNH & Islam MN. 2014. Detection of
immunoglobulins containing plasma cells in the thymus, bursa of Fabricius
and spleen of vaccinated broiler chickens with Newcastle disease virus
vaccine. Journal International of Veterinary Science and Medicine. 2(2):103–
108.
McKay AC, Sharma S. 2018. Anatomy, seminal vesicle. StatPearls.
Talebe YB. Hoda A. & Utami S. 2021. Analisis fenotip, pendugaan bobot tetas dan
bobot hidup umur 8 minggu pada seleksi ayam kampung (gallus gallus
domesticus). Jurnal Ilmu dan Industri Peternakan. 7(1):32-46.
Fatmarischa N. Sutopo & Johari S. Jarak genetik dan faktor peubah pembeda entok
jantan dan betina melalui pendekatan analisis morfometrik. Jurnal
Peternakan Indonesia. 16(1).
Priyambodo D. Jakaria & Rukmiasih. 2015. Performa pertumbuhan dan produksi
karkas mandalung hasil hibridisasi antara entok jantan (cairina moschata)
dengan itik betina (anas plathyrynchos). Jurnal Sains Terapan. 5(1):8-16.
Purwaningsih DL. 2014. Peternakan ayam ras petelur di kota Singkawang. Jurnal
online Mahasiswa Arsitektur Universitas Tanjungpura. 2 (2):74-88.
Purnamasari DK. Erwan. Syamsuhaidi & Sumiati. 2024. Kajian kualitas nutrisi
pakan terhadap produktivitas ayam kampung super di kabupaten lombok
timur. Jurnal Sains Teknologi & Lingkungan. 10(1):159-168.
Saputra WE. Pakiding W. & Baco S. 2017. Korelasi Dimensi Tubuh dan Berat
Badan Akhir Ayam Pedaging Jantan dan Betina Makassar [skripsi].
Makassar. Universitas Hassanudin Makassar. 19.
Saputro ER, Saputra DIS. 2014. Pengembangan media pembelajaran mengenal
organ pencernaan manusia menggunakan teknologi augmeted reality. SMTKI
AMIKOM Purwokerto.
Sudrajat, I. Asal-usul dan Klasifikasi Unggas.

Anda mungkin juga menyukai