Pengaruh Feed Additive pada Daging Kelinci
Pengaruh Feed Additive pada Daging Kelinci
Oleh :
1
HALAMAN PENGESAHAN
Dr. Ir. Sri Hartati Candra Dewi, [Link] Ir. Nur Rasminati, MP.,
NIDN. 0519056201 NIDN. 0506036401
i
DAFTAR ISI
PROPOSAL PENELITIAN...................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
Latar Belakang.................................................................................................................1
Tujuan Penelitian.............................................................................................................4
Manfaat Penelitian...........................................................................................................4
Kelinci..............................................................................................................................6
Kualitas Daging................................................................................................................8
Kadar air.......................................................................................................................9
Protein........................................................................................................................10
Lemak.........................................................................................................................10
Feed Addictive................................................................................................................11
Rebung Bambu...........................................................................................................12
Jantung Pisang............................................................................................................13
Kuning Telur..............................................................................................................14
Hipotesis Penelitian........................................................................................................15
Materi penelitian............................................................................................................16
Metode penelitian...........................................................................................................16
ii
Persiapan Kandang.....................................................................................................18
Pemeliharaan..............................................................................................................18
Variable Penelitian.........................................................................................................20
Analisis data...................................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................24
iii
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
pangan sumber protein hewani salah satunya adalah daging. Usaha peternakan
yang digunakan sebagai sumber penghasil daging selain unggas dan sapi adalah
kelinci. Kelinci merupakan ternak alternatif yang memiliki potensi yang baik
meningkat. Ternak kelinci adalah salah satu komoditas peternakan yang memiliki
kualitas daging dengan struktur serat lebih halus dengan warna dan bentuk
menyerupai daging ayam, serta kandungan protein yang lebih tinggi dan
kandungan lemak yang rendah dibanding ternak sapi dan domba, selain itu
kadar lemak lebih rendah (6,2%), jika dibandingkan dengan lemak daging sapi
dibandingkan dengan daging yang dihasilkan dari ternak lain seperti kadar protein
yang tinggi dan kadar lemak yang rendah. daging kelinci memiliki kandungan
protein tinggi dan rendah kolesterol sehingga bisa dikatakan “daging sehat” untuk
dikonsumsi karena komposisi dari daging kelinci terdiri dari 20,8% protein dan
10,2% lemak. kandungan protein daging kelinci 20,7%, untuk daging sapi 19,3%
dan untuk daging domba 18,7%. Kadar lemak pada daging kelinci lebih rendah
dibandingkan lemak pada daging sapi dan domba yaitu 18,3% dan 17,5%. (Hakim
dkk., 2013).
Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi kelangsungan
dalam usaha peternakan. Pada pola pemeliharaan secara intensif, biaya produksi
ternak terbesar berasal dari pakan berkisar antara 60-70%. Oleh karena itu, upaya
sehingga proses penyerapan zat makanan akan berjalan sempurna, salah satunya
Feed additive merupakan suatu bahan yang tidak termasuk dalam zat
kesehatan dan keadaan ternak yang dicampurkan ke dalam pakan dalam dosis
yang sedikit. Feed additive ditambahkan dengan sengaja dengan tujuan untuk
2
memperoleh pertumbuhan yang optimal karena memiliki peran terhadap
penyerapan zat makanan, mencegah penyakit dan menjaga kesehatan ternak, serta
Telur ayam merupakan salah satu sumber pangan yang sangat umum dan
kaya akan nutrisi, terutama protein berkualitas tinggi. Telur mengandung semua
lengkap yang penting untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan, dan fungsi tubuh
lainnya. Selain protein, telur juga kaya akan vitamin A, D, E, B12, riboflavin,
serta folat, dan merupakan sumber zat besi, fosfor, dan selenium. Menurut Lesson
dkk., (2005), telur ayam memiliki komposisi kimia yang meliputi air sebesar
73,6%, protein 12,8%, lemak 11,8%, karbohidrat 1,0%, dan nutrien lainnya
sebesar 0,8%.
dan omega-6, yang baik untuk kesehatan jantung dan otak, menurut (Rahayu dkk.,
2019). Asam lemak omega-3 (DHA dan EPA) yang terkadung pada telur sangat
baik untuk kesehatan tubuh, terutama untuk perkembangan otak dan pencegahan
terhadap produk yang dihasilkan ternak dan tumbuhnya bakteri kebal antibiotik
Limbah rumah tangga seperti nasi basi seringkali dibuang begitu saja,
3
pemanfaatannya masih terbatas. Nasi sisa atau limbah dapat dijadikan bioaktivator
pengganti bahan kimia. Mikroorganisme adalah makhluk hidup yang tidak terlihat
dengan mata telanjang dan dapat dikelompokkan dalam kelas Protista yang
meliputi bakteri, jamur, protozoa, dan algae (Ekawandani dan Halimah, 2021).
zat gizi yang seringkali kurang dalam ransum, sehingga dapat meningkatkan
menginvestigasi dampak penambahan flushing MOL Nasi dan kuning telur dalam
kandungan lemak, kandungan protein, dan kandungan kadar air. Hasil penelitian
Tujuan Penelitian
addictive pakan kuning telur dan mol nasi berdasarkan lama pemberian yang
Manfaat Penelitian
4
bermanfaat bagi komunitas ilmiah, peneliti, serta industri peternakan kelinci.
Hasil penelitian ini juga bertujuan untuk memahami hasil produktivitas berupa
sifat kimia daging kelinci yang diberi pakan menggunakan campuran kuning telur
dan MOL nasi, serta dapat menjadi landasan pengetahuan untuk studi lanjutan.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kelinci
Kelinci adalah satu jenis hewan ternak mamalia dari family leporidae yang
Jawa, kelinci mulai diternakkan pada tahun 1835 yang mulai dari orang orang
Belanda. Jadi, ternak kelinci di Indonesia sudah ada sejak tahun 1800- an silam.
Kelinci merupakan mamalia kecil yang memiliki bulu yang halus dan hewan
karena kandungan protein daging yang tinggi dan kandungan lemak yang rendah.
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Ordo : Legomorpha
Famili : Leporidae
Genus : Oryctolagus
Spesies : Oryctolagus cuniculus
menghasilkan anak 4-10 ekor per kelahiran, selain itu kelinci berpotensi
6
menghasilkan daging dengan kualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan
1. Kelinci tipe kecil berbobot antara 0,9--2,0 kg, umur 4--6 bulan sudah siap
seperti varietas Dutch, Lop Dwarf, Nederland Dwarf, Polish, dan Siamese.
2. Kelinci tipe sedang berbobot antara 2,0--4,0 kg, umur 7--8 bulan baru bisa
3. Kelinci tipe berat berbobot 5,0--8,0 kg, umur 10--12 bulan baru bisa
Giant Chinchilla.
reproduksi yang tinggi untuk tumbuh dan berkembang biak dari hijauan, limbah
sayuran, dan hasil produk pakan yang mudah tersedia dan murah di sebagian besar
ideal untuk kelinci yaitu suhu 16˚C--22˚C (Rajeshwari dan Guruprasad, 2008) dan
kelinci. Suhu ideal bagi ternak ini ialah 23–25 C. Suhu tersebut mendekati zona
7
nyaman bagi kelinci ras ini (Anonim.,2022).
Kualitas Daging
beradaptasi dengan pakan lokal. Selain itu, kualitas daging yang bagus dengan
kandungan nutrisi seperti protein yang tinggi dengan kandungan lemak dan
kolesterol rendah menjadikan daging kelinci sebagai daging sehat. selain itu
daging kelinci memiliki tekstur yang empuk, rasa yang khas dan mudah dicerna
Daging kelinci dikenal karena nilai gizinya, ramping, mudah dicerna, dan
kaya akan asam amino esensial dan asam lemak tak jenuh. Selain itu, daging
kelinci 103 telah ditemukan memiliki nilai biologis protein hewani yang tinggi,
yang sehat untuk sumber daging lainny (Siudak et al, 2023). Selanjutnya, profil
nutrisi daging kelinci, dengan proporsi asam lemak n-3 yang lebih tinggi dan
protein yang cukup tinggi, asam lemak tak jenuh (oleat dan linoleat; 60% dari
semua asam lemak) serta kandungan kolesterol yang rendah sehingga cocok
110,47 Kkal/100 gram, karbohidrat 0,43%, protein 19,99%, lemak 2,31%, kadar
8
air 75,84% dan abu 1,43% (Fadlilah et al., 2020).
daging adalah genetik, spesies bangsa, dan bahan aditif (hormon, antibiotik dan
meliputi kualitas kadar air, kadar lemak, dan kadar protein. Hal tersebut
disebabkan oleh karakteristik daging antara lain kadar air yang tinggi (68- 75%),
Kadar air
Kadar air merupakan persentase kandungan air suatu bahan yang dapat
dinyatakan berdasarkan berat basah atau berat kering. Salah satu faktor yang
hal tersebut dapat mengakibatkan kadar air daging sedikit berkurang sehingga
menyebabkan tidak terjadi tekanan osmosis dari daging. Kuntoro et al., (2007)
Tekanan osmosis merupakan pertukaran air antara sel dengan lingkungan karena
perbedaan konsentrasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi kadar air daging
kelinci dapat juga terjadi pada sebelum penyembelihan yakni tingkat dehidrasi
pada ternak kelinci tersebut. Lawrie (2003) menyatakan bahwa kadar air daging
9
Protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar
tubuh sesudah air. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan
oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.
Fungsi lain dari protein adalah untuk mengatur keseimbangan air, pembentukan
antibodi, mengatur zat gizi dan sebagai sumber energi (Saputri dkk.,2019).
zat gizi, menurut Lebas et al. (1986) Kandungan zat gizi dalam 100 gram daging
protein pada daging kelinci berhubungan dengan kandungan kadar air dan kadar
lemak pada daging kelinci, apabila kadar air dan kadar lemak pada dgaing kelinci
simpan diduga karena ada hubungan dengan nilai kadar air dan lemak yang
cenderung meningkat.
Lemak
organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut
10
benzena,hexana dan hidrokarbon lainnya.
spesies, lokasi otot dan pakan (Judge et al., 1989). Perletakan lemak pada tubuh
kelinci terjadi disekitar rusuk, sepanjang tulang belakang, daerah paha, sekitar
Feed Addictive
produktivitas dan kualitas produksi ternak, dan zat tambahan tersebut terdiri dari
tambahan vitamin dan mineral, antibiotik dan hormon. Zat additive yang
(Agustina 2006). Imbuhan pakan atau feed additive merupakan bahan yang
prebiotik, pewarna, perasa serta antioksidan adalah imbuhan pakan yang sering
terbentuk dari campuran bahan-bahan alami yang disukai tanaman sebagai media
11
hidup dan berkembangnya mikroorganisme. MOL berguna untuk mempercepat
glukosa atau gula seperti gula pasir, gula merah, air kelapa, atau batang tebu.
Selain itu, dibutuhkan bahan yang mengandung karbohidrat atau tepung seperti air
cucian beras, limbah nasi, singkong, jagung, atau ubi. Terakhir, bahan yang
(AutoRecovered).pdf" sudah busuk, dan bahan organik yang belum busuk seperti
rebung, sabut kelapa, atau bahan organik lainnya juga bisa dimanfaatkan
(Mulyono, 2014).
Rebung Bambu
dipermukaan dasar rumpun yang dipenuhi oleh gugut atau rambut bambu (Silaban
et al, 2017). Selama musim hujan, rebung bambu tumbuh dengan pesatnya, dalam
beberapa minggu tunas tersebut sudah tinggi. Dalam waktu 9-10 bulan rebung
telah mencapai tinggi maksimal 25- 30 cm. Beberapa jenis rebung terbentuk pada
permulaan musim hujan, selain itu ada yang terbentuk pada akhir musim hujan.
Musim panen rebung biasanya jatuh sekitar bulan Desember hingga Februari atau
Kingdom : Plantae
12
Devisi : Spermatophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Bambusa
serta kandungan lemah yang rendah (Das, 2019). Rebung merupakan sumber serat
2.23 - 4.20 g dalam 100 berat basah dalam bentuk tepung, irisan tipis dan kapsul.
Tepung rebung varietasi, Bambusa tuldoides dan Bambusa vulgaris dengan kadar
air < 10g/100, protein, lipida dan kadar abu < 3 g/100 g serta berpotensi
mendapatkan ekstrak serat > 60 g / 100 g . Rebung dapat diolah menjadi produk
disebabkan adanya lignin (insoluble fiber), pektin, dan glukan (insoluble fiber)
yang mampu mengikat zat-zat organik seperti kolesterol dan asam empedu
dkk., 2021).
Jantung Pisang
Jantung pisang adalah bunga yang dihasilkan oleh pokok pisang. Struktur
jantung pisang terdiri dari banyak lapisan kulit yang terdiri dari bagian luar
berwarna gelap cokelat-ungu kemerahan dan di bagian dalam berwarna putih krim
susu. Jantung pisang mempunyai cairan berwarna jernih dan akan menjadi pudar
13
warnanya apabila jantung pisang terkena udara dari luar lingkungan sekitarnya
produksi sel darah merah, meningkatkan produktivitas air susu, regenerasi sel.
serta kandungan serat. Kandungan gizi per 100 g jantung pisang segar adalah
energi 31 kkal, protein 1,2 g, lemak 0.3 g, karbohidrat 7.1 g, kalsium 3,1 mg,
fosfor 50 mg, zat besi 0,1, vitamin A 170 mg, vitamin B1 0,05 mg, vitamin C 10
tinggi dari jagung sehingga cocok digunakan sebagai bahan pakan alternatif
alkaloid, prelifenol, steroid, flavoroid dan substansi lainnya yang paling efektif
Kuning Telur
Kuning telur merupakan salah satu bagian dari telur yang merupakan
makanan bagi embrio. Pada umumnnya kuning telur dimanfaatkan sebagai bahan
makanan karena memiliki gizi yang tinggi (Sidiq., 2014). Protein telur merupakan
protein yang bermutu tinggi dan mudah dicerna. Protein lebih banyak terdapat
pada kuning telur, sebanyak 16,5% sedangkan pada putih telur sebanyak 10,9%.
Hampir semua lemak terdapat pada kuning telur, yaitu mencapai 32%, sedangkan
pada putih telur lemak dalam jumlah sedikit. Dengan kata lain, putih telur
14
merupakan sumber lemak, sedangkan kuning telurnya merupakan sumber protein
(Widarta, 2018).
Asam lemak utamanya adalah asam oleat, palmitat, linoleat dan asam stearat.
sehari hari. Telur mengandung hampir semua vitamin kecuali vitamin C. Vitamin
B 12. Mineral dalam telur yaitu besi, fosfor, kalsium, tembaga, yodium,
magnesium, mangan, potasium, sodium, zink, klorida dan sulfur. Kuning telur
Hipotesis Penelitian
dasar dari MOL dan kuning telur berdasarkan lama pemberian dapat
15
16
BAB III
Materi penelitian
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 9 ekor kelinci dengan
umur 4 bulan dan sampel daging kelinci bagian kaki (hindleg), Pakan yang
digunakan ada 2 jenis yaitu pakan basal dan pakan tambahan. Pakan basal
merupakan konsentrat khusus kelinci, dan pakan tambahan yaitu feed addictive
Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang kelinci, alat
kebersihan, disinfektan, wadah pakan dan minum, timbangan, gelas ukur, ember,
gunting, pisau, pisau scalpel nampan, penggaris, alat tulis dan kamera, laptop.
Metode penelitian
17
P0 = pakan basal
Yij = µ + αi +Ɛ(i)j
Keterangan
ekor kelinci.. Penelitian ini menggunakan kelinci local sebanyak 9 ekor dengan
umur ±4 bulan. Kelinci dipelihara selama 1 bulan dengan pemberian pakan basal,
feed addictive dan setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan atau 3 ekor keilnci.
Dalam pembuatan feed addictive adalah membuat fermentasi dari gula aren
atau gula jawa dan ditambah dengan MOL nasi. Bahan-bahan lain seperti jantung
pisang, rebung bambu digunakan sebagai sumber nutrisi. Pertama rebung bambu
dicacah menjadi kecil dan ditambahkan gula merah dengan perbandingan 1:1
kemudian dimasukan kedalam wadah tertutup tanpa udara atau anerob. Begitu
18
juga dengan jantung pisang diperlakukan sama dengan rebung. Setelah itu
diamkan selama 14 hari sampai berbentuk dan terbentuk cairan. Selanjutnya setiap
bahan di saring menggunakan kain dan diperas agar semua kecapnya keluar.
Kemudian setelah terkumpul kecap disimpan dalam wadah yang tertutup dan
diberi label. Sedangkan untuk kuning telur digunakan dalam bentuk segar tanpa
fermentasi.
Persiapan Kandang
sanitasi yang bertujuan untuk mensterilkan kendang dari bibit penyakit. Kandang
kelinci yang digunakan terbuat dari bahan galvanis dan berkerangka kayu.
Kandang kelinci memiliki 2 sekat atau 3 pintu sehingga dapat menampung 3 ekor
gerabah pakan dan wadah minum menggunkakan botol yang telah dipasang nipel.
Pemeliharaan
pemberian feed addictive dan setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan atau 3 ekor
keilnci.
Pemberian pakan basal dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi jam 8.00
WIB dan sore jam 6.00 WIB. Pakan yang diberikan yaitu pakan basal diberikan
secara restricted atau pemberian pakan yang dibatasi. Feed addictive diberikan
sekali sehari pada pagi hari setelah pemberian pakan basal. Feed addictive
19
diberikan secara oral atau dispet melalui mulut ternak karena berbentuk cair.
Pemberian air minum diberikan secara tidak terbatas, tetapi jika pagi hari tidak
Kebutuhan nutrisi pakan untuk kelinci yaitu 16-18% protein kasar, 10-12%
serat kasar, 3-5% lemak kasar, dan energi yang dibutuhkan 2500 – 2900 kkal/ kg.
Kandungan nutrisi dari bahan penyusun ransum yang tersaji pada Tabel 1,
menyayat pada bagian leher hingga memotong bagian (trachea, vena jugularis,
arteri carotis dan esopagus), selanjutnya kelinci di gantung dengan posisi kepala
pada bagian sendi korpus dan pada bagian pangkal ekor, setelah itu di sayat secara
melintang pada bagian kaki depan sampai ke dada, bagian kaki belakang sampai
20
ke anus, dan di sayat secara vertical pada bagian dada ke bagian anus , selajutnya
secara vertikal dari ekor ke bagian dada, stelah itu jeroan dikeluarkan
menggunakan tangan.
kimia daging kelinci dilakukan dengan cara memotong bagian kaki (hindleg) pada
setiap ekor kelinci, selanjutnya dipisahkan antara daging dan tulangnya dan di
Variable Penelitian
Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah kualitas kimia daging
Kadar air
dikeringkan dalam oven dengan suhu 105˚C sampai berat konstan. Kemudian
21
( BB awal−BB akhir )
Kadar Air (%) = = 100 %
BBawal
Kadar Protein
biaya dan menghemat waktu dan sejumlah besar sampel yang perlu dianalisis.
1. Destruksi (Digesting)
2. Destilasi
asam borat atau asam lain yang sesuai. Ini menghasilkan garam
amonium.
3. Titrasi
22
(HCl) atau asam sulfat (H₂SO₄). Hasil titrasi ini digunakan untuk
Kadar Lemak
digunakan.
ukurannya.
itu ditimbang
23
6. Kertas saring diikat kemudian dimasukkan kedalam alat ekstraksi
Soxhlet.
Soxhlet
ditimbang
12. Setelah selesai, pelarut kemudian disuling kembali dan labu lemak
( B− A )
perhitungan: % kadar lemak = 100 %
Berat Sample (C)
Analisis data
24
dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test )
25
DAFTAR PUSTAKA
Abustam, E., M. Nur, H., dan A. Akbar. 2014. Pengaruh lama perendalam asap
cair konsentrasi 10% dan lama penyimpanan terhadap daya ikat air dan
daya putus daging. JIIP. 1(2): 141-149.
Astija, A, dan Djaswintari, D., (2020). Analisis Kandungan Lemak pada Abon
yang Dibuat dari Jantung Pisang (Musa paradisiaca) dan Ikan Sidat
(Anguilla marmorata). [Link] Coll 9,241–246.
26
lokal (MOL) dari nasi basi terhadap pupuk organik cair cangkang
telur. BIOSFER: Jurnal Biologi Dan Pendidikan Biologi, 6(2), 79-86.
Fadlilah, A., Rosyidi D., dan Susilo A. 2020 . Chemical Quality of Fresh New
Zealand White Rabbit Meat in Batu Indonesia. The 6th International
Conference on Advanced Engineering and Technology (ICAET 2019). IOP
Conf. Series: Materials Science and Engineering 811 (2020) 012024. IOP
Publishing. doi:10.1088/1757- 899X/811/1/012024
Hakim, U.N., Rosyidi D dan Widati, A.S. 2013. Pengaruh penambahan tepung
garut terhadap kualitas fisik dan organoleptik nugget kelinci. Jurnal Ilmu
dan Teknologi Hasil Ternak. 8(2): 9-22.
Juanda, Irfan, dan Nurdiana. (2011). “Pengaruh Metode Dan Lama Fermentasi
Terhadap Mutu Mol (Mikroorganisme Lokal”. Jurnal Floratek. 6, 140 –
143.
Judge, M. D., E. D. Aberle, J. C. Forrest, H.B. Hedrick and R.S. Merkel. 1989.
Principles of Meat Science. 2nd. Ed. Kendall / Hunt Publishing Co.
Dubuque,
Kuntoro, B., I. Mirdhayati dan T. Adelina. 2007. Penggunaan ekstrak daun katuk
(Sauropus androgunus [Link]) sebagai bahan pengawet alami daging sapi
segar. J. Peternakan. 4(1) : 6- 12.
Kurniawan. J., Tugiyanti. E., Susanti. E. 2021. Pengaruh Pemberian Feed Additive
Sebagai Pengganti Antibiotik Terhadap Konsumsi Pakan dan Pertambahan
Bobot Badan Ayam Broiler. Journal of Animal Science and Technology.
Vol. 3. No. 2.
27
Lebas, F., P. Coudert, D. de Rochambeau, dan R. G. Thebault. 1997. The Rabbit
Husbandry, Health and Production. Food and Agriculture Organization of
The United Nations, Rome.
Lesson, S., dan Summer, J. D. (2005). Comercial Poultry Nutrition 3rd edition.
Canada: University Guelph.
Mulyono. 2014. “Membuat Mol dan Kompos dari Sampah Rumah Tangga”.PT.
AgroMedia Pustaka : Jakarta
Novitasari, A., Afin, A. M. S., Apriliani, L. W., Purnamasari, D., Hapsari, E., dan
Ardiyani, N. D. 2013. Inovasi dari Jantung Pisang (Musa spp.). Jurnal
Kesmadaska 96-99.
Nuriyasa, I.M. 2016. Beternak kelinci lokal di dataran rendah tropis. Majalah
nandaka. peluang bisnis. Jurnal Aves. Fakultas Peternakan. Universitas
Udayana: Denpasar. Hal. 35-37.
Raharjo, Y. C. 2008. Potential and prospect of small and medium scale rabbit
industry in Indonesia. Proceedings: International Conference on Rabbit
Production 24-25th July 2007. Indonesian Centre for Animal Research and
28
Development Agency of Agricultural Research and Development
Department of Agriculture. Bogor. Page:116-124.
Sáez-Plaza, P., Navas, M. J., Wybraniec, S., Michałowski, T., dan Asuero, A. G.
(2013). An Overview of the Kjeldahl Method of Nitrogen Determination.
Part II. Sample Preparation, Working Scale, Instrumental Finish, and
Quality Control. Critical Reviews in Analytical Chemistry, 43(4), 224–
272. [Link]
Saputri, Gusti Rai, dkk. 2019. Penetapan Kadar Protein Pada Daun Kelor Muda
Dandaun KelorTua ( Moringaoleifera L.) dengan Menggunakanmetode
Kjeldahl. Jurnal AnalisFarmasi. Vol. 4(2): 108-116
Sarwono, B. 2003. Kelinci Potong dan Hias. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Seoparno. 2009. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan ke empat. UGM Press:
Yogyakarta.
Sidiq., 2014. Uji Kadar Protein Organoleptik Pada Telur Ayam Leghorn Setelah
Disuntikan Dengan Ekstrak Black Garlic. Skripsi, Fakultas Keguruan Dan
Ilmu Pendidikan. Universitas Muhamadiyah. Surakarta.
29
Siudak, Z., D, Kowalska. 2023. Dietary supplements used in rabbit nutrition and
their effect on the fatty acid profile of rabbit meat - a review. Journal of
Animal and Feed Sciences, doi: 10.22358/jafs/172585/2023.
Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging (Cetakan Kedua). Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Sudarmadji, S., Haryono, B., dan Suhardi. 2007. Analisis Bahan Makanan dan
Pertanian. Edisi kedua. Liberty. Yogyakarta.
30