0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
184 tayangan34 halaman

Pengaruh Feed Additive pada Daging Kelinci

Proposal penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lama pemberian feed additive, yaitu kuning telur dan MOL nasi, terhadap kualitas kimia daging kelinci. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi penting bagi pengembangan ilmu nutrisi ternak kelinci dan meningkatkan produktivitas serta kesehatan ternak. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi sumber informasi bagi komunitas ilmiah dan industri peternakan kelinci.

Diunggah oleh

bayu.d.saptaji
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
184 tayangan34 halaman

Pengaruh Feed Additive pada Daging Kelinci

Proposal penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lama pemberian feed additive, yaitu kuning telur dan MOL nasi, terhadap kualitas kimia daging kelinci. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi penting bagi pengembangan ilmu nutrisi ternak kelinci dan meningkatkan produktivitas serta kesehatan ternak. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi sumber informasi bagi komunitas ilmiah dan industri peternakan kelinci.

Diunggah oleh

bayu.d.saptaji
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH LAMA PEMBERIAN FEED ADDITIVE YANG


BERBEDATERHADAP KUALITAS KIMIA DAGINAG KELINCI

Oleh :

AHMAD TRI HARTOKO


NIM : 210210023

PROGRAM STUDI PETERNAKAN


FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA
2024

1
HALAMAN PENGESAHAN

PENGARUH LAMA PEMBERIAN FEED ADDITIVE YANG BERBEDA


TERHADAP KUALITAS KIMIA DAGINAG KELINCI

Yang diajukan oleh :


AHMAD TRI HARTOKO
NIM 210210023

Diajukan Kepada Fakultas Agroindustri Universis Mercu Buana Yogyakarta


Untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh derajat Sarjana Peternakan

Telah disetujui oleh :

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Dr. Ir. Sri Hartati Candra Dewi, [Link] Ir. Nur Rasminati, MP.,
NIDN. 0519056201 NIDN. 0506036401

Yogyakarta, Oktober 2024


Dekan Fakultas Agroindustri
Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Dr. Chatarina Lilis Suryani, [Link]., M.P.


NIDN. 0509037001

i
DAFTAR ISI

PROPOSAL PENELITIAN...................................................................................i

HALAMAN PENGESAHAN.................................................................................i

DAFTAR ISI..........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1

Latar Belakang.................................................................................................................1

Tujuan Penelitian.............................................................................................................4

Manfaat Penelitian...........................................................................................................4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................6

Kelinci..............................................................................................................................6

Kualitas Daging................................................................................................................8

Kadar air.......................................................................................................................9

Protein........................................................................................................................10

Lemak.........................................................................................................................10

Feed Addictive................................................................................................................11

MOL (Mikro Organisme Lokal)....................................................................................11

Rebung Bambu...........................................................................................................12

Jantung Pisang............................................................................................................13

Kuning Telur..............................................................................................................14

Hipotesis Penelitian........................................................................................................15

BAB III MATERI DAN METODE....................................................................16

Waktu dan tempat..........................................................................................................16

Materi penelitian............................................................................................................16

Metode penelitian...........................................................................................................16

Pembuatan feed addictive..........................................................................................17

ii
Persiapan Kandang.....................................................................................................18

Pemeliharaan..............................................................................................................18

Pengambilan sempel daging kelinci...........................................................................19

Variable Penelitian.........................................................................................................20

Analisis data...................................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................24

iii
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Usaha peternakan merupakan suatu usaha untuk menghasilkan bahan

pangan sumber protein hewani salah satunya adalah daging. Usaha peternakan

yang digunakan sebagai sumber penghasil daging selain unggas dan sapi adalah

kelinci. Kelinci merupakan ternak alternatif yang memiliki potensi yang baik

untuk dikembangkan sebagai penghasil daging sehingga dapat melengkapi dalam

pemenuhan kebutuhan protein hewani

Ternak kelinci merupakan salah satu ternak alternatif yang dapat

digunakan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat yang semakin

meningkat. Ternak kelinci adalah salah satu komoditas peternakan yang memiliki

kualitas daging dengan struktur serat lebih halus dengan warna dan bentuk

menyerupai daging ayam, serta kandungan protein yang lebih tinggi dan

kandungan lemak yang rendah dibanding ternak sapi dan domba, selain itu

kandungan kolesterolnya rendah yaitu 1,39 g/kg. (Kartadisastra., 2001).

Sedangkan menurut (Rukmana, 2005) kandungan protein daging kelinci 18,7%,

kadar lemak lebih rendah (6,2%), jika dibandingkan dengan lemak daging sapi

yang dapat mencapai 18,3% sedang lemak domba 17,5 %.

Kelinci merupakan ternak yang memiliki laju pertumbuhan dan

perkembangbiakan yang relatif cepat. Daging kelinci memiliki keunggulan bila

dibandingkan dengan daging yang dihasilkan dari ternak lain seperti kadar protein
yang tinggi dan kadar lemak yang rendah. daging kelinci memiliki kandungan

protein tinggi dan rendah kolesterol sehingga bisa dikatakan “daging sehat” untuk

dikonsumsi karena komposisi dari daging kelinci terdiri dari 20,8% protein dan

10,2% lemak. kandungan protein daging kelinci 20,7%, untuk daging sapi 19,3%

dan untuk daging domba 18,7%. Kadar lemak pada daging kelinci lebih rendah

dibandingkan lemak pada daging sapi dan domba yaitu 18,3% dan 17,5%. (Hakim

dkk., 2013).

Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi kelangsungan

peternakan, mengingat bahwa pakan merupakan biaya terbesar yang dikeluarkan

dalam usaha peternakan. Pada pola pemeliharaan secara intensif, biaya produksi

ternak terbesar berasal dari pakan berkisar antara 60-70%. Oleh karena itu, upaya

meningkatkan efisiensi pakan atau menurunkan biaya pakan merupakan suatu

keharusan (Murtisari.,2005). Untuk meningkatkan produktivitas kelinci

diperlukan pakan berkualitas dan mempunyai kandungan nutrien yang cukup,

sehingga pertumbuhan kelinci dapat maksimal. Selain pemberian pakan hijauan,

juga diberikan pakan penguat berupa konsentrat. Dalam meningkatkan efisiensi

pakan perlu dilakukan usaha untuk memperbaiki sistem pencernaan kelinci,

sehingga proses penyerapan zat makanan akan berjalan sempurna, salah satunya

dengan cara memberikan pakan tambahan (feed adictive).

Feed additive merupakan suatu bahan yang tidak termasuk dalam zat

makanan namun termasuk nutrient yang mampu memberikan pengaruh terhadap

kesehatan dan keadaan ternak yang dicampurkan ke dalam pakan dalam dosis

yang sedikit. Feed additive ditambahkan dengan sengaja dengan tujuan untuk

2
memperoleh pertumbuhan yang optimal karena memiliki peran terhadap

penyerapan zat makanan, mencegah penyakit dan menjaga kesehatan ternak, serta

meningkatkan efisiensi ternak ([Link],2021).

Telur ayam merupakan salah satu sumber pangan yang sangat umum dan

kaya akan nutrisi, terutama protein berkualitas tinggi. Telur mengandung semua

asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh, menjadikannya sumber protein

lengkap yang penting untuk pertumbuhan, perbaikan jaringan, dan fungsi tubuh

lainnya. Selain protein, telur juga kaya akan vitamin A, D, E, B12, riboflavin,

serta folat, dan merupakan sumber zat besi, fosfor, dan selenium. Menurut Lesson

dkk., (2005), telur ayam memiliki komposisi kimia yang meliputi air sebesar

73,6%, protein 12,8%, lemak 11,8%, karbohidrat 1,0%, dan nutrien lainnya

sebesar 0,8%.

Kuning telur mengandung lemak sehat, termasuk asam lemak omega-3

dan omega-6, yang baik untuk kesehatan jantung dan otak, menurut (Rahayu dkk.,

2019). Asam lemak omega-3 (DHA dan EPA) yang terkadung pada telur sangat

baik untuk kesehatan tubuh, terutama untuk perkembangan otak dan pencegahan

berbagai penyakit degeneratif. manfaat kuning telur sebagai bahan pembuatan

feed additive dapat di gunakan sebagai pengganti penggunaan antibiotik sintetis

yang dibatasi, penggunaan antibiotik yang berlebihan dapat menyebabkan residu

terhadap produk yang dihasilkan ternak dan tumbuhnya bakteri kebal antibiotik

(Willard et al., 2000).

Limbah rumah tangga seperti nasi basi seringkali dibuang begitu saja,

meskipun ada yang menggunakannya sebagai pakan ternak, namun

3
pemanfaatannya masih terbatas. Nasi sisa atau limbah dapat dijadikan bioaktivator

dengan menggunakan Mikro Organisme Lokal (MOL) sebagai alternatif

pengganti bahan kimia. Mikroorganisme adalah makhluk hidup yang tidak terlihat

dengan mata telanjang dan dapat dikelompokkan dalam kelas Protista yang

meliputi bakteri, jamur, protozoa, dan algae (Ekawandani dan Halimah, 2021).

Kandungan utama dari Mikro Organisme Lokal (MOL) meliputi karbohidrat,

glukosa, dan berbagai sumber mikroorganisme lainnya. Penggunaan tambahan

pakan dalam ransum bertujuan untuk menambah atau meningkatkan ketersediaan

zat gizi yang seringkali kurang dalam ransum, sehingga dapat meningkatkan

produktivitas dan kesehatan ternak serta meningkatkan efisiensi produksi.

Berdasarkan informasi di atas, perlu dilakukan penelitian untuk

menginvestigasi dampak penambahan flushing MOL Nasi dan kuning telur dalam

pakan terhadap kualitas kimia daging kelinci yang meliputi pengecekan

kandungan lemak, kandungan protein, dan kandungan kadar air. Hasil penelitian

ini di harapkan mampu memberikan informasi terkait dengan pengembangan ilmu

nutrisi pada ternak kelinci.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian feed

addictive pakan kuning telur dan mol nasi berdasarkan lama pemberian yang

berbeda terhadap kualitas kimia pada daging kelinci.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini dapat berfungsi sebagai sumber informasi yang

4
bermanfaat bagi komunitas ilmiah, peneliti, serta industri peternakan kelinci.

Hasil penelitian ini juga bertujuan untuk memahami hasil produktivitas berupa

sifat kimia daging kelinci yang diberi pakan menggunakan campuran kuning telur

dan MOL nasi, serta dapat menjadi landasan pengetahuan untuk studi lanjutan.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kelinci

Kelinci adalah satu jenis hewan ternak mamalia dari family leporidae yang

banyak ditemukan dibeberapa bagian bumi. Di indonesia, khususnya di Pulau

Jawa, kelinci mulai diternakkan pada tahun 1835 yang mulai dari orang orang

Belanda. Jadi, ternak kelinci di Indonesia sudah ada sejak tahun 1800- an silam.

Kelinci merupakan mamalia kecil yang memiliki bulu yang halus dan hewan

bertulang belakang. Ternak kelinci mempunyai keunggulan dalam kualitas daging

karena kandungan protein daging yang tinggi dan kandungan lemak yang rendah.

Permintaan masyarakat daging meningkat pesat, memberikan peluang potensial

pada pengembangan ternak kelinci (Nuriyasa.,2016).

Klasifikasi kelinci menurut (Rinanto et al.,2018)

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Kelas : Mamalia
Ordo : Legomorpha
Famili : Leporidae
Genus : Oryctolagus
Spesies : Oryctolagus cuniculus

Pemeliharaan kelinci memiliki potensi biologis dan ekonomis yang tinggi

dengan kemampuan berkembangbiak 4-6 kali dalam setahun serta mampu

menghasilkan anak 4-10 ekor per kelahiran, selain itu kelinci berpotensi

6
menghasilkan daging dengan kualitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan

masyarakat (Supriyadi dkk.,2014).

Berdasarkan bobot tubuh kelinci menurut Sarwono.,(2003) di bagi menjadi

menjadi tiga tipe yaitu:

1. Kelinci tipe kecil berbobot antara 0,9--2,0 kg, umur 4--6 bulan sudah siap

kawin, umumnya dipelihara untuk ternak hias dan ternak kesayangan

seperti varietas Dutch, Lop Dwarf, Nederland Dwarf, Polish, dan Siamese.

2. Kelinci tipe sedang berbobot antara 2,0--4,0 kg, umur 7--8 bulan baru bisa

dikawinkan, dipelihara terutama untuk ternak penghasil daging sekaligus

kulit bulu seperti varietas Californian, Carolina, Champagne d’Argent,

English Spot, New Zealand, Rex, dan Simonoire.

3. Kelinci tipe berat berbobot 5,0--8,0 kg, umur 10--12 bulan baru bisa

dikawinkan, dipelihara untuk ternak penghasil daging sekaligus bulu

seperti varietas Checkered Giant, Flemish Giant alias Vlaamsereus, dan

Giant Chinchilla.

Potensi biologis yang paling signifikan dari kelinci adalah kemampuan

reproduksi yang tinggi untuk tumbuh dan berkembang biak dari hijauan, limbah

sayuran, dan hasil produk pakan yang mudah tersedia dan murah di sebagian besar

daerah pedesaan di Indonesia (Raharjo.,2008). Suhu dan kelembaban lingkungan

ideal untuk kelinci yaitu suhu 16˚C--22˚C (Rajeshwari dan Guruprasad, 2008) dan

kelembaban 60%--65% (Lebas et al.,1997) menyatakan bahwa suhu yang panas

dengan kelembaban mendekati 100% dapat menyebabkan masalah serius pada

kelinci. Suhu ideal bagi ternak ini ialah 23–25 C. Suhu tersebut mendekati zona

7
nyaman bagi kelinci ras ini (Anonim.,2022).

Kualitas Daging

Kelinci mulai dikenal sebagai ternak alternatif penghasil daging karena

keunggulan reproduksi yang tinggi, pertumbuhan yang baik dan mampu

beradaptasi dengan pakan lokal. Selain itu, kualitas daging yang bagus dengan

kandungan nutrisi seperti protein yang tinggi dengan kandungan lemak dan

kolesterol rendah menjadikan daging kelinci sebagai daging sehat. selain itu

daging kelinci memiliki tekstur yang empuk, rasa yang khas dan mudah dicerna

(Lestari et al, 2000).

Daging kelinci dikenal karena nilai gizinya, ramping, mudah dicerna, dan

kaya akan asam amino esensial dan asam lemak tak jenuh. Selain itu, daging

kelinci 103 telah ditemukan memiliki nilai biologis protein hewani yang tinggi,

asam amino esensial, dan kandungan kolesterol rendah, menjadikannya alternatif

yang sehat untuk sumber daging lainny (Siudak et al, 2023). Selanjutnya, profil

nutrisi daging kelinci, dengan proporsi asam lemak n-3 yang lebih tinggi dan

kadar lemak intramuskular, kolesterol, dan natrium yang lebih rendah,

menunjukkan potensi manfaat kesehatan bagi konsumen (Kumar et al, 2023).

Daging kelinci termasuk dalam makanan fungsional karena kandungan

protein yang cukup tinggi, asam lemak tak jenuh (oleat dan linoleat; 60% dari

semua asam lemak) serta kandungan kolesterol yang rendah sehingga cocok

dikonsumsi penderita darah tinggi, jantung, kelinci memiliki kandungan energi

110,47 Kkal/100 gram, karbohidrat 0,43%, protein 19,99%, lemak 2,31%, kadar

8
air 75,84% dan abu 1,43% (Fadlilah et al., 2020).

Kualitas kimia daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah

pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas

daging adalah genetik, spesies bangsa, dan bahan aditif (hormon, antibiotik dan

mineral) serta keadaan stress, (Soeparno 2009). Faktor setelah pemotongan

meliputi kualitas kadar air, kadar lemak, dan kadar protein. Hal tersebut

disebabkan oleh karakteristik daging antara lain kadar air yang tinggi (68- 75%),

kaya nitrogen, memiliki pH yang cocok untuk pertumbuhan mikroorganisme yaitu

5,3 – 6,5 (Balitnak., 2005).

Karakteristik kimia daging kelinci

Kadar air
Kadar air merupakan persentase kandungan air suatu bahan yang dapat

dinyatakan berdasarkan berat basah atau berat kering. Salah satu faktor yang

memperngaruhi kadar air setelah penyembelihan yakni lama penyimpanan daging,

hal tersebut dapat mengakibatkan kadar air daging sedikit berkurang sehingga

menyebabkan tidak terjadi tekanan osmosis dari daging. Kuntoro et al., (2007)

menyatakan bahwa menurunnya kadar air disebabkan adanya tekanan osmosis.

Tekanan osmosis merupakan pertukaran air antara sel dengan lingkungan karena

perbedaan konsentrasi. Salah satu faktor yang mempengaruhi kadar air daging

kelinci dapat juga terjadi pada sebelum penyembelihan yakni tingkat dehidrasi

pada ternak kelinci tersebut. Lawrie (2003) menyatakan bahwa kadar air daging

segar lebih dipengaruhi tingkat dehidrasi ternak sebelum pemotongan.

9
Protein
Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar

tubuh sesudah air. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan

oleh zat gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.

Fungsi lain dari protein adalah untuk mengatur keseimbangan air, pembentukan

ikatan-ikatan essensial tubuh, memelihara netralitastubuh, sebagai pembentuk

antibodi, mengatur zat gizi dan sebagai sumber energi (Saputri dkk.,2019).

Daging kelinci sendiri memiliki keunggulan dalam beberapa kandungan

zat gizi, menurut Lebas et al. (1986) Kandungan zat gizi dalam 100 gram daging

kelinci mengandung protein 20,8 g. faktor yang mempengaruhi kandungan

protein pada daging kelinci berhubungan dengan kandungan kadar air dan kadar

lemak pada daging kelinci, apabila kadar air dan kadar lemak pada dgaing kelinci

meningkat akan menyebabkan penurunan kandungan protein pada daging kelinci

tersebut. Menurut Idriastuti.,(2012) bahwa kadar protein menurun selama masa

simpan diduga karena ada hubungan dengan nilai kadar air dan lemak yang

cenderung meningkat.

Lemak

Menurut Lehninger.,(1982) lemak merupakan bagian dari lipid yang

mengandung asam lemak jenuh bersifat padat. Lemak merupakan senyawa

organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut

organik nonpolar, misalnya dietil eter (C₂H₅OC₂H₅), kloroform (CHCl₃),

10
benzena,hexana dan hidrokarbon lainnya.

Kandungan kadar lemak bervariasi dan dipengaruhi oleh rumpun, umur,

spesies, lokasi otot dan pakan (Judge et al., 1989). Perletakan lemak pada tubuh

kelinci terjadi disekitar rusuk, sepanjang tulang belakang, daerah paha, sekitar

leher, ginjal dan jantung (Bogart, 1981).

Feed Addictive

Feed addictive adalah bahan pakan tambahan untuk meningkatkan

produktivitas dan kualitas produksi ternak, dan zat tambahan tersebut terdiri dari

tambahan vitamin dan mineral, antibiotik dan hormon. Zat additive yang

diberikan pada ternak digolongkan menjadi 5 yaitu: [Link] tambahan, 2.

Mineral tambahan, 3. Antibiotik, 4. Anabolik (hormonal), 5. Agroindustri

(Agustina 2006). Imbuhan pakan atau feed additive merupakan bahan yang

tercampur didalam pakan dengan sengaja berfungsi untuk kesehatan, produktivitas

maupun keadaan gizi ternak. Enzim, antibiotik, probiotik, asam organik,

prebiotik, pewarna, perasa serta antioksidan adalah imbuhan pakan yang sering

digunakan pada industri perunggasan (Dzaky, 2014).

MOL (Mikro Organisme Lokal)

Mikro Organisme Lokal adalah kumpulan mikroorganisme yang dapat

dibudidayakan dan berfungsi sebagai starter dalam pembuatan bokasi atau

kompos. Menurut Direktorat Pengelolaan Lahan, MOL adalah larutan yang

terbentuk dari campuran bahan-bahan alami yang disukai tanaman sebagai media

11
hidup dan berkembangnya mikroorganisme. MOL berguna untuk mempercepat

proses penghancuran bahan-bahan organik (Juanda et al, 2011).

Untuk memperbanyak MOL, diperlukan air dan bahan yang mengandung

glukosa atau gula seperti gula pasir, gula merah, air kelapa, atau batang tebu.

Selain itu, dibutuhkan bahan yang mengandung karbohidrat atau tepung seperti air

cucian beras, limbah nasi, singkong, jagung, atau ubi. Terakhir, bahan yang

mengandung mikroba pengurai tinggi seperti buah-buahan busuk, nasi basi,

batang pisang yang "C:\Users\AHMAD\Documents\PROPOSAL AHMAD TRI H

(AutoRecovered).pdf" sudah busuk, dan bahan organik yang belum busuk seperti

rebung, sabut kelapa, atau bahan organik lainnya juga bisa dimanfaatkan

(Mulyono, 2014).

Rebung Bambu

Rebung merupakan tunas bambu yang masih muda yang muncul

dipermukaan dasar rumpun yang dipenuhi oleh gugut atau rambut bambu (Silaban

et al, 2017). Selama musim hujan, rebung bambu tumbuh dengan pesatnya, dalam

beberapa minggu tunas tersebut sudah tinggi. Dalam waktu 9-10 bulan rebung

telah mencapai tinggi maksimal 25- 30 cm. Beberapa jenis rebung terbentuk pada

permulaan musim hujan, selain itu ada yang terbentuk pada akhir musim hujan.

Musim panen rebung biasanya jatuh sekitar bulan Desember hingga Februari atau

Maret (Angkat, 2017). Rebung bambu merupakan tumbuhan yang biasanya

ditanam di pekarangan atau tumbuh di tepi hutan atau sungai.

Klasifikasi ilmiah rebung bambu (Muhtar et al.,2017)

Kingdom : Plantae

12
Devisi : Spermatophyta
Classis : Liliopsida
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Genus : Bambusa

Secara umum rebung bambu memiliki kandungan yang penting bagi

kesehatan diantaranya protein, asam amino, karbohidrat, vitamin dan mineral,

serta kandungan lemah yang rendah (Das, 2019). Rebung merupakan sumber serat

dapat dimanfaatkan sebagai nutraceutical. Rebung mengandung serat sebanyak

2.23 - 4.20 g dalam 100 berat basah dalam bentuk tepung, irisan tipis dan kapsul.

Tepung rebung varietasi, Bambusa tuldoides dan Bambusa vulgaris dengan kadar

air < 10g/100, protein, lipida dan kadar abu < 3 g/100 g serta berpotensi

mendapatkan ekstrak serat > 60 g / 100 g . Rebung dapat diolah menjadi produk

fermentasi yang diketahui menghasilkan Bakteri Asam Laktat, bermanfaat bagi

mikroflora usus sebagai probiotik. Kandungan serat tinggi dari rebung

disebabkan adanya lignin (insoluble fiber), pektin, dan glukan (insoluble fiber)

yang mampu mengikat zat-zat organik seperti kolesterol dan asam empedu

sehingga jumlah asam lemak pada saluran pencernaan berkurang (Okfrianti,Y.,

dkk., 2021).

Jantung Pisang

Jantung pisang adalah bunga yang dihasilkan oleh pokok pisang. Struktur

jantung pisang terdiri dari banyak lapisan kulit yang terdiri dari bagian luar

berwarna gelap cokelat-ungu kemerahan dan di bagian dalam berwarna putih krim

susu. Jantung pisang mempunyai cairan berwarna jernih dan akan menjadi pudar

13
warnanya apabila jantung pisang terkena udara dari luar lingkungan sekitarnya

(Novitasari dkk., 2013).

Jantung pisang berguna untuk memperlancar pencernaan, meningkatkan

produksi sel darah merah, meningkatkan produktivitas air susu, regenerasi sel.

Banyak mengandung protein,karbohidrat, mineral fosfor, kalsium, vitamin B1, C,

serta kandungan serat. Kandungan gizi per 100 g jantung pisang segar adalah

energi 31 kkal, protein 1,2 g, lemak 0.3 g, karbohidrat 7.1 g, kalsium 3,1 mg,

fosfor 50 mg, zat besi 0,1, vitamin A 170 mg, vitamin B1 0,05 mg, vitamin C 10

mg, air 90,2 g (Astija dkk., 2020).

Kandungan karbohidrat pada jantung pisang tergolong tinggi, bahkan lebih

tinggi dari jagung sehingga cocok digunakan sebagai bahan pakan alternatif

pengganti jagung (Farhana, 2013). Jantung pisang mengandung laktagogum yang

memiliki potensi dalam menstimulasi hormon oksitosin dan prolaktin seperti

alkaloid, prelifenol, steroid, flavoroid dan substansi lainnya yang paling efektif

dalam meningkatkan dan memperlancar produksi ASI (Pratiwi et al, 2021).

Kuning Telur

Kuning telur merupakan salah satu bagian dari telur yang merupakan

makanan bagi embrio. Pada umumnnya kuning telur dimanfaatkan sebagai bahan

makanan karena memiliki gizi yang tinggi (Sidiq., 2014). Protein telur merupakan

protein yang bermutu tinggi dan mudah dicerna. Protein lebih banyak terdapat

pada kuning telur, sebanyak 16,5% sedangkan pada putih telur sebanyak 10,9%.

Hampir semua lemak terdapat pada kuning telur, yaitu mencapai 32%, sedangkan

pada putih telur lemak dalam jumlah sedikit. Dengan kata lain, putih telur

14
merupakan sumber lemak, sedangkan kuning telurnya merupakan sumber protein

(Widarta, 2018).

Lemak pada telur: trigliserida (lemak netral), fosfolipida dan kolestrol.

Asam lemak utamanya adalah asam oleat, palmitat, linoleat dan asam stearat.

Fungsi fosfolipida umumnya menyediakan energi yang diperlukan untuk aktivitas

sehari hari. Telur mengandung hampir semua vitamin kecuali vitamin C. Vitamin

A, D, E, K, Thiamin, riboflavin, asam pantotenat, niasin, asam folat, dan vitamin

B 12. Mineral dalam telur yaitu besi, fosfor, kalsium, tembaga, yodium,

magnesium, mangan, potasium, sodium, zink, klorida dan sulfur. Kuning telur

cukup tinggi kandungan kolesterolnya (Agustina., 2022).

Hipotesis Penelitian

Hipotesis dari penelitian ini adalah penambahan Feed addictive berbahan

dasar dari MOL dan kuning telur berdasarkan lama pemberian dapat

meningakatkan kualitas kimia daging kelinci berupa kandungan kadar air

protein, dan lemak.

15
16
BAB III

MATERI DAN METODE

Waktu dan tempat

Penelitian akan dilaksanakan pada tanggal Oktober – Desember 2024

yang bertempat di Karanggawang, Mororejo, Tempel, Sleman, Daerah Istimewa

Yogyakarta. Analisis kimia daging kelinci dilakukan di Laboratorium Nutrisi Dan

Teknologi Hasil Ternak, Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Materi penelitian

Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 9 ekor kelinci dengan

umur 4 bulan dan sampel daging kelinci bagian kaki (hindleg), Pakan yang

digunakan ada 2 jenis yaitu pakan basal dan pakan tambahan. Pakan basal

merupakan konsentrat khusus kelinci, dan pakan tambahan yaitu feed addictive

(MOL dan kuning telur).

Alat

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang kelinci, alat

kebersihan, disinfektan, wadah pakan dan minum, timbangan, gelas ukur, ember,

gunting, pisau, pisau scalpel nampan, penggaris, alat tulis dan kamera, laptop.

Metode penelitian

Metode yang digunakan adalah metoda eksperimental dengan rancangan

dasar acak lengkap pola searah dengan 3 perlakuan, yaitu :

17
P0 = pakan basal

P1 = pakan basal + 15% MOL + 85% kuning telur + 10 hari

P2 = pakan basal + 15% MOL + 85% kuning telur + 15 hari


Model Matematik Rancangan Acak Lengkap (RAL) Searah :

Yij = µ + αi +Ɛ(i)j

Keterangan

Yij : nilai hasil pengamatan perlakuan ke i ulangan ke j dalam penelitian


µ : konstanta, rata rata pengamatan dalam penelitian
αi : efek yang diambil oleh perlakuan ke i dalam penelitian
Ɛ(i)j : error, gallat, kesalahan percobaan, kesalahan akibat faktor faktor tidak
diketahui (tidak terkontrol dalam penelitian) yaitu faktor lain di luar
perlakuan
i : perlakuan ke i, i = 1,2,3….
j : ulangan ke j, j = 1,2,3….
Setiap perlaukuan diulang sebanyak 3 kali, masing masing menggunakan 3

ekor kelinci.. Penelitian ini menggunakan kelinci local sebanyak 9 ekor dengan

umur ±4 bulan. Kelinci dipelihara selama 1 bulan dengan pemberian pakan basal,

feed addictive dan setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan atau 3 ekor keilnci.

Pembuatan feed addictive

Dalam pembuatan feed addictive adalah membuat fermentasi dari gula aren

atau gula jawa dan ditambah dengan MOL nasi. Bahan-bahan lain seperti jantung

pisang, rebung bambu digunakan sebagai sumber nutrisi. Pertama rebung bambu

dicacah menjadi kecil dan ditambahkan gula merah dengan perbandingan 1:1

kemudian dimasukan kedalam wadah tertutup tanpa udara atau anerob. Begitu

18
juga dengan jantung pisang diperlakukan sama dengan rebung. Setelah itu

diamkan selama 14 hari sampai berbentuk dan terbentuk cairan. Selanjutnya setiap

bahan di saring menggunakan kain dan diperas agar semua kecapnya keluar.

Kemudian setelah terkumpul kecap disimpan dalam wadah yang tertutup dan

diberi label. Sedangkan untuk kuning telur digunakan dalam bentuk segar tanpa

fermentasi.

Persiapan Kandang

Tempat pemeliharaan baik kendang maupun lingkungan dilakukan proses

sanitasi yang bertujuan untuk mensterilkan kendang dari bibit penyakit. Kandang

kelinci yang digunakan terbuat dari bahan galvanis dan berkerangka kayu.

Kandang kelinci memiliki 2 sekat atau 3 pintu sehingga dapat menampung 3 ekor

kelinci dalam 1 kandang. Peralatan kandang seperti tempat pakan menggunakan

gerabah pakan dan wadah minum menggunkakan botol yang telah dipasang nipel.

Pemeliharaan

Penelitian ini menggunakan kelinci sebanyak 9 ekor berjenis kelamin

betina dengan umur ±4 bulan . Kelinci dipelihara selama 15 hari dengan

pemberian feed addictive dan setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan atau 3 ekor

keilnci.

Pemberian pakan basal dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi jam 8.00

WIB dan sore jam 6.00 WIB. Pakan yang diberikan yaitu pakan basal diberikan

secara restricted atau pemberian pakan yang dibatasi. Feed addictive diberikan

sekali sehari pada pagi hari setelah pemberian pakan basal. Feed addictive

19
diberikan secara oral atau dispet melalui mulut ternak karena berbentuk cair.

Pemberian air minum diberikan secara tidak terbatas, tetapi jika pagi hari tidak

habis diganti dengan yang baru dan menggunakan air bersih.

Kandungan nutrisi pakan kelinci

Kebutuhan nutrisi pakan untuk kelinci yaitu 16-18% protein kasar, 10-12%

serat kasar, 3-5% lemak kasar, dan energi yang dibutuhkan 2500 – 2900 kkal/ kg.

Kandungan nutrisi dari bahan penyusun ransum yang tersaji pada Tabel 1,

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Pakan Basal (Giant Feed)


Nutrisi (Giant Feed)
Mineral (%) 15
Lemak (%) 4
Protein (%) 16
Serat kasar (%) 13
Karbohidrat (%) 52
Kalium (mg/kg) 787
PhospoqQr (mg/kg) 567
Sumber : Kemasan Giant Feed

Pengambilan sempel daging kelinci

Kelinci sebanyak 9 ekor yang telah dipelihara selama 15 hari diambil

sampel sebanyak 9 ekor , kemudian proses pemotongan di mulai dengan

menyayat pada bagian leher hingga memotong bagian (trachea, vena jugularis,

arteri carotis dan esopagus), selanjutnya kelinci di gantung dengan posisi kepala

di bawah agar darah mengalir keluar dengan maksimal,

Proses pengulitan di mulai dengan memotong bagian kepala, kedua kaki

pada bagian sendi korpus dan pada bagian pangkal ekor, setelah itu di sayat secara

melintang pada bagian kaki depan sampai ke dada, bagian kaki belakang sampai

20
ke anus, dan di sayat secara vertical pada bagian dada ke bagian anus , selajutnya

kulitt perlahan di kupas sampai semua kulit terlepas.

Pengeluaran jeroan dilakukan dengan cara menyayat pada bagian perut

secara vertikal dari ekor ke bagian dada, stelah itu jeroan dikeluarkan

menggunakan tangan.

Proses pengambilan sampel daging yang akan digunakan untuk analisis

kimia daging kelinci dilakukan dengan cara memotong bagian kaki (hindleg) pada

setiap ekor kelinci, selanjutnya dipisahkan antara daging dan tulangnya dan di

lanjutkan mengambil sampel daging.

Variable Penelitian

Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah kualitas kimia daging

kelinci yang meliputi kandungan kadar air, protein, dan lemak.

Kadar air

Pengukuran kadar air berdasarkan Sudarmadji (2007) yaitu sampel

dimasukkan ke dalam cawan yang telah diketahui bobotnya, selanjutnya

dikeringkan dalam oven dengan suhu 105˚C sampai berat konstan. Kemudian

dinginkan di dalam desikator dan ditimbang. Pengeringan dilakukan sampai

diperoleh bobot yang konstan.

21
( BB awal−BB akhir )
Kadar Air (%) = = 100 %
BBawal

Kadar Protein

Sistem analisis protein semi-otomatis atau otomatis sepenuhnya

berdasarkan metode klasik prosedur Kjeldahl lebih disukai untuk menghemat

biaya dan menghemat waktu dan sejumlah besar sampel yang perlu dianalisis.

Prosedur Kjeldahl melibatkan tiga langkah utama, yaitu digesti, distilasi,

dan titrasi. (Sáez-Plaza et al, 2013).

1. Destruksi (Digesting)

Sampel daging dihancurkan dan dipanaskan dengan asam sulfat

pekat (H₂SO₄) bersama katalis seperti selenium atau tembaga, untuk

menguraikan protein menjadi amonia (NH₃). Reaksi ini mengubah

nitrogen organik menjadi ion amonium (NH₄⁺).

2. Destilasi

Amonia yang terbentuk diuapkan dan ditangkap dalam larutan

asam borat atau asam lain yang sesuai. Ini menghasilkan garam

amonium.

3. Titrasi

Kandungan amonia dalam larutan asam kemudian ditentukan

melalui titrasi menggunakan asam standar, misalnya asam klorida

22
(HCl) atau asam sulfat (H₂SO₄). Hasil titrasi ini digunakan untuk

menghitung jumlah nitrogen dalam sampel.

Rumus perhitungan kadar protein adalah sebagai berikut :

( a−b ) × NHCL ×14


Perhitungan : % kadar protein= 100 %
Berat Sample (mg)

% kadar protein = % N × factor konversi

Keterenagn : A = ml titrasi sampel


B = ml titrasi blangko
N = normalitas larutan asam sulfat
14 = berat akivalen nitrogen
Fk = 6,25 (besarnya factor perkalian N pada sampel)

Kadar Lemak

Langkah langkah dalam proses analisis kandungan lemak pada daging

menggunakan metode soxhlet (AOAC, 2005).adalah sebagai berikut:

1. Labu lemak disiapkan dan ditimbang terlebih dahulu sebelum

digunakan.

2. Labu lemak kemudian dikeringkan dalam oven selama 30

menitdalam suhu 105˚ C.

3. Sampel ditimbang tepat 3 gram di dalam kertas saring yang sesuai

ukurannya.

4. Sampel didinginkan dalam desikator selama 20 menit setelah

itu ditimbang

5. Pelarut lemak dimasukkan kedalam labu lemak secukupnya.

23
6. Kertas saring diikat kemudian dimasukkan kedalam alat ekstraksi

Soxhlet.

7. Dituang pelarut (hexana) secukupnya ke dalam alat ekstraksi

Soxhlet

8. Kemudian didinginkan di dalam desikator selama 20 menit dan

ditimbang

9. Setelah selesai diekstraksi maka dikeluarkan contoh dan pelarutnya

10. Dihidupkan air pendingin dan pemanas kemudian dilakukan

ekstraksi hingga semua lemak terpisah

11. Labu lemak dikeringkan sekitar 60 menit di dalam oven

12. Setelah selesai, pelarut kemudian disuling kembali dan labu lemak

diangkat dan dikeringkan dalam oven pada suhu 105˚ C

Pengukuran kadar lemak dihitung menggunakan rumus sebagai berikut

( B− A )
perhitungan: % kadar lemak = 100 %
Berat Sample (C)

Keterangan : B = berat labu lemak akhir


A = berat labu lemak awal
S = berat sampel

Analisis data

Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan Analysis Of

Variance (ANOVA). Jika terdapat perbedaan pada setiap perlakuan maka

24
dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test )

25
DAFTAR PUSTAKA

Abustam, E., M. Nur, H., dan A. Akbar. 2014. Pengaruh lama perendalam asap
cair konsentrasi 10% dan lama penyimpanan terhadap daya ikat air dan
daya putus daging. JIIP. 1(2): 141-149.

Agustina,N., 2022. Telur dan Kandungannya. Kementrian Kesehatan, Dirjen


Pelayanan Kesehatan. [Link] akses 19 Februari
2023, pukul 07.30 WIB.

Angkat. M.2017. Respon Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Terong Ungu


(Solanum melongena L.) Terhadap Penggunaan Limbah Beglog Dengan
Pemberian Ekstrak Rebung Bambu. Skripsi, Agroteknologi Universitas
Medan Area.

Anonim. (2022). Kelinci New Zealand. [Link]/2022/05/30/kelinci-


new-zealand. Diakses 07 maret 2024, pukul 13.54 WIB

Anonimous. 2013. Isi Kandungan Jantung Pisang Segar. [Link]


[Link]/1970/01/isi kandungan-gizi-jantung pisang-segar komposisi
nutrisi-bahan [Link]. (Diakses 20 Januari 2014)

Astija, A, dan Djaswintari, D., (2020). Analisis Kandungan Lemak pada Abon
yang Dibuat dari Jantung Pisang (Musa paradisiaca) dan Ikan Sidat
(Anguilla marmorata). [Link] Coll 9,241–246.

Balitnak. 2005. [Link] [Link]/publikasi/[Link].


Diakses April 2013.

Belabbas, R., M. D. L. L. Garcia, H. Ainbaziz, N. Benali, A. Berbar, Z. Boumahdi,


dan M. J. Argente. 2019. Growth performances, carcass traits, meat
quality, and blood metabolic parameters in rabbits of local Algerian
population and synthetic line. VET. WORLD. 12(1): 55-62.

Bogart, R. 1981. Reproductive ability and carcass merit of smart, intermediate


and large breeds of rabbits. J. Appl. Rabbit. Res. 4 (2) : 45-46.

Das, M. (2019). Bamboo : Inherent source of nutrition and medicine. Journal of


Pharmacognosy and Phytochemistry, 8(2), 1338–1344.

Dzakiy, M. A. (2014). Optimalisasi Feed Additive Herbal Terhadap Bobot Badan,


Lemak Abdominal dan Glukosa Darah Ayam Broiler. Bioma: Jurnal
Ilmiah Biologi, 3.

Ekawandani, N., dan Halimah, N. (2021). Pengaruh penambahan mikroorganisme

26
lokal (MOL) dari nasi basi terhadap pupuk organik cair cangkang
telur. BIOSFER: Jurnal Biologi Dan Pendidikan Biologi, 6(2), 79-86.

Fadlilah, A., Rosyidi D., dan Susilo A. 2020 . Chemical Quality of Fresh New
Zealand White Rabbit Meat in Batu Indonesia. The 6th International
Conference on Advanced Engineering and Technology (ICAET 2019). IOP
Conf. Series: Materials Science and Engineering 811 (2020) 012024. IOP
Publishing. doi:10.1088/1757- 899X/811/1/012024

Farhana. (2013). Pemanfaatan Jantung Pisang Kepok Kuning (Musa Paradisiaca)


Tepung Kedelai Dan Tepung Tapioka Sebagai Bahan Tambahan Pada
Bakso Daging Sapi. Skripsi, Universitas Muhammadiyah Surakarta:
Surakarta

Hakim, U.N., Rosyidi D dan Widati, A.S. 2013. Pengaruh penambahan tepung
garut terhadap kualitas fisik dan organoleptik nugget kelinci. Jurnal Ilmu
dan Teknologi Hasil Ternak. 8(2): 9-22.

Indriastuti, M. 2012. “Analisi Kualitas Auditor dan Corporate Governance


Terhadap Manajemen Laba”. Eksistansi (ISSN 2085-2401), Vol. IV, No.
2, Agustus 2012.

Juanda, Irfan, dan Nurdiana. (2011). “Pengaruh Metode Dan Lama Fermentasi
Terhadap Mutu Mol (Mikroorganisme Lokal”. Jurnal Floratek. 6, 140 –
143.

Judge, M. D., E. D. Aberle, J. C. Forrest, H.B. Hedrick and R.S. Merkel. 1989.
Principles of Meat Science. 2nd. Ed. Kendall / Hunt Publishing Co.
Dubuque,

Kartadisastra ,H.R. 2001. Beternak kelinci unggul. Kanisius, Yogyakarta.

Kumar, S, A., H, J, Kim., D, D, Jayasena., C, Jo. 2023. On-Farm and Processing


Factors Affecting Rabbit Carcass and Meat Quality Attributes. Food
science of animal resources, 43(2):197-219. doi: 10.5851/kosfa.2023.e5

Kuntoro, B., I. Mirdhayati dan T. Adelina. 2007. Penggunaan ekstrak daun katuk
(Sauropus androgunus [Link]) sebagai bahan pengawet alami daging sapi
segar. J. Peternakan. 4(1) : 6- 12.

Kurniawan. J., Tugiyanti. E., Susanti. E. 2021. Pengaruh Pemberian Feed Additive
Sebagai Pengganti Antibiotik Terhadap Konsumsi Pakan dan Pertambahan
Bobot Badan Ayam Broiler. Journal of Animal Science and Technology.
Vol. 3. No. 2.

Lawrie, R. A. 2003. Meat Science. 5th Ed. Perganon Press, Oxford.

27
Lebas, F., P. Coudert, D. de Rochambeau, dan R. G. Thebault. 1997. The Rabbit
Husbandry, Health and Production. Food and Agriculture Organization of
The United Nations, Rome.

Lebas, F., P. Coudet, R. Rouvier and H. de Rochambeau. 1986. The Rabbit,


Husbandry, Health and Production. FAO. Animal Production and Health
Series No. 21. Rome, Italy.

Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Lesson, S., dan Summer, J. D. (2005). Comercial Poultry Nutrition 3rd edition.
Canada: University Guelph.

Lestari, S. CM., Purbawati, E. dan Santoso, T. [Link] Kelinci


Menggunakan Pakan Limbah Industri Pertanian Sebagai Salah Satu
Alternatif Pemberdayaan Petani Miskin. Fakultas [Link]
Diponegoro. Semarang

Muhtar, D. F., Sinyo, Y. dan Ahmad, H. 2017. Pemanfaatan Tumbuhan Bambu


Oleh Masyarakat di Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan. J.
Saintifik. 1(1) : 36 – 44.

Mulyono. 2014. “Membuat Mol dan Kompos dari Sampah Rumah Tangga”.PT.
AgroMedia Pustaka : Jakarta

Murtisari T. 2005. . Lokakarya Nasional Potensi dan Peluang Pengembangan


Usaha Kelinci. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bandung,
30 September 2005. [Link]. [5 April 2007].

Novitasari, A., Afin, A. M. S., Apriliani, L. W., Purnamasari, D., Hapsari, E., dan
Ardiyani, N. D. 2013. Inovasi dari Jantung Pisang (Musa spp.). Jurnal
Kesmadaska 96-99.

Nuriyasa, I.M. 2016. Beternak kelinci lokal di dataran rendah tropis. Majalah
nandaka. peluang bisnis. Jurnal Aves. Fakultas Peternakan. Universitas
Udayana: Denpasar. Hal. 35-37.

Okfrianti,Y., Catur H., Fahrurrozi and Budiyanto., 2021. The Potencial Of


Bamboo Shoot For Health. Jurnal AGRITEPA, Vol.8, No.2,

Pratiwi, A. M., Fatikasari, S., dan Pratiw, E. N. (2021). Pengaruh Konsumsi


Jantung Pisang Batu Terhadap Produksi Air Susu Ibu Post Partum Di Desa
Banyutowo. Jurnal Bimtas, 5(2), 108-115.

Raharjo, Y. C. 2008. Potential and prospect of small and medium scale rabbit
industry in Indonesia. Proceedings: International Conference on Rabbit
Production 24-25th July 2007. Indonesian Centre for Animal Research and

28
Development Agency of Agricultural Research and Development
Department of Agriculture. Bogor. Page:116-124.

Rahayu, I. and Cyrilla, L. (2019) ‘Triple Helix Dalam Pengembangan Telur


Omega 3- IPB’, Seminar Nasional ABDIMAS II .

Rajeshwari, Y. B. dan R. Guruprasad. 2008. Environment-It’s Role in Rabbit


Management. Proceedings: International Conference on Rabbit
Production 24-25th July 2007. Indonesian Centre for Animal Research and
Development Agency of Agricultural Research and Development
Department of Agriculture. Bogor. Page:116-124

Rinanto, A. U., N. O. A., Kusnanti dan A. Widyogo. 2018. Pengaruh penggunaan


tepung daun belimbing manis (Averrhoa carambola L.) sebagai substitusi
pakan kelinci terhadap peforma kelinci Hyla hycole. J. Aves. 12(1): 9 – 20.

Rinanto, A. U., N. O. A., Kusnanti dan A. Widyogo. 2018. Pengaruh penggunaan


tepung daun belimbing manis (Averrhoa carambola L.) sebagai substitusi
pakan kelinci terhadap peforma kelinci Hyla hycole. J. Aves. 12(1): 9 – 20.

Rukhmana. H. R., 2005. Prospek Beternak Kelinci.


[Link]/new [Link] tanggal 27 Februari 2016.

Sáez-Plaza, P., Navas, M. J., Wybraniec, S., Michałowski, T., dan Asuero, A. G.
(2013). An Overview of the Kjeldahl Method of Nitrogen Determination.
Part II. Sample Preparation, Working Scale, Instrumental Finish, and
Quality Control. Critical Reviews in Analytical Chemistry, 43(4), 224–
272. [Link]

Saputri, Gusti Rai, dkk. 2019. Penetapan Kadar Protein Pada Daun Kelor Muda
Dandaun KelorTua ( Moringaoleifera L.) dengan Menggunakanmetode
Kjeldahl. Jurnal AnalisFarmasi. Vol. 4(2): 108-116

Sarwono, B. 2003. Kelinci Potong dan Hias. Agro Media Pustaka. Jakarta.

Seoparno. 2009. Ilmu dan Teknologi Daging. Cetakan ke empat. UGM Press:
Yogyakarta.

Sidiq., 2014. Uji Kadar Protein Organoleptik Pada Telur Ayam Leghorn Setelah
Disuntikan Dengan Ekstrak Black Garlic. Skripsi, Fakultas Keguruan Dan
Ilmu Pendidikan. Universitas Muhamadiyah. Surakarta.

Silaban, M., Herawati, N., dan Zalfiatri, Y. (2017). Pengaruh Penambahan


Rebung Dalam Pembuatan Nugget Ikan Patin (Pangasius hypothalamus).
Jom Faperta, 4(2), 1–13.

29
Siudak, Z., D, Kowalska. 2023. Dietary supplements used in rabbit nutrition and
their effect on the fatty acid profile of rabbit meat - a review. Journal of
Animal and Feed Sciences, doi: 10.22358/jafs/172585/2023.

Soeparno. 1994. Ilmu dan Teknologi Daging (Cetakan Kedua). Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Sudarmadji, S., Haryono, B., dan Suhardi. 2007. Analisis Bahan Makanan dan
Pertanian. Edisi kedua. Liberty. Yogyakarta.

Supriyadi, Minarti, S. dan Cholis, N. 2014. Karakteristik Karkas Kelinci


Peranakan New Zealand white yang diberi Pakan Limbah Kubis (Brassica
oleracea) tercemar Pestisida. Skripsi, Fakultas Peternakan, Universitas
Brawijaya, Malang.

Wardhani, E., Irmansyah, A. Z., dan Fitriani, N. A. (2023). Determining the


Status of the Setiamanah Reservoir Ecosystem in Cimahi City of West
Java Province. International Journal of GEOMATE, 25(108), 38-49

Widarta, I. wayan R. 2018. Teknologi telur. Journal of chemical information and


modeling, 53(9), 1689–1699.

Willard, M. D., R. B. Simpson, N. D. Cohen and J. S. Clancy. 2000. Effects of


dietary fructooligosaccharide onselected bacterial populations in feces of
dogs. Am. [Link]. Res. 61: 820–825.

30

Anda mungkin juga menyukai