TOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA
Diajukan Sebagai Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Pendidikan Agama
Dosen Pengampu: Uswatun Hasanah, [Link].,[Link].
Disusun Oleh:
SI 1 A
Muhammad Rifki Sitorus (19220172)
Rizky Fadila (19220111)
Dina Pertiwi (19220039)
Dinda Rizka Agustina (19220141)
Firda Agis Utami Batubara (19220290)
Siska Amanada (19220491)
Siti Azura Mustika (19220338)
Sekolah Tinggi Manajemen Ilmu Komputer Royal Kisaran
STMIK ROYAL KISARAN
T.A 2019/2020
Kata Pengantar
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan
karunia-Nya kepada Tim Penyusun, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Toleransi Antar Umat Beragama dalam mata kuliah Pendidikan Agama ini.
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Ibu
Uswatun Hasanah, [Link].,[Link]. sebagai Dosen Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam.
Adapun selain itu, pembuatan makalah ini juga dimaksudkan sebagai penambah referensi
bagi pembaca yang ingin mengetahui tentang toleransi antar umat beragama dengan lebih
dalam dan sistematis.
Besar harapan kami bahwa makalah ini dapat memberi banyak manfaat kepada pembaca.
Adapun kami sebagai Tim Penyusun menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kata
sempurna, sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang sopan sekaligus membangun.
Kisaran, 05 Desember 2019
Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Toleransi adalah sesuatu yang sangat penting sebagai alat pemersatu. Tanpa adanya toleransi,
kehidupan yang penuh dengan kemajemukan ini tidak akan bisa bersatu. Indonesia adalah
sebuah negara yang plural dan memiliki banyak kultur dasar yang berbeda, baik berupa suku
dan agama. Itulah kenapa toleransi adalah pondasi yang sangat penting bagi kehidupan
bermasyarakat di Indonesia.
Tetapi ada banyak tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh intoleransi yang terjadi
belakangan ini, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh bagian dunia lain. Tuduhan
bahwa agama ikut andil dalam memicu konflik bahkan sebagai sumber konflik yang terjadi
antar umat beragama memang sulit untuk dibantahkan. Banyak peristiwa-peristiwa berbau
SARA yang menjadi pemicu munculnya konflik di dunia ini.
Dalam konteks toleransi antar umat beragama, Islam memiliki konsep yang jelas: ‘Tidak Ada
Paksaan dalam Agama’ dan ‘Bagi Kalian Agama Kalian, Bagi Kami Agama Kami’. Menurut
ajaran Islam, toleransi bukan hanya terhadap manusia saja, tetapi juga terhadap alam semesta,
binatang, dan lingkungan hidup.
Dalam toleransi yang luas ini, toleransi antar-umat beragama memperoleh perhatian penting
dan serius. Toleransi antar umat beragama adalah masalah yang menyangkut eksistensi
keyakinan manusia terhadap Allah yang begitu sensitif, primordial, dan mudah membakar
konflik, sehingga menyedot perhatian besar terhadap umat Islam itu sendiri.
Toleransi antar umat beragama adalah cara agar kebebasan beragama dapat terlindungi
dengan baik. Kebebasan dan toleransi tidak dapat diabaikan. Namun yang sering kali terjadi
adalah penekanan dari salah satunya, contohnya penekanan kebebasan yang mengabaikan
toleransi dan usaha untuk merukunkan dengan memaksakan toleransi dengan membatasi
kebebasan.
Toleransi dan kebebasan bagai dua mata pisau yang saling berlawanan satu sama lain.
Keduanya harus dipahami secara benar dan berdampingan agar tidak memberi pemahaman
yang salah bagi umat beragama di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian toleransi?
2. Bagaimana toleransi dalam pandangan Islam?
3. Bagaimanakah toleransi dalam beragama atau berdampingan dengan hidup orang
lain?
4. Apa saja manfaat-manfaat dari sikap toleransi?
5. Apa yang akan terjadi bila toleransi di dalam masyarakat diabaikan?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian toleransi dalam berbagai sudut pandang
2. Agar pembaca dapat memahami toleransi dari sudut pandang Islam
3. Memberi pemahaman bahwa toleransi beragama dan bersosial dalam sudut pandang
Islam
4. Agar pembaca mengetahui manfaat mempraktikan toleransi di masyarakat
5. Mengetahui resiko bila terjadi pengabaian toleransi
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Toleransi
Toleransi adalah kata serapan yang diambil dari bahasa Inggris yaitu kata tolerance yang
memiliki arti membiarkan. Sehingga, menurut etimologi katanya, toleransi adalah tindakan
pembiaran. Sedangkan jika dikaitkan dengan bahasa Arab, toleransi sepadan dengan kata
tasamuh dan ikhtimal yang artinya adalah mengizinkan atau bisa juga diartikan saling
memudahkan.
Sehingga, dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa toleransi adalah tindakan
yang membiarkan atau mengizinkan seseorang melakukan sesuatu. Toleransi dalam
beragama memiliki pengertian yang cukup sederhana. Dalam hal ini, toleransi adalah
tindakan saling menghargai antar umat beragama. Tidak perduli apapun agama yang dianut,
antar masyarakat harus saling menghargai satu sama lain.
Toleransi juga dapat disimpulkan sebagai sikap menghargai dan menghormati setiap orang
yang berbeda-beda baik secara etnis, ras, bahasa, budaya, politik, pendirian, kepercayaan
maupun tingkah laku.
Menurut Syekh Salim bin Hilali, ada 8 karakteristik yang harus ada dalam setiap tindakan
bertoleransi, yakni:
1. Memiliki sikap rela hati dalam kemuliaan dan kedermawanan,
2. Kelapangan dada karena kebersihan dan ketaqwaan,
3. Bersikap lemah lembut,
4. Muka yang ceria karena kegembiraan,
5. Rendah diri di hadapan kaum muslimin dan bukan karena kehinaan,
6. Mudah dalam berhubungan sosial (mu'amalah) tanpa penipuan dan kelalaian,
7. Memudahkan urusan dakwah ke jalan Allah,
8. Terikat dan tunduk kepada agama Allah SWT tanpa rasa keberatan.
Selain karakteristik toleransi, Salim Al-Hilali juga menyatakan bahwa ada 3 hal yang
mendasari sikap toleransi seorang muslim, yakni Islam, iman, dan akhlak yang baik.
Tetapi, kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haqbil bathil
(mencampuradukan antara hak dan bathil) yakni suatu sikap yang sangat dilarang dilakukan
oleh seorang muslim. Contoh dari talbisul haqbil bathil adalah menikah antar agama dengan
toleransi sebagai landasannya.
B. Toleransi dalam Pandangan Islam
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi toleransi dan konsep dasar toleransi yang
dimiliki oleh Islam tertera dalam surah Al-Kafiruun ayat 6:
َل
ُكْمِديُنُكْمَوِلَيِديِن
Artinya:
“Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”
Saling menghargai dalam iman dan keyakinan adalah konsep Islam yang amat komprehensif.
Konsekuensi dari prinsip ini adalah lahirnya spirit taqwa dalam beragama. Karena taqwa
kepada Allah melahirkan rasa persaudaraan universal di antara umat manusia. Abu Ju’la
dengan amat menarik mengemukakan, “Semua makhluk adalah tanggungan Allah, dan yang
paling dicintainya adalah yang paling bermanfaat bagi sesama tanggungannya”.
Contoh lain wujud toleransi Islam kepada agama lain diperlihatkan oleh Umar bin Khattab.
Umar membuat sebuah perjanjian dengan penduduk Yerussalem, setelah kota suci itu
ditaklukan oleh kaum Muslimin.
Di sini, saling tolong-menolong di antara sesama umat manusia muncul dari pemahaman
bahwa umat manusia adalah satu kesatuan, dan akan kehilangan sifat kemanusiaannya bila
mereka menyakiti satu sama lain. Tolong-menolong, sebagai bagian dari inti toleransi,
menjadi prinsip yang sangat kuat di dalam Islam.
Dalam hubungannya dengan orang-orang yang tidak seagama, Islam mengajarkan agar umat
Islam berbuat baik dan bertindak adil. Selama tidak berbuat aniaya kepada umat Islam. Al-
Qur’an juga mengajarkan agar umat Islam mengutamakan terciptanya suasana perdamaian,
hingga timbul rasa kasih sayang diantara umat Islam dengan umat beragama lain. Kerjasama
dalam bidang kehidupan masyarakat seperti penyelenggaraan pendidikan, pemberantasan
penyakit sosial, pembangunan ekonomi untuk mengatasi kemiskinan, adalah beberapa contoh
kerja sama yang dilakukan antara umat Islam dengan umat beragama lain.
Namum perlu ditegaskan lagi, toleransi tidak dapat disamakan dengan mengakui kebenaran
semua agama dan tidak pula dapat diartikan kesediaan untuk mengikuti ibadat-ibadat agama
lain. Toleransi harus dibedakan dari komfromisme, yaitu menerima apa saja yang dikatakan
orang lain asal bisa menciptakan kedamaian dan kebersamaan (Ajat Sudrajat, 2008:146).
C. Toleransi dalam Beragama dan Hidup Berdampingan dengan Agama Lain
Dalam hubungannya dengan orang-orang yang tidak seagama, Islam mengajarkan agar umat
Islam berbuat baik dan bertindak adil. Selama tidak berbuat aniaya kepada umat Islam. Al-
Qur’an juga mengajarkan agar umat Islam mengutamakan terciptanya suasana perdamaian,
hingga timbul rasa kasih sayang diantara umat Islam dengan umat beragama lain.
Kerjasama dalam bidang kehidupan masyarakat seperti penyelenggaraan pendidikan,
pemberantasan penyakit sosial, pembangunan ekonomi untuk mengatasi kemiskinan, adalah
beberapa contoh kerja sama yang dilakukan antara umat Islam dengan umat beragama lain.
(Ajat Sudrajat, 2008:145).
Selain itu, Islam juga mengajarkan bagaimana bertoleransi dalam kehidupan beragama
kepada umat muslim, yakni Islam dilarang untuk memaksa pemeluk agama lain untuk
memeluk agama Islam. Karena tidak ada paksaan dalam agama. Allah berfirman:
َال ِإْكَر اَه ِفي الِّديِن َقْد َتَبَّيَن الُّر ْش ُد ِمَن اْلَغِّي َفَمْن َيْكُفْر ِبالَّطاُغوِت
َوُيْؤِمْن ِبالَّلِه َفَقِد اْس َتْمَس َك ِباْلُعْرَوِة اْلُوْثَقى َال اْنِفَصاَم َلَها َوالَّلُه
َس ِميٌع َعِليٌم
“Tidak ada paksaan dalam masuk ke dalam agama Islam, karena telah jelas antara petunjuk
dari kesesatan. Maka barangsiapa yang ingkar kepada thoghut dan beriman kepada Alloh
sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kuat yang tidak akan pernah
putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” ( Qs. Al-Baqoroh : 256 )
َأ
َفَذِّكْر ِإَّنَما ْنَت ُمَذِّكٌر َلْسَت َعَلْيِهْم ِبُمَس ْيِطٍر
“Berilah peringatan, karena engkau ( Muhammad ) hanyalah seorang pemberi peringatan,
engkau bukan orang yang memaksa mereka.” ( Qs. Al-Ghosyiyah : 21 -22 )
Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut menjelaskan: Janganlah memaksa seorangpun
untuk masuk Islam. Islam adalah agama yang jelas dan gamblang tentang semua ajaran dan
bukti kebenarannya, sehingga tidak perlu memaksakan seseorang untuk masuk ke dalamnya.
Orang yang mendapat hidayah, terbuka, lapang dadanya, dan terang mata hatinya pasti ia
akan masuk Islam dengan bukti yang kuat. Dan barangsiapa yang buta mata hatinya, tertutup
penglihatan dan pendengarannya maka tidak layak baginya masuk Islam dengan paksa.
Berikut beberapa toleransi dalam Islam:
Toleransi dalam Hal Sosial
Dalam hal ini Islam tidak melarang untuk bertoleransi. Seperti halnya Rasullallah SAW, di
jamannya Islam hidup berdampingan dengan kaum nasrani dan yahudi. Islam menjamin
kehidupan mereka dengan seadil-adil tentu tetap menggunakan dengan aturan Islam karena
aturan ini tidak bisa ditoleransikan. Acuan Islam terhadap keadilan.
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum karena mereka menghalang-
halangi kamu dari masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya kepada mereka. Dan
tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikandan taqwa dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan kemaksiatan dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu
kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Maidah: 2)
Pada saat itu Islam pun sering melakukan perniagaan dengan orang Nasrani atau yahudi. Dan
hal ini seperti yang dicontohkan Nabi Saw., dalam jual beli
Dari Jabir bin Abdullah Radliyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
pernah membeli onta dari dirinya, beliau menimbang untuknya dan diberatkan (dilebihkan).
Dari Abu Sofwan Suwaid bin Qais Radliyallahu 'anhu dia berkata : "Saya dan Makhramah
Al-Abdi memasok (mendatangkan) pakaian/makanan dari Hajar, lalu Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam mendatangi kami dan belaiu membeli sirwal (celana), sedang aku memiliki
tukang timbang yang digaji, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan tukang
timbang tadi. Beliau bersabda: Timbanglah dan lebihkan !"
Selain perniagaan, toleransi antar agama dalam Islam juga mencakup tolong-menolong
sesame dan menjenguk orang sakit.
“Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR.
Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)
Toleransi dalam Hal Sistem dan Prinsip Nilai Islam
Islam merupakan agama yang fleksibel dalam bertoleransi semua bisa bertoleransi, kecuali
dalam hal nilai dan prinsip yang telah ditentukan oleh Allah. Islam tidak memaksa orang lain
untuk mengikuti aturan Islam, namun Islam melindungi orang yang tunduk terhadap aturan
yang dibuat oleh Allah SWT.
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang
yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negrimu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (8) “Sesungguhnya Allah
hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu
karena agama dan mengusir kamu dari negrimu dan membantu (orang lain) untuk
mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah
orang-orang yang dhalim.” (Al-Mumtahanah: 8-9)
Ini beberapa hal yang tidak bisa di toleransikan oleh Islam walaupun hanya sedikit. Allah
Ta'ala dalam firmanNya:
“Katakanlah: wahai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah dan
kalian tidak menyembah apa yang aku sembah dan aku tidak menyembah apa yang kalian
sembah dan kalian tidak menyembah apa yang aku sembah bagi kalian agama kalian dan
bagiku agamaku”. (Al-Kafirun: 1-6).
Jadi, toleransi dalam Islam juga memiliki batas jika itu bersangkutan dengan nilai-nilai tauhid
yang menjadi dasar dalam Islam. Seorang muslim tidak dibatasi dalam bergaul dengan
seorang kafir, hanya saja dalam praktik ibadah dan hal-hal yang berkaitan, muslim tidak
boleh ikut campur sama sekali. Pun juga seorang kafir tidak boleh mengintervensi ibadah
seorang muslim.
D. Manfaat-manfaat dari Sikap Toleransi
Seperti yang sudah dijelaskan bahwa toleransi adalah sikap saling menghormati dan
kerjasama antara kelompok-kelompok yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya,
politik, ataupun agama. Berikut adalah beberapa manfaat toleransi dalam agama Islam :
Dapat Terhindar dari Adanya Perpecahan Antar Umat Beragama
Menanamkan toleransi di dalam diri sudah sepatutnya dilakukan oleh setiap manusia dan
diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Toleransi bahkan lebih baik jika
diterapkan di lingkungan-lingkungan yang justru menganut berbagai kepercayaan etnis, suku,
budaya dan agama.
Sebagai contoh adalah sikap toleransi antar umat beragama yang bias dilihat dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki lebih dari satu agama dan juga banyak sekali
suku dan budaya yang terdapat di dalamnya.
Dalam kaitanya ini Allah telah mengingatkan kepada umat manusia dengan pesan yang
bersifat universal, berikut firman Allah SWT:
َواْعَتِصُموْاِبَح ْباِل لّلِهَجِميًعاَوَالَتَفَّر ُقوْاَواْذُكُر وْاِنْعَمَةالّلِهَعَلْيُكْمِإْذُكنُتْمَأْعَداءَف
َأ َأ َأ
َّلَفَبْيَنُقُلوِبُكْمَف ْصَبْحُتمِبِنْعَمِتِهِإْخ َواًناَوُكنُتْمَعَلَىَش َفاُح ْفَر ٍةِّمَنالَّناِرَف نَقَذُكمِّم
ْنَهاَكَذِلَكُيَبِّيُنالّلُهَلُكْمآَياِتِهَلَعَّلُكْمَتْهَتُدوَن
”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa
Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu
Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Al-Imran:103)
Ini merupakan pesan kepada segenap umat manusia tidak terkecuali, yang intinya dalam
menjalankan agama harus menjauhi perpecahan antar umat beragama maupun sesama umat
beragama.
Dapat Mempererat Silaturahmi
Selain menghindari terjadinya perpecahan, toleransi dalam Islam akan saling mempererat
silaturahmi. Tidak dapat dipungkiri bahwa suatu perbedaan memang menjadi alasan sebuah
pertentangan golongan satu dan golongan lainnya. Hal inilah yang akan menghindarkan kita
dari perpecahan dan peperangan antar agama, kelompok, golongan, dan suku.
Pada umumnya, manusia tidak dapat menerima perbedaan antara sesamanya, perbedaan
dijadikan alasan untuk bertentangan satu sama lainnya. Perbedaan agama merupakan salah
satu faktor penyebab utama adanya konflik antar sesama manusia.
Oleh karena itu, hendaknya toleransi beragama kita jadikan kekuatan untuk memperkokoh
silaturahmi dan menerima adanya perbedaan. Dengan ini, akan terwujud perdamaian,
ketentraman, dan kesejahteraan.
Mempertebal Keimanan
Setiap agama tentu saja mengajarkan kebaikan kepada umatnya. Tidak ada agama di muka
bumi ini yang mengajarkan umatnya untuk hidup bermusuhan dengan sesame manusia.
Dengan menjaga kerukunan antara sesame manusia. Kita akan hidup damai dan sejahtera dan
hidup berdampingan.
E. Hal-hal yang Dapat Terjadi Apabila Toleransi Dalam Masyarakat Diabaikan
Berikut beberapa hal yang akan terjadi bila toleransi diabaikan adalah:
Menimbulkan konflik di dalam masyarakat dikarenakan tidak adanya saling
menghormati satu sama lain.
Semakin maraknya pelanggaran HAM yang disebabkan oleh reduksi universalitas
agama.
Terjadi pertentangan atau perselisihan antar agama yang satu dengan agama yang
lainnya. Apabila tidak ada sikap saling menghargai antara pemeluk agama yang
satu dengan pemeluk agama yang lain.
Yang terjadi adalah seseorang tidak dapat menerima orang lain yang berbeda
dengannya dan hanya ingin menunjukkan dirinya tanpa menghargai orang lain di
sekitarnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Toleransi adalah kata serapan yang diambil dari bahasa Inggris yaitu kata tolerance
yang memiliki arti membiarkan. Sehingga, menurut etimologi katanya, toleransi adalah
tindakan pembiaran. Sedangkan jika dikaitkan dengan bahasa Arab, toleransi sepadan
dengan kata tasamuh dan ikhtimal yang artinya adalah mengizinkan atau bisa juga
diartikan saling memudahkan.
2. Islam mengajarkan agar umat Islam berbuat baik dan bertindak adil. Selama tidak
berbuat aniaya kepada umat Islam. Al-Qur’an juga mengajarkan agar umat Islam
mengutamakan terciptanya suasana perdamaian, hingga timbul rasa kasih sayang
diantara umat Islam dengan umat beragama lain. .
3. Umat Islam dilarang untuk memaksa pemeluk agama lain untuk memeluk agama Islam
secara paksa. Karena tidak ada paksaan dalam agama. Sesuai dengan firman Allah
dalam Qs. Al-Baqoroh : 256.
4. Manfaat yang diperoleh dari sikap toleransi adalah Menghindari terjadinya perpecahan,
memperkokoh silaturahmi dan dapat menerima perbedaan. Akibat apabila toleransi
diabaikan adalah menimbulkan konflik di dalam masyarakat semakin maraknya
pelanggaran HAM.
5. Konflik dan maraknya pelanggaran HAM adalah Hal-hal yang dapat terjadi apabila
toleransi di dalam masyarakat diabaikan.
DAFTAR PUSTAKA
Ajat Sudrajat, Din Al Islam, Yogyakarta: UNY Press, 2008
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
Islam
[Link]
Syamsul Arifin, Toleransi Antar-Umat Beragama dalam Pandangan Islam, (Dalam
[Link] An Naba’[Link].,2009). Hlm. 4.