Pengaruh Cocopeat dan NPKMg pada Bibit Sawit
Pengaruh Cocopeat dan NPKMg pada Bibit Sawit
SKRIPSI
JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2023
PENGARUH PEMBERIAN COCOPEAT DAN NPKMg ([Link])
TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT
(Elaeis guineensis Jacq.) DI PEMBIBITAN UTAMA
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana
Pertanian pada Jurusan Agroekoteknologi
Fakultas Pertanian Universitas Jambi
JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JAMBI
2023
RINGKASAN
Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang menempati posisi penting di sektor
pertanian pada umumnya, dan khususnya di sektor perkebunan. Luas perkebunan
tanaman kelapa sawit di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan serta menjadi
eksportir terbesar kelapa sawit dunia. Namun seiring dengan peningkatan luas areal ini,
terdapat pula permasalahan lain yakni umur tanaman kelapa sawit yang sudah tua dan
dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya penurunan produksi di tahun berikutnya.
Oleh karena itu diperlukan tindakan peremajaan tanaman kelapa sawit. Untuk melakukan
peremajaan kelapa sawit maka diperlukan bibit yang unggul dan media tanam yang baik
dengan upaya pemberian cocopeat dan NPKMg ([Link]). Cocopeat merupakan salah
satu pembenah tanah (amelioran) yang mengandung bahan organik dan memiliki sifat
mudah menyerap air sehingga drainase dan aerasinya baik. cocopeat memiliki syarat yang
dibutuhkan oleh bibit kelapa sawit, baik N,P,K, C/N, KTK, dan pH. Hanya saja unsur
hara yang tersedia dalam cocopeat sedikit. Oleh sebab itu untuk memenuhi unsur hara
pada media, pemberian pupuk anorganik perlu dilakukan, dalam penelitian ini digunakan
pupuk NPKMg ([Link]) sebagai unsur hara pendukung yang diharapkan memberikan
dampak yang baik terhadap proses pertumbuhan tanaman.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh dan kombinasi pemberian cocopeat
dan pupuk NPKMg ([Link]) terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan
utama. Penelitian ini dilaksanakan di Teaching and Research Farm Fakultas Pertanian
Universitas Jambi, Kampus Unja Mendalo, Desa Mendalo Indah, Kecamatan Jambi Luar
Kota, Kabupaten Muaro Jambi dengan ketinggian + 35 mdpl. Waktu pelaksanaan selama
tiga bulan yaitu pada bulan Februari sampai Mei 2023. Rancangan yang digunakan adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari satu faktor yaitu pemberian cocopeat
dan NPKMg ([Link]) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan yaitu NPKMg ([Link])
sesuai dosis anjuran (25 g) (p0), cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis.
anjuran (p1), cocopeat 450 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran (p2), cocopeat
550 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran (p3), cocopeat 650 g + NPKMg
([Link]) setengah dosis anjuran (p4). Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali
sehingga terdapat 25 plot percobaan. Setiap satuan percobaan terdiri dari 3 tanaman
sehingga jumlah tanaman seluruhnya adalah 75 tanaman.
Setiap satuan percobaan diambil 2 tanaman yang dijadikan sebagai tanaman sampel
sehingga terdapat 50 tanaman sampel. Pengamatan dilakukan setiap dua minggu sekali
selama tiga bulan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, pertambahan jumlah
daun, bobot kering tajuk, bobot kering akar, rasio tajuk akar volume akar dan luas daun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian cocopeat dan NPKMg ([Link]) pada
pembibitan kelapa sawit di pembibitan utama mampu meningkatkan pertumbuhan
terhadap jumlah daun, luas daun dan bobot kering akar, namun belum mampu secara
nyata meningkatkan pertumbuhan variabel tinggi tanaman, bobot kering tajuk, rasio tajuk
akar dan volume akar. Pemberian perlakuan p1 (cocopeat 350 g + NPKMg ([Link])
setengah dosis anjuran) menunjukkan pertumbuhan bibit kelapa sawit lebih baik
dibandingkan hanya pengaplikasian pupuk NPKMg([Link]) sesuai dosis anjuran tanpa
cocopeat.
RIWAYAT HIDUP
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Adapun
judul dari skripsi ini adalah “Pengaruh Pemberian Cocopeat dan NPKMg
([Link]) Terhadap Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis
Jacq.) di Pembibitan Utama”.
Pada kesempatan ini dan dengan segala kerendahan hati penulis ingin
mengucapkan terimakasih atas bantuan, dukungan, bimbingan dan do’a baik secara
langsung maupun tidak langsung terutama kepada:
1. Kedua orang tua tercinta, Bapak Effendi, S.E. (Alm) dan Ibu Indrawati, [Link],
yang tiada henti-hentinya selalu memberikan kasih sayang, memberikan
semangat untuk mewujudkan cita-cita penulis, dan memberikan do’a serta
dukungan secara materi maupun moral sehingga penulis dapat menyelesaikan
pendidikan di bangku perkuliahan.
2. Adik penulis Febriati Nabila dan Reza Risqi Effendi yang telah membantu dan
mensupport penulis selama melakukan penelitian.
3. Ibu Prof. Dr. Ir. Anis Tatik Maryani, M.P. selaku Pembimbing I dan kepada
Bapak Ir. Helmi Salim, [Link]. selaku Pembimbing II yang telah meluangkan
waktu untuk membimbing, memberikan saran dan masukan, serta memberi
semangat kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Prof. Dr. Ir. Elis Kartika, [Link], Bapak Dr. Ir. Sarman S, M.P dan Bapak
[Link] Armando, M.S. Selaku Tim Pnguji yang telah memberikan masukan,
saran dan arahan kepada penulis dalam menyempurnakan Skripsi ini.
5. Ibu Prof. Dr. Ir Elis Kartika, [Link]. selaku dosen Pembimbing Akademik yang
telah memberikan dukungan dan arahan kepada penulis selama perkuliahan.
6. Dosen dalam lingkup Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas
Jambi yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan yang berharga kepada
penulis selama menjalankan perkuliahan.
7. Sahabat penulis (Rifqi Okta Saputra S.P, Nurafifa S.P, Abdurrahman S.P, Rero
Montero Manik S.P), yang selalu menemani dalam keaadaan suka maupun
i
duka, yang selalu mendengarkan keluh kesah, dan selalu menyemangati serta
memberi dukungan dari awal hingga saat ini.
8. Teman seperjuangan (Rana Rachim Arasy S.P, Bayu Indra Prasetya S.P,
Syahril Romadhon S.P, Rada Febriyasti S.P, Aldi Ramadhan Putra S.P, Andre
Hidayat Sinaga S.P, Andi Alpedro Nasa S.P, [Link] S.P) yang telah
memberikan dukungan, saran, doa serta membantu penulis selama perkuliahan.
9. Temen-teman yang telah turut membantu dan bersedia direpotkan Andika
Wahyu Yulianto S.P, Fitria Salsabilla S.P, Viorentino Inggar Pangestu S.P.
Penulis juga menyampaikan permohonan maaf tanpa mengurangi rasa hormat
sedikit pun kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu
penyusunan Skripsi ini karena tidak dapat menyebutkan nama satu-persatu. Penulis
berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan dapat memberikan pengetahuan bagi
pembaca.
Penulis
ii
DAFTAR ISI
Halaman
I. PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penelitian ........................................................................................... 5
1.3 Manfaat Penelitian ......................................................................................... 5
1.4 Hipotesis Penelitian ....................................................................................... 6
iii
4.1.1 Tinggi Tanaman ............................................................................... 16
4.1.2 Pertambahan Jumlah daun ............................................................... 16
4.1.3 Bobot Kering Tajuk ......................................................................... 17
4.1.4 Bobot Kering Akar........................................................................... 17
4.1.5 Rasio Tajuk Akar ............................................................................. 18
4.1.6 Volume Akar.................................................................................... 19
4.1.7 Luas Daun ........................................................................................ 19
4.2 Pembahasan .................................................................................................... 20
iv
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Kelapa Sawit Perkebunan Rakyat, Besar
Negara dan Besar Swasta Menurut Keadaan Tanaman pada provinsi Jambi
Tahun 2020-2022 ................................................................................................... 1
2. Rata-rata tinggi tanaman bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat di
pembibitan utama pada 12 MST ............................................................................ 16
3. Rata-rata pertambahan jumlah daun bibit kelapa sawit dengan pemberian
cocopeat di pembibitan utama pada 12 MST......................................................... 16
4. Rata-rata bobot kering tajuk bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat di
pembibitan utama pada 12 MST ............................................................................ 17
5. Rata-rata bobot kering akar bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat di
pembibitan utama pada 12 MST ............................................................................ 18
6. Rata-rata rasio tajuk akar bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat di
pembibitan utama pada 12 MST ............................................................................ 18
7. Rata-rata volume akar bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat di
pembibitan utama pada 12 MST ............................................................................ 19
8. Rata-rata luas daun bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat di pembibitan
utama pada 12 MST ............................................................................................... 19
v
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Deskripsi Tanaman Kelapa Sawit DxP TOPAZ Asian Agri ....................... 29
2. Cara Membuat Cocopeat.............................................................................. 30
3. Standar Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Normal....................................... 32
4. Standar Dosis Pemupukan Bibit Kelapa Sawit di Main Nursery................. 33
5. Perhitungan Dosis Cocopeat ........................................................................ 34
6. Denah Percobaan Menurut Rancangan Acak Lengkap ................................ 36
7. Denah Satuan Percobaan .............................................................................. 36
8. Data dan Analisis Sidik Ragam Tinggi Bibit Kelapa Sawit ........................ 37
9. Data dan Analisis Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun Bibit Kelapa
Sawit............................................................................................................. 39
10. Data dan Analisis Sidik Ragam Bobot Kering Tajuk Bibit Kelapa Sawit . 40
11. Data dan Analisis Sidik Ragam Bobot Kering Akar Bibit Kelapa Sawit .. 41
12. Data dan Analisis Sidik Ragam Rasio Tajuk Akar Bibit Kelapa Sawit ..... 42
13. Data dan Analisis Sidik Ragam Volume Akar Bibit Kelapa Sawit ........... 43
14. Data dan Analisis Sidik Ragam Luas Daun Bibit Kelapa Sawit ................ 44
15. Perbandingan Tinggi dan Jumlah Daun Bibit Kelapa Sawit Hasil
Penelitian dengan Standar PPKS ............................................................... 45
16. Hasil Analisis Tanah yang diinkubasikan dengan cocopeat ...................... 46
17. Hasil Analisis cocopeat .............................................................................. 47
18. Data Curah Hujan Bulan Februari - Mei 2023 ........................................... 48
19. Data Suhu Udara Bulan Februari - Mei 2023 ............................................ 49
20. Data Kelembaban Udara Bulan Februari - Mei 2023 ................................ 50
21. Dokumentasi Penelitian ............................................................................. 51
vi
I. PENDAHULUAN
Tabel 1. Luas Areal, Produksi dan Produktivitas Kelapa Sawit Perkebunan Rakyat,
Besar Negara dan Besar Swasta Menurut Keadaan Tanaman pada
provinsi Jambi Tahun 2018-2021
Tahun Luas Areal (ha) Jumlah Produksi Produktivitas
TBM TM TTM/TR (ton) (ton/ha)
2018 176.485 816.426 39.233 1.032.145 2.691.270 3,296
2019 182.784 847.147 40.792 1.070.723 2.891.336 3,413
2020 185.039 860.246 41.338 1.086.623 3.096.621 3,600
2021 194.881 852.658 42.533 1.090.072 3.109.205 3,646
Sumber : Ditjenbun (2021, 2022)
Keterangan :
1. TBM (Tanaman Belum Menghasilkan)
2. TM (Tanaman Menghasilkan)
3. TTM/TR (Tanaman Tidak Menghasilkan/Tanaman Rusak)
1
Berdasarkan Tabel 1, luas areal TM di provinsi Jambi pada tahun 2019-2020
ada mengalami peningkatan, sedangkan pada tahun 2021 luas areal TM mengalami
penurunan sehingga produksi dan produktivitas tidak meningkat. Luas areal TBM
setiap tahunnya mengalami peningkatan. Menurut Setiawan et al., (2017) dengan
meningkatnya luas lahan perkebunan kelapa sawit, maka diperlukan ketersediaan
bibit kelapa sawit dalam jumlah yang sesuai.
Pembibitan bertujuan untuk mempersiapkan bibit yang siap dan baik, hal ini
merupakan salah satu faktor penentu dari keberhasilan di lapangan dan untuk
mendapatkan pertumbuhan dan produksi yang lebih baik. Pembibitan kelapa sawit
dapat dilaksanakan dengan satu tahap atau dua tahap pekerjaan. Pembibitan satu
tahap berarti kecambah kelapa sawit langsung ditanam di polibag besar atau
langsung di pembibitan utama (main nursery). Pembibitan terdiri dari dua tahap
yaitu penanaman kecambah dilakukan di pembibitan awal (pre nursery) terlebih
dahulu menggunakan polibag kecil serta naungan, ketika berumur 3 sampai 4ibulan
naungan dibuka, kemudian dipindahkan ke pembibitan utama (main nursery)
(Dalimunthe, 2009). Berdasarkan penelitian Marlina (2018) bibit kelapa sawit pada
tahapan pembibitan utama yang berumur 3-4 bulan setelah dikecambahkan
membutuhkan polybag dengan ukuran 35 cm x 40 cm yang berisikan 6-7 kg tanah
dengan lama waktu penelitian yang dilaksanakan yaitu selama 3 bulan. Pembibitan
kelapa sawit membutuhkan tanah sebagai media yang cukup besar per bibit.
Media pembibitan kelapa sawit umumnya masih tergantung pada penggunaan
tanah top soil sebagai media tanam. Top soil merupakan lapisan tanah paling atas
dengan ketebalan berkisar 10 – 30 cm, memiliki tingkat kesuburan tanah yang baik
dan berwarna gelap disebabkan oleh penimbunan bahan organik. Ketersediaan
tanah top soil semakin lama berkurang dan sulit didapat, disebabkan oleh erosi, alih
fungsi lahan dan penggunaannya yang terus menerus sebagai media pembibitan,
sehingga menjadi kendala dalam melakukan pembibitan kelapa sawit. Upaya yang
dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memberikan
bahan pembenah tanah (amelioran) yang dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan
biologi tanah (Alfian et al., 2017). Amelioran organik yang digunakan pada
penelitian ini adalah cocopeat dari limbah industri kelapa.
2
Cocopeat merupakan salah satu pembenah tanah (amelioran) yang dihasilkan
dari proses penghancuran sabut kelapa, proses penghancuran sabut dihasilkan serat
atau fiber, serta serbuk halus atau cocopeat (Irawan dan Hidayah, 2014). Menurut
Yuniati (2008) cocopeat mengandung bahan organik dan memiliki sifat mudah
menyerap air sehingga drainase dan aerasinya baik. Menurut Cresswell (2009)
kemampuan cocopeat menyerap air hingga 6-8 kali dari bobot keringnya sehingga
pencampuran pada media tanam akan meningkatkan kelembaban tersebar merata,
serta mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca), magnesium
(Mg), kalium (K), nitrogen (N), dan fosfor (P) (Muliawan, 2009).
Agustin (2009) melaporkan cocopeat memiliki pH (5,5-6,5) dan mengandung
0,42% N; 0,050% P; 0,90% K; 0,4% Cl; 0,01% Na; dan 49,16 KTK. Bahan organik
cocopeat memiliki sifat fisik seperti berat jenis ; 1,65 g/cm3, berat volume ; 0,13
g/cm3, dan porositas ; 91,9%. Hasil laporan diatas menunjukkan cocopeat memiliki
syarat yang dibutuhkan oleh bibit kelapa sawit, baik N,P,K, C/N, KTK, dan pH.
Hanya saja unsur hara yang tersedia dalam cocopeat sedikit. Oleh sebab itu untuk
memenuhi unsur hara pada media, pemberian pupuk anorganik perlu dilakukan
(Wuryaningsih, 2004).
Hasil penelitian Riniarti dan Sukmawan (2018) media tanam yang
mengandung cocopeat lebih banyak memberikan pengaruh yang nyata terhadap
jumlah daun bibit kelapa sawit di pre nursery. Kombinasi media tanam subsoil 25%
: cocopeat 75% dan subsoil 50% : cocopeat 50% dapat meningkatkan jumlah daun
sebesar 6,5% dibandingkan dengan sub soil 75% : cocopeat 25%. Unsur hara yang
terkandung di dalam media tanam, terutama cocopeat yaitu sebesar 0,31% nitrogen,
memberikan kontribusi dalam peningkatan pertumbuhan bibit kelapa sawit.
Menurut Fatimah dan Handarto, (2008), unsur nitrogen berperan dalam
pertumbuhan vegetatif tanaman misalnya untuk pembentukan klorofil yang
diperlukan dalam proses fotosintesis yang kemudian hasilnya akan digunakan untuk
pertumbuhan vegetatif tanaman.
Berdasarkan hasil penelitian Mayulanda (2021), Pengaruh utama jenis media
tanam pada perlakuan M2 (tanah + cocopeat (4:1)), nyata terhadap persentase
tumbuh stek nilam 100%, parameter panjang tunas 47,08 cm, jumlah cabang 7,63
dan panjang akar terpanjang 54.95 cm dimana perlakuan terbaik tanah + cocopeat
3
(4:1). Menurut Irawan dan Kafiar, (2015), cocopeat digunakan sebagai media
tanam karena karakteristiknya yang mampu mengikat dan menyimpan air dengan
kuat, serta mengandung unsur hara esensial seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg),
kalium (K), natrium (N), dan fosfor (P). Pada umumnya cocopeat memiliki pori
makro yang mampu menghambat gerakan air lebih besar sehingga menyebabkan
ketersediaan air lebih tinggi, cocopeat juga memiliki pori makro yang tidak terlalu
padat sehingga sirkulasi udara sangat baik untuk akar tanaman.
Selain media tanam, upaya untuk mendapatkan bibit yang baik dan
berkualitas ialah dengan melakukan pemupukan pada media pembibitan.
Pemberian pupuk di pembibitan merupakan salah satu langkah penting agar
pertumbuhan dan perkembangan bibit dapat optimal (Ariyanti et al.,2017 dan Sari
et al., 2015), bahwa titik kritis pemeliharaan bibit kelapa sawit terletak pada
pemupukan yang dimulai dari pembibitan awal sampai pembibitan utama. Tanah
dalam polibag tidak boleh memiliki keterbatasan hara. Pupuk yang diberikan pada
bibit berdasarkan sifat senyawanya ada dua jenis, yaitu pupuk organik dan pupuk
anorganik (Sutanto, 2002).
Perbaikan kesuburan tanah antara lain perlu dilakukan penambahan pupuk
anorganik. Pemberian pupuk anorganik dapat memperbaiki kebutuhan unsur hara
pada tanah. Unsur hara N, P, dan K merupakan tiga unsur hara makro utama yang
dibutuhkan tanaman kelapa sawit. Ketiga unsur hara tersebut dapat disuplai dari
pupuk majemuk. Pupuk majemuk umum digunakan pada tahapan pembibitan dan
tanaman belum menghasilkan (TBM). Contoh pupuk majemuk yang biasa
digunakan di pembibitan kelapa sawit, yaitu NPKMg [Link] dan NPKMg
[Link] (Sukmawan et al. 2015).
Hasil penelitian Untung dan Islan. (2015). Pemberian perlakuan pupuk
NPKMg (15-15-6-4) pada bibit kelapa sawit memberikan pengaruh nyata terhadap
pertambahan tinggi, pertambahan diameter bonggol dan berat kering bibit kelapa
sawit, sedangkan pada pertambahan jumlah daun dan rasio tajuk akar menunjukkan
pengaruh tidak nyata. Pada pembibitan kelapa sawit yang berumur 4-7 bulan
sebaiknya menggunakan pupuk NPKMg (15-15-6-4) dengan dosis
4ig/minggu/bibit, agar pertumbuhan bibit kelapa sawit menjadi lebih baik.
4
Hasil penelitian Pramana et al. (2016). Pemberian pupuk NPKMg dosis
10,5ig/tanaman dan 21 g/tanaman berbeda nyata dengan tanpa pemberian pupuk
NPKMg terhadap berat kering bibit. Pada pemberian pupuk NPKMg dosis
21ig/tanaman menunjukkan rata-rata berat kering bibit tertinggi yaitu 23,64 g
namun tidak berbeda nyata dengan dosis 10,5 g/tanaman. Hal ini diduga bahwa
unsur hara pada pemberian pupuk NPKMg dosis 10,5 g/tanaman sudah dapat
mencukupi dan meningkatkan berat kering bibit kelapa sawit. Pemberian dosis
terbaik NPKMg yaitu: 10,5 g/tanaman pada parameter tinggi, jumlah daun,
diameter, luas daun dan berat kering bibit kelapa sawit.
Berdasarkan uraian diatas, penulis melaksanakan penelitian tentang
“Pengaruh Pemberian Cocopeat dan NPKMg ([Link]) Terhadap Pertumbuhan
Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Pembibitan Utama”.
5
1.4 Hipotesis Penelitian
1. Pemberian cocopeat dan NPKMg ([Link]) mempengaruhi pertumbuhan
bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di pembibitan utama.
2. Terdapat perbedaan kombinasi dosis cocopeat dan NPKMg ([Link])
terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit
(Elaeisiguineensis Jacq.) di pembibitan utama.
6
II. TINJAUAN PUSTAKA
7
2.2 Pembibitan Kelapa Sawit
Pembibitan merupakan langkah awal dalam budidaya tanaman kelapa sawit.
Beberapa kegiatan di pembibitan seperti persiapan bahan, media tanam,
pengecambahan biji, penyemaian, pendederan dan pemeliharaan (penyiraman,
penyisipan, penyiangan, pemupukan, pengendalian gulma dan pengendalian hama
dan penyakit). Tujuan pembibitan adalah mempersiapkan fisik bahan tanaman agar
mampu beradaptasi dengan lingkungan tumbuhnya secara maksimal. Setiawan et
al. (2017) menambahkan, pembibitan menjadi bagian penting dalam menyediakan
bibit unggul berkualitas. Oleh karena itu, menurut Pahan dalam Berutu et al. (2017)
penggunaan benih unggul merupakan persyaratan utama dalam pengembangan
budidaya kelapa sawit khususnya pada pembibitan, karena mutu benih kelapa sawit
juga sangat mempengaruhi hasil dan kualitas tandan kelapa sawit.
Mangoensoekarjo dan Haryono Semangun (2005) mengemukakan bahwa
Pembibitan kelapa sawit dapat dilakukan dengan dua sistem yaitu sistem
pembibitan satu tahap (single stage nursery) dan sistem pembibitan dua tahap
(double stage nursery). Pada sistem pembibitan satu tahap, kecambah langsung
ditanam di dalam polibag besar. Sedangkan sistem pembibitan dua tahap kecambah
ditanam dan dipelihara dulu dalam polybag kecil selama 3-4 bulan, yang disebut
juga tahap pembibitan awal (pre nursery). Selanjutnya bibit dipindahkan pada
polybag besar sampai berumur 10-12 bulan. Tahap terakhir ini disebut juga sebagai
pembibitan utama (main nursery). Pembibitan dua tahap lebih banyak digunakan
dan memiliki keuntungan yang lebih besar karena luasan area yang digunakan lebih
kecil dan memudahkan proses pemeliharaan (Dalimunthe et al., 2009).
Pembibitan utama yang dikenal dengan Main Nursery merupakan tahap
akhir dalam sistem pembibitan dua tahap. Bibit dipindahkan ke polybag besar
setelah berumur 3-4 bulan untuk selanjutnya dipelihara hingga umur 10-12 bulan.
Polybag yang digunakan berukuran 40 x 50 cm dengan ketebalan 0,12 mm. Setiap
polybag dapat menampung tanah sebanyak 15-30 kg. Penggunaan polybag yang
lebih kecil dengan ukuran 35 x 40 cm juga dapat dilakukan untuk pembibitan yang
direncanakan akan ditanam pada umur sekitar 9 bulan. Keberhasilan rencana
penanaman di lapangan dan produksi ditentukan oleh pelaksanaan pembibitan
utama dan kualitas bibit yang dihasilkan (Siregar, 2019).
8
2.3 Cocopeat
Cocopeat merupakan salah satu limbah hasil industri yang jumlahnya
melimpah dan berpotensi digunakan sebagai media tumbuh, cocopeat adalah hasil
samping proses pengambilan serat sabut kelapa. Selama ini industri pengolahan
buah kelapa hanya fokus pada pengolahan daging buahnya saja, sedangkan
cocopeat sebagai salah satu limbah dari industri tersebut belum termanfaatkan
secara maksimal (Prasetyawan, 2009). Keunggulan dari cocopeat yaitu baik dalam
menyimpan air, daya serap air tinggi, menggemburkan tanah dengan pH netral dan
di dalam cocopeat juga terkandung unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan
tanaman dan menunjang pertumbuhan akar dengan cepat sehingga baik untuk
pembibitan (Artha, 2014). Kelebihan lainnya dari cocopeat sebagai media tumbuh
mengandung unsur-unsur hara esensial, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg),
kalium (K), natrium (N), dan fosfor (P) (Muliawan, 2009).
Hasil penelitian Udia et al. (2021) menunjukkan bahwa: (1) Media simpan
cocopeat dan kertas koran mampu mempertahankan mutu fisik: kadar air benih
(>92%) dan kehijauan daun (>28), mutu fisiologis: persentase daya tumbuh (>97%)
dan pertumbuhan bibit vanili tetap tinggi sampai 10 hari penyimpanan, (2) Sampai
lama periode simpan 10 hari, benih masih mampu mempertahankan: kadar air
(93,83%), kandungan klorofil (28,03) dan daya tumbuh (96,67%) benih vanili tetap
tinggi, (3) Pada periode simpan 8 hari terjadi penurunan laju pertumbuhan (panjang
tunas, jumlah daun, diameter tunas, jumlah ruas), namun penurunan pertumbuhan
tidak bersifat permanen, karena mulai terjadi pemulihan yang terlihat pada peubah
panjang ruas pada minggu ke 8.
Hasil penelitian Sa’ban et al. (2018), interaksi antara media tanam dengan
dosis pupuk kandang kambing baik terhadap pertumbuhan tinggi tanaman kayu
manis ditunjukkan oleh kombinasi perlakuan tanah + cocopeat 1:2 dengan dosis
pupuk 150 gram/polybag dengan nilai rata-rata 4,77 cm.
Berdasarkan hasil penelitian Andri et al., (2016) pemberian kompos TKKS
dan cocopeat dengan dosis 50 g TKKS dan 50 g cocopeat menghasilkan
pertumbuhan baik pada tinggi tanaman, jumlah pelepah daun dan diameter bonggol
bibit kelapa sawit di pre nursery pada medium subsoil ultisol dibandingkan dengan
tanpa pemberian kompos TKKS dan cocopeat.
9
2.4 NPKMg ([Link])
Pupuk NPK merupakan pupuk yang mengandung unsur hara makro yang
secara umum dibutuhkan oleh tanaman. Nitrogen dalam tumbuhan merupakan
unsur yang sangat penting untuk membentuk protein daun-daun dan persenyawaan
organik lainnya. Disamping itu juga berperan dalam perkembangan vegetatif
terutama pada waktu tanaman muda (Lingga, 2013).
Menurut Lingga (2013), keuntungan lain dari pupuk majemuk adalah bahwa
unsur hara yang dikandung telah lengkap sehingga tidak perlu menyediakan atau
mencampurkan berbagai pupuk tunggal. Dengan demikian, penggunaan pupuk
NPK akan menghemat biaya pengangkutan dan tenaga kerja dalam penggunaannya.
Hasil penelitian Tambunan et al. (2015). Perlakuan Pupuk NPKMg pada bibit
kelapa sawit memberikan pengaruh nyata terhadap parameter diameter batang 10
MST, total luas daun, bobot segar tajuk, dan bobot kering tajuk. Pengaruh nyata
pupuk NPKMg terhadap diameter batang, total luas daun, bobot segar tajuk dan
bobot kering tajuk disebabkan karena tersedianya unsur hara yang diperlukan
tanaman seperti N, P, K, Mg. Unsur hara yang paling berperan bagi pertumbuhan
diameter batang adalah unsur hara N karena unsur hara ini dibutuhkan dalam
jumlah yang relatif besar dalam setiap tahap pertumbuhan tanaman khususnya pada
pertumbuhan vegetatif. Hal ini sesuai dengan literatur Damanik et al. (2011) yang
menyatakan bahwa unsur N meningkatkan bagian protoplasma sehingga
mengakibatkan terjadi peningkatan ukuran sel batang maupun daun. Unsur N
adalah penyusun utama biomassa tanaman dan Magnesium adalah penyusun utama
dari klorofil. Hasibuan (2011) menyatakan unsur Fosfat (P) pada tanaman berfungsi
untuk merangsang pembentukan akar dan memperkuat batang agar tidak mudah
roboh. Mangoensoekarjo (2007) menyatakan unsur K berperan pada pengangkutan
hasil-hasil fotosintesis, mengaktifkan enzim dan melakukan sintesis minyak.
Hasil penelitian Ginting et al. (2019). Pemberian pupuk NPKMg berpengaruh
sangat nyata terhadap tinggi dan luas daun bibit kelapa sawit pada umur 7 dan 9
MST. Perlakuan terbaik tinggi bibit kelapa sawit terdapat pada P2 (4ig/polybag)
masing-masing 15,61 dan 19,14 cm. kemudian perlakuan terbaik pada luas daun
yaitu P3 (6 g/polybag) masing-masing 37,89 dan 60,04 cm2.
10
III. METODE PENELITIAN
11
3.4 Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, adapun tahapan kegiatan
yang dilakukan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
Pemindahan Bibit
Memindahkan bibit dari polybag kecil ke polybag
besar yang sudah diisi tanah
Pemeliharaan Tanaman
Melakukan penyiraman dan pengendalian OPT
12
3.4.2. Persiapan Bahan Tanam
Bibit yang digunakan adalah bibit kelapa sawit Asian Agri varietas DxP
Topaz 3 berumur 4 bulan dengan tinggi awal bibit yang sama yakni 22-23 cm dan
jumlah daun yang sama yakni 3 helai. Bibit berasal dari PT. Citra Mulia Manunggal
yang merupakan salah satu anak perusahaan PT. Tunggal Yunus Estate Asian Agri
yang berlokasi di Sungai Rengas, Kabupaten Batanghari, Jambi. Bibit kelapa sawit
yang akan digunakan untuk penelitian harus diseleksi terlebih dahulu untuk
mendapatkan bibit yang seragam, sehat dan bebas dari hama penyakit.
13
3.5 Parameter Pengamatan
3.5.1 Tinggi Tanaman (cm)
Pengamatan tinggi bibit kelapa sawit dilakukan pada saat awal pemindahan
polybag. Selanjutnya pengukuran dilakukan dengan interval 2 minggu sekali
selama 6 kali dalam waktu 3 bulan sampai akhir penelitian. Pengukuran tinggi
tanaman diukur dari patok 2 cm sampai dengan ujung daun terpanjang. Terlebih
dahulu daun ditegakkan ke atas lalu diukur menggunakan meteran.
14
yang sudah diberikan label sesuai perlakuan. Bagian tajuk dikeringkan
menggunakan oven dengan suhu 70º C selama 2 x 24 jam, setelah itu tajuk yang
sudah kering ditimbang. Pengovenan dan penimbangan dilakukan hingga diperoleh
bobot kering tajuk konstan.
15
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Tinggi Tanaman
Berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan pemberian
cocopeat memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap tinggi bibit
kelapa sawit (Lampiran). Hasil uji Duncan pada taraf α = 5% terhadap tinggi bibit
kelapa sawit dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rata-rata tinggi tanaman bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat
di pembibitan utama pada 12 MST
Perlakuan Rata-rata (cm)
p0 (NPKMg ([Link]) sesuai dosis anjuran) 45.3 a
p1 (Cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 46.4 a
p2 (Cocopeat 450 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 44.8 a
p3 (Cocopeat 550 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 45.3 a
p4 (Cocopeat 650 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 44.3 a
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata menurut uji
DMRT pada taraf α = 5%
Tabel 2 Menunjukkan hasil uji DMRT pada tinggi bibit kelapa sawit yang
diberikan cocopeat dan pupuk NPKMg ([Link]) memberikan hasil yang sama
pada semua perlakuan untuk variabel tinggi bibit kelapa sawit.
16
Tabel 3 Menunjukkan hasil uji DMRT pada jumlah daun bibit kelapa sawit
yang diberikan cocopeat dan pupuk NPKMg ([Link]) memberikan hasil yang
berbeda nyata terhadap rata-rata jumlah daun bibit kelapa sawit. Perlakuan p1
(Cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran menghasilkan ratai-
rata jumlah daun tertinggi yaitu 5.8 helai yang berbeda nyata dengan semua
perlakuan.
Tabel 4. Rata-rata bobot kering tajuk bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat
di pembibitan utama pada 12 MST
Perlakuan Rata-rata (g)
p0 (NPKMg ([Link]) sesuai dosis anjuran) 14.07 a
p1 (Cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 16.42 a
p2 (Cocopeat 450 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 16.59 a
p3 (Cocopeat 550 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 17.58 a
p4 (Cocopeat 650 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 18.01 a
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata menurut uji
DMRT pada taraf α = 5%
Tabel 4 Menunjukkan hasil uji DMRT pada bobot kering tajuk bibit kelapa
sawit yang diberikan cocopeat dan pupuk NPKMg ([Link]) memberikan hasil
yang sama pada semua perlakuan untuk variabel bobot kering tajuk bibit kelapa
sawit.
17
Tabel 5. Rata-rata bobot kering akar bibit kelapa sawit dengan pemberian
cocopeat di pembibitan utama pada 12 MST
Perlakuan Rata-rata (g)
p0 (NPKMg ([Link]) sesuai dosis anjuran) 4.98 b
p1 (Cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 7.03 a
p2 (Cocopeat 450 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 5.92 ab
p3 (Cocopeat 550 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 7.19 a
p4 (Cocopeat 650 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 6.47 ab
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata menurut uji
DMRT pada taraf α = 5%
Tabel 5 Menunjukkan hasil uji DMRT pada bobot kering akar bibit kelapa
sawit yang diberikan cocopeat dan pupuk NPKMg ([Link]) memberikan hasil
yang berbeda nyata terhadap rata-rata bobot kering akar bibit kelapa sawit.
Perlakuan p3 (Cocopeat 550 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran
menghasilkan rata-rata bobot kering akar tertinggi yaitu 7.19 g yang berbeda nyata
dengan perlakuan p0 (NPKMg ([Link]) sesuai dosis anjuran) dengan rata-rata
bobot kering akar terendah yaitu 4.98 g tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan
p1 (Cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran dengan rata-rata
bobot kering akar 7,03 g, p2 (Cocopeat 450 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis
anjuran dengan rata-rata bobot kering akar 5,92 g dan p4 (Cocopeat 650 g +
NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran dengan bobot kering akar rata-rata
6,47Ig.
Tabel 6. Rata-rata rasio tajuk akar bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat
di pembibitan utama pada 12 MST
Perlakuan Rata-rata
p0 (NPKMg ([Link]) sesuai dosis anjuran) 2.974 a
p1 (Cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 2.352 a
p2 (Cocopeat 450 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 2.888 a
p3 (Cocopeat 550 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 2.716 a
p4 (Cocopeat 650 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 2.978 a
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata menurut uji
DMRT pada taraf α = 5%
18
Tabel 6 Menunjukkan hasil uji DMRT pada rasio tajuk akar kelapa sawit yang
diberikan cocopeat dan pupuk NPKMg ([Link]) memberikan hasil yang sama
pada semua perlakuan untuk variabel rasio tajuk akar bibit kelapa sawit.
Tabel 7. Rata-rata volume akar bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat di
pembibitan utama pada 12 MST
Perlakuan Rata-rata (ml)
p0 (NPKMg ([Link]) sesuai dosis anjuran) 45 a
p1 (Cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 59 a
p2 (Cocopeat 450 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 52 a
p3 (Cocopeat 550 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 58 a
p4 (Cocopeat 650 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 48 a
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata menurut uji
DMRT pada taraf α = 5%
Tabel 7 Menunjukkan hasil uji DMRT pada volume akar kelapa sawit yang
diberikan cocopeat dan pupuk NPKMg ([Link]) memberikan hasil yang sama
pada semua perlakuan untuk variabel volume akar bibit kelapa sawit.
Tabel 8. Rata-rata luas daun bibit kelapa sawit dengan pemberian cocopeat di
pembibitan utama pada 12 MST
Perlakuan Rata-rata (cm)
p0 (NPKMg ([Link]) sesuai dosis anjuran) 1508.1 c
p1 (Cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 1622.9 a
p2 (Cocopeat 450 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 1563.1 b
p3 (Cocopeat 550 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 1565.1 b
p4 (Cocopeat 650 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran) 1580.8 b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang sama berbeda tidak nyata menurut uji
DMRT pada taraf α = 5%
19
Tabel 8 Menunjukkan hasil uji DMRT pada luas daun bibit kelapa sawit yang
diberikan cocopeat dan pupuk NPKMg ([Link]) memberikan hasil yang berbeda
nyata terhadap rata-rata luas daun bibit kelapa sawit. Perlakuan p1 (Cocopeat 350
g + NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran menghasilkan ratai-irata luas daun
tertinggi yaitu 1622.9 cm yang berbeda nyata dengan perlakuannya.
4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian sidik ragam diketahui bahwa pengaruh
pemberian cocopeat terhadap bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di
pembibitan utama pada akhir penelitian (12 MST) menunjukkan hasil yang
berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, luas daun dan bobot kering akar, tetapi
tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, bobot kering tajuk, rasio tajuk
akar dan volume akar. Meskipun pada variabel tinggi tanaman, bobot kering akar,
rasio tajuk akar dan volume akar tidak berpengaruh nyata, namun pada uji DMRT
terlihat adanya perbedaan pertumbuhan dari setiap perlakuan yang diberikan.
Hasil analisis cocopeat menunjukkan bahwa cocopeat memiliki kandungan
C-Organik 30,72%, N 0,67%, P 0,019%, K 0,54% dan C/N 45,85%. Dalam hal ini
hasil analisis cocopeat ada beberapa yang belum sesuai dengan standar kualitas
kompos menurut SNI -19-7030-2004 yakni memiliki kandungan C-Organik (9,80-
32%), N (>0,40%), P (>0,10%) dan K (>0,20%) (Badan Standarisasi Nasional,
2004).
Hasil penelitian parameter jumlah daun, luas daun, dan bobot kering akar
menunjukkan pengaruh dari pemberian cocopeat dan pupuk NPKMg ([Link]).
Hal ini menunjukkan bahwa pemberian cocopeat dan pupuk NPKMg ([Link])
memberikan pengaruh yang terbaik karena cocopeat memiliki kandungan Ni0,67%,
P 0,019%, K 0,54%, C-Organik 30,72% dan C/N 45,85% yang jumlahnya terbilang
mampu mencukupi sehingga tanaman dapat menggunakannya untuk pertumbuhan
bibit kelapa sawit umur 12 MST. Andri et al. (2016) menyatakan bahwa
pertumbuhan luas daun dipengaruhi oleh ketersediaan nitrogen. Hal ini dikarenakan
nitrogen merangsang pertumbuhan tanaman yang mana unsur N berperan dalam
proses fotosintesis. Bila proses fotosintesis meningkat maka akan menghasilkan
karbohidrat dan senyawa-senyawa lainnya yang digunakan tanaman untuk
pertumbuhannya.
20
Jumlah daun secara umum menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dari
perlakuan yang diberikan cocopeat dan setengah dosis NPKMg ([Link]). Hal ini
dikarenakan sumber hara yang didapat dari hara awal cocopeat yang ditambah
dengan NPKMg menyebabkan perbaikan hara sehingga jumlah daun mengalami
peningkatan yang baik, hal ini dikarenakan pemberian cocopeat menambah
kandungan N dalam tanah sehingga unsur N tersebut diserap oleh tanaman,
sehingga menghasilkan pertumbuhan jumlah daun yang lebih banyak.
Kandungan nitrogen dalam cocopeat yakni 0,67% terbilang cukup baik
karena sudah memenuhi standar kualitas kompos menurut SNI-19-7030-2004
dengan kandungan C-Organik (9,80- 32%), N (>0,40%), P (>0,10%) dan K
(>0,20%) (Badan Standarisasi Nasional, 2004) sehingga bibit kelapa sawit dapat
memanfaatkannya untuk pertumbuhan tanaman yang mana salah satunya adalah
bobot kering akar. Hanudin et al. (2004) menyatakan bahwa cocopeat mengandung
bakteri bermanfaat seperti Klebsiella sp., Pseudomonas sp., Citrobacter sp., B.
circularis, B. megaterium, dan B. Firmus. Bakteri ini memiliki kemampuan
diantaranya untuk menghasilkan zat pengatur tumbuh yang dapat meningkatkan
pertumbuhan tanaman termasuk mempengaruhi variabel bobot kering akar.
Hasil penelitian variabel tinggi tanaman, bobot kering tajuk, rasio tajuk akar
dan volume akar memperlihatkan hasil dari uji lanjut yang tidak berbeda nyata,
namun jika dilihat dari pertumbuhannya, bibit yang diberikan perlakuan cocopeat
dan NPKMg ([Link]) memperlihatkan hasil yang lebih baik jika dibandingkan
dengan pemberian NPKMg ([Link]) sesuai dosis anjuran. Pemberian perlakuan
cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) dibandingkan dengan perlakuan lainnya
memperlihatkan pertumbuhan tinggi tanaman yang baik. Namun hasil uji lanjut
tidak berbeda nyata yang disebabkan oleh kondisi jenuh air pada media cocopeat
yang menyebabkan kelembapan tinggi yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
Keadaan jenuh air menyebabkan penimbunan unsur hara di dalam akar
dibandingkan difusi hara ke akar. Kurangnya oksigen di zona perakaran dapat
mengurangi kemampuan akar untuk menyerap air dan mineral dalam jumlah yang
cukup untuk pertumbuhan tanaman. Hal ini sejalan dengan penelitian Nyakpaietial.
1988 yang menyatakan bahwa dalam kondisi kadar air tanah diatas kapasitas lapang
21
maka pertumbuhan relatif lambat dikarenakan terhambatnya perkembangan akar
yang disebabkan oleh kurangnya oksigen dalam tanah.
Tingginya kandungan bahan organik (C-Organik 30,72%) cocopeat dan hara
makro dari pupuk NPKMg pada perlakuan tersebut mendukung proses fisiologis
tanaman yakni transpirasi dan fotosintesis sehingga pemanfaatan unsur hara lebih
efisien. Menurut Herviyanti dalam Aryanti et al. (2017) menyatakan bahwa tinggi
rendahnya bobot kering tanaman tergantung pada sedikit banyaknya serapan unsur
hara yang berlangsung selama proses pertumbuhan. Peningkatan klorofil
dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara N,P,K, dan Mg yang akan meningkatkan
hasil asimilasi lebih banyak dan kemudian akan mendukung biomassa tanaman.
Hasil penelitian variabel rasio tajuk akar menunjukkan hasil yang tidak
berpengaruh nyata. Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa pertumbuhan bibit
kelapa sawit sangat baik yakni berada pada range 2,351-2,978 yang menunjukkan
bahwa cocopeat dan NPKMg mampu membuat sistem perakaran berkembang
dengan baik sehingga menunjang pertumbuhan tajuk. Rasio tajuk akar
menggambarkan proporsi fotosintat lebih banyak ke tajuk daripada akar. Gardner
et al. (1991) menyatakan bahwa rasio tajuk akar yang baik berkisar antara 2,5-3,5.
Hasil penelitian variabel volume akar menunjukkan bahwa cocopeat dan
NPKMg tidak memberikan pengaruh yang nyata. Secara umum pertumbuhan yang
diberikan cocopeat lebih baik dibandingkan hanya diberikan pupuk NPKMg
([Link]). Hal ini dikarenakan dengan pemberian cocopeat maka akan ada
perbaikan sifat kimia, biologi dan fisika tanah. Hal ini sejalan dengan unsur hara
yang terdapat pada tanah (N 0,58%, P 46,97%, K 33,45%) sudah cukup untuk
perkembangan tanaman sehingga penambahan unsur hara tidak berpengaruh untuk
meningkatkan volume akar bibit kelapa sawit, volume akar merupakan faktor
penting dalam pertumbuhan tanaman yang mencerminkan kemampuan dalam
penyerapan unsur hara serta metabolisme yang terjadi pada tanaman. Volume akar
sangat erat kaitannya dengan unsur hara makro dan mikro. Hal ini sejalan dengan
Sarief (1986) menyatakan bahwa unsur hara yang diserap tanaman berperan dalam
menunjang pertumbuhan vegetatif tanaman seperti akar.
Berdasarkan Tabel pada hasil penelitian, dapat dilihat bahwa perlakuan
dengan dosis cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) ½ dosis anjuran menunjukkan
22
hasil pertumbuhan bibit kelapa sawit yang sama bahkan cenderung meningkat
pertumbuhannya . Hal ini menunjukkan bahwa ada keseimbangan antara cocopeat
dan NPKMg ([Link]) dalam menunjang pertumbuhan bibit kelapa sawit di
pembibitan utama. Hal ini sejalan dengan Yulianto et al. 2023 yang menyatakan
bahwa pemberian 60% kompos pelepah kelapa sawit + 40% NPKMg mampu
meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan utama dibandingkan
dengan perlakuan 100% pupuk anorganik saja.
Pada hasil penelitian yang telah dilaksanakan, rata-rata tinggi bibit kelapa
sawit pada umur 6 bulan adalah 44,3 cm hingga 46,4 cm. Hal ini sudah sesuai
dengan standar tinggi bibit kelapa sawit menurut PPKS pada umur 6 bulan yakni
40 cm. Untuk parameter jumlah daun, pada hasil penelitian yang telah dilaksanakan
menunjukkan rata-rata jumlah daun bibit kelapa sawit pada umur 6ibulan yakni 7,8
helai hingga 8,8 helai. Hal ini sudah sesuai dengan standar jumlah daun bibit kelapa
sawit menurut PPKS pada umur 6 bulan yakni 8,5 helai.
Pertumbuhan bibit kelapa sawit juga dipengaruhi oleh iklim yang optimal.
Berdasarkan hasil data penunjang yakni data curah hujan, suhu dan kelembapan
udara dari bulan Februari 2023 hingga Mei 2023 menunjukkan bahwa kondisi curah
hujan di lokasi penelitian pada bulan Februari sampai dengan Mei 2023 adalah
152.6 mm, 254.5 mm, 179 mm, dan 124.5 mm yang mana kondisi tersebut telah
sesuai dengan curah hujan optimal tanaman kelapa sawit yakni antara 166,67-250
mm/bulan. Sedangkan rata-rata suhu pada lokasi penelitian yakni 26.7º C - 28.3º C
suhu optimum tanaman kelapa sawit yaitu 24-28º C. Lalu kelembapan udara pada
lokasi penelitian berkisar antara 84.8% - 86.3% kelembapan optimum yang
diperlukan tanaman kelapa sawit yakni 80%.
23
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Pemberian cocopeat dan pupuk NPKMg ([Link]) pada pembibitan
kelapa sawit di pembibitan utama mampu meningkatkan pertumbuhan
terhadap variabel jumlah daun, luas daun dan bobot kering akar, namun
belum mampu secara nyata meningkatkan pertumbuhan variabel tinggi
tanaman, bobot kering tajuk, dan volume akar.
2. Pemberian perlakuan cocopeat 350 g + NPKMg ([Link]) setengah dosis
anjuran memberikan hasil pertumbuhan bibit kelapa sawit terbaik terhadap
seluruh variabel pengamatan bibit kelapa sawit umur 12 MST di pembibitan
utama.
5.2 Saran
Dari penelitian yang telah dilaksanakan, disarankan pada penelitian
selanjutnya yang menggunakan cocopeat agar memberikan cocopeat sebanyak 350
g dan NPKMg ([Link]) setengah dosis anjuran untuk bibit kelapa sawit di
pembibitan utama.
24
DAFTAR PUSTAKA
Agustin F., S.A., dan S. A. (2010). Pemanfaatan kompos sabut kelapa dan zeolit
sebagai campuran tanah untuk media pertumbuhan bibit kakao pada
beberapa tingkat ketersediaan air. Pelita Perkebunan. 26(90), 12–24.
Artha, T. 2014. Interaksi pertumbuhan antara shorea selanica dan gnetum gnemon
dalam media tanam dengan konsentrasi cocopeat yang berbeda. Skripsi.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Alfian, Nervia, dan Amri AI. 2017. pengaruh pemberian amelioran organik dan
anorganik pada media subsoil ultisol terhadap pertumbuhan bibit kelapa
sawit (Elaeis guineensis jacq.) di pre nursery. JOM FAPERTA Vol.4.
Andri S, Nelvia, dan Saputra S I. 2016. pemberian kompos TKKS dan Cocopeat
pada tanah subsoil ultisol terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis
guineensis Jacq.) di pre nursery. Jurnal Agroteknologi, Vol. 7 No. 1
Ardian, Sampoerno dan SR Dwiyana. 2015. Waktu dan volume pemberian air pada
bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di main nursery. Jurnal Online
Mahasiswa. 2(1): 1-10.
Ariyanti, M., G. Natali dan C. Suherman. 2017. Respon pertumbuhan bibit kelapa
sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap pemberian pupuk organik asal
pelepah kelapa sawit dan pupuk majemuk NPK. Jurnal Agrikultura. 28 (2):
64-67.
Cresswell G. 2009. Coir dust a proven alternative to peat. Cresswell Horticultural
Services. Grose vale.
Dalimunthe MC, A Sipayung dan HH Sipayung. 2009. Meraup untung dari bisnis
waralaba bibit kelapa sawit. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Damanik, M.M.B., B.E. Hasibuan. Fauzi, Sarifuddin dan H. Hanum. 2011.
Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press. Medan.
Darmosakoro, W Akiyat, Sugiyono dan ES Sutarta. 2008. Pembibitan Kelapa
Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 2021. Statistik Perkebunan Unggulan Nasional
2020-2022. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta.
Fatimah, S., dan Handarto, B. M. (2008). Pengaruh komposisi media tanam
terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sambiloto. Embryo, 5(2), 133
148.
Gardner. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Indonesia University Press, Jakarta.
Ginting. B P, Wahyudi dan E, Zulkifli. 2019. Pemanfaatan limbah cair tahu
dan pupuk NPKMg terhadap pertumbuhan vegetatif bibit kelapa sawit
(Elaeis guineensis Jacq.). Agrinula : Jurnal Agroteknologi dan Perkebunan
Volume 2. Hal. 33-38.
25
Hanudin, Nuryani, W dan Sutyastuti. 2004. Analisa kandungan Escherichia dan
Salmonella sp. dalam sabut kelapa sebagai media tumbuh tanaman hias.
Prosiding Seminar Nasional Florikultura. Jakarta.
Hasibuan, B. E. 2011. Ilmu Tanah. Universitas Sumatera Utara. Medan.
Herviyanti, A Fachri, S Riza, Darmawan, Gusnidar, dan S Amrizal. 2012. Pengaruh
pemberian bahan humat dan pupuk P pada Ultisol. [Link]. vol 9(2), hal
51-60.
Irawan A dan Kafiar, Y. 2015. Pemanfaatan cocopeat dan arang sekam padi sebagai
media tanam bibit cempaka wasian (Elmerrilia ovalis). ProsSem NasMasy
Biodiv Indon. 1(4).
Irawan. A dan Hidayah. N. H. 2014. Kesesuaian penggunaan Cocopeat sebagai
media sapih pada politube dalam pembibitan cempaka (Magnolia elegans
(Blume.) [Link]). Jurnal WASIAN. 73-76 hal.
Lingga, P. dan Marsono. 2013. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penerbit Swadaya.
Jakarta.
Mangoensoekarjo S dan AT Tojib. 2005. Manajemen Budidaya Kelapa Sawit.
Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. Gajah Mada University Press.
Yogyakarta. 318 Hal.
Mangoensoekarjo, S. 2007. Manajemen Tanah Dan Pemupukan Budidaya
Perkebunan. Gadjah Mada University Press. Bandung.
Marlina G. 2018. Berbagai media tanam dan pemberian air kelapa muda terhadap
pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elais guineensis Jacq.) di main nursery.
Jurnal Pertanian UMSB 2(1) : 10-18.
Maryani, A. T. (2012). Pengaruh volume pemberian air terhadap pertumbuhan
bibit kelapa sawit di pembibitan utama. Fakultas Pertanian Universitas
Jambi, 1(2): 64–74.
Mayulanda, F. (2021). Uji berbagai jenis media tanam dan ZPT Root Up
terhadap pertumbuhan stek tanaman nilam (Pagostemon cablin Benth).
Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Riau. Pekanbaru. Hal 24.
Muliawan, L. 2009. Pengaruh media semai terhadap pertumbuhan pelita
(Eucalyptus pellita [Link]). Jurnal Institut Pertanian Bogor. Bogor. 1: 104.
Nyakpa, et, al. 1988. Kesuburan Tanah. Universitas Lampung. Lampung.
Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Penebar Swadaya. Jakarta.
Pahan. I. 2008. Panduan Lengkap Kelapa Sawit Managemen Agribisnis dari Hulu
hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta. 404 hal.
Pramana. D N, Ardian, Amri. A I. 2016. Pengaruh sludge limbah kelapa sawit
dan pupuk NPKMg ([Link]) dalam media tanam ultisol terhadap
pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di main
nursery. JOM FAPERTA Vol. 3
26
Prasetyawan, D. 2009. Sifat fisis dan mekanis papan komposit dari serbuk sabut
kelapa (Cocopeat) dengan plastik polyethylene. Skripsi. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2014. Petunjuk Teknis Pembibitan Kelapa Sawit.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Medan.
Riniarti, D., dan Sukmawan, Y. (2018). Pengaruh jenis wadah semai dan kombinasi
media tanam pada pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan awal.
Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Teknologi Pertanian, 280–287.
Sari, V.I., Sudrajat dan Sugiyanta. 2015. Peran pupuk organik dalam
meningkatkan efektivitas pupuk NPK pada pembibitan kelapa sawit di
pembibitan utama. J. Agronomi Indonesia. 43 (2) : 153-159.
Sarief, S.E. 1986. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung.
Sa’ban Z., Ernawati N. M. L. dan Indriyanto. 2018. Pengaruh berbagai media
tanam dan dosis pupuk kandang kambing terhadap pertumbuhan semai
kayu manis (Cinnamomum burmannii Bl.). Program Studi Kehutanan
Universitas Mataram.
Setiawan W, N Andayani dan E Rahayu. 2017. Pengaruh macam dan dosis limbah
organik terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq)
di main nursery. J. AGROMAST 2(2).
Sirajuddin I. 2013. Buku Daras Terbaik Manajemen Perkebunan. CV Aswaja
Presindo, Yogyakarta.
Siregar BJ, 2019. Pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis J) dengan
frekuensi penyiraman di pembibitan Main Nursery. Skripsi. Universitas
Sumatera Utara, Medan.
Sukarman., Kainde, R., Rombang dan Thomas, J. A. 2012. Pertumbuhan bibit
sengon (Paraserianthes falcataria) pada berbagai media tumbuh. Jurnal
Eugenia 18(3): 215-221.
Sukmawan. Y, Sudrajat dan Sugiyanto. 2015. Peranan pupuk organik dan NPK
majemuk terhadap pertumbuhan kelapa sawit TBM 1 di lahan marginal. J.
Agron. Indonesia 43 (3) : 242 – 249.
Sutanto, R. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius. Yogyakarta.
Tambunan MM, T Simanungkalit dan T Irmansyah 2015. Respons pertumbuhan
bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap pemberian kompos
sampah pasar dan pupuk NPKMg ([Link]) di Pre Nursery. Jurnal Online
Agroekoteknologi. ISSN No. 2337- 6597 Vol.3(1): 367 – 377.
Udia, B. A. A. A., Rusmin, D., Fatmawaty, A. A., Hermita, N., & Syukur, C. 2021.
Mutu fisik dan fisiologis bibit stek berakar vanili pada berbagai jenis media
dan lama periode simpan. Kultivasi, 20(2), 111–119.
Untung, R dan Islan. 2015. Pemberian pupuk NPKMg (15-15-6-4) dan interval
waktu pemberian pupuk pelengkap cair terhadap pertumbuhan bibit
27
kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di pembibitan utama. JOM Faperta
Vol.2.
Veranika, R. M., & Fauzie, M. A. (2020). Pembuatan dan Perancangan Alat
Pengurai Sabut Kelapa Secara Manual. Jurnal Desiminasi Teknologi, 8(1)
Wuryaningsih, S. (2004). Media dan Kerapatan Lindak Untuk Bibit Tanaman
Mawar. Prosiding Seminar Florikultura, Bogor, 4–5 Agustus 2004: 324 –
333. ISBN: 979-8842-18–9.
Yuniati. 2008. Pertumbuhan tanaman anthurium plowmanii pada media arang
sekam dan cocopeat dengan pemberian starbio. Skripsi. Fakultas Pertanian
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Yulianto AW. 2023. Pengaruh pemberian kompos pelepah kelapa sawit dan pupuk
NPKMg terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
di pembibitan utama. Skripsi. Universitas Jambi.
28
LAMPIRAN
DESKRIPSI
Rerata jumlah tandan : 10-16 tandan/pohon/th
Rerata berat tandan : 16-25 kg/tandan
Potensi produksi TBS : 34,5 ton/ha/th
Randemen : 25-28%
Potensi CPO : 9,2 ton/ha/th
Pertumbuhan tinggi : 47,5 cm/th
Panjang pelepah :6m
Kerapatan tanam : 143 pohon/ha
Umur panen : 30 bulan
Adaptasi pada lahan marjinal : sangat baik dan daya adaptasi luas, cepat berbunga
serta mampu panen sebelum umur 2,4 tahun.
(Sumber : Asian Agri Oil Palm Research Station berdasarkan Surat Keputusan
Disertifikasi Menteri Pertanian No. 57,58,59 dan
60/KPTS/SR.120/1/2004
29
Lampiran 2. Cara Membuat Cocopeat
A. Alat dan Bahan
• Sabut kelapa dari kelapa yang sudah tua
• Kaleng susu
• Kayu
• Paku
• Plastik kemasan
• Gunting seng
• Baskom
• ayakan
B. Prosedur (Cara Pembuatan)
1. Membuat alat dekortasi atau pemisah serabut kelapa dengan cara
membuang sisi atas dan sisi bawah kaleng bekas, kemudian belah kaleng
dan selanjutnya membuat lubang pada kaleng secara teratur dengan jarak
lebih kurang 0,5 cm menggunakan paku.
2. Setelah lubang selesai dibuat, maka kaleng tersebut dipaku pada kayu bulat
3. Mengambil sabut kelapa kering yang berasal dari buah kelapa yang sudah
tua dan ditandai dengan kulitnya yang sudah berwarna coklat tua.
4. Memarut sabut kelapa pada bagian dalam yang berwarna coklat sehingga
menghasilkan sabut kelapa.
5. Selanjutnya serbut yang dihasilkan dijemur hingga kadar air kurang dari
15%.
6. Mengayak sabut kelapa untuk memisahkan seratnya sehingga dihasilkan
serbuk dengan tekstur halus.
7. Serbuk dengan tekstur halus inilah yang kemudian disebut sebagai
cocopeat.
(Veranika dan Fauzie, 2020).
30
C. Cara pengaplikasian
1. Serbuk kelapa yang sudah berbentuk tekstur halus yang disebut cocopeat
ini kemudian dicuci terlebih dahulu menggunakan air besih untuk
menghilangkan kandungan zat tanin didalamnya.
2. Kemudian jemur hingga kering untuk selanjutnya diaplikasikan.
3. Cocopeat kemudian dicampurkan dengan tanah yang sudah diisi dalam
polybag.
4. Kemudian cocopeat dan tanah yang sudah tercampur diinkubasi selama 1
hingga 2 minggu.
5. Selama proses inkubasi berlangsung, polybag ditutupi dengan terpal agar
reaksi bahan organik dan tanah dapat berjalan dengan baik, oleh karena itu
perlakuan inkubasi sangat perlu diperhatikan agar nantinya unsur hara dapat
tersedia bagi tanaman.
31
Lampiran 3. Standar Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit Normal
32
Lampiran 4. Standar Dosis Pemupukan Bibit Kelapa Sawit di Pembibitan
Utama
33
Lampiran 5. Perhitungan Dosis Cocopeat
Kandungan N cocopeat : 0,67 %
Kebutuhan N bibit kelapa sawit : 3,32 g
Perhitungan N pada cocopeat + pupuk NPKMg [Link]
Perhitungan kandungan N pada total dosis anjuran NPKMg selama 3 bulan
15
N= 𝑥 25 = 3,75 𝑔
100
Kandungan N setengah dosis anjuran selama 3 bulan
15
N= 𝑥 12,5 = 1,87 𝑔
100
Rumus perhitungan dosis cocopeat
Kandungan N 𝐶𝑜𝑐𝑜𝑝𝑒𝑎𝑡
𝑥 Dosis 𝑐𝑜𝑐𝑜𝑝𝑒𝑎𝑡
100
34
Lampiran 6. Denah Percobaan Menurut RAL
75 CM
75 CM
Keterangan :
P0-P4 = Perlakuan
1-5 = Ulangan
Jumlah tanaman tiap satuan perlakuan = 3 tanaman
Jumlah seluruh tanaman = 75 tanaman
Jarak Antar satuan percobaan = 75 cm
35
Lampiran 7. Denah Satuan Percobaan
X X
Keterangan :
Jumlah bibit per plot : 3 (Jarak antar polybag 50 cm)
Jumlah bibit sampel : 2 (ditentukan secara acak)
X : Bibit kelapa sawit
36
Lampiran 8. Data dan Analisis Sidik Ragam Tinggi Bibit Kelapa Sawit
Ulangan Rata-
Perlakuan Total
1 2 3 4 5 rata
K0 46 44 45 49 42,5 226,5 45,30
K1 44,5 45 45,5 49 48 232 46,40
K2 47,5 42 47,5 41 46 224 44,80
K3 48,5 43 44 44,5 46,5 226,5 45,30
K4 44,5 46,5 43 44,5 45,5 224 44,80
TOTAL 231 220,5 225 228 228,5 1133 45,3
𝐺2
FK = (𝑟)(𝑡)
= 11332 / (5)(5)
= 51347,6
JK Total = ∑x2-FK
= (46)2+(44) 2+…..+(45,5)2 - 51347,6
= 112,44
JK Perlakuan = (∑T2/r)-FK
= [(226,5)2 +…+(224)2 - 51347,6
= 8,54
JK Galat = 𝐽𝐾 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 − 𝐽𝐾 𝑃𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑢𝑎𝑛
= 112,44 – 8,54
= 103,9
𝐽𝐾 𝑃𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑢𝑎𝑛
KT Perlakuan =
(𝑡−1)
8,54
=
(5−1)
= 2,135
𝐽𝐾 𝐺𝑎𝑙𝑎𝑡
KT Galat = (𝑡−1)(𝑟−1)
103,9
= (5−1)(5−1)
= 5,195
𝐾𝑇 𝑃𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑢𝑎𝑛
F Hitung Perlakuan = 𝐾𝑇 𝐺𝑎𝑙𝑎𝑡
2,135
= 5,195
= 0,41097
37
Tabel Sidik Ragam
F Tabel F Tabel
SK DB JK KT F HIT KET
0,05 0,01
Perlakuan 4 8,54 2,135 0,410972 2,866081 4,43069 tn
Galat 20 103,9 5,195
Total 24 112,44
GT : 1639
Txr : 25
Y : 65,65
AKG : 2,279
KK : 3,48
Ket :
GT : Grand Total
Txr : perlakuan x ulangan
Y : GT/txr
AKG : Akar KT Galat
KK : Koefisien Keragaman
38
Lampiran 9. Data dan Analisis Sidik Ragam Pertambahan Jumlah Daun
Bibit Kelapa Sawit
Ulangan Rata-
Perlakuan Total
1 2 3 4 5 rata
K0 5 4,5 5 4,5 5 24 4,80
K1 6 5,5 5,5 5,5 6,5 29 5,80
K2 5 5,5 5 4,5 5,5 25,5 5,10
K3 5 4,5 5 5,5 5,5 25,5 5,10
K4 4,5 5,5 5,5 5 5,5 26 5,20
TOTAL 25,5 25,5 26 25 28 130 5,2
F Tabel F Tabel
SK DB JK KT F HIT KET
0,05 0,01
Perlakuan 4 2,7 0,675 4,09 2,86 4,43 *
Galat 20 3,3 0,165
Total 24 6
GT : 130
Txr : 25
Y : 5,2
AKG : 0,41
KK : 7,81
39
Lampiran 10. Data dan Analisis Sidik Ragam Bobot Kering Tajuk Bibit
Kelapa Sawit
Ulangan Rata-
Perlakuan Total
1 2 3 4 5 rata
K0 14,6 10,65 13 15,25 16,85 70,35 14,07
K1 15,65 17,35 19,1 17,55 12,45 82,1 16,42
K2 14,95 14,65 18,75 14,95 19,65 82,95 16,59
K3 17,35 19,75 20,65 12,15 18 87,9 17,58
K4 15,5 17,6 17,95 18,75 20,25 65,25 18,01
TOTAL 78,05 80 89,45 78,65 87,2 388,55 16,534
F Tabel F Tabel
SK DB JK KT F HIT KET
0,05 0,01
Perlakuan 4 71,99 17,99 0,40 2,86 4,43 tn
Galat 20 897,26 44,86
Total 24 969,2634
GT : 388,55
Txr : 25
Y : 15,542
AKG : 6,70
KK : 43,10
40
Lampiran 11. Data dan Analisis Sidik Ragam Bobot Kering Akar Bibit
Kelapa Sawit
Ulangan Rata-
Perlakuan Total
1 2 3 4 5 rata
K0 6,3 3,65 4,8 4,8 5,35 24,9 4,98
K1 6,65 7,25 6,65 7,35 7,25 35,15 7,03
K2 4,4 6,9 5,7 4,7 7,9 29,6 5,92
K3 7,95 5,95 7,05 6,7 8,3 35,95 7,19
K4 5,95 8,2 6,75 6,05 5,4 32,35 6,47
TOTAL 31,25 31,95 30,95 29,6 34,2 157,95 6,318
F Tabel F Tabel
SK DB JK KT F HIT KET
0,05 0,01
Perlakuan 4 16,19 4,04 3,81 2,86 4,43 *
Galat 20 21,19 1,05
Total 24 37,39
GT : 157,95
Txr : 25
Y : 6,318
AKG : 1,03
KK : 16,30
41
Lampiran 12. Data dan Analisis Sidik Ragam Rasio Tajuk Akar Bibit Kelapa
Sawit
Ulangan Rata-
Perlakuan Total
1 2 3 4 5 rata
K0 2,38 2,99 2,65 3,18 3,67 14,87 2,97
K1 2,37 2,34 2,84 2,39 1,82 11,76 2,35
K2 3,35 2,12 3,24 3,19 2,54 14,44 2,89
K3 2,34 4,31 2,91 1,82 2,2 13,58 2,72
K4 2,75 2,22 2,65 3,11 4,16 14,89 2,98
TOTAL 13,19 13,98 14,29 13,69 14,39 69,54 2,78
F Tabel F Tabel
SK DB JK KT F HIT KET
0,05 0,01
Perlakuan 4 1,378 0,34 0,80 2,86 4,43 tn
Galat 20 8,58 0,42
Total 24 9,96
GT : 69,54
Txr : 25
Y : 2,782
AKG : 0,66
KK : 23,55
42
Lampiran 13. Data dan Analisis Sidik Ragam Volume Akar Bibit Kelapa
Sawit
Ulangan Rata-
Perlakuan Total
1 2 3 4 5 rata
K0 50 45 45 40 45 225 45
K1 75 60 50 50 60 295 59
K2 50 45 40 55 70 260 52
K3 70 40 60 60 60 290 58
K4 50 35 60 40 55 240 48
TOTAL 295 225 255 245 290 1310 52,4
F Tabel F Tabel
SK DB JK KT F HIT KET
0,05 0,01
Perlakuan 4 746 186,5 1,95 2,86 4,43 tn
Galat 20 1910 95,5
Total 24 2656
GT : 1310
Txr : 25
Y : 52,4
AKG : 9,77
KK : 18,65
43
Lampiran 14. Data dan Analisis Sidik Ragam Luas Daun Bibit Kelapa Sawit
Ulangan Rata-
Perlakuan Total
1 2 3 4 5 rata
K0 1464,5 1492 1537,5 1489 1557,5 7540,5 1508
K1 1619,5 1598,5 1615 1633 1648,5 8114,5 1623
K2 1575 1550,5 1556,5 1575,5 1558 7815,5 1563
K3 1568 1564,5 1545 1569 1579 7825,5 1565
K4 1579 1593 1555,5 1557,5 1619 7904 1581
TOTAL 7806 7798,5 7809,5 7824 7962 39200 1568
F Tabel F Tabel
SK DB JK KT F HIT KET
0,05 0,01
Perlakuan 4 33991,4 8497,85 15,18 2,86 4,43 **
Galat 20 11195,6 559,78
Total 24 45187
GT : 39200
Txr : 25
Y : 1568
AKG : 23,66
KK : 1,51
44
Lampiran 15. Perbandingan Tinggi dan Jumlah Daun Bibit Kelapa Sawit
Hasil Penelitian dengan Standar PPKS
1. Tinggi Bibit
2. Jumlah Daun
45
Lampiran 16. Hasil Analisis Tanah
46
Lampiran 17. Hasil Analisis cocopeat
47
Lampiran 18. Data Curah Hujan Bulan Februari - Mei 2023
Bulan (mm)
Tanggal
Februari Maret April Mei
1 - 5,5 0 38,5
2 - 0 29,6 0,7
3 - 0 0 0
4 - 0,5 0 3,4
5 - 0 3,8 4,6
6 - 0 11,5 0
7 - 0 0 45,6
8 - 0 23,3 6
9 0 1 0 25,7
10 0 0 0 0
11 0 5,6 0,5 -
12 1,6 79,9 0 -
13 19,5 0 15,8 -
14 0 0,2 0 -
15 25,1 0,7 4,4 -
16 0 5,8 3,6 -
17 3,7 0 4,8 -
18 0 1 0 -
19 4 0 0 -
20 2,6 57,5 0 -
21 0 19 5,1 -
22 29,2 0 0 -
23 15,1 0 0 -
24 8,5 0 24 -
25 15,8 1,4 21,9 -
26 0 13,3 0 -
27 0 33,2 17 -
28 27,5 0,1 0 -
29 0 0 12 -
30 0 1,9 1,5 -
31 0 27,9 0 -
Total 152,6 254,5 178,8 124,5
Sumber : Stasiun BMKG Sungai Duren, Muaro Jambi
48
Lampiran 19. Data Suhu Udara Bulan Februari - Mei 2023
Bulan (0C)
Tanggal
Februari Maret April Mei
1 - 25,6 27 26,1
2 - 26,6 27,2 28,4
3 - 25,8 25,2 27,4
4 - 25,9 28,2 28,2
5 - 26,3 26,8 28,5
6 - 26,7 27,3 27,8
7 - 27,1 28,2 26,8
8 - 27 26,7 29,2
9 28,1 27,6 27,2 28,1
10 28,4 26,7 27,5 28,5
11 27,8 25,4 28,3 -
12 27,7 25,6 28,6 -
13 27,5 26,6 28,5 -
14 27,7 25,3 27,1 -
15 26,8 25,8 27,7 -
16 25,9 26 26,7 -
17 26,9 27,5 28,3 -
18 27 27,1 27,3 -
19 26,8 26,5 27,6 -
20 26,6 26,8 27,5 -
21 26,6 27,4 28,2 -
22 26,5 27,1 27,9 -
23 26 27,1 27,7 -
24 25,8 27,1 27,1 -
25 26,2 26,6 28,2 -
26 26,6 28,1 27,1 -
27 25,6 25,7 27,5 -
28 25 28,3 29 -
29 0 27,3 27,9 -
30 0 26,9 28,8 -
31 0 27,6 0 -
Rata-rata 26,8 26,7 27,8 28,3
Sumber : Stasiun BMKG Sungai Duren, Muaro Jambi
49
Lampiran 20. Data Kelembaban Udara Bulan Februari - Mei 2023
Bulan (%)
Tanggal
Februari Maret April Mei
1 - 88 88 90
2 - 80 84 84
4 - 85 89 89
5 - 84 81 85
6 - 82 84 86
7 - 80 82 86
8 - 83 86 94
9 82 86 84 84
10 81 80 82 83
11 82 84 84 82
12 81 93 80 -
13 83 89 82 -
14 81 87 83 -
15 85 87 92 -
16 87 89 89 -
17 78 87 88 -
18 86 80 81 -
19 88 82 87 -
20 85 87 86 -
21 86 86 86 -
22 84 80 82 -
23 88 86 85 -
24 90 86 86 -
25 86 84 88 -
26 84 89 82 -
27 88 84 90 -
28 94 91 83 -
29 0 80 82 -
30 0 85 83 -
31 0 90 84 -
Rata-rata 84,95 85 84,8 86,3
Sumber : Stasiun BMKG Sungai Duren, Muaro Jambi
50
Lampiran 21. Dokumentasi Penelitian
51
Gambar 7. Penanaman Bibit Kelapa Gambar 8. Penyiraman Tanaman
Sawit
52
Gambar 13. Pengukuran Volume Akar Gambar 14. Pengeringan Tajuk dan
Akar
Gambar 17. Pengukuran luas daun bibit Gambar 18. Petakan penelitian
kelapa sawit tampak depan
53
Gambar 19. Petakan penelitian tampak Gambar 20. Spanduk penelitian
samping
Gambar 21. Bibit kelapa sawit berbagai Gambar 22. Bibit Kelapa Sawit p0
perlakuan (p0-p4)
Gambar 23. Bibit Kelapa Sawit p1 Gambar 24. Bibit Kelapa Sawit p2
54
Gambar 25. Bibit Kelapa Sawit p3 Gambar 26. Bibit Kelapa Sawit p4
55