Lecture Notes
GRAVITY METHOD
In Exploration Geophysics
by
Syamsu Rosid
Geophysics Program Study
Department of Physics
University of Indonesia
2005
SILABUS METODA GRAVITASI
PENDAHULUAN
TEORI DASAR GRAVITASI
I.
II.
abcdefghIII.
IV.
Percepatan Gaya Berat
Variasi Gaya Berat terhadap Lintang
Standar Gaya Berat IGSN71
Potensial Gaya Berat
Persamaan Medan Potensial
Turunan Potensial
Geopotensial dan Geoid
Densitas Batuan
DATA ACQUISISI
a- Instrumentasi
b- Prosedur Lapangan
DATA PROCESSING
a- REDUKSI
a-1. Reduksi Udara Bebas (Free Air)
a-2. - Bouguer
a-3. - Terrain/Medan
a-4. - Isostatik: * Pratt Hayford
* Airy - Heiskanen
b- KOREKSI
b-1. Koreksi Eotvos
b-2. - Pasang Surut
b-3. - Lintang
b-4. - Apung/Drift
b-5. - Thermal
c-
ANOMALI
c-1. Anomaly Udara Bebas
c-2. - Bouguer
c-3. - Isostatik
DATA INTERPRETATION
V.
abVI.
Interpretasi Qualitative
- - Quantitative
APPLICATION SAMPLES
PENDAHULUAN
Gravimetry : - gravis (Latin)
= heavy
- (Yunani) = measure
Bumi Homogen ?
Yes, no problem !
No !
(misal, terkait dengan sifat fisis batuan)
Perlu menentukan: - Konfigurasi Struktur Geologi
- Komposisi Bawah Permukaan
Diperlukan Metoda Geofisika:
Potential Field methods
o
o
o
Gravity methods
Magnetic methods
Radiometric methods
Seismic methods
o Body waves (P and S waves)
o Surface waves (direct, Rayleigh, ground-roll waves)
o Microseismic/microearthquake
Electrical methods
o
o
o
o
o
SP methods
IP methods
Resistivity methods
Equipotential and Mise-a-la-Masse methods
MT and CSAMT methods
Electromagnetic methods
Metoda
Gravitasi
o Frequency-domain EM methods
o Time-domain EM methods
o GPR (Ground Penetrating Radar) methods
Variasi
Medan
o VLF (Very
Low Frequency)Variasi
methods
o Seismoelectric
methods
Gaya
Berat
Rapat Masa
Nuclear methods
Gravitasi
Relatif
Jika:
- Bumi bulat sempurna - Gaya yang bekerja pada suatu
- Bumi Homogen
benda di seluruh permukaan bumi
sama
- Percepatan gravitasi konstan
Realita:
- Bumi tidak homogen
- Bumi tidak bulat sempurna
- Bumi ber-rotasi
Percepatan Gravitasi
bervariasi !
Faktor yang mempengaruhi nilai gravitasi:
- ukuran & bentuk planet bumi
- massa bumi
kuat Geodesi
- kecepatan rotasi bumi
- ketidak teraturan densitas batuan
-topografi
lemah Geofisika
Semua material di Bumi dipengaruhi oleh Gravitasi
g
~ 1/r2
Fg dipengaruhi oleh batuan pada :
- kerak Bumi
kecil sekali
- mantel Bumi
- inti Bumi
sangat besar
Mantel &
Inti Bumi
- teratur
- smooth
g permukaan teratur
& smooth variation
0,3 % g oleh batuan kerak dan 15% darinya (berarti 0,05%g)
berasal dari bagian kerak 5 km teratas.
nya g yang umumnya 0,01% g di seluruh tempat. Ini oleh
mineral2 komersial dengan nilai ~ 10-5g.
<g> di seluruh dunia 980 5 gal (0,5% ekuator kutub).
Dalam eksplorasi migas & mineral fluktuasinya hanya beberapa
mgal (10-6g) sensitivitas alat 0,01 mgal.
Satuan percepatan gravitasi:
SI
Geophysicists
12345-
: 1 m/det2
: 1 gal = 1 cm/det2
= 1000 mgal
= 10.000 gravity unit
= 1000.000 = 10-6 microgal
Kesamaan dan Perbedaan
Metoda Gravitasi dan Magnetik
Sama mengukur beda medan potensial pasiv
-- dapat mengukur medan absolute
-- medan utamanya bervariasi terhadap posisi (lintang)
dan (cenderung mengecil) terhadap waktu
Variasi Gravitasi relative kecil & uniform dibanding Magnetik
Instrument Gravitasi lebih sensitive, lebih mahal dan luas
dalam operasional lapangannya
6789-
Variasi waktu medan Magnetik lebih cepat dan kompleks
daripada medan Gravitasi
Factor koreksi pada Gravitasi lebih complicated, bahkan
terhadap semua metoda geofisika lainnya
Tingkat akurasi medan anomaly magnetic lebih besar
Kerjaan di lapangannya, Gravitasi lebih lambat dan butuh
personal skill yang tinggi
Applications of the Gravity Method :
Shape of the Earth (Geodesy)
Basin geometry
Bedrock depths
Fault locations
Subsurface voids
Location of local density changes
TEORI DASAR GRAVITASI
Gravitasi Alami
Awal abad 17, 3 postulat Kepler (Johanes Kepler) tentang gerak
planet dalam system matahari:
1- Lintasan sebuah planet : ellips dengan matahari sebagai
salah satu titik focusnya
2- Hukum luas: pada t yg sama menyapu luasan yg
sama
3-
Hukum perioda: T2 = k r3rerata (k konstanta)
Saat yang sama di tempat lain,
Galileo : Benda2 kecil yang jatuh ke permukaan bumi
dipercepat secara unifo rm
Setengah abad kemudian,
Isaac Newton (1643 1727):
gerakan2 benda yang berbeda dibangun oleh gaya gravitasi
antar satu benda terhadap yang lainnya
Hukum Gravitasi:
F G
G = 6,673 x 10-8 (gr/cm3)-1det2
= Konstanta gravitasi umum
m2
Newton
g12
m1
m4
g14
g13
m1 m2
r2
m3
m m
F ( r) G 1 2 2 r
r
g (r)
F
m1
m2
r
r2
g15 m5
gravitas: kapasitas sebuah partikel
untuk mempercepat benda lain
P(x,y,z)
Q
Y
dm(,,)
Gaya berat di P yang berasosiasi dengan elemen
titik Q dengan vol.V dan
kerapatan (,,)
dm
g (r) G
(r)
Z
r
Masing-masing komponennya (dalam bentuk Integral) :
2
gv
gy
gx
Cos
( z )
dV G
dV
2
r
r3
Cos
( y )
G
dV G
dV
2
r
r3
Cos
( x )
G
dV G
dV
2
r
r3
Dalam bentuk differensial
dg x
dg y
dg z
dm
Cos
r2
dm
G 2 Cos
r
dm
G 2 Cos
r
G
g bisa diperoleh dari turunan parsial terhadap fungsi
V
dV
r
Tapi potensial gravitasi tak dapat diukur !
Maka,
gx
V
x
gy
V
y
gz
V
z
Medan Gravitasi Bumi
Asumsi Bumi :
- uniform
- massa total M
- jejari bola R
g G
M
R2
Real :
terjadi pemipihan/flattened, karena keseimbangan antara
gaya gravitasi dan gaya centrifugal dari efek rotasinya
Jejari di ekuator lebih besar daripada di kutub karena gaya
centrifugal yang menarik massa ke luar
REquator = RPole + 21 km = 6378 km
Bentuk Bumi secara matematik dapat di tampilkan sebagai
sebuah ellips yang berotasi atau oblate spheroid
Topografi permukaan Bumi juga hal penting yang
mempengaruhi pengukuran gravitasi
Gravity value
The gravity is affected by 5 factors:
Tidal
Latitude variation
Azimuth
Topography
Density variation
Gravity Variation with Latitude
Nilai Gravity di kutub adalah 51860 g.u. lebih besar dari pada di
ekuator. Percepatan benda oleh gravity bervariasi terhadap
latitude karena :
1. Earths shape: radius is 21 km greater at equator so g is
less
2. Earths rotation: Centrifugal acceleration reduces g. Effect is
largest at equator where rotational velocity is greatest, 1674
km/h. Zero effect at poles.
Isogravity map on the Earth
North Pole
an
d
Equator
Equator
P
B
g g
Equator
an = 2 d = 2 R Cos percepatan centrifugal
berubah-ubah sebagai fungsi dari d = R Cos
g = perc. gravitasi massa
berubah-ubah sebagai fungsi R (jarak ke pusat)
g = perc. gravitasi (jatuh bebas)
= lintang geografis
= kecepatan sudut titik P = 2 T-1
T = periode rotasi Bumi = 86.164 detik = 1 hari
acf
g = g + acp = g - acf
Karena acf berubah-ubah
g = g + acf
g berubah
dan
gmax = gk = g karena acf = 0 dan R minimum
gmin = ge
- - acf = max dan R maximum
Dari PAB
g = [(gk - acf Cos )2 + a2cf Sin2 ]1/2
= [g2k 2 acf gk Cos + a2cf Cos2 + a2cf Sin2 ]1/2
= [g2k 2 acf gk Cos + a2cf]1/2
= gk [ 1 2 Cos acf/gk + (acf/gk)2]1/2
gk [ 1 (2 R Cos2)/gk]1/2
= gk ( 1 Cos2)
dimana :
= 2 R/gk = percepatan centrifugal di ekuator =
0,0336
percepatan gravitasi di kutub
9,81
= 0,003
Di Equator = 0
gk = ge (1 )-1
ge (1 + )
Jadi: g = ge (1 + ) (1 Cos2 )
ge = gk (1 )
g ge (1 + Sin2 )
g bertambah dari equator ke kutub, tergantung dari
lintang geografis .
Variasinya dalam interval 10-5 10-2 % dari gtotal
( 10 ms-2) satuan yang dipakai 1 ms-2 (0,1 mgal).
Flattened tergantung pada:
- kecepatan rotasi
- sifat-sifat fisis batuan
f
Re Rk
Re
Req > 21 Km daripada Rk
gk > 5.17 gal daripada ge
- acf di equator: memperbesar gk 3,39 gal
- titik kutub lebih dekat ke pusat bumi gk diperbesar 6,63 gal
- tarikan massa di equator > kutub memperkecil ge sebesar
4,85 gal.
Total Perbedaan gk ge = 3,39 + 6,63 4,85 = 5,17 gal.
Rumusan g fungsi lintang secara umum (P.V. Sharma)
bumi ellipsoid
g = g0 (1 + c1 Sin2 c2 Sin2 2 );
g0 = g di equator
c1, c2 = konstanta
bergantung model bumi
1. Helmert (1980)
g= 978, 030 (1 + 0,005 302 Sin2 0,000 007 Sin2 2)
f =
1__
298.2
dengan ellipsoid Krassovki
2. U.S. Coast & Geodetic Survey (1917)
g= 978, 039 (1 + 0,005 294 Sin2 0,000 007 Sin2 2)
dengan f = 1__
lokasi di AS
297.4
dari hasil survey gravity di 216
43 lokasi di Canada
17 lokasi di India
3. International Gravity Formula by IUGG (1930)
g= 978, 049 (1 + 0,005 288 4 Sin2 0,000 005 9 Sin2
2)
dengan f = 1__
General Assembly Int. Association
of
297
Geodesy dengan ellipsoid Hayford
4. Geodetic Reference System 67 (GRS 67) % IUGG
g= 978, 031 846 (1 + 0,005 278 895 Sin2 + 0,000 023
462
Sin4 2)
Re = 6 378 160 m
Rk = 6 356 774,5 m
f = __1___
298,247
= 7,2921151467.10-5 rad/det
oleh IAG tahun 1967 dengan data satelit.
5. IUGG ( Int. Union of Geodesy and Geophysics) th. 1980
g= 978, 031.8 (1 + 0,005 302 4 Sin2 0,000 000 59
Sin2 2)
dari satelit. Dan hasil ini untuk analysis data gravitasi tak terlalu
beda dengan GRS 67.
POTENTIAL GRAVITASI
Medan Gravitas Medan konservatif
Kerjanya bergantung lintasan, ia hanya
bergantung pada nilai awal dan ahir saja.
Gravitas merupakan vector dengan arah lintasan sepanjang
garis yang menghubungkan kedua pusat massa, dan gaya ini
timbul sebagai fungsi potensial scalar:
U (r )
F (r )
m
g (r )
Solusinya:
g dr
U (r )
GM
dr
M
R
P(x,y,z)
G
dU
dm
r
dx dy dz
r
r2 = x 2 + y 2 + z 2
dimana
y
Potensial Total dari massa m:
x
U
Dalam koord. Silinder
Dalam koord. Bola
1
dx dy dz
r
dr d dz
r
r Sin dr d d
r
Percepatan gravitasi arah Vertikal (sumbu z) :
gz
U
Z
x y z
z
dx dy dz
r3
(*)
Silinder :
gz
Bola :
gz
z
dr d dz
r2
z
Sin dr d d
r
Sin Cos dr d d
r
Untuk Potensial 2-D logaritmik uniform pada bilang x-z dan
berubah sepanjang y maka (*) menjadi:
dz dx
x z
dy
r
Jika potensial tersebut di integrasikan pada batas L, maka :
L
UL
dy
r
dy
L ( x 2 y 2 z 2 )1 / 2
log
dy
y 2 )1 / 2
dan
a2 = 1
L L2 1
L2 a 2
log
L L2 1
L L2 a 2
2
2
2
L L a L L 1
L L2 a 2 L L2 1
log
L L a
L L2 a 2
log
Untuk hal khusus,
UL
(a
a2 = x 2 + z 2
Dimana :
UL
1 (1 a 2 / 2 L2 )
log
a 2 / 2 L2
1 / 2 L2
2
2 1/ 2 L
Untuk L >> a
U L log
r = x2 + z2
2 1
a2 2
log ( x 2 z 2 ) 2 log r
y = a tan
Hasil Potensial Logaritmik:
U
2G
log (1 / r ) dx dz
x z
dan
gz
U
z
2 G 2 dx dz
z
r
x z
PERSAMAAN MEDAN POTENSIAL
Teori Divergensi (Teorema Gauss):
g dV
dS
Jika dalam volume tersebut tidak ada gaya yang bekerja
integral diatas hasilnya nol, dan
g
Karena gaya gravitasi merupakan gradient potensial scalar,
maka:
g U 2 U 0
adalah Persamaan Laplace Potensial gravitasi dalam ruang
hampa.
2U
2U
2U
x 2
y 2
2U
z 2
1
U
(r 2
)
r r
r
1
U
1
U
1
2U
(r 2
) 2
( Sin
) 2
0
2
2
r
r r
r Sin
r Sin 2
1 2U
2U
r 2 2
z 2
Dari teorema Gauss, jika ada satu elemen massa m pada suatu
permukaan bola berjarak r dari pusat bola, maka persamaan
tersebut dapat dituliskan :
g
dS
Gm
4r 2 4 G m
2
r
Jika setiap permukaan bola tertutup massa M, maka:
g dV
dS 4 G M
Jika volume V sangat kecil, tapi menutupi sebuah titik dalam
daerah tersebut maka tanda integral dapat dihilangkan, so:
g 4 G
2U
4 G
dan
pers. Poisson
potensial gravitasi dalam suatu daerah dipengaruhi oleh
tarikan materi.
TURUNAN POTENSIAL
Komponen vertical gaya berat dapat langsung diukur dengan
gravimeter. Komponen ini tegak lurus terhadap permukaan bumi
rata-rata (gz).
Gradient gravitasinya dapat diturunkan dengan menggunakan
turunan kedua potensial:
1
g z
2U
3z 2
r 3 r 5
z
z 2
dari
gz
d(z/r3) = ((1/r3) (3z2/r5)) dz
dari potensial Logaritmik:
Untuk kasus 2-D:
dx dy dz
z
dx dy dz
r3
gz
g z
2U
2G
z
z 2
2G
2 z2 r2
X Z r 4
dx dz
X Z
dx dz
Dengan cara yang sama, turunan keduanya untuk 3-D:
5 z 3 3z
2 gz
3U
G
r 7 r 5 dx dy dz
z 2
z 3
Untuk 2-D:
2gz
3U
4G
z 2
z 3
3 z 4 z3
X Z r 4 r 6 dx dz
Dengan cara yang sama bisa diturunkan untuk koordinat bola
dan silinder.
Dari rumusan diatas:
g
o Turunan I z gradient vertical ini jarang digunakan untuk
eksplorasi darat dan laut, namun kadang-kadang digunakan
untuk eksplorasi Udara (airborne gravity).
2g
o Turunan II z 2 z dalam menganalisa data ia dapat
z
memberikan gambaran perbedaan kontinuitas distribusi
anomaly arah vertical (upward maupun downward
continuation)
Sedangkan untuk komponen horizontal dapat diturunkan dari
persamaan gz di atas (*) terhadap sumbu x atau y gradien
horizontal gravitasi.
U XZ
g z
2U
3 G
x z
x
xz
4G
dx dy dz
xz
dx dz
r4
(3D)
(2D)
Perubahan nilai gz terhadap horizontal cukup penting perannya
untuk menganalisa ketajaman suatu profil yang dihasilkan oleh
rapat atau tidaknya suatu kontur iso anomali. Sehingga kita
dapat kedalaman benda anomali massa tersebut.
Nilai gradient horizontal dapat diperoleh dari pengukuran,
sebagai slope atau laju perubahan gz terhadap perubahan posisi
horizontal.
Turunan kedua potensial gravitasi lainnya adalah kecendrungan
ke arah horizontal (Horizontal Directive Tendency / HDT
differential curvature), secara matematis berbentuk:
U XX
g x
2 U
G
x
x 2
3 x2
1
3 dx dy dz
5
r
r
Komponen komponen lainnya:
U YY
2 U
y 2
dan
U XY
2 U
x y
Karena kita tak mungkin mengukur langsung gx dan gy kurva
differensial hanya dapat diperoleh dengan menggunakan torsion
balance.
SPHEROID / GEOPOTENSIAL DAN GEOID
Bentuk bumi saat ini telah diketahui (dari hasil satelit dan
pengukuran geodesi) spheroid.
Cembung di ekuator dan pepat di kutub.
1
Perbedaan jejari r, menghasilkan f 298.25
pemampatan kutub
Secara teoritis hal ini dimungkinkan, dengan asumsi:
bumi sebagai massa fluida
bumi berotasi pada sumbu polarnya
rapat massa bumi bertambah terhadap kedalaman (3 gr/cc di
permukaan sampai dengan 12 gr/cc di pusat bumi, meskipun
variasinya tidak uniform)
Permukaan dari bentuk teoritis ini, merupakan suatu
ekuipotensial medan gravitasi + acp.
Harga-harga gravitasi pada semua titik permukaan bumi
spheroid referensi
Permukaan ini berkaitan dengan permukaan mean sea level
yang menghilangkan efek massa daratan yang berlebih dan
mengisi kekosongan samudra. Jadi ini merupakan permukaan
ekuipotensial (mean sea level).
Gaya gravitasi di semua tempat akan normal terhadap permukaan ini,
atau garis unting-untingnya vertikal terhadap permukaan ini.
Formula yang diadopsi oleh IUGG pada 1930, g pada semua titik
spheroid ini:
g g 0 1 Sin 2 Sin 2 2
g0 = gravitasi ekuator = 978,0490 gal
= 0,005288.4
= lintang geografis
= -0,0000059
Rumusan di atas berlaku jika dianggap tidak terjadi undulasi di
permukaan bumi, kenyataannya:
- elevasi daratan benua rata-rata 500 m
- elevasi pulau maximum dan depresi samudra 9000 m
Memperhatikan aspek-aspek data di atas, geodesis mengambil
geoid sebagai local sea level.
Geopotensial (spheroid) dan geoid tidak pernah segaris;
- di samudra geoid lebih rendah daripada geopotensial
- di daratan benua geoid lebih tinggi daripada geopotensial
(keduanya terjadi karena tertarik oleh massa batuan)
VARIASI GRAVITASI TERHADAP KETINGGIAN
DI ATAS MUKA LAUT
Jika gravitasi pada titik P di permukaan yang berjarak r ke pusat
bumi berbentuk:
g G
dg 2 G
M
r2
, maka:
M
g
dr 2 dr
3
r
r
Jika pertambahan jejari dr dinyatakan dalam bentuk ketinggian di
atas muka laut h
2
dg
dg
g
9,81 ms 2
ms 2
6 ms
2 2
3
,
080
.
10
3
,
08
dr
h
r
m
m
6,371.10 6 m
Ini berarti bahwa (percepatan) gravitasi akan berkurang terhadap
ketinggian dalam bentuk:
(1)
g 3,080 h
Jika ketinggian P bertambah h meter dari mean sea level (bumi
dianggap bola), maka gravitasi berkurang sebesar
g 0,3080 h mgal Free Air Correction
Jika bumi berbentuk ellipsoid:
g 3,0855 h 0,000 000 72 h 2 0,000 219 h Cos 2
(2)
lintang geografis di titik P
Catatan: Untuk elevasi yang kecil dan
akan lebih tepat untuk digunakan!
< 450, persamaan (1)
RAPAT MASSA BATUAN
Penyebab fisis anomali gravitasi inhomogenitas kerapatan di
lapisan bumi yang lebih
atas
Maka dalam interpretasi data harus memperhatikan kondisikondisi:
- geologis grain of rock
- petrografis rock content
- densitas batuan Bagaimana mengukurnya?
Dalam geofisika terapan dikenal:
a. Densitas batuan alami p : perbandingan antara massa m
dari benda keseluruhan (3 fase seluruhnya) di bawah kondisi
alami terhadap volumenya V.
p
m
V
b. Densitas batuan volume 0 : perbandingan antara massa
pada fase padat mt terhadap volume benda seluruhnya V.
0
mt
V
c. Densitas dari fase padat batuan atau densitas mineralogi m :
perbandingan antara massa fase padat mt terhadap
volumenya Vt.
m
mt
Vt
Porositas batuan p: ratio antara volume pori-porinya Vp terhadap
volume total benda V
p
Vp
V
100 0 0
Vp
V
Porositas batuan
V Vt
V
m
1 t 1 t . 0 1 0
V
V
m mt
m
p 1 0 100 0 0
m
Densitas mineralogi bergantung pada komposisi mineral pada
fase padat. Dalam batuan non porous (p < 1%) p = 0 = m
Rapat massa batuan alami dapat dihitung dari densitas volume
dengan memasukkan suatu koreksi untuk kandungan air dalam
pori-pori batuan.
Dari densitas batuan, kita tahu: - ratio massa batuan terhadap
volumenya
- struktur dan bentuk geometri
Batuan umumnya berada dalam 3 fase:
- padat (matriks mineralogi)
- fluid/cair
- gas
DENSITAS BATUAN ALAMI
Densitas batuan alami bervariasi:
1,20 p 3,50 gr/cc
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi p:
- komposisi mineralogi batuan (komposisi kimia)
- struktur dan tekstur batuan
- tingkat diagenesis dan metamorfosa batuan
- usia dan posisi geologis (batuan yang sama dapat memiliki
beda deviasi 5 s.d. 20 % dari harga rata-rata pada lokasi
yang berbeda)
Densities of Geological Materials
We must know accurately the density of typical subsurface rocks
to interpret gravity data. The table below gives common ranges
and average values for density in Mg m-3.
sedimen < beku < metamorf
Densities of Sedimentary Rocks
Sedimentary rocks exhibit the greatest range of density variation
due to factors such as:
Mineral composition
Cementation
Porosity
Pore fluid type
Typically the contrast between adjacent sedimentary layers is
less than 0.25 Mg m-3.
Density is increased by depth of burial:
Sandstones and Limestones: density is increased by infilling
of the pore space, not by volume change.
Shales: density increased by compaction, and ultimately
recrystallisation into minerals with higher densities.
sedimen makin meningkat terhadap kedalaman dan waktu lebih
terasa pada clay dan shale (0,1 0,6 gr/cc untuk setiap
kedalaman km) daripada dalam sandstone dan limestone.
Densities of Igneous Rocks
Igneous rocks tend to be denser than sedimentary rocks, with
the density controlled primarily by silica content:
Mafic rocks are thus denser than felsic.
Ultramafic rocks are most dense
The range of density variation tends to be less than in sediments
as porosities are typically lower.
lava < intrusi
beku basa > beku asam
ini dicirikan oleh porositas yang sangat kecil : 0,2 3 %; dan
sangat jarang hingga 5%.
Densitas batuan beku sangat tergantung pada komposisi
mineralogy dan kimia batuannya.
Batuan beku yang mengandung kuarsa dan alkali feldspar porsi
tinggi nya rendah
Bertambahnya feldspar basic, mika dan mineral-mineral gelap
lainnya bertambah
rendah
tinggi
: andesit (2,50 gr/cc) dan granite (2,65 gr/cc)
: gabro diperkaya olivine (3,08 gr/cc) dan peridotit
(3,20 gr/cc)
Densities of metamorf
Metamorf: sediment yang bermetamorfosa (marmer, slate/batu
sabak, dan kuarsa) dimana nya lebih rapat
daripada batu asalnya (limestone, shale, dan
sandstone)
metamorf bertambah sebanding dengan berkurangnya tingkat
ke-asaman batu tsb
Batuan metamorf dicirikan oleh porositas yang rendah.
- metamorf paling kuat = 0,5 0,1%; tinggi = 3,30 gr/cc (eklogit)
-
--
lemah
5 6 %; rendah = 2,45 gr/cc (phyllit)
Densitas batuan metamorf : 2,40 3,40 gr/cc
bergantung pada :
- komposisi mineralogy
- tingkat metamorfosa dan diagenesa
Batuan hasil pelapukan dan erosi (efek hidrotermal misalnya)
dan batuan yang dipengaruhi oleh tektonik, nya lebih rendah
daripada batuan yang tidak terganggu.
Adanya bijih-bijih mineral merubah densitas batuan
Deposit material-material mentah/kasar yang berguna, memiliki:
- densitas sangat rendah material mentah non-metalliferous
- tinggi ore deposit
Semua ini sangat berpengaruh dalam explorasi gravitasi yaitu
penentuan massa anomaly yang cukup besar yang berkait
dengan kedalaman deposit itu berada.
MENENTUKAN DENSITAS BATUAN
Ada 2 cara pengukuran:
1- petrofisik indoor
2- pengukuran gravitasi outdoor
Cara I (pengukuran sample) lebih sering dipakai dalam aplikasi
geofisika, karena dapat menentukan tiap batuan.
Cara II hanya dapat menentukan rata-rata dari lapisan
permukaan kerak bumi in-situ.
Pengukuran cara lab adalah :
Sample dikeringkan lalu diukur
massanya diudara Mt
di fluida Mt
Mt
'
Mt Mt
Jika densitas fluidanya t
Dalam menentukan rapat volume 0, harus dicegah terjadinya
penetrasi fluida ke dalam pori-pori sample selama pengukuran
massa kedua sample dilapisi paraffin. Sebaliknya dalam
penentuan densitas mineralogy m, pori-pori harus penuh berisi
100% oleh fluida
Cara lain pengukuran gunakan densitometer.
Density determinations
1. Assume =2.67 Mg/m3 or 2.67 g/cm3.
2. Assign density based on literature search.
3. Measurements on hand samples, cuttings, and core.
4. Gamma-Gamma density logs.
5. Seismic velocities.
6. Borehole gravity:
g1 is increased by the downward attraction due to sheet, h
g2 is decreased by upward attraction of sheet, h
g2 is also increased by Free-Air gradient
g2 - g1 = 3.086h - 4 G h or 3.086h - 0.8382 h; where is in
Mg/m3 and h is in meters
7. Nettletons method of gravity (density) profiling.
8. Accounting for porosity: = fluid + (1 - ) dry; where = fractional
porosity
Pengukuran dari Lapangan/outdoor :
Metoda NETTLETON
Metoda ini dipakai dengan cara perhitungan gB (Anomali
gravitasi Bouguer) dari topografi massa antara titik-titik terendah
dan tertinggi dari profil gravity yang dibagi-bagi secara vertical.
Prinsipnya: gB dihitung untuk titik-titik sepanjang profil gravity
dengan harga yang berbeda-beda (dengan step 0,1 gr/cc).
kemudian disusun profil vertical gravity. Metoda ini tidak dapat
digunakan dalam lapangan/ terrain datar atau dalam daerah
yang densitas massa topografinya bervariasi sangat besar.
Penentuan harga menggunakan metoda Nettleton
TABLE
Density of Common Rocks
ROCK
Shale
Limestone and
dolomite
Sandstone
Soil and Alluvium
Rock salt
Felsic igneous rocks
Mafic igneous rocks
DENSITY RANGE
(g/cm3)
1.95-2.70
2.50-2.85
2.10-2.60
1.65-2.20
1.85-2.15
2.55-2.75
2.70-3.00
Formula matematisnya:
Jika ada n buah titik gravity Pi pada ketinggian hi gBi untuk r
tertentu.
Melalui pendekatan relief terrain dan medan gravitasi dengan
sebuah bidang diperoleh harga rata-rata gBi dan hi pada titik i.
Kurangkan terhadap harga awal gBi dan hi (gBi) dan hi.
Efek-efek dari:
- ketidak homogenan minor
- ketidak akuratan pengukuran
- dll
k = 2 G : konstan;
= koreksi densitas = r +
random error Vi
Vi = hi k + (gBi)
V2
Dengan metoda LEAST SQUARE
n
i 1
(g Bi )
(h )
i 1
dan
k
2 G
Densitas rata2 yang benar dari seluruh area
Po(0); g
P1(h); g1
P2(h+h); g2
Dua titik P1 dan P2 pada garis vertical yang sama dengan
kedalaman h dan h+h beda gravitasinya g = g2 g1
terukur.
Dari pers. Anomaly Bouguer:
gB (0) = g (h) gn (0) (0,3086 0,04193) h
dan dengan bantuan g1 & g2, dapat dihitung g untuk P0 pada
permukaan terrain (h = 0) 2 kali :
g = g1 gn 0,3086h + 0, 04193 0 h.
(1)
g = g2 gn 0,3086 (h +h) + 0,04193 (0 h + h).
(2)
(2) - (1) untuk lapisan tengah :
Atau yang lebih tepat:
0,3086 h g
0,04193 h
0,3086 h (g Tt s )
0,04193 h
Tt+s = beda antar koreksi topografi & koreksi untuk ruang yang
digali antara kedalaman P1 & P2.
gi1 1 + gi2 2 + + gin n + r = Fi + i
x b + a = y
i = gi1 1 + gi2 2 + + gin n + r - Fi
Penentuan densitas batuan dengan Metoda Least Squareselengkapnya baca di
Geophysics vol. 46 no. 11 p. 1568 1571
METODA PARASNIS
gB = gobs (gN 0,308 h + (0,04193 h T) )
(gobs. gN + 0,3086 h) gB = (0,04193 h T)
y
n
x
m
Buatkan linear regression gradient =