0% found this document useful (0 votes)
183 views14 pages

Obat Depresi

The document discusses several points about antidepressant drugs: 1. It lists 10 common antidepressants used in Indonesia and their recommended dosages. 2. It categorizes antidepressants into tricyclic, tetracyclic, MAOI, SSRI, and SNRI classes based on their mechanisms and chemical structures. 3. It describes the proposed mechanisms of action of antidepressants in increasing neurotransmitter levels in the brain. 4. Side effects, drug interactions, indications for use, and directions for use are summarized. Overdoses of tricyclics can cause toxic symptoms requiring diazepam treatment.
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
183 views14 pages

Obat Depresi

The document discusses several points about antidepressant drugs: 1. It lists 10 common antidepressants used in Indonesia and their recommended dosages. 2. It categorizes antidepressants into tricyclic, tetracyclic, MAOI, SSRI, and SNRI classes based on their mechanisms and chemical structures. 3. It describes the proposed mechanisms of action of antidepressants in increasing neurotransmitter levels in the brain. 4. Side effects, drug interactions, indications for use, and directions for use are summarized. Overdoses of tricyclics can cause toxic symptoms requiring diazepam treatment.
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

OBAT ANTI-DEPRESI

Sinonim : THYMOLEPTICS, PSYCHIC ENERGIZERS, ANTI DEPRESSANTS,


ANTI DEPRESAN
Obat acuan : Amitriptyline

SEDIAAN OBAT ANTI-DEPRESI DAN DOSIS ANJURAN


(yang beredar di Indonesia Menurut MIMS Vol. 7, 2006)
No Nama Generik Nama Dagang Sediaan Dosis Anjuran
1 Amitriptyline AMITRIPTYLINE (Indofarma) Drag 25 mg 75 – 150 mg/h
TRILIN (Harsen) Tab 25 mg
2 Tianeptine STABLON (Servier) Tab 12,5 mg 25 – 50 mg/h
3 Maprotiline SANDEPRIL -50 (Mersifarma) Tab 50 mg 100-225 mg/h

4 Sertraline ZOLOFT (Pfizer-Pharmacial) Tab 50 mg 50 – 150 mg/h


FATRAL (Fahrenheit) Tab 50 mg
ANEXIN (Sanbe) Tab 50 mg
FRIDEP (Mersifarma) Tab 50 mg
SERNADE (Novell Pharma) Tab 50 mg
DEPTRAL (Meptorafm) Capt 50 mg
SERLOF (Kalbe) Tab 50 mg
ZERLIN (Pharos) Tab 50 mg
5 Fluoxetine PROZAC (Eli Lilly) Cap 20 mg 10 – 40 mg/h
NOPRES (Ferron) ANSI Caplet 20 mg
(Bernofarma)
NOXETINE (Novell Tab 20 mg
Pharma)
DEPRESAC (Activis) Cap 20 mg
DEPROS (Sanbe) Cap 20 mg
FORANSI (Gracia Cap 10-20
Pharmindo)
ANTIPRESTIN (Pharos) Cap 10-20
ELIZAC (Mersifarma) Cap 20 mg
KALXETIN (Kalbe) Cap 10-20
ZAC (Ikapharmindo) Cap 10-20
6 Citalopram CIPRAM (Lundbeck) Tab 20 mg 10 – 60 mg/h

7 Mirtazapine REMERON (Organon) Tab 30 mg 15 – 45 mg/h

8 Duloxetine CYMBALTA (B-Ingelheim) Caplet 60 mg 40 – 60 mg/h

9 Veniafaxine EFEXOR-XR (Wyeth) Cap 75 mg 150 – 375 mg/h

10 Agomelatine VALDOXAN Tab 25 mg 25-50 mg/h

PENGGOLONGAN
1. Obat Anti-depresi TRISIKLIK = TRICYCLIC ANTIDEPRESSANTS (TCA) e.g.
Amitriptyline, Imipramine, Clomipramine, Tianeptine
2. Obat Anti-depresi TETRASIKLIK, e.g. Maprotiline, Mianserin, Amoxapine
3. Obat Anti-depresi MAOI-Reversible = REVERSIBLE INHIBITOR OF
MONOAMINE OXYDASE – A (RIMA). E.g. Moclobemide
4. Obat Anti-depresi SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) e.g.
Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Duloxetine, Citalopram.
5. Obat Anti-Depresan SNRI (Selective Norepinephrine Re-Uptake Inhibitors)
e.g. fenlavaxine, Duloxetine.
6. Obat Anti- Depresi MELATONERGIC (Melatonergic agonist MT1&MT2
Receptors and 5-HT2C Antagonist), e.g. Agomelatine
5. Obat Anti-depresi “ATYPICAL” e.g. Trazodone, Mirtazapine.

INDIKASI PENGGUNAAN Gejala Sasaran (target


syndrome) : SINDROM DEPRESI Butir-butir diagnostik
Sindrom Depresi
Selama paling sedikit 2 minggu dan hampir setiap hari mengalami :

1. Rasa hati yang murung

2. Hilang minat dan rasa senang

3. Kurang tenaga hingga mudah lelah dan kendur kegiatan

Keadaan di atas disertai gejala-gejala :

1. Penurunan konsentrasi pikiran dan perhatian

2. Pengurangan rasa harga diri dan percaya diri

3. Pikiran perihal dosa dan diri tidak berguna lagi


4. Pandangan suram dan pesimistik terhadap masa depan

5. Gagasan atau tindakan mencederai diri / bunuh diri

6. Gangguan tidur

7. Pengurangan nafsu makan

Hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, bermanifestasi dalam gejala :

penurunan kemampuan bekerja, hubungan sosial dan melakukan kegiatan rutin.


Sindrom Depresi dapat terjadi pada :

Sindrom Depresi Psikik :Gangguan afektif bipolar dan unipolar, (major


depression), gangguan distimik, gangguan
siklotimik, dll.
Sindrom Depresi Organik : Hypothyroid induced depression Brain injury
depression, obat reserpine, dll
Sindrom Depresi Situasional: Gangguan penyesuaian + depresi, grief

Reaction dll.

Sindrom Depresi Penyerta : Gangguan jiwa + Depresi (e.g. Gg. Obsesi


Kompulsi, Gg. Panik, Dementia) atau
Gangguan fisik depresi (e.g. stroke, MCI,
kanker, dll

MEKANISME KERJA
Hipotesis: Sindrom depresi disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau
beberapa “aminergic neurotransmitter” (noradrenaline, serotonin,
dopamine) pada celah sinaps neuron di SSP (khususnya pada sistem
limbik) sehingga aktivitas serotonin menurun.
Mekanisme kerja Obat Anti-Depresi adalah :
- Menghambat “re-uptake aminergic neurotransmitter”
- Menghambat penghancuran oleh enzim “Monoamine Oxidase”
Sehingga terjadi peningkatan jumlah “aminergic neurotransmitter” pada celah
sinaps neuron tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin.

PROFIL EFEK SAMPING


Efek samping obat Anti-depresi dapat berupa :
- Sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor
menurun, kemampuan kognitif menurun, dll)
- Efek Antikolinergik (mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, konstipasi,
sinus takikardia, dll)
- Efek Anti-adrenergik alfa (perubahan EKG, hipotensi)
- Efek Neurotoksis (tremor halus, gelisah, agitasi, insomnia)
Efek samping yang tidak berat (tergantung daya toleransi dari penderita), biasanya
berkurang setelah 2-3 minggu bila tetap diberikan dengan dosis yang sama.
Pada keadaan Overdosis/Intoksikasi Trisiklik dapat timbul “Atropine
Toxic Syndrome” dengan gejala : eksitasi SSP, hipertensi, hiperpireksia, konvulsi,
toxic confusional state (confusion, delirium, disorientation).
Tindakan untuk keadaan tersebut :
 Gastric lavage (hemodialisis tidak bermanfaat oleh karena obat Trisiklik
bersifat “protein binding”, forced diuresis juga tidak bermanfaat oleh karena
“renal excretion of free drug” rendah)
 Diazepam 10 mg (im) untuk mengatasi efek anti-kolinergik (dapat diulangi
setiap 30-45’ sampai gejala mereda)
 Monitoring EKG untuk deteksi kelainan jantung.
Kematian dapat terjadi oleh karena “Cardiac Arrest”. “Lethal Dose” Trisiklik =
sekitar 10 kali “therapeutic dose”, maka itu tidak memberikan obat dalam jumlah
besar kepada penderita depresi (tidak lebih dari dosis seminggu), dimana pasien
seringkali sudah ada pikiran untuk bunuh diri. Obat anti-depresi golongan SSRI
relatif paling aman pada overdosis.

INTERAKSI OBAT
 Trisiklik + Haloperidol / Phenothiazine = mengurangi kecepatan ekskresi dari
Trisiklik (kadar dalam plasma meningkat). Terjadi potensial efek antikolinergik
(ileus paralitik, disuria, gangguan absorbsi)
 SSRI / TCA + MAOI = Serotonin Malignant Syndrome dengan gejala-gejala
: gatrointestinal distress (mual, muntah, diare), agitation (mudah marah,
ganas), reslesness (gelisah), gerakan kedutan otot, dll.
 MAOI + Sympathomimetic drugs” (phenylpropanolamine, pseudoephedrine
pada obat flu/asma, noradrenalin pada anestesi lokal, derivat amfetamin, l-
dopa) = efek potensiasi yang dapat menjurus ke Krisis Hipertensi (acute
paroxysmal hypertension), dimana ada risiko terjadinya serangan stroke.
 MAOI + senyawaan mengandung “tyramine” (keju, anggur, dll) = dapat terjadi
krisis hipertensi (Hypertenive Crisis) dengan risiko serangan stroke pada
pasien usia lanjut.
 Obat anti depresi + “CNS Depressants” (morphine, benzodiazepine, alcohol,
dll) = potensiasi efek sedasi dan penekanan terhadap pusat napas risiko
timbulnya “respiratory failure”.

CARA PENGGUNAAN
Pemilihan obat
 Pada dasarnya semua obat anti-depresi mempunyai efek primer (efek klinis)
yang sama pada dosis ekivalen, perbedaan terutama pada efek sekunder
(efek samping)
Nama Obat Anti Kolinergik Sedasi Hipotensi Ortostatik Keterangan
Amitriptyline +++ +++ +++ +++ = berat
Imipramine +++ ++ ++ ++ = Sedang
Clomipramine ++ ++ ++ + - ringan
Trazodone + +++ + +/- = tidak ada/
Mirtazapine + +++ + Minimal sekali
Maprotiline + ++ +
Mianserin + ++ +
Amoxapine + + ++
Tianeptine +/- +/- +/-
Moclobemide +/ +/ +
Sertraline +/- +/- +/-
Paroxetine +/- +/- +/-
Fluvoxamine +/- +/- +/-
Fluoxetine +/- +/- +/-
Citalopram +/- +/- +/-

Pemilihan jenis obat anti-depresi tergantung pada toleransi pasien terhadap
efek samping dan penyesuaian efek samping terhadap kondisi pasien (usia,
penyakit fisik tertentu, jenis depresi)
Misalnya :
- Trisiklik (Amitriptyline, Imipramine)  efek samping sedatif, otonomik,
kardiologi relatif besar  diberikan pada pasien usia muda (young healthy)
yang lebih besar toleransi terhadap efek samping tersebut, dan bermanfaat
untuk meredakan “agitated depression”.
- Tetrasiklik (Maprotiline, Mianserin) dan Atipikal (Trazodone, Mirtazapine) 
efek samping otonomik, kardiologik relatif kecil, efek sedasi lebih kuat 
diberikan pada pasien yang kondisinya kurang tahan terhadap efek otonomik
dan kardiologik (usia lanjut) dan sindrom depresi dengan gejala anxietas dan
insomnia yang menonjol.
- SSRI (Fluoxetine, Sertraline, dll)  efek sedasi, otonomik, kardiologik sangat
minimal  untuk pasien dengan “retarded depression”. Pada usia dewasa &
usia lanjut, atau yang dengan gangguan jantung, berat badan lebih, dan
keadaan lain yang menarik manfaat dari efek samping yang minimal
tersebut.
- MAOI – Reversible (Meclobemide)  efek samping hipotensi ortostatik (relatif
sering)  pasien usia lanjut mendadak bangun malam hari ingin miksi 
risiko jatuh dan trauma lebih besar. Perubahan posisi tubuh dianjurkan tidak
mendadak, dengan tenggang waktu dan gradual.
- Mengingat profil efek sampingnya, untuk penggunaan pada Sindrom Depresi
ringan dan sedang yang datang berobat jalan pada fasilitas pelayanan
kesehatan umum, pemilihan obat anti-depresi sebaiknya mengikuti urutan
(step care) :
Step 1 = Golongan SSRI (Fluoxetine, Sertraline, dll.)
Step 2 = Golongan Trisiklik (Amitriptyline, dll.)
Step 3 = Golongan Tetrasiklik (Maprotiline, dll)
Golongan “Atypical” (Trazodone, dll)
Golongan MAOI Reversible (Moclobemide)
Pertama-tama menggunakan golongan SSRI yang efek sampingnya sangat
minimal (meningkatkan kepatuhan minum obat, bisa digunakan padaa
berbagai kondisi medik), spektrum efek anti-depresi luas, dan gejala putus
obat sangat minimal, serta “lethal dose” yang tinggi (>6000 mg) sehingga
relatif aman.

Bila telah diberikan dengan dosis yang adekuat dalam jangka waktu yang
cukup (sekitar 3 bulan) tidak efektif, dapat beralih ke pilihan kedua, golongan
Trisiklik, yang spektrum anti-depresinya juga luas tetapi efek sampingnya
relatif lebih berat.

Bila kedua belum berhasil, dapat beralih ketiga dengan spektrum anti-depresi
yang lebih sempit, dan juga efek samping lebih ringan dibandingkan Trisiklik,
yang spektrum anti-depresinya juga luas tetapi efek sampingnya lebih berat.

Bila pilihan kedua belum berhasil, dapat beralih ketiga dengan spektrum anti-
depresi yang lebih sempit, dan juga efek samping lebih ringan dibandingkan
Trisiklik, yang teringan adalah golongan MAOI reversible.
Disamping itu juga dipertimbangkan bahwa pergantian SSRI ke MAOI atau
sebaliknya membutuhkan waktu 2-4 minggu istirahat untuk “washout
period” guna mencegah timbulnya “Serotonin Malignant Syndrome”.

Lithium sering digunakan pada “Unipolar Recurrent Depression”, yaitu


untuk mencegah kekambuhan sebagai “mood stabilizers”, dibutuhkan kadar
serum lithium 0,4 – 0,8 mEq/L (kadar profilaksis).
Untuk efek Anti-mania, kadar serum lithium 0,8 – 1,2 mEq/L (kadar
terapeutik). Sedangkan kadar toksik adalah > 1,5 mEq/L.
Rentang kadar serum terapeutik dan toksik sempit, sehingga membutuhkan
monitoring kadar serum Lithium secara terus menerus untuk deteksi dini
intoksikasi.
Dosis obat Lithium sekitar 250 – 500 mg/h untuk mencapai kadar serum
Lithium Profilaksis.

Pengaturan Dosis
 Dalam pengaturan dosis perlu dipertimbangkan :
Onset efek Primer : sekitar 2-4 minggu
Onset efek sekunder : sekitar 12 – 24 jam
Waktu paruh : 12 – 48 jam (pemberian 1-2 x/hari)
 Ada 5 proses dalam pengaturan dosis :
1. Initiating Dosage (test dose)  untuk mencapai dosis anjuran selama
Minggu I. Misalnya, Amitriptyline 25 mg/h = hari 1 dan 2
50 mg/h = hari 3 dan 4
100 mg/h = hari 5 dan 6
2. Titrating Dosage (optimal dose)  mulai dosis anjuran sampai mencapai
dosis efektif  dosis optimal. Misalnya Amitriptyline 150 mg/h – hari 7 s/d
14 (minggu II). Minggu III : 200 mg/h  minggu IV : 300 mg/h
3. Stabilizing Dosage (stabilization dose)  dosis optimal yang
dipertahankan selama 2-3 bulan. Misalnya Amitriptyline 300 mg/h  dosis
optimal selama 2-3 bulan  diturunkan sampai dosis pemeliharaan.
4. Maintaining Dosage (maintainance dose)  selama 3-6 bulan. Biasanya
dosis pemeliharaan – ½ dosis optimal. Misalnya, Amitriptyline 150 mg/h 
selama 3-6 bulan.
5. Tapering Dosage (tapering dose)  selama 1 bulan. Kebalikan dari
proses “initating dosage”. Misalnya, Amitriptyline 150 mg/h  100 mg/h (1
minggu)  75 mg/h (1 minggu), 75 mg/h – 50 mg/h (1 minggu), 50 mg//h
 25 mg/h (1 minggu).
Dengan demikian obat anti-depresi dapat diberhentikan total. Kalau kemudian
Sindrom Depresi kambuh lagi, proses dimulai lagi dari awal dan seterusnya.
 Pada dosis pemeliharaan dianjurkan dosis tunggal pada malam hari (single
dose one hour before sleeping) untuk golongan Trisiklik dan Tetrasiklik. Untuk
golongan SSRI diberikan dosis tunggal pada pagi hari setelah sarapan pagi.

Lama Pemberian
 Pemberian Obat Anti-Depresi dapat dilakukan dalam jangka panjang oleh
karena “addiction potential”-nya sangat minimal.

Perhatian Khusus
 Kegagalan terapi obat anti-depresi pada umumnya disebabkan :
- Kepatuhan pasien menggunakan obat (compliance), yang dapat hilang
oleh karena adanya efek samping, perlu diberikan edukasi dan informasi
- Pengaturan dosis obat belum adekuat
- Tidak cukup lama mempertahankan dosis optimal
- Dalam menilai efek obat terpengaruh oleh persepsi pasien yang tendensi
negatif, sehingga penilaian menjadi “bias”.
 Kontraindikasi :
- Penyakit jantung koroner, MCI, khususnya pada usia lanjut
- Glaukoma, retensi urin, hipertrofi prostat, gangguan fungsi hati, epilepsi.
- Pada penggunaan obat Lithium, kelainan fungsi jantung, ginjal, dan
kelenjar thyroid.
 Wanita hamil dan menyusui tidak dianjurkan menggunakan TCA oleh karena
risiko teratogenik besar (khususnya trimester 1) dan TCA dieksresi melalui
ASI.
OBAT ANTI INSOMNIA
Sinonim : HYPNOTIC, SOMNIFACIENT, HIPNOTIKA
Obat Acuan : Phenobarbital

A. Sediaan Obat Anti-Insomnia dan Dosis Anjuran


No. Nama Generik Nama Dagang Sediaan Dosis Anjuran

1 Nitrazepam DUMOLID Tab. 5 mg 5-10 mg/malam


(actavis)
2 Zolpidem STILNOX Tab. 10 mg 10-20 mg/malam
(Sanofi-Aventis)
ZOLMIA Tab. 10 mg
(Fahrenheit)
ZOLTA Tab. 10 mg
(Novell Pharma)
3 Estazolam ESILGAN Tab. 1 mg 1-2 mg/malam
(takeda) Tab. 2 mg
ESTALIN Tab. 1 mg
(Novell Pharma) Tab. 2 mg
4 Ramelteon ROZEREM Tab 8 mg 8-16 g/malam
(Takeda)

B. Penggolongan
 Benzodiazepine: Nitrazepam, Estazolam
(Benzodiazepine Reseptore Agonist: B2RA).
 Non-Benzodiazepine : Zolpidem, Ramelteon
(Melantonine Reseptore Agonist: MT1/MT2).
C. Indikasi Penggunaan
Gejalan sasaran (target syndrome): Syndrom Insomnia
Butir-butir diagnostic Sindrom Insomnia:
 Membutuhkan waktu lebih dari ½ jam untuk tertidur (trouble in falling asleep) atau tidur
kembali setelah terbangun (sleep continuity interruption) sehingga sikluas tidur tidak utuh
dan menimbulkan keluhan gangguan kesehatan
 Hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari,bermanifestasi dalam gejala: penurunan
kemampuan bekerja, hubungan social dan melakukan kegiatan rutin.

Sindrom insomnia dapat dibagi menjadi 3 tipe menurut lamanya, yaitu:


a. Transient insomnia, hanya berlangsung 2-3 hari
b. Shorrterm insomnia, berlangsung sampai 3 minggu
c. Longterm insomnia, berlangsung dalam periode waktu yang lebih lama dan biasanya
disebabkan oleh kondisi medic atay psikiatri tertentu.
Dan ditinjau dari penyebabnya, Sindrom insomnia dapat dibagi menjadi:
a. Sindrom Insomnia Psikik: Gangguan afektof bipolar dan unipolar (episode mania atau
depresi), gangguan anxietas (panic, fobia)
b. Sindrom Insomnia Organik: Hypertyroidism, putus obat penekan SSP
(Benzodiazepine, Phenobarbital narkotika), zat perangsang SSP (cafein, ephedrine,
amphetamine)
c. Sindrom Insomnia Situasional: Gangguan penyesuaian + anxietas/depresi, perubahan
sleep-wake schedule, stress psikososial.
d. Sindrom Insomnia Penyerta: Gangguan fisik + Insomnia (pain producing illness,
paroxysmal nocturnal dyspnoe), Gangguan jiwa + insomnia (Skizofrenia, Gangguan
paranoid).
Bila penyebabnya tidak ditemukan , disebutkan “Primary Insomnia”
D. Mekanisme Kerja

Proses Tidur: Suatu siklus yang terdiri dari:


 Stadium Jaga (wake, gelombang beta)
 Stadium 1 (gelombang alfa, theta)
 Stadium 2 (gelombang delta 20%)
 Stadium 3 (gelombang delta 20-50%)
 Stadium 4 (gelombang delta >50%) = delta sleep
 Stadium REM (Rapid Eye Movement) = REM Sleep
Satu siklus berlangsung sekitar 90 menit, sehingga terjadi sekitar 4 5 siklus tidur yang teratur
pada tidur yang normal.
Pada keadaan:
Tidur ringan: Stadium 1 dan 2
Tidur dalam: stadium 3 dan 4 (Non REM Sleep)
Tidur dangka: stadium REM (terjadi mimpi)
Obat golongan benzodiazepine tidak meyebabkan “REM suppression dan rebound”.

E. PROFIL EFEK SAMPING


 Supresi SSP (Susunan Saraf Pusat) pada saat tidur Hati-hati pada pasien dengan insufisiensi
pernapasan, uremia dan gangguan fungsi hati, oleh karena keadaan tersebut tersebut
terjadi penurunan fungsi SSP dan dapat memudahkan timbulnya coma. Pada pasien usia
lanjut dapat terjadi “oversedation” sehingga risiko jatuh dan trauma menjadi besar, yang
sering terjadi adalah “hip fracture”
 Efek samping dapat terjadi sehubung dengan farmakokinetik obat anti-insomnia (waktu
paruh):
a. Waktu paruh singkat (sekitar 4 jam) e.g. Triazolam  gejala rebound lebih berat pada pagi
harinya dan dapat sampai menjadi panic.
b. Waktu paruh sedang. e.g. Eztazolam, Zolpidem  gejala rebound lebih ringan
c. Waktu paruh panjang. e. g. Nitrazepam, Flurazepam  menimbulkan gejala “hang over”
SUPRESIpada pagi harinya dan “intensifying day” time sleepiness.
d. Pengguanaan lama obat anti insomnia golongan benzodiazepine dapat terjadi
“disinhibiting” yang menyebabkan “rage reaction” (perilaku penyerang dan ganas).

F. Interaksi Obat
 Obat anti insomnia + CNS Depresi (alcohol dll) = potensi efek supresi SSP yang dapat
menyebabkan “oversedation dan respiratory failure”
 Obat golongan Benzodiazepine tidak meng-incude hepatic microsomal enzymnes atau
“produce protein binding displacement” sehingga jarang menimbulkan interaksi obat yang
digunakan utuk kondisi medic tertentu
 Overdosis jarang menimbulkan kematian, tetapi bila disertai Alkohol atau “CNS
Depressants” lain, risiko kematian menjadi meningkat.

G. Cara Penggunaan

Ditinjau dari sifat gangguan tidur, sindrom insomnia dapat dibagi:


 Initial insomnia: Sulit masuk kedalam proses tidur. Obat yang dibutuhkan adalah bersifat
“sleep inducing anti-insomnia” yaitu golongan Benzodiazepine (short acting)
 Delayed insomnia: Proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit kembali masuk ke dalam
tidur selanjutnya. Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Prolog latent phase Anti-
insomnia” yaitu golongan Hetero antidepresan (Trisiklik dan Tetrasiklik), misalnya pada
gangguan depresi.
 Broken insomnia: Siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan terpecah-pecah menjadi
berapa bagian (multiplr awakening). Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep
maintening anti-insomnia yaitu golongan Phenobarbital atau golongan Benzodiazepine
(long acting).
H. Pengaturan Dosis
 Pemberian tunggal dosis anjuran 15-30’ sebelum pergi tidur
 Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan dipertahankan sampai 1-
2 minggu, kemudian secepatnya tapering off untuk mencegah timbulnya rebound dan
toleransi obat.
 Pada usia lanjut, dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis lebih perlahan-lahan,
untuk menghindari “oversedation” dan intoksikasi. Ada laporan yang menggunakan
anti depresan sedative dosis kecil 2-3 kali seminggu (tidak setiap hari) untuk mengatasi
insomnia pada usia lanjut.

You might also like