Memahami Bimbingan dan Konseling Peserta Didik
Memahami Bimbingan dan Konseling Peserta Didik
PENDAHULUAN
1
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dan manfaat pembuatan dari makalah ini yaitu :
1. Pengertian dari Peserta didik.
2. Memahami konsep pengertian bimbingan dan konseling.
3. Memahami posisi bimbingan dan konseling.
4. Mengetahui faktor – faktor yang harus diketahui dalam dasar – dasar
pemahaman peserta didik.
5. Mengetahui pentinyya memahami peserta didik.
2
BAB 2
PEMBAHASAN
3
2.2 Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta
didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan
secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami
dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar,
sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan. Upaya bantuan ini dilakukan
secara terencana dan sistematis untuk semua peserta didik berdasarkan identifikasi
kebutuhan mereka, pendidik, institusi dan harapan orang tua dan dilakukan oleh
seorang tenaga profesional bimbingan dan konseling yaitu konselor.
Adapun tugas - tugas perkembangan peserta didik tingkat remaja (siswa
SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK) adalah:
Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap
perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan
yang sehat.
Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam
peranannya sebagai pria atau wanita.
Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam
kehidupan sosial yang lebih luas.
Mengenal kemampuan, bakat, minat, serta arah kecenderungan karir dan
apresiasi seni.
Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan
kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan/atau
mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan masyarakat.
Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan
mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi.
Mengenal sistem etika dan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dalam
kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, maupun makhluk Tuhan.
4
Mencapai kematangan dalam pilihan karir.
Mencapai kematangan dalam kesiapan diri untuk menikah dan
berkeluarga.
5
Posisi pengembangkan diri dan bimbingan berdasarkan perspektif
Bimbingan dan Konseling Perkembangan adalah pengembangan diri secara utuh
merupakan layanan dasar bimbingan (guidance curriculum), Selain itu dalam
bimbingan dan konseling masih terdapat tiga layanan lainnya, yaitu: layanan
responsif, layanan perencanaan individual, dan layanan dukungan sistem. Jadi
pengembangan diri hanya bagian dari layanan bimbingan dan konseling.
Implementasi layanan bimbingan dan konseling tidak hanya untuk peserta
didik yang bermasalah saja tetapi untuk seluruh peserta didik karena bertumpu
pada kebutuhan dan tuntutan lingkungan individu. Layanan bimbingan dan
konseling adalah layanan psikologis dalam suasana pedagogis. Layanan psiko-
pedagogis dalam seting persekolahan maupun luar sekolah dalam koteks kultur,
nilai dan religi yang diyakini konseli dan konselor. Orientasi bimbingan dan
konseling adalah perkembangan perilaku yang seharusnya dikuasai oleh individu
untuk jangka panjang tertentu menyangkut ragam proses pendidikan, karir,
pribadi, sosial, keluarga dan pengambilan keputusan.
Dalam memahami dasar – dasar pemahaman peserta didik hal – hal yang
perlu diperhatikan antara lain :
1) Kompetensi guru pembimbing/konselor
2) Mengetahui Klasifikasi Layanan
3) Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling
4) Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik
5) Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja
SMA)
6
dilakukan secara profesional oleh personil yang memiliki kewenangan dan
kemampuan profesional untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling.
Kekuatan dan eksistensi suatu profesi muncul dari kepercayaan publik.
Masyarakat percaya layanan yang diperlukan dapat diperoleh dari orang yang
berkompeten untuk memberikan layanan. Asosiasi Bimbingan dan Konseling
Indonesia sebagai organisasi profesi pada bidang bimbingan dan konseling pada
kongres ke X di Semarang menetapkan Standar Kompetensi Konselor Indonesia.
Pengawas perlu mengetahui kompetensi konselor untuk dapat melakukan
pembinaan dan pengawasaan sehingga layanan bimbingan dan konseling
dilaksanakan secara profesional.
Sebagai suatu keutuhan kompetensi konselor merujuk pada pengusaan
konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yangbersifat
membantu dan ujuk kerja profesional yang akuntabel. Konselor adalah pendidik
(UU RI no. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 6) karena itu konselor harus berkompetensi
sebagai pendidik. Konselor adalah seorang profesional karenanya layanan
bimbingan dan konseling diatur dan didasarkan dalam kode etik. Konselor bekerja
dalam berbagai seting. Keragaman pekerjaan konselor mengandung maknanya
adanya pengetahuan, sikap dan keterampilan bersama yang harus dikuasasi oleh
konselor dalam seting manapun.
Pada kapasitas sebagai pendidik, konselor berperan dan berfungsi sebagai
pendidik psikologis dengan perangkat pengetahuan dan keterampilan psikologis
yang dimilikinya untuk membantu individu mencapai tingkat perkembangan yang
lebih tinggi. Sebagai seorang pendidik psikologis seorang konselor harus
kompeten dalam hal :
1. Penguasaan konsep dan praksis pendidikan.
2. Kesadaran dan komitmen etika profesi.
3. Penguasaan konsep perilaku dan perkembangan individu.
4. Penguasaan konsep dan praksis asesmen.
5. Penguasaan konsep da praksis bimbingan dan konseling.
6. Pengelolaan program bimbingan dan konseling.
7. Penguasaan konsep dan praksis riset dalam bimbingan dan konseling.
7
Pengawas melakukan pembinaan dan pengawasan apakah konselor yang
ada disekolah memiliki kompetensi sebagai konselor. Perlu dukungan sehingga
layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh seorang konselor (berlatar
pendidikan bimbingan dan konseling yang idealnya memiliki sertifikasi konselor).
Paling tidak layanan diberikan oleh guru pembimbing yang telah memperoleh
pelatihan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan oleh ABKIN maupun
Depdiknas yang ditugaskan oleh kepala sekolah untuk melakukan layanan
bimbingan dan konseling dengan dukungan penuh wali kelas, guru dan pimpinan
sekolah yang melaksanakan fungsi dan peran bimbingan dalam kapasitas dan
kewenangannya masing-masing. Pada kondisi paling darurat para tenaga pendidik
di sekolah yaitu guru, wali kelas dan pimpinan sekolah dalam peran dan tugasnya
maing-masing melaksanakan layanan bimbingan sesuai dengan kapasitas.
Para konselor perlu dukungan agar termotivasi mengembangkan diri
sebagai tenaga yang profesional dengan melanjutkan pendidikan untuk
memperoleh sertifikasi konselor dan melengkapi dengan berbagai aktivitas
profesi. Para guru pembimbing yang tidak berlatar belakang pendidikan
bimbingan dan konseling, pimpinan sekolah, wali kelas dan guru perlu dukungan
agar termotivasi untuk belajar melakukan layanan bimbingan dan konseling
secara benar. Upaya pengembangan diri dapat dilakukan melalui kegiatan
pengembangan staf secara internal di sekolah, pertemuan pada MGBK di sanggar
BK, mengikuti seminar, workshop maupun pelatihan BK, terlibat dalam
organisasi profesi dan melanjutkan pendidikan.
8
kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu
perkembangan dirinya secara optimal”. Layanan ini bertujuan untuk membantu
semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang
sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain
membantu siswa agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya.
Secara rinci tujuan layanan dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa
agar:
1) Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya
(pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama).
2) Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung
jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri
dengan lingkungannya.
3) Mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan
4) Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
2. Layanan Responsif
Layanan responsif merupakan “pemberian bantuan kepada siswa yang
memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan
segera”. Tujuan layanan responsif adalah membantu siswa agar dapat memenuhi
kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu siswa
yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas
perkembangannya.
Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk
mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul
segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan
atau masalah pengembangan pendidikan.
9
depannya berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta
pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya”.
Tujuan layanan perencanaan individual bertujuan untuk membantu siswa
agar:
1) Memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya.
2) Mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap
perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar,
maupun karir, dan
3) Dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana
yang telah dirumuskannya.
Tujuan layanan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai
upaya memfasilitasi siswa untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola
rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri.
10
Pemberian layanan menyangkut kegiatan guru pembimbing (konselor)
yang meliputi (1) konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program
kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam
merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah, (4) bekerjasama dengan personel
sekolah lainnya dalam rangka mencisekolahakan lingkungan sekolah yang
kondusif bagi perkembangan siswa, (5) melakukan penelitian tentang masalah-
masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.
2) Kegiatan Manajemen
Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan,
memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui
kegiatan-kegiatan (1) pengembangan program, (2) pengembangan staf, (3)
pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan.
Secara operasional program disusun secara sistematis sebagai berikut :
a. Rasional berisi latar belakang penyusunan pogram bimbingan didasarkan atas
landasan konseptual, hukum maupun empirik
b. Visi da misi, berisi harapan yang diinginkan dari layanan Bk yang
mendukung visi , misi dan tujuan sekolah
c. Kebutuhan layanan bimbingan, berisi data kebutuhan siswa, pendidik dan
isntitusi terhadap layanan bimbingan. Data diperoleh dengan
mempergunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan
d. Tujuan, berdasarkan kebutuhan ditetapkan kompetensi yang dicapai siswa
berdasarkan perkembangan
e. Komponen program : (1) Layanan dasar, program yang secara umum
dibutuhkan oleh seluruh siswa pertingkatan kelas. (2) Layanan responsif,
program yang secara khusus dibutuhakn untuk membatu para siswa yang
memerlukan layanan bantuan khusus. (3) Layanan perencanaan individual,
program yang mefasilitasi seluruh siswa memiliki kemampuan mengelola diri
dan merancang masa depan. (4) Dukungan sistem, kebijakan yang
mendukung keterlaksanaan program, program jejaring baik internal sekolah
maupun eksternal
f. Rencana operasional kegiatan
11
g. Pengembagan tema atau topik (silabus layanan)
h. Pengembangan satuan layanan bimbingan
i. Evaluasi
j. Anggaran
Program disusun bersama oleh personil bimbingan dan konseling dengan
memperhatikan kebutuhan siswa, mendukung kebutuhan pendidik untuk
memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam pembelajaran
dan mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah. Program yang telah
disusun disampaikan pada semua pendidik di sekolah pada rapat dinas agar
terkembang jejaring layanan yang optimal.
12
SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya. Sementara layanan
informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang
berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui
komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun
elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). Layanan
informasi untuk bimbingan klasikal dapat mempergunakan jam pengembangan
diri. Agar semua siswa terlayani kegiatan bimbingan klasikal perlu terjadwalkan
secara pasti untuk semua kelas.
2. Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui
kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk
merespon kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam
bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem)
dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi
ujian, dan mengelola stress. Layanan bimbingan kelompok ditujukan untuk
mengembangkan keterampilan atau perilaku baru yang lebih efektif dan produktif.
13
diminati siswa; (g) memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan,
sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja
(tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja); (h)
menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun
moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan “figur central” bagi
siswa); dan (i) memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata
pelajaran yang diberikannya secara efektif.
14
Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa
yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas
[Link] konseling, siswa (klien) dibantu untuk
mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan
masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat
dilakukan secara individual maupun kelompok. Konseling kelompok dilaksanakan
untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui kelompok.
Dalam konseling kelompok ini, masing-masing siswa mengemukakan
masalah yang dialaminya, kemudian satu sama lain saling memberikan masukan
atau pendapat untuk memecahkan masalah tersebut.
15
Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa
menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar
siswa. Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis
kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas
perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui
kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan
pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.
16
Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah untuk
menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan
dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti
dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi
profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para
ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan
orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan
(6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).
3. Manajemen Program
Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan
tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem
pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas,
sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981)
mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Management is the process of
planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members
and of using all other organizational resources to achieve stated organizational
goals”.
Berikut diuraikan aspek-aspek sistem manajemen program layanan
bimbingan dan konseling.
1) Kesepakatan Manajemen
2) Keterlibatan Stakeholder
3) Manajemen dan Penggunaan Data
4) Rencana Kegiatan
5) Pengaturan Waktu
6) Kalender Kegiatan
7) Jadwal Kegiatan
8) Anggaran
9) Penyiapan Fasilitas
Kenyamanan merupakan modal utama bagi kesuksesan pelayanan yang
terselenggara. Sarana yang diperlukan untuk penunjang layanan bimbingan dan
konseling adalah sebagai berikut.
17
(1) Alat pengumpul data, baik tes maupun non-tes.
Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes
bakat sekolah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi
belajar. Alat pengumpul data yang berupa non-tes yaitu: pedoman observasi,
catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, alat-alat mekanis, pedoman
wawancara, angket, biografi dan autobiografi, dan sosiometri.
(2) Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data.
Alat penyimpan data itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi dan map.
Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna
tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan
berbagai keterangan, informasi atau pun data untuk masing-masing siswa, maka
perlu disediakan map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data siswa
yang perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat
menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi.
(3) Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket bimbingan, alat
bantu bimbingan.
Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana
satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blanko laporan kegiatan, blanko
surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat.
10) Pengendalian
Pengendalian adalah salah satu aspek penting dalam manajemen program
layanan bimbingan dan konseling. Dalam pengendalian program, koordinator
sebagai pemimpin lembaga atau unit bimbingan dan konseling hendaknya
memiliki sifat sifat kepemimpinan yang baik yang dapat memungkinkan
terciptanya sekolah suatu komunikasi yang baik dengan seluruh staf yang ada.
Personel-personel yang terlibat di dalam program, hendaknya benar-benar
memiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang
diberikan kepadanya maupun tanggung jawab terhadap yang lain, serta memiliki
moral yang stabil.
18
Pengendalian program bimbingan ialah : (a) untuk mencipakan suatu
koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada, (b) untuk
mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan (c)
memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah
direncanakan.
Pengawas dapat melakukan pengawasan dan pembinaan : apakah program
bimbingan dan konseling yang disusun dilaksanakan sesuai dengan rancangan
program?. Apakah terdapat dokumentasi sebagai indikator pencatatan pelaksanaan
program?. Pengawas dapat berdiskusi dengan konselor program-program mana
yang sudah dilaksanakan?, apa hambatan yang ditemui pada saat melaksanakan
program?, apakah dapat diidentifikasi keberhasilan yang dicapai program?,
apakah dapat diperoleh informasi dampak langsung maupun tidak langsung
pelaksanaan program terhadap siswa, pendidik maupun institusi pendidikan?.
Pengawas juga diharapkan memberikan dorongan dan saran-saran bagaimana
program-program yang belum terlaksana dapat dilakukan. Pengawas harus
mengembangkan diskusi bersama pimpinan sekolah dan konselor berkenan
dengan dukungan kebijakan, sarana dan prasara untuk keterlaksanaan program.
19
Masa remaja (12-21 tahun) merupakan masa peralihan antara masa kehidupan
anak-anak dan masa kehidupan orang yang dewasa. Masa remaja sering dikenal
denga masa pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja ditandai dengan
sejumlah karakteristik penting, yaitu:
1) Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya
2) Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagi pria atau wanita dewasa
yang menjunjung tinggi oleh masyarakat
3) Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efaektif
4) Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5) Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan
kemampuannya
6) Mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan
memiliki anak
7) Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang
diperlukan sebagi warga Negara
8) Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara social
9) Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam
bertingkah laku
10) Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas
Berbagai karakteristik perkembangan masa remaja tersebut menuntut
adanya pelayanan pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhannya. Hal ini
dapat dilakukan guru, di antaranya:
1) Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi,
bahaya penyimpangan seksual dan penyalahgunaan narkotika
2) Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatif terhadap postur tubuh atau
kondidi dirinya
3) Menyediakan fasilitas yang memungkinkan siwa mengembangkan
keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, seperti sarana olahraga,
kesenian, dan sebagainya
4) Memberikan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan memecahkan
masalah dan mengambil keputusan
20
5) Melatih siswa mengembangkan resiliensi, kemampuan bertahan dalam
kondisi sulit dan penuh godaan
6) Menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berpikir
kritis, reflektif, dan positif
7) Membantu siswa mengembangkan etos kerja yang tinggi dan sikap
wiraswasta
8) Memupuk semangat keberagaman siswa melalui pembelajaran agama terbuka
dan lebih toleran
9) Menjalin hubungan yang harmonis dengan siswa, dan bersedia mendengarkan
segala keluhan dan problem yang dihadapinya.
21
Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang
guru/konseli akan lebih mudah dalam memberikan bimbingan yang tepat
pada peserta didik.
22
BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada
peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif,
dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat
memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak
secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas [Link] Guidance
Service is the Heart of Educational Process. Bimbingan dan konseling merupakan
bagian integral dari sistem [Link] bimbingan dan konseling adalah
layanan psikologis dalam suasana pedagogis. Orientasi bimbingan dan konseling
adalah perkembangan perilaku yang seharusnya dikuasai oleh individu untuk
jangka panjang tertentu menyangkut ragam proses pendidikan, karir, pribadi,
sosial, keluarga dan pengambilan keputusan. Dalam memahami dasar – dasar
pemahaman peserta didik, hal – hal yang perlu diperhatikan antara lain :
a) Kompetensi guru pembimbing/konselor
b) Mengetahui Klasifikasi Layanan
c) Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling
d) Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik
e) Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja
SMA)
23
DAFTAR PUSTAKA
24
(2009). Psikologi Dalam Peserta Didik. [Online].
Tersedia: [Link]
[Link]. [04 Mei 2011].
25