0% found this document useful (0 votes)
96 views25 pages

Memahami Bimbingan dan Konseling Peserta Didik

This document discusses understanding students in the context of guidance and counseling in schools. It begins by defining students and explaining that guidance and counseling aims to help students understand themselves so they can properly develop. It then discusses factors that must be understood in grasping students, such as their needs, interests and developmental characteristics as adolescents. The document emphasizes that guidance and counseling is an integral part of the educational system aimed at facilitating whole student development. It also outlines the duties of guidance counselors in understanding students.

Uploaded by

infalawati
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd
0% found this document useful (0 votes)
96 views25 pages

Memahami Bimbingan dan Konseling Peserta Didik

This document discusses understanding students in the context of guidance and counseling in schools. It begins by defining students and explaining that guidance and counseling aims to help students understand themselves so they can properly develop. It then discusses factors that must be understood in grasping students, such as their needs, interests and developmental characteristics as adolescents. The document emphasizes that guidance and counseling is an integral part of the educational system aimed at facilitating whole student development. It also outlines the duties of guidance counselors in understanding students.

Uploaded by

infalawati
Copyright
© © All Rights Reserved
We take content rights seriously. If you suspect this is your content, claim it here.
Available Formats
Download as DOCX, PDF, TXT or read online on Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada


peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif,
dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat
memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak
secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan. Upaya bantuan
ini dilakukan secara terencana dan sistematis untuk semua peserta didik
berdasarkan identifikasi kebutuhan mereka, pendidik, institusi dan harapan orang
tua dan dilakukan oleh seorang tenaga profesional bimbingan dan konseling yaitu
konselor.
Masalah Memahami peserta didik, merupakan sikap yang harus dimiliki
dan dilakukan guru, agar guru dapat mengetahui aspirasi/tuntutan peserta didik
yang bisa dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan program yang tepat
bagi peserta didik, sehingga kegiatan pembelajaran pun akan dapat memenuhi
kebutuhan, minat mereka dan tepat berdasarkan dengan perkembangan
mereka. Beberapa dasar pertimbangan perlunya ”Memahami dasar – dasar
pemahaman Peserta Didik” yaitu sebagai berikut :
1. Dasar pertimbangan psikologis bahwa suatu kegiatan akan menarik dan
berhasil apabila sesuai dengan minat, bakat, kemampuan, keinginan, dan
tuntutan peserta didik.
2. Dasar pertimbangan sosiologi bahwa secara naluri manusia akan merasa ikut
serta memiliki dan aktif mengikuti kegiatan yang ada.

1
1.2 Rumusan Masalah

Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini diantaranya, yaitu :


1. Apakah Pengertian dari Peserta didik ?
2. Apakah konsep Pengertian Bimbingan dan Konseling ?
3. Bagaimanakah Posisi Bimbingan dan Konseling ?
4. Faktor – faktor apakah yang harus diketahui dalam dasar – dasar pemahaman
peserta didik ?
5. Bagaimnanakah pentingnya memahami peserta didik?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dan manfaat pembuatan dari makalah ini yaitu :
1. Pengertian dari Peserta didik.
2. Memahami konsep pengertian bimbingan dan konseling.
3. Memahami posisi bimbingan dan konseling.
4. Mengetahui faktor – faktor yang harus diketahui dalam dasar – dasar
pemahaman peserta didik.
5. Mengetahui pentinyya memahami peserta didik.

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Peserta Didik


Dalam perspektif pedagogis, peserta didik diartikan sebagai sejenis
makhluk ‘Homo Educantum’, makhluk yang menghajatkan pendidikan. Dalam
pengertian ini, peserta didik dipandang sebagai manusia yang memiliki potensi
yang bersifat laten, sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan untuk
mengatualisasikannya agar ia dapat menjadi manusia susila yang cakap.
Dalam perspektif psikologis, peserta didik adalah individu yang sedang
berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, baik fisik maupun psikis
menurut fitrahnya masing-masing. Sebagai individu yang tengah tumbuh dan
berkembang, peserta didik memerlukan bimbingan dan pengarahan yang
konsisten menuju ke arah titk optimal kemampuan fitrahnya.
Dalam perspektif Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20
Tahun 2003 pasal 1 ayat 4, “peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat
yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur
jenjang dan jenis pendidikan tertentu.”
Berdasarkan beberapa definisi tentang peserta didik yang disebutkan di atas dapat
disimpulkan bahwa peserta didik individu yang memiliki sejumlah karakteristik,
diantaranya:
1) Peserta didik adalah individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang
khas, sehingga ia meruoakan insane yang unik.
2) Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya peserta
didik tengah mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya secara wajar,
baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun yang diarahykan pada
penyesuaian dengan lingkungannya.
3) Peserta didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan individual
dan perlakuan manusiawi.
4) Peserta didik adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri.

3
2.2 Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada peserta
didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif, dilakukan
secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat memahami
dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak secara wajar,
sesuai dengan tuntutan tugas-tugas perkembangan. Upaya bantuan ini dilakukan
secara terencana dan sistematis untuk semua peserta didik berdasarkan identifikasi
kebutuhan mereka, pendidik, institusi dan harapan orang tua dan dilakukan oleh
seorang tenaga profesional bimbingan dan konseling yaitu konselor.
Adapun tugas - tugas perkembangan peserta didik tingkat remaja (siswa
SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK) adalah:
 Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap
perubahan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri untuk kehidupan
yang sehat.
 Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam
peranannya sebagai pria atau wanita.
 Memantapkan nilai dan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam
kehidupan sosial yang lebih luas.
 Mengenal kemampuan, bakat, minat, serta arah kecenderungan karir dan
apresiasi seni.
 Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan
kebutuhannya untuk mengikuti dan melanjutkan pelajaran dan/atau
mempersiapkan karir serta berperan dalam kehidupan masyarakat.
 Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan
mandiri secara emosional, sosial, dan ekonomi.
 Mengenal sistem etika dan nilai-nilai yang dapat dijadikan pedoman dalam
kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat, maupun makhluk Tuhan.

4
 Mencapai kematangan dalam pilihan karir.
 Mencapai kematangan dalam kesiapan diri untuk menikah dan
berkeluarga.

2.3 Posisi Bimbingan Konseling


The Guidance Service is the Heart of Educational Process. Bimbingan dan
konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan. Layanan bimbingan
dan konseling merupakan layanan terhadap peserta didik yang tidak terpisahkan
dari layanan manajemen dan supervisi maupun kurikulum dan pembelajaran serta
bukan merupakan bagian dari bidang yang lain. Bimbingan dan konseling juga
tidak direduksi sebagai pengembangan diri atau bagian dari pengembangan diri
karena pengembangan diri merupakan tanggung jawab semua sub sistem
pendidikan, sehingga tidak bisa dipisahkan dari mata pelajaran, kurikulum muatan
lokal, dukungan managerial dan layanan bimbingan dan konseling.
Pengembangan diri sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan
Menteri No.23 Tahun 2006 Tentang Standar Isi, Bab II, tentang Kerangka Dasar
dan Struktur Kurikulum pada semua jenjang pendidikan, SD, SMP dan SM
menyatakan bahwa kurikulum berisi: mata pelajaran, muatan lokal dan
pengembangan diri. Dinyatakan pula: “Pengembangan diri bukan merupakan
mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru.
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan,
bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan
pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau
tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.
Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling
yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan
pengembangan karir peserta didik.”

5
Posisi pengembangkan diri dan bimbingan berdasarkan perspektif
Bimbingan dan Konseling Perkembangan adalah pengembangan diri secara utuh
merupakan layanan dasar bimbingan (guidance curriculum), Selain itu dalam
bimbingan dan konseling masih terdapat tiga layanan lainnya, yaitu: layanan
responsif, layanan perencanaan individual, dan layanan dukungan sistem. Jadi
pengembangan diri hanya bagian dari layanan bimbingan dan konseling.
Implementasi layanan bimbingan dan konseling tidak hanya untuk peserta
didik yang bermasalah saja tetapi untuk seluruh peserta didik karena bertumpu
pada kebutuhan dan tuntutan lingkungan individu. Layanan bimbingan dan
konseling adalah layanan psikologis dalam suasana pedagogis. Layanan psiko-
pedagogis dalam seting persekolahan maupun luar sekolah dalam koteks kultur,
nilai dan religi yang diyakini konseli dan konselor. Orientasi bimbingan dan
konseling adalah perkembangan perilaku yang seharusnya dikuasai oleh individu
untuk jangka panjang tertentu menyangkut ragam proses pendidikan, karir,
pribadi, sosial, keluarga dan pengambilan keputusan.

2.4 Dasar – Dasar Pemahaman Peserta Didik

Dalam memahami dasar – dasar pemahaman peserta didik hal – hal yang
perlu diperhatikan antara lain :
1) Kompetensi guru pembimbing/konselor
2) Mengetahui Klasifikasi Layanan
3) Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling
4) Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik
5) Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja
SMA)

2.4.1 Kompetensi Guru Pembimbing (Konselor) di Sekolah


Guru dalam hal ini khususnya seseorang yang berhubungan sebagai
konselor harus mempunyai kompetensi layanan dan bimbingan. Layanan
bimbingan dan konseling merupakan layanan profesional konsekwensinya harus

6
dilakukan secara profesional oleh personil yang memiliki kewenangan dan
kemampuan profesional untuk memberikan layanan bimbingan dan konseling.
Kekuatan dan eksistensi suatu profesi muncul dari kepercayaan publik.
Masyarakat percaya layanan yang diperlukan dapat diperoleh dari orang yang
berkompeten untuk memberikan layanan. Asosiasi Bimbingan dan Konseling
Indonesia sebagai organisasi profesi pada bidang bimbingan dan konseling pada
kongres ke X di Semarang menetapkan Standar Kompetensi Konselor Indonesia.
Pengawas perlu mengetahui kompetensi konselor untuk dapat melakukan
pembinaan dan pengawasaan sehingga layanan bimbingan dan konseling
dilaksanakan secara profesional.
Sebagai suatu keutuhan kompetensi konselor merujuk pada pengusaan
konsep, penghayatan dan perwujudan nilai, penampilan pribadi yangbersifat
membantu dan ujuk kerja profesional yang akuntabel. Konselor adalah pendidik
(UU RI no. 20 tahun 2003 pasal 1 ayat 6) karena itu konselor harus berkompetensi
sebagai pendidik. Konselor adalah seorang profesional karenanya layanan
bimbingan dan konseling diatur dan didasarkan dalam kode etik. Konselor bekerja
dalam berbagai seting. Keragaman pekerjaan konselor mengandung maknanya
adanya pengetahuan, sikap dan keterampilan bersama yang harus dikuasasi oleh
konselor dalam seting manapun.
Pada kapasitas sebagai pendidik, konselor berperan dan berfungsi sebagai
pendidik psikologis dengan perangkat pengetahuan dan keterampilan psikologis
yang dimilikinya untuk membantu individu mencapai tingkat perkembangan yang
lebih tinggi. Sebagai seorang pendidik psikologis seorang konselor harus
kompeten dalam hal :
1. Penguasaan konsep dan praksis pendidikan.
2. Kesadaran dan komitmen etika profesi.
3. Penguasaan konsep perilaku dan perkembangan individu.
4. Penguasaan konsep dan praksis asesmen.
5. Penguasaan konsep da praksis bimbingan dan konseling.
6. Pengelolaan program bimbingan dan konseling.
7. Penguasaan konsep dan praksis riset dalam bimbingan dan konseling.

7
Pengawas melakukan pembinaan dan pengawasan apakah konselor yang
ada disekolah memiliki kompetensi sebagai konselor. Perlu dukungan sehingga
layanan bimbingan dan konseling dilakukan oleh seorang konselor (berlatar
pendidikan bimbingan dan konseling yang idealnya memiliki sertifikasi konselor).
Paling tidak layanan diberikan oleh guru pembimbing yang telah memperoleh
pelatihan bimbingan dan konseling yang diselenggarakan oleh ABKIN maupun
Depdiknas yang ditugaskan oleh kepala sekolah untuk melakukan layanan
bimbingan dan konseling dengan dukungan penuh wali kelas, guru dan pimpinan
sekolah yang melaksanakan fungsi dan peran bimbingan dalam kapasitas dan
kewenangannya masing-masing. Pada kondisi paling darurat para tenaga pendidik
di sekolah yaitu guru, wali kelas dan pimpinan sekolah dalam peran dan tugasnya
maing-masing melaksanakan layanan bimbingan sesuai dengan kapasitas.
Para konselor perlu dukungan agar termotivasi mengembangkan diri
sebagai tenaga yang profesional dengan melanjutkan pendidikan untuk
memperoleh sertifikasi konselor dan melengkapi dengan berbagai aktivitas
profesi. Para guru pembimbing yang tidak berlatar belakang pendidikan
bimbingan dan konseling, pimpinan sekolah, wali kelas dan guru perlu dukungan
agar termotivasi untuk belajar melakukan layanan bimbingan dan konseling
secara benar. Upaya pengembangan diri dapat dilakukan melalui kegiatan
pengembangan staf secara internal di sekolah, pertemuan pada MGBK di sanggar
BK, mengikuti seminar, workshop maupun pelatihan BK, terlibat dalam
organisasi profesi dan melanjutkan pendidikan.

2.4.2 Mengetahui Klasifikasi Layanan


Seorang konselor dalam memahami peserta didik harus mengetahui
Klasifikasi layanan, dimana struktur program bimbingan diklasifikasikan ke
dalam empat jenis layanan, yaitu:

1. Layanan Dasar Bimbingan


Layanan dasar bimbingan diartikan sebagai “proses pemberian bantuan
kepada semua siswa (for all) melalui kegiatan-kegiatan secara klasikal atau

8
kelompok yang disajikan secara sistematis dalam rangka membantu
perkembangan dirinya secara optimal”. Layanan ini bertujuan untuk membantu
semua siswa agar memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang
sehat, dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain
membantu siswa agar mereka dapat mencapai tugas-tugas perkembangannya.
Secara rinci tujuan layanan dirumuskan sebagai upaya untuk membantu siswa
agar:
1) Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya
(pendidikan, pekerjaan, sosial budaya dan agama).
2) Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung
jawab atau seperangkat tingkah laku yang layak bagi penyesuaian diri
dengan lingkungannya.
3) Mampu menangani atau memenuhi kebutuhan dan masalahnya, dan
4) Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.

2. Layanan Responsif
Layanan responsif merupakan “pemberian bantuan kepada siswa yang
memiliki kebutuhan dan masalah yang memerlukan pertolongan dengan
segera”. Tujuan layanan responsif adalah membantu siswa agar dapat memenuhi
kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya atau membantu siswa
yang mengalami hambatan, kegagalan dalam mencapai tugas-tugas
perkembangannya.
Tujuan layanan ini dapat juga dikemukakan sebagai upaya untuk
mengintervensi masalah-masalah atau kepedulian pribadi siswa yang muncul
segera dan dirasakan saat itu, berkenaan dengan masalah sosial-pribadi, karir, dan
atau masalah pengembangan pendidikan.

3. Layanan Perencanaan Individual


Layanan ini diartikan “proses bantuan kepada siswa agar mampu
merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan dengan perencanaan masa

9
depannya berdasarkan pemahaman akan kelebihan dan kekurangan dirinya, serta
pemahaman akan peluang dan kesempatan yang tersedia di lingkungannya”.
Tujuan layanan perencanaan individual bertujuan untuk membantu siswa
agar:
1) Memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya.
2) Mampu merumuskan tujuan, perencanaan, atau pengelolaan terhadap
perkembangan dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar,
maupun karir, dan
3) Dapat melakukan kegiatan berdasarkan pemahaman, tujuan, dan rencana
yang telah dirumuskannya.
Tujuan layanan perencanaan individual ini dapat juga dirumuskan sebagai
upaya memfasilitasi siswa untuk merencanakan, memonitor, dan mengelola
rencana pendidikan, karir, dan pengembangan sosial-pribadi oleh dirinya sendiri.

4. Layanan Dukungan Sistem


Ketiga komponen program, merupakan pemberian layanan BK kepada
siswa secara langsung. Sedangkan dukungan sistem merupakan komponen
layanan dan kegiatan manajemen yang secara tidak langsung memberikan bantuan
kepada siswa atau memfasilitasi kelancaran perkembangan siswa. Dukungan
sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memantapkan,
memelihara, dan meningkatkan program bimbingan secara menyeluruh melalui
pengembangan profesinal; hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru,
staf ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas; manajemen program; penelitian
dan pengembangan (Thomas Ellis, 1990).
Program ini memberikan dukungan kepada guru pembimbing dalam
memperlancar penyelenggaraan layanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik
lainnya adalah untuk memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di
sekolah. Dukungan sistem ini meliputi dua aspek, yaitu:

1) Pemberian Layanan Konsultasi/Kolaborasi

10
Pemberian layanan menyangkut kegiatan guru pembimbing (konselor)
yang meliputi (1) konsultasi dengan guru-guru, (2) menyelenggarakan program
kerjasama dengan orang tua atau masyarakat, (3) berpartisipasi dalam
merencanakan kegiatan-kegiatan sekolah, (4) bekerjasama dengan personel
sekolah lainnya dalam rangka mencisekolahakan lingkungan sekolah yang
kondusif bagi perkembangan siswa, (5) melakukan penelitian tentang masalah-
masalah yang berkaitan erat dengan bimbingan dan konseling.

2) Kegiatan Manajemen
Kegiatan manajemen merupakan berbagai upaya untuk memantapkan,
memelihara, dan meningkatkan mutu program bimbingan dan konseling melalui
kegiatan-kegiatan (1) pengembangan program, (2) pengembangan staf, (3)
pemanfaatan sumber daya, dan (4) pengembangan penataan kebijakan.
Secara operasional program disusun secara sistematis sebagai berikut :
a. Rasional berisi latar belakang penyusunan pogram bimbingan didasarkan atas
landasan konseptual, hukum maupun empirik
b. Visi da misi, berisi harapan yang diinginkan dari layanan Bk yang
mendukung visi , misi dan tujuan sekolah
c. Kebutuhan layanan bimbingan, berisi data kebutuhan siswa, pendidik dan
isntitusi terhadap layanan bimbingan. Data diperoleh dengan
mempergunakan instrumen yang dapat dipertanggungjawabkan
d. Tujuan, berdasarkan kebutuhan ditetapkan kompetensi yang dicapai siswa
berdasarkan perkembangan
e. Komponen program : (1) Layanan dasar, program yang secara umum
dibutuhkan oleh seluruh siswa pertingkatan kelas. (2) Layanan responsif,
program yang secara khusus dibutuhakn untuk membatu para siswa yang
memerlukan layanan bantuan khusus. (3) Layanan perencanaan individual,
program yang mefasilitasi seluruh siswa memiliki kemampuan mengelola diri
dan merancang masa depan. (4) Dukungan sistem, kebijakan yang
mendukung keterlaksanaan program, program jejaring baik internal sekolah
maupun eksternal
f. Rencana operasional kegiatan

11
g. Pengembagan tema atau topik (silabus layanan)
h. Pengembangan satuan layanan bimbingan
i. Evaluasi
j. Anggaran
Program disusun bersama oleh personil bimbingan dan konseling dengan
memperhatikan kebutuhan siswa, mendukung kebutuhan pendidik untuk
memfasilitasi pelayanan perkembangan siswa secara optimal dalam pembelajaran
dan mendukung pencapaian tujuan, misi dan visi sekolah. Program yang telah
disusun disampaikan pada semua pendidik di sekolah pada rapat dinas agar
terkembang jejaring layanan yang optimal.

2.4.3 Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling


Strategi pelaksanaan layanan bimbingan dan kosneling terkait dengan
keempat komponen program yang telah dijelaskan di atas. Strategi pelasanaan
bagi masing-masing komponen tersebut adalah sebagai berikut.

A. Strategi untuk Layanan Dasar Bimbingan


1. Bimbingan Klasikal
Sebagaimana telah dikemukakan pada paparan di atas, bahwa layanan
dasar diperuntukkan bagi semua siswa. Hal ini berarti bahwa dalam peluncuran
program yang telah dirancang menuntut konselor untuk melakukan kontak
langsung dengan para siswa di kelas. Secara terjadwal, konselor memberikan
layanan bimbingan kepada para siswa. Kegiatan layanan dilaksanakan melalui
pemberian layanan orientasi dan informasi tentang berbagai hal yang dipandang
bermanfaat bagi siswa. Layanan orientasi pada umumnya dilaksanakan pada awal
pelajaran, yang diperuntukan bagi para siswa baru, sehingga memiliki
pengetahuan yang utuh tentang sekolah yang dimasukinya.
Kepada siswa diperkenalkan tentang berbagai hal yang terkait dengan
sekolah, seperti: kurikulum, personel (pimpinan, para guru, dan staf administrasi),
jadwal pelajaran, perpustakaan, laboratorium, tata-tertib sekolah, jurusan (untuk

12
SLTA), kegiatan ekstrakurikuler, dan fasilitas sekolah lainnya. Sementara layanan
informasi merupakan proses bantuan yang diberikan kepada para siswa tentang
berbagai aspek kehidupan yang dipandang penting bagi mereka, baik melalui
komunikasi langsung, maupun tidak langsung (melalui media cetak maupun
elektronik, seperti : buku, brosur, leaflet, majalah, dan internet). Layanan
informasi untuk bimbingan klasikal dapat mempergunakan jam pengembangan
diri. Agar semua siswa terlayani kegiatan bimbingan klasikal perlu terjadwalkan
secara pasti untuk semua kelas.

2. Bimbingan Kelompok
Konselor memberikan layanan bimbingan kepada siswa melalui
kelompok-kelompok kecil (5 s.d. 10 orang). Bimbingan ini ditujukan untuk
merespon kebutuhan dan minat para siswa. Topik yang didiskusikan dalam
bimbingan kelompok ini, adalah masalah yang bersifat umum (common problem)
dan tidak rahasia, seperti : cara-cara belajar yang efektif, kiat-kiat menghadapi
ujian, dan mengelola stress. Layanan bimbingan kelompok ditujukan untuk
mengembangkan keterampilan atau perilaku baru yang lebih efektif dan produktif.

3. Berkolaborasi dengan Guru Mata Pelajaran atau Wali Kelas

Program bimbingan akan berjalan secara efektif apabila didukung oleh


semua pihak, yang dalam hal ini khususnya para guru mata pelajaran atau wali
kelas. Konselor berkolaborasi dengan guru dan wali kelas dalam rangka
memperoleh informasi tentang siswa (seperti prestasi belajar, kehadiran, dan
pribadinya), membantu memecahkan masalah siswa, dan mengidentifikasi aspek-
aspek bimbingan yang dapat dilakukan oleh guru mata pelajaran.
Aspek-aspek itu di antaranya : (a) menciptakan sekolah dengan iklim
sosio-emosional kelas yang kondusif bagi belajar siswa; (b) memahami
karakteristik siswa yang unik dan beragam; (c) menandai siswa yang diduga
bermasalah; (d) membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar melalui
program remedial teaching; (e) mereferal (mengalihtangankan) siswa yang
memerlukan layanan bimbingan dan konseling kepada guru pembimbing; (f)
memberikan informasi tentang kaitan mata pelajaran dengan bidang kerja yang

13
diminati siswa; (g) memahami perkembangan dunia industri atau perusahaan,
sehingga dapat memberikan informasi yang luas kepada siswa tentang dunia kerja
(tuntutan keahlian kerja, suasana kerja, persyaratan kerja, dan prospek kerja); (h)
menampilkan pribadi yang matang, baik dalam aspek emosional, sosial, maupun
moral-spiritual (hal ini penting, karena guru merupakan “figur central” bagi
siswa); dan (i) memberikan informasi tentang cara-cara mempelajari mata
pelajaran yang diberikannya secara efektif.

4. Berkolaborasi (Kerjasama) dengan Orang Tua


Dalam upaya meningkatkan kualitas peluncuran program bimbingan,
konselor perlu melakukan kerjasama dengan para orang tua siswa. Kerjasama ini
penting agar proses bimbingan terhadap siswa tidak hanya berlangsung di
sekolah, tetapi juga oleh orang tua di rumah.
Melalui kerjasama ini memungkinkan terjadinya saling memberikan
informasi, pengertian, dan tukar pikiran antar konselor dan orang tua dalam upaya
mengembangkan potensi siswa atau memecahkan masalah yang mungkin
dihadapi siswa. Untuk melakukan kerjasama dengan orang tua ini, dapat
dilakukan beberapa upaya, seperti: (1) kepala sekolah atau komite sekolah
mengundang para orang tua untuk datang ke sekolah (minimal satu semester satu
kali), yang pelaksanaannnya dapat bersamaan dengan pembagian rapor, (2)
sekolah memberikan informasi kepada orang tua (melalui surat) tentang kemajuan
belajar atau masalah siswa, dan (3) orang tua diminta untuk melaporkan keadaan
anaknya di rumah ke sekolah, terutama menyangkut kegiatan belajar dan perilaku
sehari – harinya.

B. Strategi untuk Layanan Responsif


1. Konsultasi
Konselor memberikan layanan konsultasi kepada guru, orang tua, atau
pihak pimpinan sekolah dalam rangka membangun kesamaan persepsi dalam
memberikan bimbingan kepada para siswa.

2. Konseling Individual atau Kelompok

14
Pemberian layanan konseling ini ditujukan untuk membantu para siswa
yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas
[Link] konseling, siswa (klien) dibantu untuk
mengidentifikasi masalah, penyebab masalah, penemuan alternatif pemecahan
masalah, dan pengambilan keputusan secara lebih tepat. Konseling ini dapat
dilakukan secara individual maupun kelompok. Konseling kelompok dilaksanakan
untuk membantu siswa memecahkan masalahnya melalui kelompok.
Dalam konseling kelompok ini, masing-masing siswa mengemukakan
masalah yang dialaminya, kemudian satu sama lain saling memberikan masukan
atau pendapat untuk memecahkan masalah tersebut.

3. Referal (Rujukan atau Alih Tangan)


Apabila konselor merasa kurang memiliki kemampuan untuk menangani
masalah klien, maka sebaiknya dia mereferal atau mengalihtangankan klien
kepada pihak lain yang lebih berwenang, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan
kepolisian. Klien yang sebaiknya direferal adalah mereka yang memiliki masalah,
seperti depresi, tindak kejahatan (kriminalitas), kecanduan narkoba, dan penyakit
kronis.

4. Bimbingan Teman Sebaya (Peer Guidance/Peer Facilitation)


Bimbingan teman sebaya ini adalah bimbingan yang dilakukan oleh siswa
terhadap siswa yang lainnya. Siswa yang menjadi pembimbing sebelumnya
diberikan latihan atau pembinaan oleh konselor. Siswa yang menjadi pembimbing
berfungsi sebagai mentor atau tutor yang membantu siswa lain dalam
memecahkan masalah yang dihadapinya, baik akademik maupun non-akademik.
Di samping itu dia juga berfungsi sebagai mediator yang membantu
konselor dengan cara memberikan informasi tentang kondisi, perkembangan, atau
masalah siswa yang perlu mendapat layanan bantuan bimbingan atau konseling.

C. Strategi untuk Layanan Perencanaan Individual


1. Penilaian Individual atau Kelompok (Individual or small-group Appraisal)

15
Yang dimaksud dengan penilaian ini adalah konselor bersama siswa
menganalisis dan menilai kemampuan, minat, keterampilan, dan prestasi belajar
siswa. Dapat juga dikatakan bahwa konselor membantu siswa menganalisis
kekuatan dan kelemahan dirinya, yaitu yang menyangkut pencapaian tugas-tugas
perkembangannya, atau aspek-aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier. Melalui
kegiatan penilaian diri ini, siswa akan memiliki pemahaman, penerimaan, dan
pengarahan dirinya secara positif dan konstruktif.

2. Individual or Small-Group Advicement


Konselor memberikan nasihat kepada siswa untuk menggunakan atau
memanfaatkan hasil penilaian tentang dirinya, atau informasi tentang pribadi,
sosial, pendidikan dan karir yang diperolehnya untuk (1) merumuskan tujuan, dan
merencanakan kegiatan (alternatif kegiatan) yang menunjang pengembangan
dirinya, atau kegiatan yang berfungsi untuk memperbaiki kelemahan dirinya; (2)
melakukan kegiatan yang sesuai dengan tujuan atau perencanaan yang telah
ditetapkan, dan (3) mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukannya.

D. Strategi untuk Dukungan Sistem


1. Pengembangan Professional
Konselor secara terus menerus berusaha untuk “meng-update”
pengetahuan dan keterampilannya melalui (1) in-service training, (2) aktif dalam
organisasi profesi, (3) aktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar dan
workshop (lokakarya), atau (4) melanjutkan studi ke program yang lebih tinggi
(Pascasarjana).

2 Pemberian Konsultasi dan Berkolaborasi


Konselor perlu melakukan konsultasi dan kolaborasi dengan guru, orang
tua, staf sekolah lainnya, dan pihak institusi di luar sekolah (pemerintah, dan
swasta) untuk memperoleh informasi, dan umpan balik tentang layanan bantuan
yang telah diberikannya kepada para siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang
kondusif bagi perkembangan siswa, melakukan referal, serta meningkatkan
kualitas program bimbingan dan konseling.

16
Dengan kata lain strategi ini berkaitan dengan upaya sekolah untuk
menjalin kerjasama dengan unsur-unsur masyarakat yang dipandang relevan
dengan peningkatan mutu layanan bimbingan. Jalinan kerjasama ini seperti
dengan pihak-pihak (1) instansi pemerintah, (2) instansi swasta, (3) organisasi
profesi, seperti ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), (4) para
ahli dalam bidang tertentu yang terkait, seperti psikolog, psikiater, dokter, dan
orang tua siswa, (5) MGBK (Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling), dan
(6) Depnaker (dalam rangka analisis bursa kerja/lapangan pekerjaan).

3. Manajemen Program
Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak mungkin akan
tercisekolaha, terselenggara, dan tercapai bila tidak memiliki suatu sistem
pengelolaan (manajemen) yang bermutu, dalam arti dilakukan secara jelas,
sistematis, dan terarah. Mengenai arti manajemen itu sendiri Stoner (1981)
mengemukakan pendapatnya sebagai berikut: “Management is the process of
planning, organizing, leading and controlling the efforts of organizing members
and of using all other organizational resources to achieve stated organizational
goals”.
Berikut diuraikan aspek-aspek sistem manajemen program layanan
bimbingan dan konseling.
1) Kesepakatan Manajemen
2) Keterlibatan Stakeholder
3) Manajemen dan Penggunaan Data
4) Rencana Kegiatan
5) Pengaturan Waktu
6) Kalender Kegiatan
7) Jadwal Kegiatan
8) Anggaran
9) Penyiapan Fasilitas
Kenyamanan merupakan modal utama bagi kesuksesan pelayanan yang
terselenggara. Sarana yang diperlukan untuk penunjang layanan bimbingan dan
konseling adalah sebagai berikut.

17
(1) Alat pengumpul data, baik tes maupun non-tes.
Alat pengumpul data berupa tes yaitu: tes inteligensi, tes bakat khusus, tes
bakat sekolah, tes/inventori kepribadian, tes/inventori minat, dan tes prestasi
belajar. Alat pengumpul data yang berupa non-tes yaitu: pedoman observasi,
catatan anekdot, daftar cek, skala penilaian, alat-alat mekanis, pedoman
wawancara, angket, biografi dan autobiografi, dan sosiometri.
(2) Alat penyimpan data, khususnya dalam bentuk himpunan data.
Alat penyimpan data itu dapat berbentuk kartu, buku pribadi dan map.
Bentuk kartu ini dibuat sedemikian rupa dengan ukuran-ukuran serta warna
tertentu, sehingga mudah untuk disimpan dalam filling cabinet. Untuk menyimpan
berbagai keterangan, informasi atau pun data untuk masing-masing siswa, maka
perlu disediakan map pribadi. Mengingat banyak sekali aspek-aspek data siswa
yang perlu dan harus dicatat, maka diperlukan adanya suatu alat yang dapat
menghimpun data secara keseluruhan yaitu buku pribadi.
(3) Kelengkapan penunjang teknis, seperti data informasi, paket bimbingan, alat
bantu bimbingan.
Perlengkapan administrasi, seperti alat tulis menulis, format rencana
satuan layanan dan kegiatan pendukung serta blanko laporan kegiatan, blanko
surat, kartu konsultasi, kartu kasus, blanko konferensi kasus, dan agenda surat.
10) Pengendalian
Pengendalian adalah salah satu aspek penting dalam manajemen program
layanan bimbingan dan konseling. Dalam pengendalian program, koordinator
sebagai pemimpin lembaga atau unit bimbingan dan konseling hendaknya
memiliki sifat sifat kepemimpinan yang baik yang dapat memungkinkan
terciptanya sekolah suatu komunikasi yang baik dengan seluruh staf yang ada.
Personel-personel yang terlibat di dalam program, hendaknya benar-benar
memiliki tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap tugas-tugas yang
diberikan kepadanya maupun tanggung jawab terhadap yang lain, serta memiliki
moral yang stabil.

18
Pengendalian program bimbingan ialah : (a) untuk mencipakan suatu
koordinasi dan komunikasi dengan seluruh staf bimbingan yang ada, (b) untuk
mendorong staf bimbingan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dan (c)
memungkinkan kelancaran dan efektivitas pelaksanaan program yang telah
direncanakan.
Pengawas dapat melakukan pengawasan dan pembinaan : apakah program
bimbingan dan konseling yang disusun dilaksanakan sesuai dengan rancangan
program?. Apakah terdapat dokumentasi sebagai indikator pencatatan pelaksanaan
program?. Pengawas dapat berdiskusi dengan konselor program-program mana
yang sudah dilaksanakan?, apa hambatan yang ditemui pada saat melaksanakan
program?, apakah dapat diidentifikasi keberhasilan yang dicapai program?,
apakah dapat diperoleh informasi dampak langsung maupun tidak langsung
pelaksanaan program terhadap siswa, pendidik maupun institusi pendidikan?.
Pengawas juga diharapkan memberikan dorongan dan saran-saran bagaimana
program-program yang belum terlaksana dapat dilakukan. Pengawas harus
mengembangkan diskusi bersama pimpinan sekolah dan konselor berkenan
dengan dukungan kebijakan, sarana dan prasara untuk keterlaksanaan program.

2.4.4 Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik


Berikut ini disebutkan beberapa kebutuhan peserta didik yang perlu
mendapat perhatian dari guru, di antaranya:
1) Kebutuhan jasmaniah
2) Kebutuhan akan rasa aman
3) Kebutuhan akan kasih sayang
4) Kebutuhan akan penghargaan
5) Kebutuhan akan rasa bebas
6) Kebutuhan akan rasa sukses
7) Kebutuhan akan agama

2.4.5 Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia


Remaja—SMA)

19
Masa remaja (12-21 tahun) merupakan masa peralihan antara masa kehidupan
anak-anak dan masa kehidupan orang yang dewasa. Masa remaja sering dikenal
denga masa pencarian jati diri (ego identity). Masa remaja ditandai dengan
sejumlah karakteristik penting, yaitu:
1) Mencapai hubungan yang matang dengan teman sebaya
2) Dapat menerima dan belajar peran sosial sebagi pria atau wanita dewasa
yang menjunjung tinggi oleh masyarakat
3) Menerima keadaan fisik dan mampu menggunakannya secara efaektif
4) Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
5) Memilih dan mempersiapkan karier di masa depan sesuai dengan minat dan
kemampuannya
6) Mengembangkan sikap positif terhadap pernikahan, hidup berkeluarga dan
memiliki anak
7) Mengembangkan keterampilan intelektual dan konsep-konsep yang
diperlukan sebagi warga Negara
8) Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara social
9) Memperoleh seperangkat nilai dan sistem etika sebagai pedoman dalam
bertingkah laku
10) Mengembangkan wawasan keagamaan dan meningkatkan religiusitas
Berbagai karakteristik perkembangan masa remaja tersebut menuntut
adanya pelayanan pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhannya. Hal ini
dapat dilakukan guru, di antaranya:
1) Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi,
bahaya penyimpangan seksual dan penyalahgunaan narkotika
2) Membantu siswa mengembangkan sikap apresiatif terhadap postur tubuh atau
kondidi dirinya
3) Menyediakan fasilitas yang memungkinkan siwa mengembangkan
keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, seperti sarana olahraga,
kesenian, dan sebagainya
4) Memberikan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan memecahkan
masalah dan mengambil keputusan

20
5) Melatih siswa mengembangkan resiliensi, kemampuan bertahan dalam
kondisi sulit dan penuh godaan
6) Menerapkan model pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk berpikir
kritis, reflektif, dan positif
7) Membantu siswa mengembangkan etos kerja yang tinggi dan sikap
wiraswasta
8) Memupuk semangat keberagaman siswa melalui pembelajaran agama terbuka
dan lebih toleran
9) Menjalin hubungan yang harmonis dengan siswa, dan bersedia mendengarkan
segala keluhan dan problem yang dihadapinya.

2.5 Pentingnya Memahami Peserta Didik


Pentingnya Pemahaman Guru/Konselor Mengenai Peserta Didik diantaranya
adalah :
 Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang
guru/konselor akan dapat memberikan harapan yang realistis terhadap
anak dan remaja. Ini adalah penting, karena jika terlalu banyak yang
diharapkan pada anak usia tertentu, anak mungkin akan mengembangkan
perasaan tidak mampu jika ia tidak mencapai standar yang ditetapkan
orangtua dan guru. Sebaliknya, jika terlalu sedikit yang diharapkan dari
mereka, mereka akan kehilangan rangsangan untuk lebih mengembangkan
kemampuannya.
 Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang
guru/konselor akan lebih mudah dalam memberikan respons yang tepat
terhadap perilaku tertentu seorang peserta didik (konseli).
 Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang
guru/konselor akan lebih mudah dalam mengenali kapan perkembangan
normal yang sesungguhnya dimulai, sehingga guru dapat mempersiapkan
anak menghadapi perubahan yang akan terjadi pada tubuh, perhatian dan
perilakunya.

21
 Dengan mengetahui dasar – dasar pemahaman peserta didik, seorang
guru/konseli akan lebih mudah dalam memberikan bimbingan yang tepat
pada peserta didik.

22
BAB 3
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada
peserta didik dengan menciptakan lingkungan perkembangan yang kondusif,
dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, supaya peserta didik dapat
memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak
secara wajar, sesuai dengan tuntutan tugas-tugas [Link] Guidance
Service is the Heart of Educational Process. Bimbingan dan konseling merupakan
bagian integral dari sistem [Link] bimbingan dan konseling adalah
layanan psikologis dalam suasana pedagogis. Orientasi bimbingan dan konseling
adalah perkembangan perilaku yang seharusnya dikuasai oleh individu untuk
jangka panjang tertentu menyangkut ragam proses pendidikan, karir, pribadi,
sosial, keluarga dan pengambilan keputusan. Dalam memahami dasar – dasar
pemahaman peserta didik, hal – hal yang perlu diperhatikan antara lain :
a) Kompetensi guru pembimbing/konselor
b) Mengetahui Klasifikasi Layanan
c) Strategi Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling
d) Memperhatikan Kebutuhan Para Peserta Didik
e) Memperhatikan Karakteristik Perkembangan Peserta didik (Usia Remaja
SMA)

23
DAFTAR PUSTAKA

Desmita. (2009). Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Rosdakarya.


Juntika, N. A. (2006). Bimbingan dan Konseling. Bandung: UPI.

(tanpa tahun). Bimbingan dan Konseling di Sekolah. [Online].


Tersedia:[Link]
[Link]. [27 April 2011].

(tanpa tahun). Dasar–Dasar Pemahaman Perilaku. [Online].


Tersedia:[Link]
pemahaman-perilaku/. [04 Mei 2011].

(2008). Makalah Ilmu Pendidikan . [Online].


Tersedia:[Link]
[Link].[01 Mei 2011].

(tanpa tahun). Makalah Peserta Didik. [Online].


Tersedia:[Link]
Melalaui-an-AUD. [28April 2011].

(2010). Proses Memahami Peserta Didik di SMK. [Online].


Tersedia:[Link]
[Link]. [02Mei 2011].

(tanpa tahun). Psikologi Anak dalam Memahami Anak. [Online].


Tersedia:[Link]
7529/[Link] [02Mei 2011].

24
(2009). Psikologi Dalam Peserta Didik. [Online].
Tersedia: [Link]
[Link]. [04 Mei 2011].

25

You might also like