Jurnal FamilyEdu
Perancangan Program Pendampingan... | 1
Vol III No.2 Oktober 2017
Perancangan Program Pendampingan Lanjut Usia Berbasis
Home Care Di Posbindu Kelurahan Geger Kalong
Rosita Nurfatimah1*, Melly Sri Sulastri Rifa’i1, Yoyoh Jubaedah1
1
Prodi Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Departemen PKK FPTK UPI
* rosita.nurfatimah16@[Link]
ABSTRACT
This research is motivated that existing programs in Posbindu Miana VIII village Geger
Kalong limited medical examination and gymnastics, while for assisting the elderly
based Home Care program there has been no structured and systematic, where as the
elderly who are outside the home still need assistance, especially from the family and
community environment. The purpose of this study to generate elderly assistance
program based Home Care in Posbindu the village Geger Kalong. This study uses a
method of Research and Development with Model Addie which include Analysis,
Design, Development, Implementation and Evaluation. Participants in this study using
purposive sampling, where selected families who provide active assistance to the
elderly. Identification of needs through open interviews to the 12 families of elderly and
four cadres Posbindu. The program is designed consists of program components:
objectives, goals, forms of assistance, organizing institutions and implementing the
program, besides, program modules include assisting the elderly. Form of assistance the
elderly cover physical, social, mental and spiritual. Expert judgment program conducted
by academics and practitioners elderly service agencies. Repairs done by the revised
program and developed according to feedback from the validator. Trials program that
has been revised and expanded to do a non potential grandmother was 80 years old.
These trials were conducted by the companion of the family environment and the
companion Posbindu Miana VIII RW. 08 village Geger Kalong. Recommended for
families and the elderly Posbindu, the program can be implemented to meet the various
needs of the elderly. For the elderly should introspect, especially in the health and
follow the advice recommended by related parties. For further research the elderly
assistance program based Home Care can be developed or modified according to the
needs of research.
Keywords: Home care, assistance, elderly, family, Posbindu
PENDAHULUAN Pada tahun 2000 jumlah lansia di dunia
Keberhasilan pembangunan kesehatan sekitar 600 juta (11%), tahun 2005
menurut Depkes RI (dalam Jafar, 2011, meningkat menjadi 1,2 milyar (22%).
hlm. 157) ditandai dengan meningkatnya Jumlah manula secara keseluruhan pada
beberapa aspek, seperti kualitas sumber tahun 2009 berjumlah 179.288 dari total
daya manusia, kualitas hidup, penduduk. Diperkirakan pada tahun 2020
kesejahteraan keluarga dan masyarakat, menjadi 11,34% dari total penduduk
serta usia harapan hidup. Salah satu yang (Mudawamah, 2012, hlm. 1).
menjadi perhatian ialah meningkatnya Pertumbuhan populasi lansia dan
usia harapan hidup masyarakat yang akan bertambahnya usia harapan hidup di
berdampak pada peningkatan jumlah berbagai masyarakat di dunia telah
lansia. Peningkatan usia harapan hidup melahirkan istilah yang sering disebut
berdampak terhadap peningkatan jumlah dalam literatur sebagai population aging
lansia yaitu usia 60 tahun ke atas atau aging society. Population aging
(Kushariyadi, 2010, hlm. 12-13). adalah melonjaknya proporsi jumlah
Pertumbuhan populasi lansia (usia > lanjut usia dibandingan dengan kelompok
60 tahun) di dunia meningkat sangat pesat usia muda, sehingga kelompok yang
dibandingkan dengan kelompok usia lain. dikategorikan lansia ini mengalami suatu
102 | Rosita Nurfatimah, et al
proses yang disebut Aging Process atau pendampingan dan perawatan sosial
proses penuaan. lanjut usia di lingkungan keluarga;
Proses penuaan menurut pelayanan harian lanjut usia; dan
Constantinides (dalam Maryam, 2008, penguatan usaha ekonomis produktif
hlm. 46) adalah suatu proses melalui pendekatan kelembagaan sebagai
menghilangnya secara perlahan-lahan investasi sosial. Jenis pelayanan sosial
kemampuan jaringan untuk memperbaiki lanjut usia luar panti dapat dilaksanakan
diri atau mengganti dan mempertahankan melalui lingkungan keluarga atau
fungsi normalnya, sehingga tidak dapat masyarakat.
bertahan terhadap infeksi serta Home Care merupakan salah satu
memperbaiki kerusakan yang diderita. program sebagai perwujudan
Proses penuaan yang terjadi pada lansia pendampingan dan perawatan sosial
secara perlahan mengakibatkan lanjut usia luar panti. Home Care menurut
kemunduran struktur dan fungsi organ, Kementerian Sosial (dalam
baik aspek fisik, psikis, mental dan sosial, Widyakusuma, 2013, hlm. 212)
sehingga lansia rentan terhadap berbagai merupakan ‘bentuk pelayanan
penyakit. Masalah utama yang dihadapi pendampingan dan perawatan sosial
lansia menurut Partini Suadirman dalam lanjut usia di lingkungan keluarga/di
Sri Salmah (dalam Setyaningrum, 2012, rumah sebagai wujud perhatian terhadap
hlm. 3) pada umumnya meliputi aspek: lanjut usia dengan mengutamakan peran
biologi, kesehatan, psikis dan sosial. masyarakat berbasis keluarga’. Home
Masalah-masalah yang dihadapi Care sebagai bentuk pendampingan dan
lansia pada proses penuaannya membuat perawatan sosial lanjut usia di lingkungan
lansia membutuhkan pelayanan dari keluarga atau rumah dapat memenuhi
berbagai pihak. Oleh karena itu, kebutuhan lansia, mengingat lingkungan
diperlukan penanganan secara keluarga sebenarnya memegang peranan
komprehensif sebagai upaya untuk yang sangat penting untuk
meningkatkan kesejahteraan sosial bagi mengembalikan kepercayaan lansia, agar
lansia. Upaya peningkatan kesejahteraan merasa masih dibutuhkan dan mampu
sosial lansia menurut PP Nomor 43 Tahun berdayaguna, baik di lingkungan keluarga
2004 adalah serangkaian kegiatan yang maupun dalam kehidupan bermasyarakat,
dilaksanakan secara terkoordinasi antara sehingga lansia dapat menjalankan
pemerintah dan masyarakat untuk fungsi-fungsi sosialnya dengan baik dan
memberdayakan lansia, agar lansia tetap dapat meningkatkan kualitas hidupnya.
dapat melaksanakan fungsi sosialnya dan Posbindu sebagai salah satu lembaga
berperan aktif secara wajar dalam hidup yang secara tidak langsung memberikan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. layanan Home Care yang bertugas
Upaya peningkatan kesejahteraan sosial mengkoordinir kegiatan pendampingan
lansia dapat dilaksanakan melalui bentuk lansia yang dilakukan oleh keluarga
pelayanan sosial lanjut usia baik dalam sebagai pendamping utama dalam
panti maupun luar panti (Peraturan melakukan pendampingan lansia berbasis
Menteri Sosial RI No. 19, 2012, hlm. 6). Home Care. Pemegang peran utama untuk
Pelayanan Sosial Lanjut Usia Luar Home Care menurut Departemen Sosial
Panti adalah pelayanan sosial yang (dalam Widyakusuma, 2013, hlm. 212)
dilaksanakan dengan berbasiskan adalah anggota keluarga lansia. Jika tidak
keluarga atau masyarakat dan tidak ada anggota keluarga lansia, maka dapat
menggunakan sistem pengasramaan. Jenis melibatkan anggota masyarakat yang
pelayanan yang diberikan kepada lanjut tinggal di lingkungan yang sama dengan
usia di luar panti, meliputi: pelayanan lansia yang memerlukan pendampingan
Perancangan Program Pendampingan... | 103
ataupun perawatan di lingkungan dengan melibatkan peran keluarga lansia,
keluarga. Posbindu dan masyarakat di lingkungan
Program yang sudah ada di Posbindu sekitar.
Miana VIII RW. 08 Kelurahan Geger Pendampingan berbasis Home Care bagi
Kalong terbatas hanya pemeriksaan lansia merupakan masalah yang diangkat
kesehatan dan senam, sementara untuk dalam penelitian, terkait manfaat yang
pendampingan lansia berbasis Home Care diberikan sangat besar terhadap
belum terdapat program yang terstruktur pemenuhan kebutuhan lansia melalui
dan sistematis, padahal lansia yang berada pendampingan dengan melibatkan
di luar panti masih membutuhkan keluarga lansia, Posbindu dan lingkungan
pendampingan, khususnya pendampingan masyarakat. Pemilihan masalah
dari keluarga lansia dan masyarakat pendampingan lansia berbasis Home Care
lingkungan sekitar, karena lansia perlu sejalan dengan pengetahuan dan
didampingi oleh seseorang yang pemahaman yang dimiliki peneliti terkait
mempunyai sifat dan pendekatan tertentu sebagai Pekerja Sosial, khususnya
yang dapat diterima dengan baik oleh mendalami materi tentang konsep lanjut
lansia, terutama dari pihak keluarga dan usia dan pelayanannya yang diperoleh
masyarakat yang ada di sekitar lansia itu dari perkuliahan Program Studi
sendiri. Program berbasis Home Care Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
yang dirancang akan lebih di khususkan Departemen Pendidikan Kesejahteraan
bagi lansia non potensial, karena lansia Keluarga FPTK UPI Bandung.
non potensial menurut Maryam (2008,
hlm. 33) adalah lansia yang tidak berdaya METODE
mencari nafkah, sehingga hidupnya Metode yang digunakan dalam penelitian
bergantung pada bantuan orang lain, oleh ini adalah Metode Research and
karena itu, peran keluarga menjadi sangat Development dengan Model Addie.
penting, karena keluarga merupakan Tahapan penelitian yang akan dilakukan
sumber dukungan terbesar yang berguna dengan menggunakan Model Addie,
untuk membantu memenuhi kebutuhan adalah sebagai berikut:
dasar manusia pada lansia (Maryam, 1. Analisis. Tahap analisis dalam
2008, hlm. 42). penelitian ini adalah kegiatan
Pendampingan lansia berbasis Home identifikasi kebutuhan program
Care menjadi salah satu solusi dalam pendampingan berbasis Home Care
meningkatkan keberfungsian lansia yang sesuai dengan karakteristik lansia
ada di lingkungan keluarga yang ada di Posbindu Kelurahan
(Widyakusuma, 2013, hlm. 212). Namun, Geger Kalong.
Home Care belum sepenuhnya diketahui 2. Desain. Tahap desain dalam
dan dipahami oleh keluarga lansia dan penelitian ini adalah menyusun
masyarakat, sehingga diperlukan desain perancangan program
perancangan program pendampingan pendampingan berbasis Home Care
berbasis Home Care yang sesuai dengan berdasarkan hasil dari identifikasi
karakteristik dan kebutuhan lansia. kebutuhan program.
Perancangan program pendampingan 3. Pengembangan. Tahap
lansia berbasis Home Care dimulai pengembangan dalam penelitian ini
dengan mengidentifikasi kebutuhan adalah pengembangan program
sesuai dengan karakterisitik lansia, pendampingan berbasis Home Care
kemudian akan dirancang program yang sesuai dengan kebutuhan para lansia
dapat memenuhi kebutuhan lansia melalui di Posbindu Kelurahan Geger
berbagai bentuk pelayanan Home Care Kalong. Setelah program dirancang,
104 | Rosita Nurfatimah, et al
maka akan dilakukan validasi Bandung, sehingga uji coba program
menggunakan expert judgment oleh pendampingan lansia berbasis Home Care
beberapa pakar atau tenaga ahli yang akan dilakukan oleh keluarga lansia dan
sudah berpengalaman untuk menilai Posbindu dalam memberikan
program yang telah dirancang, pendampingan kepada lansia.
sehingga selanjutnya dapat diketahui Instrumen penelitian yang digunakan
kelebihan dan kelemahan program. adalah pedoman wawancara, format
Oleh karena itu pada tahap ini, jika validasi expert judgment dan pedoman
program yang telah divalidasi dapat observasi program. Wawancara dilakukan
diketahui kelemahannya, maka akan kepada keluarga lansia dan pengelola
dilakukan perbaikan desain sesuai Posbindu sebagai bahan identifikasi
arahan dari tenaga ahli. kebutuhan perancangan program. Format
4. Implementasi. Tahap implementasi validasi expert judgment digunakan untuk
dilakukan untuk aplikasi program menilai program yang dilakukan expert
pendampingan berbasis Home Care akademisi dan praktisi lembaga pelayanan
kepada para lansia. lansia. Pedoman observasi digunakan
5. Evaluasi. Tahap evaluasi dalam ketika uji coba program oleh pendamping
penelitian ini adalah untuk melihat dari keluarga dan Posbindu.
tanggapan dan penilaian pengguna Analisis data yang dilakukan dalam
setelah mengimplementasikan penelitian ini adalah reduksi dan display
program pendampingan lansia data untuk merangkum hasil wawancara
berbasis Home Care di Posbindu sebagai bahan identifikasi kebutuhan
Kelurahan Geger Kalong. perancangan program, kemudian
Partisipan dalam penelitian ini dilakukan validasi data menggunakan
menggunakan purposive sampling, expert judgment. Hasil uji coba program
dimana sampel ditentukan berdasarkan kemudian ditafsirkan dan
pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2013, diinterpretasikan.
hlm. 85), yaitu dikhususkan bagi keluarga
yang memberikan pendampingan secara HASIL DAN PEMBAHASAN
aktif kepada lansia. Akan dilakukan Temuan Penelitian
wawancara kepada 12 keluarga lansia 1. Data identifikasi kebutuhan kondisi
yang tersebar di setiap RT di RW. 08 objektif Posbindu didapatkan melalui
Kelurahan Geger Kalong. wawancara kepada perwakilan kader
Program pendampingan lansia yang terdiri dari empat orang yang
berbasis Home Care yang telah dirancang, tersebar di setiap RT, yaitu RT satu
kemudian akan dilakukan validasi desain sampai empat, RW. 08 Kelurahan
program menggunakan expert judgment Geger Kalong.
oleh ahli lansia, yang terdiri dari 2. Data identifikasi kebutuhan
akademisi yang akan dipilih satu orang perancangan program pendampingan
dosen partisipan skripsi dan satu orang lansia berbasis Home Care
ketua Posbindu Miana VIII yang didapatkan melalui wawancara
keduanya memiliki wawasan tentang kepada perwakilan kader yang terdiri
lansia dan memiliki pengalaman pribadi dari empat orang dan keluarga
serta aktif dalam kegiatan Posbindu, sebagai pendamping lansia yang
sehingga selanjutnya dapat diketahui terdiri dari dua belas keluarga yang
kelebihan dan kelemahan program. tersebar di setiap RT, yaitu RT satu
Lokasi penelitian akan dilakukan di sampai empat, RW. 08 Kelurahan
Posbindu Miana VIII RW.08 Kelurahan Geger Kalong.
Geger Kalong Kecamatan Sukasari Kota
Perancangan Program Pendampingan... | 105
3. Desain awal perancangan program status sudah menikah dan pendidikan
pendampingan lansia berbasis Home terakhir SMA.
Care dilakukan setelah 2) Identitas pendamping kader lansia.
mengidentifikasi kebutuhan Kader Posbindu yang menjadi
perancangan program yang telah pendamping lansia adalah kader yang
dilakukan melalui wawancara kepada terlibat secara aktif dalam
perwakilan kader yang terdiri dari memberikan pendampingan ketika
empat orang dan keluarga sebagai kegiatan Posbindu berlangsung
pendamping lansia yang terdiri dari berjumlah 10 orang perempuan
dua belas keluarga yang tersebar di dengan usia 30-60 tahun. Pendidikan
setiap RT, yaitu RT satu sampai terakhir kader Posbindu yaitu SMA
empat, RW. 08 Kelurahan Geger berjumlah 8 orang, sedangkan lulusan
Kalong. S1 berjumlah 2 orang. Kader
4. Hasil expert judgment yang telah Posbindu sudah mengikuti pelatihan-
dilakukan oleh akademisi dan praktisi pelatihan terkait kegiatan Posbindu,
Lembaga Pelayanan Lansia meliputi seperti pelatihan tentang Penyakit
komponen perancangan program Tidak Menular atau PTM serta
pendampingan lansia berbasis Home memiliki pengalaman dalam
Care, yaitu: tujuan, sasaran, bentuk memberikan pelayanan kepada
pendampingan, lembaga lansia.
penyelenggara dan pelaksana
program secara keseluruhan sudah Pembahasan Penelitian
sesuai, namun masih diperlukan Tujuan program pendampingan
pengembangan. dirumuskan bukan hanya untuk
5. Revisi dan pengembangan desain memenuhi kebutuhan lansia pada saat
perancangan program pendampingan tertentu, namun yang terpenting dapat
lansia berbasis Home Care dilakukan menciptakan suasana yang
setelah mendapatkan hasil expert menyenangkan seperti rasa aman, nyaman
judgment dari akademisi dan praktisi dan tentram bagi lansia, sehingga lansia
lembaga pelayanan lansia. Saran dan dapat menjalankan kehidupannya secara
komentar yang diberikan oleh wajar. Tujuan program pendampingan
akademisi dan praktisi lembaga berbasis Home Care dirumuskan
pelayanan lansia dijadikan rujukan berdasarkan pendapat menurut Akdon
untuk pengembangan rancangan (dalam Mei, 2016) Tujuan tidak harus
program. dinyatakan dalam bentuk kuantitatif, akan
6. Program pendampingan lansia tetapi harus dapat menunjukkan kondisi
berbasis Home Care yang telah yang ingin dicapai dimasa mendatang.
direvisi dan dikembangkan diuji coba Sasaran program pendampingan
kepada seorang nenek non potensial lansia berbasis Home Care terdiri dari
berusia 80 tahun. Uji coba tersebut sasaran langsung yaitu lansia yang akan
dilakukan oleh pendamping dari diberikan pendampingan dan keluarga
lingkungan keluarga dan pendamping yang memberikan pendampingan baik
atau kader lansia Posbindu Miana untuk memenuhi kebutuhan fisik, sosial,
VIII RW. 08 Kelurahan Geger mental dan spiritual lansia. Sasaran tidak
Kalong, sebagai berikut: langsung program yaitu kader Posbindu
1) Identitas pendamping keluarga. Putri dan masyarakat di lingkungan sekitar
lansia yang tinggal dalam satu rumah lansia.
yang merupakan seorang ibu rumah Bentuk program pendampingan
tangga, berusia 45 tahun dengan lansia berbasis Home Care dirumuskan
106 | Rosita Nurfatimah, et al
dengan memperhatikan kebutuhan lansia menerapkan personal hygiene dalam
sebagai seseorang yang telah mengalami kehidupan sehari-hari, karena personal
perubahan yang akan berpengaruh pada hygiene yang baik akan mempengaruhi
kemunduran kesehatan fisik dan psikis terhadap peningkatan citra tubuh individu,
yang pada akhirnya akan berpengaruh termasuk lansia (Ramadhan dan Sabrina,
pada ekonomi dan sosial lansia, sehingga 2016, hlm. 1735-1748). Kebutuhan lansia
secara umum akan berpengaruh pada dari aspek fisik (4) mobilisasi lansia.
activity of daily living (Wati, 2012). Mobilisasi lansia berkaitan dengan
Bentuk pendampingan lansia berbasis olahraga atau senam lansia. Senam lansia
Home Care yang dirancang meliputi sebaiknya dilakukan dengan durasi 20-50
pendampingan secara aspek fisik, sosial, menit dan frekuensi tiga kali seminggu
mental dan spiritual. Sejalan dengan (Raharjo, 2016). Kebutuhan lansia dari
pendapat menurut Taviyanda dan aspek fisik (5) kesehatan. Keluarga
Siswanto (2016, hlm. 145) bahwa peran merupakan sumber dukungan dan bantuan
keluarga dalam perawatan lanjut usia paling bermakna dalam membantu
antara lain: menjaga atau merawat lansia, pemeliharaan kesehatan anggota
mempertahankan dan meningkatkan keluarga. Lansia yang sudah mengalami
status mental, mengantisipasi perubahan penurunan fungsi baik fisiologis maupun
status sosial ekonomi serta memberikan psikologis, apalagi memiliki penyakit
motivasi dan memfasilitasi kebutuhan kronik sangat membutuhkan dukungan
spiritual bagi lansia. dan bantuan keluarga dalam upaya
Kebutuhan lansia dari aspek fisik pemeliharaan kesehatan (Hidayati, 2015).
meliputi (1) makanan. Perubahan Kebutuhan lansia dari aspek sosial
kebutuhan dan asupan gizi harus meliputi: komunikasi, rekreasi dan
diantisipasi dengan pemberian nutrisi partisipasi lansia dalam kegiatan
secara tepat, sehingga tidak menimbulkan masyarakat, karena meskipun lansia
masalah gizi atau memperburuk kondisi mengalami berbagai kemunduran, namun
fisik lansia. Gizi yang baik akan berperan tidak berarti karena perubahan baik secara
dalam upaya penurunan prosentase fisik dan psikologis tersebut menjadikan
timbulnya penyakit dan angka kematian di lansia merasa dirinya tidak berguna,
usia lanjut (Mainake, 2012, hlm. 3). padahal banyak kebudayaan dan
Kebutuhan lansia dari aspek fisik (2) masyarakat menurut Nawawi (2009, hlm.
pakaian. Pakaian lansia termasuk kepada 8) menganggap lansia memiliki peran dan
salah satu activity daily of living yang kedudukan sebagai orang yang dihormati,
harus dipenuhi dan diperhatikan oleh dianggap memiliki pengetahuan dan
keluarga, karena menurut Nur (2015, hlm. pengalaman yang lebih, sehingga menjadi
7) dukungan keluarga yang tepat akan tempat bertanya dan mendapatkan nasehat
memperbaiki atau mempertahankan bagi golongan muda. Penelitian yang
kemampuan aktivitas sehari-hari lansia. dilakukan Andriani (dalam None dan
Kebutuhan lansia dari aspek fisik (3) Kallo, 2016) tentang keluarga sehat,
kebersihan diri. Kebersihan badan, tempat menulis bahwa sifat pertama dari keluarga
tidur, kebersihan rambut, kuku dan mulut yang sehat adalah komunikasi yang jelas
atau gigi perlu mendapat perhatian dan kemampuan untuk saling
perawatan khusus. Kebanyakan dari mendengarkan.
lansia tidak memiliki kesadaran untuk Kebutuhan lansia dari aspek mental
memelihara kebersihan diri, dikarenakan meliputi: kecerdasan intelektual,
personal hygiene tidak begitu penting kecerdasan emosional dan kecerdasan
bagi lanjut usia saat ini, sehingga keluarga moral. Masalah gangguan kesehatan
perlu membantu dan memotivasi lansia mental menurut Riani (2013) dapat
Perancangan Program Pendampingan... | 107
mengganggu kegiatan sehari-hari lansia dirinya terhadap tugas perkembangan
dan menurunkan kualitas hidup lansia. yang harus dilakukan, seperti:
Dukungan sosial terdekat yang dapat mempersiapkan diri untuk kondisi yang
diperoleh lansia adalah bersumber dari menurun, mempersiapkan diri untuk
keluarga. Dukungan sosial dari keluarga pensiun, membina hubungan baik dengan
dapat dilakukan melalui memberikan sesama lansia dan masyarakat dengan
perhatian pada lansia, bantuan keadaan nyaman, mempersiapkan
instrumental, pemberian informasi saat kehidupan baru sebagai lansia dan
berada pada situasi yang menekan, serta mempersiapkan untuk kematian pasangan
informasi yang relevan dengan penilaian maupun kematian diri sendiri.
diri, dengan cara tersebut, setidaknya Selain keluarga, kader Posbindu juga
dukungan sosial dapat meringankan merupakan pendamping yang
beban lansia apabila dihadapkan pada memberikan pendampingan kepada lansia
suatu persoalan (Parasari dan Lestari, ketika kegiatan Posbindu berlangsung.
2015, hlm. 70-71). Posbindu merupakan suatu fasilitas
Kebutuhan lansia dari aspek spiritual pelayanan kesehatan yang bertujuan
meliputi: aqidah, amaliyah, syariah dan untuk meningkatkan kesehatan
akhlak. Aspek spiritual membahas terkait masyarakat khususnya bagi warga yang
mengajak, mendampingi dan melatih sudah berusia lanjut (Rusfita, 2016).
lansia menjalankan ibadah mahdah dan Posbindu menurut Nawawi (2009, hlm.
ghair mahdah. Kedekatan antara lansia 60) menjalankan peran penting dalam
dengan Tuhan yang dibangun melalui meningkatkan taraf kesehatan lansia.
aktifitas ritual ibadah dan do’a yang Posbindu sebagai salah satu lembaga
didasari dengan keikhlasan akan pelayanan lansia dapat menjalin
membawa ketenangan dan kedamaian, kerjasama aktif antara keluarga dan
sehingga akan memberikan efek relaksasi masyarakat lingkungan sekitar untuk
pada lansia. Kedekatan dengan Tuhan memberikan pendampingan kepada
yang dilandasi dengan keikhlasan akan lansia.
membuat lansia mematuhi ajaran
agamanya. Ajaran agama tidak hanya SIMPULAN
mengajarkan perintah dan larangan yang Simpulan pada bab ini dibuat dengan
harus dipatuhi oleh umat manusia, namun memperhatikan tujuan penelitian, hasil
juga tentang cara berperilaku hidup sehat, pengolahan data dan pembahasan
sehingga lansia memiliki motivasi untuk penelitian, maka dapat diuraikan simpulan
melakukan perilaku hidup sehat demi sebagai berikut:
kesehatannya (Dewi, 2016, hlm. 233- a. Program pendampingan lansia
234). berbasis Home Care dirancang terdiri
Pelaksana utama program dari komponen program seperti:
pendampingan lansia berbasis Home Care tujuan, sasaran, bentuk
adalah keluarga lansia. Keluarga memiliki pendampingan, lembaga
peran penting dalam memberikan penyelenggara dan pelaksana
pendampingan kepada lansia, karena program pendampingan. Bentuk
keluarga menurut Harris (dalam Baroroh, program pendampingan meliputi
2015, hlm. 143) merupakan orang aspek fisik, sosial, mental dan
terdekat yang secara spontan akan spiritual.
mengambil bagian menjadi care giver, b. Hasil expert judgment yang
ketika keluarga yang dicintainya dilakukan oleh akademisi dan praktisi
membutuhkannya. Keluarga perlu lembaga pelayanan lansia
membantu lansia untuk menyesuaikan menyatakan bahwa program layak
108 | Rosita Nurfatimah, et al
untuk diuji coba sesuai dengan saran Mainake, M. B. (2012). Hubungan antara Tingkat
atau masukan sebagai perbaikan Asupan Energi dengan Status Gizi Lansia di
Kelurahan Mapanget Barat Kecamatan
program pendampingan lansia Mapanget Kota Manado. [Online]. Diakses
berbasis Home Care. dari [Link]
Maryam, S. dkk. (2008). Mengenal Usia Lajut dan
Hasil uji coba program dilakukan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika.
kepada seorang nenek non potensial Mei. (2016). Menyusun Visi, Misi, Tujuan dan
Sasaran sebuah Program. [Online]. Diakses
berusia 80 tahun. Uji coba tersebut dari [Link]
dilakukan oleh pendamping dari Mudawamah, S dan Legowo, M. (2012).
lingkungan keluarga dan pendamping Perawatan Lansia Oleh Masyarakat Melalui
Posbindu Miana VIII RW. 08 Kelurahan Home Care Lansia BKKKS Jawa Timur. 1
Geger Kalong. Program pendampingan (1), hlm. 1-7.
Nawawi, U. (2009). Sehat dan Bahagia di Usia
secara aspek fisik, sosial, mental dan Senja. Yogyakarta: Dianloka Pustaka
spiritual secara keseluruhan sudah dapat Populer.
dilaksanakan. Aspek yang belum None, N, I dan Kallo, V. (2016). Hubungan Pola
dilaksanakan, seperti menyeka badan Komunikasi Keluarga dengan Tingkat
lansia, membantu lansia menggunakan Depresi pada Lansia di Kelurahan
Malalayang Satu Timur Kecamatan
pispot dan memberikan pertolongan pada Malalayang. e-journal Keperawatan (e-Kp),
gejala sakit ringan, dikarenakan kondisi 4 (2).
lansia sedang dalam keadaan sehat. Nur, I. (2015). Pengaruh Peran Keluarga dalam
Pendampingan dalam mengawasi dan Pemenuhan Activities Daily Living Kualitas
membantu lansia menggunakan alat Hidup Lansia di Desa Raharja Kecamatan
Wonosari Kabupaten Boalemo. Jurnal
bantu, seperti kursi roda, tongkat, kruk Keperawatan, 3 (3), hlm. 1-14.
dan walker belum dilaksanakan, Parasari, G, A, T dan Lestari, M, D. (2015).
dikarenakan keterbatasan alat bantu lansia Hubungan Dukungan Sosial Keluarga
yang tersedia. Dengan Tingkat Depresi pada Lansia di
Kelurahan Sading. Jurnal Psikologi
Udayana, 2 (1), hlm. 68-77.
DAFTAR PUSTAKA Peraturan Menteri Sosial RI No. 19. (2012).
Baroroh, D. B. (2015). Peran Keluarga Sebagai Peraturan Menteri Sosial Republik
Care Giver Terhadap Pengelolaan Aktifitas Indonesia Nomor 19 Tahun 2012 Tentang
pada Lansia dengan Pendekatan NIC Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut Usia.
(Nursing Intervention Classification) Dan [Online]. Diakses dari
NIC (Nursing Outcome Classification). 3 (2), [Link]
hlm. 141-151. pdf.
Dewi, S, R. (2016). Spiritualitas dan Persepsi Raharjo, R, D. (2016). Pengaruh Senam Lansia
Kesehatan Lansia dengan Hipertensi di terhadap Kebugaran Lansia di Panti Werdha
Wilayah Kerja Puskesmas Mayang Jember. Majapahit Mojokerto. [Online]. Diakses dari
The Indonesian Journal of Health Science, 6 [Link]
(2), hlm. 228-236. Ramadhan, K dan Sabrina, I. (2016). Hubungan
Hidayati, R, N. (2015). Gambaran Pelaksanaan Personal Hygiene dengan Citra Tubuh pada
Tugas Kesehatan Keluarga dalam Lansia di Desa Sepe Kecamatan Lage
Pemeliharaan Kesehatan Lanjut Usia di Kabupaten Poso. Jurnal Kesehatan Prima,
Dusun Karangnongko Desa Balongmojo 10 (2), hlm. 1735-1748.
Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto. Riani, S. (2013). Studi Deskriptif Status Mental
Jurnal Keperawatan Bina Sehat, 11 (1). Lansia Berdasarkan Karakteristik Lansia di
Jafar, N, dkk. (2011). Pengalaman Lanjut Usia Kelurahan Karangayu Semarang Barat.
Mendapatkan Dukungan Keluarga. Jurnal [Online]. Diakses dari [Link]
Keperawatan Indonesia, 14 (3), hlm. 157- journal/[Link]/ilmukeperawatan/article...
164. Rusfita, A. (2016). Lanjut Usia (Lansia). [Online].
Kushariyadi. (2010). Asuhan Keperawatan Klien Diakses dari [Link]
Lanjut Usia Dengan Demensia Pada Home Setyaningrum, N. (2012). Upaya Peningkatan
Care. Jurnal Keperawatan, ISSN: 2086- Pelayanan Sosial Bagi Lansia Melalui Home
3071, 1 (1), hlm. 12-19. Care Service Di Panti Sosial Tresna Werdha
Perancangan Program Pendampingan... | 109
(PSTW) Yogyakarta Unit Budhi Luhur. Wati, S. (2012). Penelitian Keperawatan
[Online]. Diakses dari Gerontik. [Online]. Diakses dari
[Link] [Link]
[Link]. Widyakusuma, N. (2013). Peran Pendamping
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif Dalam Program Pendampingan Dan
Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta Perawatan Sosial Lanjut Usia Di Lingkungan
Taviyanda, D dan Siswanto, A. (2016). Penerapan Keluarga (Home Care): Studi Tentang
Fungsi Afektif Keluarga pada Lansia dalam Pendamping Di Yayasan Pitrah Sejahtera,
Pemenuhan Activity Daily Living. Jurnal Kelurahan Cilincing, Kecamatan Cilincing
Penelitian Keperawatan, 2 (2), hlm. 144- Jakarta Utara. Informasi, 18 (2), hlm. 211-
149. 224.