File Ester
File Ester
net/publication/322037457
CITATIONS READS
0 3,387
3 authors, including:
Some of the authors of this publication are also working on these related projects:
Pengaruh Budaya Organisasi Dan Kompetensi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Boga Indo Sejahtera Abadi (Restaurant Paradise Dynasty) View project
All content following this page was uploaded by Muhammad Irfan Nasution on 24 December 2017.
Informasi Artikel
Cara sitasi
Nasution, M., Prayogi, M., & Affandy Nasution, S. (2017). Analisis pengaruh bauran
pemasaran terhadap volume penjualan. .Jurnal Riset Sains Manajemen, 1(1). 1-12.
Retrieved from [Link]
Atau,
Nasution, M., Prayogi, M., & Affandy Nasution, S. (2017). Analisis Pengaruh Bauran
Pemasaran Terhadap Volume Penjualan. Jurnal Riset Sains Manajemen, 1(1), 1-12. DOI:
10.5281/zenodo.1012560
ABSTRACT
PENDAHULUAN
Industri mikro dan kecil merupakan kekuatan strategis dan peran yang sangat vital untuk
mempercepat pembangunan ekonomi. Sektor ini terbukti memberikan kontribusi
signifikan terhadap pendapatan domestik bruto dan penyerapan tenaga kerja. Industri
Mikro dan Kecil memiliki posisi penting dalam hal pemerataan kesejahteraan masyarakat di
daerah dan mengurangi kesenjangan pendapatan. Hal ini disebabkan intensitas tenaga
kerja yang relative tinggi dan jumlah investasi yang relatif kecil maka industri mikro dan
kecil dapat lebih fleksibel dan beradaptasi terhadap perubahan pasar. Pengembangan
industri mikro dan kecil dapat memberikan kontribusi pada diversifikasi industri dan
percepatan struktur sebagai pra kondisi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang stabil
dan berkesinambungan (Badan Pusat Statistik, 2015). Data Badan Pusat Statistik
JRSM
1(1) 1
memperlihatkan, pasca krisis ekonomi tahun 1997-1998 jumlah usaha mikro kecil dan
menengah tidak berkurang, justru meningkat terus, bahkan mampu menyerap 85 juta
hingga 107 juta tenaga kerja sampai tahun 2012. Pada tahun itu, jumlah pengusaha di
Indonesia sebanyak 56.539.560 unit. Dari jumlah tersebut, usaha mikro kecil dan © LPPI AQLI
Jurnal Riset
menengah sebanyak 56.534.592 unit atau 99.99%. Sisanya, sekitar 0,01% atau 4.968 unit Sains Manajemen
Vol. 1 No.1
Hlm. 1-12
adalah usaha besar (Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia, 2015).
Pertumbuhan usaha kecil rumah tangga di daerah Medan cukup berkembang dan memiliki
prospek yang baik di masa depan. Kecamatan Medan Denai merupakan salah satu kawasan
dengan berbagai aktivitas usaha kecil di kota. Salah satu bidang usaha kecil yang cukup
berkembang di Kecamatan Medan Denai adalah usaha kerajinan sepatu dengan jumlah
unit usaha sebanyak 245 orang pengrajin (Manalu, Sumono, & Rismayani, 2012).Usaha IMK
umumnya merupakan usaha rumah tangga yang sebagian besar masih bercampur dengan
tempat tinggalnya, dan masih memerlukan pembinaan yang terus menerus agar masalah
yang dihadapi seperti pemasaran, permodalan dan pengelolaan dapat segera diatasi.
Kendala yang sering dihadapi oleh pengrajin sepatu di Kecamatan Medan Denai berkaitan
dengan distribusi, produk, promosi dan harga antara lain kesulitan mendapatkan suplai
bahan baku berkualitas secara kontiniu, kualitas produk yang masih rendah, merek yang
kurang terkenal keunggulannya, dan model yang kurang menarik, sedangkan dari sisi
penjualan, volume penjualan sepatu yang dibuat pengrajin masih jauh dari yang mereka
harapkan. Pelaku usaha pengrajin sepatu juga cenderung menguasai pasar yang sempit,
sebagai akibat lemahnya kemampuan untuk berkompetisi dengan perusahaan besar. Pola
pemasaran yang dilakukan para pengrajin sepatu cenderung konvensional, bahkan
cenderung dilakukan secara pasif. Mayoritas para pengrajin sepatu menunggu order dari
pengusaha atau pedagang sepatu. Jika tidak ada order dari para pengusaha tersebut,
mereka tidak melakukan produksi. Pelaku usaha mikro kecil dan menengah, sejak dulu
sampai dengan saat ini memiliki beberapa masalah klasik yaitu pemasaran, pelaku usaha
mikro kecil dan menengah memiliki keterbatasan akses dan rendahnya kemampuan untuk
bernegosiasi maupun transaksi, sehingga meskipun pelaku memiliki produk berkualitas
mengalami kesulitan dalam pemasaran produk (Lores, Sari, & Khatmi, 2014).
Menurut Badan Pusat Statistik (2015) sebagian besar IMK pada tahun 2015 mengalami
kesulitan dalam menjalankan usahanya. Sebagian besar IMK pada tahun 2015 mengalami
kesulitan dalam menjalankan usahanya, yaitu 73,96%. Kesulitan utama yang dirasakan oleh
usaha IMK adalah kesulitan modal usaha sebesar 38,84, kesulitan pemasaran hasil usaha
25% dan kesulitan bahan baku 22,29%, hal ini membuktikan strategi pemasaran yang
dilakukan industri kecil dan menengah belum dikelola secara professional, karena salah
satu keberhasilan Industri kecil dan menengah dalam memasarkan produknya ditentukan
oleh strategi yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari pasar sasarannya.
Usaha Mikro, kecil dan menengah dituntut untuk mampu menerapkan bauran pemasaran
yang lebih kompetitif yang mampu menganalisis situasi, menentukan sasaran pemasaran
yang tepat, seleksi dan analisis target pasar. Serta mampu merancang bauran pemasaran
sehingga mampu beradaptasi dengan dinamika bisnis yang menuntut adanya suatu
persaingan yang kompetitif (Fitriyono & Khuzani, 2014). Para pelaku usaha dituntut untuk
JRSM
1(1)
2
selalu berinovasi, memberikan produk yang selalu disenangi masyarakat atau pelanggan.
Jika tidak, maka pelaku usaha harus siap akan ditinggalkan oleh pelanggan dan beralih ke
produk pesaing (Amanah, 2015).
© LPPI AQLI
Jurnal Riset
Sains Manajemen
Vol. 1 No.1 Permasalahan tersebut diperkuat oleh Wibowo et al. (2015) yang mengatakan bahwa
Hlm. 1-12
strategi pemasaran adalah salah satu cara memenangkan keunggulan bersaing yang
berkesinambungan baik itu untuk perusahaan yang memproduksi barang atau jasa, hal ini
menunjukkan pentingnya strategi pemasaran dikarenakan semakin kerasnya persaingan
perusahaan pada umumnya, sedangkan menurut Assauri (2015) salah satu strategi yang
sering dilaksanakan oleh perusahaan adalah strategi bauran pemasaran yang merupakan
kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran, variabel
yang dapat dikendalikan oleh perusahaan Untuk mempengaruhi reaksi para pembeli atau
konsumen. Variabel tersebut meliputi produk atau product, harga atau price, promosi atau
promotion dan distribusi atau place (4P). Strategi ini berkaitan dengan penentuan
bagaimana perusahaan menyajikan penawaran produk disertai strategi pendukung lain
berupa strategi harga, promosi, serta strategi saluran distribusi, pada segmen pasar
tertentu yang merupakan sasaran pasarnya. Pengetahuan tentang bauran pemasaran yang
baik dalam upaya pelaksanaan kegiatan pemasaran secara intensif menjadi faktor penting
yang harus diketahui perusahaan dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup
perusahaan dan menjangkau konsumen sebanyak-banyaknya (Fitriyono & Khuzani, 2014).
KAJIAN LITERATUR
Pemasaran memiliki peranan yang sangat penting dalam kegiatan ekonomi. Pemasaran
merupakan fungsi dari perusahaan yang bertugas menentukan pelanggan sasaran serta
menentukan cara yang terbaik untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mitra kerja
secara kompetitif (Fitriyono & Khuzani, 2014). Menurut Thamrin dan Tantri (2012)
mendefinisikan pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang
untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-
barang yang dapat memuaskan keinginan dan jasa baik kepada konsumen saat ini maupun
konsumen potensial.
Menurut Kotler dan Amstrong, (2007), strategi adalah suatu rencana yang diutamakan
untuk mencapai tujuan. Beberapa perusahaan mungkin mempunyai tujuan yang sama
tetapi strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut mungkin saja berbeda-
beda. Strategi Pemasaran adalah logika pemasaran, dan berdasarkan itu, unit bisnis
diharapkan untuk mencapai sasaran. Sementara itu menurut Assauri (2015) bauran
pemasaran merupakan kombinasi variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem
pemasaran, variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan Untuk mempengaruhi
reaksi para pembeli atau konsumen. Variabel tersebut meliputi produk, harga, promosi dan
distribusi. Keempat variabel tersebut saling mempengaruhi, sehingga semuanya penting
sebagai suatu kesatuan strategi yaitu strategi bauran pemasaran.
Pertama, produk. Menurut Assauri (2015) produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan kepada pasar untuk mendapat perhatian, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi,
JRSM
1(1) 3
yang meliputi barang secara fisik, jasa, kepribadian, tempat, organisasi dan gagasan atau
buah pikiran. Faktor-faktor yang terkandung di dalam produk adalah mutu/kualitas,
penampilan, pilihan yang ada, gaya, merek, pengemasan, ukuran, jenis, macam, jaminan,
dan pelayanan. Menurut Kotler dan Amstrong (2007) bauran produk terdiri dari: jenis © LPPI AQLI
Jurnal Riset
produk, mutu, rancangan, ciri-ciri, nama merk, kemasan, ukuran, sedangkan Karim et al., Sains Manajemen
Vol. 1 No.1
Hlm. 1-12
(2014) mengungkapkan faktor yang terkandung di dalam produk adalah: variasi produk,
kualitas produk, desain produk, jaminan atau garansi yang ditawarkan dan merek dagang.
Kedua, harga. Sunyoto (2012) mengatakan bahwa harga adalah sejumlah uang yang
dibebankan pada suatu produk tertentu. Perusahaan menetapkan harga dalam berbagai
cara. Peranan penetapan harga menjadi sangat penting terutama pada keadaan
persaingan yang semakin tajam dan perkembangan permintaan yang terbatas (Assauri,
2015). Sunyoto, (2012) faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga adalah:
memperkirakan permintaan produk; reaksi pesaing; dan bauran pemasaran lainnya. Harga
diukur melalui: tingkat harga, harga produk pesaing, potongan pembelian, periode
pembayaran dan variasi sistem pembayaran (Karim et al., 2014). Selanjutnya Ningrum dan
Harti (2012) mengemukakan bahwa indikator dari harga adalah: permintaan pelanggan,
biaya, berorientasi pada laba dan harga pesaing.
Ketiga,promosi. Menurut Kotler & Keller (2009), promosi adalah cara khusus dari iklan
pribadi, promosi penjualan dan hubungan masyarakat yang dipergunakan perusahaan
untuk tujuan iklan dan pemasarnya. Sunyoto (2012) mengatakan faktor-faktor yang
mempengaruhi promosi adalah sifat pasar, sifat produk, daur hidup produk dan dana yang
tersedia. Kegiatan-kegiatan promosi yang dilakukan oleh suatu perusahaan menggunakan
acuan bauran promosi yang terdiri dari periklanan, penjualan tatap muka, promosi
penjualan dan publisitas. Promosi diukur melalui: tingkat ketertarikan iklan, tingkat
promosi penjualan, publisitas pesaing, humas dan pemasaran langsung (Ningrum & Harti,
2012).
Keempat, distribusi. Menurut Kotler & Keller (2009) saluran distribusi adalah saluran
distribusi adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung yang terlibat dalam proses
untuk menjadikan suatu produk atau jasa untuk digunakan atau dikonsumsi. saluran
distribusi berfungsi untuk menggerakkan barang dari produsen ke konsumen. Thamrin &
Tantri (2012) mengemukakan bahwa saluran distribusi dapat dilihat sebagai sekumpulan
organisasi yang saling tergantung satu sama lainnya yang terlibat dalam proses penyediaan
sebuah produk atau pelayanan untuk digunakan atau dikonsumsi. Saluran distribusi
diperlukan oleh setiap perusahaan, karena produsen menghasilkan produk dengan
memberikan kegunaan bentuk bagi konsumen setelah sampai ke tangan konsumen,
sedangkan lembaga penyalur membentuk atau memberikan kegunaan waktu, tempat, dan
pemilikan dari produk itu (Assauri, 2015). Dalam penelitian Karim et al., (2014), place atau
distribusi bisa diukur melalui: lokasi produk, ketersediaan produk, distribusi pesaing,
daerah-daerah penjualan dan variasi alat pengiriman.
Keempat hal di atas, yakni produk, harga, promosi dan distribusi secara teoritis
berhubungan dengan penjualan. Menurut Swastha dan Irawan (2008) Penjualan adalah
transaksi jual beli atau pemindahan hak milik secara komersial atas barang dan jasa yang
JRSM
1(1)
4
pada prinsipnya melibatkan dua pihak yaitu penjual dan pembeli. Swastha dan Irawan
(2008) menjelaskan bahwa pengukuran volume penjualan dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu tercapainya target penjualan, dimana target penjualan yang diukur berdasarkan
© LPPI AQLI
Jurnal Riset
unit produk yang terjual. Dan peningkatan jumlah keuntungan, dimana peningkatan
Sains Manajemen
Vol. 1 No.1 keuntungan di dapat dari jumlah nilai penjualan nyata perusahaan dalam suatu periode
Hlm. 1-12
tertentu. Ningrum & Harti (2012) menjelaskan bahwa indikator volume penjualan yang
digunakan pada penelitian ini yaitu: (1) Tercapainya target penjualan. Target penjualan
yang diukur berdasarkan unit produk yang terjual; dan (2) Peningkatan jumlah keuntungan.
Jumlah keuntungan yang diperoleh perusahaan yaitu jumlah nilai penjualan nyata
perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dalam penelitian Karim et al. (2014)
menyimpulkan bahwa ada beberapa indikator dari volume penjualan adalah sebagai
berikut: mencapai volume penjualan tertentu; mendapatkan laba tertentu; dan menunjang
pertumbuhan perusahaan.
Berdasarkan kajian literatur yang telah dikemukakan, maka kerangka konseptual dalam
penelitian ini sebagai berikut :
Produk
Harga
Volume Penjualan
Promosi
Distribusi
Dari kerangka konseptual di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah (1) ada pengaruh
produk terhadap volume penjualan; (2) Ada pengaruh harga terhadap volume penjualan;
(3) Ada pengaruh promosi terhadap volume penjualan; (4) Ada pengaruh distribusi
terhadap volume penjualan; dan (5) Ada pengaruh produk, harga, promosi dan distribusi
secara simultan volume penjualan pada industri mikro pengrajin sepatu di Kecamatan
Medan Denai.
METODE PENELITIAN
Populasi dalam penelitian ini sebanyak 234 responden, menggunakan simple random
sampling dalam pengambilan sampel, dimana pengambilan sampel dilakukan secara acak
tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2012). Teknik
menentukan sampel menggunakan rumus Slovin (Juliandi, Irfan, & Manurung, 2014), dan
JRSM
1(1) 5
diperoleh sampel sebanyak 71 responden. Sebelum angket disebarkan kepada Responden,
maka perlu diuji validitas dan reliabilitas kepada 30 responden sejenis yaitu pengrajin tas.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi berganda.
© LPPI AQLI
Jurnal Riset
Sains Manajemen
Vol. 1 No.1
Hlm. 1-12
HASIL DAN DISKUSI
Hasil
Hasil regresi linear berganda pengaruh bauran pemasaran (product, price, promotion,
place) terhadap volume penjualan pada industri mikro pengrajin sepatu dapat dilihat pada
tabel 1 berikut:
Analisis regresi berganda didapatkan persamaan regresi liner berganda untuk empat
prediktor yaitu produk, harga, promosi dan distribusi adalah sebagai berikut: Y=a+
b1X1+b2X2+b3X3+b3X+e, sehingga persamaannya adalah Y=27,765+0,128X1-
0,206X2+0,287X3+ 0,140X4 + . Ini menunjukkan bahwa seluruh variabel bebas dalam
penelitian ini yaitu produk, promosi dan distribusi memiliki hubungan yang positif dengan
volume penjualan, kecuali harga yang berpengaruh negatif.
Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh pula hasil pengujian hipotesis secara parsial
dari variabel-variabel yang diteliti (Tabel 1), dengan interpretasi seperti berikut ini.
Pertama. Pengaruh variabel produk terhadap volume penjualan dengan menentukan nilai
ttabel, diperoleh dengan melihat df (n-k), 71-4 = 68 maka nilai ttabel sebesar 1,99547 dengan
probabilitas sig = 0,013, maka thitung > ttabel yaitu 2,560 >2,00172 atau probabilitas taraf
signifikan ,026 < 0,05, dengan demikian bahwa hipotesis nol (H0) ditolak dan dapat
disimpulkan bahwa produk (X1) secara parsial mempunyai pengaruh positif dan signifikan
terhadap volume penjualan (Y) pada industri mikro pengrajin sepatu di Kecamatan Medan
Denai.
Kedua. Pengaruh variabel harga terhadap volume penjualan dengan menentukan nilai ttabel,
diperoleh dengan melihat df (n-k), 71-4 = 68 maka nilai ttabel sebesar 1,99547 dengan
probabilitas sig = 0,026, makan thitung > ttabel yaitu -2,277 > -1,99547 atau probabilitas
JRSM
1(1)
6
taraf signifikan 0,026 < 0,05, dengan demikian bahwa hipotesis nol (H0) ditolak dan dapat
disimpulkan bahwa price (X2) secara parsial mempunyai pengaruh negatif dan signifikan
terhadap volume penjualan (Y) pada industri mikro pengrajin sepatu di Kecamatan Medan
© LPPI AQLI
Jurnal Riset
Denai.
Sains Manajemen
Vol. 1 No.1
Hlm. 1-12
Ketiga. Pengaruh variabel promosi terhadap volume penjualan dengan menentukan nilai
ttabel, diperoleh dengan melihat df (n-k), 71-4 = 68 maka nilai ttabel sebesar 1,99547 dengan
probabilitas sig = 0,000, makan thitung > ttabel yaitu 4,416 > 1,99547 atau probabilitas taraf
signifikan 0,000 < 0,05, dengan demikian bahwa hipotesis nol (H0) ditolak dan dapat
disimpulkan bahwa promosi (X3) secara parsial mempunyai pengaruh positif dan signifikan
terhadap volume penjualan (Y) pada industri mikro pengrajin sepatu di Kecamatan Medan
Denai.
Kelima. Pengaruh simultan bauran pemasaran yakni produk, harga, promosi dan distribusi
terhadap volume penjualan. Analisis untuk hipotesis 5 dapat dilihat pada Tabel 2.
Dari Tabel 2 tentang pengaruh bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi)
terhadap volume penjualan secara simultan, dengan menentukan nilai Ftabel diperoleh
dengan melihat df1 (k-1 =4-1=3), df2 (n-k-1= 71-3-1= 67) maka nilai Ftabel sebesar 28,439,
dengan probabilitas sig = 0,000, dengan kata lain Fhitung > Ftabel yaitu 28,439 > 2,74 atau
probabilitas taraf signifikan 0,000 < 0,05, maka H0 ditolak berarti secara bersama-sama
(simultan) bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi) berpengaruh
signifikan terhadap volume penjualan pada industri mikro pengrajin sepatu di Kecamatan
Medan Denai.
JRSM
1(1) 7
Berdasarkan Tabel 3 di atas diperoleh angka R (koefisien korelasi) sebesar 0.796. Hal ini
menunjukkan bahwa terjadi hubungan yang sangat kuat antara bauran pemasaran
(produk, harga, promosi dan distribusi) terhadap volume penjualan. Hal ini didasarkan oleh
pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi sebagai berikut. 0,00– © LPPI AQLI
Jurnal Riset
0,199 (sangat rendah), 0,20 – 0,399 (rendah), 0,40 – 0,599 (sedang), 0,60 – 0,799 (kuat) Sains Manajemen
Vol. 1 No.1
Hlm. 1-12
dan 0,80–1,000 (sangat kuat). Untuk lebih akuratnya prediksi pengaruh bauran pemasaran
dalam penelitian ini dapat berpatokan pada nilai adjusted R square yaitu sebesar 0,611
atau 61,1% pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dan sisanya 38,9%
dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini.
Selanjutnya pada tabel model summary memperlihatkan tingkat keakuratan model regresi
dapat dilihat pada kolom standard error of the estimate, tertera angka 2,56857. Nilai ini
semakin mendekati angka 0 (nol) semakin akurat, dengan angka sebesar itu maka dapat
dikatakan model yang terbentuk akurat sebesar 97,43143%.
Diskusi
Dari hasil analisis data seperti telah dikemukakan sebelumnya, maka terlihat ada
keterkaitan antara temuan penelitian ini dengan teori maupun penelitian-penelitian
sebelumnya.
Hasil analisis jawaban responden ditemukan bahwa indikator dari produk sepatu
ditemukan bahwa pengrajin sepatu harus mempunyai ciri khas tersendiri, kemudian Bahan
baku seharusnya kuat dan tahan lama, sepatu yang beragam rancangan desain harus
sesuai dengan desain tren masa kini, konsumen juga menginginkan adanya garansi dalam
pemakaian dan diskon yang menarik, konsumen juga selalu memperhatikan merek sepatu
apakah sudah didaftarkan di HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) dan logo atau lambing sepatu
juga harus jelas agar konsumen dapat membedakan dengan produk lain, dalam hal
kemasan sepatu harus dikemas dalam sebuah wadah sebagai pelindung, serta kemasan
yang dibuat harus memberikan kemudahan saat pada pemakaian oleh konsumen.
Dengan demikian, implikasi dari penelitian ini mengharuskan pengrajin sepatu untuk
melakukan inovasi dan menciptakan sepatu-sepatu yang mempunyai ciri khas tersendiri
disamping itu juga bahan baku seperti kulit harus kuat dan tahan lama agar penjualan bisa
meningkat, apabila ini diterapkan pada pengrajin sepatu maka volume penjualan sepatu
akan meningkat. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan yang dikemukakan oleh
Keramati, et al., (2012) Pristyo, (2013), Karim et al., (2014), Manalu, Sumono, dan Rismayani,
(2016) yang mengungkapkan bahwa produk berpengaruh terhadap volume penjualan,
semakin bagus tingkat kualitas produk yang diciptakan, maka volume penjualan akan
semakin meningkat.
JRSM
1(1)
8
Kedua. Pengaruh harga terhadap volume penjualan. Berdasarkan hasil penelitian
menunjukkan bahwa variabel harga secara parsial mempunyai pengaruh negatif dan
signifikan terhadap volume penjualan pada industri mikro pengrajin sepatu di Kecamatan
© LPPI AQLI
Jurnal Riset
Medan Denai. Artinya dengan menurunkan tingkat harga sepatu maka akan menaikkan
Sains Manajemen
Vol. 1 No.1 volume penjualan.
Hlm. 1-12
Implikasi hasil analisis temuan penelitian bahwa atas permintaan pelanggan harga sepatu
yang ditawarkan seharusnya sesuai dengan kualitas yang ditawarkan, kemudian untuk
menekan angka produksi seharusnya pengrajin sepatu harus membandingkan dahulu
dengan sepatu lain, penetapan harga jual sepatu juga harus berdasarkan biaya produksi
yang dikeluarkan, agar mendapatkan laba maka pengrajin sepatu harus mendesain dengan
baik dan kualitas produk sepatu harus dijaga agar nilai jual semakin tinggi dan harga dapat
dinaikkan, disamping itu juga harga sepatu harus bersaing dengan sepatu bermerek
lainnya.
Oleh karena itu, hasil penelitian ini memiliki kesamaan dengan teori tujuan penetapan
harga yang diungkapkan oleh Tjiptono (2012) pada dasarnya ada 4 jenis tujuan penetapan
harga, dan salah-satunya adalah tujuan penetapan harga yang berorientasi pada volume
penjualan yaitu harga ditetapkan sedemikian rupa agar dapat mencapai target volume
penjualan atau pangsa pasar, tetapi tidak sejalan dengan hasil penelitian Malik (2015) yang
menyatakan bahwa harga tidak berpengaruh terhadap volume penjualan.
Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Suddin (2013), Pristyo (2013)
mengungkapkan bahwa harga berpengaruh positif terhadap volume penjualan. Temuan
dalam penelitian ini bahwa harga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap volume
penjualan, artinya bahwa apabila pengrajin sepatu dalam menurunkan harga atau
menyesuaikan harga dengan jangkauan konsumen maka volume penjualan akan
meningkat dari volume penjualan biasanya. Sehingga harga mempengaruhi tingkat
penjualan sepatu.
Disamping itu juga promosi lain yang harus dilakukan adalah melalui internet atau media
sosial dan pengrajin sepatu harus membuat situs web untuk memperkenalkan sepatu
pengguna internet, kemudian secara public relation pengrajin sepatu para pengrajin sepatu
harus sering mengikuti pameran atau even-even agar lebih dikenal, promosi penjualan
langsung juga sangat diperlukan serta mempunyai tenaga penjualan, agar bisa
memaksimalkan promosi yang berdampak kepada volume penjualan.
JRSM
1(1) 9
dipengaruhi oleh biaya promosi sebesar 38,0%. Jika promosi ditingkatkan maka volume
penjualan juga akan mengalami peningkatan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
Karim et al., (2014), Nurcahyo & Wahyuati (2016) yang menunjukkan bahwa variabel
promosi mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel volume penjualan, © LPPI AQLI
Jurnal Riset
apabila promosi semakin ditingkatkan maka akan dapat meningkatkan volume penjualan Sains Manajemen
Vol. 1 No.1
Hlm. 1-12
sepatu.
Keempat. Pengaruh distribusi terhadap volume penjualan. Hasil analisis data menunjukkan
bahwa variabel distribusi secara parsial tidak berpengaruh terhadap volume penjualan
pada industri mikro pengrajin sepatu di Kecamatan Medan Denai.
Implikasi hasi temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tempat para pengrajin sepatu
harus mempunyai lokasi atau toko yang terletak dengan pusat perbelanjaan, penyelesaian
produksi sepatu juga harus sesuai dengan waktu yang telah dijanjikan kepada konsumen,
disamping itu juga para pengrajin sepatu tidak menyediakan stok sepatu sehingga akan
menyulitkan konsumen untuk menemukan sepatu yang mereka miliki, sepatu yang
diproduksi hanya sesuai dengan pesanan konsumen saja, disamping itu juga pengrajin
sepatu tidak menyediakan layanan antar jemput sepatu yang sudah selesai, tetapi
menyediakan jasa titipan kilat atau melalui via pos, dan di sekitar lokasi juga banyan para
pengrajin sepatu yang sejenis sehingga memudahkan konsumen untuk memilih sesuai
dengan selera, implikasi penelitian ini perlu ditingkatkan oleh pengrajin sepatu.
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Nurcahyo dan Wahyuati (2016),
Ningrum dan Harti (2012) yang mengatakan bahwa tempat berpengaruh positif secara
signifikan terhadap volume penjualan. Tetapi penelitian ini sejalan dengan penelitian Malik
(2015) yang menyatakan bahwa tempat tidak berpengaruh terhadap volume penjualan.
Salah satu penyebab tidak berpengaruh terhadap volume penjualan adalah karena
konsumen kesulitan mencari lokasi untuk memesan sepatu dan tidak tersedianya sepatu di
tempat-tempat perbelanjaan yang dibutuhkan oleh konsumen, Hal ini juga sejalan dengan
teori yang diungkapkan oleh Tjiptono (2012) bahwa saluran distribusi merupakan kegiatan
pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan
jasa dari produsen ke konsumen sehingga penggunaannya sesuai dengan yang diperlukan
(jenis, jumlah, harga, tempat dan saat dibutuhkan). Para pengrajin sepatu harus berusaha
untuk memperlancar dan mempermudah konsumen untuk mendapatkan sepatu yang
mereka inginkan dengan menerapkan sistem pesan temuan dari penelitian ini.
Kelima. Pengaruh produk, harga, promosi dan distribusi terhadap volume penjualan.
Berdasarkan hasil penelitian, secara bersama-sama atau simultan bauran pemasaran
(produk, harga, promosi dan distribusi) berpengaruh signifikan terhadap volume penjualan
pada industri mikro pengrajin sepatu di Kecamatan Medan Denai.
Penelitian ini sejalan dengan Malik (2015) yang mengungkapkan bahwa secara simultan
bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan distribusi) berpengaruh terhadap volume
penjualan. Diketahui bahwa variabel promosi mempunyai kontribusi yang paling besar
diantara ketiga variabel bauran pemasaran lainnya. Hendaknya perusahaan meningkatkan
JRSM
1(1)
10
media promosi walaupun promosi yang sudah dilakukan saat ini sudah baik, tetapi perlu
untuk ditingkatkan dengan membuat website atau e-commerce agar konsumen dapat
mengetahui dengan cepat produk-produk sepatu yang telah diproduksi, dan juga perlu
© LPPI AQLI
Jurnal Riset
juga memperbaiki tempat/distribusi agar distribusi menjadi jauh lebih baik. Kemudian
Sains Manajemen
Vol. 1 No.1 sejalan juga dengan hasil temuan Tambajong (2013), Khairunisa, Prasetya dan Rini (2015)
Hlm. 1-12
yang menunjukkan adanya pengaruh secara simultan bauran pemasaran terhadap volume
penjualan.
PENUTUP
Usaha mikro harus mendapatkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak untuk
memberikan pembinaan khususnya tentang Bauran Pemasaran, mengingat masih
lemahnya sumber daya manusia pelaku usaha mikro di Kecamatan Medan Denai, sehingga
hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang berarti untuk
pengembangan usaha mikro yang ada di Kecamatan Medan Denai. Pengrajin sepatu agar
lebih memperhatikan bauran pemasaran (poduk, harga, promosi, dan tempat) dalam
memproduksi sepatu agar lebih memiliki daya saing dan dapat meningkatkan penjualan.
Promosi melalui website atau promosi melalui e-marketing perlu ditingkatkan agar lebih
cepat dikenal oleh konsumen. Tempat perlu mendapatkan perhatian khusus agar lebih
memudahkan konsumen mendapatkan sepatu yang dinginkan. Peneliti selanjutnya dapat
mengembangkan variabel-variabel bauran pemasaran menjadi objek penelitian yang
spesifik lagi sehingga bisa memberikan kontribusi yang berarti buat pelaku usaha mikro
lainnya dan pihak-pihak yang berkepentingan.
REFERENSI
Amanah, D. (2015). Pengaruh bauran pemasaran terhadap kinerja usaha kecil dan
menengah. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 21(81), 1–5.
Assauri, S. (2015). Manajemen pemasaran. Jakarta: RajaGrafindo.
Badan Pusat Statistik. (2015). Profil industri mikro dan kecil 2015. Jakarta: Badan Pusat
Statistik.
Fitriyono, D., & Khuzani. (2014). Analisis pengaruh bauran pemasaran terhadap volume
penjualan produk. Jurnal Ilmu & Riset Manajemen, 3(11), 1-17.
Juliandi, A., Irfan, & Manurung, S. (2014). Metodologi. penelitian bisnis: Konsep dan
aplikasi. Medan: UMSU Press.
Karim, D., Sepang, J. L., Lumanauw, B., & Lamanauw, B. (2014). Marketing mix
pengaruhnya terhadap volume penjualan pada PT. Manado Sejati Perkasa Group.
Jurnal EMBA, 2(1), 421–430.
Keramati, A., Ardalan, A., & Ashtiani, P. G. (2012). Relationship between marketing mix and
sales performance in the context of the iranian steel private firms. International
Journal of Arts and Commerce, 1(6), 195–199.
Khairunisa, H., Prasetya, B., & Rini, N. (2015). The influence of the marketing mix on the
export sales volumes of textile product at PT. Primatexco Indonesia. JOBS-Jurnal of
Business Studies, 1(2), 155–170.
JRSM
1(1) 11
Kotler., P, & Amstrong, G. (2007). Dasar-dasar pemasaran. Jakarta: Prentice Hall-Inc.
Kotler, P., & Keller, K. (2009). Manajemen pemasaran. Jakarta: Penerbit indeks.
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia. (2015). Profil bisnis usaha mikro, kecil dan
menengah (UMKM) 2015. Jakarta: Bank Indonesia. © LPPI AQLI
Jurnal Riset
Lores, L., Rosalina, D., Sari, W. P., & Khatmi, I. L. (2014). Faktor-faktor penghambat Sains Manajemen
Vol. 1 No.1
Hlm. 1-12
pemberdayaan pelaku usaha kecil pengrajin alas kaki di Kota Medan. Jurnal
Pembangunan Kota, 2(2), 135–143.
Malik, Z. N. (2015). Pengaruh bauran pemasaran terhadap volume penjualan notebook
merek Acer pada CV . Galaksi Komputer di Samarinda. eJurnal Ilmu Administrasi
Bisnis, 3(4), 821–831.
Manalu, D., Sumono, & Rismayani (2008). Pengaruh kebijakan produk dan promosi
terhadap volume penjualan pengrajin sepatu di Kecamatan Medan Denai Medan.
Jurnal Visi, 20(1), 1-11.
Ningrum, W. S., & Harti. (2012). Pengaruh saluran distribusi dan harga jual terhadap
volume penjualan sandal pada UKM Sandal di Mojokerto. Jurnal Unesa, 1(1), 1–10.
Nurcahyo, F., & Wahyuati, A. (2016). Pengaruh bauran pemasaran terhadap volume
penjualan pada restoran Mcdonald’s Delta Plaza Surabaya. Jurnal Ilmu & Riset
Manajemen, 5(4), 1-17.
Pristyo, M. (2013). Pengaruh produk dan harga terhadap volume penjualan pada UD. Eka
Jaya di Surabaya. E-Jurnal Kewirausahaan, 1(1), 27–37.
Suddin, A. F. (2013). Pengaruh bauran pemasaran terhadap volume penjualan produk
ayam pedaging di Kota Makassar. Jurnal Ilmu Dan Industri Peternakan, 1(1), 1–12.
Sugiyono. (2012). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sunyoto D. (2012). Dasar-dasar manajemen pemasaran. Yogyakarta: Caps.
Swastha, B., & Irawan. (2008). Manajemen pemasaran modern. Surabaya: Liberty.
Tambajong, G. (2013). Bauran pemasaran pengaruhnya terhadap penjualan sepeda motor
Yamaha di PT. Sarana Niaga Megah Kerta Manado. Jurnal EMBA, 1(3), 1291–1301.
Thamrin, A., & Tantri, F. ( 2012). Manajemen pemasaran. Jakarta: Rajawali Press.
Tjiptono, F. (2012). Manajemen jasa. Jakarta: Andi.
Wibowo, D. H., Arifin, Z., & Sunarti. (2015). Analisis strategi pemasaran untuk
meningkatkan daya saing UMKM: Studi pada Batik Diajeng Solo. Jurnal Administrasi
Bisnis, 29(1), 59–66.
JRSM
1(1)
12