ISSN 1978 - 3000
Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Katuk (Sauropus Androgynus)
Terhadap Kadar Kolesterol Telur Itik Mojosari (Anas Javanica)
Effect of Katuk (Sauropusandrogynus) Meal Supplementation On Egg Cholesterol
Level Of Mojosari (Anas Javanica)
Diah Kasmirah, Yosi Fenita, Urip Santoso
Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu
Jalan W.R. Supratman Kandang Limun Bengkulu 38371A
Email: [Link]@[Link]
ABSTRACT
The aim of this study was to evaluate the effect of different levels of Katuk
(Sauropus androgynus) meal supplementation on egg cholesterol of Mojosari ducks.
The research was conducted from 23rd July to 17th September 2012. A total of 36
Mojosari ducks was assigned to completely randomized design. The experimental
animals were distributed into four treatment groups as follows: R0 (diet without
katuk leaf meal), R1 (diet + 2,5% katuk leaf meal), R2 (diet + 5% katuk leaf meal), R3
(diet + 7,5% katuk leaf meal) with three replication (nine ducks each). The results
showed that katuk meal supplementation with levels of 2,5%, 5% and 7,5% which
were mixedinto ration reduce egg yolk weight and egg cholesterol level. The result
analysis of ANOVA showed that katuk meal supplementation had significantly
reduced egg yolk weight and egg cholesterol level of Mojosari ducks at the 8th week
of observation (P<0.01). Moreover, katuk (Sauropus androgynus) meal
supplementation which was mixed into ration did not significantly affect egg yolk
weight percentage. In conclusion, katuk (Sauropus androgynus) meal
supplementation up to 5% in diet reduce egg yolk weight and egg cholesterol level
of Mojosari ducks, but did not significantly affect egg yolk weight percentage.
Keywords: Mojosari ducks, egg yolk, egg cholesterol level, and Sauropus
androgynus leaf meal
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian tepung daun
katuk terhadap kadar kolesterol kuning telur itik Mojosari. Penelitian ini
dilaksanakan selama 23 Juli sampai 17 September 2012. Itik yang digunakan
sebanyak 36 ekor, terdiri atas 4 perlakuan yaitu R0 (Ransum tanpa tepung daun
katuk), R1 (Ransum + 2,5% tepung daun katuk ), R2 (Ransum + 5% tepung daun
katuk), R3 (Ransum + 7,5% tepung daun katuk), dengan 3 ulangan (Masing- masing
ISSN 1978 - 3000
ulangan terdiri dari tiga itik Mojosari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pemberian tepung daun katuk (Saurpusandrogynus) dengan taraf 2,5%, 5%, dan 7,5%
dalam ransum menurunkan berat kuning telur dan kadar kolesterol. Hasil analisis
ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa pemberian tepung daun katuk berpengaruh
sangat nyata (P<0,01) menurunkan berat kuning telur pada pengamatan minggu ke
8 dan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) menurunkan kadar kolesterol telur itik.
Penambahan tepung daun katuk dalam ransum berpengaruh tidak nyata terhadap
persentase berat kuning telur. Disimpulkan bahwa pemberian tepung daun katuk
pada level ≥ 5% dalam ransum, menurunkan berat kuning telur dan kadar
kolesterol telur itik Mojosari, tetapi tidak menurunkan persentase berat kuning
[Link] kunci: Itik Mojosari, kuning telur, kadar kolesterol telur, tepung daun
katuk (Sauropus androgynus)
Kata kunci : Itik mojosari, kuning telur, level kolesterol telur, tepung daun
Sauropus androgynus
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol. 8, No 2. Juli – Desember 2013 |79
ISSN 1978 - 3000
PENDAHULUAN dan stanol merupakan lemak
Itik merupakan salah satu jenis tanaman yang terdapat pada pangan
ternak unggas yang menyumbangkan yang berasal dari tanaman. Sterol
protein hewani untuk kebutuhan tanaman secara alami merupakan
masyarakat [Link] yang substansi yang ada dalam pangan,
diberikan diantaranya berupa daging, secara prinsip merupakan komponen
telur dan [Link] memiliki protein minor dari minyak tanaman.
yang cukup tinggi dan harga yang Penggunaan tepung daun
relatif murah dibandingkan dengan katuk level 9% dalam ransum,
sumber protein dari ternak lainnya. ternyata mampu menurunkan
Konsumen dewasa ini sudah kolesterol pada telur, karkas dan hati
mulai memperhatikan mututelur pada ayam kampung (Subekti, 2003).
yang dikonsumsinya. Ada Hasil ini diduga karena adanya
kecenderungan bahwa konsumen kandungan methylpyroglutamate
lebih suka mengkonsumsi telur yang tinggi pada daun katuk (Santoso
rendah kolesterol. Telur merupakan et al, 2009) sehingga mampu
salah satu bahan pangan yang menurunkan kolesterol. Menurut
mengandung zat gizi kolesterol. pernyataan yang dikemukakan
Kolesterol yang terdapat di dalam Santoso dan Sartini (2001) yaitu
kuning telur hanya didapatkan dari dengan pemberian daun katuk dalam
hasil sintesis kolesterol didalam hati, pakanayam broiler sebagai pakan
hati mensintesis kolesterol dari asetil- tambahan mampu mengurangi
KoA. Menurut pernyataan (Safitri, akumulasi lemak tubuh sehingga
2007) bahwa telur itik mengandung kadar kolesterol karkas semakin
kolesterol sebesar 27,79 mg/g kuning berkurang.
telur. Penelitian ini bertujuan untuk
Beberapa dari hasil penelitian mengetahui pengaruh pemberian
terdahulu, bahwa (Suprayogi, 2000) tepung daun katuk dalam ransum
telah menemukan senyawa aktif yang terhadap kandungan kolesterol dalam
terkandung di dalam daun katuk telur itik Mojosari.
salah satunya yaitu senyawa sterol.
Androstan- 17- one, 3-ethyl-3- MATERI DAN METODE
hidroxy-5-alpha 17-ketosteroid Penelitian ini dilaksanakan
(kelompok keto pada C17), secara selama 8 minggu pada tanggal 23 Juli
langsung merupakan precursor atau sampai 17 September 2012, bertempat
senyawa intermediate dalam di Commercial Zone Animal
biosintesis hormon steroid. Senyawa Laboratory (CZAL) Jurusan
tersebut dapat digolongkan ke dalam Peternakan Fakultas Pertanian
fitosterol. Fitosterol terdiri dari sterol Universitas Bengkulu.
80 | Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Katuk
ISSN 1978 - 3000
Peralatan yang digunakan daun katuk yang berbeda dalam
pada penelitian ini adalah tempat ransum, yaitu:
ransum, tempat minum, timbangan R0=Ransum Kontrol (tidak
Neraca Ohaus (Triple Beam) 500 g, mengandung TDK)
timbangan duduk kapasitas 10 kg, R1=Ransum mengandung 2,5% TDK
ember, gayung, sekop, cangkul, dan R2 = Ransum mengandung 5% TDK
sapu. R3 = Ransum mengandung 7,5% TDK
Bahan yang dipergunakan Rancangan penelitian yang
pada penelitian ini yaitu 36 ekor itik digunakan adalah Rancangan Acak
Mojosari, dan berumur 49 minggu. Lengkap (RAL).
Itik yang digunakan telah mengalami Kandang yang digunakan
fase rontok bulu periode pertama, dalam penelitian ini adalah kandang
sehingga dilakukan pemaksaan sistem litter yang berukuran 80 cm x 1
rontok bulu (Force Molting). m sebanyak 12 petak dan setiap petak
Perlakuan penelitian dimulai setelah berisi 3 ekor itik yang dilengkapi
produksi mencapai 60%. Bahan tempat minum dan tempat pakan.
pakan yang terdiri dari bungkil Pakan diberikan sesuai kebutuhan itik
kedelai, tepung ikan, jagung giling, fase bertelur yaitu 170 gram/ekor/hari
CaPO4, mineral, dedak halus, tepung (Windhyarti, 1999). Diberikan dua kali
daun katuk, dan minyak Bimoli. sehari yaitu pada jam 07:00 pagi dan
Dalam penelitian ini bahan yang jam 16:30 sore, sedangkan air minum
digunakan 36 ekor itik Mojosari dan diberikan ad libitum.
bahan pakan yang digunakan yaitu Variabel yang diamati yaitu 1).
dedak halus, jagung giling, tepung Berat Kuning Telur (g/kuning telur),
daun katuk, tepung mineral, Top Mix, diukur untuk menghitung kadar
dan CaPO4. Proses pembuatan tepung kolestrol per 100 g kuning telur, di
daun katuk (TDK) dengan cara timbang setiap 2 minggu sekali selama
penjemuran daun secara langsung penelitian berlangsung dengan cara
dibawah sinar matahari. Daun katuk memisahkan kuning telur dari putih
yang telah kering digiling sampai telur dengan menggunakan timbngan
halus hingga menjadi tepung analitik. 2). Persentase Kuning Telur
kemudian dicampur dalam ransum. (%), Persentase kuning telur dihitung
Perlakuan pada penelitian ini untuk mengetahui persentase berat
menggunakan empat perlakuan kuning telur didalam sebutir telur.
dengan tiga petak ulangan, masing- Nilai persentase kuning telur didapat
masing petak menggunakan 3 ekor dari perhitungan dengan
itik. Perlakuan dibedakan menggunakan rumus berikut:
berdasarkan level pemberian tepung
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol. 8, No 2. Juli – Desember 2013 |81
ISSN 1978 - 3000
% Kuning telur HASIL DAN PEMBAHASAN
Berat Kuning telur
= x100%
berat telur/butir Berat Kuning Telur
Kadar Kolesterol (mg/100 g),
diukur pada minggu ke-7, ( hari ke-7 Pengaruh penggunaan tepung daun
sebelum akhir penelitian). Pada katuk dalam ransum itik Mojosari
penelitian ini proses
terhadap berat kuning telur disajikan
Pengujian kadar kolesterol
yaitu sampel dikirim ke Laboratorium pada Tabel 1
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
Pengujian kadar kolesterol
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
yaitu sampel dikirim ke Laboratorium
Dilakukan berdasarkan metode
Ilmu Nutrisi dan Pengaruh
Lieberman Burchard, Nilai kolesterol
pemberian tepung daun katuk
diperoleh dari perhitungan dengan
terhadap berat kuning telur itik
menggunakan rumus sebagai berikut:
Mojosari disajikan pada Tabel 1. Hasil
[Link](mg%)=
analisis ragam menunjukkan, bahwa
Tabel 1. Pengaruh penggunaan tepung daun katuk terhadap berat kuning telur
Perlakuan
Pengamatan R0 R1 R2 R3 SD P
-----------------------------gram-----------------
Minggu 2 19,60 21,85 20,95 18,80 1,36 ns
Minggu 4 17,63 19,13 18,75 17,38 0,85 ns
Minggu 6 18,63 20,08 19,75 18,00 0,97 ns
Minggu 8 23,21a 21,61ab 18,45bc 16,93c 0,27 P<0,01
Ket : ns: menunjukkan perlakuan berbeda tidak nyata (P>0,05), superskrip bebeda pada pengamatan minggu ke 8
menunjukkan hasil berbeda sangat nyata (P<0,01) R0 = ransum kontrol, R1= ransum kontrol + 2,5% Tepung Daun
Katuk (TDK), R2 ransum kontrol + 5 % TDK, R3 = ransum kontrol + 7,5% TDK.
𝑎𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
𝑥 0,4( konsentrasi pemberian tepung daun katuk
𝐴𝑏𝑠𝑜𝑟𝑏𝑎𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
standar ) x
100 berpengaruh tidak nyata (P>0,05)
berat sampel
tehadap kuning telur pada
2. Kolesterol (mg/1 g kuning telur)=
mg %
pengamatan minggu 2, 4, dan 6, tetapi
= mg/1 g kuning telur berbeda sangat nyata (P<0,01) pada
100
3. Kolesterol (mg/butir telur)= mg/1 g minggu ke 8. Hasil uji lanjut DMRT
kuning telur x berat kuning telur = menunjukkan bahwa, R0 berbeda
mg/butir telur tidak nyata dengan R1 (P>0,05), tetapi
Data dianalisis menggunakkan
sidik ragam (ANOVA) dan jika R0 berbeda sangat nyata (P<0,01)
berbeda nyata dilanjutkan uji DMRT. dengan R2 dan R3.
82 | Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Katuk
ISSN 1978 - 3000
Pada penelitian ini adanya menunjukkan bahwa bobot
pengaruh pada minggu ke 8, di duga persentase kuning telur yaitu berkisar
bahwa pemberian tepung daun katuk antara 31,57-35,53%. Hasil penelitian
terhadap berat kuning telur ini menunjukkan kisaran persentase
membutuhkan waktu paling sedikit kuning telur yang ada pada Tabel 6
yaitu 8 minggu untuk bisa adalah berkisar antara 30,38- 34,60%
menurunkan berat kuning telur. Salah .
satu faktor lainnya yang
Kadar Kolesterol
menyebabkan turunnya berat kuning
telur yaitu turunnya berat telur pada Pengaruh penggunaan tepung
minggu ke 8. daun katuk dalam ransum itik
Mojosari terhadap kadar koleterol
Persentase Kuning Telur disajikan pada Tabel 3.
Pengaruh penggunaan Hasil analisis ragam
tepung daun katuk dalam ransum itik menunjukkan, bahwa pemberian
Mojosari terhadap persentase kuning tepung daun katuk berpengaruh
telur disajikan pada Tabel 2 dibawah sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar
ini. kolesterol (mg%) telur itik. Hasil uji
lanjut DMRT menunjukkan, bahwa
R0 berbeda sangat nyata (P<0,01),
lebih rendah dari pada R1 tetapi
Pengaruh penggunaan tepung berbeda sangat nyata (P<0,01) lebih
daun katuk dalam ransum itik tinggi dari R2 dan R3. Sementara R2
Mojosari terhadap persentase kuning dan R3 berbeda tidak nyata (P>0,05).
telur disajikan pada Tabel 2 diatas. Hasil analisis ragam
Hasil analisis ragam menunjukkan, bahwa pemberian
tepung daun katuk berpengaruh
menunjukkan,bahwa pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar
pemberian tepung daun katuk kolesterol (mg/1 g kuning telur) telur
berpengaruh tidak nyata (P>0,05) itik. Hasil uji lanjut DMRT
tehadap persentase kuning telur menunjukkan, bahwa R0 berbeda
terlihat pada pengamatan minggu 2, 4, sangat nyata (P<0,01), lebih rendah
6 dan 8. dari pada R1 tetapi berbeda sangat
Persentase bobot kuning telur nyata (P<0,01) lebih tinggi dari R2 dan
dalam penelitian ini tidak berbeda R3. R2 dan R3 berbeda tidak nyata
jauh dengan yang dikemukakan oleh (P>0,05).
Suryaningsih (2008), menyatakan
bahwa hasil penelitian nya
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol. 8, No 2. Juli – Desember 2013 |83
ISSN 1978 - 3000
Hasil analisis ragam perlakuan R2 sebesar 11,84% (13,53
menunjukkan, bahwa pemberian mg/1gr kuning telur) dan pada
tepung daun katuk berpengaruh perlakuan R3 sebesar 16,48% (12,82
sangat nyata (P<0,01) terhadap kadar mg/1 g kuning telur).
kolesterol (mg/butir telur) telur itik. Hasil penelitian ini sesuai
Hasil uji lanjut DMRT menunjukkan dengan hasil penelitian Nugraha
bahwa R0 dan R1 berbeda tidak nyata (2008), bahwa hasil penelitiannya
(P>0,05), R0 dan R1 berbeda sangat menunjukkan pada penggunaan
nyata (P<0,01) dengan R2 dan R3, R2 tepung daun katuk level 5 sampai 15
dengan R3 berbeda tidak nyata % dalam ransum pada itik periode
(P>0,05). layer perpengaruhsangat nyata
Kolesterol telur itik yang (P<0,01) menurunkan kadar
dihasilkan pada penelitian ini kolesterol. Kisaran nilai kolesterol
berkisar antara 12,82 – 15,35 mg/g telur itik yang dihasilkan pada
kuning telur. Untuk kadar kolesterol penelitiannya yaitu 19,92– 24,1 mg/g
mg/butir telur pada level 2,5% kuning telur.
memiliki kadar kolesterol paling Jika dibandingkan dari hasil
tinggi yaitu 385,78 mg/butir telur, penelitian yang dilakukan safitri
kemudian terjadi penurunan pada (2007) kolesterol telur itik yang
perlakuan 5% sebesar 248,15 mg/butir diberikan tepung daun beluntas
telur, dan penurunan kadar kolesterol sampai level 2% tidak berpengaruh
terendah diperoleh pada perlakuan terhadap kolesterol telur itik, dimana
7,5% yaitu 216,68 mg/butir telur. kadar kolesterol pada perlakuan
Pada penelitian ini hasil penurunan ransum kontrol sebesar 27,79 mg/g
kadar kolesterol terjadi pada kuning telur.
Tabel 3. Pengaruh penggunaan tepung daun katuk terhadap kadar kolesterol telur
Perlakuan
Pengamatan R0 R1 R2 R3 SD P
Kolesterol (mg/%) 1,54b 1,78a 1,35c 1,28c 0,22 P<0,01
Kolesterol (mg/ 1 g kuning
telur) 15,35b 17,84a 13,53c 12,82c 2,24 P<0,01
Kolesterol (mg/ butir telur) 375,86a 385,7a 248,15b 216,68b 1,43 P<0,01
Ket : Superskrip yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan hasil yang berbeda sangat nyata (P>0,05) R0 =
ransum kontrol, R1= ransum kontrol + 2,5% Tepung Daun Katuk (TDK), R2 ransum kontrol + 5 % TDK, R3 = ransum
kontrol + 7,5% TDK.
84 | Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Katuk
ISSN 1978 - 3000
Menurut Suprayogi (2000), tersedia untuk kolesterol menjadi
menyatakan bahwa senyawa aktif lebih sedikit(Anwar dan Piliang 1992).
yang berperan dalam penurunan
kolesterol telur lebih dari satu antara KESIMPULAN DAN SARAN
lain yaitu Fitosterol,
Kesimpulan
methylpyroglutamate, dan papaverin like
compound. Daun katuk memiliki Pemberian tepung daun katuk
senyawa aktif yang sama dengan pada level ≥ 5% menurunkan kadar
papaverin sehingga disebut dengan kolesterol telur itik Mojosari, tetapi
papaverin like compound yang tidak menurunkan persentase berat
kemungkinan memiliki efek kimia, kuning telur.
farmakologi dan efek biologi yang
menyerupai papaverin.
Dari hasil penelitian Subekti et
Saran
al. (2006) menyatakan bahwa
pemberian ekstrak daun katuk dan Perlu dilakukan penelitian
tepung daun katuk pada puyuh lanjutan pengaruh penggunaan
jepang terjadi penurunan kolesterol ekstrak daun katuk terhadap kadar
yaitu pada kuning telur, karkas dan kolesterol telur itik, karena diduga
hati Puyuh. Penurunan kolesterol senyawa aktif yang terkandung dalam
terjadi karena adanya senyawa aktif ekstrak daun katuk akan lebih lebih
fitosterol yang terdapat pada daun tinggi dari pada dalam tepung daun
katuk. katuk.
Menurut pernyataan Subekti
(2007) fitosterol merupakan zat non
absorble, tidak dapat diabsorbsi oleh DAFTAR PUSTAKA
saluran pencernaan. Fitosterol adalah Anwar, H.M. dan W.G. Piliang. 1992.
saingan dari kolesterol atau Biokimia dan Fisiologi Gizi.
berkompetisi memperebutkan asam Pusat Antar Universitas Ilmu
empedu. Kolesterol yang berasal dari Hayat. Institut Pertanian
makanan untuk dapat diabsorbsi oleh Bogor, Bogor.
dinding usus halus harus bereaksi Nugraha, A.P.D.,2008. Respon
lebih dahulu dengan asam empedu. Penggunaan Tepung Daun
Sedangkan fungsi dari fitosterol itu Katuk (Sauropus Androgynus
sendiri dalam hal ini yaitu memiliki L. Merr.) Dalam Ransum
tugas mengikat sebagian asam TerhadapKolesterol Itik Lokal.
empedu, sehingga asam empedu yang Skripsi. Fakultas Peternakan.
Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Jurnal Sain Peternakan Indonesia Vol. 8, No 2. Juli – Desember 2013 |85
ISSN 1978 - 3000
Safitri, A. 2007. Komposisi Kimia Subekti, S. 2007. Komponen sterol
Telur Itik Lokal Pada Berbagai dalam ekstrak daun katuk
Level Pemberian Tepung (Sauropus androgynus L. Merr)
DaunBeluntas. Skripsi. dan hubungannya dengan
Fakultas Peternakan. Institut sistem reproduksi
Pertanian Bogor, Bogor. [Link]. Program
Santoso, U and Sartini. 2001. Pasca Sarjana. Institut
Reduction of fat accumulation Pertanian Bogor, Bogor.
in broiler chickens by Sauropus Suprayogi, A. 2000. Studies on the
androgynus (katuk) leaf meal Biological Effets of Sauropus
supplementation. Asian-Aust. androgynus (L.) Merr: Effects
J. Anim. Sci. 3 : 346 on Milk Production and the
350. Possibilities of Induced
Santoso, U., dan Suharyanto. 2009. Pulmonary Disorder in
Penggunaan Ekstak Saropus Lactating Sheep. Cuviller
androgynus untuk Verlag Gottingen.
Meningkatkan Efisiensi Windhyarti, S. S. 1999. Beternak Itik
Produksi dan Mutu Telur pada Tanpa Air. Penebar Swadaya,
Peternakan Ayam Arab Jakarta.
Petelur. Fakultas Pertanian.
Jurusan peternakan.
Universitas Bengkulu,
Bengkulu.
Subekti, S. 2003. Kualitas telur dan
karkas ayam lokal yang diberi
tepung daun katuk dalam
[Link]
Pascasarjana. Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Subekti, S. 2006. Penggunaan tepung
daun katuk dan ekstrak daun
katuk Sauropus androgynus)
sebagai substitusi ransum yang
dapat menghasilkan produk
puyuh jepang yang rendah
[Link] peternakan
IPB. Bogor.
86 | Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Katuk